Serial drama Taiwan Mars menemani hariku nyaris tanpa jeda. Aku menontonnya seharian penuh, membiarkan adegan demi adegan mengalir pelan seperti arus perasaan yang tidak tergesa, tetapi terus mengetuk. Banyak orang kerap menyebut Mars sebagai film, padahal ia bukanlah film layar lebar tunggal, melainkan serial drama Taiwan yang sangat populer pada masanya.
Mars pertama kali tayang pada 31 Juli 2004 di Taiwan. Drama ini dibintangi oleh Vic Zhou (Zai Zai) yang memerankan dua tokoh kembar, Chen Ling dan Chen Sheng, serta Barbie Hsu sebagai Han Qi Luo. Kisahnya diadaptasi dari manga Jepang karya Fuyumi Soryo, dan sejak awal dikenal sebagai drama yang mengangkat trauma psikologis, luka batin, serta cinta sebagai ruang penyembuhan.
Spesial di film Mars, Vic Zhou menyanyikan lagu penutup berjudul “Let Me Love You”, sebuah lagu yang hingga kini masih lekat dalam ingatan penonton lama. Mungkin karena latar lagu itulah, drama ini tidak sekadar menghibur. Ia terasa seperti pengalaman emosional yang utuh. Hingga pada satu titik, aku mendapati diriku sempat menitikkan air mata saat Chen Ling memohon persetujuan ibunya, Qui Lu, untuk menikah. Adegan itu bukan hanya tentang restu, melainkan tentang keberanian menghadapi masa lalu, tentang seorang anak yang mencoba berdamai dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Menjelajahi lika-liku perasaan dalam hubungan Chen Ling dan Qui Lu, aku seperti diajak bercermin. Hubungan mereka mengingatkanku pada kenyataan yang sering kali harus dihadapi dengan berat: tentang impian yang ingin didaki, tetapi jalannya terjal; tentang cinta yang tumbuh di atas trauma; tentang keberanian untuk tetap berjalan meski masa lalu terus membayang. Kisah itu membangunkan perasaanku, membuatku bertanya diam-diam tentang bagaimana dengan impianku sendiri saat ini?
Dari layar komputer yang terus menyala, pikiranku beringsut ke dalam diri. Aku teringat pada mimpiku. Atau lebih tepatnya, aku mulai bertanya: punyakah aku mimpi? Apakah sekarang aku sudah takut untuk bermimpi? Ataukah gambaran tentang mimpi itu sendiri telah menjadi kabur, perlahan melesap dari benakku tanpa pernah kusadari? Aku mencoba meraba: mimpiku saat ini apa sih sebenarnya?
Barangkali aku takut bermimpi karena terlalu sering berhadapan dengan kenyataan bahwa keinginan tidak selalu menemukan jalannya. Atau mungkin aku lelah menyimpan harapan yang terasa mustahil untuk terjadi. Tapi hidup, aku tahu, tidak berlangsung di alam mimpi. Ia berjalan di dunia nyata, di ruang yang menuntut keteguhan, penerimaan, dan kesanggupan untuk menghadapi hari ini apa adanya. Meski demikian, tanpa mimpi, hidup terasa seperti berjalan jauh tanpa kompas.
Di sela semua pertanyaan itu, ada rasa lain yang menyusup pelan: kesepian. Aku seperti sedang mencari pengobatnya, meski tak tahu persis seperti apa bentuk obat itu. Perasaan kesepian. Perasaan kesendirian. Perasaan yang berlapis-lapis dan sering datang tanpa permisi. Aku tak begitu percaya diri akan memiliki kekasih lagi. Bukan karena tak ingin, melainkan karena terlalu jujur melihat diriku sendiri.
Aku mencoba jujur pada diri tentang siapa aku sebenarnya. Di balik ketegaran yang sering kutampilkan, ada kerapuhan yang jarang kuakui. Namun justru di situlah aku belajar satu hal penting: ia yang rapuh, sering kali adalah ia yang paling tegar dalam menghadapi realitas diri. Rapuh bukan berarti kalah, dan tegar bukan berarti tanpa luka. Keduanya bisa hidup berdampingan, saling menguatkan.
Mars, bukan hanya kisah cinta dua manusia yang sama-sama terluka. Ia menjadi ruang refleksi tentang mimpi yang tertunda, tentang kesepian yang dipendam, dan keberanian untuk tetap berharap meski kenyataan tidak selalu ramah. Mungkin mimpi tak harus selalu besar dan gemerlap. Barangkali ia cukup hadir sebagai keberanian kecil: berani mengakuinya kembali, lalu pelan-pelan belajar mempercayainya lagi.
Sebagai catatan tambahan, (saat tulisan ini disunting ulang), waktu telah berjalan jauh sejak Mars pertama kali tayang. Katanya Vic Zhou masih aktif di dunia hiburan hingga 2025–2026, sementara Barbie Hsu, lawan mainnya, telah berpulang pada 3 Februari 2025 di usia 48 tahun. Kenyataan itu membuat kisah Mars terasa semakin sendu. Bukan hanya sebagai drama masa lalu, tetapi sebagai kenangan yang kini sepenuhnya hidup di ingatan. Seperti mimpi yang pernah kita punya, lalu perlahan berubah menjadi cerita yang kita simpan diam-diam di dalam diri. (Sal)