Belajar Menjadi Orang Tua dari Kekacauan, Pelajaran dari Film Son of The Mask

Seringkali, sebuah film yang secara produksi dianggap gagal dan narasinya dipandang remeh, justru...

Belajar Menjadi Orang Tua dari Kekacauan, Pelajaran dari Film Son of The Mask

12 Feb 2026
309 x Dilihat
Share :

Belajar Menjadi Orang Tua dari Kekacauan, Pelajaran dari Film Son of The Mask

Seringkali, sebuah film yang secara produksi dianggap gagal dan narasinya dipandang remeh, justru menyimpan 'permata tersembunyi' yang baru terungkap setelah ditonton dengan saksama. Hal ini saya temukan dalam Son of the Mask (2005). Meski film komedi fantasi arahan Lawrence Guterman ini jauh dari pujian kritikus dan kerap dihujat, ia sebenarnya membuka ruang refleksi yang dalam tentang dinamika keluarga dan peran seorang ayah. Di balik reputasinya yang kontroversial, terselip narasi krusial tentang kompleksitas kesiapan menjadi orang tua serta tanggung jawab emosional sebagai aspek yang acap terabaikan dalam diskursus maskulinitas arus utama.

Film ini bercerita tentang Tim Avery (diperankan oleh Jamie Kennedy), seorang animator ambisius yang hidupnya berubah drastis ketika anaknya, Alvey, lahir dengan kekuatan magis akibat pengaruh topeng misterius Loki. Kekacauan demi kekacauan terjadi, memadukan humor kartun yang surealis dengan konflik rumah tangga yang membumi. Di sana, kita diperlihatkan sosok seorang pria yang dipaksa belajar menjadi ayah dalam situasi yang jauh dari ideal, di mana garis antara fantasi dan realitas menjadi kabur oleh tangisan bayi yang mampu mengubah dunia di sekitarnya.

Secara komersial, Son of The Mask bukanlah film sukses. Bahkan sering disebut sebagai salah satu sekuel terburuk dalam sejarah sinema. Dengan anggaran produksi yang membengkak sekitar 84–100 juta dolar AS, film ini hanya mampu meraih pendapatan sekitar 59,9 juta dolar secara global, menjadikannya sebuah kegagalan box office yang telak. Kegagalan ini bukan tanpa alasan. Para kritikus memberikan ulasan yang sangat tajam.

Mendiang Roger Ebert, kritikus film legendaris, menilai film ini lebih menonjolkan efek visual yang melelahkan mata daripada membangun struktur cerita yang kuat. Sementara itu, situs agregator Rotten Tomatoes mencatat tingkat persetujuan kritikus hanya berada di angka sekitar 6 persen. Angka ini menunjukkan penerimaan yang sangat rendah, hampir menyentuh level penolakan massal terhadap estetika visualnya yang dianggap terlalu "berisik".

Namun, menariknya, justru film yang dianggap gagal secara artistik sering kali membuka ruang tafsir baru bagi penonton yang mau melihatnya lebih dalam. Alih-alih melihatnya sebagai sekadar komedi kacau dengan CGI yang aneh, sebagian penonton mulai membaca film ini sebagai metafora visual tentang ketakutan eksistensial menjadi orang tua. Ini adalah representasi tentang bagaimana seorang pria yang belum tuntas dengan mimpinya sendiri harus menghadapi realitas keluarga yang menuntut pengabdian penuh.

Ketika Komedi Menjadi Metafora Kehidupan

Dalam alur ceritanya, Tim Avery bukanlah sosok ayah yang langsung matang atau memiliki insting kebapakan yang kuat. Ia canggung, ragu, dan sering terlihat kewalahan menghadapi anaknya yang memiliki kekuatan di luar nalar. Kekacauan visual yang berlebihan, saat bayi yang bisa berputar seperti angin puyuh atau mengubah rumah menjadi arena sirkus—sebenarnya bisa dibaca sebagai simbol tekanan psikologis yang nyata bahwa bagi seorang ayah baru, kehadiran anak seringkali terasa absurd, melelahkan, dan tidak terduga.

