Di Tepi Sungai Mahakam, Erau Kota Raja Menjaga Warisan Budaya

Ada kalanya sebuah film tidak sekadar mengisahkan pertemuan dua manusia yang saling jatuh cinta,...

Di Tepi Sungai Mahakam, Erau Kota Raja Menjaga Warisan Budaya

27 Jun 2026
263 x Dilihat
Share :

Di Tepi Sungai Mahakam, Erau Kota Raja Menjaga Warisan Budaya

Ada kalanya sebuah film tidak sekadar mengisahkan pertemuan dua manusia yang saling jatuh cinta, melainkan juga menjelma menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, kebudayaan, identitas, dan harapan sebuah kota. Di layar lebar, romansa memang menjadi medium cerita yang paling mudah diterima oleh siapa saja. Namun kisah cinta tersebut saya kira hanya berfungsi sebagai bagian permukaan saja. Di balik lapisan itu, sinema memiliki kedalaman untuk membawa pesan yang jauh lebih besar, yakni sebuah ikhtiar untuk memperkenalkan sebuah peradaban kota kepada dunia. Melalui pendekatan inilah, sebuah karya fiksi mampu mengemban misi edukasi dan promosi daerah secara halus namun impresif.

Begitulah kesan yang saya tangkap ketika menyaksikan Erau Kota Raja, sebuah film yang memadukan sinema romantis dengan strategi pemasaran pariwisata berbasis budaya. Film drama romantis Indonesia yang dirilis pada awal tahun 2015 ini disutradarai oleh Bambang Drias dan ditulis oleh Endik Koeswoyo. Karakter utamanya diperankan dengan apik oleh Nadine Chandrawinata sebagai Kirana dan Denny Sumargo sebagai Reza. Menjadi salah satu layar lebar yang membuka tahun 2015 di bioskop nasional,  didukung oleh kehadiran para aktor senior seperti Ray Sahetapy dan Jajang C. Noer yang turut memperkuat kualitas dramatiknya. Kolaborasi apik antara aktor populer dan figur legendaris cukup berhasil memberikan daya tarik komersial sekaligus bobot seni yang proporsional.

Daya tarik artistik tersebut tentu adalah tujuan dari sebuah visi besar film yang diproduksi oleh East Cinema Pictures atas inisiasi Rita Widyasari, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kutai Kartanegara. Gagasan besarnya bermakna strategis untuk menjadikan film sebagai media promosi kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya Kota Tenggarong.

Langkah ini menegaskan bahwa kebijakan publik dan industri kreatif dapat berjalan beriringan demi kepentingan daerah. Saat peluncuran film, Rita Widyasari pun menegaskan bahwa proyek ini bukan semata-mata mengejar keuntungan komersial di pasar bioskop. Sebaliknya, film ini adalah bentuk investasi budaya jangka panjang agar masyarakat Indonesia maupun dunia semakin mengenal kemegahan Festival Erau dan kekayaan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara.

Pilihan menggunakan medium film bukanlah sesuatu yang kebetulan. Di banyak negara, sinema telah lama menjadi instrumen diplomasi budaya. Korea Selatan mempromosikan budaya melalui drama dan film, Selandia Baru memperkenalkan lanskapnya lewat trilogi The Lord of the Rings, sedangkan Indonesia mulai memanfaatkan layar lebar untuk memperkenalkan wajah-wajah daerah yang selama ini belum banyak dikenal. Dalam konteks itulah, Erau Kota Raja menjadi lebih dari sekadar kisah percintaan, melainkan upaya untuk memperlihatkan bahwa Kalimantan Timur tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang hidup dan terus dirawat dari generasi ke generasi.

Awal cerita bermula dari perjalanan seorang jurnalis majalah budaya dari Jakarta bernama Kirana. Kantornya menugaskan Kirana untuk meliput Festival Erau, sebuah pesta adat tahunan yang telah menjadi ikon budaya Kutai Kartanegara.

