Kasmaran

Sepanjang perjalanan, ketika roda bus menderu menelan jarak dan waktu, aku duduk menatap jendela....

Kasmaran

18 Des 2025
238 x Dilihat
Share :

Kasmaran

Sepanjang perjalanan, ketika roda bus menderu menelan jarak dan waktu, aku duduk menatap jendela. Pemandangan yang berlari mundur seakan menjadi tirai panjang yang dibentangkan oleh hari, untuk menayangkan kembali potongan-potongan pengalaman hidupku yang tersimpan rapi di balik ingatan. Di titik inilah, perjalanan fisik perlahan berubah menjadi perjalanan batin.

Sepanjang perjalanan sembari menikmati alam pemandangan yang teramati itu, pikiranku terus melayang menyinggahi gugusan-gugusan lampau. Seolah tak ada sekat antara apa yang kulihat dan apa yang kuingat. Setiap pohon yang tergeser ke belakang, setiap rumah yang berlalu dalam sekejap, seperti menjadi layar bening tempat kenangan tentang Elisa diproyeksikan dengan begitu jelas, seolah jarak dan waktu memilih menyerah.

Dari sanalah rasa itu muncul kembali, tanpa aba-aba. Betapa manis rasanya, sampai-sampai aku tak percaya bahwa aku kini kembali berada di persimpangan yang mempertemukan kami. Betapa manisnya aku sampai pada pengalaman bisa kembali bertemu dengan Elisa, seperti menemukan kembali halaman lama yang tak sengaja terbuka.

Manisnya kenangan itu membuat tubuhku ikut bereaksi. Saat mengingat-ingat semuanya, sempat aku menjulurkan kepala ke luar jendela. Untuk merasakan angin mengibas wajah, menyapu sisa-sisa resah. Lalu menariknya kembali untuk memperhatikan orang-orang yang naik dan turun bus. Ada anak kecil yang menggenggam tangan ibunya, ada bapak tua dengan ransel yang sudah usang, ada remaja yang tertawa keras bersama teman-temannya. Sebagian aku kenal dan sebagian tidak aku kenal.

Namun wajah-wajah itu tak pernah benar-benar tinggal lama di kepalaku. Tapi itu semua berlalu dan tenggelam hanya dalam pandangan sekejap. Karena pikiranku masih terpaut pada satu wajah, satu nama yang akhirnya bertemu lagi dengannya, seperti jarum kompas yang tak pernah goyah menunjuk satu arah.

Nama itu membawa serta riwayat panjang yang tak pernah benar-benar selesai. Berpisah dengan Elisa terhitung setelah kelulusan SD, lalu bertemu kembali setelah beberapa masa, sampai pada pertemuan baru saja berlalu, dengannya telah mengingatkan banyak hal, dan memilin kembali ingatan masa-masa sekolah dulu yang lama terlipat.

Tak heran bila pertemuan itu mengguncang lebih dari yang kuduga. Pertemuan kembali dengannya membuat hatiku bergetar. Setelah bertahun-tahun menjadikan ia bukan lagi sekadar teman lama yang datang lagi dalam hidupku. Ia adalah gema masa kecil yang tiba-tiba kembali bergulir, menggedor kesadaran, lalu menuntut ruang yang lebih luas dalam dadaku. Dan siapakah manusia yang mampu melawan arus deras kenangannya sendiri?

Kesadaran itu datang bersamaan dengan senyum yang tak bisa kutahan. Aku tersenyum sendirian, tersenyum karena tak kuasa menerima kenyataan bahwa kehadirannya begitu kuat menenggelamkan kesadaranku. Seolah-olah aku ini bukan lagi pengendali, melainkan sekadar saksi dari gejolak yang sejak lama bersemayam dalam diriku.

Dalam keadaan batin seperti itu, segala usaha menahan diri terasa sia-sia. Saat keadaan begini, tak mampu aku melawan gejolaknya. Setelah bertemu kembali dengannya sering membuatku suka tersenyum sendiri. Tak kuasa menerima keinsafan atas kehadirannya yang terlampau besar sebagai pohon kenangan, sejak benihnya yang tertanam dari cinta belia, mungkin begitu aku menamakannya.

