Saya menonton film Gie, karya Riri Riza, yang diadaptasi dari sekumpulan catatan harian Soe Hok Gie dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”. Film yang dirilis pada 2005 itu bukan sekadar biografi seorang aktivis mahasiswa, melainkan sebuah perenungan tentang makna menjadi manusia yang tetap menjaga nurani ketika kekuasaan berubah wajah.
Kisah yang disajikan tidak sekadar merekam sejarah Indonesia pada dekade 1960-an, tetapi juga memotret pergulatan batin seorang intelektual muda yang memilih setia pada kebenaran meski harus berjalan sendirian. Catatan harian Gie sendiri baru dibukukan pada 1983. Karya tersebut kemudian menempati posisi penting dalam sejarah intelektual Indonesia, melengkapi sumbangsih pemikiran Gie lainnya yang tertuang dalam buku Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, Di Bawah Lentera Merah, dan Zaman Peralihan.
Hadirnya buku tersebut ke ruang publik, yang disunting oleh Ismid Hadad dan Fuad Hassan, seolah membuka kotak pandora mengenai kompleksitas psikologis seorang pemuda urban di tengah pergolakan geopolitik Perang Dingin yang berimbas kuat pada konstelasi domestik Indonesia. Riri Riza secara visual berhasil menangkap kedalaman teks tersebut, mengubah untaian kalimat reflektif yang intim menjadi sebuah lanskap sinematik yang menggugah kesadaran kolektif kita tentang harga sebuah prinsip.
Filmnya terasa sangat menyentuh sisi kemansiaan kita. Sebab menghadirkan perjuangan idealisme dalam keheningan, kesendirian yang tidak dipilih untuk mengasingkan diri, melainkan sebagai harga yang harus dibayar ketika seseorang menolak tunduk kepada kemunafikan. Dalam banyak adegan, sunyi berbicara lebih keras daripada pidato-pidato politik. Kesunyian menjadi ruang tempat hati diuji, sementara idealisme menjelma seperti api kecil yang tetap menyala meski diterpa angin zaman.
Dalam perspektif sosiologi politik, kesunyian yang dialami Gie merupakan manifestasi dari alienasi eksistensial, sebuah kondisi di mana seorang pemikir merasa asing di tengah masyarakatnya sendiri karena menolak larut dalam arus pragmatisme massa. Sinematografi dalam film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini mempertegas isolasi tersebut melalui permainan pencahayaan yang kontras dan komposisi ruang yang intim. Melalui visual tersebut, film ini memperlihatkan bahwa ruang paling sakral bagi seorang pejuang kemanusiaan bukanlah mimbar demonstrasi, melainkan ruang sunyi di balik meja kerja tempat di mana kontemplasi melahirkan keputusan-keputusan besar.
Soe Hok Gie sejak kecil dikenal sebagai pembaca yang rakus terhadap buku-buku sastra, filsafat, sejarah, dan pemikiran dunia. Ia membaca karya Shakespeare, Oswald Spengler, Andre Gide, Chairil Anwar, hingga Amir Hamzah. Kebiasaan membaca itu membentuk watak kritisnya jauh sebelum ia menjadi aktivis mahasiswa. Sosok Gie dalam film diperankan dengan sangat tenang oleh Nicholas Saputra, menghadirkan karakter yang dingin di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang mendalam terhadap ketidakadilan.
Sastra baginya bukanlah sekadar pelarian estetis, melainkan sebuah pisau analisis untuk membedah realitas kemanusiaan yang pincang. Ketika ia membaca Der Untergang des Abendlandes karya Spengler, atau meresapi pemberontakan moral dalam pemikiran eksistensialisme Andre Gide, barangkali Gie sedang membangun fondasi epistemologis yang kokoh agar tidak mudah goyah oleh doktrin-doktrin politik yang bersifat sementara. Karakter dingin yang ditampilkan Nicholas Saputra secara brilian mengejawantahkan paradoks tentang seorang pemuda yang emosinya tertata rapi oleh logika, namun jiwanya terus bergolak oleh api empati.
Latar belakang keluarganya turut membentuk dunia intelektualnya. Ayahnya adalah seorang penulis dan jurnalis sehingga Gie memiliki akses terhadap banyak buku dan perdebatan pemikiran. Lingkungan seperti itu memperkaya cara pandangnya sejak usia muda. Ayahnya, Soe Lie Piet, merupakan figur yang mengenalkan Gie pada dunia literasi dan jurnalisme yang mandiri, sebuah kemewahan intelektual yang sangat langka di era pra-kemerdekaan dan awal kemerdekaan Indonesia.
