Ada kalanya film bekerja lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi jendela kecil yang membuka pengetahuan baru, bahkan menggoyahkan cara kita memandang hidup. Barangkali inilah gunanya menonton film sebagai salah satu sarana update info-info baru di zaman yang terus maju. Dari layar yang tampak sederhana, kita kerap menemukan tema-tema besar yang selama ini luput dari perhatian.
Sebuah film Jepang dengan judul yang amat panjang: Love Like The Falling Petals (My Dearest, Like a Cherry Blossom), menjadi pemantik renungan ini. Film ini bercerita tentang seorang yang mengidap penyakit Sindrom Progeria, yakni jenis penyakit yang menyebabkan penderitanya menua jauh lebih cepat dari usia biologis yang semestinya. Tubuh bergerak cepat menuju senja, sementara usia kalender masih berada di pagi hari.
Penyakit yang sebenarnya mungkin harus dipandang biasa di era yang tak mudah diterka. Dunia terus berubah, batas antara yang normal dan yang tidak normal menjadi kian cair, dan biarpun Sindrom Progeria sebagai istilah medis tentang penuaan dini, terasa relevan bahkan jika itu dibaca secara metaforis.
Mungkin ia bisa saja disematkan terhadap gejala anak-anak sekarang yang katanya terlalu cepat dewasa. Sebab terseret ritme dunia digital, beban sosial, dan tuntutan prestasi. Dan barangkali juga perlu satu istilah lain untuk jenis “penyakit” orang dewasa yang sikapnya, dan perilakunya (seperti) kanak-kanak: enggan bertanggung jawab, mudah tersinggung, dan menolak belajar dari pengalaman. 🙂
Dari film ini ada satu insight yang menarik sekaligus menyentak: ketika menua lebih cepat, maka menjalani hidup pun terasa lebih cepat. Jika menua lebih cepat sudah otomatis berarti kematian datang lebih awal, dan membuat hidup pun tak lagi bisa ditunda, apa yang harus dilakukannya di hari-hari atau jam-jam atau menit-menit penghabisannya.
Di film ini digambarkan seorang yang sudah tahu kematiannya segera datang, maka yang ia lakukan bukanlah menumpuk ambisi atau memberi wasiat, melainkan menyinggahi sebentar tempat-tempat kenangan. Termasuk menemui satu orang yang patut dikenangkan, yang paling sederhana sekaligus paling manusiawi pernah menyentuh hati. Sebab setelah kematiannya berharap ada satu orang saja yang akan mengingatnya dengan tulus setelah ia tiada.
Hal ini kita bawa dari dunia fiksi menuju kenyataan medis. Dalam cerita nyata ada jenis penyakit, atau ada kondisi lain yang disebut Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), yang dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. Penyakit ini menimpa tokoh-tokoh besar seperti ilmuwan Stephen Hawking dan Morrie Schwartz.
Penyakit ALS akan secara perlahan melumpuhkan tubuh, memangkas kemampuan motorik, dan dalam banyak kasus, memangkas usia. Menurut diagnosis medis, siapa pun yang mengidap penyakit ini umumnya diprediksi akan berumur pendek. Stephen Hawking, yang wafat pada 14 Maret 2018, sejak usia 21 tahun sudah divonis secara medis hanya akan hidup sampai sekitar usia 23 tahun.
Namun sejarah berkata lain. Stephen Hawking, justru hidup hingga usia 76 tahun, bahkan menghasilkan karya-karya besar, mengubah cara manusia memahami semesta, dan membuktikan bahwa tubuh yang rapuh tidak selalu berbanding lurus dengan pikiran yang lemah.
Maka dari sini pertanyaan tentang usia dan keawetan hidup menjadi bergeser maknanya. Panjang umur ternyata bukan semata soal takdir biologis, melainkan juga tentang cara menjalani hidup. Pertanyaannya bukan seberapa panjang usia biologis, tapi kebermaknaan apa selama hidup.
Hal ini juga mengemuka ketika publik menyaksikan sosok Dr. Mahathir Mohamad. Baru-baru ini, ia memberi kuliah di konvensi NasDem untuk calon presiden. Sebuah peristiwa yang juga sempat menghebohkan publik Melayu karena pernyataannya tentang Riau yang dianggap “semestinya milik Malaysia”. Pernyataan itu tentu membikin geram anak-anak Riau Daratan, Kepulauan, dan Perantauan. Namun di luar kontroversi politik tersebut, ada satu fakta yang sulit diabaikan: di usianya yang telah mencapai 98 tahun, Dr. Mahathir masih terlihat segar, jernih berpikir, dan cerah berbicara.
Dulu, sempat ada yang berkata, dari seorang sales MLM K-Link, bahwa katanya kondisi prima beliau disebabkan oleh kebiasaan rutin minum klorofil, produk andalan K-Link. Klaim itu sempat beredar luas, meski lebih dekat ke promosi daripada penjelasan ilmiah. Jawaban Dr. Mahathir sendiri jauh lebih sederhana dan masuk akal. Selain karena membatasi makan atau menjalani diet, yang paling ia tekankan adalah kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan: membaca buku.
Membaca, bagi Mahathir, bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan cara menjaga pikiran tetap hidup, lentur, dan terhubung dengan dunia. Tubuh boleh menua, tetapi pikiran harus terus bekerja, begitu katanya. Pada titik ini, dari Sindrom Progeria, ALS, hingga film romantis Jepang, atau dari Stephen Hawking, hingga Mahathir Mohamad seakan terhubung oleh satu benang merah: usia bukan hanya perkara angka.
Menjadi “tua” tidak selalu berarti melemah, dan menjadi “muda” tidak otomatis berarti hidup lebih bermakna. Sebab yang menentukan adalah bagaimana seorang itu menjalani waktunya. Apakah ia mengisinya dengan kesadaran, pembelajaran, dan keberanian mencintai hidup, atau sekadar membiarkannya berlalu.
Barangkali rahasia awet muda bukan terletak pada suplemen, teknologi medis, atau mitos kesehatan tertentu. Ia tersembunyi dalam hal-hal yang kerap kita anggap remeh: membaca, berpikir, mengingat, dan memberi makna pada hari-hari yang terus bergerak menuju akhir. Hidup yang panjang tanpa makna mungkin hanya memperpanjang penantian. Tetapi hidup yang singkat, jika dijalani dengan penuh kesadaran, bisa menjadi abadi dalam ingatan banyak orang. (Sal)