Seorang intelektual muda bernama Ibnu Rusyd telah menerbitkan buku pertamanya berjudul Agama Masa Depan. Bagi saya, buku ini layak dibaca dan direnungkan dengan sungguh-sungguh. Setiap kali saya berjumpa dengan tulisan-tulisan penulisnya, baik esai pendek maupun refleksi panjang, selalu ada gagasan yang mengusik, berani, dan tidak tunduk pada arus besar.
Keberanian itu mengingatkan saya pada sosok Nurcholish Madjid di usia mudanya, ketika ia berani berbeda pandangan dengan para intelektual senior seperti Mohammad Roem dan H.M. Rasjidi, bukan demi sensasi, melainkan demi kejernihan berpikir dan kejujuran intelektual.
Saya dan sang penulis hidup di zaman yang sama, di sebuah era ketika gagasan saling bersahutan tanpa henti. Ada ide yang lahir dari konteks kekinian, ada pula gagasan yang melintasi zaman, menyeberangi batas sejarah, lalu kembali dengan satu pertanyaan mendasar: mengapa kita terus-menerus stagnan?
Kita terus-menerus bertanya mengapa umat, terutama umat beragama Islam, sering kali hanya berdiri di simpang zaman, kebingungan, dan tak mampu mengikuti derasnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta perubahan sosial global?
Di tengah kebingungan itu, selalu ada suara yang berkata, “Semua sudah final. Kita hanya tinggal menjalankan.” Kalimat ini terdengar menenangkan, tetapi sesungguhnya berbahaya. Sebab yang benar-benar final mungkin hanya pertandingan sepak bola esok hari, katakanlah antara Argentina melawan Prancis.
Selebihnya, banyak hal yang kita anggap final sejatinya hanyalah hasil pemitosan. Kita memitoskan konstruksi sosial abad ke-7, bukan dengan menyalakan apinya, yaitu semangat etik, keadilan, dan keberanian intelektualnya, melainkan dengan mengumpulkan abunya, lalu menganggapnya suci dan tak boleh disentuh.
Ilmu pengetahuan memberi kita pelajaran berharga tentang kerendahan hati intelektual. Ketika Edwin Hubble menemukan bahwa alam semesta ternyata mengembang, Albert Einstein pun harus mengoreksi pandangannya sendiri dengan menambahkan konstanta kosmologis pada rumus relativitas umumnya.
Semula Einstein mengira alam semesta bersifat statis dan stabil. Namun realitas berkata lain. Alam semesta ternyata dinamis, bergerak, dan berubah. Dalam bahasa agama, keteraturan dan hukum gerak itu disebut sebagai Sunnah Allah, adalah sebuah prinsip kosmik yang justru menuntut pembacaan ulang, bukan pembekuan makna.
Kestabilan, jika memang ada, bukanlah kemandekan, melainkan keseimbangan dalam gerak. Alam semesta pada hakikatnya adalah energi, dan energi adalah bahan dari materi. Ia hadir sebagai foton, gelombang, cahaya—sesuatu yang bergerak dan menggerakkan, bukan diam.
Di sinilah masalah kita kerap muncul: kita gagal membedakan antara upaya menggerakkan dan obsesi menstabilkan. Kita terlalu sibuk membekukan, padahal realitas menuntut keberanian untuk bergerak. Kita masih buta bahwa kenyataan hari ini sangat berbeda dengan abad pertengahan, sekaligus buta dalam menstabilkan hal-hal yang bersifat subtil: nilai, etika, dan makna terdalam dari keberagamaan.
Dalam konteks inilah, buku Agama Masa Depan terasa penting. Ia dapat menjadi pengantar untuk memahami wilayah yang subtil itu. Wilayah antara iman dan nalar, antara tradisi dan masa depan. Karena itulah, buku ini akan menjadi salah satu bacaan wajib saya berikutnya.
Jika para intelektual muda memiliki ghirah yang sama, semangat yang sama untuk berpikir jujur dan berani, maka mari kita kuatkan vibrasi kekuatan baru. Terus terang, saya muak melihat kenyataan bahwa banyak negeri yang mengatasnamakan diri sebagai negeri-negeri Muslim justru terperangkap dalam kemiskinan struktural dan kebodohan sistemik.
Namun hidup adalah pemberian. Kita telah lahir di negeri yang, mungkin, miskin dan tertinggal secara intelektual. Jika saya tidak mampu berpikir seterang cahaya matahari, setidaknya saya ingin membantu menyalakan obor kecil, agar kita tidak terus-menerus berada dalam kondisi yang sama.
Sebab pasti ada yang keliru—bukan pada ajaran dasarnya, melainkan pada mentalitas, pada konstruksi cara berpikir, dan pada cara kita memaknai serta menjalankan agama. Masa depan, pada akhirnya, tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus dipikirkan, dipersiapkan, dan diperjuangkan, sejak hari ini.(Sal)