My Name is Loh Kiwan: Saat Bertahan Hidup Bukan Pilihan, tapi Keharusan

Film My Name is Loh Kiwan (2024) menghadirkan gambaran getir tentang nasib anak manusia yang...

My Name is Loh Kiwan: Saat Bertahan Hidup Bukan Pilihan, tapi Keharusan

24 Jan 2026
247 x Dilihat
Share :

My Name is Loh Kiwan:  Saat Bertahan Hidup Bukan Pilihan, tapi Keharusan

Film My Name is Loh Kiwan (2024) menghadirkan gambaran getir tentang nasib anak manusia yang terjepit di antara aturan, dokumen, dan perjanjian hukum internasional. Disutradarai dengan nada lirih dan diperankan dengan epik oleh Song Joong-ki, film ini bukan sekadar kisah personal, melainkan potret bagaimana hukum global yang tampak rasional dan tertib sering kali berhadapan langsung dengan tubuh-tubuh rapuh para imigran dan pengungsi.

Loh Kiwan adalah pembelot asal Korea Utara yang hidupnya ditentukan oleh satu pertanyaan mendasar: siapa dirinya di mata negara-negara yang ia lewati. Ia harus berhadapan dengan pengadilan dan birokrasi internasional untuk membuktikan apakah ia warga negara Tiongkok, atau warga Korea Utara yang membelot. Pertanyaan administratif itu terdengar dingin dan teknis, namun bagi Kiwan, jawabannya menentukan ke mana ia akan dipulangkan, dan apakah ia akan tetap hidup atau justru dikembalikan ke ancaman yang selama ini ia hindari.

Latar belakang pelariannya membentuk fondasi emosional film ini. Kiwan melarikan diri dari Korea Utara ke Tiongkok bersama ibunya, berharap bisa bertahan di wilayah abu-abu yang penuh ketidakpastian. Namun nasib berkata lain. Dalam upaya menghindari kejaran otoritas Tiongkok, ibunya tewas secara tragis dalam sebuah kecelakaan. Kematian itu bukan hanya kehilangan orang terdekat, tetapi juga kehilangan satu-satunya penanda rumah dan masa lalu. Wasiat terakhir sang ibu sederhana namun berat: teruslah bertahan hidup. Wasiat itulah yang mendorong Kiwan pergi seorang diri ke Brussel, Belgia.

Tiba di Belgia, Kiwan memasuki fase hidup yang paling telanjang. Tanpa bahasa, tanpa jaringan sosial, tanpa kepastian status hukum, ia hidup terlunta-lunta sebagai gelandangan. Hari-harinya diisi dengan mencari makanan dari tempat sampah, tidur di fasilitas umum, dan menunggu proses administrasi status pengungsi yang rumit dan lamban. Di titik ini, film bekerja sebagai kritik senyap terhadap sistem suaka internasional yang kerap menuntut kesabaran tanpa memberi jaminan kemanusiaan. Waktu berjalan, tetapi hidup Kiwan seperti berhenti.

Dalam lapisan tematik, My Name is Loh Kiwan mengingatkan pada The Revenant, kisah tentang bagaimana manusia bertahan hidup melalui adaptasi dan evolusi kesadarannya. Keduanya menegaskan bahwa bertahan hidup bukan selalu tentang keberanian heroik, melainkan tentang kesediaan untuk terus bergerak, meski langkah terasa sia-sia. Pada bagian awal, film ini terasa berat, penuh keheningan, rasa dingin, dan beban psikologis. Namun seiring waktu, film perlahan bergeser menuju wilayah yang lebih personal dan emosional, berbucara pertemuan manusia dengan manusia.

Di tengah keputusasaan itu, Kiwan bertemu Marie (Choi Sung-eun), seorang warga Belgia keturunan Korea, mantan atlet penembak jitu yang telah kehilangan semangat hidupnya sendiri. Pertemuan mereka berawal dari konflik: Marie mencuri dompet Kiwan, yang ternyata berisi satu-satunya kenangan yang tersisa dari ibunya. Dari sebuah pencurian kecil, lahirlah relasi yang jauh lebih besar. Dua manusia yang sama-sama terluka, sama-sama kehilangan arah, dipertemukan bukan oleh harapan, melainkan oleh keputusasaan.

Hubungan mereka berkembang pelan-pelan, tanpa romantisasi berlebihan. Meski film ini akhirnya bergerak menuju kisah cinta dengan happy ending, sebuah formula yang lazim dan, bagi sebagian penonton, terasa terlalu rapi, tapi nilai terpentingnya justru terletak pada prosesnya. Menggambarkan hidup nyata, sebagaimana yang kita tahu, segalanya tidak sesederhana itu. Tidak semua luka sembuh hanya dengan menemukan pasangan, tidak semua kemelut hidup selesai dengan membuka lembaran baru. Realitas sering kali lebih lambat, lebih berliku, dan lebih kejam.

Namun pelajaran film ini tetap berharga. Kiwan menemukan cinta bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai konsekuensi dari satu pilihan mendasar: terus bergerak. Di tengah keinginannya untuk tetap hidup, bukan melalui kematian yang disengaja, bukan dengan menyerah, ia memilih bertahan satu hari lagi, lalu satu hari berikutnya, dan begitu seterusnya. Dalam pergerakan itu, terjadi pergolakan dan pergesekan. Dan dari pergesekan, lahirlah pengalaman. Pengalaman saling memberi waktu, memberi perhatian, dan perlahan menjauh dari cycle kehidupan yang buruk: kecanduan, keputusasaan, dan keterasingan.

Diadaptasi dari novel I Met Loh Kiwan karya Cho Hae-jin, film ini bukan hanya tentang imigrasi, pengungsi, atau cinta. Ia adalah kisah tentang identitas yang diperebutkan oleh negara-negara, tentang tubuh manusia yang dipaksa menunggu keputusan di ruang-ruang birokrasi, dan tentang harapan kecil yang tumbuh justru ketika seseorang bersedia bertahan lebih lama dari rasa putus asa itu sendiri. My Name is Loh Kiwan mengingatkan kita bahwa dunia boleh saja menolak, tetapi hidup, selama manusia terus bergerak, selalu menyisakan harapan dan sejuta kemungkinan. (Sal)

Perspektif

Scroll