Elisa mulai bercerita dengan suara yang hampir berbisik, seolah takut jika kata-katanya terbang terlalu tinggi lalu pecah menjadi gema kecil di antara rak-rak kayu yang berdebu. Suaranya menempel di udara perpustakaan. Pelan, rapuh, dan berhati-hati. Seperti debu yang enggan jatuh sebelum benar-benar lelah di pangkuan hamparan debu lain yang siap kembali diterbangkan angin.
Ia mengulang kisah yang sejatinya sudah sama-sama kami ketahui. Namun entah mengapa, mendengarnya langsung dari bibirnya membuat segala yang dulu samar kini terasa hidup, bernapas, dan bergerak perlahan di hadapanku.
“Sejak aku terpilih jadi siswa teladan utusan kabupaten, di situlah semuanya berubah,” ucapnya lirih.
Matanya menembus jendela perpustakaan, menabrak kaca buram yang disiram cahaya matahari sore. Cahaya itu jatuh miring, seperti garis waktu yang bergeser pelan. Tak terasa, tapi pasti.
“Aku merasa ada pintu yang dibuka,” lanjutnya, “pintu yang sebelumnya tak pernah kubayangkan.”
Ia bercerita tentang hal-hal yang secara garis besar sudah kuketahui di masa kanak itu. Namun kali ini, saat kami sama-sama dewasa, Elisa menambahkan detail-detail kecil dan sejumlah perspektif. Meski buatku sendiri satu sisi bisa membuatku kembali jatuh saat mengingat pengalaman itu. Pengalaman hidup sebagai retakan halus atau kasar. Tapi sisi lainnya membawaku pada perpektif lain, jika cerita itu disampaikan secara utuh.
Dari sanalah aku paham, bahwa ketika Elisa terpilih sebagai siswa teladan utusan kabupaten untuk maju ke tingkat provinsi, baginya, itu yang membawa pada sebuah keputusan yang diam-diam mulai tumbuh. Keputusan yang tak disadarinya saat itu. Tapi kelak mengubah arah langkah hidupnya jauh ke tahun-tahun berikutnya.
Memang, ada sesuatu yang ganjil dari perjalanan hidup. Terkadang kemenangan seseorang bukan hanya hadiah bagi dirinya sendiri, melainkan juga cermin pahit bagi orang lain yang menyaksikan dari kejauhan, atau sebaliknya. Begitulah rasanya pagi itu, saat nama-nama siswa teladan dibacakan satu per satu. Elisa, teman sekaligus pasanganku dari sekolah yang sama, hanya dia yang melenggang sebagai utusan kecamatan menuju tingkat kabupaten, dan bahkan lolos ke tingkat provinsi.
Sementara aku gugur. Kalah. Luruh bahkan sebelum sempat mengibarkan bendera perjuangan di kecamatan. Aku kalah. Dan perasaan itu, tak bisa kutolak.
Aku berjalan pulang dengan langkah yang seolah memikul beban tak kasatmata. Langkahku menuju rumah terasa panjang dan lesu. Di dalam bus yang berguncang pelan, aku belajar arti kekalahan yang sesungguhnya: kekalahan yang tak bisa dibagi rata dengan siapa pun, kekalahan yang harus kutelan sendiri, bulat-bulat, tanpa sisa.
Ini bukan sekadar kalah dalam lomba baris-berbaris atau lomba olahraga, di mana kegagalan bisa ditanggung bersama seluruh kontingen. Ini adalah kegagalan yang pribadi, yang menorehkan malu di dadaku sendiri, seperti luka yang tak segera kering. Luka yang mengajarkan satu pengertian berat: bahwa ada kegagalan yang harus diakui dengan kepala tertunduk. Barangkali sejak saat itulah aku pertama kali merasakan kalah dengan perasaan sedalam-dalamnya, atau mungkin dengan kehormatan yang paling sunyi.
Menelan kesedihan sendiri adalah naluri purba manusia ketika menghadapi sesuatu yang tak dikehendaki. Karena kegagalan ini amat pribadi, maka aku merayakan kekalahan itu sendirian, sepanjang perjalanan pulang, dengan bahu yang dibebani rasa malu.
