Single in Seoul dan Single in Batam

Pertanyaan dari satu tokoh film: pada kalian yang sudah berpasangan, kapan kali terakhir kalian...

Single in Seoul dan Single in Batam

27 Jan 2026
295 x Dilihat
Share :

Single in Seoul dan Single in Batam

Pertanyaan dari satu tokoh film: pada kalian yang sudah berpasangan, kapan kali terakhir kalian merasa benar-benar senang setelah berpasangan? Pertanyaan ini, menurutnya, bukan sindiran, melainkan kegelisahan yang jujur.

Sebuah tanya sederhana dari seorang lajang yang menulis buku tentang kelajangannya sendiri. Pertanyaan yang lahir dari pengamatan sehari-hari, dari percakapan ringan di warung kopi, dari unggahan media sosial yang penuh senyum, namun sering kali menyimpan sunyi di balik layar.

Baginya, melajang itu bagus. Bukan sekadar melajang itu tidak apa-apa. Sebab ada perbedaan mendasar di sana. Yang pertama adalah manifesto seorang jomblo, sebuah posisi sadar yang dipilih dan dirayakan. Sedangkan yang kedua hanyalah kalimat penghiburan, sejenis penawar sementara agar kesendirian tidak terasa terlalu pahit. 

Melajang, dalam pemahamannya, bukan keadaan darurat yang harus segera diakhiri, bukan pula ruang tunggu yang memaksa seseorang terus menengok jam dan kalender hidupnya. Ia adalah sebuah ruang hidup yang sah dan bermakna. 

Ruang untuk mendengar diri sendiri tanpa gangguan, untuk merawat luka tanpa tergesa menutupnya, dan untuk belajar merasa cukup tanpa harus selalu disandingkan dengan kehadiran orang lain. Di dalam melajang, seseorang tidak sedang kekurangan, melainkan sedang mengalami hidup dalam bentuknya yang paling jujur: sendirian, tetapi tidak kehilangan arah; sunyi, namun tetap berdaulat atas pilihannya sendiri.

Namun buku yang diterbitkannya justru menuai komentar yang tak sepenuhnya ia duga. Para pembaca mengatakan bahwa isi bukunya bukan tentang kesendirian yang merasa senang, melainkan lebih banyak berkisah tentang masa sebelum akhirnya ia melajang. Tentang hubungan, tentang kehilangan, dan terutama tentang satu kisah yang terus kembali: kisah cinta pertamanya.

Ia menuliskan cinta pertamanya kepada seseorang dengan kesungguhan yang nyaris obsesif. Setelah itu, seolah-olah tidak ada cinta lagi di hatinya. Seakan-akan seluruh persediaan perasaan telah habis tercurah pada satu nama, satu masa, satu kenangan. Barangkali, memang cinta di hatinya sudah habis untuk perempuan di kisah cinta pertamanya—atau barangkali, cinta itu tidak pernah benar-benar habis, hanya berubah bentuk menjadi ingatan pada perempuan pertama yang terus hidup.

Itulah sebabnya ia menjadi paling serius ketika menulis kisah cinta pertamanya. Meski kata sebagian orang, apa pentingnya cinta pertama? Bukankah itu hanya pertemuan di masa ketika kita paling canggung, paling kikuk, dan paling tidak tahu apa-apa tentang hidup? 

Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena cinta pertama juga hadir di masa ketika kita paling polos, ketika perasaan belum dipersenjatai oleh trauma, perhitungan, dan kewaspadaan berlebihan.

Menulis kisah cinta pertama, atau sekadar menulis tentang pernah memiliki sebuah hubungan, bagi seorang lajang, sering kali berujung pada satu kesimpulan pahit: bahwa sebuah hubungan hanyalah kesenangan singkat. Bukan karena hubungan itu buruk, tetapi karena bahkan mereka yang sudah berpasangan pun, pada akhirnya, tetap bisa merasa sendirian. 

Kesendirian, rupanya, tidak selalu ditentukan oleh status. Seperti di kota seperti Batam ini, kota industri, wisata dan investasi yang bergerak cepat, penuh migrasi, kontrak kerja, dan perpisahan sementara. Kesendirian bagi siapapun sering punya wajah yang berlapis-lapis. 

Pada kisah yang terjadi di kota ini: orang datang untuk bekerja, menetap untuk sementara, lalu pergi lagi. Hubungan pun sering kali tumbuh di tengah ketidakpastian itu. Kesendirian tidak selalu berarti hidup sendiri, tetapi hidup tanpa tempat benar-benar pulang. Hidup punya tempat tinggal, tapi bukan rumah. Punya istri/suami tapi bukan pasangan. Akhirnya kesendirian mencabik-cabik pada yang sudah menikah dan apalagi pada yang sendirian.

Maka boleh jadi pada yang melajang, seseorang memang hanya berjodoh dengan dirinya sendiri. Dan jika kemudian jodohnya datang sebagai entitas bernama perempuan (bagi laki-laki—atau sebaliknya) ia tetap perlu merasa sebagai lajang: sebagai seseorang yang utuh, yang tidak menggantungkan makna hidup sepenuhnya pada orang lain. Atau setidaknya, meluangkan waktu untuk sejenak menjalani kesendirian, bahkan di dalam sebuah hubungan.

Karena menikah bukanlah jawaban mutlak untuk meraih bahagia. Pernikahan tidak otomatis menghapus sunyi. Justru, kesendirian kini menjadi sesuatu yang semakin langka dan sering dihindari, padahal ia menuntut satu hal penting: kejujuran kepada diri sendiri. Terutama setelah hati lama tak berpenghuni, digerus oleh arus perubahan zaman yang serba cepat dan serba menuntut kebahagiaan instan.

Maka bagi mereka yang kelak merasa sendiri setelah menikah, barangkali penting untuk menghayatinya sejak sekarang: bahwa menjadi benar-benar sendiri bukan berarti anti-hubungan, melainkan tidak melarikan diri. Tidak melarikan diri dari kesunyian, tidak melarikan diri dari luka, dan tidak tergesa-gesa mencari pengganti demi menambal kekosongan.

Bagi sebagian orang, kedamaian adalah ketika menemukan kebebasan. Namun kebebasan pun menyimpan paradoksnya sendiri. Di dalam kebebasan, kesepian bisa tumbuh diam-diam. Karena bebas berarti tidak terikat pada apa pun, tidak bergantung pada siapa pun. Di titik itulah, manusia dituntut untuk memahami proporsi: kapan saatnya sendiri, dan kapan saatnya berbagi.

Kesendirian bukanlah lawan dari cinta. Ia justru prasyaratnya. Tanpa berdamai dengan kesendirian, cinta hanya akan menjadi pelarian. Dan mungkin, itulah pelajaran paling sunyi yang bisa kita petik, baik sebagai lajang di Batam, maupun sebagai siapa pun yang masih belajar menjadi manusia utuh. (Sal)

Perspektif

Scroll