21 Lessons

Dalam mengulas buku 21 Lessons for the 21st Century setebal 376 halaman terbitan Globalindo,...

21 Lessons

17 Des 2025
185 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

21 Lessons

Dalam mengulas buku 21 Lessons for the 21st Century setebal 376 halaman terbitan Globalindo, penerbit yang berkantor di Manado, kita sebaiknya berangkat dari kesadaran akan posisi manusia hari ini. Kita hidup di masa ketika drama, tragedi, dan anarki global kian intens terjadi di planet yang kita huni. Pertanyaan mendasarnya sederhana sekaligus genting: ke mana arah masa depan Bumi dan para penghuninya?

Pernyataan Ann Druyan teringat kembali tentang posisi manusia di zaman ini. Menurutnya, Bumi telah memasuki fase Antroposen, sebuah era ketika aktivitas manusia menjadi penyebab utama krisis ekologis dan ancaman kepunahan massal. Jika manusia ingin menunda atau bahkan menghindari skenario tersebut, kita membutuhkan panduan bersama dan kesepahaman global. Dalam konteks inilah 21 Lessons hadir sebagai semacam pelajaran untuk abad ke-21: sebuah ajakan kolektif untuk menyadari berbagai kemungkinan yang sedang dan akan kita hadapi.

Salah satu kemungkinan itu adalah penyalahgunaan sains yang dapat mengancam peradaban, meskipun pada saat yang sama sains juga memiliki daya penyelamat. Sains bahkan berpotensi menjadi “agama baru”—bukan dalam arti dogma, melainkan sebagai metodologi pencarian makna yang sakral, yang dapat mengantarkan manusia pada kebangkitan spiritual global. Sains, seperti cinta, dapat menjadi sarana menuju transendensi, yaitu tujuan yang sejatinya juga diusung agama pada awal kemunculannya. Namun, sebagaimana agama, sains pun rentan disalahgunakan, dan ketika itu terjadi, ancaman terhadap peradaban menjadi nyata.

Namun persoalan mendesak hari ini bukanlah memilih antara sains atau agama. Hal yang lebih penting adalah keberanian menerima kenyataan, bukan sekadar mempertahankan apa yang kita percayai. Kita semua setara sebagai manusia. Para nabi, maharesi, atau avatar telah lama tiada, dan yang tersisa hanyalah catatan sejarah dan para pengikutnya, yang tidak jarang terjebak dalam fanatisme buta.

Karena itu, Harari menegaskan pentingnya mempertanyakan kembali segala mitos dan dogma. Setiap gagasan perlu diuji: melalui pengamatan, percobaan, dan penilaian rasional. Gagasan yang lulus ujian dapat dikembangkan, sementara yang gagal seharusnya ditinggalkan. Tetapi muncul pertanyaan krusial: gagasan mana yang layak diuji lebih dahulu? Di sinilah, kata Harari, kejelasan menjadi kekuatan. Manusia membutuhkan panduan, dan Harari mencoba menawarkannya melalui buku ini, setelah sebelumnya meraih pengakuan global lewat Sapiens dan Homo Deus.

Meski demikian, Harari tidak mengklaim bahwa buku ini menyajikan panduan yang sepenuhnya lengkap. 21 Lessons lahir dari dialog panjang dengan para pembaca dua karya sebelumnya, dari tanggapan dan pertanyaan yang terus mengalir. Buku ini dibuka dengan survei situasi politik dan teknologi kontemporer. Pada akhir abad ke-20, dunia menyaksikan pertarungan ideologis besar antara fasisme, komunisme, dan liberalisme. Liberalisme tampak menang, dengan senjata baru bernama algoritma.

Namun kemenangan itu ternyata rapuh. Harari melihat liberalisme kini terjebak dalam kemacetan. Perkembangan bioteknologi dan infoteknologi berpotensi mendorong miliaran manusia keluar dari pasar kerja, sekaligus menggerogoti kebebasan dan kesetaraan. Algoritma dapat melahirkan kediktatoran digital. Ketika kita terus-menerus terpaku pada gawai, barangkali tanpa sadar kita sedang melangkah menuju perbudakan teknologi.

