Ada gagasan-gagasan yang tidak datang sebagai jawaban, melainkan sebagai kegelisahan yang menetap. Ia tidak mendesak kita untuk segera percaya atau menolak, tidak pula menuntut sikap cepat. Ia bekerja diam-diam, perlahan, namun konsisten, menggeser cara kita memandang diri sendiri dan dunia yang melingkupi kita—agama, negara, norma sosial, bahkan cinta dan keluarga. Dari kegelisahan semacam itulah, hidup yang semula terasa sepenuhnya personal—soal menikah, berpasangan, dan memiliki keturunan—pelan-pelan bergeser menjadi pertanyaan yang jauh lebih besar: untuk apa sesungguhnya kita ada, dan sejauh mana keberadaan kita berarti dalam arus panjang kehidupan ini?
Bayangkan kehidupan bukan sebagai garis lurus dengan awal dan akhir yang jelas, melainkan sebagai sebuah sungai panjang yang mengalir tanpa ingatan. Sungai ini tidak mengenal nama, tidak menyimpan kenangan. Ia mengalir melewati tubuh-tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan sebagaimana ia melewati bebatuan: singgah sebentar, lalu terus bergerak. Tubuh lahir, tumbuh, menua, dan lenyap, sementara sungai itu tetap mengalir, seolah tidak terpengaruh oleh apa pun yang pernah dilaluinya. Dalam metafora inilah saya mulai memikirkan kembali hidup, pernikahan, keturunan, dan arti keberadaan diri. Bukan sebagai individu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian kecil dari aliran yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Gagasan tentang sungai kehidupan semacam ini menemukan bentuknya yang paling radikal ketika saya membaca karya-karya Richard Dawkins, biolog evolusi yang kerap diposisikan sebagai pengguncang agama. Membaca Dawkins tidak pernah berhenti pada pengetahuan biologis semata. Ia bekerja sebagai lensa baru untuk memandang kehidupan. Ia membuat pertanyaan-pertanyaan yang semula terasa personal, tentang cinta, pernikahan, dan keturunan yang perlahan berubah menjadi persoalan struktural dalam sejarah panjang kehidupan itu sendiri.
Ada kegetiran yang mengendap di sana. Sebab dalam kerangka Darwinian yang ia tawarkan, kehidupan bukanlah tentang makna subjektif, kebahagiaan individual, atau tujuan spiritual, melainkan tentang kelangsungan replikasi gen. Dawkins, sebagai narator Darwinian, menggambarkan kehidupan sebagai sungai DNA: aliran informasi genetik yang mengalir lintas masa, bercabang sepanjang waktu geologis, dan hampir sepenuhnya abai terhadap tubuh-tubuh yang dilaluinya.
Sungai ini bukan sungai daging dan darah, melainkan sungai instruksi. Ia terdiri dari kode-kode abstrak yang tertulis dalam DNA untuk membangun tubuh. Tubuh manusia, dalam pandangan ini, hanyalah kendaraan sementara. Ia dipinjam oleh gen untuk berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu ditinggalkan tanpa penyesalan. Luka, cinta, keberhasilan, kegagalan, bahkan penderitaan yang dialami tubuh nyaris tidak tercatat dalam arus sungai itu.
Sejak DNA mampu menggandakan diri (self-replicated) ia diteruskan, diwariskan dari leluhur yang “sukses”: mereka yang bertahan hidup dan bereproduksi. Setiap manusia yang hidup hari ini adalah bukti dari rangkaian keberhasilan tersebut. Kita ada karena ada leluhur yang lolos seleksi alam, yang berhasil beranak-pinak, yang tidak terhapus oleh sejarah biologis. Keberadaan kita hari ini adalah hasil dari keberhasilan panjang yang nyaris tak terputus.
