Merangkai sebuah cerita ternyata bukan semata menyusun kata, melainkan juga merajut diri sendiri. Setiap kalimat adalah simpul batin, setiap paragraf adalah cermin yang memantulkan wajah kita perlahan. Begitu pula kedewasaan: ia tak datang sekaligus seperti hujan deras, melainkan hadir setahap demi setahap, seperti embun yang menitik satu per satu sebelum akhirnya membasahi seluruh dedaunan pagi.
Dalam banyak pertimbangan yang kian matang, setelah pertemuan terakhir dengan Elisa, hubungan kami beralih rupa. Tatap muka berganti pesan singkat di ponsel. Percakapan yang dulu hidup di udara kini berpindah ke layar. Saat media sosial semakin ramai, sapa kami pun menjadi kian intens. Seolah keramaian justru menyediakan ruang sunyi baru untuk saling menyentuh.
Pertemuan terakhir dengan Elisa adalah semacam pintu yang menutup sekaligus jendela yang terbuka. Sejak saat itu, percakapan kami tak lagi ditemani bahasa tubuh dan sorot mata, melainkan berlabuh di ruang maya: tempat yang bising oleh lalu lintas kata, namun diam-diam juga menyimpan keintiman yang rapuh.
Aku masih menangkap dengan jelas pada pertemuan terakhir itu. Ada kedewasaan yang mengendap di wajahnya, seperti senja yang tak tergesa turun. Ada pengharapan yang tak pernah ia sembunyikan, dan ada pula kemanjaan halus yang membuatku merasa sekaligus dibutuhkan dan dipertanyakan.
Ya, jika boleh kukatakan demikian: aku menangkap kedewasaannya, pengharapannya, lalu kemanjaannya. Lantas, apakah ini yang orang-orang sebut sebagai kenyamanan? Ataukah sekadar permainan ilusi, atau sejenis chemistry yang bisa menyala sebentar lalu padam tanpa bekas?
Aku tak berani gegabah menyebutnya cinta, meski hatiku diam-diam telah bergetar ke arah sana. Ada kehati-hatian yang menahanku, sebab aku harus memastikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya tumbuh. Sementara itu, janji untuk pergi ke Yogya adalah janji yang pernah terucap setelah sekian lama belum juga mampu kutepati.
Dalam masa bertukar sapa dan mencoba saling menjaga, janji itu masih tersangkut di mulutku. Ia seperti layang-layang yang talinya putus, namun masih tertahan di langit: mengambang tanpa arah, tanpa kepastian.
Meski belum bisa memenuhinya, di sela penundaan itu aku dan dia tetap menjaga satu sama lain. Kami saling mendukung mimpi, cita-cita, dan kerja keras yang menyita hari-hari. Aku dan dia bagai dua obor kecil di lorong gelap, berusaha saling menerangi agar langkah masing-masing tak sepenuhnya tenggelam dalam malam. Kami terus memberi kabar, saling menyemangati di tengah masalah, apa pun yang terjadi.
Kadang kami intens saling berkomentar di pembaruan status media sosial. Kadang ia hanya meninggalkan jejak singkat. Kadang pula ia diam, meski terlihat sedang online, atau menghilang berminggu-minggu, membuatku bertanya-tanya: apakah ia masih mengingatku?
Sebenarnya ia tetap memantauku. Ia mencermati unggahan tulisanku, mengikuti jejak pikiranku dari kejauhan. Namun pernah juga ia menghilang sekitar sepekan, lalu tiba-tiba muncul dengan satu kalimat yang mengguncang seluruh keberadaanku.
“Kamu cocok jadi seorang novelis deh,” tulisnya, lewat pesan inbox yang muncul begitu saja setelah lama menghilang. Ia seolah menyuruhku, atau lebih tepatnya menyarankan agar aku terus menulis. Namun setelah itu ia kembali lenyap, mungkin karena hanya melintas sebentar di sela kesibukan hariannya.
Namun saran itu membawa semacam magis. Aku menyadari betapa dahsyatnya afirmasi dari kata-kata seseorang: betapa mudahnya ia memantik api dalam diri orang lain, melambungkan angan, atau sebaliknya menenggelamkan harapan ke lumpur pengesahan.
Aku tak tahu apakah itu sekadar ucapan sambil lalu, atau pendapat yang lahir karena ia pernah menerima surat pertamaku dulu. Baginya, sejak bangku SD mungkin ia telah menangkap kecenderunganku yang bisa merangkai deskripsi, bermain perumpamaan, menulis dengan kecenderungan bersastra.