Hak istimewa kultural (cultural capital) ini membedakannya dari mayoritas pemuda seangkatannya, memberinya modal dasar untuk melihat dunia secara struktural dan multidimensional. Kendati demikian, ketimpangan akses terhadap pengetahuan ini menyisakan sebuah celah reflektif yang mendalam tentang bagaimana manusia-manusia lain, yang tumbuh tanpa tumpukan buku di rumahnya, harus meraba-raba arah kehidupan mereka sendiri.
Di titik itulah saya menemukan ruang permenungan secara pribadi. Saya merasa tidak memiliki banyak tempat bertanya selain seorang ibu yang dengan segala keterbatasannya berusaha membekali anak-anaknya tentang arti bertahan hidup. Pendidikan hidup kadang tidak datang dari perpustakaan yang penuh buku, melainkan dari kesabaran seorang ibu yang diam-diam mengajarkan keteguhan melalui kerja keras sehari-hari.
Namun di sinilah letak universalitas perjuangan moral dan keteguhan yang tidak selalu lahir dari teks-teks filsafat Eropa yang rumit, melainkan dari universitas kehidupan yang kurikulumnya ditulis dengan keringat dan keikhlasan. Seorang ibu yang tangguh mengajarkan esensi dari apa yang dicari oleh para filsuf besar tentang resiliensi, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian untuk menghadapi hari esok yang serba bersahaja tanpa kehilangan martabat kemanusiaan kita.
Barangkali pengalaman seperti itulah yang pernah dialami kakak saya. Hidup dalam kesendirian yang panjang, dengan tangisan yang seolah tidak pernah benar-benar selesai. Perasaan terbuang terkadang menjadi penjara yang tidak terlihat. Tanpa kasih sayang, tanpa kepastian, tanpa dukungan ekonomi, seseorang dapat kehilangan pijakan untuk memandang masa depan. Namun justru dari pengalaman-pengalaman getir itulah manusia belajar memahami makna empati.
Kesulitan hidup yang ekstrem sering bertindak sebagai pemurnian watak. Ketertindasan ekonomi dan pengabaian sosial menuntut seseorang untuk menggali kekuatan terdalam dari dalam dirinya sendiri, agar menjadi sebuah proses yang dalam psikologi eksistensial disebut sebagai pencarian makna di tengah penderitaan (man’s search for meaning). Ketika seseorang mampu melewati badai keterasingan tersebut, ia tidak hanya menjadi lebih kuat, tetapi juga memperoleh kepekaan rasa yang luar biasa terhadap penderitaan sesamanya. Sebuah kualitas emosional yang juga melandasi kemarahan moral Soe Hok Gie saat melihat rakyat kecil menderita akibat inflasi dan kelaparan di akhir masa Orde Lama.
Banyak adegan dalam film yang membekas di ingatan. Salah satunya ketika Gie berdebat dengan gurunya setelah membahas Andre Gide di kelas. Adegan itu bukan sekadar memperlihatkan keberanian seorang murid membantah guru, melainkan menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya adalah ruang dialog, bukan ruang untuk menerima kebenaran secara membuta.
Demikian soal membaca bagi Gie bukanlah kegiatan mengumpulkan pengetahuan, melainkan latihan mempertanyakan segala sesuatu. Sikap ini sejalan dengan konsep "pendidikan yang membebaskan" yang kelak dipopulerkan oleh Paulo Freire, di mana ruang kelas seharusnya tidak menjadi tempat indoktrinasi mekanis (banking concept of education), melainkan laboratorium berpikir kritis. Gie menolak untuk menjadi sekadar penampung dogma. Baginya, kebenaran ilmiah harus diuji lewat perdebatan yang jujur, bukan dipaksakan melalui otoritas hierarki akademis yang kaku dan feodal.
Film ini juga menggambarkan suasana politik Indonesia ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berkembang menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Tiongkok. Kampanye politik, diskusi di kampus, perdebatan di kantin, menonton film bersama teman-teman, hingga percakapan santai tentang sastra menjadi potret kehidupan mahasiswa pada masa itu. Semua menunjukkan bahwa kampus pernah menjadi ruang yang hidup bagi pertukaran gagasan dan pembentukan karakter intelektual.