Dengan logika ini, setiap individu membawa beban sunyi sekaligus getir: kewajiban tak tertulis untuk melanjutkan aliran. Namun kewajiban ini tidak selalu mungkin, atau tidak selalu dipilih oleh setiap orang. Karena itu, naluri untuk menggoda, mencinta, menikah, dan berketurunan, dalam perspektif Dawkins, bukanlah romantika, apalagi panggilan moral atau agama, melainkan strategi genetik. Tubuh-tubuh kita terus bekerja, sering kali tanpa sadar, untuk satu tujuan dasar: memastikan gen tidak berhenti di sini, di tubuh ini.
Di titik inilah kegelisahan personal mulai tumbuh. Sebab jika tubuh hanyalah kendaraan, maka nilai hidup manusia, secara biologis, diukur dari satu pertanyaan dingin: apakah ia berhasil meneruskan aliran gen? Pertanyaan tentang menikah dan berketurunan, yang semula terasa sosial, kultural, bahkan religius, tiba-tiba berubah menjadi pertanyaan eksistensial.
Kegelisahan itu terasa paling tajam ketika diarahkan pada diri sendiri. Jika saya tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak meneruskan garis keturunan, apakah saya berarti simpul yang terputus dalam sungai panjang itu? Jika seseorang tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak meneruskan garis keturunan, apakah ia berarti simpul yang gagal? Apakah ia hanya residu genetik yang terputus, yang akan terhapus dari sejarah biologis tanpa jejak?
Pertanyaan ini terasa kejam, terutama ketika dihadapkan pada individu yang hari ini dianggap cerdas, menarik, atau mapan secara ekonomi sebagai ciri-ciri yang secara evolusioner kerap dibaca sebagai “layak diwariskan”. Jika semua potensi itu tidak diteruskan dalam bentuk keturunan, apakah ia menjadi sia-sia secara biologis?
Di sinilah kegetiran itu mencapai puncaknya. Seseorang bisa saja memiliki kapasitas intelektual, daya tarik, atau stabilitas ekonomi yang tinggi, semua yang, dalam bahasa seleksi alam, dianggap sebagai modal keberhasilan, namun jika ia tidak beranak-pinak, maka seluruh potensi itu seolah kehilangan fungsi biologisnya. Ia menjadi akhir dari sebuah jalur panjang yang telah menempuh ribuan generasi.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak datang sebagai kecaman moral, melainkan sebagai kesimpulan logis dari cara pandang Darwinian itu sendiri. Dawkins tidak berbicara dalam bahasa dosa atau pahala. Ia tidak menawarkan hukuman atau ganjaran. Namun logika evolusi juga tidak sepenuhnya netral secara emosional. Ia diam-diam memaksa kita menilai diri sendiri sebagai “sukses” atau “gagal” dalam ukuran yang sangat dingin dan impersonal.
Gen-gen yang ada dalam tubuh saya hari ini adalah gen-gen yang telah “sukses” di masa lalu: gen dari leluhur yang bertahan hidup, bereproduksi, dan mengalahkan kemungkinan lenyap. Tubuh saya hadir hari ini karena keberhasilan panjang itu. Namun jika saya tidak memiliki keturunan, maka aliran itu berhenti di sini—di tubuh saya.
Dan di titik inilah kegelisahan itu tidak lagi sekadar biologis. Ia bersinggungan dengan agama yang berbicara tentang makna, negara yang mengatur reproduksi dan keluarga, serta kesadaran manusia yang selalu ingin lebih dari sekadar menjadi kendaraan gen. Pertanyaannya pun bergeser: apakah hidup manusia hanya soal meneruskan aliran, atau justru tentang memberi makna pada jeda singkat ketika sungai itu melewati tubuh kita?
