Rasa Bersalah

Hari-hari berlalu seperti halaman kalender yang disobek tanpa sempat dibaca, bulan berganti tanpa...

Rasa Bersalah

16 Jan 2026
273 x Dilihat
Share :

Rasa Bersalah

Hari-hari berlalu seperti halaman kalender yang disobek tanpa sempat dibaca, bulan berganti tanpa aba-aba. Jakarta tetap sama: bising, terburu-buru, padat hingga sesak. Seolah kota ini menolak memberi jeda pada siapa pun yang masih mencoba bernapas di dalamnya. Jalanan dipenuhi mobil yang saling mendesak seperti pikiran-pikiran cemas yang tak mau mengalah, motor menyalip dengan kepatuhan semu pada hukum lalu lintas, dan klakson beradu tanpa henti, mirip argumen panjang yang tak pernah benar-benar mencari kesepakatan. Kota ini hidup dari kebisingan, dan kebisingan itu menular, merembes ke kepala, ke dada, ke relung yang paling sunyi.

Riuh itu kerap terdengar seperti gema dari percakapan yang tak kunjung selesai antara aku dan Elisa. Percakapan yang saling menyalip, saling meninggikan nada, namun tak pernah benar-benar saling mendengar. Ada keinginan untuk menang, ada ego yang tak mau mengalah, dan di antara semua itu, sebuah makna pelan-pelan menguap. Seperti suara di terowongan panjang, kata-kata kami kembali sebagai gaung yang terdistorsi, tak lagi jernih seperti semula.

Dari jendela kosku, aku sering menatap lampu jalan yang menyala redup lalu berkedip-kedip diguyur hujan, seperti kelopak mata yang terlalu lelah untuk tetap terbuka. Cahaya itu goyah, ragu-ragu, seolah sedang mempertimbangkan apakah masih pantas bertahan. Kadang ia padam sejenak, meninggalkan kegelapan singkat yang dingin, lalu menyala lagi dengan cahaya pucat yang tak sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri. Dalam cahaya yang ragu itu, aku kerap menemukan bayanganku sendiri. Tak sepenuhnya pergi, tapi juga tak sungguh-sungguh hadir.

Ada kalanya aku keluar, berjalan tanpa tujuan jelas, berpindah dari satu halte busway ke halte lain, sekadar mengusir suntuk yang menempel di kepala. Di Senayan, di sekitar GBK, aku kerap mendongak ke langit gelap yang nyaris tanpa bintang, seperti halaman buku yang lupa dipenuhi jentik kata-kata. Gedung-gedung tinggi berdiri mengelilingi, bagai altar raksasa yang menyala pucat, dingin, dan jauh dari jangkauan harapan. Di hadapan bangunan-bangunan itu, aku merasa kecil. Bukan karena tinggi mereka, melainkan karena hening yang tak memberiku jawaban apa pun.

Segalanya berjalan seperti biasa, seolah dunia sepakat untuk tetap melanjutkan rutinitasnya. Sementara yang berubah hanya satu: hubunganku dengan Elisa. Pesan-pesan darinya semakin jarang, seperti hujan yang pelan-pelan menjauh dari musimnya. Jika pun datang, isinya tak lagi sapaan hangat yang dulu membuat dada terasa lapang, melainkan kalimat-kalimat pendek yang dingin dan terasa asing. Ada jarak yang perlahan tumbuh di antara kami. Diam-diam, senyap, namun tajam. Jarak itu seperti retakan halus pada kaca: mula-mula nyaris tak terlihat, dianggap remeh, tapi perlahan menjalar ke segala arah, mengancam menghancurkan seluruh permukaan yang selama ini kami jaga.

Sampai sore itu tiba. Hujan turun deras, memukul-mukul dunia di luar jendela kosan, seolah ingin masuk dan ikut berbicara. Aku duduk di kursi reyot dengan buku terbuka di pangkuan, dengan halaman yang sebenarnya tak kubaca, huruf-hurufnya hanya lewat tanpa singgah. Suara kipas angin beradu dengan dentum hujan di atap seng, menciptakan dua irama yang berjalan sendiri-sendiri, tak pernah benar-benar bertemu. Di tengah kekacauan bunyi itu, ponselku bergetar pelan, seperti bisikan yang meminta didengar.

Kubuka pesan itu, dan jantungku seketika berdegup lebih cepat, seolah mengenali beban yang akan datang.

“Jadi ini Haya yang kukenal,” tulis Elisa. “Selalu larut dalam gagasan, sampai lupa pada yang sederhana.”