Data historis mencatat bahwa pada paruh pertama dekade 1960-an, polarisasi ideologis antara faksi kiri (LEKRA/CGMD), faksi nasionalis (GMNI), dan faksi kanan/keagamaan (HMI/PMKRI) sangat memuncak di universitas-universitas besar termasuk Universitas Indonesia. Namun di balik gesekan politik yang tajam tersebut, terdapat kedalaman literasi yang luar biasa yang membawa mahasiswa saat itu bertarung dengan argumen, berbasis pada pembacaan teks yang kuat atas Marxisme, Sukarnoisme, hingga Demokrasi Islam. Sebuah potret kontras jika dibandingkan dengan iklim akademis hari-hari kemudian di zaman saya, yang cenderung pragmatis dan terjebak dalam arus budaya pop yang superfisial.
Adegan lain yang tak kalah kuat adalah ketika Gie menyebut politik sebagai sesuatu yang kotor apabila kehilangan moralitas. Karakteristik ini dipertegas dalam film melalui adegan pertemuannya dengan Presiden Soekarno, di mana jas yang dikenakan Gie tampak kebesaran di tubuhnya yang kurus. Detail kecil itu seolah menjadi metafora visual yang kuat bagaimana seorang mahasiswa sederhana yang rapuh secara fisik sedang berhadapan langsung dengan raksasa kekuasaan yang begitu besar.
Melalui kontras tersebut, film ini menggambarkan sebuah transisi zaman yang getir. Soekarno, sang orator ulung yang dahulu membakar semangat revolusi Indonesia, perlahan memasuki senja kekuasaannya. Kejatuhan karisma sang proklamator ini disaksikan langsung oleh generasi muda sezaman Soe Hok Gie yang mulai mempertanyakan ke mana arah perjalanan bangsa sebenarnya sedang dibawa.
Kekecewaan Gie terhadap Bung Karno, yang terekam jelas dalam catatan hariannya, bersumber dari penyimpangan jalannya revolusi tersebut. Ia menyaksikan bagaimana konsep Demokrasi Terpimpin perlahan bergeser menjadi pemusatan kekuasaan mutlak yang menyuburkan praktik korupsi serta pembungkaman sistematis terhadap suara-suara kritis. Bagi Gie, keadilan tidak boleh tebang pilih. Kritik tajamnya terhadap penahanan tokoh-tokoh bangsa, seperti Sutan Sjahrir pada masa Orde Lama dan Pramoedya Ananta Toer pada era berikutnya, membuktikan bahwa pembelaannya berdiri kokoh di atas asas hak asasi manusia, bukan karena ia memihak pada kelompok politik tertentu.
Sikap konsisten ini jugalah yang menyadarkannya bahwa pergantian rezim tidak selalu serta-merta menghadirkan perubahan nilai. Kekuasaan mungkin saja berganti wajah, tetapi godaan manusia untuk menyalahgunakannya seringkali tetap sama. Sejarah kemudian mencatat dengan getir bagaimana Orde Baru, yang datang menggantikan Orde Lama dengan janji manis berupa koreksi total, pada akhirnya justru mengulangi kesalahan yang sama. Rezim baru ini justru membangun struktur kekuasaan monolitik yang jauh lebih represif dan korup melalui gurita militerisme serta kronisme ekonomi selama tiga dekade berikutnya, adalah sebuah realitas kelam yang menjebak idealisme Gie dalam lingkaran kesunyian yang baru.
Setelah menyelesaikan studinya di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, Gie menjadi dosen muda. Banyak sahabat seperjuangannya memilih masuk ke dalam lingkaran kekuasaan sebagai pejabat negara. Sementara itu, Gie tetap menjaga jarak. Ia bahkan merasa sering dibuntuti setiap kali pulang. Perasaan diawasi itu menggambarkan bahwa kebebasan berpikir selalu memiliki risiko dalam setiap rezim politik. Meskipun demikian, ia tetap menulis dan menyuarakan kritik melalui berbagai media massa. Ketika banyak aktivis memilih masuk ke pemerintahan setelah perubahan politik 1966, Gie justru kembali ke kampus karena ingin mempertahankan posisi sebagai kekuatan moral, bukan kekuatan kekuasaan.
Sikap ini menegaskan posisinya sebagai seorang independent intellectual. Ketika rekan-rekan seangkatannya di KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) seperti Cosmas Batubara atau Akbar Tandjung mulai mengintegrasikan diri ke dalam struktur politik praktis Orde Baru, Gie memilih jalan sunyi di luar sistem. Baginya, tugas seorang intelektual bukanlah menjadi bagian dari kekuasaan untuk menikmati fasilitas, melainkan menjadi anjing penjaga (watchdog) yang terus menggonggong setiap kali kekuasaan mulai melukai keadilan rakyat. Namun konsekuensinya adalah kesepian eksistensial dan teror psikologis yang konstan, di mana ruang geraknya dipersempit oleh intelijen negara yang curiga pada setiap kejujuran berpikir.
