Bertani

"Elis pengen banget kuliah di jurusan pertanian."Kalimat itu meluncur begitu saja, jernih dan...

Bertani

11 Jan 2026
334 x Dilihat
Share :

Bertani

"Elis pengen banget kuliah di jurusan pertanian."

Kalimat itu meluncur begitu saja, jernih dan tiba-tiba, seperti air pancuran yang jatuh ke kolam kecil di depan rumah. Kolam yang sedang sama-sama kami pandangi. Tak riuh, tak berisik, tapi menimbulkan gelombang kecil yang terasa sampai ke dadaku.

Aku sempat ternganga. Sejenak lidahku kelu, seperti baru saja mendengar sesuatu yang melampaui dugaanku. Sudah sejauh itu pandangan seorang teman masa kecilku ini, pikirku. Lama tak bertemu, lalu perjumpaan pertama justru diisi oleh kalimat yang terasa asing, bahkan ganjil. 

Saat itu aku merasa Elisa adalah anomali dari kebanyakan perempuan yang pernah kutemui: tenang, tapi tajam; sederhana, tapi jauh melampaui bayanganku.

Kemudian Elisa menunjuk ke arah jendela rumah, ke hamparan yang sejak kecil nyaris tak pernah berubah di sekeliling kami. “Lihat, Haya. Apa yang tampak di depan mata kita?” katanya pelan. “Sawah, balong, ladang. Rumah-rumah cuma berjejal di pinggir jalan raya. Sisanya, semua adalah lahan. Semua adalah pertanian. Itulah kehidupan kita sebenarnya.”

Aku menatap ke luar, mengikuti arah telunjuknya, mencoba meminjam cara pandangnya. Sawah-sawah itu memang membentang luas, hijau, dan tenang. Seperti hamparan karpet alam yang tak pernah digulung. Angin menggerakkan padi dengan irama yang sama seperti yang kulihat sejak kecil.

Namun bagiku, pemandangan itu lebih sering sekadar latar kebosanan hidup di kampung. Ia hadir tanpa makna, seperti tembok yang selalu ada tapi tak pernah benar-benar kulihat. Sementara bagi Elisa, hamparan itu seperti kitab yang terbuka, halaman demi halaman, tempat ia belajar membaca arah hidup. Mungkin inilah sebabnya ia lebih dulu pergi ke luar desa, menjejak dunia yang lebih jauh dari kampung halaman, sehingga cara berpikirnya tumbuh berbeda denganku yang baru belakangan mengenal kata merantau.

Di antara kami yang masih berseragam putih abu-abu saat itu, ia sudah berbicara tentang tanah, tentang sawah, tentang masa depan yang tak berkilau seperti gedung-gedung tinggi di kota yang memenuhi mimpi-mimpiku. Sementara aku memimpikan lampu kota, ia justru ingin berbicara tentang lumpur, pupuk, benih, dan daun-daun yang tumbuh sabar di bawah matahari yang setiap hari kami saksikan tanpa banyak bertanya.

Aku mengikuti saja arah pandangnya. Mengikuti alur pikirannya yang mengalir pelan tapi pasti. Katanya, apa pun yang terlihat. Di depan, di belakang, di kanan dan kiri rumah, semuanya adalah sawah, kolam ikan, dan ladang. Semua adalah ruang hidup pertanian dan peternakan. Sedangkan rumah-rumah hanyalah gerumbul kecil yang menepi di pinggir jalan raya. Di belakang rumah dan warung penduduk, hijau pesawahan dan hutan ladang menghampar tanpa suara.

Bagiku, itu pemandangan yang biasa. Terlalu biasa, bahkan nyaris tak terasa. Tapi bagi Elisa, pemandangan itu adalah halaman-halaman kitab yang terbuka, tempat ia meraba-raba dan menegaskan arah cita-cita hidupnya.

“Impian itu masih samar, Haya,” ujarnya tiba-tiba, seolah bisa menebak isi kepalaku. Ia tahu aku ingin pergi ke kota, meninggalkan kampung sejauh mungkin demi sesuatu yang kupanggil impian.

Ia lalu berbicara tentang jarak antara impian dan cita-cita ketika kuceritakan keinginanku hidup di kota.

