Mencari Hilal: Tentang Ayah, Anak, dan Kebenaran yang Diperebutkan

Sudah lama letupan batin ini ingin saya tuangkan setelah menyelami film Mencari Hilal. Ada gema...

Mencari Hilal: Tentang Ayah, Anak, dan Kebenaran yang Diperebutkan

28 Feb 2026
419 x Dilihat
Share :

Mencari Hilal: Tentang Ayah, Anak, dan Kebenaran yang Diperebutkan

Sudah lama letupan batin ini ingin saya tuangkan setelah menyelami film Mencari Hilal. Ada gema yang enggan reda, sebagai gaung yang terus-menerus mengetuk dinding kesadaran. Sebab bagi saya, film ini bukan sekadar sinema tentang perburuan bulan sabit sebagai penanda awal dan akhir Ramadan.

Di dalam narasinya, "Hilal" bergerak melampaui koordinat astronomis. Menjelma simbol pencarian yang lain. Pada sebuah pencarian sunyi seorang ayah demi kemurnian iman, sekaligus pencarian getir seorang anak akan sosok pelindung yang telah lama hilang dari sisinya. Ironisnya, sang anak pun menyandang nama Hilal—meski oleh kawan-kawannya, nama suci itu diplesetkan menjadi "Heli", sebuah panggilan yang terdengar jauh lebih sekuler dan berjarak.

Mencari Hilal merupakan sebuah magnum opus kontemplatif buah pemikiran sutradara Ismail Basbeth. Film ini dengan berani melukiskan benturan ideologi dalam fragmen keluarga, berlatar tradisi penentuan awal bulan suci yang penuh makna. Lahir dari kolaborasi nama-nama besar seperti Haidar Bagir, Denny J.A., Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo, hingga Hanung Bramantyo, karya ini berhasil membungkus isu agama yang kerap sensitif menjadi sebuah tuturan yang menyentuh.

Alih-alih menyampaikannya melalui khotbah di mimbar-mimbar megah, film ini memilih jalan lebih sunyi dan mendalam, meletakkan percik konflik di antara meja makan yang dingin dan perjalanan panjang ayah-anak yang penuh keheningan.

Dalam durasi sekitar 94 menit, Mencari Hilal hadir sebagai drama religi yang jauh dari kesan meledak-ledak, tidak mencoba memukau mata dengan mukjizat visual, melainkan menyuguhkan retorika tenang yang secara perlahan menggedam dan menetap di palung batin setiap penontonnya.

Cerita berpusat pada Mahmud (diperankan dengan sangat bernyawa oleh Deddy Sutomo), seorang ayah konservatif yang teguh memegang tradisi. Saat merasa geram dengan hiruk-pikuk birokrasi, terutama isu anggaran sidang isbat pemerintah yang disebut-sebut mencapai miliaran rupiah. Baginya, ibadah tak semestinya menjadi komoditas yang mahal dan bergantung pada stempel negara. Penentuan fajar kemenangan, menurutnya, bisa dilakukan secara bersahaja, seperti di masa mudanya di pesantren: cukup dengan mata telanjang, keyakinan, dan kerendahan hati di hadapan semesta.

Dalam realitas objektif, Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia memang merupakan orkestrasi besar yang melibatkan banyak unsur. Di antaranya para perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, BMKG, hingga duta besar negara sahabat. Melansir data dari berbagai literatur kebijakan publik, anggaran tersebut mencakup operasional pengamatan hilal di puluhan titik dari Sabang sampai Merauke. Perdebatan tentang efektivitas anggaran ini kerap menjadi polemik tahunan, terutama ketika perbedaan metode antara Rukyatul Hilal (pengamatan fisik) yang dipegang Nahdlatul Ulama dan Hisab Hakiki Wujudul Hilal (perhitungan matematis) yang dipegang Muhammadiyah menciptakan dualitas hari raya. Mahmud memandang semua kerumitan ini sebagai bentuk “politisasi langit.”