Melalui Big Data, apa yang oleh Marxisme disebut sebagai “kekuatan modal” justru akan semakin terkonsentrasi di tangan segelintir elite. Mayoritas manusia tidak lagi dieksploitasi seperti pada babak awal liberalisme, melainkan mengalami sesuatu yang lebih buruk: irelevansi. Akan muncul kelas baru manusia yang dianggap “tidak berguna” bagi sistem, semacam sampah peradaban.

Bukan untuk menebar ketakutan, tetapi kenyataannya, ketika tulisan ini disusun, gelombang pemutusan hubungan kerja massal melanda banyak perusahaan rintisan. Ironisnya, di dunia yang kian digital, sektor startup justru digadang sebagai masa depan. Penulis sendiri, dengan sedikit getir, juga mengakui berada dalam posisi penganggur, dan membaca buku ini untuk mencari kejelasan tentang hidup hari ini dan masa depan.

 

Buku ini terdiri dari 21 bab yang terbagi dalam lima bagian besar: tantangan teknologi, tantangan politik, keputusasaan dan harapan, kebenaran, serta daya tahan. Seluruhnya merupakan upaya Harari untuk mengoreksi institusi-institusi yang ada, terutama model liberal yang harus berani mengakui kesalahannya demi kelangsungan spesies manusia di Bumi.

Setiap bab menawarkan pembahasan yang menggugah. Demi memudahkan pemahaman dan pembacaan ulang, sejak pembacaan pertama banyak kalimat yang digarisbawahi. Tanda-tanda itu mungkin tidak penting bagi pembaca lain, tetapi bagi penulis, itulah cara memahami gagasan, terutama di tengah dunia kerja yang semakin repetitif dan segera digantikan oleh kecerdasan buatan.

Algoritma mendorong otomatisasi masif dan menjadikan perjuangan melawan irelevansi jauh lebih sulit daripada melawan eksploitasi. Big Data berpotensi memerangkap hidup manusia. Sejarah menunjukkan bahwa manusia selalu lebih unggul dalam menciptakan alat daripada menggunakannya secara bijak.

Menurut Harari, tidak ada pekerjaan manusia yang benar-benar aman dari ancaman otomatisasi. Pembelajaran mesin dan robotika akan terus berkembang. Profesi pengemudi, bankir, hingga pengacara dapat diambil alih AI. Bahkan seni, seperti musik, rentan terhadap analisis Big Data, karena pada dasarnya ia dapat direduksi menjadi pola matematis gelombang suara dan respons elektrokimia neuronal.

Perubahan yang cepat hampir selalu melahirkan stres. Dunia awal abad ke-21 telah menghasilkan epidemi stres global. Meski perubahan sosial mungkin menciptakan jenis pekerjaan baru, stamina mental manusia sering kali tidak siap menghadapinya.

Sejarah Revolusi Industri menunjukkan bahwa ketika mekanisasi menggantikan tenaga pertanian, masyarakat dipaksa mencari institusi baru. Feodalisme, monarki, dan agama tradisional tidak lagi memadai. Maka lahirlah eksperimen sosial seperti demokrasi liberal, komunisme, dan fasisme, yang masing-masing dengan problematikanya sendiri.

Kini manusia memasuki Revolusi Industri 4.0, ketika infoteknologi dan bioteknologi menyatu. Risiko baru pun muncul: perang nuklir, makhluk hasil rekayasa genetika, dan kerusakan total biosfer. Otoritas perlahan bergeser dari manusia ke algoritma, sebagaimana dulu berpindah dari dewa-dewa ke manusia pada revolusi sebelumnya.

Penggabungan infotek dan biotek memungkinkan Big Data memahami perasaan manusia lebih baik daripada manusia itu sendiri. Diagnosis medis, misalnya, semakin bergantung pada mesin, bukan pada keluhan subjektif pasien, adalah sebuah perkembangan yang berakar sejak temuan Angelo Mosso hingga Hans Berger dengan EEG-nya.