Aku membacanya pelan, berulang-ulang, seperti seseorang yang mengulang luka agar yakin rasa perih itu nyata. Setiap kata terdengar seperti suara Elisa yang berbisik di sampingku. Terdengar lirih, jujur, tanpa marah, namun justru karena itulah ia menghujam lebih dalam. Kalimat itu tak berteriak, tak menuduh, tapi meninggalkan rasa bersalah yang menetap, seperti noda yang tak mudah dihapus.

Aku berhenti menatap buku, meletakkannya di samping, lalu menutup mata. Sejenak, yang terdengar hanya detak jantungku sendiri. Detak yang teratur, namun berat. Ada rasa hangat yang samar, bercampur getir yang tak bisa dijelaskan. Pesan itu mengingatkanku pada kata-kata Elisa sebelumnya tentang berani. Tentang keberanian yang sederhana, keberanian untuk hadir, untuk memilih, untuk tidak bersembunyi di balik ide dan pemikiran. Keberanian yang justru tak mampu kujalani, meski selama ini kukira aku mampu memahami.

Ponsel itu kembali bergetar.

Pesan berikutnya lebih panjang.

“Haya, kamu tidak pernah menulis panjang lagi untukku. Kamu sibuk dengan tulisanmu yang lain, aku tahu. Tapi aku merasa kamu semakin jauh. Dulu kamu bilang kita akan berjalan bersama, setidaknya dalam mimpi yang kita bicarakan di Tamantirto. Tapi sekarang aku seperti bicara pada tembok. Apa kamu masih ingat kita? Atau aku hanya jeda di antara catatan-catatanmu?”

Kata-kata itu menamparku seperti hujan yang menghantam kaca jendela. Keras, dingin, dan berulang, seolah ingin memastikan aku benar-benar terjaga. Ia tak datang sekali lalu pergi, melainkan terus mengetuk kesadaran, memantul, dan menetap. Aku tak bisa berpaling darinya, tak bisa pura-pura tak mendengar. Ada kejujuran yang telanjang di sana, dan kejujuran selalu menyakitkan ketika belum siap menampungnya.

Lama aku duduk terdiam, seperti kursi yang lupa cara berdiri. Tanganku kaku, pikiranku macet. Tak satu pun kata lahir untuk membalasnya. Aku hanya membacanya berulang-ulang, menelusuri setiap kalimat seakan mencari celah untuk bersembunyi. Namun tak ada. Kata-kata itu terlalu tegas untuk disalahpahami, terlalu jujur untuk dianggap sekadar keluhan. Ia bukan angin lalu. Ia adalah badai kecil yang sengaja berhenti tepat di dada jiwa.

Aku teringat mata Elisa yang pernah berbinar ketika bercerita tentang cita-citanya. Binar itu dulu seperti cahaya pagi yang jernih, penuh janji, dan membuat segalanya terasa mungkin. Kala itu aku percaya pada cahaya itu, percaya bahwa dua mimpi bisa berjalan berdampingan tanpa saling menggilas. Namun kini, mungkin ia sendiri sedang bertanya, dengan suara yang tak lagi lantang: apakah binar yang sama masih cukup untuk menyalakan perjalanan yang panjang, berliku, dan tak selalu ramah untuknya?

Dadaku terasa ditindih sesuatu yang berat, seperti udara lembap sebelum hujan. Rasa bersalah menumpuk di sana, berlapis-lapis, tak memberi ruang untuk bernapas lega. Rasa bersalah yang tak bisa kutepis hanya dengan dalih niat baik. Selama ini, barangkali benar aku terlalu sibuk mengejar gagasan tentang perbaikan negara, desa, atau masa depan yang adil dan besar, hingga lupa merawat yang paling nyata. Elisa. Dengan kesabarannya yang sunyi, dengan mimpinya sendiri yang tak kalah rapuh, dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak butuh penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang jujur.

Barangkali Elisa tengah menimbang-nimbang diriku dengan hati yang letih. Baginya, boleh dikata aku tulus, iya. Tekadku ada, iya. Namun di matanya, mungkin aku juga tampak rapuh. Mudah larut dalam pikiran, mudah abai pada yang dekat. Aku berdiri terlalu sering di kejauhan, meninggalkannya sendirian menghadapi kebimbangannya sendiri. Ia mungkin ingin bersamaku, ingin percaya, namun juga takut terjebak dalam ketidakpastian yang tak kunjung diberi bentuk. Saat ia meminta keberanian yang sederhana, aku justru menyodorkan ketakutan yang berlapis-lapis.