Padahal semula kepulangan ini kuanggap sebagai jeda. Mulanya pulang kampungku, tujuannya untuk sebentar menepi. Untuk sekadar memberi jeda bagi napas yang terasa berat oleh rutinitas yang tak kunjung menyisakan ruang untuk diam. Semula aku mengira, untuk kembali pulih, aku perlu meminta sedikit waktu pada dunia, memohon kelonggaran agar langkahku yang letih bisa berhenti sejenak di tepi jalan kehidupan.

Namun dalam jeda itu, aku justru bertemu diriku sendiri. Dan aku mengira bahwa selama ini aku seorang pemberi, seorang yang menyalakan lilin di tengah gelap, yang menawarkan telinga bagi kisah orang lain, yang menampung tangis dan tawa tanpa pernah benar-benar memperhatikan diriku sendiri. Sampai akhirnya membiarkan diriku sendiri bersandar pada kepulangan.

Ketika kupandang ulang dengan jarak yang lebih jujur, gambaran itu mulai runtuh. Ketika kutatap dengan lebih jernih, aku bukan sang pemberi sebagaimana kukira. Namun aku hanyalah saksi, adalah saksi bagi perjalanan anak-anak manusia yang berjalan di bawah langit luas dan mentari yang tak pernah kehabisan cahaya. Saksi bagi hari-hari yang bergerak seperti arus sungai, ada yang tenang, ada yang meruyak, ada yang membawa pergi, dan ada yang diam-diam menyisakan bekas.

Menyadari posisiku sebagai saksi, aku pun menuliskannya. Melalui catatan ini, aku adalah saksi bagi waktu yang tak pernah benar-benar lenyap, meski jejaknya perlahan tenggelam dalam ingatan yang menguning di pinggir perhatian. Sebab pada perjalanan pulang itu, yang kukira hanya persinggahan singkat, rupanya aku justru bertemu pengalaman-pengalaman yang memantulkan kembali bayangan lamaku.

Bayangan itu tak datang dalam bentuk utuh, melainkan percikan-percikan kecil. Bertemu percikan kecil di dada, semacam sentuhan halus yang menyalakan kembali ingatan lamaku. Membuatku terdorong untuk menengok titik demi titiknya dari pertemuan dan pengalaman yang pernah kulewati, dari masa kanak-kanak yang jauh, hingga selepas aku meninggalkan bangku sekolah dasar.

Dan titik-titik itu seperti menyusun koridor panjang. Seolah-olah seluruh jalan pulang telah berubah menjadi lorong-lorong panjang yang dindingnya terbuat dari kenangan, dan aku seperti dipaksa untuk berjalan masuk dan melihat ulang segala yang pernah menjadi bagian diriku.

Di lorong itulah, ingatan tertentu muncul dengan terang. Teringat masa-masa itu. Pernah suatu ketika seorang temanku di saat kami sudah sekolah menengah. Temanku berkata lirih bahwa Elisa sering bertanya tentangku. "Ia menanyakanmu, Haya," ucapnya. "Katanya, kapan kau datang main ke rumah?" begitu ucapannya yang entah benar atau tidak. Tapi cukup membuat malam-malamku saat itu menjadi panjang. Bayangan tentangnya seolah-olah menjadi cahaya samar di dinding kamar yang remang.

Cerita itu ternyata bukan satu-satunya. Tidak hanya satu temanku yang berkata itu. Memberi tahu bahwa Elisa suka bertanya tentang aku. Bertanya saat pulang dari luar kota di masa liburan sekolah, karena ia melanjutkan sekolah menengah tidak di kampung kami.

Mengingatnya kini, senyum kecil pun muncul. Lucu bila kuingat kembali. Jika benar aku menerima pesan darinya yang menyuruhku datang main ke rumahnya, dan tidak pernah kutunaikan. Karena malu juga untuk pergi jika sendirian.

Cerita tentangnya bahkan menjangkau wilayah mimpi. Saat kami masih sama-sama bocah, pernah kudengar juga dari teman, kabarnya ia memimpikan aku. Elisa bercerita kepadanya tentang mimpi itu. Seorang teman membisikkan padaku, sebuah cerita mimpinya, dan dalam mimpinya bahwa aku dan dia berjalan di pantai, bermain-main di tepian senja.

Kala itu, aku belum tahu makna mimpi, belum tahu tafsir perasaan. Tapi jauh di relung dada, mungkin telah ada sesuatu yang menyalakan lilin kecil.

