"Membunuh untuk membawa perubahan."
Begitulah, kira-kira, iman yang kerap dipercayai kaum teroris, atau siapa saja yang merasa dirinya sedang berdiri di sisi kebenaran. Baginya, demi perubahan tata semesta, demi dunia yang telah menyimpang, demi diri yang tak lagi memaafkan, kekerasan adalah jalan. Mereka yang dianggap “bukan kita”, yang dinilai telah melewati batas, ia layak dibumihanguskan.
Namun persoalan ini tak berhenti pada mereka yang terang-terangan mengaku teroris. Mereka yang bersumpah bukan teroris pun sering terperangkap dalam sikap yang sama. Misalnya suka berteriak soal pembubaran, pemusnahan, penghapusan. Polanya sama, sedikit-sedikit ingin meliyankan, menistakan, dan meniadakan keberadaan pihak lain. Logika dan polanya serupa. Hanya istilahnya saja yang sering berbeda.
Lalu, bila demikian, siapa sebenarnya teroris itu? Apakah ia selalu berada di luar diri kita?
Pertanyaan inilah yang diam-diam menjadi lapisan terdalam Mission: Impossible – Rogue Nation. Film ini tidak sekadar menyuguhkan aksi dan ketegangan, tetapi menghadirkan refleksi tentang iman, loyalitas, dan kekerasan yang dibungkus dalam klaim penyelamatan dunia.
Film ini jejak adegan Ethan Hunt (Tom Cruise), seorang agen Impossible Mission Force (IMF), yang kehilangan pijakan institusionalnya. Kepala CIA, Alan Hunley (Alec Baldwin), berhasil membujuk komite Senat Amerika Serikat untuk membubarkan IMF. Alasannya terdengar rasional sekaligus politis: IMF dianggap terlalu gegabah, beroperasi di luar kendali, dan menjadi ancaman tersendiri bagi tatanan keamanan global.
Sejak saat itu, Ethan Hunt bukan hanya kehilangan lembaga, tetapi juga status—ia menjadi buronan. Karena pembubaran IMF tidak serta-merta menghapus ancaman. Justru di situlah Ethan semakin yakin bahwa dunia sedang menghadapi bahaya yang lebih besar: sebuah organisasi bayangan bernama Syndicate, organisasi yang bukan kelompok teroris biasa. Ia terdiri dari agen-agen intelijen terlatih dari berbagai negara. Terdiri dari para profesional yang membelot, menyatu, dan bergerak dalam senyap.
Dipimpin oleh Solomon Lane (Sean Harris), Syndicate melakukan teror dan manipulasi global demi menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “tatanan dunia baru”. Ethan, yang kini bekerja sendirian, terpaksa melanjutkan perburuan tanpa legitimasi resmi. Ia membentuk tim kecil dari sisa-sisa kepercayaan personal, bukan institusi.
Dalam perjalanannya, ia bertemu dan bekerja sama secara ambigu dengan Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), seorang agen MI6 Inggris dengan motif ganda dan latar belakang misterius. Ilsa kerap menyelamatkan Ethan, namun di saat yang sama bisa menjadi penghalang. Lalu keduanya terikat dalam hubungan yang tak pernah sepenuhnya jelas: kawan atau lawan, saling percaya atau saling memanipulasi.
Hubungan ini menjadi salah satu simpul penting film. Di balik aksi-aksi fisik yang menegangkan, Rogue Nation bicara tentang keterasingan, tentang seseorang yang berjuang sendirian di dunia yang tak lagi memberinya kepastian moral. Ethan Hunt harus berhadapan dengan musuh yang, dalam banyak hal, mencerminkan dirinya sendiri: agen-agen yang dulu juga percaya sedang menyelamatkan dunia, tetapi memilih jalan yang berbeda.
Secara naratif, film ini bergerak cepat melintasi berbagai kota dunia. Dari opera di Wina, lalu kejar-kejaran di Maroko, memasuki intrik intelijen di London. Setiap misi berisiko tinggi: pencurian data sensitif, pembongkaran identitas anggota Syndicate, hingga upaya menghentikan kekacauan global yang sengaja diciptakan untuk melemahkan negara-negara besar. Aksi-aksi ini dibalut pengkhianatan, intrik politik, dan ketegangan berlapis.
Namun di balik semua itu, saya menemukan di film ini agar mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar atau bahkan paradoksal: apa tujuan mulia dapat membenarkan metode yang kejam? Syndicate percaya bahwa kekacauan adalah jalan menuju tatanan baru. Ethan percaya bahwa dunia harus diselamatkan, bahkan jika ia harus melanggar hukum yang membentuk dunia itu sendiri.
Di titik inilah garis antara pahlawan dan teroris menjadi kabur. Bukan karena keduanya sama, tetapi karena keduanya berangkat dari keyakinan yang sama: bahwa dunia harus diubah dengan cara apa pun.
Akhir film memberikan kemenangan yang ambigu. IMF dipulihkan, Syndicate berhasil dikalahkan, ya setidak begitu karena mungkin sementara. Namun Ilsa Faust pergi, melanjutkan misinya sendiri, membawa serta misteri yang belum tuntas. Dunia yang tidak sepenuhnya aman, dan kebenaran tidak pernah benar-benar selesai.
Di situlah Mission Impossible: Rogue Nation menemukan relevansinya dengan dunia kita hari ini. Bahwa teror dan penyelamatan sering berjalan di jalur yang berdekatan. Bahwa iman pada kebenaran, bila tak disertai kerendahan hati, dapat berubah menjadi pembenaran atas kekerasan. Dan bahwa yang membedakan pahlawan dan teroris, sering kali bukan pada cara mereka bertindak, melainkan pada siapa yang diberi hak untuk mendefinisikan kebenaran.
Maka mungkin, misi yang paling mustahil bukanlah menyelamatkan dunia dari kehancuran, melainkan menjaga agar manusia tetap manusia, bahkan ketika ia yakin sedang berdiri di sisi yang benar. (Sal)