Dan di titik itulah, untuk pertama kalinya, aku merasa harus memilih. Pilihan yang selama ini selalu kutunda dengan alasan waktu. Tetap larut dalam gagasan-gagasan besar yang membuatku merasa berarti, atau belajar mencintai dengan cara yang nyata, dengan hadir, dengan memilih, dengan tidak selalu bersembunyi di balik kata-kata alasan.

Kututup layar ponsel, seolah menutup jendela dari angin dingin, lalu merebahkan diri di ranjang sempit. Kamar kos dengan dinding kusam, kipas yang berderit lelah, dan cahaya lampu kuning temaram seakan menatapku dalam diam. Tak ada suara yang menghakimi, tapi justru itulah yang membuatnya terasa berat. Ruang itu seperti menunggu jawaban dariku. Mampukah aku menyeimbangkan mimpi besar yang terus membayang di kepala dengan kehadiran sederhana yang diminta Elisa? Dengan kehadiran yang tak bisa ditunda?

Malam itu kuambil selembar kertas kosong. Kertas yang sunyi, yang belum memihak apa pun. Aku ingin merancang dulu jawabanku di sana, sebelum huruf-huruf itu muncul dingin di layar laptop atau ponsel. Aku butuh gesekan pena di atas kertas, bunyi kecil yang intim, agar kata-kata bisa keluar dengan jujur. Aku butuh sesuatu yang lebih nyata, lebih dekat dengan tangan dan tubuhku, agar perasaanku tak lagi bersembunyi.

Namun saat pena kugenggam, tanganku bergetar. Getaran kecil, tapi cukup untuk membuatku berhenti. Butuh waktu lama sampai kata pertama berani kutulis. Seolah setiap huruf harus meminta izin pada hatiku sendiri. Perlahan kalimat mengalir, ragu-ragu, seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan celah di antara batu-batu. Hingga kertas-kertas berserakan, penuh coretan dan penghapusan, dan aku sadar: aku bukan sekadar menulis surat. Aku sedang merapal doa—doa agar keberanian yang selama ini kupikir kumiliki, akhirnya benar-benar turun ke dalam tindakan nyata aku bersuara.

Aku lalu mengetiknya ulang di layar ponsel. Kata-kata terasa lebih ringan, seperti beban yang dipindahkan dari dada ke ujung jari, meski sebagian bobotnya luruh ketika berubah menjadi huruf digital. Ada jarak aneh antara perasaan dan layar kaca. Seolah emosi harus diperas dulu agar muat di ruang sekecil itu. Namun aku tetap melanjutkan, karena tak ada lagi tempat lain untuk bersembunyi.

Tanganku gemetar saat mengetik, getaran kecil yang mengkhianati kegugupanku sendiri. Beberapa kali kuketik satu kalimat, lalu kuhapus, lalu kuketik ulang dengan susunan yang sedikit berbeda dari tulisan tangan di kertas tadi. Aku seperti sedang menimbang kata satu per satu, takut salah meletakkan beban. Hingga akhirnya, yang tertuang di layar adalah ini:

“Elis, maafkan aku. Aku terlalu sibuk menulis tentang masa depan, sampai lupa bahwa masa depan itu tak berarti tanpa seseorang yang berjalan di sisiku. Aku menulis tentang petani, ekonomi, negara yang lebih adil, tapi aku lupa menulis tentangmu, tentang kita. Padahal justru di situlah awal segalanya: dua orang yang percaya satu sama lain. Dari kita.”

Aku berhenti sejenak, membaca ulang kalimat itu dengan napas tertahan. Ada kejujuran di sana, tapi juga ada ketakutan. Takut terdengar terlambat, takut terdengar tak cukup. Akhirnya membuatku ragu. Lalu menghapus beberapa kata, menggantinya, dan menata ulang nada. Jari-jariku kembali bekerja, lebih pelan, lebih hati-hati:

“Kata-kataku mungkin selalu lebih panjang daripada langkahku. Tapi kali ini aku ingin melangkah, meski kecil, meski terbata. Aku ingin belajar hadir. Kalau kamu masih mau menunggu, aku akan datang. Bukan hanya dengan gagasan, tapi dengan diriku sendiri.”

Pesan itu terkirim. Tidak ada suara, tidak ada tanda selain perubahan kecil di layar. Aku menatap ponsel itu lama, seolah menunggu ia bicara balik. Lalu kutaruh di meja, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh. 

Ada rasa lega karena akhirnya aku berani jujur, berani membuka diri tanpa topeng. Namun bersamaan dengan itu, kegamangan ikut menyelinap. Ada keheningan yang aneh, keheningan yang tak memberi jawaban, justru menuntutku untuk terus menulis, terus jujur, bahkan pada diriku sendiri.

