Elis, Elisa.
Sebelum segalanya kukatakan, izinkan aku terlebih dahulu meminta maaf. Maaf yang lahir dari jeda panjang dan perasaan yang tak sempat diucapkan dengan suara. Maafkan aku karena gagal hadir di hari pernikahanmu, hari ketika waktu menepi sejenak untuk menyaksikan dua jiwa dipertautkan, yang semestinya aku bisa hadir menyaksikan momen bahagiamu, istimewamu.
Aku telah berusaha memohon cuti kerja demi hadir di sana, menawar hari dan jam dengan harap yang sederhana. Namun yang sampai padamu hanyalah surat ini dan sebundel draf tulisan yang kuselipkan dalam sebuah soft folder. Itulah hadiah kecilku, hadiah yang tak berbunyi, yang ingin kuletakkan di sisimu pada hari terpenting dalam hidupmu.
Anggaplah ini semacam kehadiran yang tak sempurna. Bukan tubuhku yang berdiri di antara tamu dan bunga, melainkan kata-kata yang menjemputmu di pelaminan. Kata-kata ini kutitipkan sebagai pengganti langkah kakiku yang tertahan jarak dan keadaan. Anggaplah ia bagian dariku yang duduk menepi di sudut pesta, menyimak dari jauh, menyimpan doa dalam diam. Meski tubuhku tak benar-benar ada, tapi perasaanku tak pernah sepenuhnya absen untukmu.
Kuucapkan selamat dan doa seperti biasa orang-orang mengucapkannya pada mereka yang menikah. Selamat, ya. Selamat menempuh hidup baru. Doa ini mungkin terdengar sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuatnya jujur: semoga kau berbahagia. Semoga hari-harimu kelak tak hanya dipenuhi tawa, tetapi juga ketabahan ketika dunia menguji kalian berdua. Selamat memasuki babak baru hidupmu, dengan doa yang kupanjatkan sebagaimana doa-doa yang dilepaskan orang-orang bagi pasangan yang telah menautkan takdirnya.
Semoga paket itu sampai tepat waktu di hari pernikahanmu. Semoga paket kecil ini tiba ketika kau diarak menuju mimpi barumu, ketika namamu diucapkan dengan nada yang berbeda. Namun jika ia datang terlambat, atau terlalu cepat, biarlah niat yang menjadi penimbangnya. Sebab di dalamnya ada cerita kecil yang pernah kita rajut bersama. Dalam jahitan kata yang tumbuh dari percakapan panjang dan sunyi. Kini kuberikan seluruhnya padamu: hak ciptanya, ingatan di baliknya, bahkan luka-luka halus yang sempat terpercik di antara baris-barisnya.
Jika kau berkenan, kembangkanlah ia sesuka hatimu. Tambahkan perumpamaan-perumpamaan yang mengandung kebajikan dan kearifan, seperti embun yang memperpanjang usia segarnya daun. Lengkapi penokohan dan liku plotnya, beri ruang bagi napas yang lebih panjang agar ceritanya dapat berjalan dengan tenang dan matang. Biarkan ia menemukan bentuknya sendiri, sebagaimana setiap kisah pada akhirnya mencari rumahnya.
Jadikanlah ia seindah mungkin, sebagaimana dulu kau memperkaya hidupku dengan bacaan dan diskusi-diskusimu. Biarkan ia tumbuh menjadi karya yang utuh, sebagaimana kau dulu melengkapi hidupku dengan perhatian yang tak pernah bisa kutakar dengan angka. Dalam setiap halaman yang kau sentuh, ada kenangan tentang cara kita memahami dunia melalui kata.
Namun bila engkau tak bersedia, karena ini tentang cerita berdua kita, tentang jejak yang pernah kita bagi, biarlah ia tetap menjadi rahasia, diserahkan sepenuhnya kepada waktu untuk menghapus atau menyimpannya dengan caranya sendiri. Ada kisah yang memang tak perlu dilanjutkan, cukup dikenang sebagai bagian dari perjalanan yang pernah ada, lalu dibiarkan reda dengan sendirinya.