Bagi sebagian penonton, film ini mungkin terasa terlalu berisik atau bahkan dangkal. Namun jika dilihat dari perspektif psikologi perkembangan, justru di situlah kedalamannya muncul. Banyak pria, sebelum menjadi ayah, membangun ekspektasi atau membayangkan keluarga sebagai gambaran ideal. Seperti rumah yang tenang, anak yang lucu dan selalu patuh, dan kehidupan yang stabil. Tapi realitas yang dihadapinya, seperti dalam kekacauan yang dialami Tim Avery, sering jauh lebih kompleks. 

Menurut data dari Pew Research Center, tekanan untuk menjadi "penyokong utama" sekaligus "ayah yang hadir secara emosional" sering kali menciptakan konflik internal pada pria modern. Termasuk dalam film ini secara jeli menyinggung isu pembagian peran dalam keluarga. Memotret karakter istri yang digambarkan menginginkan anak lebih cepat untuk melengkapi struktur domestik. Sementara sang suami belum atau tidak selalu sepenuhnya siap secara mental karena masih mengejar karier sebagai animator. Konflik ini sangat nyata dan jamak terjadi dalam kehidupan modern, di mana pasangan harus menegosiasikan harapan, ambisi pribadi, dan kesiapan emosional sebelum benar-benar memutuskan untuk membangun sebuah keluarga. 

Pengalaman menonton film ini memunculkan pertanyaan sederhana namun fundamental: apakah seorang lelaki benar-benar pernah merasa siap menjadi ayah? Ataukah "menjadi ayah" adalah sebuah proses yang hanya bisa dipahami justru setelah terjebak di dalamnya? Barangkali menjadi orang tua bukan hanya tentang kehadiran anak sebagai simbol kebahagiaan atau penerus keturunan, tetapi juga tentang seni kerja sama pasangan. 

Banyak kajian keluarga modern, termasuk laporan dari Psychology Today, menekankan bahwa pengasuhan anak (parenting) bukanlah tugas satu pihak saja. Film ini, meski dibungkus dengan gaya slapstick yang kadang melelahkan, memperlihatkan transformasi karakter dari seorang pria yang pasif dan egois menjadi sosok yang lebih terlibat dan protektif. Dalam kehidupan nyata, keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan (bukan sekadar hadir secara fisik) terbukti meningkatkan perkembangan emosional anak dan memberikan stabilitas yang lebih besar pada hubungan pernikahan. 

Meskipun film ini tidak secara eksplisit menyampaikan pesan edukatif seperti sebuah dokumenter, perjalanan karakter Tim Avery mengisyaratkan bahwa peran ayah adalah proses belajar yang berlangsung terus-menerus, penuh dengan trial and error, dan sering kali menuntut kita untuk menanggalkan "topeng" ego kita sendiri.

Keluarga Sebagai Ruang Belajar Tanggung Jawab

Barangkali, nilai terbesar dari film seperti Son of The Mask bukan terletak pada kualitas sinematiknya yang diperdebatkan, melainkan pada ruang refleksi yang ia buka bagi setiap penontonnya. Film yang dianggap gagal oleh industri sekalipun dapat menjadi cermin retak yang jujur untuk melihat diri sendiri. Cukup berhasil mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu memiliki sinematografi yang indah atau skenario yang rapi.

Keluarga sering dipahami sebagai struktur yang harus sempurna dan harmonis sejak awal, padahal sejatinya ia adalah ruang belajar yang gaduh, penuh kesalahan, tawa yang dipaksakan, dan ketidakpastian yang panjang. Anak bukan hanya melengkapi keluarga secara simbolik di atas kertas kartu keluarga, tetapi ia adalah katalis yang mengubah total identitas seseorang, menggeser fokus dari individu yang egosentris menjadi orang tua yang penuh empati.

