Ketika hari demi hari kita terus disuguhi kabar kematian di berita, linimasa media sosial, atau obrolan sehari-hari, kematian lambat laun kita terima sebagai sesuatu yang niscaya, sebagai postulat yang tak perlu lagi dipertanyakan. Ia seolah telah disahkan secara final melalui diktum teologis yang akrab di telinga: kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Karena itu, kita jarang kembali mengajukan pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya kematian itu?
Menariknya, selama kita hidup, kematian tidak pernah benar-benar hadir. Ia baru "ada" ketika kehidupan telah tiada. Bagi kita yang masih bernapas, kematian adalah terra incognita, adalah wilayah asing yang belum terjamah pengalaman. Namun sains datang sebagai "pendekar" yang menginterupsi kemapanan ini dan bertanya: tunggu dulu, apakah kematian memang sesuatu yang sepenuhnya misterius dan tak tersentuh?
Melalui deret kemajuan observasi dan eksperimen, sains mendefinisikan kematian secara lebih teknis: berhentinya fungsi-fungsi vital tubuh akibat terganggunya suplai oksigen ke organ-organ. Bahkan, kematian bukan sekadar denyut nadi yang terhenti; beberapa menit setelah itu, fungsi batang otak masih dapat bekerja. Dari sini, kematian tidak lagi dipahami sebagai titik final yang absolut, melainkan sebagai sebuah proses. Dan jika ia proses, maka secara teoritis, ia bisa ditunda. Optimisme pun tumbuh: mungkinkah manusia suatu hari merekayasa masa depannya menuju imortalitas, bahkan eternitas?
Sebagian gagasan tentang keabadian mungkin terdengar ekstrem: "mengeluarkan" kematian dari tubuh manusia, menyalin kesadaran dari otak ke komputer, lalu memindahkannya ke medium organik atau non-organik lain. Bagi yang lebih optimistis, capaian itu tidak berhenti di sana. Mereka menunjuk sejarah modern: kelaparan massal, wabah besar, dan perang global semakin jarang terjadi dibandingkan masa lampau.
Pandemi Covid-19 memang sempat mengguncang dunia dan merenggut banyak nyawa. Namun dalam waktu relatif singkat, vaksin dan teknologi medis berhasil menekan dampaknya. Sesuatu yang nyaris mustahil pada abad-abad sebelumnya, ketika wabah bisa menghabisi setengah populasi suatu wilayah. Demikian pula kelaparan ekstrem yang kini tidak lagi mendominasi tajuk utama surat kabar. Bahkan perang, seperti konflik Rusia–Ukraina, oleh sebagian kalangan dianggap sebagai residu mentalitas lama: kegagalan manusia untuk membuka mata dan menatap cakrawala dunia baru.
Dunia baru itu membayangkan perang sebagai sesuatu yang tak lagi masuk akal. Batas-batas negara kelak hanya menjadi garis administratif, sekadar sekat kertas dalam buku visa. Wabah dan kelaparan mungkin masih muncul dalam skala kecil, tetapi keyakinan pada sains mengatakan: semua itu bisa diatasi.
Perjuangan melawan penyakit, kelaparan, dan kekerasan pada hakikatnya adalah penghormatan tertinggi pada kehidupan. Kematian tidak lagi diterima pasrah; ia dimusuhi, dihindari, bahkan diperlakukan sebagai musuh kemanusiaan yang harus dilawan habis-habisan.
Inilah pintu masuk pemikiran Yuval Noah Harari dalam Homo Deus. Sejarawan sekaligus filsuf asal Israel ini membawa pembacanya pada paradoks: optimisme sekaligus kegelisahan tentang masa depan umat manusia.
Hampir semua yang dilakukan negara, institusi, dan individu modern, pada dasarnya adalah upaya menunda kehadiran malaikat maut. Karena seberat apa pun hidup, hidup tetap terasa nikmat. Bahagia rasanya bisa terus tinggal di planet biru ini, bahkan ketika miskin, bahkan ketika hidup tak selalu sesuai harapan.
Namun, kebahagiaan seperti apa yang sebenarnya kita maksud? Sepanjang sejarah, agama, etika, dan sains telah mencoba merumuskannya. Negara modern bahkan berambisi mengukurnya melalui indeks kebahagiaan, dengan seperangkat regulasi, insentif, dan sanksi. Tetapi parameter-parameter itu selalu problematis.
