Tawangsari

Hari-hari di Jakarta terus berputar dalam ritme yang nyaris tak berubah, seperti roda besi yang...

Tawangsari

14 Jan 2026
294 x Dilihat
Share :

Tawangsari

Hari-hari di Jakarta terus berputar dalam ritme yang nyaris tak berubah, seperti roda besi yang digerakkan mesin tanpa perasaan. Ia berputar, berputar lagi, tanpa pernah bertanya ke mana arah akhirnya. Seperti jarum jam di dinding kantor yang setia berdetak, tak pernah lelah, tak pernah peduli siapa yang menatapnya dengan putus asa. 

Di antara kepungan angka, laporan yang kering, dan dengung mesin fotokopi yang terdengar seperti mantra tanpa makna, aku menemukan satu celah sempit untuk bernapas: menulis. Menulis menjadi satu-satunya cara agar aku tak sepenuhnya larut menjadi bagian dari mesin itu sendiri.

Awalnya, ia hanya coretan kecil di buku catatan. Sebagai serpih-serpih pikiran yang jatuh begitu saja, seperti daun kering dari pohon yang terlalu penuh. Gagasan-gagasan itu lahir dari buku-buku yang kubaca diam-diam di sela jam kerja, dan terutama dari percakapan singkat dengan Elisa di Yogyakarta, yang selalu meninggalkan gema lebih panjang dari kata-katanya. Percakapan itu seperti hujan ringan yang tak terasa saat turun, tetapi diam-diam meresap hingga ke akar. Perlahan, catatan itu tumbuh liar, bercabang, beranak-pinak, seolah ada sungai bawah tanah yang selama ini terpendam, mendesak keluar mencari cahaya dan udara.

Setiap malam, selepas pulang kantor, aku duduk di meja kecil kosanku yang sempit dan pengap. Lampu redup menggantung seperti bulan yang kelelahan, menyinari secangkir kopi sachet yang telah dingin. Kopi yang rasanya pahit dan jujur. Kertas-kertas berserakan seperti pikiran yang tak sempat dirapikan, dan laptop tua di depanku menggeram pelan, kipasnya berisik seperti napas orang sakit yang dipaksa tetap hidup. Di ruang sempit itulah malam-malamku mengendap, dan waktu terasa berjalan lebih lambat, seolah memberi ruang bagi kegelisahan untuk berbicara.

Di sanalah aku menulis tentang pelbagai hal, tanpa jeda dan tanpa ragu. Tentang potensi desa yang selama ini terpendam seperti benih yang tak pernah disiram. Tentang organisasi masyarakat yang belum dibentuk, seperti rumah tanpa tiang penyangga. Tentang sebuah kota imajiner bernama Agropolitan Tawangsari. Nama kota yang tak tercantum di peta mana pun, tapi hidup dan bernapas di lembar-lembar tulisanku. Kota itu tumbuh dari kata-kata, dari harapan yang tak punya alamat pasti, namun terasa lebih nyata daripada gedung-gedung tinggi Jakarta yang kulihat setiap hari.

Aku menulis dengan rakus, seperti orang kelaparan yang akhirnya menemukan makanan. Seolah kata-kata bisa menjadi jembatan rapuh namun setia antara hidupku yang sempit di Jakarta dan janji samar yang pernah kuucapkan di Yogyakarta. Kalimat demi kalimat seperti benang-benang halus yang kutenun dengan tangan gemetar, menciptakan pola yang belum utuh, belum rapi, tetapi terasa menjanjikan. Dalam tenunan itu, aku menyelipkan diriku sendiri. Tentang harapanku, ketakutanku, dan keinginanku untuk menjadi lebih dari sekadar angka di slip gaji.

Kadang, ketika tanganku lelah mengetik dan pikiranku terasa kosong, aku menutup mata. Dalam gelap itu, aku membayangkan diriku berdiri di balai desa. Orang-orang berkumpul, duduk di bangku kayu panjang yang berderit pelan, wajah-wajah mereka penuh harap dan rasa ingin tahu. Aku berbicara tentang pentingnya berorganisasi, tentang koperasi yang bisa memberi kehidupan baru, tentang susu yang tak sekadar minuman, tetapi simbol kemandirian dan harga diri. Kata-kataku mengalir tenang, seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.

Dalam imajinasi itu, masyarakat mendengarkan dengan mata berbinar, seolah masa depan benar-benar bisa disentuh. Dan di sana, aku bukan lagi pegawai kecil di Jakarta yang hidup dari tenggat waktu dan absen harian, melainkan seseorang yang benar-benar berguna. Imajinasi itu menampar sekaligus menguatkanku. Ia membuat tanganku kembali bergerak, menulis lagi, seolah sebuah dunia baru benar-benar sedang kubangun, bata demi bata, di atas kertas yang rapuh.