Jika suatu hari nanti seseorang memutuskan atau terpilih menjadi seorang ayah, mungkin ia akan menyadari bahwa mengurus anak bukan sekadar tugas sampingan atau "membantu istri". Namun ia adalah tanggung jawab bersama yang sakral, sebuah proses panjang untuk belajar sabar, belajar hadir saat dunia terasa kacau, dan belajar untuk ikut bertumbuh bersama sang anak.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari perjalanan Tim Avery tentang tujuan akhirnya bukan untuk menjadi ayah yang sempurna tanpa cela, tetapi menjadi seorang ayah yang rendah hati, yang mau terus belajar meski di tengah kekacauan yang paling absurd sekalipun. Karena cinta orang tua seringkali ditemukan bukan dalam ketenangan, melainkan dalam kesediaan untuk bertahan di tengah badai.

The Redemptive Read Son of the Mask

Tulisan ini boleh dikatakan sebagai The Redemptive Read atau pembacaan yang memulihkan. Karena sering sebuah karya yang gagal secara estetika dan teknis, justru menyisakan ruang kosong yang luas bagi penonton untuk memasukkan pengalaman personal ke dalamnya. Renungan saya terhadap Son of the Mask bahwa ceritanya cukup memiliki kedalaman filosofis yang valid, meskipun secara sinematik film dalam beberapa ulasan mengalami babak belur.

Kritik utama terhadap film ini adalah visualnya yang "terlalu berisik" dan kartunis. Namun, jika ditarik ke ranah psikologis, bukankah fase awal menjadi orang tua memang terasa seperti itu? Dalam kekacauan visual adalah sama dengan kelelahan mental. Bagi seorang ayah baru yang belum siap, tangisan bayi, perubahan rutinitas, dan tuntutan domestik bisa terasa seperti serangan sensorik yang absurd. Termasuk efek visual yang "lebay" di film ini secara tidak sengaja mewakili inner chaos seorang pria yang dunianya jungkir balik.

Dalam banyak film, sosok ayah sering digambarkan dalam dua ekstrem: pahlawan yang kompeten atau pelawak yang tidak berguna. Son of the Mask (melalui Tim Avery) memotret sesuatu yang lebih rapuh: ketidaksiapan yang jujur. Tim Avery adalah seorang animator, seorang pemimpi, lalu ketika harus menghadapi bayi dengan kekuatan dewa, ini adalah metafora tentang bagaimana tanggung jawab keluarga sering dianggap sebagai "pembunuh" kreativitas dan ambisi pribadinya. Akhirnya membawa "tanggung jawab emosional yang diabaikan" karena Tim Avery dipaksa untuk berhenti menjadi pusat semestanya sendiri.

Topeng dalam film ini bukan sekadar alat sakti. Ia melambangkan transformasi. Menjadi orang tua seringkali mengharuskan seseorang memakai "topeng" baru, agar menjadi sosok yang pelindung, penyabar, dan stabil, meskipun di dalamnya ia masih merasa seperti anak kecil yang ketakutan.

Mengapa perspektif ini penting? Sebab apa yang kita lakukan adalah bentuk literasi media yang empatis. Kita tidak hanya mengonsumsi hiburan, tapi melakukan dialog dengan karya tersebut untuk membuktikan bahwa kualitas sebuah film tidak selalu menentukan kualitas pelajaran yang bisa diambil darinya. Kegagalan narasi di mata kritikus bisa menjadi keberhasilan reflektif di mata penonton yang sedang berada di fase hidup yang serupa.

Karena kita sering kali "menghakimi" proses belajar menjadi ayah sebagai sesuatu yang gagal (seperti banyak kritikus menghakimi film ini), padahal di balik kekacauan itu, ada upaya tulus untuk bertahan dan mencintai dengan apa-adanya atau sesungguhnya. (Sal)

Perspektif

Scroll