Menonton secara marathon film serial Dilan (Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara dari Dilan) mungkin bagi sebagian orang akan dianggap sekadar kisah picisan. Sebuah romansa remaja yang penuh rayuan, nostalgia, dan bunga-bunga masa sekolah. Bahkan ada anggapan bahwa ketika usia seseorang telah bergerak menuju masa dewasa dan meninggalkan masa remaja, film semacam itu tak lagi perlu ditonton. Sebab yang picisan, kata sebagian orang, adalah persoalan lama yang seharusnya selesai bersama berakhirnya usia belia. Setelah itu manusia dianggap harus sibuk memikirkan masalah-masalah besar, urusan pekerjaan, keluarga, ekonomi, dan berbagai persoalan yang dianggap lebih serius.
Namun, dugaan semacam itu ternyata keliru.
Di sela libur panjang, saya menonton kembali seluruh serial tersebut. Dan justru dari sana saya merasa bahwa kisah Dilan tidak semata berbicara tentang hubungan romantis antara Dilan dan Milea, juga tidak hanya mengenai pergaulan mereka bersama teman-temannya, atau hubungan mereka dengan orang tua masing-masing. Ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih luas daripada sekadar kisah cinta remaja. Ketika sinema populer kerap kali dituduh sebagai medium eskapisme belaka, trilogi ini sesungguhnya menyimpan ketegangan sosiologis yang mencerminkan bagaimana institusi sosial kita gagap dalam membaca gejolak psikologis generasi muda.
Barangkali, inilah salah satu bentuk soft solution, bagian dari strategi kebudayaan dalam memahami apa yang selama ini disebut sebagai kenakalan remaja. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin sering disuguhi berita tentang tawuran pelajar, kekerasan antar remaja, perundungan, hingga aksi kriminalitas yang melibatkan geng motor. Fenomena itu menimbulkan kegelisahan orang-orang dewasa, yang kerap kali hanya melihat persoalan dari sisi hukum dan penghukuman. Kita menyaksikan bagaimana pendekatan punitif seperti penangkapan, skorsing massal, hingga stigmatisasi sosial telah gagal mengurai akar rumput dari agresivitas remaja yang justru kian mengeras di era digital ini.
Padahal, remaja adalah fase kehidupan yang kompleks. Mereka berada di antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa. Mereka sedang mencari identitas, ingin diakui, sekaligus ingin memperoleh kebebasan. Karena itu, persoalan remaja tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Fase liminal ini acap kali ditandai oleh apa yang dalam psikologi perkembangan disebut sebagai egosentrisme remaja, di mana dorongan untuk diterima oleh kelompok sebaya (peer acceptance) sering mengalahkan rasionalitas hukum yang dipaksakan oleh dunia orang dewasa.
Menurut laporan UNICEF Indonesia, jumlah remaja Indonesia mencapai sekitar 46 juta jiwa. Berbagai tantangan kesehatan mental, risiko kekerasan, penyalahgunaan zat, hingga masalah perilaku menjadi isu yang semakin penting diperhatikan. UNICEF menekankan pentingnya pendekatan yang holistik, dengan keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial yang mendukung perkembangan remaja secara positif. Data mutakhir menunjukkan bahwa absennya ruang aman untuk berekspresi secara emosional memicu tingginya angka depresi dan kecemasan di kalangan remaja, yang jika tidak dikanalisasi dengan tepat, akan meledak dalam bentuk perilaku menyimpang dan vandalisme institusional.
Dalam konteks itulah, saya melihat Dilan menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai cerita cinta, melainkan sebagai ruang dialog kebudayaan. Sebab sebagian besar anggota geng motor adalah remaja. Mereka tentu perlu dihadapi secara hukum ketika melanggar aturan, tetapi mereka juga perlu disentuh oleh pendidikan, perhatian, kasih sayang, dan rasa memiliki. Dengan kata lain, mereka juga membutuhkan cinta sebagai strategi kebudayaan. Konsep cinta di sini bukan lagi sekadar afeksi romantis antarindividu, melainkan sebuah instrumen pedagogis yang merangkul kelemahan, mendengarkan keterasingan, dan menyediakan ruang validasi yang selama ini absen dari meja-meja formal sekolahan.
Mungkin terdengar terlalu romantis. Tetapi bukankah banyak kekerasan lahir justru dari kesepian, keterasingan, dan ketidakmampuan seseorang menemukan tempat untuk dicintai dan didengarkan? Di tengah arus modernitas yang mekanistik, remaja sering kali merasa menjadi entitas yang tak terlihat (invisible), dan kelompok komunal seperti geng motor hadir menawarkan eksistensi artifisial yang gagal dipenuhi oleh keluarga yang disfungsional maupun sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai akademik murni.
Andaikan para remaja yang terlibat dalam kekerasan itu membaca novel-novel seperti karya Pidi Baiq, menonton film-filmnya, lalu mendiskusikannya bersama guru BK, konselor, psikolog, atau komunitas literasi, mungkin mereka akan menemukan cara lain untuk mengungkapkan kemarahan dan kesedihan selain dengan kekerasan. Sastra dan seni memiliki kemampuan katarsis, mmampu memproyeksikan badai emosi internal ke dalam narasi yang estetik, sehingga energi destruktif dapat dialihkan menjadi refleksi diri yang produktif.