Namun, di tengah kesibukan yang terasa mulia itu, ada arah lain yang perlahan kabur. Elisa. Namanya sesekali muncul seperti cahaya kecil di sudut mata, mudah terabaikan. Pesan-pesannya sering datang tiba-tiba: kabar tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, tentang sore-sore di Yogya yang selalu hangat dengan bau tanah basah dan suara gamelan dari kejauhan. Tapi balasanku kian singkat, kian dingin, seperti pintu yang dibuka setengah hati. “Iya, bagus.” atau “Nanti kita bahas.” Kadang, malah tak kujawab berhari-hari, dan aku pura-pura tak sadar bahwa diam pun bisa melukai.

Aku masih ingat suatu malam, ponselku bergetar pelan di atas meja, seperti ragu untuk mengganggu. Pesan panjang dari Elisa muncul, kalimatnya tertata rapi, namun terasa rapuh:

“Haya, kamu sibuk sekali ya sekarang? Apa kamu masih ingat janji kita di Tamantirto?”

Kalimat itu menggantung lama di layar, seperti pertanyaan yang tak hanya menuntut jawaban, tetapi juga keberanian untuk jujur pada Elisa, dan pada diriku sendiri.

Aku membaca kalimat itu berulang kali, seperti orang yang mencoba memahami luka dengan menyentuhnya perlahan. Ada rasa perih yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun, rasa yang menggantung di dada tanpa bentuk yang jelas. Aku ingin menjawab, ingin menulis sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang bisa membuat jarak itu terasa lebih dekat. Tapi jariku berhenti di atas layar, kaku, seolah kata-kata mendadak kehilangan arti. 

Setelah beberapa saat yang terasa panjang, aku menaruh ponsel, kembali membuka laptop, dan membiarkan kata-kata Elisa menggantung tanpa jawaban. Seperti doa yang tak pernah sampai ke langit.

Malam-malamku pun semakin panjang, memanjang seperti lorong gelap tanpa ujung. Aku menulis sampai lupa waktu, sampai jarum jam melewati angka dua belas, sampai malam benar-benar jatuh ke dalam tubuhku. Mataku perih, tubuhku berat, tapi pikiranku terus dipaksa terjaga. 

Di kepalaku, nama Elisa masih ada, tapi semakin kabur, seperti foto lama yang warnanya memudar perlahan. Ia masih tersimpan, namun terselip di antara tumpukan gagasan yang terus menuntut untuk dituliskan, seperti kenangan yang didorong ke sudut ruangan agar tak mengganggu pekerjaan.

Pagi-pagi aku sering terbangun dengan laptop masih menyala, layarnya membiru di tengah kegelapan kamar kos yang pengap. Cahaya itu dingin, tak ramah, seperti pagi yang datang terlalu cepat. Kertas-kertas berantakan menutupi sebagian wajahku, penuh coretan yang bahkan tak sempat kubaca ulang. Di sisi bantal, ponselku berkedip pelan, menampilkan notifikasi pesan yang tak terbaca, seperti mata yang menunggu untuk ditatap namun sengaja kuhindari.

Aku menatap layar ponsel itu lama, merasakan tusukan bersalah yang halus tapi dalam. Rasa bersalah yang tak berteriak, tapi menetap, seperti debu yang tak pernah benar-benar bisa dibersihkan. Namun alih-alih membalas, aku justru membuka dokumen baru. Menulis lagi. Menulis seakan-akan dengan menulis aku bisa membenarkan diamku, seakan-akan huruf-huruf di layar mampu menggantikan percakapan yang tak pernah kuucapkan. Kata-kata menjadi tameng, sekaligus alasan, agar aku tak perlu menghadapi ketakutanku sendiri.

Di satu sisi, aku merasa hidupku sedang menemukan arah, arah yang mungkin bisa menyelamatkanku dari rutinitas kota yang melelahkan, arah yang memberiku ilusi bahwa aku sedang bergerak maju, sedang bertumbuh. Tapi di sisi lain, aku tahu ada sesuatu yang perlahan hilang, tanpa suara, tanpa perlawanan. Seseorang yang pernah menyalakan bara kecil dalam diriku, yang dulu membuat segala rencana terasa lebih hangat. Kini ia semakin jauh, semakin samar, seperti bintang yang perlahan ditelan polusi langit Jakarta. Hadirnya masih ada, tapi tak lagi terlihat, dan entah sampai kapan aku mau berpura-pura bahwa kehilangan itu tidak menyakitkan.

