Sapiens Nusantara: Evolusi, Sejarah, dan Ingatan yang Terlupa

Membaca buku pertama Yuval Noah Harari, Sapiens, membawa pikiranku pada sebuah pertanyaan mendasar:...

Sapiens Nusantara: Evolusi, Sejarah, dan Ingatan yang Terlupa

20 Jan 2026
208 x Dilihat
Share :

Sapiens Nusantara: Evolusi, Sejarah, dan Ingatan yang Terlupa

Membaca buku pertama Yuval Noah Harari, Sapiens, membawa pikiranku pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah bacaan ini sedang meriwayatkan apa yang kita sebut sebagai sejarah, atau justru sebuah bentuk fiksi ilmiah yang disusun dengan bahasa akademik? Pertanyaan ini muncul bukan karena keraguan semata, melainkan karena Harari mengajak pembaca menelusuri masa lalu manusia dengan cara yang tidak lazim. Kita dibawa melintasi batas disiplin, dari biologi, antropologi, hingga filsafat sejarah.

Buku ini disusun di atas pijakan yang disebut sebagai “kebenaran” ilmiah, terutama berdasarkan argumentasi teori evolusi Charles Darwin. Teori ini, sebagaimana kita tahu, sejak lama menerima sanggahan, khususnya dari kalangan agamawan yang berlindung di balik teori penciptaan (creationism). Di Indonesia, perlawanan terhadap evolusi ini bahkan menemukan momentumnya melalui karya-karya populer yang sering dilabeli sebagai pseudo-sains, salah satunya lewat nama tenar Harun Yahya yang cukup booming di ruang publik.

Dalam posisiku sendiri, teori evolusi tidak serta-merta kuterima atau kutolak secara mentah. Aku memandangnya sebagaimana Filsafat Islam memandang manusia dari kacamata biologisnya. Dalam pandangan filsafat Islam, manusia tidak direduksi semata sebagai makhluk biologis, tetapi juga tidak menafikan unsur biologis itu sendiri. Biologis (jasmani) dan spiritualis (ruhani) dipandang sebagai dua entitas yang sejajar. Bukan dalam arti sama, melainkan berbeda dimensi dalam satu struktur gradasi, sebagaimana dikenal dalam teori emanasi. Unsur ruhani tidak serta-merta dianggap lebih penting dari jasmani, melainkan saling mengandaikan.

Dalam kerangka itulah, karya pertama Harari ini tampak hendak menjelaskan manusia terutama dari sisi biologisnya. Manusia sebagai spesies, sebagai makhluk hidup yang tunduk pada hukum-hukum alam. Barangkali karena itu pula, sekuelnya, Homo Deus dan 21 Pelajaran untuk Abad 21, saya anggap dan lebih cocok dibaca sebagai kelanjutan pembahasan manusia dari sisi “spiritual”-nya: kesadaran, etika, makna hidup, dan masa depan peradaban.

Harari mencatat bahwa Sapiens modern muncul sekitar 120 ribu tahun yang lalu. Sejak titik itu, terjadi semacam pemisahan, atau setidaknya pencabangan, antara biologi dan sejarah. Manusia tetaplah makhluk biologis, tetapi pada saat yang sama mulai menciptakan sesuatu yang melampaui naluri: bahasa simbolik, mitos bersama, struktur sosial, dan akhirnya sejarah. Momen ini mengingatkanku pada Ibnu Khaldun, ketika ia mulai melembagakan sosiologi sebagai disiplin yang terbedakan dari filsafat, meski akarnya tetap filosofis.

Dengan pendekatan statistik sederhana, deret ukur dan deret hitung, Harari menggambarkan bagaimana Sapiens awalnya hidup sebagai kelompok kecil pemburu-pengumpul, berjumlah lusinan, di Afrika Timur yang kala itu beriklim tropis. Setiap sekitar 40 tahun, kelompok ini terpecah karena pertambahan jumlah anggota dan kebutuhan akan lahan baru. Proses pemencaran ini berlangsung perlahan, selama ribuan tahun. Untuk mencapai wilayah yang kini kita sebut Tiongkok, misalnya, Sapiens memerlukan waktu hingga 10.000 tahun, bergerak setapak demi setapak, generasi demi generasi.