Dari lilin kecil itulah pertanyaan lahir. "Ah, apa mungkin ini namanya kasmaran?" begitu kadang aku bergumam dalam hati. Kasmaran yang tumbuh bukan dari hitungan logika, melainkan dari kepolosan kanak-kanak, mungkin dari ketulusan yang lahir tanpa pretensi.

Dan rasa itu hadir dengan cara yang canggung. Sebuah rasa yang bahkan membuat malu untuk diakui, tapi juga tak kuasa untuk disembunyikan. Kami masih sama-sama bocah. Bukan hanya ia, aku sendiri juga sudah terhantui perasaan aneh itu, yang sebelumnya tak pernah aku mengerti.

Orang-orang memberi nama pada rasa itu. Orang bilang itu namanya kasmaran. Dalam bahasa psikologi yang kupahami, itu katanya tumbuh dari kepolosan nan kemurnian sebagai teman yang ingin dianggap istimewa. Aku tahu bahwa setiap pertemanan sejatinya adalah istimewa. Namun di balik pertemanan itu, ada satu titik di mana hati memberi perlakuan khusus kepada seseorang. Dan Elisa menempati titik itu, saat itu.

Kesadaran ini tidak menghapus prinsipku tentang pertemanan. Semua teman adalah istimewa. Karena semestinya dan seharusnya semua teman adalah istimewa di hati yang telah saling mengakrabi seutuhnya. Namun ia seakan-akan tidak bisa lagi kusamakan dengan yang lain.

Sebab sejak awal aku percaya, sebuah hubungan tak bisa dipermainkan. Sebuah pertemanan bukanlah permainan. Seorang teman bukanlah barang mainan yang dapat kita kuasa-menguasai. Pada semua jenis hubungan harus berjalan di atas rel kerelaan dan penerimaan, dan pengakuan di mahkamah sosial, terlebih bila antar lawan jenis sampai pernikahan.

Karena pada hakikatnya, hadirlah teman untuk menemani hidup. Hadirnya teman untuk saling memperkaya roh kejiwaan dalam menemani perjalanan hidup masing-masing. Bentuknya dapat berupa saling berbagi sudut pandang, dan untuk selamanya pertemanan. Karena pernikahan pun adalah nama lain dari pertemanan.

Pemahaman itulah yang kelak membawaku menimbang ulang makna cinta. Demikianlah cinta bila hendak mencari di luar jangkauan misterinya. Bila bukan sebuah kemurnian tentu tidak akan menumbuhkan rasa malu menerima penghakiman. Sebenarnya bukanlah cinta, melainkan sebuah jala yang ditebarkan dengan pelbagai kepentingannya, untuk menangkap yang tiada diharapkan.

Namun sebelum semua pemahaman dewasa itu hadir, ada peristiwa kecil yang membekas kuat. Seperti kejadian dulu, ada satu peristiwa yang hingga kini sebenarnya masih membuat wajahku memanas sekaligus tersipu bila kuingat-ingat. Pernah teman sebangku, Danis namanya, menyuruhku membuatkan surat cinta yang tanpa kutahu untuk siapa.

Katanya, ingin menyatakan perasaannya kepada gadis yang ia sukai. Dan aku dikenal pandai meramu kata-kata, ala kadarnya setingkat usia SD, hanya menurut saja pada kemauannya.

Maka kutulislah kalimat-kalimat indah di atas selembar kertas lusuh yang disobek dari buku tulisku. Kutuangkan semua gelagah jiwa di selembar kertas buku leces biru yang disobek dari ikatan hekternya di tengah lipatan buku, seolah kertas itu memang ditakdirkan untuk menampung sesuatu yang rahasia.

Sibuk kemudian aku merangkai kata-kata paling indah dari yang pernah kudengar dan kubaca. Menulis dengan sungguh-sungguh, seolah bukan sekadar membantu, tapi sedang mencurahkan rahasia batinku sendiri. Rahasia yang bahkan belum kupahami bentuknya.

Sampai berulang kali mengerahkan tenaga sebagai pengrajin kata-kata. Dalam mengukir senja di bianglala senyum matahari yang menyambut upacara senin pagi. Setiap kata kupilih seperti memilih warna untuk langit, takut keliru, takut merusak suasana.