“Di kota memang banyak yang bisa memudahkan impian, bahkan ambisi,” katanya tegas. “Tapi hidup di kota tanpa arah, sama saja seperti berjalan tanpa tujuan.”

“Cita-cita itu sudah punya bentuk,” lanjutnya. “Sedangkan impian itu seperti awan. Dan cita-cita adalah tanah—tanah yang bisa kita injak, seperti yang kita pijak sekarang ini.”

“Dan aku ingin menjejak di tanah ini,” katanya sekali lagi. Suaranya mantap, penuh keyakinan. Tak ada sisa ragu, setidaknya dalam pandanganku.

Aku hanya diam. Mendengarkan. Memperhatikan ke mana matanya memandang, dan ke sanalah mataku ikut tertuju. Aku merekam suaranya yang mengandung sesuatu yang membuatku canggung, sebagai campuran antara keberaniannya dan ketenangannya yang belum kupahami sepenuhnya.

Ia seperti ingin bicara lebih banyak tentang pertanian. Semangatnya ketika menyebut tanah dan benih tak kalah menyala dibanding orang-orang yang berbicara tentang teknologi canggih, kota besar, atau dunia yang gemerlap. Baginya, sawah adalah masa depan; ladang adalah harapan.

Aku mengulang dalam hati kalimat-kalimatnya tentang perbedaan impian dan cita-cita. Elisa menjelaskan bahwa impian masih abstrak, sementara cita-cita harus konkret, terukur, punya arah, dan tahu kapan harus dicapai. Namun ketika aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri, ia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan ke soal negara.

“Negara ini,” katanya, membuka topik baru. Aku menyambut ajakannya dengan antusias yang sama, sementara Elisa menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan beban kata-kata.

“Mau jadi negara industri atau negara pertanian, masyarakat tetap butuh makan,” ujarnya. “Selalu butuh tanah yang hidup. Tanah yang ditanami untuk pangan. Tapi negara tak pernah benar-benar jelas berpihak. Katanya ketahanan pangan, katanya swasembada pangan.”

“Tapi itu urusan negara,” katanya kemudian, suaranya sedikit menurun. “Terlalu besar untuk jadi urusan kita. Biarlah kita, anak-anak desa, yang harus jelas.”

Ia lalu mengutip Arai dalam Sang Pemimpi: orang-orang macam kami, yang lahir tanpa apa-apa, justru harus berani bermimpi. “Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita,” tambahnya lirih, seperti doa yang diucapkan setengah sadar. 

“Kalau negara yang kita anggap tak jelas mimpinya, mimpi kita tidak boleh ikut kabur. Kita harus jelas, Haya. Orang macam kita, yang lahir di desa dan tak punya apa harus berani bermimpi.”

“Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita,” ulangnya. “Karena mimpi membuat kita hidup. Selalu hidup. Dan menghadapi kenyataan adalah langkah pertama untuk memperjuangkan mimpi itu.”

Aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin memotong pembicaraannya. Aku bingung harus menanggapi bagaimana, dan dari mana. Tapi aku bisa merasakan ada keheningan yang menggantung di udara ketika ia meletakkan persoalan negara di antara impian dan cita-citanya.

Ia tampak seperti seseorang yang hampir menyerah ketika membicarakan sesuatu yang berada di luar jangkauannya. Namun di saat yang sama, ia juga seperti seseorang yang masih ingin terus memahami, dan berharap suatu hari bisa dipahami.

“Setidaknya aku punya teman untuk membicarakan hal-hal seperti ini,” katanya. Suaranya terdengar seperti permohonan, yang bukan sekadar minta didengar, tapi juga dimaklumi ketika pikirannya melompat ke sana kemari. 

Aku tahu, mengajaknya berbicara topik lain pun sebenarnya tak akan menjauhkan kami dari pembicaraan itu. Sebab apa yang ia bicarakan bukan sekadar pertanian, melainkan kegelisahan yang lama ia simpan.

“Meskipun negara tidak pernah jelas keberpihakannya terhadap pertanian,” lanjutnya, dan sekali lagi aku menangkap kesungguhan di matanya. “Apakah kita mengakui secara sadar blueprint sebagai negara pertanian, atau hendak menjadi negara industri. Tapi negara industri pun tetap butuh pangan. Yang utama seharusnya adalah industri yang menopang pertanian.” Ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri, seperti orang yang berdialog dengan pikirannya.