Tetapi bila engkau bersedia, karena barangkali ia masih memiliki kegunaan: sebagai karya, sebagai bacaan, atau sebagai jejak intelektual, dan jika engkau ingin hak ciptanya tetap menjadi milik bersama, itu pun tak mengapa bagiku. Aku tak keberatan berbagi sesuatu yang lahir dari percakapan dan permenungan kita di masa lalu.
Dengan satu syarat yang jujur dan terang: bila suamimu berkenan, semoga kita masih dapat berkomunikasi dengan batas yang sehat dan terjaga, semata-mata untuk menyempurnakan draf rancangan novel ini. Bukan sebagai masa lalu yang menuntut untuk dihidupkan kembali, melainkan sebagai karya yang perlu diselesaikan dengan kedewasaan. Tanpa sisa tuntutan, tanpa bayang-bayang yang melampaui batas.
Sebenarnya, tadinya akan kutambah-tambahi ceritanya agar lebih panjang dan memenuhi kepantasan sebagai sebuah novel sebelum kuserahkan padamu. Namun waktu tak sepenuhnya memihak, dan aku percaya padamu, seorang penyuka sastra yang mampu memperbaiki apa yang terlewat olehku. Kepercayaan itu tumbuh dari caramu membaca, dari caramu menghargai detail yang kerap luput dari orang lain.
Naskah ini masih apa-adanya, seperti rumah yang baru berdiri rangkanya. Karena kau pun suka menulis, bolehlah engkau memperkaya draf ini dengan deskripsi yang lebih bernapas. Tambahkan perumpamaan yang mengandung kebajikan dan kearifan bagi pembaca, perluas penokohannya, rapatkan kompleksitas plotnya, hingga ia layak disebut novel yang pantas dibaca dan diingat.
Aku menulis semua ini dalam keadaan sederhana, tanpa polesan berlebihan. Aku percaya, kesederhanaan inilah yang kau cintai dalam sastra: ruang kosong yang menunggu disempurnakan. Selebihnya, aku titipkan kepadamu, kepada tangan dan hatimu. Selebihnya pula, izinkan aku menyampaikan terima kasih: atas perhatianmu yang tak terukur, atas kemurahan hatimu yang melampaui kata-kata. Semoga Tuhan mengembalikan semua kebaikan itu dalam bentuk kebahagiaan yang kini kau rayakan di hari pernikahanmu, dan dalam hari-hari panjang setelahnya.
Elis, mengapa aku mengirimkan draf novel ini kepadamu? Karena kita sama-sama tahu, setiap manusia mendamba kebahagiaan. Namun kebahagiaan tak pernah datang dengan satu wajah saja. Ia hadir sebagai kesenangan yang singgah sebentar, keceriaan yang mekar di pagi hari, kemakmuran yang dicapai dengan letih, atau cinta yang direngkuh dengan kedua tangan seakan takut terlepas. Setiap orang mengenalnya dengan cara yang berbeda, dan tak seorang pun benar-benar bisa memilih bentuknya.
Dunia ini pun bukan panggung yang selalu menayangkan adegan bahagia. Ia bukan layar yang bisa kita atur sesuka hati, mengganti cerita hanya karena tak lagi nyaman ditonton. Hidup berjalan dengan alurnya sendiri, kadang lembut, kadang kejam. Karena itu, kebahagiaan sering kali hanyalah satu bab yang singkat dan rapuh, di antara banyak bab lain yang lebih sunyi, lebih panjang, dan lebih menuntut ketabahan.
Dunia ini lebih mirip sebuah novel yang mengalir dari halaman ke halaman tanpa bertanya kesiapan pembacanya. Ia menghadirkan tokoh-tokoh yang diliputi duka, getir, kesunyian, kemiskinan, dan kepedihan, sebagai hal-hal yang ingin kita buang jauh-jauh, namun justru datang seperti musim yang tak pernah bisa dicegah. Dalam cerita itu, biarlah aku menjadi pemeran yang memikul sedihnya, yang belajar berdamai dengan luka. Sementara kau, biarlah menjadi tokoh yang menemukan cahaya, yang berjalan ke arah terang dengan langkah yang lebih ringan.