Memandang kehidupan semata dari kacamata biologi evolusioner memang terasa sangat dingin. Ia nyaris tidak mengenal belas kasihan. Ia tidak bertanya tentang luka, penundaan, atau kegagalan yang lahir dari sejarah. Ia hanya mencatat satu hal: apakah suatu aliran gen berlanjut atau terputus. Dalam logika yang sedingin itu, kegelisahan saya menemukan bentuknya yang paling pahit. Kemungkinan bahwa saya hanyalah kendaraan gen yang tidak berhasil menjalankan fungsinya. Bahwa saya mungkin adalah “produk gagal”, karena belum atau tidak menjalankan fungsi tersebut.
Dari sini muncul pertanyaan lanjutan yang jauh lebih menyakitkan: mengapa saya tidak mampu? Dan justru di titik ini tampak jelas bahwa ada lapisan lain yang kerap luput dalam pembacaan biologis murni, tetapi sangat menentukan arah hidup manusia—yaitu lingkungan.
Lingkungan di sini bukan sekadar alam, cuaca, atau kondisi geografis, melainkan jejaring kondisi sosial, ekonomi, sejarah, dan kekuasaan yang membingkai kemungkinan hidup seseorang sejak lahir. Pilihan untuk menikah atau tidak menikah, memiliki anak atau tidak memiliki keturunan, sering kali tampak sebagai keputusan individual. Padahal, di baliknya bekerja sejarah yang panjang dan kerap brutal. Keluarga tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang tidak dipilih, tetapi harus ditanggung lintas generasi.
Karena itu, kehidupan tidak hanya ditentukan oleh gen. Kehidupan tidak pernah sepenuhnya tunduk pada gen. Ada faktor kedua yang tidak kalah menentukan, yaitu lingkungan. Lingkungan bukan sekadar soal preferensi atau pilihan pribadi, melainkan struktur sosial, ekonomi politik, sejarah kekerasan, dan trauma kolektif. Manusia selalu hidup di dalam jaringan sebab yang jauh lebih besar dari dirinya. Maka kegelisahan ini menjadi semakin berat ketika disadari bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam meneruskan keturunan tidak selalu lahir dari pilihan bebas. Ada sejarah keluarga, kondisi ekonomi, trauma politik, dan kekerasan struktural yang ikut menentukan siapa yang bisa menikah, siapa yang tertunda, dan siapa yang akhirnya terhenti, bahkan sebelum sempat memilih.
Dalam banyak kasus, kegagalan berketurunan bukanlah soal kemalasan atau ketidakmampuan personal, melainkan akibat dari kondisi yang diwariskan secara sosial, bukan genetik. Kematian seorang kakek karena konflik politik, misalnya, bukan hanya tragedi personal. Ia bisa memutus stabilitas keluarga, menggeser arah hidup anak-anaknya, dan secara tidak langsung memengaruhi kemungkinan keturunan di generasi berikutnya. Dalam kacamata ini, kegagalan reproduksi tidak lagi dapat dibaca sebagai urusan pribadi semata, melainkan sebagai produk dari sejarah.
Namun narasi semacam ini kerap dicurigai sebagai dalih. Sebagai upaya menyalahkan keadaan. Bahkan, tidak jarang dianggap sebagai bentuk pengutukan terhadap agama atau politik tertentu. Padahal kenyataan hampir selalu lebih rumit dari tudingan-tudingan itu. Dalam satu keluarga yang sama, ada yang menikah dan ada yang tidak. Ada yang berhasil meneruskan garis keturunan, ada pula yang terhenti. Sejarah tidak bekerja secara seragam, bahkan di dalam darah yang sama.
Dalam sejarah keluarga saya sendiri, politik kekerasan meninggalkan jejak yang tidak pernah benar-benar selesai. Kematian kakek saya, yang disembelih dalam pusaran konflik politik, bukan hanya mengakhiri satu nyawa, tetapi juga meretakkan struktur keluarga. Ia menciptakan lubang yang tak pernah sepenuhnya tertutup: kehilangan figur, kehilangan arah, kehilangan jaminan keberlanjutan. Dari lubang itulah kehidupan generasi berikutnya tumbuh dalam keadaan timpang.