Padahal sebelumnya aku sudah sering mengikuti berbagai ajang kompetisi. Namun hampir selalu sebagai bagian dari kontingen sekolah. Saat lomba SKJ, lomba upacara, atau kegiatan serupa. Lalu ketika sekolah kami kalah, kekalahan itu terdistribusi. Ia terbagi ke setiap anggota, ke guru pembina, bahkan ke Bapak Kepala Sekolah yang pulang tanpa menerima kebanggaan dari anak-anak didiknya.
Namun yang kali ini kualami berbeda. Kekalahan ini milikku seorang.
Maka ketika kembali menjalani hari-hari sibuk di sekolah, aku sering membuang muka. Jika melihat atau hendak berpapasan dengan Bapak Kepala Sekolah, aku memilih menjauh. Aku merasa tak lagi pantas menatapnya. Seolah aku telah gagal memberi bangga kepada seseorang yang pernah menyelamatkan sekolahku, dan, diam-diam, menyelamatkan hidupku.
Wajah Bapak Kepala Sekolah sering terlintas di ingatanku. Sosok yang membelaku bahkan ketika SPP-ku menunggak berbulan-bulan. Dari tangannyalah aku memperoleh kemurahan hati untuk tetap duduk di bangku sekolah, agar tak putus di tengah jalan. Semestinya aku membalas kebaikan itu dengan sebuah prestasi. Dengan satu alasan sederhana: membuatnya bangga.
Semestinya demikian. Namun yang kubawa pulang justru kepala tertunduk. Malu. Tak sanggup menatap matanya bila kebetulan kami berpapasan di halaman sekolah.
Sekolah saat itu tak seperti hari ini. Dulu, setiap siswa, bersama orang tua atau walinya, harus menyediakan uang iuran. Sementara aku, sebagai anak yang terbuang dan tak pernah jelas siapa yang benar-benar menggenggam masa depan pendidikanku, merasa memiliki utang batin pada sosok seperti Bapak Kepala Sekolah. Seorang malaikat dalam wujud manusia biasa. Kepadanya, aku seharusnya menyerahkan rasa bangga. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku gagal. Gugur bahkan sebelum mencapai kabupaten.
Sementara itu, Elisa melangkah dengan ringan. Senyumnya selalu tegak, seolah dunia memberinya angin dari belakang. Ia bukan hanya menang di tingkat kabupaten, tetapi juga melaju hingga provinsi. Dari sanalah jalannya terbuka. Ia berkesempatan datang ke Bandung, melihat pabrik pesawat terbang di IPTN yang kala itu masih berada di masa kejayaan, di bawah arahan Insinyur Habibie. Dan dari kunjungan itulah, tanpa ia sadari, arah hidupnya mulai berbelok.
Suatu sore, setelah semua itu berlalu jauh, Elisa kembali bercerita padaku tentang itu. Saat kami duduk berhadapan di sebuah ruang sederhana, sementara angin sore menggoyang tirai jendela dengan gerak malas.
“Kenapa akhirnya aku memilih bidang teknologi?” Elisa membuka percakapan tiba-tiba, seakan tahu pertanyaan itu lama mengendap di kepalaku.
Aku menatapnya, menyimak dengan sepenuh hati. Pada cerita ini yang kutahu memang singkat. İa pernah mengunjungi pabrik pesawat terbang di Bandung, sebagai oleh-oleh kemenangan urusan kabupaten. İa menyaksikan langsung denyut industri IPTN di masa jayanya. Ketika B.J. Habibie menjabat sebagai Menristek.
“Kenapa aku memilih bidang teknologi?” ulangnya, lalu mulai menarasikan dirinya sendiri. Itukah alasan dan jebuah jawaban atas pilihannya yang tak lagi jatuh pada pertanian.
“Itu semua bermula di IPTN,” katanya. Matanya menyala, seperti seseorang yang sedang membuka kembali laci kenangan. “Aku berkesempatan mendengarkan langsung pidato Eyang Habibie. Kau tahu, setiap kata-katanya seperti peluru. Menembus dada karena sangat dekat. Beliau mengulang-ulang satu kata: hitech… hitech… sampai telingaku penuh oleh gema itu.”