Kita sadar, inilah dunia. Inilah kehidupan. Ia tak akan layak disebut dunia dan kehidupan jika yang hadir hanya bahagia selalu, senang selalu, ceria selalu, atau berkecukupan tanpa cela. Ada sisi gelap yang tak bisa dielakkan, ada jalan berkerikil yang harus dilewati siapa pun. Kita tak bisa terus-menerus menghindar dari hal-hal yang selama ini ingin kita jauhi, sebab justru di sanalah manusia diuji dalam perjuangan hidupnya.
Maka biarlah aku terpilih sebagai pemeran yang menanggung kesedihan dan kepedihan itu. Bukankah kita hanyalah wayang yang digerakkan oleh tangan Tuhan, Sang Dalang yang tak pernah keliru menempatkan tokohnya? Setiap peran, betapapun pahitnya, selalu memiliki makna yang tak segera kita pahami. Ada makna yang baru terbaca setelah tirai ditutup.
Kita, kata orang, hanyalah sebait syair yang dicipta penyair, atau sebentuk lagu yang digubah seorang komponis. Lagu itu boleh dilantunkan dengan suara apa saja: parau, fals, lirih, bahkan nyaring dan penuh tenaga. Begitulah hubungan kita dengan Tuhan. Begitulah kebebasan manusia diberi nada dasar, tetapi dibiarkan memilih cara menyuarakannya.
Antara kita sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Khaliq, terbentang kehendak bebas itu. Pada sebuah takdir yang mengalun pelan, kita memilih: apakah ingin menyenandungkannya dengan suara parau, dengan nada yang sumbang, atau dengan irama yang kita jaga sebaik mungkin. Pilihan itu milik kita, dan tanggung jawabnya pun kembali kepada kita. Itulah hak setiap manusia dalam menjalani hidupnya.
Itulah yang disebut kehendak bebas. Kita memilikinya dalam menentukan pilihan hidup. Selama sanggup mempertanggungjawabkannya, entah kepada diri sendiri, kepada sesama, atau kepada Tuhan. Karena itu aku ingin menghargaimu, menghargai pilihanmu.
Kau tahu betul, aku selalu ingin kau bebas menentukan jalanmu, bagaimana pun bentuknya. Asalkan pilihan itu mengantarmu pada masa depan yang lebih jujur, tanpa kecewa yang berlarut, tanpa dendam yang diwariskan.
Aku menghargai pilihanmu, Elis. Aku menghargai keberanianmu menempuh arah yang mungkin tak lagi bersinggungan dengan jalanku. Pahitnya kenyataan ini sukar ditakar dengan kata-kata: lidahku kelu, tubuhku beku, dan alasan-alasan tenggelam di dasar dada sebelum sempat naik ke permukaan. Namun aku menerimanya. Aku menerima kekalahan ini, dan dalam penerimaan itu, aku bersyukur, kau menemukan lelaki yang kau yakini terbaik untuk hidupmu.
Ini kenyataan yang pahit: melihatmu bersanding dengan yang lain. Kenyataan yang harus kutelan perlahan, meski rasanya menyesakkan. Aku tak mampu melawan, apalagi mengalahkannya. Lidahku tetap kelu untuk menyusun pembelaan, tubuhku tetap beku untuk melakukan perlawanan. Kepahitan ini tak terkirakan, dan justru karena itu, aku menyimpannya dalam-dalam, sebagai bagian dari peran yang harus kuselesaikan sampai akhir cerita.
Namun apa pun kenyataannya, harus kuterima tanpa ditunda-tunda, tanpa lagi bersembunyi di balik diam. Semestinya aku sejak awal memberi jawaban, secepatnya menyusun kata, tak membiarkanmu menunggu di lorong sunyi yang panjang. Diamku, yang sering kau anggap sebagai kebisuan lelaki pencundang, kini tak ingin lagi kubantah. Kuakui, aku memang lelaki pencundang. Lelaki yang dalam matamu tak punya nyali, tak punya keberanian untuk menjemput atau mempertahankan apa yang dicintainya.