Ayah saya, dalam bayang-bayang peristiwa itu, menjalani hidup dengan garis yang tidak sepenuhnya utuh. Pendidikan, ekonomi, dan kestabilan emosional berjalan dalam keterbatasan. Dan keterbatasan itu, disadari atau tidak, diwariskan kepada anak-anaknya. Bukan sebagai gen, melainkan sebagai kondisi hidup. Dengan demikian, keterlambatan, keraguan, atau bahkan kegagalan dalam membangun keluarga bukanlah anomali personal, melainkan hasil dari rangkaian sebab yang panjang.
Tentu saja, narasi seperti ini kembali mudah dicurigai sebagai upaya menyalahkan keadaan, atau bahkan sebagai pengutukan terhadap agama atau politik tertentu yang terlibat dalam sejarah kekerasan tersebut. Padahal yang hendak dikatakan bukanlah tudingan, melainkan pengakuan: bahwa hidup manusia dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang sering kali berada di luar kendalinya. Jika memang ada kesalahan, maka ia tidak sepenuhnya adalah kesalahan saya, jika benar saya salah.
Fakta bahwa tidak semua cucu dari kakek saya mengalami nasib serupa justru mempertegas kerumitan itu. Dalam satu garis keturunan yang sama, ada yang menikah, ada yang tidak; ada yang meneruskan gen, ada yang terhenti. Lingkungan tidak bekerja sebagai hukum pasti, melainkan sebagai medan kemungkinan, yang membuka jalan bagi sebagian orang, sekaligus menutup jalan bagi yang lain.
Namun dalam kerangka pikir biologi evolusioner, seluruh kerumitan ini tetap akan dibaca secara dingin. Seleksi alam tidak mempertimbangkan keadilan historis, penderitaan sosial, atau trauma lintas generasi. Ia hanya mencatat hasil akhir: apakah suatu aliran gen berhasil dilanjutkan atau tidak. Tetapi bagi manusia yang hidup di dalamnya, perbedaan itu bukan sekadar data. Ia menjelma sebagai luka—luka yang tidak tercatat dalam DNA, tetapi terasa nyata dalam kesadaran.
Di titik inilah biologi dan sejarah bertemu dalam sebuah ketegangan yang tak pernah benar-benar selesai. Gen mungkin diwariskan secara buta, tanpa ingatan dan tanpa empati, tetapi kesempatan untuk meneruskannya dibentuk oleh sejarah. Politik kekerasan, kemiskinan struktural, dan trauma kolektif bekerja sebagai penyaring tambahan, yang sering kali sama kerasnya, bahkan lebih kejam, dibanding seleksi alam itu sendiri.
Karena itu, kegagalan berketurunan dalam banyak kasus bukanlah kegagalan biologis semata, melainkan kegagalan sejarah yang ditanggung oleh tubuh-tubuh tertentu. Tubuh menjadi tempat bertemunya dua arus besar: sungai gen yang menuntut keberlanjutan, dan sungai sejarah yang kerap merusak jembatan. Dalam biologi evolusioner memang ada pengakuan bahwa tidak semua kehidupan diarahkan untuk menjadi penerus langsung. Tetapi pengakuan itu jarang memberi ketenangan pada batin manusia.
Dawkins sendiri menawarkan satu konsep yang menarik: tidak semua individu harus mewariskan gen secara langsung agar evolusi tetap berlangsung. Dalam dunia organisme sosial seperti lebah, semut, tawon, rayap, sebagian besar individunya justru mandul secara biologis. Mereka tidak kawin, tidak beranak, dan tidak meninggalkan keturunan langsung. Namun mereka sama sekali tidak sia-sia. Mereka membantu pewarisan gen kolektif: gen yang sama dari leluhur yang sama, yang mengalir melalui saudara, keponakan, atau ratu dalam koloni.