Festival Erau sendiri bukanlah perayaan biasa. Kata erau dalam bahasa Kutai berarti keramaian atau pesta besar. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan dahulu menjadi bagian dari upacara penobatan raja serta ungkapan syukur masyarakat. Kini, Erau berkembang menjadi festival budaya yang menampilkan ritual adat, pertunjukan seni tradisional, permainan rakyat, hingga atraksi budaya dari berbagai daerah dan negara sahabat. Dengan demikian, Erau bukan hanya milik masyarakat Kutai, melainkan juga menjadi ruang dialog antarbudaya yang memperlihatkan wajah Indonesia yang majemuk.

Setibanya di Tenggarong, Kirana berkenalan dengan Reza, seorang pemuda asli Kutai yang bersedia mendampingi dan membantunya selama proses peliputan. Dari sinilah cerita berkembang. Konflik mulai bermunculan ketika opini serta tulisan Kirana mengenai tradisi setempat memicu keresahan sebagian warga. Ada pihak-pihak yang merasa pandangan Kirana terlalu kritis terhadap adat yang mereka jaga selama bertahun-tahun. Kehadirannya dipandang sebagai ancaman yang dapat mengubah cara masyarakat memaknai tradisi.

Di tengah ketegangan sosial tersebut, benih-benih asmara justru tumbuh perlahan di antara Kirana dan Reza. Hubungan mereka tidak dibangun melalui adegan-adegan romantis yang berlebihan, melainkan melalui percakapan, perjalanan, dan perjumpaan dengan kebudayaan. Cinta hadir sebagai sesuatu yang tumbuh bersamaan dengan proses saling memahami.

Film ini memperlihatkan bahwa perjalanan seorang jurnalis bukan hanya mencari berita, melainkan juga belajar merendahkan ego di hadapan tradisi. Kirana datang membawa sudut pandang modern, sementara masyarakat Kutai mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Pertemuan keduanya melahirkan benturan, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya saling pengertian.

Sisi lainnya, menarik menyimak monolog dan dialog antara Kirana dan Reza. Salah satunya ketika Kirana mengungkapkan harapannya tentang sosok lelaki yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

“Saya ingin lelaki yang nanti menjadi suami yang tangguh, ayah yang teduh, dan menantu yang patuh. Ia bukan sekadar tampan atau mapan, tetapi juga matang. Ketiganya berpadu dalam satu pribadi.”

Harapan itu sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Di balik tiga kata—tangguh, teduh, dan matang—tersimpan gambaran tentang manusia yang selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Seorang lelaki yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu merawat keluarga, menghormati orang tua, dan mengendalikan egonya.

Lalu Reza menjawab dengan bahasa yang lebih puitis.

“Tapi saya adalah debu. Debu yang menempel di tubuh yang dekil, terempas angin pesisir, menghambur bagai anai-anai, terpacu gelombang musim padang pasir. Tubuh saya rubuh di pasir-pasir, jiwa saya terpanggang di pasar-pasar. Debu menjadi mainan pelukis kanvas pasir, dan jiwa saya bermain-main pada hati perempuan.”

Metafora debu itu bukan sekadar ungkapan kerendahan hati. Ia adalah simbol manusia yang menyadari keterbatasannya. Di hadapan cinta, tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang terus belajar menjadi lebih baik.

Percakapan itu berlanjut. “Ya, tapi nanti. Bukan hari ini lelaki impian itu. Bukankah kita belum benar-benar saling mengenal? Seintensif apa sebenarnya kita telah berbicara? Apa yang menjadi tema pembicaraan kita, tidakkah semuanya akan membuatmu jemu? Ketahuilah, saya tidak pandai menjebak hati perempuan sehingga, dengan terpaksa ataupun rela, akhirnya engkau jatuh cinta. Bukan kepada saya, bukan kepada siapa pun, melainkan kepada harapanmu sendiri.”

Dialog ini mengingatkan bahwa cinta seringkali bukan jatuh kepada seseorang, melainkan kepada bayangan yang kita ciptakan sendiri tentang seseorang. Kita mencintai harapan, lalu perlahan belajar menerima kenyataan.

Mungkin di situlah Erau Kota Raja menemukan maknanya yang paling dalam. Festival budaya hanyalah panggung. Kisah cinta hanyalah jalan cerita. Tetapi sesungguhnya film ini sedang berbicara tentang perjumpaan manusia dengan kebudayaan, tentang bagaimana seseorang belajar memahami tempat yang semula terasa asing, dan tentang kenyataan bahwa setiap perjalanan selalu mengubah cara kita memandang dunia.