Tadinya hendak kubuat sekenanya saja, karena toh sekadar surat pesanan. Namun bukan aku namanya jika tidak menampilkan diri sebaik-baiknya, memberikan versi terbaik dari apa yang sanggup kuberikan, meski tak sepenuhnya paham untuk siapa sesungguhnya surat itu akan berlabuh.

Rupanya menampilkan yang terbaik sudah tepat kulakukan. Meski awalnya mengira Danis sungguh benar hendak menembak salah satu gebetannya. Namun rupanya Danis sudah mempermainkanku. Siapa sangka, surat itu justru diserahkan kepada Elisa.

"Elis, ini surat dari si Haya," ucap Danis, suaranya terdengar dari jauh, seperti sengaja dikencangkan. Aku mendengarnya seperti ledakan di telingaku. Sesaat kudengar namaku disebut, aku menoleh kemana perginya temanku. Ternyata sedang menghampiri Elisa.

Aku terperanjat, darahku berdesir tak karuan. Dari sudut mata, kulihat Elisa menerima surat itu tanpa penyangkalan, tanpa banyak kata, lalu memasukkannya begitu saja ke dalam tasnya. Entah ia sempat membaca, entah langsung membuangnya, aku tak pernah tahu cerita selanjutnya. Mungkin dibacanya nanti, mungkin lenyap saat itu juga—aku tak pernah diberi kesempatan untuk memastikan.

Wajahku barangkali telah merah padam seperti udang rebus. Ingin rasanya berteriak, mengatakan bahwa surat itu bukan dariku, atau mengejar Danis yang telah bertindak sembrono. Namun yang keluar hanya gumaman tertahan, suara yang kalah oleh degup jantung sendiri.

Dan anehnya, di balik amarah itu, terselip sesuatu yang lain. Sesuatu yang samar namun hangat. Saat Danis kembali ke bangkunya di sebelahku, kudesiskan kalimat tertahan, "Kamu apa-apaan, Danis. Kau mencatut namaku." Ia hanya tertawa kecil, tak peduli pada jantungku yang berloncatan liar seperti burung terkurung.

Mungkin pada detik itulah, lahir sebuah tanya dalam diriku. Sebuah tanya yang terus menghantui: mungkinkah aku bukan satu-satunya yang disinggahi perasaan aneh ini?

Aku tak kuasa pula berbicara kepada Elisa bahwa surat itu bukan dariku. Hanya sekejap, dari sudut mata, kulihat sikapnya, yang justru memunculkan tanya lain: mungkinkah aku, atau dia, sama-sama telah disentuh sesuatu yang tak kami mengerti namanya?

Namun bagaimana mungkin aku mengutarakan sesuatu yang bahkan belum kupahami wujudnya. Sejak saat itu, hubungan kami seolah dibatasi oleh jurang yang tak terlihat. Kami tinggal di wilayah yang sama, berjalan di halaman sekolah yang sama, namun terasa ada sekat berjuta dimensi yang berdiri di antara kami.

Sekat itu bahkan terasa berlapis-lapis. Aku, juara kelas dengan kedudukan terhormat di ruang belajar, tetaplah anak kampung. Sementara dia, anak kota. Prestasi tak pernah benar-benar mampu menyeberangi jarak imajiner yang memisahkan status sosial kami.

Mungkin karena di antara kami, sejak awal tidak pernah dekat, bahkan sejak kejadian memberi surat itu. Semua telah menorehkan jarak yang memisahkan, dengannya semakin jauh terpisah jurang untuk kembali perasaannya seperti semula.

Barangkali karena sejak awal kami memang tak pernah dekat. Terlebih sejak peristiwa surat itu, jarak kian menorehkan garisnya sendiri, menjauhkan kemungkinan untuk kembali pada perasaan yang netral seperti semula.

Sejak awal kami dibuat tidak pernah benar-benar dekat. Aku dengannya terpisah oleh seperti—entah udara, entah waktu, yang selalu menjaga jarak di antara kami. Seolah semesta sengaja menempatkan garis samar yang tak boleh kulangkahi tapal batasnya.