Di sinilah analogi lebah, semut, tawon, dan rayap menjadi relevan—meski tidak sepenuhnya. Dengan logika ini, seseorang yang tidak memiliki anak tidak otomatis gagal secara evolusioner. Ia mungkin berfungsi sebagai penopang sistem: membantu, menjaga, atau memastikan keberlanjutan keluarga dan komunitas. Mandul, dalam pengertian ini, bukan cacat biologis, melainkan posisi struktural.
Dalam koloni serangga sosial, sebagian besar individu memang tidak bereproduksi. Namun keberadaan mereka justru vital. Mereka bekerja, melindungi, memberi makan, dan bahkan mati demi keberlanjutan koloni. Dari sudut pandang gen, yang penting bukan siapa yang beranak, melainkan apakah gen itu sendiri tetap mengalir ke generasi berikutnya. Dengan cara ini, individu yang mandul secara biologis tetap berkontribusi pada keberhasilan gen kolektif. Mereka tidak mewariskan gen secara langsung, tetapi membantu gen yang sangat mirip, bahkan identik, untuk bertahan dan menyebar.
Dawkins menggunakan konsep ini untuk menunjukkan bahwa “keberhasilan” dalam evolusi tidak selalu berbentuk reproduksi pribadi atau karier biologis satu individu. Ada strategi lain yang sama sahnya: membantu kerabat dekat, memperkuat komunitas genetik, dan memastikan lingkungan tempat gen hidup tetap stabil. Dalam istilah evolusi, ini dikenal sebagai kin selection—seleksi kekerabatan.
Namun dalam kehidupan manusia, posisi seorang individu yang tidak memiliki keturunan selalu lebih kompleks. Ia tidak serta-merta menjadi gen yang gagal. Ia bisa berfungsi sebagai penopang: membantu saudara, keponakan, atau keluarga besar; menjaga kesinambungan sosial dan emosional, atau menyediakan waktu, perhatian, dan sumber daya yang mungkin tak mampu diberikan oleh mereka yang sibuk membesarkan anak. Meski demikian, kegetiran itu tidak sepenuhnya sirna.
Sebab dalam kerangka Darwinian yang keras, tubuh yang tidak meneruskan gen pada akhirnya akan menghilang dari sejarah biologis. Ia menjadi jalan buntu. Sebuah kendaraan yang berhenti. Dan di sinilah perbedaan mendasar antara manusia dan hewan muncul dengan jelas. Lebah dan semut tidak memiliki kesadaran eksistensial. Mereka tidak mempertanyakan posisi mereka dalam koloni. Mereka tidak meratapi makna. Manusia, sebaliknya, sadar akan perannya, dan justru kesadaran itulah yang melahirkan kegelisahan semacam saya. Menjadi “pembantu” dalam pewarisan gen bukanlah pilihan yang netral secara emosional.
Kegelisahan ini semakin rumit ketika bersinggungan dengan agama dan negara. Ada narasi religius yang menempatkan pernikahan dan beranak-pinak sebagai kebajikan. Ada pula narasi politik yang melihat populasi sebagai kekuatan negara. Dalam dua dunia ini, agama dan negara, tubuh manusia kembali dipanggil untuk berfungsi: sebagai umat dan sebagai penduduk.
Jika hingga akhir hayat seseorang tidak menikah dan tidak memiliki anak, ia mungkin tetap menjalani fungsi serupa: bukan sebagai penerus langsung, melainkan sebagai pendukung keberlanjutan keluarga atau komunitas. Ia sebatas membantu aliran gen tetap bergerak, meski tidak melalui tubuhnya sendiri. Dalam kerangka ini, kemandulan bukan lagi cacat biologis, melainkan posisi struktural dalam sistem yang lebih besar. Namun kegelisahan itu tetap tidak sepenuhnya teredam. Sebab dalam sejarah manusia, makna hidup tidak hanya diukur dari fungsi. Ada hasrat untuk dikenang, untuk memiliki kelanjutan yang secara simbolik disebut “darah daging sendiri”.