Demikian budaya tidak pernah hidup hanya karena dipamerkan di panggung festival. Budaya bertahan karena terus diceritakan, difilmkan, dituliskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketika layar bioskop mampu membuat penonton mengenal Tenggarong, memahami Erau, lalu ingin datang menyaksikannya secara langsung, maka film telah menjalankan fungsi tertingginya yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa.

Kebudayaan yang Tidak Pernah Berhenti Bercerita

Di balik kisah cinta Kirana dan Reza, sesungguhnya tokoh utama dalam Erau Kota Raja bukanlah mereka berdua. Tokoh utamanya adalah kebudayaan Kutai itu sendiri. Kamera berulang kali mengajak penonton menikmati lanskap Sungai Mahakam yang membelah Tenggarong, keraton yang masih berdiri kokoh sebagai penanda perjalanan sejarah, hingga berbagai ritual adat yang menjadi napas masyarakat Kutai.

Festival Erau bukan sekadar pesta rakyat. Ia merupakan warisan panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Dahulu, Erau diselenggarakan sebagai bagian dari upacara penobatan raja dan ungkapan syukur atas kemakmuran negeri. Kini, maknanya berkembang menjadi perayaan budaya yang mempertemukan tradisi, kesenian, ekonomi kreatif, dan pariwisata dalam satu panggung besar.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara secara konsisten menjadikan Erau sebagai agenda budaya tahunan. Dalam penyelenggaraannya, festival ini tidak hanya menghadirkan prosesi adat seperti Beluluh Sultan, Mengulur Naga, Bepelas, dan Mendirikan Tiang Ayu, tetapi juga menampilkan pertunjukan seni, pameran ekonomi kreatif, kuliner khas daerah, hingga keterlibatan komunitas budaya dari berbagai provinsi dan negara. Kehadiran delegasi internasional dalam beberapa penyelenggaraan Erau memperlihatkan bahwa festival ini telah berkembang menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan berbagai tradisi di kawasan Asia dan dunia.

Dalam perspektif yang lebih luas, Erau memperlihatkan bahwa budaya bukanlah benda mati yang disimpan di museum. Ia adalah sesuatu yang hidup, bergerak, berubah, sekaligus bertahan. Tradisi hanya akan terus hidup apabila diwariskan, dipelajari, dipraktikkan, dan dicintai oleh generasi berikutnya.

Film Erau Kota Raja mencoba mengabadikan semangat tersebut. Barangkali dari sisi sinematografi maupun kekuatan dramatiknya, film ini belum dapat disejajarkan dengan karya-karya besar perfilman Indonesia. Beberapa kritikus menilai alur ceritanya masih sederhana dan konflik yang dibangun belum sepenuhnya berkembang secara mendalam. Namun, apabila film ini dipandang sebagai bagian dari strategi promosi daerah, ia memiliki nilai yang berbeda.

Film ini berhasil memperkenalkan Tenggarong kepada masyarakat Indonesia. Penonton diajak melihat bahwa Kalimantan Timur bukan hanya identik dengan tambang batu bara, hutan tropis, atau industri migas. Di balik kekayaan alamnya, terdapat peradaban yang telah tumbuh selama berabad-abad dengan adat istiadat yang tetap dijaga hingga sekarang.

Pilihan menjadikan kisah cinta sebagai pintu masuk juga merupakan strategi yang menarik. Romansa adalah bahasa yang mudah dipahami siapa pun. Ketika penonton mengikuti perjalanan hubungan Kirana dan Reza, tanpa disadari mereka juga sedang diperkenalkan kepada rumah-rumah adat, tarian tradisional, pakaian kebesaran Kesultanan Kutai, musik daerah, hingga keramahan masyarakat Tenggarong.

Di sinilah sinema bekerja yang secara tidak langsung memaksa penonton agar mencari dan mempelajari sejarah bukan melalui buku pelajaran, tetapi mengenalnya melalui pengalaman emosional sebuah film. Penonton mungkin datang untuk menikmati kisah cinta, tetapi pulang dengan membawa rasa ingin tahu terhadap sebuah kebudayaan.