Kegeraman Mahmud bukan sekadar soal teknis astronomi, melainkan manifestasi dari prinsip hidupnya, bahwa agama jangan dipersulit, apalagi dipertontonkan dengan ongkos besar di atas penderitaan rakyat. Karena itu, ia memutuskan melakukan perjalanan fisik mencari hilal secara tradisional. Ia ingin membuktikan bahwa Tuhan bisa ditemukan tanpa harus melalui perantara birokrasi yang mahal.

Namun, raga Mahmud tak lagi sekuat imannya. Kondisi kesehatannya yang merosot membuatnya tak mungkin berkelana sendirian. Ia terpaksa meminta ditemani oleh anaknya, Heli—sang Hilal yang "hilang" itu, yang nama sekulernya Heli adalah antitesis dari ayahnya: seorang aktivis lingkungan yang berpikiran liberal, kritis, dan skeptis terhadap institusi agama. 

Di sinilah film ini menemukan denyut dramanya yang paling krusial tentang perjalanan fisik ayah dan anak untuk mencari titik bulan yang berubah menjadi perjalanan batin melintasi trauma masa lalu. Benturan antara teologi yang kaku dengan pemikiran modern yang menuntut logika menjadi bumbu di setiap kilometer perjalanan mereka.

Heli adalah representasi anak yang memberontak, putra seorang tokoh agama, tapi tak lagi menjalankan rukun Islam. Dalam satu adegan di bawah sengatan matahari yang membikin kerongkongan kerontang, Heli membeli minuman dingin di tengah hari Ramadan. Ayahnya, dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap, merebut minuman itu lalu membuangnya ke selokan. Anak itu, dalam kemarahannya, tak lagi diakui sebagai anak karena dianggap telah murtad dari pegangan leluhur. Adegan itu tampak sederhana, tapi itulah sesungguhnya retakan besar pada bendungan emosi yang sudah lama rapuh antara ayah dan anak.

Belakangan, terbuka tabir mengapa Heli menjauh dari salat dan puasa. Bagi Heli, agama yang dijalankan ayahnya terasa kering dan tidak berjiwa. Ia menyaksikan ayahnya terlalu sibuk berdakwah di luar sana, menyelamatkan umat yang tak dikenal, sementara rumah mereka sendiri kehilangan "kepala" atau panutan dalam keluarga. Luka paling dalam yang menghujam bagi Heli adalah memori saat ibunya meninggal dunia, dan sang ayah tidak berada di sisi keluarga karena sedang menunaikan tugas dakwah. Bagi Heli, dakwah ayahnya hanyalah kemewahan moral yang dibayar mahal oleh kesepian dan air mata anak-anaknya.

Di hadapan Mahmud, Heli melontarkan pertanyaan yang menggugat esensi otoritas: "Kebenaran versi siapa?" Pertanyaan ini muncul saat mereka berdebat tentang legitimasi waktu Idulfitri. Perdebatan itu sejatinya bukan soal posisi bulan, melainkan soal siapa yang berhak memegang kendali atas kebenaran. Sebagai pendakwah, Mahmud merasa harus yakin tanpa celah. Sebab, bagaimana mungkin meyakinkan umat jika nakhodanya atau sang tokohnya sendiri goyah? Namun, keyakinan yang sekeras batu karang itu justru menyisakan ruang hampa di tengah keluarga. 

Puncaknya adalah kalimat pahit yang keluar dari mulut Mahmud untuk Heli: "Kamu bukan anakku." 

Kalimat itu seperti palu godam yang menghantam kesunyian malam. Heli tertegun, lalu dengan suara lirih yang lahir dari kedalaman sukma yang terluka, ia membalas: "Kalau pun harus diberikan pilihan, aku juga tak mau punya ayah sepertimu." 

Pada bagian inilah, dada saya terasa sesak. Dialog itu begitu manusiawi, begitu jujur, dan mungkin saja sedang bergema di ribuan rumah lain yang penghuninya tak pernah benar-benar berdamai dengan sejarah masing-masing diri.

