Mungkin karena Buya Hamka menulis ini sebagai sebuah mazmur bagi hati yang patah, ia sengaja membiarkan ranah politik tetap menjadi bayang-bayang di balik tirai.
Di paragraf awal, Mekkah 1927 digambarkan telah tenang, sebuah ketenangan yang hening padahal gaduh setelah badai peralihan kekuasaan, atau lebih tepatnya, sebuah pengambilpaksaan wilayah dari tangan Syarief Husain oleh Ibnu Saud. Sejarah, dalam naskah ini, hanyalah sebuah panggung tua yang debunya tak ingin diterbangkan oleh angin narasi Buya. Beliau memilih untuk tidak mengulik luka sosiopolitik itu lebih dalam, seolah tahu bahwa dalam sebuah perhelatan rindu, kebisingan bedil hanya akan merusak simfoni air mata.
Cinta adalah sebuah kedaulatan yang tak butuh paspor atau alasan. Hadirnya bagai sungai yang mencari muaranya sendiri meski harus membelah batu karang. Lalu mengapa Buya Hamka membiarkan roman ini tampak "biasa saja" di permukaan, padahal ini perkara cinta? Apakah karena beliau menganut prinsip l’art pour l’art, seni demi seni, dan menolak menjadikan sastra sebagai corong propaganda? Ataukah beliau sedang meniru ketabahan Umar Kayam dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, yang begitu ajek menahan diri untuk tidak menggurui?
Memang, sastra yang baik adalah cermin yang jernih, bukan mimbar yang berteriak. Sastra adalah embun yang luruh diam-diam, namun sanggup membasahi akar yang paling kering. Buya sepertinya hendak menjaga jarak agar tulisannya tidak tergelincir menjadi khotbah yang dingin, melainkan tetap menjadi bisikan jiwa yang hangat dan merambat.
Demikianlah buah pikir yang menyesaki kepalaku saat membaca kembali lembar-lembarnya. Ceritanya bermula ketika sang narator bertolak dari pelabuhan Belawan, Medan, membelah samudera menuju tanah suci. Di sebuah pondokan di Mekkah, ia bertemu dengan Hamid, seorang lelaki sebatang kara yang jiwanya tampak telah tanggal dari raga. Hamid adalah bayang-bayang yang "menggelandang" di sela-sela gang sempit Mekkah selama dua tahun, di saat tanah airnya sendiri, Nusantara, sedang gemetar dalam cengkeraman kuku kolonial yang karat. Hamid adalah personifikasi dari kerinduan yang kehilangan alamat, sebuah kapal yang tiangnya sudah patah sebelum sempat bersandar di dermaga mana pun.
"Sudah berapa lama kau di sini, Hamid?" tanya sang penghikayat suatu senja. Hamid menyambut dengan menatap ufuk dengan mata yang kosong. “Dua tahun, Tuan. Tapi rasanya seperti satu keabadian yang dicicil setiap hari.”
Pada masa itu, perkampungan Orang Jawi masih memiliki ruang di tanah haram. Kini, sosok seperti Hamid tak akan mungkin bisa bertahan jika kantongnya kosong. Zaman telah bersalin rupa. Trah Ibnu Saud telah mengkavling setiap jengkal tanah suci dengan investor asing, mengubah rumah Tuhan menjadi mesin super-kapitalisme yang menderu. Agama kini sering kali diletakkan di atas etalase, dibungkus plastik kemasan, dan dijual dengan harga yang hanya bisa ditebus oleh mereka yang bergelimang harta. Keuntungan dari "perdagangan langit" ini kemudian diputar kembali untuk membangun kemegahan fisik, sembari menyisipkan ideologi Wahabisme sebagai mahar yang harus diterima tanpa tanya.