Di titik inilah analogi biologis mulai berjarak dengan pengalaman batin manusia. Menjadi lebah atau semut mungkin cukup bagi alam. Tetapi bagi manusia, kesadaran akan kemungkinan terhapus dari garis keturunan tetap terasa sebagai kehilangan. Bukan sekadar kehilangan fungsi biologis, melainkan kehilangan narasi bahwa hidup ini pernah berlanjut melalui diri kita. Namun Dawkins memotong narasi itu.
Sungai DNA yang ia maksud memang bukanlah sungai moral atau spiritual. Ia adalah sungai informasi. Gen adalah sistem digital murni: dapat disalin, disandi ulang, dan dipertahankan sebagai unit yang relatif stabil. Tubuh, dalam pandangan ini, hanyalah survival machine sebagai mesin pertahanan yang ditugasi melestarikan pesan genetik.
Dalam setiap sel tubuh manusia terdapat separuh gen dari ibu dan separuh dari ayah. Keduanya tidak pernah benar-benar melebur. Mereka berdampingan, saling memengaruhi ekspresi satu sama lain, tetapi tetap utuh sebagai unit informasi. Ketika diwariskan ke generasi berikutnya, gen itu berpindah sebagai pecahan statistik: satu dari empat kakek-nenek, satu dari delapan buyut, dan seterusnya.
Dalam jangka pendek, gen hidup di dalam satu tubuh. Dalam jangka panjang, ia hidup melalui komunitas, spesies, dan genus. Sungai itu terus bercabang melalui proses spesiasi, sering kali akibat pemisahan geografis. Dua spesies bisa berasal dari hulu sungai yang sama, tetapi tak lagi mampu bercampur setelah berjalan jauh dalam waktu—karena telah menjadi hilir yang berbeda.
Hari ini diperkirakan ada sekitar 30 juta spesies hidup. Hanya sekitar satu persen dari seluruh spesies yang pernah ada. Sisanya telah punah. Seleksi alam memang tidak mengenal belas kasihan. Namun biologi molekuler justru menunjukkan sesuatu yang paradoksal: perbedaan fisik yang besar sering kali ditopang oleh perbedaan genetik yang sangat kecil. Manusia sangat dekat dengan simpanse, lalu dengan gorila, orang utan, hingga mamalia lain. Jika ditarik lebih jauh ke hulu, manusia bahkan bersaudara dengan monyet dan lemur modern.
Mengapa tubuh tetap penting? Karena di dalam tubuh berlangsung proses kehidupan dengan ketelitian yang nyaris kosmik—sebuah mikrokosmos. Dari satu sel tunggal hasil pembuahan, terjadi pembelahan eksponensial hingga triliunan sel. Melalui gastrulasi, sel-sel berdiferensiasi menjadi jaringan, organ, dan sistem tubuh. Seperti alam semesta yang bermula dari Big Bang, tubuh manusia bermula dari ledakan replikasi sejak fase gastrulasi.
Ironisnya, momen paling menentukan dalam hidup manusia, dalam pandangan ini, bukanlah kelahiran, pernikahan, atau bahkan kematian, melainkan satu fase embrionik (Gastrulasi) yang tidak pernah kita ingat sama sekali. Di sanalah tubuh sebagai kendaraan gen diprogram—dan sejak saat itu, sungai itu terus mengalir, entah kita sempat meninggalkan jejak atau tidak.
Jika kita berkata bahagia dalam pernikahan, bahagia dalam berketurunan, Dawkins menegaskan bahwa kehidupan bukan tentang kebahagiaan individu, melainkan tentang kelangsungan replikator yang mengaktifkan sel-sel penyusun jaringan, organ, dan organisme. Kehidupan, dalam bahasa ini, adalah “bom replikasi” yang menyebar, membelah, dan bertahan. Desain rumit alam bukanlah hasil dari perancang cerdas, melainkan akumulasi seleksi alam yang panjang, lambat, dan buta.