Aku menutup mata, menekan dahiku dengan telapak tangan. Suara kipas laptop berdengung pelan, bercampur dengan bunyi motor yang masuk ke halaman kos dan diparkir dengan canggung di ruang sempit oleh penghuni kamar sebelah. Dari kejauhan, terdengar obrolan tetangga yang bersahut-sahutan, suara-suara biasa yang tiba-tiba terasa asing. Semua bunyi itu menyatu, membentuk kebisingan kecil yang tak bisa kuhindari, seperti pikiranku sendiri yang terus berputar tanpa jeda.

Di kepalaku, sebuah pertanyaan muncul dan tak bisa kuusir: apakah membangun mimpi memang harus dibayar dengan kehilangan seseorang? Pertanyaan itu tidak datang sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan yang pelan namun keras kepala. Aku tahu, membangun gagasan adalah satu hal. Mungkin ia bisa ditunda, dirapikan, atau disempurnakan. Tapi menjaga hati seseorang adalah hal lain, hal yang lebih nyata dan lebih rapuh, yang tak bisa disimpan dalam catatan atau dijanjikan “nanti.” Ia menuntut kehadiran, bukan sekadar niat belaka.

Di situlah aku berada, di kamar kos yang pengap dengan lampu redup dan secangkir kopi dingin yang tak lagi kuminum. Aku merasa seperti seseorang yang berdiri di persimpangan, menatap dua jalan dengan ragu. Satu jalan menuju dunia yang sedang kutulis, dunia yang perlahan kubangun dari kata-kata dan angan. Jalan lain menuju seseorang yang semakin jauh, yang keberadaannya mulai terasa seperti kenangan. Dan entah mengapa, kedua jalan itu tampak berjalan sejajar, tanpa titik temu, seolah aku dipaksa memilih sambil berpura-pura bahwa kehilangan adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi dadaku terasa sesak, seperti ada ruang kosong yang mulai terbentuk tanpa kusadari. Di luar, malam terus berjalan, tak peduli pada kebimbanganku. Sementara aku tetap di sana, duduk diam, menatap layar yang penuh kata, sambil menyadari satu hal yang perlahan mengendap: tak semua yang kita bangun akan berjalan beriringan, dan tak semua mimpi tahu cara menunggu seseorang yang kita cintai.

Aku membiarkan semua itu mengendap, tanpa berusaha menyusunnya menjadi kesimpulan. Malam terlalu larut untuk keputusan, dan hatiku terlalu letih untuk keberanian. Ada hal-hal yang, ketika disadari, justru tak meminta jawaban apa pun. Mungkin ia hanya ingin diakui keberadaannya, lalu dibiarkan diam.

Aku tak lagi membuka ponsel, juga tak menutup laptop. Keduanya tergeletak begitu saja, seperti dua dunia yang sama-sama menunggu, sama-sama tak kutemui. Di antara keduanya, aku duduk dalam hening yang canggung, mendengarkan napasku sendiri, menyadari betapa mudahnya seseorang terjepit di antara yang ia cintai dan yang ia kejar.

Di luar jendela kecil kamar kos, lampu jalan memantul di aspal basah, membentuk bayangan yang sebentar ada, sebentar hilang. Jakarta malam itu tampak biasa saja. Tak kejam, tak ramah, hanya berjalan sebagaimana mestinya. Dan aku, seperti kota ini, memilih untuk tetap bergerak, meski tanpa arah yang benar-benar pasti.

Aku tahu, besok aku akan bangun lagi, menulis lagi, dan berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Tapi di suatu sudut yang tak lagi bisa kuhindari, ada sesuatu yang telah berubah. Bukan karena keputusan besar, melainkan karena keterlambatan kecil yang terus diulang hingga menjadi jarak.

Malam itu kututup dengan diam. Tidak ada pesan yang terkirim, tidak ada janji yang ditegaskan. Hanya kesadaran lirih bahwa beberapa hal, ketika terlalu lama ditunda, perlahan memilih pergi dengan sendirinya. Dan aku membiarkannya, bukan karena tak peduli, tetapi karena aku tak tahu lagi bagaimana cara menahannya.

Di sanalah cerita ini berhenti sejenak, bukan untuk berakhir, melainkan untuk menarik napas. Sebab setelah hening semacam ini, hidup biasanya tak kembali sama. Ia hanya bergerak ke babak lain, membawa sisa-sisa yang belum sempat diselamatkan, dan menyerahkannya pada waktu untuk mengurus sisanya dan dalam waktu yang tersisa. (Bersambung)

Perspektif

Scroll