Ini bukan fitnah, melainkan luka yang sudah lama menganga dalam kajian para ulama. Allahyarham Prof. Mustafa Yaqub, sang penjaga Istiqlal, pernah berteriak lantang tentang "industri haji" yang memupuk hedonisme religius, sebuah kondisi di mana manusia menyembah simbol namun melupakan makna. Kita membangun menara yang menjulang ke langit, namun seringkali tangga menuju hati sesama manusia justru kita hancurkan. Nabi sendiri menganjurkan haji cukup sekali, selebihnya beliau berpesan: "Temukanlah Aku di kalangan mereka yang tertindas (Mustadh’afin)." Namun, syahwat spiritual dan kepentingan perut para pebisnis telah berkelindan dengan fatwa, menciptakan aliansi yang sempat dibedah tuntas oleh Prof. Ahmet T. Kuru dalam narasinya tentang kemunduran umat Islam.
Buya Hamka, sebagai seorang pujangga yang membawa oleh-oleh batin dari hajinya, tak ingin sekadar pulang membawa kurma atau air zamzam. Ia ingin menyaingi kedalaman Ali Syariati dalam buku Haji-nya yang fenomenal. Bagi Buya, sebuah perjalanan ke tanah suci tanpa kelahiran sebuah karya adalah seperti awan yang lewat tanpa sempat menjatuhkan hujan. Maka lahirlah Di Bawah Lindungan Ka’bah, sebuah monumen kata-kata yang lahir dari rahim pengalaman batiniah yang paling hening.
Setelah dua kali menyesap roman ini dan membandingkannya dengan versi layar lebar, saya menemukan bahwa aksara tetaplah pemenang dalam pergulatan imajinasi. Filmnya mungkin memberikan warna, namun kata-kata memberikan nyawa yang tak terbatas oleh bingkai layar. Membaca aksara Buya adalah seperti menyelam ke dalam telaga. Makin dalam kau turun, makin dingin dan sunyi tekanan yang kau rasakan di dada. Namun, hubungan antara sastra dan film ini tetaplah penting sebagai jembatan bagi mereka yang buta akan teks namun haus akan rasa.
Bicara soal Hamid dan Zainab, aku sering bertanya pada sunyi benarkah itu cinta? Ataukah itu hanya sebentuk belas kasihan yang disalahartikan? Ataukah mereka hanya dua jiwa yang saling menggantungkan kerapuhan di bawah asuhan Haji Ja’far dan Mak Aisah? Cinta seringkali adalah sebuah fatamorgana yang kita bangun untuk menghalau rasa sepi yang terlalu tajam. Namun, jika merujuk pada kearifan bahwa cinta sejati adalah keputusan tanpa syarat. Ia bukan reaksi atas perlakuan orang lain, melainkan kedaulatan batin yang mutlak. Jika aku memutuskan mencintaimu, itu adalah urusanku dengan Tuhan, dan dunia tak punya hak untuk mencampurinya.
Hamid dan Zainab telah sampai pada maqam itu. Mereka sadar bahwa mencintai adalah menciptakan medan energi yang stabil di tengah badai takdir. Meski Hamid pergi tanpa pamit dan meninggalkan luka yang menganga, Zainab tidak mengubah cintanya menjadi jelaga benci. Zainab adalah penunggu yang setia, sementara Hamid adalah pengembara yang menjadikan sunyi sebagai sajadahnya. Dalam tasawuf, cinta adalah puncak (Mahabbah), dan tangga pertamanya memang seringkali berupa perhatian kecil yang sederhana, seperti Hamid yang menemani Zainab sekolah saat ia sendiri harus berjuang menjajakan gorengan.
“Mengapa kau masih menunggunya, Zainab?”
"Karena cintaku bukan barang dagangan yang bisa ditarik kembali saat pembelinya pergi, Mak," jawabnya lirih.
