A Long Visit

Tak pernah habis cerita tentang seorang ibu. Seolah waktu pun tak cukup untuk menampung seluruh...

A Long Visit

17 Des 2025
241 x Dilihat
Share :

A Long Visit

Tak pernah habis cerita tentang seorang ibu. Seolah waktu pun tak cukup untuk menampung seluruh kisah pengorbanan, kecemasan, doa, dan cinta yang diam-diam ia simpan sepanjang hidupnya. 

A Long Visit hadir sebagai semacam dongeng dari semenanjung Korea yang bukan sekadar cerita sentimental, melainkan pengingat kolektif bagi masyarakatnya agar tak lupa pada asal-usul: seorang ibu, rumah pertama tempat manusia belajar mencintai dan bertahan.

Sejak awal, film ini mengajak penonton bersiap menempuh perjalanan batin. Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang terus mengenangkan anaknya, dan tentang seorang anak yang berusaha berbakti di saat-saat terakhir kehidupan ibunya. Sebuah kisah sederhana, namun menyentuh lapisan terdalam relasi manusia yang kerap tergerus oleh waktu dan kesibukan.

Korea Selatan, sebagai salah satu negara yang melaju cepat dalam pusaran revolusi industri dan kapitalisme global, memiliki dinamika sosialnya sendiri. Pendidikan tinggi, kompetisi kerja, ambisi karier, dan pengejaran materi telah membentuk generasi yang disiplin dan produktif. Namun, kemajuan itu tak selalu datang tanpa ongkos. Perlahan, manusia berisiko kehilangan sisi terdalam dirinya: kehangatan, kehadiran, dan kepedulian pada keluarga. Seperti kritik klasik terhadap kapitalisme, hidup pun terasa seperti menjadi sekrup kecil dalam mesin industri raksasa yang berputar, bekerja, namun kerap lupa untuk pulang.

Di sinilah karya seni, khususnya sinema, mengambil peran penting. Film ini menjadi penyeimbang, sebuah jeda yang mengingatkan kembali bahwa di balik angka, target, dan prestasi, ada watak kemanusiaan yang mesti dijaga. Bisa jadi A Long Visit adalah ungkapan kerinduan personal sang sutradara kepada ibunya. Atau mungkin sebuah “khutbah sunyi” tentang figur ibu yang diidealkan di era modern. Bisa pula ia merupakan potret sosial keluarga Korea, sebagai unit terkecil masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan makna kebersamaan di tengah tekanan zaman.

Secara halus, film ini seperti berbisik, “Pulanglah, Nak. Jemput ibumu. Rayakan kebersamaan selagi waktu masih memberi kesempatan.” Urbanisasi yang masif telah memisahkan anak dari orang tua, jarak geografis berpadu dengan jarak emosional. Kesibukan sering menjadi alasan, hingga kepulangan terasa tertunda, bahkan dilupakan. Seolah rindu pun tak lagi sempat dirawat: rindu pada rumah, rindu pada sanak saudara, dan terutama pada ibu yang melahirkan serta membesarkan kita dengan seluruh keterbatasannya.

Pada lapisan lain, film ini juga menyingkap kisah pernikahan yang dipenuhi pertengkaran antara ayah dan ibu, disaksikan oleh anak-anak mereka. Dari situ, muncul pesan sunyi tentang tanggung jawab: bahwa keluarga, betapapun rapuhnya, adalah ruang pertama tempat seorang anak belajar tentang pengorbanan. 

Sang anak diingatkan untuk memberi yang terbaik, terutama kepada ibunya. Memberi keindahan pada sisa waktu yang mungkin tinggal sedikit. Sebab bisa jadi, ketika hidup berakhir, masih ada kata maaf yang tak terucap, dan bahagia yang tak sempat diberikan.

Dalam salah satu adegan, sang anak melontarkan keputusasaan: keinginan untuk tak menikah, penolakan pada institusi keluarga yang dianggap hanya melahirkan luka. Namun justru di tengah kekacauan itu, kemuliaan hati sang ibu tampak paling terang. Ia bertahan, mempertahankan bahtera rumah tangga yang nyaris karam, demi kebahagiaan anaknya. 

Dengan lirih ia berkata, “Engkaulah yang membuatku tetap hidup.” Sebuah kalimat sederhana, namun cukup menjelaskan mengapa seorang ibu sanggup bertahan meski rumah tangganya terasa seperti arena perang.

Demi anaknya, sang ibu bahkan mendatangi rahib gereja untuk mengaku dosa karena masih mendatangi peramal. Ia rela melakukan apa pun, meski tampak tak rasional, selama itu memberi rasa aman bagi anaknya. Ketika pendeta menegurnya, sang ibu menjawab dengan kejujuran yang telanjang, “Kau tidak menikah. Kau tidak punya anak. Maka kau tak akan mengerti.” Sebuah kalimat yang menegaskan bahwa cinta seorang ibu tak selalu bisa dijelaskan oleh logika, apalagi oleh mereka yang tak pernah mengalaminya.

Ia adalah ibu yang tak berpendidikan “modern”, masih hidup dalam alam tradisi, percaya pada reinkarnasi. Namun justru di situlah kedalaman cintanya tampak. Saat mengenang anaknya yang meninggal karena kanker pankreas, ia berbisik lirih, “Nak, jadilah anakku lagi di kehidupan mendatang. Ibu menyayangimu, putriku.” Cinta yang melampaui satu kehidupan, melintasi batas rasionalitas dan waktu.

Pada bagian epilog, film ini seakan melemparkan sebuah pertanyaan sunyi kepada penontonnya: akankah suatu hari ibu kita berkata, “Hal terbaik yang pernah kulakukan dalam hidupku adalah melahirkanmu”? Pertanyaan itu tak menuntut jawaban lisan. Ia hanya meminta satu hal: kesadaran. 

Bahwa selama ibu masih ada, mungkin kunjungan panjang yang paling bermakna bukanlah perjalanan jauh ke negeri asing, melainkan keberanian untuk pulang, duduk di sampingnya, dan menghadirkan diri sepenuhnya. Sebelum waktu benar-benar pergi tanpa pamit.(Sal)

Perspektif

Scroll