Kalimat itu sederhana, bahkan nyaris biasa saja. Namun karena datang darinya, ia meletupkan semangatku. Jika dari orang lain atau bahkan dari seorang kawan dekat pun, ucapan “Kamu cocok jadi seorang novelis” mungkin terasa seperti ajakan, “Mari makan bersama”, sebatas sebuah undangan untuk melanjutkan perjalanan, bukan sekadar basa-basi.
Pelajarannya: jangan pernah meremehkan sebuah kata, terlebih kata dari seseorang yang kita kasihi. Setiap ucapan memiliki gema. Terlebih dari seorang kekasih kepada kekasihnya, atau dari istri kepada suaminya. Setiap kata akan tinggal lama, dipikirkan, dan diendapkan.
Setiap kata dari Elisa pun kuperlakukan demikian. Setiap huruf yang ia torehkan kuperhatikan dengan saksama. Terlebih ucapan yang lahir dari hatinya. Ia menjelma mantra, menyusup ke kesadaranku tanpa izin, tanpa aba-aba.
Mungkin semua ini soal suasana, barangkali. Sebab segala sesuatu bergantung pada sudut pandang. Termasuk saat pertama kali aku membaca pesan dari Elisa: aku terhenti lama, mencoba mencari dimensi maksud di balik kalimatnya.
Aku baru saja mengalihkan pandang dari memesan bebek bakar di pengkolan Cikoko, Pancoran. Ketika kembali menatap layar ponsel dan membaca ulang pesannya, dadaku kembali bergetar.
Getaran kata-kata yang bisa melambungkan angan setinggi langit, atau sebaliknya dapat menjatuhkan harapan ke lumpur yang tak terduga. Aku tak tahu apakah itu sekadar ucapan ringan, atau keyakinan sungguh-sungguh pada bakatku.
Mungkin, aku sering menerawang jauh ke masa lalu. Barangkali karena ingatannya pada surat pertamaku dulu. Elisa menyatakan sebuah ungkapan yang datang dari bawah sadarnya sebab ingatan telah menyimpan kenangan tentang suratku itu. Surat yang kutulis dengan keseriusan dan ketulusan seorang bocah yang pikirannya belum tercemar polutan dosa dunia.
Sampai kini aku belum bertanya banyak tentang surat itu. Aku penasaran juga nasibnya: apakah langsung dibuang, atau sempat dibaca. Aku ingin tahu apa yang kutulis saat itu. Atas ungkapan jiwa yang masih polos, yang tentu memancarkan kemurnian, dan apa responnya dulu, atau respon yang bisa disampaikan sekarang.
Namun atas pertanyaan surat itu selalu tertunda. Karena barangkali harus terikat rapat sebelum nantinya dibuka pada satu kesempatan yang tepat. Kesempatan itu pun datang pada suatu ketika dengan tanyaku pada Elisa, “Kamu dulu sempat membaca surat itu, kan?”
Hening sejenak. Lalu suaranya datang, lirih namun jelas terdengar. Meski terdengar mengambang. “Aku tak pandai menilai.” Penjelasan singkat, sesingkat maksud isi surat untuk berterus terang menyatakan cinta, juga terus terang menanyakan responnya. Tapi Elisa menjawab dengan teka-teki.
“Perempuan kalau menilai suka pakai emosi. Mungkin itu takkan adil bagimu,” tambahnya.
Dua kalimat itu membuatku terdiam. Aku mencoba mencerna: apakah itu kejujuran apa adanya, atau cara halus melindungi hatinya sendiri?
Memikirkan dua buah kalimat tadi membuatku terdiam, tak bisa meneruskan jelajah mengurai masalah. Saat itu dan sejak saat itu sering kucoba mencari-cari makna dan mencerna maksudnya. Ingin tahu apakah ia sedang jujur yang apa-adanya saat itu, atau saat kondisinya sekarang untuk melindungi hatinya sendiri dari bias yang tak ingin dia akui?
Barangkali ia benar. Tak ada penghakiman yang benar-benar adil di pengadilan hati. “Sekalipun itu kejujuran,” lanjutnya, “menilaimu hanya dengan rasio pun takkan cukup.”
Kutimbang-timbang ucapannya. Inginku bertanya apakah jawabannya itu murni, atau sudah terpengaruhi unsur misogini, sudah hal biner tentang watak laki-laki dan perempuan punya kecenderungan berbeda?