Kemudian perjalanan hidup Soe Hok Gie harus berakhir secara tragis pada pendakian Gunung Semeru. Pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie bersama Idhan Lubis meninggal akibat menghirup gas beracun di kawasan Mahameru. Kesaksian rekan-rekannya menyebutkan bahwa gas beracun yang lebih berat daripada oksigen berkumpul di sekitar tempat mereka beristirahat sehingga menyebabkan keduanya kehilangan kesadaran. Kepergian Gie menjadikannya bukan hanya simbol aktivisme mahasiswa, tetapi juga simbol keberanian mempertahankan integritas hingga akhir hayat.
Kematian di puncak tertinggi Jawa itu seolah menjadi penutup puitis sekaligus tragis bagi sebuah kehidupan yang menolak berkompromi dengan kedangkalan dunia fana. Gunung bagi Gie, sebagaimana tertuang dalam puisi-puisinya, bukan sekadar tantangan fisik, melainkan ruang spiritual yang bersih dari intrik, kepalsuan, dan lumpur politik kota yang menyesakkan dada. Di sanalah, di batas antara bumi dan langit, ia menjemput keabadian sebelum idealisme mudanya sempat dicemari oleh kompromi masa tua.
Warisan terbesar Gie sesungguhnya bukanlah demonstrasi, melainkan tulisan. Ia percaya bahwa pena mampu melampaui usia manusia. Kalimatnya yang paling terkenal, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan," tetap hidup hingga kini karena mengandung keberanian moral yang melampaui zamannya. Ia memilih menjaga nurani daripada menikmati kenyamanan kekuasaan. Ia lebih memilih menulis meski tidak semua tulisannya dimuat di surat kabar, bahkan sesekali harus berdebat dengan Jakob Oetama mengenai pandangan dan sikap editorial.
Perdebatan korespondensi antara Gie dan Jakob Oetama di Harian Kompas pada masa itu mencerminkan benturan estetika jurnalistik dan realisme politik. Di satu sisi Gie menuntut kejujuran tanpa tedeng aling-aling demi membongkar ketidakadilan rezim, sementara di sisi lain pengelola media harus berhitung cermat dengan sensor militer agar institusi pers mereka tetap bertahan hidup untuk menyuarakan kebenaran secara subtil. Pilihan Gie untuk tetap menulis dengan risiko tulisannya ditolak atau dipotong membuktikan bahwa baginya, menulis adalah sebuah tindakan eksistensial, sebuah kesaksian zaman yang tidak boleh digadaikan oleh kepentingan kelangsungan hidup material semata.
Film ini mengajarkan bahwa idealisme bukan berarti selalu menang. Bahkan idealisme sering membuat seseorang kehilangan teman, kesempatan, bahkan kenyamanan hidup. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga suara hati ketika mayoritas memilih diam.
Tanpa adanya individu-individu eksentrik yang radikal dalam kejujuran seperti Gie, sebuah peradaban akan dengan mudah tergelincir ke dalam pembusukan moral yang total. Idealisme memang tidak selalu memenangkan pertarungan politik jangka pendek, tetapi ia memenangkan pertempuran jangka panjang dalam membentuk memori kolektif dan standar etika sebuah bangsa.
Mungkin itulah alasan mengapa Gie masih terus dibaca hingga hari ini. Ia mengingatkan bahwa seorang intelektual tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus berani menanggung akibat dari setiap keyakinannya. Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan politik, ekonomi, dan popularitas, suara hati yang jujur justru menjadi barang yang paling langka. Dan ketika suara itu muncul, ia hampir selalu terdengar sunyi.
Seperti yang diperlihatkan Soe Hok Gie sepanjang hidupnya, justru dari kesunyian itulah sejarah menemukan gema yang paling panjang. Membaca dan merenungkan kembali perjalanan hidup Gie di era digital hari ini menghadapkan kita pada sebuah cermin besar yang jernih sekaligus menakutkan. Di zaman ketika kebenaran dapat dikomodifikasi demi algoritma popularitas dan kritik dikemas sebagai komoditas politik, ketulusan sunyi seorang Gie terasa kian berharga.
Kesetiaan pada idealisme bukanlah sebuah utopia masa lalu yang romantis, melainkan sebuah panggilan etis yang abadi bagi setiap generasi untuk berani berdiri tegak, memandang kekuasaan dengan mata telanjang, dan berkata dengan lantang demi kemanusiaan, bahkan saat kita harus berjalan dalam kesendirian. (Red)