“Begitulah,” katanya sambil tertawa, “hitech dan hitech terus.”
Tawanya pecah, lepas, sampai pipinya memerah. Ia menirukan gerak bibir Pak Habibie yang khas, menghadirkan kembali sosok yang sering muncul di televisi dan akrab bagi hampir semua orang. Melihat gesturnya, aku ikut tertawa. Namun setelah itu, aku memandanginya dengan lebih serius.
Aku sadar, itulah caranya menghibur diri. Setelah bercerita tentang sisi lain hidupnya, yang mungkin, dari sudut pandang lain, bisa disebut kegagalan. Tapi baginya, kegagalan itu kecil. Semangatnya tetap menyala, terutama jika sudah berbicara tentang kampung halaman dan masa depan.
“Aku jadi latah,” ujarnya, menutup mulut yang masih menahan tawa. “Kata hitech itu terus bergema di kepala. Mungkin sudah masuk alam bawah sadarku. Sejak saat itu muncul keinginan lain yang tertanam, selain tentang pertanian, aku ingin mendalami bidang teknologi. Lebih tepatnya, teknologi informasi, jika disampaikan dengan bahasa sekarang.”
Ia melanjutkan dengan nada mantap, “Karena kata itulah yang terus mengganjal, aku menjatuhkan pilihan pada teknologi. Lebih tepatnya, teknik informatika. Dan di situlah aku berlabuh.”
“Ya, aku akhirnya memilih kuliah jurusan teknik informatika,” katanya lagi. Karena melihat wajahku menengadah seraya dahi mengernyit, ia tahu aku akan bertanya. Lalu tiba-tiba berubah penekanan suaranya dalam penjelasannya. Serupa ia menjadi dosen di ruang kuliah.
“Tapi perlu kau tahu, beda, loh, antara sistem informasi dan teknik informatika,” ucapnya.
Aku tersenyum, bersiap mendengarkan.
“Lantas apa bedanya sistem informasi dengan teknik informatika?” tanyanya sendiri, seolah membuka satu pertemuan kuliah dadakan. Lengkap dengan semangat dua SKS yang tak pernah tercatat di KRS mana pun.
“Sistem informasi itu lebih banyak bicara tentang bagaimana teknologi diterapkan dalam dunia bisnis. Sedangkan teknik informatika lebih berat pada algoritma, logika matematika, dan komputasi.”
Ia menyebutkan istilah-istilah itu satu per satu, seperti seseorang yang sedang membuka laci-laci kecil berisi benda asing. Aku hanya manggut-manggut, berusaha mengikuti arus pembicaraannya. Banyak kata meluncur dari bibirnya yang terasa seperti bahasa lain bagiku. Keningku mengerut. Tak sepenuhnya paham, tapi aku berusaha agar kebingunganku tak tampak sebagai kebodohan.
Elisa menatapku, lalu tersenyum. Senyum yang tahu, senyum yang maklum. Ia mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana, seolah menurunkan tangga agar aku bisa ikut naik.
“Singkatnya,” katanya pelan, “kalau sistem informasi itu berbicara tentang bagaimana teknologi dipakai untuk mengatur kehidupan sebuah organisasi atau bisnis. Ia tidak hanya memikirkan komputer dan perangkat lunaknya, tapi juga manusia yang menggunakannya, alur kerja di baliknya, dan keputusan apa yang dihasilkan dari data.”
“Sistem informasi mengajarkan bagaimana data dicatat, disimpan, diolah, lalu disajikan agar bisa membantu orang mengambil keputusan. Misalnya kapan orang harus membeli, menjual, menanam, atau menunda.” Lalu ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu agar aku dapat mencerna.
“Sedangkan teknik informatika,” lanjutnya, “lebih masuk ke dapur mesinnya. Di sana kita belajar bagaimana komputer berpikir. Kita mempelajari algoritma sebagai langkah-langkah logis agar sebuah masalah bisa diselesaikan secara sistematis, juga logika matematika dan komputasi yang menjadi dasar bagaimana sebuah program dibuat, dijalankan, dan dikembangkan.”
Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan dengan bahasa yang lebih membumi, “Kalau sistem informasi itu seperti mengatur sebuah pasar. Siapa menjual apa, berapa stoknya, ke mana barang dikirim, dan bagaimana laporan keuangannya. Lalu teknik informatika itu seperti merancang mesin-mesin di balik pasar itu: bagaimana timbangan bekerja, bagaimana kasir menghitung, dan bagaimana semua alat itu bisa saling terhubung tanpa salah.”
“Jadi,” katanya menutup penjelasannya, “sistem informasi fokus pada pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan manusia dan bisnis, sedangkan teknik informatika fokus pada penciptaan dan pengembangan teknologinya sendiri. Yang satu memastikan teknologi berguna dan berjalan rapi, yang lain memastikan teknologi itu bisa ada dan bekerja dengan benar.”
Ia menatapku, memastikan aku tak lagi tersesat di istilah. Dan untuk pertama kalinya, perbedaan itu terasa bukan sebagai kumpulan kata asing, melainkan sebagai dua jalan yang berbeda. Namun sama-sama menuju masa depan.
Aku menyimaknya dengan saksama. Manggut-manggut yang sama, kening yang kembali berkerut. Lalu, seakan membaca prasangkaku, ia menambahkan dengan nada yang lebih tenang, lebih dalam, “Tapi bukan berarti aku memilih jurusan ini tanpa alasan.”
“Jangan kira aku meninggalkan pertanian,” ucapnya lirih. Nada suaranya seperti ingin meluruskan sesuatu yang pernah bengkok di benakku. Seolah menjawab tuduhan yang tak pernah benar-benar kuucapkan, bahwa ia telah berpaling, bahwa ia tak lagi istiqamah pada pilihan awalnya. Barangkali akulah yang keliru memahami.
“Aku masih bicara tentang pertanian,” lanjutnya. “Itu tetap minatku sejak dulu. Justru aku ingin mempertemukan keduanya: pertanian dan teknologi. Aku bermimpi suatu hari bisa membangun startup di bidang pertanian.”
“Startup?” aku mengulang kata itu, gagap. Di telingaku, istilah itu terdengar seperti makhluk asing yang baru turun dari langit.
“Ya,” jawabnya mantap. “Perusahaan rintisan. Kau tahu, Haya, pertanian kita tak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Disrupsi teknologi akan mengubah banyak hal. Dari distribusi hasil panen, cara mengolah lahan, sampai pemasaran. Semua itu butuh teknologi informasi. Karena itulah aku memilih jalan ini. Ini bukan sekadar mimpi. Ini peluang masa depan.”
Ia bicara dengan nada yang dalam, penuh keyakinan. Seolah dari dirinya sedang lahir sebuah dunia baru. Dunia yang cahayanya masih terlalu jauh untuk bisa kutangkap sepenuhnya. Aku hanya terpaku, sesekali berdehem kecil, menyimak kata-kata yang bagiku terasa seperti lampu-lampu di kejauhan: tampak terang, tapi belum bisa kugapai.
Percakapan berlanjut. Ia kembali menegaskan keinginannya, nyaris seperti bisikan yang sengaja diperdengarkan, “Pertanian itu sangat butuh teknologi. Aku ingin membangun startup di bidang itu.”
Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku terdiam lebih lama, “Mimpi itu harus disampaikan, Haya. Harus diucapkan, dibicarakan. Supaya ia tampak nyata. Supaya ia punya bentuk. Itulah gunanya mimpi dan cita-cita.”
Di satu sisi aku kagum. Di sisi lain, ada rasa asing yang mengendap. Elisa memperlihatkan padaku perbedaan antara mimpi dan cita-cita. Sesuatu yang selama ini tak pernah benar-benar kupikirkan. Ia telah melesat jauh, sementara aku masih berdiri di pijakan lama, menimbang-nimbang langkah yang tak kunjung diambil.