Film ini mendapat pujian kritis yang luas karena keberaniannya memotret wajah agama di Indonesia tanpa tendensi menggurui. Atas performa gemilangnya sebagai Mahmud, mendiang Deddy Sutomo dianugerahi gelar Aktor Utama Terbaik di Festival Film Indonesia 2015. Penghargaan itu terasa memang sangat layak. Karena ia berhasil menghidupkan sosok ayah yang bukan sebagai antagonis hitam-putih, melainkan sebagai manusia yang kompleks. Antara sosok yang keras, tulus, namun penuh kerapuhan yang disembunyikan di balik jubah ketaatan.

Relasi ayah dan anak memang selalu menyimpan lapisan-lapisan yang tak terucap, penuh dengan paradoks cinta dan benci. Sejarah mencatat banyak tokoh besar memiliki hubungan tegang dengan ayahnya. Misalnya Buya Hamka pernah mengalami friksi ideologis dengan ayahnya, Haji Rasul. Pramoedya Ananta Toer dalam karya-karyanya sering menyelipkan potret betapa kerasnya didikan sang ayah yang akhirnya membentuk jiwanya yang pemberontak. Bahkan dalam budaya populer, musisi seperti Eross Candra dari Sheila on 7 pernah bercerita tentang jarak emosional dengan ayahnya pasca-perceraian, dan bagaimana pemahaman kemudian tumbuh ketika ia sendiri memikul tanggung jawab sebagai seorang ayah.

Dengan demikian, saya rasa, hampir semua orang, termasuk saya pernah mengalami fase ketidakharmonisan dengan sosok ayah. Bukan selalu karena benci, melainkan karena ada jurang komunikasi yang gagal dijembatani oleh ego masing-masing. Terkadang, kita memilih untuk hidup sendiri dalam kesengsaraan, asalkan tidak perlu membuka lagi lembaran masa lalu yang terlampau pedih untuk dibaca ulang.

Hubungan atau keretakan ayah-anak sebagai isu yang diangkat dalam Mencari Hilal adalah sebenarnya melampaui hubungan biologis. Sebab bisa juga sebuah metafora relasi antara umat dan otoritas. Untuk memberi gambaran tentang ada semacam "wrong number"—meminjam istilah dari film PK—ketika pesan suci tentang Tuhan terdistorsi oleh ego dan penafsiran sempit manusia. 

Seperti perbedaan metode hisab dan rukyat, perdebatan anggaran, hingga klaim kebenaran antar-kelompok adalah cermin bahwa seringkali yang kita perebutkan bukan Tuhan, melainkan "hak milik" atas tafsir-Nya.

Di akhir perjalanan Heli, sebuah kesadaran muncul. Setelah ayahnya tiada, Heli menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang lelaki sebagai ayahnya itu. Namanya tetaplah Hilal Hanafi Mahmud. Sebab nama adalah jejak genetik dan sejarah yang tak akan bisa terhapus oleh air mata maupun amarah. Ia boleh berbeda jalan, berbeda cara memandang langit, namun darah yang mengalir di nadinya adalah darah sang ayah.

Suka atau tidak, ayah adalah bagian dari asal-usul kita. Ia bukan dewa yang tak pernah luput, dan anak pun bukan tentara yang harus selalu patuh pada garis komando. Kita semua hanyalah manusia yang sering terlambat menyadari bahwa waktu tidak pernah menunggu kita untuk saling memaafkan.

Barangkali, cara memahami orang lain, terutama orang lain itu bernama orang tua kita sendiri memang mirip dengan proses mencari hilal di ufuk barat. Ia membutuhkan langit batin yang bersih dari mendung ego, serta kesabaran yang luar biasa panjang. Kadang, hilal tidak tampak bukan karena ia tidak ada di sana, melainkan karena kita terlalu tergesa-gesa menganggap kegelapan sebagai sebuah ketiadaan.

Mungkin yang benar-benar kita cari di ujung Ramadan kehidupan ini bukanlah sekadar lengkung bulan sabit di cakrawala, melainkan secercah pengertian di antara dua hati yang sama-sama lelah karena terlalu yakin pada kebenarannya sendiri.

Ya sudah saja. Kita hanya perlu terus berjalan, hingga hilal itu benar-benar tampak di mata hati kita masing-masing. (Red)

Perspektif

Scroll