Aku menerima kekalahan ini, dan dalam penerimaan itu aku belajar bersyukur. Kau menemukan lelaki terbaikmu. Kenanglah atau buanglah kisah kita yang dulu sempat bermimpi membangun singgasana cinta. Bagiku, singgasana itu kini tinggal reruntuhan: batu-batu harapan yang berserak, debu janji yang tak lagi utuh. Ia meninggalkan luka, ya, tetapi semoga dari reruntuhan itu kau justru membangun istana kebahagiaanmu sendiri, tempat kau bernaung tanpa ragu.
Cinta, bagiku, ternyata tak hanya cahaya—ia juga luka. Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri, seperti seseorang yang menanyai cermin yang tak mau menjawab: salah apa aku sampai harus melalui jalan ini? Mengapa harapan selalu tertunda, mengapa kekasih yang kuimpikan datang dengan wajah yang kemudian berpaling, dan ke manakah perginya cinta yang katanya sudah dihamparkan, sudah disediakan bagi mereka yang menunggu dengan setia?
Kini, kenangkanlah atau buang saja ingatan tentang perjalanan hidup yang mulanya ingin kita bangun dengan singgasana bertakhta cinta. Perjalanan itu, pada akhirnya, hanya menorehkan luka dan memberi cedera yang sunyi. Namun jika dari keputusan itu kau menemukan bahagia, karena tak memilihku sebagai pendamping sisa hidupmu, aku mencoba menerimanya sebagai bentuk lain dari keadilan hukum alam.
Sewajarnya, sebagai seorang pemuda, aku tentu mengenal cinta. Tetapi mengapa cinta yang kulalui selalu berakhir sebagai cerita sedih dan luka yang pedih. Sampai kapan aku terus-menerus terjerembab dalam kubangan ini. Kubangan sedih yang sama, pedih yang serupa. Sampai kapan aku mengkhayalkan cinta yang kuanggap sejati, namun ternyata hanya bayangan yang lenyap ketika kugenggam.
Padahal, sejatinya cinta seharusnya membangkitkan. Ia semestinya membuatku lebih berani menghadapi hidup, lebih tegak menatap kenyataan. Bukan menidurkanku dalam mimpi sunyi yang panjang. Aku tahu, aku harus hidup di alam kenyataan. Meski kenyataan itu kerap tak ramah dan tak memberi pelukan.
Orang-orang berkata, kekasih belum tentu jodoh, dan semuanya mesti dikembalikan kepada Tuhan. Mungkinkah karena cinta selalu butuh alasan, sementara aku tak pernah punya alasan yang cukup kuat? Setidaknya alasan yang mendasar: cinta karena Tuhan, cinta karena nilai, cinta karena masa depan—cinta karena sesuatu yang bisa kupertanggungjawabkan. Aku hanya punya perasaan, dan barangkali itu tak pernah cukup.
Lalu siapakah kekasihku itu, siapakah jodohku kelak. Kapankah ia datang dan duduk di sampingku, bukan sekadar singgah lalu pergi. Dalam rentang hidupku, rasanya aku belum pernah benar-benar dicintai dengan setulus-tulusnya. Dalam doa-doaku, aku pernah memohon seseorang yang datang dan duduk di sisiku, yang menetap, bukan berlalu. Namun hingga hari ini, sisi itu masih kosong. Dan aku terus bertanya, dengan suara yang makin lirih: mengapa sejak dulu sampai sekarang, yang paling sering kutemui hanyalah kekecewaan.
Setiap kali ada seseorang yang menarik hatiku, rasanya tak pernah langsung bersambut. Selalu ada jarak yang tak terjelaskan, seperti dua tangan yang sama-sama terulur namun gagal saling menyentuh. Lalu kapan aku menemukan seseorang yang aku tertarik padanya, dan ia pun tertarik padaku? Hingga kini, hal sesederhana itu belum pernah sungguh terjadi. Harapan selalu berhenti di ambang, tak pernah benar-benar masuk ke dalam hidup.
Yang datang justru seseorang yang sempat ingin kubaktikan seluruh hidupku untuknya. Seseorang yang kuanggap tujuan, rumah, dan masa depan. Namun pada akhirnya, ia menjatuhkan pilihan kepada lelaki lain. Sampai-sampai aku merasa bukan hanya ditinggalkan, tetapi juga dipermainkan oleh keadaan. Aku bertanya dalam diam: dosa apakah yang telah kuperbuat hingga perasaanku seperti ini. Diperlakukan seolah tak pernah cukup, tak pernah layak dipertimbangkan.