Ia menulis babak baru hidupnya dengan tinta teknologi. Sementara aku masih sibuk menghapus noda kegagalan lama yang tak juga pudar. Istilah-istilah yang ia sebutkan, mulai startup, coding, platform, unicorn, hectocorn, berlompatan di kepalaku seperti makhluk-makhluk asing yang baru kukenal setelah lulus SMA. Dunia digital itu terasa dekat dengannya, tapi jauh dariku.
“Disrupsi teknologi akan memotong jalur distribusi produk pertanian,” katanya lagi. “Coba kau bayangkan. Kita tak cukup hanya dengan ilmu pertanian. Kita juga butuh teknologi informasi. Di situlah aku belajar.”
Percakapan sore itu berakhir dengan jeda panjang. Di hari lain, kesempatan datang untuk melanjutkan topik-topik yang masih menggantung.
Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan. Tapi lidahku kelu. Misalnya, mengapa sampai sekarang ia belum menikah. Apakah benar ia menunda segalanya demi ambisi yang lebih besar? Namun pertanyaan itu kutelan sendiri. Terlalu pribadi. Terlalu dini untuk diucapkan.
“Kita perlu mengembangkan sains terapan,” katanya di kesempatan lain. “Itulah peluang masa depan kita.”
Ia kembali memberi kuliah kecil, penuh semangat, seolah ingin meyakinkanku yang sering bengong. Aku sering berkedip-kedip menyimaknya, seperti murid yang tertinggal satu bab dari gurunya.
Bagiku, ia sudah terlalu maju. Mungkin karena sejak dulu aku tak pernah benar-benar mampu mengimbangi kecerdasannya. Bahkan mungkin dalam urusan asmara, ia telah lebih dulu membawaku ke ambang kedewasaan.
Setelah itu, hubungan kami lebih sering berada di wilayah formal. Percakapan pribadi menjadi jarang. Pertanyaan-pertanyaan yang lama mengendap tetap tak terucap: mengapa ia belum menikah, apakah aku masih berhak menanyakannya, apakah aku berharap terlalu banyak.
Aku hanya menyimpan harapan kecil: semoga suatu hari kami bisa bertemu lagi. Di ruang dan waktu yang lebih lapang. Untuk menertawakan kegagalan, saling menukar cerita tentang jalan panjang yang telah ditempuh, dan mungkin, jika semesta mengizinkan, dapat menautkan kembali benang-benang halus yang dulu sempat terpilin di masa belia.
Kini jarak membentang nyata. Aku di Jakarta dengan pekerjaan yang sederhana. Ia di Yogyakarta, seorang dosen di kampus ternama. Jarak pencapaian itu terasa panjang, tapi semoga sebagai teman masa kecil, jarak itu tak menjelma menjadi jurang.
Siapa yang tak rindu pada kawan lama? Pada teman kecil yang telah lama berpisah, untuk belajar dari kemajuan-kemajuannya, juga dari kekalahan-kekalahannya. Orang-orang perantauan selalu menyimpan kerinduan semacam itu. Kerinduan pada pertemuan yang tak menuntut apa-apa, tak memamerkan pencapaian, tak mengukur siapa lebih tinggi.
Semoga Tuhan menakdirkan kami bertemu kembali. Bukan melalui layar atau kanal udara, melainkan tatap muka yang utuh. Untuk saling mengisi jiwa. Selebihnya, biarlah waktu yang melanjutkan kisahnya.
Sampai suatu ketika, aku dan Elisa adalah dua orang yang sama-sama telah lulus kuliah, tapi berdiri di pijakan yang berbeda. Ia telah mengepakkan sayap-sayap jemarinya, membubung tinggi, menembus batas. Sementara aku masih bergulat dengan kegagalan lama, mencoba berdamai dengan diri sendiri, sambil menatap langit yang sama, dengan harap yang lebih sunyi dari malam yang hanya denting jam terdengar yang menyatu dengan detak jantungku sendiri.
Masih sangat jauh perbedaannya. Itulah yang sering mengecilkanku. Ia telah mengepak sayap-sayap jemari yang membubung. Merobek hijab bukanlah penghalang dalam katup persaingan. Sedangkan aku seorang yang gagal dalam katup perlawanan yang lelah membawa angin pemberontakan. (Bersambung)