Buddha, misalnya, menawarkan jalan berbeda: kebahagiaan sejati justru dicapai dengan melambatkan perburuan sensasi. Sensasi hanyalah getaran singkat. Datang dan pergi dalam sekejap. Lalu apa gunanya mengejar sesuatu yang lenyap secepat kemunculannya? Jika kebahagiaan memang sekadar lonjakan hormon dopamin dan endorfin, maka sains menawarkan solusi biokimiawi: mengubah keseimbangan kimia tubuh dan pikiran melalui rekayasa.
Di sinilah ambisi manusia tampak telanjang. Kita membenci penuaan, uban, dan tentu saja kematian. Kita mengejar kebahagiaan dan imortalitas sejauh yang bisa dijangkau oleh teknologi. Menurut Harari, dari sinilah Homo sapiens perlahan bergerak menuju Homo deus, adalah manusia yang berusaha menjadi "tuhan", entitas yang mendekati keabadian.
Jalannya ada tiga: rekayasa biologis, rekayasa cyborg, dan rekayasa entitas non-organik. Rekayasa biologis dilakukan karena seleksi alam dianggap terlalu lambat. Maka DNA diedit, kode genetik ditulis ulang, sirkuit otak ditata ulang, keseimbangan biokimia diubah, bahkan organ-organ baru ditumbuhkan. Rekayasa cyborg menggabungkan tubuh organik dengan teknologi non-organik: chip otak, tangan bionik, mata artifisial, hingga robot nano yang berpatroli dalam aliran darah. Sementara rekayasa non-organik membayangkan entitas buatan yang suatu hari mungkin menjelajah planet-planet tak layak huni bagi makhluk biologis.
Masalahnya, di balik semua janji pembebasan dari penderitaan dan kematian, tersimpan kecemasan besar: ketika bioteknologi dan infoteknologi melaju tanpa rem, apakah Homo sapiens masih akan tetap ada? Ataukah ia akan tergantikan oleh jenis baru yang sama sekali berbeda, oleh entitas algoritmik yang dingin dan otonom, seperti gambaran film-film fiksi sains?
Harari mengajak kita untuk tidak panik. Para ahli menilai bahwa kita masih jauh dari bayi hasil rekayasa genetika sempurna atau kecerdasan artifisial setara manusia. Perubahan ini bersifat gradual, bukan ledakan dramatis ala Hollywood. Namun dalam kalender kosmik, semua itu tetaplah sekejap. Seleksi alam perlahan digantikan oleh seleksi buatan.
Sementara itu, tanpa disadari, kita sudah masuk perangkapnya. Jutaan orang dengan sukarela menyerahkan diri pada ponsel pintar, algoritma media sosial, dan obat-obatan penenang demi kesehatan, kebahagiaan, dan kendali atas hidup. Kita merekam hampir setiap pengalaman, mengunggahnya, menyukainya, membagikannya. Bukan karena terpaksa, melainkan karena itu telah menjadi kebiasaan baru.
Masalahnya bukan soal baik atau buruk. Seperti kata Sabrang Noe Letto, masyarakat bermakna karena komunikasi. Bagi Cak Nun, menulis bukan soal karier, melainkan komunikasi sosial. Harari pun menyebut keunggulan manusia sebagai dataisme: kemampuan memproses dan berbagi data untuk komunikasi dan sinergi. Pengalaman yang tidak dibagikan seolah kehilangan makna. Maka kita pun rela melepas privasi demi menjadi bagian dari aliran data global.
Inilah agama baru itu: Dataisme. Ia punya kredo sederhana, yaitu pengalaman tidak berguna jika tidak dibagikan. Kita menemukan makna bukan lagi di kedalaman diri, melainkan dalam keterhubungan dengan algoritma. Platform pun terus bertanya: "Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Membaca Homo Deus terasa seperti bercermin pada kebiasaan kita sendiri. Harari tidak sekadar meramal, ia memperingatkan. Jika organisme hanyalah algoritma, dan algoritma pada suatu hari dapat mengenal kita dengan lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri, lalu ke mana otoritas manusia akan berpindah?
Di titik inilah refleksi menjadi penting. Bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk tetap berpikir jernih di tengah arusnya. Seperti pesan sederhana Cak Lontong yang terasa makin relevan di zaman algoritma: jangan lupa—mikir.(Sal)