Begitulah luapan keadaanku yang kemarin, dan masih tersisa hingga kusampaikan padamu. Mungkin aku sudah lelah menggugat Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Lelah menuntut jawaban yang tak kunjung tiba. Namun aku tahu satu hal: cinta, sekalipun datang tanpa alasan yang rapi, tetaplah cinta. Maka aku memilih mengatakannya apa adanya. Sebab aku tak pandai menyembunyikan perasaan di balik momen yang dibuat-buat. Jika cinta itu hadir, aku menyambutnya, meski pandanganku ke depan rabun, meski langkahku goyah oleh ketidakpastian.
Bagiku, jika di kedalaman hati telah mengatakan cinta, maka akuilah ia sebagai cinta. Jika kurasakan itu cinta, maka itulah cinta pada saat itu. Meski aku sering ragu. Benarkah aku telah mengungkapkannya dengan cara yang tepat, dengan waktu yang tepat. Aku tak ingin menunggu momen-momen khusus yang terlalu disakralkan, sebab perasaan tak selalu datang sesuai kalender. Cinta, bagiku, ingin diucapkan saat ia hidup, bukan saat ia mulai layu.
Kini, pelan-pelan aku mulai paham: cinta sejati tak selalu datang untuk memeluk kita. Kadang ia hadir justru untuk membangkitkan keberanian: keberanian menerima kenyataan, keberanian hidup di alam nyata, bukan di mimpi sunyi yang kita rawat sendiri. Aku mulai mengerti mengapa aku tak menjadi pilihan. Bukankah aku pernah mengatakan padamu: aku bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa, dan mungkin tak akan menjadi apa-apa. Lalu mana ada perempuan yang ingin menautkan nasibnya pada lelaki yang bahkan tak mengenal kata kepemilikan di dalam kepalanya.
Kini aku tak ingin lagi lari dari kenyataan. Jika cinta datang, terimalah ia beserta seluruh risikonya, dan hadapilah segala kemungkinan yang menyertainya. Tak perlu menunggu hari, bulan, atau tahun yang berkepanjangan. Aku tak ingin menambah derita dengan menunda keberanian. Bila cinta hadir begitu saja, hadir dalam hal-hal kecil yang kurasakan, akan kusambut dan kuterima apa adanya. Dengan dada yang kucoba lapangkan, baik dalam haru maupun gembiranya.
Cinta, bagiku, ya cinta ini. Meski tak sempurna, meski berlumur keraguan. Cinta, meskipun ini dan itu. Cinta, meskipun.
Lantas biarlah apa yang terjadi, benar-benar terjadi. Jika saat ini kita memiliki cinta, sejatinya cinta itu bukan sepenuhnya milik kita. Cinta adalah milik Tuhan, yang dititipkan sementara kepada manusia. Wajah perempuan bisa memesonakan lelaki yang mudah tergoda, tetapi cinta dan kesetiaan baru menemukan bentuknya setelah ikrar diucapkan, setelah akad pernikahan mengikatkan janji. Sebelum itu, cinta hanyalah amanah yang mudah tergelincir.
Mungkin keikhlasan masih menjadi soal ketika aku melepas kepergianmu. Mungkin aku belum sepenuhnya sungguh-sungguh membiarkanmu bebas terbang setinggi yang kauinginkan. Barangkali, dalam anggapanmu, aku hanya cukup nyaman menahanmu di sangkar sempit, seperti sangkar di kolong jembatan rumah kardus, bukan yang benar-benar menyiapkan langit untukmu. Jika pun aku pernah mengatakan kesungguhan, mungkin itu terdengar hanya di mulut, hanya menjadi kesungguhan yang belum sepenuhnya menjelma perbuatan.
Namun justru dalam ketidaksempurnaan itulah aku mulai sadar: cinta yang sejati bukan yang mengekang, bukan yang menggenggam terlalu erat. Cinta yang sejati adalah yang membuat hati tenang. Meski harus belajar melepaskan, meski harus menanggung sepi setelahnya.