Di titik inilah pikiranku tertambat pada satu wilayah yang kerap luput dari narasi besar sejarah dunia: Nusantara. Kelompok pemukim awal dalam sejarah manusia, yang secara genealogis, bisa jadi aku dan kita semua adalah bagian darinya, adalah mereka yang akhirnya tiba dan menetap di kawasan tropis ini. Nusantara, dengan iklimnya yang hangat dan alamnya yang subur, tentu menjadi tempat yang ideal untuk hunian jangka panjang. Dari sinilah pula, menurut sejumlah kajian, terjadi migrasi ke Australia yang berujung pada punahnya banyak megafauna seiring perubahan pola hidup manusia dan, kelak, datangnya Revolusi Pertanian.

Bahkan tidak berlebihan jika kita menduga bahwa salah satu bentuk awal Revolusi Pertanian justru terjadi di Nusantara. Legenda Dewi Sri, misalnya, bukan sekadar mitos agraris, melainkan penanda lahirnya sistem kepercayaan baru yang berakar pada pertanian. Sistem kepercayaan yang dalam sejarah global dikenal sebagai tradisi Dharmaic atau Dharma, sebab agama-agama yang memang lahir dari masyarakat agraris dan menetap, bukan dari komunitas nomadik.

Harari mencatat bahwa Sapiens pemburu-pengumpul dari Afrika Timur tampaknya merasa betah di kawasan yang kini kita sebut Nusantara. Di sinilah kemudian berdiri desa-desa nelayan, pemukiman pesisir, serta komunitas yang hidup di sepanjang sungai. Apa yang kemudian disebut sebagai Budaya Air dan Budaya Tanah mulai berkembang. Semua ini terjadi sekitar 45 ribu tahun yang lalu, sebagai sebuah era yang jauh mendahului Revolusi Pertanian yang selama ini kita anggap sebagai tonggak utama peradaban.

Pentingnya buku Sapiens, bagiku, justru terletak pada ajakan implisitnya: Sapiens modern perlu belajar kembali kepada Sapiens pemburu-pengumpul. Sebab, di balik segala kemajuan ilmu pengetahuan dan spesialisasi keahlian hari ini, manusia modern ternyata tidak selalu lebih cekatan, baik secara individu maupun kolektif. Ada sesuatu yang hilang dalam proses panjang yang kita sebut sebagai “kemajuan”.

Sesudah era pemburu-pengumpul berlalu, banyak manusia justru hidup dalam kondisi yang kurang bahagia. Waktu hidup mereka habis untuk bekerja. Gaya hidup pemburu-pengumpul yang sering kita bayangkan primitif, ternyata dalam banyak hal lebih nyaman dan lebih manusiawi dibandingkan kehidupan sebagian besar kaum tani, penggembala, atau buruh pabrik, hingga pekerja kantoran hari ini.

Dulu, rata-rata Sapiens pemburu-pengumpul hanya membutuhkan 35–40 jam per minggu untuk mencari makan. Berburu dilakukan sekali dalam tiga hari, atau sekitar 3–6 jam setiap hari. Bandingkan dengan kehidupan kita sekarang: berangkat kerja pukul tujuh pagi, pulang malam hari, belum ada yang harus masuk di hari libur, itu semua demi menjadi sekrup kecil dalam mesin industri yang besar. Sebuah pola kerja yang perlahan melumpuhkan bukan hanya tubuh, tetapi juga otak dan hati.

Belum lagi pekerjaan domestik yang menunggu: mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengganti popok anak, membayar berbagai tagihan. Semua itu muncul justru setelah terjadi industrialisasi pangan dan sandang. Sapiens pemburu-pengumpul tidak memiliki piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk dipel, atau cicilan yang harus dilunasi. Sebaliknya, mereka menikmati makanan yang jauh lebih beragam—sebuah diversifikasi pangan yang hari ini justru kita rindukan.

Lihatlah Sapiens modern: pagi, siang, dan malam sering kali hanya berkutat pada nasi atau roti. Variasi nyaris tak ada. Konsumsi buah dan sayuran semakin minim, sementara lahan-lahan subur terus menyusut demi proyek modernisasi dan industrialisasi. Ironisnya, semua itu terjadi sambil kita menolak gagasan bahwa manusia memiliki garis kekerabatan dengan monyet. “Makan pisang terus seperti monyet,” kata kita. “Makan pepaya terus seperti burung.” Padahal, tanpa disadari, kita sendiri berasal dari—dan masih membawa unsur hayawan dalam diri kita.

