The 13th Warrior sebagai Kritik Peradaban Satu Tuhan dan Banyak Tuhan

"Di negerimu satu Tuhan mungkin cukup, tetapi kami memerlukan Tuhan banyak," begitu teriak seorang...

The 13th Warrior sebagai Kritik Peradaban Satu Tuhan dan Banyak Tuhan

31 Jan 2026
332 x Dilihat
Share :

The 13th Warrior sebagai Kritik Peradaban Satu Tuhan dan Banyak Tuhan

"Di negerimu satu Tuhan mungkin cukup, tetapi kami memerlukan Tuhan banyak," begitu teriak seorang dari bangsa Nortman (Nordic? suku bangsa utara Eropa) kepada Ahmed bin Fahdlan. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan sekilas seperti lontaran spontan seorang prajurit mabuk dalam sebuah film petualangan. Namun sesungguhnya, di balik kesederhanaannya, ia menyimpan inti persoalan besar dalam sejarah manusia tentang bagaimana keyakinan dibangun, tentang cara manusia menata hidup melalui Tuhan, dan tentang bagaimana peradaban sering kali berdiri di atas tafsir yang berbeda-beda mengenai yang suci.

Satu Tuhan atau banyak Tuhan bukan hanya soal jumlah. Ia adalah soal cara manusia menata hidup, menata ketakutan, menata masa depan. Demikian kisah pertemuan dan perpisahan dari pengalaman yang dicatat kemudian, sebagai kisah petualangan ksatria ke-13, atau satu-satunya prajurit bangsa Arab (dan beragama Islam) di antara prajurit bangsa Nortman (yang barbar) yang berjalan, bagi mereka, atas titah kuasa ramalan.

Film ini bukan sekadar cerita tentang seorang Arab tersesat di dunia Viking. Ia adalah cerita tentang peradaban yang saling menatap, saling curiga, dan saling mengukur siapa yang lebih “manusia”. Dan seperti banyak kisah besar, semuanya dimulai dari sesuatu yang paling tua dalam sejarah: ramalan.

Ramalan adalah mesin penggerak sejarah kuno. Orang yang kita sebut zaman kuno, dan sampai sekarang masih menjadi penutur tentang berita masa depan, bahwa dalam membangun tatanan, atau untuk sebuah tatanan dalam membangunkan harapan, sering dilandaskan pada sebuah ramalan.

Dalam masyarakat kuno, ramalan bukan sekadar hiburan mistik. Ia adalah institusi sosial. Ia adalah alat politik. Ia adalah bahasa kekuasaan. Para raja membutuhkan ramalan untuk meyakinkan rakyatnya bahwa takhta mereka bukan sekadar hasil perebutan, tetapi mandat langit. Termasuk agama manapun (agama, sebagai lembaga kuno pengatur tatanan), tak lepas dari adanya semangat “kuasa ramalan” sebagai semangat apokaliptik bagi penganutnya.

Agama dan ramalan sering berjalan beriringan. Bukan karena agama selalu mistik, tetapi karena manusia selalu gelisah atas pelbagai pertanyaan tentang kapan dunia berakhir, tentang siapa yang menyelamatkan, atau tentang apakah hidup ini punya arah. Seperti Yahudi mengharapkan berdirinya kerajaan penerus Sulaeman, maka bergeraklah mereka menuju bukit zion dengan dogma Israel. Kristen pun berharap Mesiah datang untuk “mengkristenkan” dunia, yang konon akan muncul di masa Armageddon. Demikian tak ketinggalan Islam tafsir lain bahwa sekarang sedang menunggu Imam Mahdi yang berebut benar antara versi Sunni dan Syiah, juga dalam Hindu adanya seorang Kalki Avatar, dan termasuk cerita film ini.

Jika diperhatikan, semua tradisi besar punya imajinasi tentang “yang akan datang”. Tentang harapan yang selalu diletakkan di masa depan. Dan ketika masa depan dijadikan janji, maka masa kini sering berubah menjadi arena konflik.

Film ini dengan cerdas menempatkan ramalan sebagai alasan perjalanan. Sebab manusia jarang berperang hanya karena logika, mereka berperang karena mitos.

Bangsa Nortman: Dunia Kekerasan dan Ritual

Cerita dimulai saat bangsa Nortman yang baru saja beralih kepemimpinan, didatangi tamu dari negeri lain supaya mau membantunya dalam mengusir kaum pembunuh. Diminta bantuan karena Bangsa Nortman digambarkan sebagai bangsa utara yang keras. Mereka hidup dianggap begitu dekat dengan kematian, untuk menggambarkan keberaniannya.

Dalam dunia seperti itu, keberanian bukan pilihan moral, melainkan kebutuhan biologis. Buliwyf, pimpinan mereka, pewaris sah kerajaan ayahnya yang meninggal dan baru dikuburkan dengan tata cara kuno, dengan dibakar segala simbolisnya, lalu meminta petunjuk pada sang nenek, si penguasa ilmu ramalan untuk bagaimana agar dapat menolong mereka.

Dipotret juga tentang pemakaman dengan api, yang bukan hanya ritual. Ia simbol bahwa hidup manusia habis menjadi abu, dan hanya kehormatan yang tersisa. Dengan sesajen tulang-belulang dan batu, dan tentu mantra-mantra, keluarlah dari mulut sang peramal bahwa harus pergi tigabelas ksatria untuk membantu mereka, di mana satu harus berbangsa lain. Di sinilah film menjadi menarik: mengapa harus bangsa lain?