“Bertanya padaku akan selalu melibatkan perasaan, akan selalu subjektif,” katanya lagi. Aku hanya bisa tersenyum getir. Mendengar sekali lagi jawabannya, aku hanya bisa tersenyum getir di seberang jauh dari Elisa.
Mungkin memang tak ada jawaban final. Selalu akan melibatkan unsur subjektif sebab pertuatan latar pengalaman sama. Maka tak akan muncul unsur yang sungguh benar adil dalam menimbang dan menilai. Hal terkait emosi akan sulit ditakar sudut pandang rasionalnya.
Sudut pandang rasional dan emosional tidak mudah ditakar perbedaannya. Sebab waktu telah membawa kami ke pengalaman yang berbeda. Pertanyaan tentang masa lalu, terutama yang emosional, sering kali tak menemukan ujung rasional.
Ada benarnya menanyakan perihal surat itu. Supaya aku menyadari bahwa sesuatu hal biarkan saja dalam misterinya. Saat ia tidak bisa memberi jawaban final, mungkin karena sudah lama berlalu, dan keadaan sekarang sudah jauh berbeda.
Meski awalnya dari satu sekolah yang sama. Tapi masing-masing sudah melenggang jauh menempuh pengalaman yang ragam. Jika menanyakan sesuatu hal dulu, terutama hal yang sifatnya emosional manusia, atau bahkan sebuah fakta sekalipun yang ingin diungkap sekarang, sebagai sesuatu yang objektif, maka jawabannya akan punya bias dari situasi hari ini. Dipaksa berbicara hari ini tentang masa itu, akan sangat berbeda jawaban saat kejadiannya berlangsung.
Namun di kesempatan lain, ia berkata pelan, “Aku merasakan manis saja dari kata-katamu.”
Di kesempatan berbeda kembali bertaut perbincangan perihal surat pertama. Mendengar gumamnya, dengan suaranya mengecil seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
“Tapi itu kata-kata yang dahulu. Sekarang mungkin berbeda.”
Banyak kalimat yang ia lontarkan menggantung di udara. Elisa banyak menghentikan kalimatnya. Karena barangkali untuk menegaskan untuk tidak ada salah sangka.
Sebelum akhirnya, atau cara mengucapkan kalimatnya disertai tawa kecil, seolah ingin meredakan ketegangan. Baik dari dirinya atau aku pun sebenarnya tegang dan cemas mendengar segala sesuatu urusan hati.
Mengungkit masa lalu baginya, membuatnya jatuh di antara hal yang bisa membawa pertanyaan bagi dirinya sendiri. Lalu jika menunda jawaban akan membuatku terus bertanya, barangkali.
Baginya itu sudah selesai, sudah jadi bagian masa lalu. Lalu sekarang hendak menuntut penjelasan dengan kata-kata yang sekarang, akan punya lapisan tafsir dari maksud kalimat yang ia lontarkan, satu jawaban akan membawa seribu pertanyaan berikutnya.
“Kupastikan bukan kata-kata yang sekarang ya,” kembali ia menegaskan. Dengan derai tawanya yang lepas, kemudian berkata lagi, “Sekarang mah gombal, ada sarat kepentingan,” untuk lebih mempertegas, tapi ucapannya tetap saja terdengar seperti menahan sesuatu di dalamnya.
Aku tahu ia jujur. Aku tahu ia sedang berusaha jujur. Ia sudah mengenalku terlalu lama, terlalu dekat, hingga satu sama lain bisa membaca celah dan gelagat yang tak bisa disembunyikan.
Mungkin benar kiranya ia melihat bakat kecil ini tak boleh dibiarkan padam. Ia ingin aku menajamkannya, menghaluskannya, menjadikannya alat untuk mengukir dunia, termasuk kisah kami.
Mungkin ia telah menemukan gelagat yang sebenarnya bakat dari teman kecilnya ini tidak boleh dibiarkan lewat. Untuk kembali mengasahnya lagi dan lebih keras menajamkannya lagi. Supaya lebih halus meraut dan mengukir kata dalam menggambarkan peristiwa dalam ragam ceritaku dengannya.
Namun percakapan kami selalu berjalan dengan intensitas yang tak menentu: kadang deras, kadang menipis. Seperti sungai di musim hujan dan kemarau. Di sela putus-sambung itu, satu pertanyaan terus membusung di dada: hubungan macam apa yang sedang kami jalani?