Harari membedakan kecerdasan dan kesadaran. Kecerdasan adalah kemampuan memecahkan masalah, sementara kesadaran adalah kemampuan merasakan. Kesadaran berakar pada biokimia organik. Pertanyaannya: mungkinkah AI suatu hari memiliki kesadaran?

Dalam waktu dekat, hal itu tampaknya belum mungkin. Komputer mungkin menjadi supercerdas, tetapi tidak super-sadar. Karena itu, berbahaya jika manusia terlalu banyak berinvestasi pada AI, tetapi terlalu sedikit mengembangkan kesadaran manusia sendiri. Bahaya terbesar muncul ketika mesin supercerdas jatuh ke tangan kebodohan alami manusia.

Media sosial, yang semula diharapkan membangun komunitas global, justru dapat menjadi alat kekacauan ketika dikuasai fanatisme dan militerisme. Bagi Harari, misalnya memperdebatkan “Islam sejati” ala kelompok radikal tidaklah produktif. Islam, katanya, tidak memiliki DNA tetap; ia adalah apa yang dilakukan oleh para pemeluknya.

Nasionalisme pun bukan produk biologis, melainkan konstruksi sosial baru. Manusia secara alami hanya setia pada kelompok kecil. Lemahnya ikatan nasional menjelaskan munculnya negara gagal seperti Afghanistan atau Somalia.

Masalah yang paling mendesak adalah kebutuhan akan identitas global baru untuk menghadapi krisis global: ekologi, teknologi, dan perang nuklir. Lembaga nasional bahkan PBB terbukti tak berdaya menahan konflik besar. Globalisasi politik dengan segala risikonya telah menjadi keniscayaan.

Terorisme, menurut Harari, adalah seni mengendalikan pikiran melalui ketakutan. Reaksi berlebihan justru memenuhi tujuan teroris itu sendiri. Ketakutan batin kitalah yang sering menjadi bahan bakar utama teror.

Harari menyerukan agar manusia berhenti menjadi bodoh. Narasi sok-penting atas nama bangsa, agama, atau budaya hanya memperburuk ketegangan. Sebab yang dibutuhkan adalah nilai-nilai universal: kebenaran, belas kasih, kesetaraan, kebebasan, keberanian, dan tanggung jawab.

Kebenaran harus berpijak pada observasi dan bukti, bukan semata keyakinan. Namun di dunia yang kompleks, ketidaktahuan dan ketidakpedulian menjadi kejahatan terbesar. Pandangan kita sering dibentuk oleh loyalitas kelompok, bukan rasionalitas.

Dogma tetap menarik karena menawarkan rasa aman dari kompleksitas. Kita hidup di era pasca-kebenaran, karena Homo sapiens pada dasarnya adalah makhluk pencipta fiksi. Fiksi memungkinkan kerja sama massal, tetapi juga memerangkap manusia dalam ilusi.

Pikiran dibentuk oleh sejarah dan biologi. Tahun 2048 mungkin akan menyaksikan migrasi manusia ke dunia maya, sebagaimana migrasi desa-kota pada 1848. Dalam perubahan ini, Harari menekankan pentingnya 4C: berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.

Menjaga keseimbangan mental menjadi tantangan utama. Teknologi dapat membantu, tetapi juga dapat menyandera manusia. Kita harus bertanya: siapa yang mengendalikan siapa?

Di era peretasan manusia, satu-satunya cara mempertahankan kendali adalah berlari lebih cepat dari algoritma, dengan mengurangi kemelekatan dan meninggalkan ilusi. Pertanyaan terbesar manusia bukanlah makna hidup, melainkan bagaimana keluar dari penderitaan.

Meditasi, bagi Harari, adalah alat untuk mengamati pikiran secara langsung. Sudah saatnya manusia memahami pikirannya sendiri, sebelum algoritma melakukannya atas nama kita.(Sal)

Perspektif

Scroll