Kusadari kini, cinta seharusnya membuat hati menjadi tenang. Bukan mengekang siapa pun, bukan pula mengurung apa pun. Cinta bukan jeruji, melainkan ruang bernapas. Maka bagaimanapun akhirnya, semoga cerita kita menjadi cerita yang mengenangkan. Semoga kisah ini, meski tak lagi kita tulis bersama, menjadi kenangan yang hangat, bukan belenggu yang dingin.
Aku adalah lelaki yang harus belajar berhenti meratapi diri. Aku harus melepasmu dengan dada yang lapang, meski sepi tetap menyisakan gemanya.
Namun inilah perjalanan hidupku, dan hidup kita, yang tak sia-sia karena pernah bersua dan berjalan bersama. Barangkali hidupku kelak terasa menjemukan dalam ketiadaanmu, seperti hari tanpa senja. Namun aku tahu, aku lelaki yang tak selayaknya terus meratap.
Aku teringat satu kalimat dari Ayat-Ayat Cinta yang pernah kita tonton bersama: setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Tuhan telah menyediakan jodoh bagi setiap manusia. Begitulah kata film, begitulah pula yang diajarkan kitab-kitab, bahwa tak ada yang tertukar dalam rencana-Nya.
Aku dan kamu hanyalah dua insan yang sedang belajar memahami takdir masing-masing. Jika hari ini kita merasa pernah memiliki cinta, biarkan cinta itu tetap bersemayam di hati. Biarkan ia tinggal tanpa harus dituntut memiliki bentuk. Biarlah cinta itu menjadi doa yang diam, yang tak lagi meminta, tak lagi memaksa.
Jangan biarkan kehadiranku yang kini sebatas sahabat menjadi belenggu bagimu. Engkau pantas mendapatkan yang lebih, sebagai buah dari ketegaranmu. Engkau adalah perempuan terbaik yang pernah kutemui. Perempuan yang berani menjaga kehormatannya di tengah godaan dunia yang riuh. Keteguhanmu adalah pelajaran yang tak akan kulupakan.
Terima kasih karena engkau telah mengembalikan kehormatan diriku. Aku bersyukur kehadiranmu menjadi pengingat, agar kita tak melangkah lebih jauh ke arah yang salah. Engkau telah menarikku kembali sebelum kami sama-sama terjerumus terlalu dalam. Dalam caramu yang tenang, engkau mengajarkanku batas, dan itu bukan hal yang kecil.
Maafkan kekasaran yang pernah lahir dari sikapku. Maafkan aku yang belum pandai menjadi lelaki yang berhati baik, yang memimpin tanpa mengekang, yang menegur tanpa melukai. Maafkan bila kehadiranku belum mampu membawamu pada jalan cinta yang Tuhan ridhai. Maafkan aku atas khilaf dan salah yang mungkin masih kau simpan dalam ingatan.
Kini aku tahu, aku masih harus banyak belajar menjadi seorang lelaki yang baik. Lelaki yang kelak mampu memimpin pasangannya dan keluarganya dengan kebijaksanaan, bukan dengan ego. Namun satu hal yang tak berubah: engkau adalah perempuan terbaik yang pernah kutemui. Engkau perempuan terbaik, karena engkau berani membela kehormatanmu, bahkan ketika itu berarti melepaskan.
Raihlah kebebasanmu. Kejarlah kebebasan yang tak menjeratmu pada angkara dunia. Jadilah cahaya bagi keluargamu, dan bagi siapa pun yang kelak berjalan di sisimu. Hiduplah sebagai terang, terang yang tak menyilaukan, tetapi menghangatkan. Kudoakan engkau menghadapi dunia dengan hati yang kian dipenuhi kemilau cinta.
Kini aku pun tersenyum memandangi awan yang memudar di cakrawala. Awan gelap itu perlahan bergerak, seperti luka yang belajar menjauh. Aku tersenyum bukan karena semuanya telah selesai, melainkan karena aku tahu aku masih bisa hidup bersama cinta, bersama harapan yang tak pernah benar-benar terpisah darinya. Cinta yang sebenar-benarnya cinta: yang menguatkan, yang merelakan, dan yang menenangkan.