Film dan buku seperti ini mengingatkan saya pada Ali Topan Anak Jalanan, Balada Si Roy, film-film Rano Karno berseragam SMA, hingga serial Catatan Si Boy. Semua karya itu pernah menjadi cermin bagi generasi muda pada zamannya. Setiap era memiliki representasi subkultur remajanya sendiri, yang selalu bertarung melawan kemapanan nilai-nilai generasi tua. Hanya saja, harapannya jangan sampai fenomena Dilan berubah menjadi sekadar mesin kapitalisasi nostalgia dan pasar remaja yang penuh bunga-bunga, sebagaimana sering disindir masyarakat dengan istilah "Dilan Cinematic Universe". Kritik semacam itu bahkan banyak muncul dalam percakapan publik di media sosial. Ketika sebuah karya kebudayaan direduksi total menjadi sekadar komoditas industri, esensi kritik sosial dan muatan edukatif yang ada di dalamnya rawan menguap, menyisakan estetika visual yang dangkal demi meraup keuntungan komersial belaka.
Bagi saya, cukuplah Dilan menjadi pemantik awal. Urusan remaja dan persoalannya harus terus dicari jalan keluarnya secara dialogis oleh para guru, konselor sekolah, psikolog, dan para profesional. Tidak secara reduksionis dengan sekadar menyalahkan pola asuh orang tua atau lingkungan pergaulan. Sebab manusia jauh lebih rumit daripada sekadar produk dari satu faktor tunggal. Pendekatan lintas disiplin ilmu menjadi mutlak diperlukan demi memetakan struktur kognitif dan sosial remaja yang bergerak sangat dinamis di tengah paparan teknologi informasi hari ini.
Kita perlu memahami psikis remaja, bahkan psikis manusia secara umum. Karena kriminalitas tidak memandang usia. Kekerasan bisa dilakukan siapa saja. Maka pembicaraan tentang kebebasan, keterbatasan, dan pembatasan juga menjadi penting. Ini adalah perdebatan eksistensial yang abadi tentang sejauh mana seorang manusia boleh bergerak bebas tanpa menabrak dinding pembatas hak orang lain?
Misalnya ketika Dilan berkata, "Saya tidak mau dikekang," sementara Milea berkata, “Kamu harus mengikuti apa kata saya. Saya tidak suka kamu ikut-ikutan geng motor.”
Percakapan itu sesungguhnya bukan sekadar adegan romantis. Di dalamnya terdapat pertarungan antara keinginan untuk bebas dan kebutuhan untuk dilindungi. Antara hak individu dan rasa takut kehilangan. Ini adalah mikrokosmos dari hubungan kontraktual manusia modern, sebuah negosiasi tiada akhir antara kedaulatan diri dan kepatuhan demi menjaga keutuhan sebuah ikatan.
Kematian Akew, teman mereka yang ternyata hanya menjadi korban salah sasaran, menyisakan trauma. Dan trauma selalu mengubah cara seseorang mencintai. Milea tidak ingin kehilangan Dilan. Bahkan tidak ingin kehilangan selamanya.
Tragedi kematian Akew menegaskan realitas yang kelam bahwa di dunia nyata, konsekuensi dari sebuah pilihan sering teramat mahal dan tak dapat ditarik kembali. Batas antara heroisme jalanan dan liang lahat ternyata begitu tipis, memaksa kedewasaan datang lebih cepat melalui pintu kedukaan yang paksa.
Meski pada akhirnya kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda. Milea bertunangan dengan laki-laki lain. Tetapi justru karena itulah ia menuliskan kisah Dilan. Sebab manusia seringkali menulis bukan untuk mengabadikan kebahagiaan, melainkan untuk menyelamatkan kenangan agar tidak hilang seluruhnya. Tindakan menulis menjelma sebagai mekanisme pertahanan psikologis, sebuah upaya rekonstruktif untuk menjahit kembali kepingan waktu yang telah hancur oleh realitas takdir.
Menarik secara sastra mengapa Pidi Baiq memilih sudut pandang perempuan, yakni Milea, untuk mengenangkan Dilan. Bukan Dilan yang mengenang Milea. Pilihan itu membuat cerita menjadi lebih lembut, lebih melankolis, dan lebih manusiawi. Sudut pandang ini memberikan ruang bagi pembaca untuk merasakan kerapuhan emosional yang mendalam, menembus maskulinitas jalanan Dilan melalui lensa kepekaan dan kejujuran rasa seorang perempuan.
Mungkin karena kehilangan memang tidak mengenal jenis kelamin, atau barangkali semua orang memiliki ruang kosong yang sama. Ada orang-orang yang datang lalu pergi, tetapi tidak sepenuhnya hilang. Mereka menetap dalam lipatan memori, menjadi hantu-hantu puitis yang sesekali mengetuk kesadaran kita di kala sepi.