“Sektor pertanian sangat diandalkan untuk pertumbuhan ekonomi nasional?” tanyaku akhirnya, mencoba masuk ke dalam alur pikirnya.

“Tidak sepenuhnya,” jawabnya singkat. “Karena ini menyangkut hajat hidup paling dasar.”

Di sela suara jangkrik yang mendesir dari kebun belakang, aku merasakan semangatnya seperti percikan api kecil yang menyala di dadaku. Terasa asing, tapi hangat. Namun jujur saja, semua pembicaraan tentang sawah, tanah, dan galengan terasa jauh dari minatku. Aku lebih tertarik pada diskusi tentang negara sebagai konsep, bukan tanah sebagai kenyataan. Maka ketika Elisa bertanya, “Kamu nggak mau jadi petani, ya, Haya?” aku seperti ditarik kembali ke bumi yang ingin kuhindari.

Ia menoleh, menatapku lurus. “Kamu nggak kangen main lumpur seperti dulu?” tanyanya sambil tersenyum kecil. “Ingat waktu kita berlarian di pematang sawah, kaki belepotan lumpur, tertawa sampai sore? Bukankah itu cukup membahagiakan?”

Aku terdiam. Senyumnya menggerakkan bibirku ikut tersenyum, tapi hanya sebentar. Ingin rasanya kukatakan padanya bahwa kebahagiaan seperti itu, bagiku, sudah lama hilang ditelan imajinasi tentang kota: lampu neon, mal yang riuh, kafe dengan musik lembut, majalah penuh foto berwarna. Semua itu, saat itu, terasa jauh lebih memesona dibanding bau tanah basah setelah hujan.

“Kalau kita nggak belajar tentang ini, siapa lagi, Haya?” katanya lagi, nadanya datar, seolah tak benar-benar menuntut jawaban. Ia hanya ingin didengarkan.

“Lagi pula ilmu pertanian bukan cuma soal menanam padi,” lanjutnya. “Ini soal masa depan. Soal keberlangsungan hidup.”

Sejak hari itu, Elisa seperti tak pernah benar-benar berhenti berbicara. Baik saat pertemuan sebelum keberangkatanku ke Jakarta, maupun hari-hari setelahnya lewat telepon dan kotak masuk media sosial. Kata-katanya terus datang, seperti hujan kecil yang tak deras tapi menetap.

Pertemuan itu membuatku seolah menghubungkan titik-titik lama yang tercecer. Dengan bisa berbicara lagi dengannya, rasanya seperti ia menanam benih kata-kata ajaib ke dalam tanah benakku. Meski harus kuakui, ketika ia mulai berbicara tentang kualitas benih, kontur tanah, dan potensi kampung kami, aku kerap merasa bosan.

Saat kusampaikan kebosanan itu, jawabnya hanya, “Ya, bosan. Tapi penting.” Ia tak pernah lelah mencoba meyakinkanku agar berpikir dari sudut pandangnya.

“Kampung kita dekat laut, dekat Pantai Selatan. Potensinya besar, tapi tak pernah sungguh digarap, Haya,” katanya berulang, mengajakku melihat kampung dengan mata yang berbeda.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali mengingatnya, yang selalu muncul adalah semangatnya yang membara untuk memajukan pertanian.

“Lihat, Haya,” katanya suatu kali, “sawah dan galengannya terbentang luas. Tapi kita bahkan tak tahu tanah ini cocok ditanami apa. Bagaimana cara menanam dan memeliharanya.”

“Negara kita perlu perbaikan kualitas produk pertanian,” lanjutnya lagi. “Bagaimana menemukan benih terbaik, dan bagaimana menanamnya sesuai kontur tanah.” Ia kembali bertanya, lalu menjawabnya sendiri.

“Makanya kita butuh ilmu pertanian. Ini peluang masa depan,” serunya, mencoba meyakinkanku yang kala itu hanya bengong. Ia ingin aku memilih kuliah yang menyatu dengan lingkungan. Tapi bagiku, pembicaraan tentang pertanian tetap terasa paling tidak menarik. Meski belakangan kusadari, kata-katanya pelan-pelan mengubah caraku berpikir. Setidaknya mendorongku untuk terus belajar dan melanjutkan sekolah ke bangku kuliah.