Aku sadar, mungkin aku tak pernah memberi nama. Tak pernah memberi sinyal jelas. Maka wajar jika ia bertanya-tanya: apakah ini cinta, janji samar, atau sekadar nostalgia masa belia?
Memang kusadari kemudian mungkin benar aku tak pernah sungguh benar memberi sinyal, bahkan tidak pernah memberi nama apakah ini cinta. Maka membuatnya bertanya-tanya apakah ini semacam janji samar menuju pernikahan, ataukah hanya serpihan masa belia yang tersisa, yang dibiarkan hidup sekadar karena enggan kehilangan nostalgia.
Aku hanya mengikuti arus. Namun aku percaya, tak ada cerita manusia yang benar-benar final sebelum kematian datang. Hidup adalah jalan berliku yang tak pernah selesai. Pertanyaan pada bunga-bunga mekar pada persilangan jantan dan putik sari telah membuahkan pertanyaan selama jarak pertautan.
Karena mungkin aku yang tak pernah jelas memberi sinyal, memberi nama apa sebenarnya landasan pijakan atas hubungan ini. Saat ia menghilang yang sengaja atau tidak sengaja karena kesibukan, mungkin ia sedang melihatku apakah akan senantiasa berusaha mencarinya.
Tapi aku terus berjalan mengikuti arus yang tak tentu. Entah, apakah kisah dengan satu perempuan yang mana pun pada akhirnya akan menuntun ke ujung garis takdir, atau justru terhenti di persimpangan yang tak pernah kurencanakan, aku hanya percaya setiap cerita manusia tidak pernah final sebelum kematian datang menjemputnya.
Hidup adalah jalan yang berliku, yang berjarak, dan tak pernah selesai. Seperti kisah Sisifus dan bahkan seperti Sisifus yang menemukan kenikmatan hidupnya hanya dalam perjuangan terus-menerus mendorong batu ke puncak, bukan pada tercapainya puncak itu sendiri.
Seperti Sisifus yang menemukan kenikmatan bukan di puncak, melainkan dalam dorongan batu itu sendiri. Begitulah aku mencinta, bahkan dalam ketidakmungkinannya.
Dan barangkali, begitulah aku dan Elisa: dua manusia yang berjalan berdampingan, saling memberi dukungan dalam senyap. Hidup bukan soal menang atau kalah, melainkan jejak yang kita tinggalkan di jalan berdebu ini. Sementara pertanyaan tentang cinta, pernikahan, dan masa belia tetap menggantung, menunggu waktu menjawabnya sendiri.
Setidaknya untukku, aku dan Elisa adalah dua manusia yang terus berjalan, saling memberi dukungan dalam senyap, tanpa perlu memenangi apa pun. Karena hidup, pada akhirnya, bukanlah soal menang atau kalah, melainkan soal perjalanan yang kita tempuh dan jejak yang kita tinggalkan.
Sudah kujalani waktu dan intensitas pertautannya. Tapi aku tidak tahu apakah kisah yang terjalin ini akan terus berlanjut sampai di ujung garis kurva takdir. Apakah tentang pertemuan yang terakhir, atau pada pertemuan terakhir, dengan siapa pun, apakah tidak akan ada lagi perjumpaan yang dapat membawa kemurnian, dengan Elisa sampai pada kemurnian seperti masa kecil? Tak akan bertemu lagi di terminal terakhir? Tak berlanjut sampai di titik nadir?
Demikianlah cerita hidup manusia sebelum bertemu sang ajal kematiannya, atau seperti anak rohani manusia dalam pencarian kejatian dirinya, perjalanan itu tak pernah berujung dan perjuangannya tak pernah final. Selalu perjalanannya pada sebuah jarak. Tak selesai atau belum selesai seperti Sisifus.
Karena perjuangan itu sendiri adalah kenikmatan, adalah jalan kebahagiaan. Kecuali jika hidup diambil sudut pandang sebagai arena perlombaan, yang menandingkan sportivitas yang dibalut rupa-rupa kejujuran dan kecerdikan, penipuan atau keculasan. Tapi siapa yang memilih hidup stagnan, maka kematian datang sebelum kematian sebenarnya.
Sementara hidup bukanlah ajang persaingan. Bukan untuk menang-menangan. Karena hidup adalah perjalanan dari titik ke titik untuk kita sambungkan sebagai jalur busur dan panah pencarian. (Bersambung)