Melihat Hamid kecil berdagang, aku melihat pantulan diriku sendiri di masa lalu. Jika Hamid berteriak menjajakan pisang goreng, aku dulu berteriak menjajakan es untuk mendinginkan tenggorokan orang-orang yang terbakar matahari. Kami adalah anak-anak yang dewasa sebelum waktunya, dipaksa oleh keadaan untuk menelan pahitnya kehidupan sebelum sempat mengecap manisnya masa kecil. Bedanya, Hamid kehilangan ayahnya karena maut, sementara ayahku pergi untuk membangun hidup yang baru dengan perempuan lain. Sebuah kehilangan yang sama-sama meninggalkan lubang di dada, namun dengan rasa perih yang berbeda warna.
Takdir Hamid memang sedikit lebih manis karena ia bertemu Haji Jafar yang dermawan. Mereka tumbuh bersama, dari sekolah HIS hingga MULO, hingga akhirnya tradisi pingitan memisahkan raga mereka. Hamid terus melaju ke sekolah agama demi gelar diploma, sebuah perjalanan akademik yang mirip denganku, meski aku harus berhenti di diploma tiga dan kuliah sarjana tak tamat karena dinding biaya yang terlalu tinggi untuk dipanjat. Pendidikan, bagi kami yang papa, sering kali bukan tentang meraih mimpi, melainkan tentang menunda kegagalan.
Teman-temannya menjuluki Hamid sebagai orang yang "mabuk agama"—sebuah istilah yang ternyata sudah diciptakan Buya jauh sebelum zaman ini. Di Padang Panjang, Hamid mengalami kesepian yang menggigil. Ia merindukan Zainab, adik manisnya yang kini telah menjadi pusat gravitasinya. Baginya rindu adalah sebuah reaksi kimia yang mengubah darah menjadi air mata. Ia adalah dendam yang paling manis sekaligus silet yang paling halus. Apa yang dulu hanya "kakak-adik" kini telah bermetamorfosis menjadi cinta berahi yang menuntut pengakuan.
Di sela riuh rendah suara santri dan kitab-kitab yang terbuka, Hamid justru didera kesepian yang menggigil. Jarak antara dirinya dan Zainab bukan lagi sekadar satuan kilometer, melainkan sebuah ruang hampa yang menyedot seluruh energinya. Perasaan yang dulu terpilin diam-diam sejak kanak-kanak, kini mekar menjadi sesuatu yang menakutkan sekaligus mendebarkan.
Cinta, pada mulanya, hanyalah sebuah benih kecil yang tertidur di lipatan waktu, namun kini ia telah tumbuh menjadi pohon raksasa yang akarnya mencengkeram erat jantung Hamid. Hubungan yang semula hanya sebatas "kakak-adik" telah bermetamorfosis menjadi "rindu-dendam" yang membakar. Sebuah reaksi kimiawi alami saat dua jiwa yang tumbuh bersama mulai menyadari bahwa tubuh mereka telah dewasa, namun keadaan tetap memaksa mereka untuk tetap menjadi asing.
Memang benar bahwa cinta adalah kembaran bagi jiwa. Mereka adalah dua sisi dari satu mata uang yang tak bisa dipisahkan oleh maut sekalipun. Cinta itu merdeka, ia adalah kedaulatan tertinggi yang tidak mengenal paspor, derajat, ataupun kasta. Namun, Hamid adalah lelaki yang terdidik oleh realitas yang pahit. Ia menyadari siapa dirinya, sebatas seorang pemuda tanpa harta yang berdiri di hadapan tembok tinggi martabat keluarga Haji Jafar.
Dunia sering kali membangun pagar-pagar berduri untuk menjaga agar taman bunga tetap eksklusif, sementara Hamid hanyalah angin yang hanya boleh mencium harumnya dari luar pagar. Namun, seperti bujukan sang penghikayat di Mekkah: "Kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta." Semakin jauh bintang itu di langit, semakin terang ia bersinar dalam gelapnya harapan. Bagi Hamid, atau bagi siapapun yang sedang terbakar asmara, cinta yang berbalas adalah obat mujarab yang sanggup menyembuhkan segala luka dunia. Namun, ia juga belajar satu hal yang lebih pahit bahwa cinta yang tak berbalas, atau tak sempat terucapkan adalah bukti tertinggi dari kemurnian itu sendiri.