Di hadapan penjelasan yang begitu telanjang itu, manusia tetap gelisah. Sebab kita menyangka, atau mungkin ingin percaya bahwa kita bukan sekadar kendaraan gen. Kita mungkin makhluk yang sadar bahwa kita hanyalah kendaraan, tetapi kita juga makhluk yang mampu merenung, mempertanyakan, bahkan menolak narasi biologis yang dingin itu.
Barangkali justru di situlah martabat manusia berdiri. Bukan pada keberhasilan genetik, bukan pada jumlah keturunan, melainkan pada kemampuan memberi makna—bahkan pada kegagalannya. Sungai DNA boleh mengalir tanpa peduli pada tubuh-tubuh yang ia lewati. Tetapi manusia, dengan kesadarannya, masih bisa berdiri di tepi sungai itu dan bertanya: apakah hidup hanya sejauh ini?
Di titik inilah batas Darwinisme reduksionis mulai tampak. Ketika seluruh kehidupan direduksi menjadi persoalan keberhasilan atau kegagalan gen, manusia berisiko kehilangan sesuatu yang paling khas dari dirinya: kemampuan memberi makna. Reduksi ini sangat kuat sebagai penjelasan biologis, tetapi menjadi problematis ketika diam-diam berubah menjadi ukuran nilai hidup.
Darwinisme, dalam bentuknya yang paling ketat, tidak menyediakan ruang bagi kegagalan yang bermakna. Ia hanya mengenal keberlanjutan atau kepunahan. Dalam kerangka itu, tubuh yang tidak berhasil mewariskan gen akan lenyap tanpa sisa, seolah tak pernah penting. Padahal manusia hidup bukan hanya sebagai sistem biologis, melainkan sebagai makhluk simbolik: yang mencintai, mengingat, menyesal, dan berharap.
Kritik terhadap reduksionisme ini bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan upaya menjaga jarak. Sains menjelaskan bagaimana kehidupan bekerja, tetapi tidak selalu mampu menjawab mengapa hidup harus dijalani. Ketika penjelasan biologis melampaui wilayahnya dan mulai mendikte makna hidup, di situlah kegelisahan muncul.
Sebab manusia bukan sekadar kendaraan gen, meskipun tubuhnya memang bekerja sebagai kendaraan. Ada lapisan kesadaran yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika seleksi alam. Lapisan inilah yang memungkinkan seseorang memilih untuk tidak menikah, atau tidak berketurunan, yang bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai keputusan etis, eksistensial, atau bahkan spiritual.
Selain itu pula, ketegangan ini tidak berhenti pada Darwinisme. Di luar sains, ada narasi lain yang sama kuatnya dan sama-sama memiliki kepentingan terhadap tubuh manusia: agama dan negara. Dalam banyak tradisi agama, pernikahan dan beranak-pinak diposisikan sebagai kebajikan. Ada sabda tentang nabi yang akan berbangga melihat banyaknya umatnya kelak. Maka menikahlah, beranak-pinaklah. Tubuh manusia kembali diberi fungsi: sebagai pengisi surga, sebagai statistik iman.
Narasi ini terdengar hangat dan moral, tetapi diam-diam memuat logika yang tidak sepenuhnya berbeda dari biologi evolusi Darwinian. Jika Darwinisme berbicara tentang gen, agama berbicara tentang umat. Keduanya sama-sama memandang tubuh sebagai sarana bagi sesuatu yang lebih besar dari individu.
Negara pun tidak jauh berbeda. Dalam sejarah modern, populasi adalah kekuatan. Anak-anak dibayangkan sebagai pengisi wilayah, tenaga kerja, pembayar pajak, dan simbol kejayaan bangsa. Di masa awal kemerdekaan, tubuh-tubuh manusia dipanggil untuk memperbanyak diri demi mengisi pulau-pulau, menjaga kedaulatan, dan menopang imajinasi nasional.