Sejenak aku membaringkan badan. Mataku menatap langit-langit kamar kos yang kusam, dengan noda-noda kecil yang tak pernah benar-benar kuperhatikan sebelumnya. Kamar itu terasa lebih hening dari biasanya, seperti ikut menahan napas. Angin malam menyelinap lewat celah jendela, meniup tirai tipis yang mengibas pelan, seperti daun yang enggan gugur. Bulir hujan menghantam atap, suaranya lembut namun pasti, sementara aroma tanah basah masuk ke kamar, menusuk indera dan membangkitkan ingatan-ingatan yang tak bernama.

Di tengah keheningan itu, aku menulis lagi. Bukan dengan rencana, bukan dengan kerangka gagasan atau retorika yang rapi. Aku menulis dengan hati yang remuk, dengan kepala dan perasaan yang selama ini terpecah-pecah. Aku menulis tentang penyesalan yang akhirnya kuakui, tentang kerinduan yang tak lagi kututupi, tentang keberanian yang selama ini hanya kujanjikan pada kertas dan angan-angan. 

Ada keinginan di sana, yang rapuh, sederhana, tapi nyata. Keinginan untuk tidak lagi bersembunyi.

Aku menulis panjang malam itu. Tinta memenuhi lembaran demi lembaran, seolah aku sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer selama bertahun-tahun. Selama ini, jika berbicara tentang keberanian, keberanianku hanya sebatas menulis gagasan, melawan sunyi dengan kata-kata, dan menunda kenyataan dengan imajinasi. Aku berani dalam pikiran, tapi pengecut dalam langkah. Aku lihai merangkai kalimat, namun sering gagap ketika harus hadir sepenuhnya.

Elisa benar. Ia tak pernah benar-benar mempersoalkan tulisanku. Ia bicara tentang hadir, tentang menemani, memberi waktu, menyentuh yang nyata. Tentang hal-hal kecil yang kerap kulewati tanpa sadar. Dan entah mengapa, justru hal-hal kecil itulah yang terasa paling sulit bagiku. Lebih sulit daripada merancang konsep kota agropolitan di atas kertas. Lebih rumit daripada menyusun peta masa depan yang besar dan abstrak.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri: bagaimana keadaanku nanti? Seorang pegawai kecil dengan gaji pas-pasan, kamar sempit di Jakarta, dan sederet masalah yang membuatku takut tak mampu menepati janji. Takut kalah oleh keadaan, takut hidup yang serba terbatas ini menyeret orang lain ke dalam beban yang sama. Di sanalah ketakutanku berdiam. Bukan pada cinta, melainkan pada kemampuanku untuk bertahan dan bertanggung jawab. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tinggal, tanpa segera kucari jalan keluar.

Tapi ada satu hal yang tak berubah, satu hal yang tetap bertahan seperti akar di tanah keras: aku masih ingin bersamanya. Keinginan itu tak hingar, tak juga heroik, namun menetap dengan keras kepala. Aku masih ingin menaruh batu pertama dari mimpi yang dulu kubicarakan dengan Elisa. Bukan hanya tentang kampung halaman yang kerap kusebut dalam tulisan-tulisanku, melainkan tentang hidup kami berdua. Hidup yang dijalani pelan-pelan, dengan tangan saling menggenggam, yang bukan sekadar dibayangkan dari kejauhan.

Malam semakin larut. Hujan reda, meninggalkan aroma basah yang dingin, seperti napas bumi yang baru selesai menangis. Jalanan sepi, hanya sesekali motor melintas dengan suara knalpot pecah yang terdengar asing di antara sunyi. Udara dingin menusuk, menempel di kulit, merayap hingga ke tulang, seolah ingin memastikan aku benar-benar terjaga di momen ini. Di antara harap dan takut yang saling berhadapan.

Dengan hati berdebar, aku menekan tombol kirim untuk pesan terakhir malam itu. Jemariku ragu sepersekian detik, lalu menyerah pada keberanian yang tersisa. Pesan itu meluncur, menembus ruang gelap antara Jakarta dan Yogyakarta, menyeberangi antena-antena yang tak terlihat, melampaui jarak yang selama ini terasa begitu nyata. Ia bergerak sendiri kini, membawa seluruh ketulusanku tanpa bisa kutarik kembali.

Aku menutup mata. Ada kelelahan, ada pasrah. Aku tak tahu apakah kata-kata yang kusampaikan cukup, tak tahu apakah masih ada ruang untukku di hatinya. Ruang yang belum sepenuhnya ditutup oleh kecewa dan letih menunggu kepastian nya. 

