Sejauh ini, sebagian besar dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan Hawa sebagai sebuah fakta objektif. Keyakinan ini diterima bukan semata melalui pembuktian empiris, melainkan karena ia datang sebagai “kabar dari langit”, bersumber dari teks-teks suci dan otoritas keagamaan yang dalam sejarah peradaban manusia sering diposisikan sebagai The Truth of Authority. Dalam kerangka ini, kisah Adam-Hawa tidak sekadar narasi asal-usul, melainkan fondasi makna, identitas, dan moralitas.
Namun, angin keraguan mulai berhembus kencang pada pertengahan abad ke-19. Tahun 1859, Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species, disusul The Descent of Man pada 1871. Dua karya ini membuat dunia intelektual terperangah. Darwin tidak sekadar mengajukan spekulasi, melainkan menyodorkan hasil riset panjang yang ditopang observasi, fosil, perbandingan anatomi, hingga kelak diperkuat oleh genetika modern. Manusia, dalam pandangan ini, bukan ciptaan yang hadir tiba-tiba, melainkan bagian dari sejarah panjang kehidupan yang berevolusi secara bertahap.
Meski demikian, di tengah berserakannya bukti-bukti ilmiah, dari fosil hominid purba hingga pemetaan genom manusia, penolakan tetap hadir, terutama dari kalangan religius yang memandang evolusi sebagai ancaman terhadap iman. Ustaz Adian Husaini, misalnya, dalam sebuah kuliah di hadapan para sarjana psikologi Islam, menegaskan bahwa sebagai Muslim seseorang harus tetap mempercayai bahwa manusia adalah keturunan Nabi Adam, dan bahwa Nabi Adam adalah seorang Abdullah. Dalam kerangka ini, menerima manusia sebagai turunan hominid dipandang bukan sekadar kesalahan ilmiah, melainkan juga penyimpangan teologis.
Menariknya, seiring berjalannya waktu, semakin banyak sarjana Muslim, juga otoritas agama dari tradisi lain, mulai mengambil posisi yang lebih lentur. Evolusi tidak lagi dipahami sebagai “sekadar teori” dalam arti dugaan lemah, melainkan sebagai fakta ilmiah yang ditopang oleh validitas bukti yang saling menguatkan.
Dari sini, terbuka beberapa kemungkinan sikap terhadap kisah Adam-Hawa: ia bisa saja suatu hari ditempatkan di Recycle Bin peradaban sains; atau dipertahankan sebagai kisah alegoris yang sarat makna simbolik; atau tetap diyakini sebagai fakta objektif oleh mereka yang telah mencapai tingkat iman haqqul yaqin terhadap versi kebenarannya.
Dominasi kisah Adam-Hawa dalam kesadaran kolektif umat manusia tak bisa dilepaskan dari keberhasilan ekspansi tradisi Abrahamik, Yahudi, Kristen, dan Islam, yang menyebar lintas benua dan zaman. Namun, menarik untuk berandai-andai: seandainya para leluhur Nusantara dahulu memiliki gairah dan keberhasilan sebagai penjajah atau pengkoloni dunia, mungkin hari ini narasi asal-usul manusia akan berbeda. Bisa jadi kita diajari bahwa manusia berasal dari Ajisaka dalam tradisi Jawa, dari Batang Garing dalam kosmologi Dayak, atau dari Karema dan Lumimut dalam mitologi Minahasa. Setiap peradaban, tampaknya, selalu memiliki kisah penciptaannya sendiri.
Di hadapan sains modern, semua kisah tersebut, tanpa kecuali, akan ditempatkan dalam kategori mitologi, karena tidak ditopang bukti empiris. Ia lebih tepat disebut sebagai bukti-mental: bukti yang hidup di alam kesadaran manusia, di ranah pikiran yang memiliki consciousness dan self-awareness. Kesadaran inilah yang, menurut banyak ilmuwan, melonjak drastis sejak apa yang disebut Revolusi Kognitif, ketika manusia mulai mampu berpikir simbolik, bercerita, dan membangun makna bersama.
Pertanyaannya kemudian bergeser: mana yang lebih utama, bukti empiris atau bukti mental? Di sinilah perdebatan filsafat kembali mengemuka, terutama soal status ontologis realitas.
Ada yang berpendapat bahwa materi adalah bentuk realitas paling kasar (wadag kasar), sementara mental, pikiran, jiwa, hingga ruh adalah wadag halus. Realitas pun tak lagi tunggal, melainkan berlapis-lapis, bahkan kerap dianalogikan seperti hologram—setiap orang, setiap tradisi, memiliki versinya sendiri tentang apa yang disebut “nyata”.
Karena itu, saya cenderung memandang positif paradoks dan gesekan antara pendukung evolusi dan kaum kreasionis. Ketegangan ini mungkin justru diperlukan sebagai bagian dari progresivitas keilmuan yang reflektif. Pergumulan gagasan adalah bagian dari evolusi kesadaran itu sendiri: proses pengenalan diri (self-recognition) yang panjang dan berliku.
Secara biologis, evolusi ini tampak nyata. Misalnya ketika perubahan pola makan, termasuk konsumsi daging, berkontribusi pada peningkatan kapasitas otak Homo sapiens hingga sekitar 1.350 cc, dibanding Homo erectus yang berkisar 900 cc. Pembesaran cuping frontal otak, yang melampaui cuping oksipital, sering dikaitkan dengan lahirnya kemampuan berpikir abstrak dan kesadaran akal budi.
Lalu bagaimana sebenarnya manusia sampai memiliki kesadaran akal budi seperti sekarang? Bagaimana kronologi biologis, kognitif, dan kulturalnya? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu tak bisa dijawab singkat. Maka, ikuti saja tulisan berikutnya untuk ulasan isi buku yang bahkan masih belum ditulis secara tuntas.
Sebab untuk memahami semua, sering kali kita memang harus merangkum dulu, membaca ulang, dan berpikir pelan. Dan ya, merangkum memang terdengar seperti tugas sekolah. Tapi bukankah sepanjang hidup ini, kita semua pada dasarnya sedang “sekolah”—belajar memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana seharusnya kita melangkah?