Dan aku tahu, kita akan terus hidup bersama cinta. Meski cinta itu tak lagi bernama kita. Ia menjelma sebagai sesuatu yang lain: cinta yang berbuah tanggung jawab, cinta yang melahirkan kesadaran, cinta yang tak lagi gaduh, tetapi menetap dengan tenang. Cinta itu mungkin samar, mungkin jauh, namun tetap ranum di kejauhan, seperti buah yang menunggu waktu untuk dipetik.
Namun bagiku, mungkin di sanalah kegelisahanku bermula: di manakah tanggung jawabku untuk menjemput cinta itu? Kegelisahan ini akan selalu ada. Kegelisahan untuk menemukan cinta yang hadir dengan kepastian, bukan sekadar kemungkinan.
Tetapi seperti yang pernah kau harapkan tentang kepastian, kita sesungguhnya hanya mampu membaca gejala-gejalanya. Kepastian, barangkali, tak pernah benar-benar utuh di tangan manusia. Ia hanya bisa diperkirakan, diraba pelan-pelan, seperti cahaya remang yang cukup menerangi langkah, meski tak sepenuhnya mengusir gelap. Kita hidup dari isyarat-isyarat, bukan dari jawaban yang mutlak.
Ada satu hal yang ingin kupastikan lagi: bahwa kita hanya bersandar kepada-Nya. Tuhan selalu ada, bahkan dalam patah hati yang paling sunyi. Kegelisahan akan tetap bernama kegelisahan, ia tak harus disingkirkan, cukup disadari. Yang perlu kita pastikan justru kehadiran kita bagi orang-orang tercinta: saling mengasihi, saling menguatkan, dan bersama-sama belajar untuk bersandar hanya kepada-Nya.
Dengan terus menumbuhkan keyakinan. Dengan memastikan dalam hati bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa bersama kita. Maka belajarlah menikmati keberadaan-Nya. Bukan sekadar mengetahui, tetapi merasakan. Nikmatilah keberadaan itu, Elis. Nikmatilah kehadiran-Nya, bahkan ketika hidup tak memberi penjelasan yang mudah.
Sebab Tuhan selalu memberi yang utama, meski kita kerap tak mengerti bentuknya. Tuhan selalu menghadirkan yang terbaik, meski manusia menamainya dengan berbagai sebutan. Dan pada akhirnya, kita belajar percaya: apa pun yang datang, apa pun yang pergi, semuanya berada dalam jangkauan kasih sayang-Nya.
Maka lewat draf ini, aku tak sedang meminta apa pun darimu. Aku hanya menitipkan satu bagian kecil dari perjalanan kita, agar ia tak sepenuhnya hilang, namun juga tak lagi menuntut untuk dihidupi. Biarlah ia menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha memahami hidup dengan cara kita masing-masing. Bahwa kita pernah belajar mencintai, meski tak selalu berhasil memilikinya.
Jika kelak kau membacanya kembali, bacalah ia sebagai cerita yang telah selesai. Jangan cari diriku di sana, jangan pula cari dirimu. Anggap saja ia milik waktu, milik proses, milik kedewasaan yang tumbuh dari luka-luka yang pelan-pelan mengering. Bila kau merasa perlu menyimpannya, simpanlah dengan tenang. Bila kau merasa perlu melepaskannya, lepaskanlah tanpa rasa bersalah.
Aku telah belajar satu hal yang paling sukar: bahwa mencintai tak selalu berarti menggenggam, dan melepaskan tak selalu berarti kalah. Ada bentuk cinta yang hanya bisa bertahan sebagai doa. Doa yang tak lagi bersuara, namun tetap hidup. Di sanalah aku menempatkan perasaanku kini: tak menuntut, tak berharap kembali, hanya merelakan.
Akhir kata, semoga langkahmu selalu ringan, hatimu selalu dijaga, dan hidupmu dipenuhi keberanian untuk memilih yang terbaik. Jika suatu hari namaku terlintas di ingatanmu, biarlah ia datang tanpa getir, tanpa beban. Cukup sebagai penanda bahwa kita pernah berjalan di musim yang sama, lalu berpisah dengan cara yang paling manusiawi: saling mendoakan dalam diam.
(TAMAT)