Kolonialisme itu memang jahat, Cinta. Tetapi revolusi juga memakan korban. Di tengah zaman yang berubah, akan banyak sekali Johan-Johan lain yang mengalami gejolak pertarungan dalam dirinya: antara memihak Republik atau Belanda, dan tak mudah menentukan pilihannya.
Manusia, dengan segala pengalaman dan memori yang membentuk dirinya, tidak dapat disekat begitu saja oleh garis-garis politik, misalnya garis Van Mook. Pertarungan batin ini menegaskan bahwa konflik sesungguhnya sering kali bukan hanya antara bangsa, melainkan antara gagasan, antara identitas lama dan masa depan yang baru.
Bahkan mungkin pertarungan sebenarnya bukanlah antara Belanda dengan Republiek Indonesia. Tetapi lebih mendasar: antara ide kolonialisme-imperialisme sebagai status quo, buah dari Revolusi Industri, melawan ide baru, anak kandung Revolusi Prancis, ketika para pemuda dan pemudi Republik menuntut kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan (Liberte, Egalite, Fraternite).
Di sinilah letak konflik menjadi refleksi perjalanan kemanusiaan universal: ketika manusia dipaksa memilih, atau setidaknya memahami, posisi moral dan historisnya sendiri. Seperti kejadian sesudahnya di beberapa hari lalu, muncul berita pernyataan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, yang menyampaikan permohonan maaf atas kekejaman Belanda yang ekstrim, masif, dan sistematis di masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
Membuat saya kembali ingat pada film Oeroeg yang diproduksi tahun 1993. Film ini dirilis secara internasional dengan judul “Going Home”, merupakan hasil kolaborasi antara Belanda, Indonesia, dan Belgia, dan disutradarai oleh Hans Hylkema. Film ini diadaptasi dari novel terkenal karya penulis Belanda, Hella S. Haasse, yang pertama kali terbit pada tahun 1948, tepat di masa Republik Indonesia masih mempertahankan kemerdekaannya dari Agresi Militer Belanda I dan II.
Film Oeroeg mengisahkan persahabatan erat antara Johan van Berghe, seorang anak dari keluarga kaya Belanda, dan Oeroeg, putra dari seorang pelayan pribumi. Mereka tumbuh bersama di sebuah perkebunan di Jawa pada tahun 1930-an, berbagi hari-hari bermain dan belajar, membentuk ikatan yang tampak tak terpisahkan. Namun, persahabatan mereka mulai retak seiring meningkatnya semangat nasionalisme dan pecahnya Perang Kemerdekaan Indonesia.
Johan kembali ke Indonesia sebagai perwira tentara Belanda, sementara Oeroeg telah bergabung dengan pejuang kemerdekaan. Konflik batin yang dialami keduanya, antara kesetiaan pada persahabatan masa kecil dan loyalitas terhadap ideologi serta negara masing-masing, menjadi inti dari cerita. Film ini bukan hanya tentang pertarungan fisik atau politik, tetapi juga pertarungan identitas, memori, dan hati nurani di tengah kekejaman perang.
Setelah menonton film ini, serta membaca ulasannya lebih lanjut, saya menyadari kedalaman adaptasi novel Hella S. Haasse. Penulis yang karya lainnya, Heren van De Thee (Sang Juragan Teh), juga pernah saya baca, buah tulisannya menorehkan sensitivitas yang tajam terhadap psikologi karakter dan konteks sejarah.
Novel Oeroeg, terbit pada tahun 1948, menjadi saksi mata masa kolonial Hindia Belanda hingga revolusi kemerdekaan Indonesia. Kehadiran Johan sebagai tentara Belanda yang kembali ke tanah kelahirannya, yang telah berubah secara dramatis, menjadi simbol perjalanan manusia yang harus menghadapi masa lalu, hubungan dengan teman lama, dan kenyataan sosial yang tak lagi familiar (Friendly).
Dalam film, alur maju-mundur mengajak penonton menyelami masa kecil Johan di perkebunan Kebon Jati, bermain di danau bersama Oeroeg, dan menumbuhkan persahabatan di tengah tradisi Nusantara. Adegan-adegan sederhana seperti ketakutan Johan kecil pada hantu Nenek Kombel, pisang goreng, Bupati Sumedang Raden Adipati Surya Kusuma Adinata, hingga Mata Hari, adalah nama-nama yang muncul di dialog film, memberi lapisan budaya dan sejarah yang menyatu dengan pengalaman personal.