“Tapi janganlah kuliah pertanian, lalu bekerja di perbankan,” katanya suatu kali.

Kata-kata itu baru benar-benar kupahami bertahun kemudian. Saat aku bekerja di bank, atasanku justru lulusan pertanian. Dan aku terlalu sering mendengar kisah serupa. Seperti kata Elisa, “Mubazir waktu dan ilmu.” Kesadaran itu datang terlambat, tapi menetap.

Aku memalingkan wajah ke langit yang mulai temaram. Sepulang kerja, aku menerima telepon darinya. Duduk di sofa beranda lantai dua kosku di Jalan Cikoko, Pancoran, aku membiarkan setiap kalimatnya jatuh satu per satu, seperti daun yang gugur tanpa bisa kutahan.

Ada sesuatu yang menusuk, tapi aku tetap keras kepala pada pilihanku di Jakarta. Aku ingin menjadi anak kota. Ingin lari dari sebutan wong ndeso yang dulu sering kami terima dengan rasa malu saat SMA. Aku ingin dikenal, diliput kamera, hidupku tampak indah di majalah atau televisi.

Aku teringat masa sekolah. Sering naik bus ke kota sepulang SMP, masih berseragam OSIS agar ongkos setengah harga. Kadang berharap gratis, agar bisa sejauh mungkin menyinggahi dunia di luar kampung.

Dalam beberapa pekan, aku sengaja sering ke kota. Tiga jam perjalanan dari kampung ke Tasik terasa ringan dibanding dahagaku melihat dunia. Elisa tahu semua itu. Ia hanya tersenyum getir mendengarnya. Getir bagi seseorang yang sejak belia sudah ingin membangun daerahnya, sementara aku ingin menjelajahi kota, bahkan dunia.

Aku ingin menjadi anak metropolis, hedonis, glamoris. Berambisi menjadi manusia modern, bukan anak agraris. Aku ingin lepas dari label anak kampung yang kala itu terasa seperti kutukan. Bahkan aku pernah berkhayal menjadi orang kaya dan terkenal sejagat—sebuah lelucon yang baru kusadari kemudian, karena terlalu tinggi bermimpi.

Namun dari silang-sengkarut dunia antara kapitalisme, komunisme, dan Islam sebagai alternatif, aku mulai menyelami pemikiran-pemikiran yang ingin mengubah dunia. Dan pada mulanya, semua itu berakar dari diskusiku dengan Elisa.

Aku teringat ucapannya, “Mengubah dunia itu bukan dari kota, Haya. Mengubah dunia dimulai dari sawah di belakang rumahmu. Dari diri sendiri. Dari yang paling dekat.”

Setiap kali mengingat kalimat itu, aku menelan ludah. Kata-katanya seperti mengikatku pada tanah yang ingin kutinggalkan, tapi tak pernah bisa kulupakan.

“Mengubah dunia,” katanya lagi dalam ingatanku, “cukup dengan mengubah diri dan sudut pandang.”

Waktu terus berjalan. Takdir punya caranya sendiri. Aku kuliah, lalu mengambil mata kuliah hukum bisnis syariah yang membawaku memahami hukum agraria. Aku kembali teringat lahan di belakang kampung, di seberang Walungan Cimedang, adalah tanah yang luas dan dulu ditanami kelapa Enes, kini tak jelas peruntukannya. Begitu banyak tanah garapan yang terbengkalai.

Benar kata Elisa. Kami lahir di kampung, di celah bukit yang berisi ladang dan sawah. Semestinya kami sadar diri sebagai anak petani, menekuni ilmu bertani.

Namun rupanya, impian Elisa pun sempat tertunda, atau mungkin hanya berbelok. Bertahun kemudian, saat kami bertemu kembali, aku sibuk dengan dunia kota. Sementara Elisa duduk di hadapanku dengan senyum yang sama, hanya lebih dewasa.

Dan di matanya, aku tetap melihat sesuatu yang tak pernah bisa kugenggam: keyakinan yang tumbuh, mengakar, dan berbuah dari tanah. Kini peran kami terbalik. Aku seperti mahasiswa, dan ia seperti ibu dosen. Karena Elisa telah menjadi dosen—dosen pertanian. (Bersambung)

Perspektif

Scroll