Dengan demikian, sains, agama, dan negara bertemu pada satu titik yang sama: kepentingan terhadap reproduksi. Tubuh manusia menjadi medan tempat tiga kekuatan ini bekerja sekaligus—biologi, iman, dan politik. Dan di tengah-tengahnya berdiri individu yang gelisah, yang hidupnya direduksi menjadi sebatas fungsi.
Di sinilah kegelisahan personal menemukan dimensi kolektifnya. Ketika seseorang tidak menikah atau tidak berketurunan, ia bukan hanya berhadapan dengan logika gen, tetapi juga dengan tuntutan moral dan politik. Ia dianggap tidak hanya gagal secara biologis, tetapi juga menyimpang secara sosial dan tidak produktif secara negara.
Namun justru di ruang sempit itulah pertanyaan paling manusiawi muncul: apakah hidup harus selalu dibenarkan oleh fungsi? Apakah keberadaan manusia hanya sah jika ia berkontribusi pada keberlanjutan gen, umat, atau populasi?
Kegelisahan ini tidak sepenuhnya dapat diselesaikan. Barangkali memang tidak dimaksudkan untuk selesai. Manusia hidup sambil membawa pertanyaan, tentang cinta, keturunan, dan keberlanjutan diri tanpa pernah benar-benar tahu apakah pilihan-pilihannya akan dibenarkan oleh sejarah, biologi, atau iman.
Di hadapan sungai DNA yang mengalir tanpa ingatan, tubuh manusia tampak kecil dan rapuh. Kita hadir sebentar, lalu pergi. Namun justru dalam kefanaan itulah kesadaran tumbuh. Tidak seperti gen, manusia tahu bahwa ia akan berakhir. Ia tahu bahwa aliran itu bisa berhenti di dirinya. Dan pengetahuan itulah yang melahirkan kesedihan, dan sekaligus martabat.
Mungkin hidup bukan semata soal meneruskan aliran, tetapi tentang bagaimana kita berdiri di tepi sungai itu. Ada yang memilih menyeberang, ada yang memilih mengalir, ada pula yang memilih duduk diam dan mendengarkan gemuruhnya. Tidak semua keberadaan harus diwujudkan dalam keturunan. Sebagian diwujudkan dalam perhatian, pengasuhan, persahabatan, atau kesetiaan pada nilai-nilai yang tak dapat diwariskan melalui gen.
Jika benar tubuh hanyalah kendaraan, maka manusia adalah satu-satunya kendaraan yang sadar akan perjalanannya. Kesadaran itu memungkinkan kita bertanya, bahkan membantah. Kita bisa berkata: mungkin saya tidak meneruskan gen, tetapi saya meneruskan makna. Meski makna itu rapuh, subjektif, dan tak tercatat dalam sejarah biologis.
Pada titik ini, saya tidak lagi ingin mengukur hidup dengan keberhasilan genetik, jumlah keturunan, atau kepadatan populasi. Saya hanya ingin jujur pada kegelisahan sendiri. Sebab barangkali kegelisahan itulah tanda bahwa manusia tidak sepenuhnya tunduk pada fungsi.
Sungai dari Firdaus, jika boleh disebut demikian, akan terus mengalir, dengan atau tanpa kita. Gen akan mencari kendaraan lain. Sejarah akan melanjutkan langkahnya. Tetapi manusia, dalam kesadarannya yang singkat, masih bisa memilih bagaimana ia ingin hadir: sebagai penerus, sebagai penopang, atau sebagai saksi yang merenung.
Dan barangkali pertanyaan itu tidak menuntut jawaban. Ia hanya ingin kita berani tinggal bersamanya, sejenak, sebelum sungai itu membawa kita pergi menuju muara dan samudera kefanaannya. (Sal)