Fenomena seperti ini sesungguhnya telah lama dikenal dalam industri perfilman dunia. Banyak daerah mengalami peningkatan kunjungan wisata setelah menjadi latar sebuah film. Dalam kajian pariwisata, fenomena tersebut dikenal sebagai film-induced tourism, yakni meningkatnya minat wisatawan mengunjungi suatu destinasi setelah melihatnya di layar lebar. Indonesia pun mulai memanfaatkan pendekatan serupa melalui berbagai film yang mengangkat keindahan daerah dan kekayaan budayanya.

Meskipun demikian, promosi budaya melalui film tidak cukup hanya mengandalkan keindahan visual. Yang jauh lebih penting adalah menjaga keaslian cerita dan menghormati nilai-nilai masyarakat setempat. Film tidak boleh sekadar menjadikan budaya sebagai dekorasi. Tradisi harus ditempatkan sebagai subjek yang memiliki makna, sejarah, dan nilai yang layak dihormati.

Barangkali di sinilah pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari Erau Kota Raja. Bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang selesai diceritakan dalam satu festival atau satu film. Ia adalah perjalanan panjang yang terus ditulis oleh setiap generasi. Setiap orang yang datang, belajar, lalu menceritakannya kembali sesungguhnya sedang ikut menjaga nyala api kebudayaan agar tidak padam dimakan zaman.

Kirana datang sebagai orang luar. Ia membawa sudut pandang modern, rasa ingin tahu, bahkan keraguan. Namun, sedikit demi sedikit ia belajar bahwa memahami sebuah tradisi tidak cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Tradisi harus dialami, dirasakan, didengarkan dari mereka yang menjaganya, dan dipahami dengan hati yang terbuka.

Begitu pula dengan kehidupan. Sering kita tergesa-gesa memberi penilaian terhadap sesuatu yang belum benar-benar kita kenal. Kita melihat permukaannya, lalu merasa telah memahami seluruh isinya. Padahal, seperti Sungai Mahakam yang tampak tenang di permukaan tetapi menyimpan arus yang dalam, demikian pula kebudayaan dan manusia. Semuanya memerlukan waktu untuk dipahami.

Mungkin karena itulah perjalanan Kirana bukan hanya perjalanan jurnalistik, melainkan juga perjalanan batin. Ia berangkat untuk mencari cerita, tetapi justru menemukan pelajaran tentang makna rumah, identitas, dan cinta yang tumbuh bersama penghormatan terhadap akar budaya.

Menjaga Api Kebudayaan di Tengah Perubahan Zaman

Hari ini, ketika Kalimantan Timur memasuki babak sejarah baru sebagai lokasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pembicaraan mengenai daerah ini semakin sering diarahkan pada pembangunan infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Jalan raya dibangun, kawasan permukiman baru bermunculan, dan berbagai proyek strategis nasional terus berjalan. Semua itu tentu penting sebagai bagian dari kemajuan sebuah bangsa.

Di tengah gegap gempita pembangunan tersebut, muncul satu pertanyaan yang patut direnungkan apakah kebudayaan akan ikut tumbuh bersama pembangunan, atau justru perlahan tertinggal di belakangnya?

Pertanyaan inilah yang membuat Erau Kota Raja terasa tetap relevan meskipun telah dirilis lebih dari satu dekade yang lalu. Film ini seolah mengingatkan bahwa identitas sebuah daerah tidak hanya dibangun karena hadir gedung-gedung tinggi, pelabuhan modern, ataupun kawasan industri. Sebuah daerah dikenali karena ingatan kolektif masyarakatnya, karena bahasa yang masih dituturkan, karena tarian yang masih dipentaskan, karena upacara adat yang masih dijaga, dan karena cerita-cerita yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di sinilah makna sebuah festival budaya yang menjadi jauh lebih besar daripada sekadar acara tahunan. Festival bukan hanya ruang hiburan, melainkan ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan, mempertemukan generasi tua yang mewariskan pengalaman dengan generasi muda yang akan menentukan arah perjalanan kebudayaan berikutnya.