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa telah menulis sesuatu yang benar-benar penting. Bukan penting karena indah atau cerdas, melainkan karena jujur dan perlu.

Di luar, langit berangsur terang. Bukan terang pagi sepenuhnya, melainkan cahaya ragu yang pelan-pelan menggantikan gelap. Dari kejauhan, aku mendengar samar kokok ayam. Suara yang nyaris mustahil di tengah kota sebesar Jakarta, entah nyata atau hanya imajinasiku yang mencari pegangan. Namun suara itu cukup untuk membuatku terdiam, cukup untuk mengingatkanku pada asal-usul, pada rumah, pada hal-hal sederhana yang kerap luput dari pikiranku.

Saat itulah aku menyadari satu hal yang selama ini luput: menulis gagasan memberi arah, tetapi menulis untuk seseorang, tentang seseorang akan sangat memberi makna. Gagasan bisa menuntun langkah, namun kehadiranku yang membuat langkah itu layak ditempuh. 

Mungkin, justru di situlah perbedaan paling hakiki. Antara menjadi orang yang pandai merumuskan masa depan, atau menjadi manusia yang berani hidup di dalamnya.

Malam itu aku tidur dengan cemas bercampur lega. Perasaan itu saling bertumpuk, tak sepenuhnya damai, tak pula sepenuhnya gelisah. Seakan aku baru saja melempar sebotol pesan ke tengah laut: menunggu, tanpa kuasa memastikan. Entah akan ditemukan atau tenggelam, yang penting ia telah kulepaskan. Dan di sanalah aku tertidur. Membawa harapan kecil yang mengambang, menunggu pagi memberi jawaban.

Ketika tubuhku akhirnya terlelap, Jakarta tak pernah benar-benar ikut tidur. Di kejauhan, kota masih bernafas dengan caranya sendiri. Lampu-lampu jalan tetap menyala, klakson sesekali terdengar seperti mimpi buruk yang lupa jalan pulang. Kebisingan yang sejak awal kuceritakan itu tetap ada, tapi malam ini ia terasa berbeda. Tak lagi sepenuhnya datang dari luar, melainkan juga bergaung dari dalam diriku sendiri, dari pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

Aku teringat lagi pada lampu jalan yang berkedip di bawah hujan, pada cahaya goyah yang dulu sering kutatap dari jendela kos. Barangkali aku memang seperti lampu itu: ingin terus menyala, ingin memberi terang, tapi sering ragu pada daya yang kumiliki. Kadang padam sejenak, bukan karena tak ingin bertahan, melainkan karena lelah menanggung beban sendiri. Dan mungkin, selama ini, aku terlalu sering meminta Elisa memahami gelapku, tanpa sungguh-sungguh mengajaknya berdiri di dekat sumber cahaya.

Rasa bersalah itu tak serta-merta hilang. Ia menetap, seperti debu tipis di permukaan meja. Tak selalu terlihat, tapi selalu ada. Namun untuk pertama kalinya, rasa bersalah itu tak hanya melumpuhkan. Ia berubah menjadi penanda, menjadi alarm kecil yang mengingatkanku bahwa mencintai bukan hanya tentang niat baik dan gagasan besar, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, untuk memilih, dan untuk bertahan dalam ketidakpastian.

Pagi akan tetap datang, dan bersamanya muncul kemungkinan-kemungkinan baru. Bisa jadi pesan dariku tak cukup. Bisa jadi Elisa memilih diam, atau bahkan pergi. Aku tak tahu. Yang kutahu, setelah malam itu, aku tak lagi bisa kembali menjadi Haya yang sama, yang bersembunyi di balik kata-kata dan menunda langkah dengan dalih waktu. Ada sesuatu yang telah bergeser, pelan tapi pasti, seperti lempeng bumi yang bergerak tanpa suara.

Di titik itulah aku menyadari: kisah ini belum selesai. Ia baru saja membuka pintu lain, pintu yang mengarah pada pilihan-pilihan yang lebih nyata dan lebih menyakitkan. Entah aku akan melangkah masuk, atau justru mundur karena takut, itu akan kutentukan nanti. Untuk sekarang, aku hanya bisa menunggu: menunggu pagi, menunggu jawaban, menunggu keberanian yang harus kembali diuji.

Dan di tengah kota yang tak pernah benar-benar diam, aku menunggu satu hal yang paling sederhana sekaligus paling menentukan: apakah setelah semua kata ditulis, aku benar-benar siap hidup di dalamnya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll