Patriotisme, Identitas, dan Ingatan Kolektif dalam Ae Watan Mere Watan

Sebelum memasuki pembahasan yang lebih dalam, judul film ini sendiri sudah menyimpan kedalaman...

Patriotisme, Identitas, dan Ingatan Kolektif dalam Ae Watan Mere Watan

28 Mar 2026
400 x Dilihat
Share :

Patriotisme, Identitas, dan Ingatan Kolektif dalam Ae Watan Mere Watan

Sebelum memasuki pembahasan yang lebih dalam, judul film ini sendiri sudah menyimpan kedalaman semantik yang melampaui sekadar deretan kata. Ae Watan Mere Watan dapat diartikan sebagai “Oh negeriku, tanah airku.” Kata watan memiliki akar etimologi yang sama dengan wathan dalam bahasa Arab, yang seketika mengingatkan kita pada ungkapan populer di dunia Islam, termasuk Indonesia: “Hubbul wathani minal iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Ungkapan ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga politis dan kultural, karena ia berhasil menautkan identitas spiritual yang transenden dengan keberadaan geografis dan kebangsaan yang imanen. Dalam konteks film ini, watan bukan sekadar peta, melainkan ruang suci tempat pengabdian kepada Tuhan yang beririsan dengan dedikasi kepada kemanusiaan dan kemerdekaan.

Di dalam film ini, kita juga mendengar gaung slogan “Vande Mataram”, sebuah seruan yang kerap dikumandangkan oleh tokoh-tokoh muda pergerakan India, termasuk Usha Mehta, tokoh utama yang diperankan Sara Ali Khan. “Vande Mataram” secara harfiah berarti “Aku bersujud kepada Ibu Pertiwi” atau dalam makna yang lebih luas: “Jayalah tanah air.” Seruan ini konon katanya diambil dari novel Anandamath karya Bankim Chandra Chatterjee (1882) yang kemudian menjadi simbol kebangkitan nasional India melawan hegemoni kolonial Inggris.

Menariknya, resonansi kata “Mataram” dalam “Vande Mataram” juga membawa kita pada ingatan historis di Nusantara, yakni eksistensi Kerajaan Mataram Kuno dan Mataram Islam yang pernah berdiri kokoh sebagai pusat kekuasaan, spiritualitas, dan kebudayaan di tanah Jawa. Ini bukan sekadar kebetulan linguistik atau korespondensi fonetik belaka, melainkan menunjukkan bagaimana konsep “ibu pertiwi” atau Motherland menjadi simbol universal dalam banyak peradaban Timur. Tanah air dianggap sebagai rahim yang melahirkan, merawat, dan pada akhirnya menuntut kesetiaan dari anak-anaknya.

Tetapi sejarah mencatat bahwa di India, seruan “Vande Mataram” tidak sepenuhnya bebas dari kontroversi sosiopolitik. Sebagian kalangan Muslim India secara historis merasa enggan atau menolak mengucapkannya karena lirik aslinya dianggap mengandung personifikasi tanah air sebagai dewi, sesuatu yang dalam perspektif teologi tauhid dipandang problematis.

Situasi ini memiliki kemiripan sosiologis dengan dinamika di Indonesia, misalnya ketika muncul perdebatan mengenai ucapan “Selamat Hari Raya Natal” atau partisipasi dalam ritual budaya tertentu yang bersinggungan dengan batas-batas akidah. Dengan demikian, “Vande Mataram” di India dan fenomena serupa di Indonesia sama-sama menjadi titik temu sekaligus titik uji antara identitas personal, keyakinan transenden, dan batas-batas toleransi dalam sebuah bangsa yang majemuk.

Di sinilah kita mulai melihat sebuah ketegangan yang seakan abadi yang mana satu sisi ada aspirasi besar untuk merayakan kesetaraan dan kebersamaan di bawah payung nasionalisme. Sementara sisi lain ada dorongan eksistensial untuk mempertahankan perbedaan yang dianggap prinsipil. Ketegangan ini memperlihatkan bahwa kesetaraan memang sering menjadi cita-cita luhur di atas teori konstitusi, tetapi realitas sosial di lapangan dibentuk oleh beragam fragmen ideologi yang tidak selalu sejalan. Jika ada narasi “kita sama” yang inklusif, tetapi juga ada narasi “kita berbeda” yang partikular, dan keduanya terus bernegosiasi secara dinamis dalam ruang publik seutas bangsa.

Sentimen agama kerap menjadi bahan bakar konflik yang mudah tersulut, meskipun penting bagi kita untuk membedakan secara jernih antara ajaran agama yang membawa pesan damai dengan ideologi politik yang mengatasnamakan agama demi kekuasaan. Lalu, dari mana sebenarnya api konflik ini berasal?

Dalam banyak kasus, ia lahir dari "amnesia sejarah", sebagai ruang ketidakpahaman mendalam terhadap akar sejarah bangsa, evolusi pemikiran agama, maupun persilangan sejarah budaya yang sebenarnya saling memperkaya. Ketika ingatan kolektif terputus dan digantikan oleh narasi tunggal yang sempit, maka yang tersisa hanyalah prasangka. Dan prasangka, seperti yang sering terjadi dalam catatan kelam kemanusiaan, mudah sekali berubah menjadi konflik fisik maupun struktural ketika bertemu dengan kepentingan ekonomi atau ambisi politik jangka pendek.

Film Ae Watan Mere Watan hadir dalam ruang diskursus ini sebagai upaya untuk menjahit kembali robekan ingatan kolektif tentang epik perjuangan kemerdekaan India. Film ini tidak sekadar merekonstruksi masa lalu secara sinematik, tetapi juga mencoba menanamkan kembali benih patriotisme, terutama kepada Generasi Z dan Milenial yang hidup di era disrupsi informasi.

Menurut berbagai catatan sejarah yang otoritatif, sosok Usha Mehta (1920–2000) memang bukan sekadar karakter fiksi. Ia adalah aktivis kemerdekaan yang nyata dan berperan krusial dalam mengoperasikan Congress Radio, sebuah radio bawah tanah selama Quit India Movement tahun 1942. Radio ini menjadi jantung komunikasi rahasia yang menyebarkan pesan-pesan perlawanan tepat setelah Inggris menangkap para pemimpin utama seperti Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru melalui "Operation Gulab".

Radio, dalam perjuangan Usha Mehta, bukan sekadar perangkat teknologi transmisi, melainkan simbol perlawanan intelektual. Ia menjadi medium yang menghubungkan sel-sel pejuang yang terisolasi, menyebarkan pidato berapi-api dari tokoh sosialis seperti Ram Manohar Lohia, serta menjaga nyala api revolusi tetap hidup di tengah represi brutal pemerintah kolonial.

Dalam kondisi yang sangat terbatas, kelangkaan suku cadang radio, pengawasan ketat intelijen Inggris (Special Branch), dan ancaman hukuman penjara yang berat, keberadaan radio ilegal ini menjadi bukti autentik bahwa perjuangan tidak selalu harus bersimbah darah di medan laga dengan senjata api, tetapi juga bisa dilakukan melalui frekuensi udara dan kekuatan suara. 

Data sejarah dari arsip nasional India menunjukkan bahwa Congress Radio beroperasi secara berpindah-pindah (mobile) dari satu gedung ke gedung lain di Bombay untuk menghindari pelacakan sinyal oleh aparat Inggris. Meskipun hanya mampu bertahan selama beberapa bulan sebelum Usha Mehta akhirnya ditangkap, dampaknya secara psikologis sangat signifikan dalam menjaga moral rakyat agar tidak runtuh di bawah tekanan kolonial.

Demikian film tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah "hadiah" yang jatuh dari langit secara tiba-tiba, melainkan sebuah hasil dari kerja kolektif yang rumit, keberanian individu yang melampaui batas rasa takut, dan inovasi yang lahir dari himpitan keterbatasan. Bahkan sesuatu yang tampak sederhana dan teknis seperti gelombang radio dapat bertransformasi menjadi alat revolusi yang mematikan bagi penjajah ketika digunakan dengan visi yang tepat.

Ddi balik narasi kepahlawanan itu, muncul sebuah pertanyaan bagi kita semua mengapa industri film India (Bollywood) begitu produktif dan konsisten dalam memproduksi film bertema patriotisme? Apakah ini merupakan tanda bahwa semangat nasionalisme di kalangan generasi muda mereka mulai memudar sehingga perlu "disuntik" terus-menerus, ataukah ini merupakan bentuk kesadaran kolektif untuk terus merawat "api" sejarah agar tidak padam oleh arus globalisasi?

India saat ini berdiri sebagai negara dengan diaspora terbesar di dunia, mencapai lebih dari 30 juta orang menurut data United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA). Dalam kondisi persebaran global yang begitu masif, India memiliki kepentingan strategis untuk menjaga keterikatan emosional dan kultural warganya dengan tanah leluhur. Film, sebagai produk budaya populer, menjadi instrumen soft power yang paling efektif, yang bisa melampaui batas geografis, menembus sekat kelas sosial, dan mampu menjangkau generasi diaspora yang mungkin tidak lagi memiliki persentuhan fisik langsung dengan tanah India.

Di sisi lain, maraknya film patriotik juga bisa dibaca sebagai strategi kultural untuk memperkuat identitas nasional di tengah dunia yang semakin datar (the world is flat). Ketika batas-batas negara menjadi semakin cair secara digital, narasi tentang “tanah air” perlu terus direvitalisasi agar tidak kehilangan makna hakikinya di bawah bayang-bayang konsumerisme global.

Film Ae Watan Mere Watan adalah sebuah biopik sejarah dan juga cermin jernih yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan eksistensial kita hari ini, tentang apa artinya memiliki identitas, di mana kita menarik garis batas toleransi, dan bagaimana kita secara jujur memaknai "tanah air" di tengah dunia yang terus berubah dengan sangat cepat.

Barangkali, hal yang paling fundamental bukanlah pada perdebatan apakah kita harus mengucapkan seruan tertentu atau tidak, atau apakah kita harus sepakat dalam seluruh dogma. Yang jauh lebih krusial adalah apakah kita memiliki kemauan untuk memahami dialektika sejarah yang telah membentuk kita sebagai bangsa, dan apakah kita tetap memiliki nyali untuk menjaga ruang hidup bersama tanpa harus menghapus perbedaan yang ada?

Sebuah negeri bukanlah sekadar hamparan tanah yang kita pijak atau garis batas yang tertera di peta. Negeri adalah tentang setiap ingatan yang kita rawat bersama, tentang suara-suara yang menolak untuk dibungkam, dan tentang bagaimana kita memilih untuk saling menghargai di atas keberagaman yang menjadi takdir kita. Karena tanpa ingatan, kita hanyalah orang asing di tanah yang kita pijak ini. (Sal)

Perspektif

Scroll