Seperti lirik lagu "Tenang Saja" dari The Panasdalam yang menjadi latar film. “Perpisahan tidak menyedihkan, yang menyedihkan adalah bila habis ini saling lupa.”
Dan melupakan, ternyata tidak pernah sesederhana yang dibayangkan. Ia bukanlah proses mekanis menghapus berkas digital, melainkan sebuah kerja sunyi menegosiasikan rasa sakit agar tidak lagi mengganggu jalannya sisa hidup.
Bila saya menuliskan cerita tentang beberapa perempuan lama, pada mulanya maksud saya adalah menuliskannya untuk terakhir kali. Setelah itu saya ingin melupakannya selamanya. Tetapi benarkah demikian? Apakah dengan melupakan, kesedihan juga ikut hilang? Apakah ingatan dapat benar-benar dimatikan seperti memadamkan lampu?
Mungkin tidak. Kita sering terkecoh oleh ilusi bahwa waktu menyembuhkan segala luka, padahal waktu hanya membiasakan kita untuk hidup bersama rasa perih yang berjalan linier di bawah alam sadar.
Mungkin memang harus seperti yang dikatakan Dilan tentang Milea, “Tidak apa-apa saya ditinggal pergi. Yang penting saya tidak meninggalkannya. Saya selalu ada untuknya.”
Kalimat itu, bila dibaca secara lebih luas, sesungguhnya bukan sekadar ungkapan cinta. Ia berbicara tentang kesetiaan pada kenangan. Tentang kemampuan manusia untuk menerima bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Ini adalah sebuah sikap asketis dalam memandang relasi. Sebuah kerelaan tingkat tinggi untuk melepas objek cinta demi menjaga kesucian nilai cinta itu sendiri di dalam dada.
Barangkali itulah yang disebut orang sebagai cinta platonis. Sebuah konsep filosofis kuno yang melampaui hasrat kepemilikan fisik, beralih menjadi sebuah bentuk penghormatan spiritual terhadap eksistensi orang yang kita cintai, di mana pun ia berada dan bersama siapa pun ia hidup.
Dan bila masalahnya adalah "bukan saya yang pergi, melainkan dia yang pergi", mungkin tak perlu mengutuk diri sendiri karena merasa gagal dalam cinta. Sebab cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Kadang-kadang ia hanya berubah bentuk menjadi doa, menjadi kenangan, menjadi cerita yang ditulis diam-diam pada malam hari. Bahkan seringkali patah hati justru menjadi hulu ledak bagi lahirnya karya-karya sastra besar yang abadi. Sebab menjadi sebuah sublimasi dari rasa sakit yang diubah menjadi keindahan verbal yang mampu menyentuh hati jutaan pembaca lintas generasi.
Dan kehidupan, sebagaimana selalu diajarkan waktu, tidak pernah berhenti pada satu nama. Seperti Dilan yang kemudian bertemu Ancika. Manusia rupanya selalu diberi kemungkinan untuk memulai kembali. Ini adalah bukti ketahanan psikologis manusia (resilience); sebuah kapasitas bawaan untuk memulihkan diri dari hantaman badai emosional dan membuka lembaran baru tanpa harus menodai kesucian babak yang terdahulu.
Karena harapan, sebagaimana cinta, tidak pernah benar-benar habis. Ia hanya berpindah tempat, menunggu ditemukan kembali oleh hati yang telah selesai berdamai dengan kehilangan. Proses penemuan kembali ini tidak memosisikan orang baru sebagai pengganti atau bayang-bayang masa lalu, melainkan sebagai subjek baru yang unik dengan warna cerita yang sepenuhnya berbeda.
Dan mungkin, menjadi dewasa bukanlah tentang melupakan masa lalu, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya. Kedewasaan yang matang ditandai oleh kemampuan kita melihat ke belakang tanpa rasa amarah, kepahitan, atau penyesalan yang melumpuhkan langkah ke depan.
Karena yang membuat manusia tetap hidup bukan hanya orang-orang yang masih bersama kita, melainkan juga mereka yang telah pergi, tetapi meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar hilang. Mereka telah menjadi bagian dari arsitektur jiwa kita, membentuk cara kita berpikir, cara kita memandang dunia, dan cara kita mencintai orang-orang yang datang kemudian.
Maka pertanyaan yang dahulu saya tuliskan, "Lalu saya bertemu siapa?", barangkali tidak perlu buru-buru dijawab. Sebab hidup bukan perlombaan untuk segera menemukan pengganti. Terlalu memaksakan diri mengisi kekosongan hati hanya akan melahirkan hubungan-hubungan artifisial yang rapuh dan dipenuhi ego pelarian.
Kadang-kadang, tugas manusia hanyalah berjalan. Berjalan dengan tenang, menyerap setiap pelajaran dari setiap tikungan nasib, sembari membiarkan luka-luka lama mengering secara alami oleh embusan sang waktu. Dan pada waktunya, seperti hujan yang selalu menemukan lautnya, kehidupan akan mempertemukan seseorang dengan kisah berikutnya. Sebuah pertemuan yang niscaya, organik, dan indah, yang dirajut oleh takdir bagi mereka yang telah lulus dari madrasah kehilangan. (Sal)