Cinta yang sejati bukanlah perburuan untuk memiliki raga, melainkan ziarah panjang di mana jiwa bertemu dengan jiwa dalam keheningan. Ia bukan tentang kepandaian merayu atau menyusun kata-kata manis bak pujangga pasar, melainkan tentang keberanian untuk mencintai dalam diam. Ketakutan untuk menyatakan kejujuran pun sebenarnya adalah setengah dari rupa cinta itu sendiri, sebuah penghormatan agar kesucian objek yang dicintai tidak ternoda oleh ego kepemilikan. Nasihat emaknya terus terngiang, menjadi kompas di tengah badai batinnya.
"Anakku, sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, hanya menurutkan perintah hati tanpa melibatkan timbangan otak. Belum berbahaya sebelum ia menghujam dalam ke palung suksma. Namun jika sudah mendalam, dan yang mengalaminya tak pandai mengemudi, cinta itu akan meruntuhkan kemauan dan kekerasan hati laki-laki paling tangguh sekalipun." Hati adalah samudera yang luas, namun otak adalah kemudi yang memastikan kapal tidak hancur menabrak karang kenyataan.
Peperangan antara otak dan hati adalah palagan yang paling ajaib sekaligus paling berdarah dalam diri manusia. Jika seseorang membiarkan hatinya menang mutlak tanpa syarat, ia akan menjadi rongsokan manusia yang putus asa, terutama jika cinta itu terbentur oleh dinding keadaan yang mustahil ditembus. Cinta laksana setetes embun yang turun dari langit, yang bersih, bening, dan suci tanpa noda. Namun, nasib embun itu bergantung pada tanah tempatnya jatuh.
Jika embun itu jatuh ke tanah yang tandus dan beracun, maka darinya akan tumbuh duri-duri kedurjanaan, kedustaan, dan pengkhianatan. Namun, jika jatuh di tanah yang subur dan terjaga, ia akan menumbuhkan keikhlasan, kesetiaan, dan budi pekerti yang melangit. Cinta tidak tumbuh di ruang hampa. Tapi memerlukan "badan kasar" berupa perkenalan, kesepadanan posisi (sekufu), atau bahkan jembatan harta dan tahta sebagai wadahnya di bumi. Tanpa wadah yang tepat, embun suci itu akan menguap begitu saja, meninggalkan dahaga yang tak tertanggungkan bagi mereka yang merasakannya.
Hamid kini berdiri di antara dua pilihan: menjadi tanah yang subur bagi embun itu, atau membiarkan dirinya hancur karena tak sanggup menampung kemurnian yang turun dari langit. Hamid sadar bahwa cinta adalah jiwa, dan antara keduanya tidak ada garis batas. Cinta itu merdeka, tak peduli pada derajat atau kasta, namun Hamid adalah lelaki yang tahu diri. Ia tahu bahwa jurang antara dirinya dan keluarga Haji Jafar lebih dalam dari palung laut mana pun. Namun, seperti kata sang penghikayat di Mekkah: "Kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta." Sesuatu yang tak mungkin diraih justru akan tumbuh paling subur dalam imajinasi, sebab di sana tidak ada kenyataan yang bisa merusaknya.
Bagi setiap lelaki muda, cinta yang berbalas adalah obat. Namun cinta yang tak berbalas adalah ujian kemurnian. Cinta yang sejati tidak menyembah bentuk raga, melainkan pertemuan antara jiwa dengan jiwa. Cinta adalah sebuah doa yang diucapkan tanpa suara, sebuah pengakuan yang tetap teguh meski lidah terikat oleh rasa takut. Sebagaimana pesan emak Hamid tentang cinta itu berbahaya jika merusak kemauan laki-laki. Namun, bagi Hamid, cinta justru menjadi api yang membakar egonya hingga yang tersisa hanyalah debu ketulusan di bawah lindungan Ka’bah. (Sal)