Sapiens bukan sekadar buku sejarah, apalagi sekadar laporan ilmiah yang dipadatkan jadi setebal 526 halaman. Ia adalah cermin panjang tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan mungkin ke mana kita sedang berjalan. Dan di antara barisan panjang sejarah itu, Nusantara bukanlah catatan pinggiran, melainkan salah satu simpul penting ingatan manusia, yang terlalu lama kita lupakan.

Sapiens tidak sekadar mengisahkan bagaimana manusia menang dari spesies lain, melainkan mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih berat: apakah kemenangan itu benar-benar membuat kita lebih bahagia, lebih bijak, dan lebih manusiawi? 

Harari menunjukkan bahwa peradaban dibangun bukan hanya oleh kekuatan otot atau kecerdasan otak, melainkan oleh kemampuan manusia mempercayai cerita-cerita bersama, tentang bangsa, uang, agama, kemajuan, dan masa depan. Namun, cerita-cerita itu selalu memiliki dua wajah: ia mampu menyatukan jutaan manusia, sekaligus menipu mereka secara kolektif. Di sinilah tanggung jawab etis manusia modern bermula: bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan memilih cerita mana yang layak kita wariskan.

Bagi peradaban dunia, Sapiens adalah peringatan bahwa kemajuan biologis dan teknologi tidak otomatis sejalan dengan kemajuan moral. Manusia mungkin telah menaklukkan alam, memetakan gen, dan membangun mesin yang mampu berpikir, tetapi tetap rapuh dalam mengelola hasrat, kekuasaan, dan keserakahan. Jika masa depan hanya digerakkan oleh logika efisiensi dan pertumbuhan tanpa kebijaksanaan, maka Homo sapiens berisiko menjadi spesies yang cerdas tetapi kehilangan arah—menguasai segalanya, kecuali dirinya sendiri.

Dalam konteks Nusantara, pesan Sapiens terasa lebih dekat dan lebih mendesak. Wilayah ini bukan sekadar persimpangan perdagangan atau hamparan sumber daya alam, melainkan salah satu ruang awal tempat manusia belajar menetap, bercocok tanam, membangun mitos, dan hidup berdampingan dengan alam tropis. Sejarah panjang Nusantara menyimpan pengetahuan ekologis dan sosial yang lahir jauh sebelum istilah “pembangunan berkelanjutan” ditemukan. Namun ironisnya, justru di tanah yang kaya pengalaman peradaban itu, manusia modern sering hidup terputus dari alam dan dari ingatan kolektifnya sendiri.

Bagi Indonesia hari ini, Sapiens menyampaikan pesan yang tajam sekaligus hening: masa depan tidak cukup dibangun dengan meniru jalur modernisasi Barat atau mengejar pertumbuhan ekonomi semata. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjadi negara maju, melainkan menjadi manusia yang utuh di tengah kemajuan itu. Indonesia dihadapkan pada pilihan peradaban: apakah akan menjadikan teknologi sebagai alat pembebasan, atau justru sebagai mekanisme baru penyeragaman dan pengasingan manusia dari tanah, komunitas, dan makna hidupnya.

Lebih dari itu, Sapiens mengingatkan Indonesia bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis atau suci secara biologis. Bangsa, agama, dan ideologi adalah konstruksi historis yang hanya akan bertahan jika mampu melayani kemanusiaan, bukan menindasnya. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, kesadaran ini penting agar perbedaan tidak dijadikan alasan dominasi, melainkan ruang dialog. Evolusi sosial, sebagaimana evolusi biologis, menuntut kemampuan beradaptasi, bukan mengeras dalam ketakutan.

Maka, jika ada satu pesan besar yang bisa ditarik dari Sapiens untuk masa depan Indonesia, pesan itu adalah ini: kita perlu kembali belajar menjadi manusia sebelum menjadi modern. Mengingat kembali bahwa peradaban bukan sekadar soal gedung tinggi, kecerdasan buatan, atau angka pertumbuhan, melainkan tentang relasi yang adil dengan alam, sesama manusia, dan diri sendiri. Sebab, tanpa kebijaksanaan itu, kemajuan hanya akan menjadi cara yang lebih canggih untuk tersesat dan hancur.

Dan mungkin, di situlah tugas generasi Indonesia hari ini. Bukan sekadar meneruskan sejarah, tetapi memilih arah evolusi. Apakah kita ingin menjadi Sapiens yang semakin berkuasa, atau Sapiens yang akhirnya benar-benar memahami arti hidup bersama di bumi yang rapuh ini. (Sal)

Perspektif

Scroll