Film Erau Kota Raja memang bukan karya sinema yang sempurna. Dari sisi artistik maupun kedalaman konflik, masih terdapat ruang yang dapat dikembangkan. Namun justru dalam kesederhanaannya, film ini menyampaikan pesan yang tidak sederhana bahwa kebudayaan hanya akan hidup apabila terus diceritakan.

Barangkali itulah alasan mengapa masyarakat sejak dahulu gemar bercerita. Sebelum ada buku, manusia telah mengenal dongeng. Sebelum ada televisi, orang tua telah berkisah kepada anak-anaknya. Sebelum ada media sosial, cerita berpindah dari mulut ke mulut, dari beranda rumah ke balai adat, dari tepian sungai ke ruang-ruang keluarga. Peradaban bertahan bukan hanya karena memiliki bangunan yang megah, tetapi karena memiliki cerita yang terus hidup.

Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan menjaga kebudayaan menjadi semakin besar. Generasi muda hidup di tengah banjir informasi, budaya populer, dan perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat. Dalam situasi seperti itu, tradisi tidak cukup hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi harus mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Film, musik, sastra, fotografi, dan media digital dapat menjadi jembatan yang mempertemukan warisan budaya dengan generasi baru.

Mungkin itulah yang ingin dilakukan Erau Kota Raja. Film ini bukan hanya mengajak penonton menyaksikan kisah cinta Kirana dan Reza, melainkan juga mengundang mereka mengenal Tenggarong, menyusuri Sungai Mahakam, memahami adat Kesultanan Kutai Kartanegara, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat yang selama ratusan tahun hidup berdampingan dengan tradisi.

Cinta yang hadir dalam film ini hanyalah sebuah metafora. Sebab setiap kebudayaan sesungguhnya lahir dari rasa cinta. Cinta kepada tanah kelahiran. Cinta kepada leluhur. Cinta kepada bahasa ibu. Cinta kepada nilai-nilai yang diwariskan dengan penuh kesabaran dari generasi ke generasi.

Barangkali karena itulah dialog antara Kirana dan Reza terasa begitu membekas. Kirana mencari sosok lelaki yang tangguh, teduh, dan matang. Sementara Reza memilih menyebut dirinya sebagai debu yang diterbangkan angin. Di balik percakapan itu tersimpan pelajaran yang sederhana bahwa manusia yang paling layak dicintai bukanlah mereka yang mengaku sempurna, melainkan mereka yang memahami keterbatasannya dan terus belajar menjadi lebih baik.

Begitu pula dengan sebuah daerah. Kutai Kartanegara tidak harus menjadi daerah yang paling modern untuk dicintai. Ia cukup menjadi dirinya sendiri dalam menjaga sungainya, merawat keratonnya, melestarikan tarian-tariannya, mempertahankan bahasa dan adatnya, serta membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar mengenalnya.

Sebab kebudayaan yang kehilangan ingatan akan kehilangan masa depannya. Sebaliknya, masyarakat yang terus merawat sejarah akan selalu memiliki alasan untuk melangkah ke depan tanpa tercerabut dari akar yang membesarkannya.

Dan mungkin di situlah makna terdalam Erau Kota Raja yang bukan semata-mata film tentang dua insan yang dipertemukan oleh takdir. Ia adalah kisah tentang sebuah daerah yang berusaha memperkenalkan dirinya kepada Indonesia dan dunia. Tentang masyarakat yang percaya bahwa kebudayaan tidak cukup hanya diwariskan, tetapi juga harus diceritakan, dipentaskan, dituliskan, dan difilmkan. Karena ketika cerita berhenti, ingatan perlahan memudar. Dan ketika ingatan hilang, sebuah peradaban sesungguhnya sedang kehilangan rumahnya.

Maka, Erau Kota Raja mengajarkan satu hal yang sederhana namun penting untuk membangun masa depan yang tidak pernah cukup dengan mendirikan gedung-gedung baru. Masa depan harus dibangun dengan menjaga cerita-cerita lama agar tetap hidup di hati manusia. Sebab dari sanalah sebuah bangsa mengenali dirinya, dan dari sanalah sebuah kebudayaan menemukan jalan pulang menuju keabadiannya. (Red)

Perspektif

Scroll