Barangkali karena “yang asing” selalu dianggap membawa unsur takdir. Yang asing adalah tanda dari luar dunia. Dan sejarah sering bergerak justru ketika orang asing dipaksa masuk ke dalam sebuah kisah. Saat satu-persatu mengacungkan jari sedia menjadi ksatria, dalam hitungan ketigabelas tidak ada lagi yang mengacungkan jari. Lalu sang peramal berkata “harus dari bangsa lain”, mau tak mau Ahmed bin Fahdlan dijadikan kastria ketigabelas. Ahmed bin Fadhlan menjadi simbol keterlemparan: ia tidak memilih menjadi pahlawan. Ia dipilih oleh narasi yang lebih besar darinya.

Ahmed bin Fahdlan: Peradaban yang Terbuang

Saat perkenalan pada mereka, “Aku Ahmed bin Fahdlan (yang diperankan Antonio Banderas yang tenar dengan film Zorro), bin Al-Abbas, bin Rasyid, bin Hammad..... hingga disahut mereka, panggil saja engkau “Eban”, saking banyak bin dan bin fulan bin fulan.

Adegan ini tampak komedi, tetapi sebenarnya tragis. Sebab nama adalah identitas. Ketika nama dipotong, maka manusia sedang dipotong menjadi sekadar fungsi.

“Sebab segalanya tidak selalu berjalan lancar,” tulisnya dalam menuliskan kisah perjalanannya selama petualangan bersama bangsa Nortman.

“Dahulu aku adalah seorang penyair di kota terbesar di dunia. Dengan hidup yang menyenangkan dan jauh dari rasa khawatir akan suatu keadaan. Sampai suatu ketika aku jatuh cinta, pada wanita yang dicintai juga oleh pria lain. Sebab kedekatan pria ini pada khalifah membuatku dibuang. Aku dijadikan sebagai duta besar di negeri utara bernama Tossuk Vlad.

Ahmed bukan tentara sejak awal. Ia penyair. Ia manusia kota, manusia kata-kata. Dan justru manusia seperti itulah yang paling tersiksa ketika masuk ke dunia pedang.

Aku pun pergi jauh ke utara, melewati negeri Ogus, Khazars, dan Bulgaria, memasuki negeri para bandit pembunuh, bangsa Tartar (Barbar?), sampai bertemulah dengan bangsa utara. Perjalanan ini seperti perjalanan peradaban mundur. Dari pusat dunia Islam menuju pinggiran brutal Eropa utara.

Islam sebagai Adab: Kontras yang Tajam

Bergaul dengan mereka, Ahmed sebagai muslim, tak lupa memperkenalkan pada mereka dua kalimat syahadat, “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah” sembari mengguratkan tulisan arabnya di pasir. 

Syahadat di pasir adalah simbol halus: iman sebagai jejak. Ahmed terus setia tidak meminum arak, merasa malu sendiri melihat pergaulan bebasnya mereka, yang beradegan ciuman di tempat umum, dan bergidik saat mereka berbagi minuman. Sesudah dikumur lalu dibuang pada wadahnya oleh satu orang, lalu diminum lagi dan dibuang lagi pada wadah yang sama oleh teman lainnya secara bergiliran. Sebuah adegan yang menjurangkan antara adab Islam yang bersih dengan mereka yang jorok.

Di sini film menggarisbawahi perbedaan: Islam sebagai kebersihan, Nortman sebagai kekasaran. Namun pertanyaan tajam muncul: apakah “bersih” hanya soal ritual, atau soal cara memperlakukan manusia?

Representasi Islam: Pujian atau Eksotisme?

Film yang diadaptasi dari “Eaters of The Dead” punya Michael Crichton ini, memang mengangkat secara positif tentang Islam. Meskipun muncul satu pertanyaan kenapa pada film ini harus menghadirkan satu karakter seorang muslim di tengah bangsa jorok dan kanibal. Apakah ini sengaja ingin “mengejek” sebenarnya, bukan sebenarnya memuji Islam yang bersih, sebab sehubungan komunitas muslim sekarang banyak yang jorok dan bodoh, berbalikan dari peradaban muslim dahulu yang dikenal mereka pada sebagian buku sejarahnya?

Pertanyaan ini sangat relevan: Islam dalam film Hollywood sering dijadikan “kontras eksotis”. Muslim hadir sebagai simbol moral, tetapi juga sebagai “orang asing” yang aneh. Tetapi mungkin saja, ini sebatas meluaskan jangkauan biar film ini ditonton oleh kalangan yang lebih luas, komunitas muslim khususnya.

Demi aspek pemasaran untuk membidik penonton yang juga merasa terwakili dalam beberapa karakter film yang diproduksi tahun 1999 oleh John McTierman ini. 

The 13th Warrior bukan hanya kisah petualangan. Ia adalah kisah tentang bagaimana manusia selalu menciptakan “yang lain”: barbar, kafir, asing, utara, selatan. Tetapi ketika pertempuran datang, darah semua manusia sama warnanya.

Dan mungkin kalimat Nortman itu justru mengandung ironi terdalam: “Di negerimu satu tuhan mungkin cukup, tetapi kami memerlukan tuhan banyak.”

Sebab manusia yang kehilangan pegangan akan selalu memperbanyak sembahan: entah itu dewa, ramalan, ideologi, atau kekuasaan. Sedangkan manusia yang menemukan satu pegangan sejati, seharusnya tidak sibuk merasa paling suci, tetapi sibuk menjadi lebih manusia. Dan barangkali, ksatria ketigabelas ini bukan tentang Ahmed menjadi Viking, tetapi tentang Viking yang belajar bahwa peradaban bukan hanya pedang, melainkan adab. (Sal)

Perspektif

Scroll