Ketika ayah Johan memarahi, “Kamu orang Belanda. Kenapa kamu memercayai hantu?” muncul refleksi mendalam. Meski lahir dari gen Belanda, tanah Nusantara membentuk pemahaman mistik dalam diri Johan. Apakah ini bukti bahwa benturan antara materi dan jiwa manusia di bumi Nusantara membangun alam mistik bagi penghuninya? Atau sekadar pengingat bahwa identitas selalu merupakan pertemuan kompleks antara darah, tanah, dan sejarah?
Johan juga bertemu Lida, seorang guru totok Belanda yang membimbingnya dan Oeroeg sejak kecil. Lida, diam-diam memihak Republik, memperingatkan Johan, “Keadaan sudah berubah, Johan. Ini bukan lagi Hindia-Belanda. Dan kamu harus memilih pihak mana.” Johan, yang mencintai tanah kelahirannya, menanggapi jujur, “Tidak bisa semudah itu. Tidak semua orang dapat mudah memilih pihak yang sama seperti kamu.” Dialog ini menegaskan dilema moral dan identitas yang menjadi inti novel-film, di mana politik dan sejarah mengubah segalanya, bahkan ikatan persahabatan yang terdalam sekalipun.
Seperti Lida membujuk Oeroeg agar tetap bersekolah dan tidak hanya menjadi petani, Haasse menekankan pentingnya masa depan yang dibangun oleh kesadaran dan pilihan individu: “Apa itu masa depan? Masa depan adalah ketika engkau tumbuh. Engkau dapat menjadi apa pun yang engkau suka.” Namun jika kenyataan sosial tetap membatasi kemungkinan itu, dapat menegaskan konflik internal karakter dan masyarakat.
Pertanyaan Johan kecil, apakah Oeroeg di bawah mereka? Ayahnya merespon bijak: “Tentu saja Oeroeg tidak di bawah kita. Apakah buaya di bawah gajah? Kupu-kupu di bawah jerapah? Tidak. Tapi mereka berbeda, dan Oeroeg adalah temanmu. Itu saja yang penting.” Dialog sederhana ini memuat filosofi persahabatan, kesetaraan, dan kemanusiaan di tengah ketidakadilan sistemik.
Tapi kemudian realitas sosial kolonial tidak memungkinkan Johan dan Oeroeg untuk menegosiasikan perbedaan status: bioskop yang memisahkan Belanda dan pribumi, kedai yang menolak melayani, dan struktur pendidikan yang diskriminatif. Oeroeg akhirnya bergabung dengan pemoeda perjuangan, sementara Johan melanjutkan pendidikan militer di Belanda. Persahabatan mereka diuji oleh sejarah, politik, dan struktur sosial, meninggalkan jejak kerinduan dan penyesalan yang dalam.
Melihat film ini hari ini, relevansinya tak hanya sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai bahan refleksi untuk membangun hubungan baru Indonesia-Belanda. Sinema dapat menjadi medium yang mengangkat tema persahabatan, identitas, dan sejarah tanpa terjebak dalam konfrontasi murni. Seperti halnya sinema India yang membahas hubungan bilateralnya dengan Inggris dengan cara lebih naratif dan emosional, Indonesia perlu memproduksi film-film serupa, yang menyoroti interaksi kompleks manusia dan sejarah.
Bahkan jika latar perang tetap ada, ada ruang untuk mengangkat novel-novel seperti Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwijaya atau Maling Republik dari Soenaryo Basuki KS, yang menawarkan penggambaran nuansa hubungan Indonesia-Belanda yang tak melulu hitam-putih.
Tantangan ini memang berat bagi sineas kita, membutuhkan sokongan negara dan kesadaran kolektif. Sebagai penonton, saya hanya bisa menjadi penggembira, tetapi setiap film semacam ini adalah jendela untuk melihat masa lalu dengan mata hati yang lebih luas, reflektif, dan manusiawi. (Sal)