Maka sejak kejadian memberi surat itu, jarak yang tadinya ibarat cuma setipis helai bayangan, telah berubah menjadi jurang yang tak bisa kuraba-raba perhitungan angka jaraknya. Sebab surat yang kutulis dengan tangan gemetar dan setengah yakin, telah menjadi bagai batu kecil yang kulemparkan ke tengah hening, yang membuat kami, atau aku menjauh, seperti dua garis dua yang sejak awal memang ditakdirkan tak pernah bersilangan.

Sejak itu rasanya dalam setiap langkahku, setiap keadaan berjalan tiba-tiba ke arahnya seperti aku ditelan udara sebelum sempat sampai. Ingin mengucap kata-kata yang ingin kusampaikan hanya berhenti di tengorokan. Kering seperti ranting yang lama tak disirami. Bahkan tatapannya pun tak lagi menemukan jembatannya. Tatapan pun kehilangan jembatan untuk saling menyapa.

Bagiku, ia hanya melintas, ringan dan dingin, lalu lenyap begitu saja. Sebab di antara kami berdiri sesuatu yang tak terlihat. Seperti sebuah tebing sunyi yang semakin lama semakin tinggi, hingga aku pun belajar berhenti mencoba untuk dekat-dekat padanya.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah jurang itu muncul karena suratku, atau karena memang sejak semula kami hanyalah dua pejalan yang dipertemukan sesaat. Apakah karena sejak semula untuk dipisahkan oleh alur hidup yang tak pernah dinegosiasikan.

Pada akhirnya mungkin aku hanya bisa menerima bahwa ada perjalanan yang tidak dimaksudkan untuk saling mendekat, dan ada cerita yang sejak awal sudah memilih untuk menjadi jarak.

Namun tetap saja ingatan padanya saat itu, sudah cukup mengganggu. Jika ingatannya sudah cukup mengganggu, maka obatnya adalah bertemu.

Maka liburan caturwulan atau Ramadan sebulan penuh terasa amat lama. Aku menghitung hari, menghitung jarak antara aku dan kemungkinan bertemu dengannya. Kurasakan lama sekali menunggu itu. Untuk dapat kembali melihat tasnya yang terbenam di bangkunya saja aku sudah sungguh gembira luar biasa.

Karena itu, setiap liburan panjang menjadi siksaan tersendiri. Sebulan tanpa melihatnya terasa seperti setahun. Namun beruntung karena kebijakan sekolah yang menugasi kami selama liburan yang sebulan penuh itu, di setiap minggunya kami diharuskan datang ke sekolah.

Dalam masa liburan, tetap setiap pagi harus datang ke sekolah untuk bersih-bersih kelas dan halaman sekolah. Menerima jadwalnya pada masing-masing kelas sesuai urutan kelas. Siswa kelas 1 mendapatkan jadwal Senin dan diakhiri Sabtu adalah tugas kelas 6.

Saat mendapat giliran untuk supaya datang ke sekolah itulah yang membuatku senang. Sesudah jadwal di minggu pertama, ingin segera kembali menerima jadwal berikutnya, yang dalam sebulan akan mendapat kesempatan 4 kali datang ke sekolah, 4 kesempatan bertemu dengannya.

Cukup dengan melihatnya dari kejauhan rasanya sudah senang, menggurita rasa gembira sudah amat menguasaiku. Sembuhlah gundahku setelah tak bertemu dengannya satu minggu. Jika kejadiannya baik aku atau dia sedang tidak ada halangan atau alpa membuat tidak datang ke sekolah.

Bagaimana aku mau alpa, setiap hari selalu merindukan nuansa sekolah. Karena kalau di rumah selalu nenekku dan kakakku menyuruh-nyuruh mengambil air yang sudah jauh itu.

Dalam mengisi liburan, saat harus berpisah satu purnama dengan teman-teman sekolah, juga guru kami memberi tugas membuat sapu lidi. Membuatku semangat meraut daun kelapa untuk diambil batang lidinya, dalam melaksanakan hal rutin setiap liburan setelah acara kenaikan kelas. Setiap liburan selalu ada kewajiban harus menyerahkan sapu lidi untuk acara bersih-bersih kelas yang dilaksanakan setiap Sabtu.

Teringat pula saat bapak kepala sekolah menyuruh kami kelas 6 untuk mengangkut batu buat membangun pagar sekolah. Kami pun senang karena tak perlu kegiatan belajar di kelas. Karena dari tugas-tugas sederhana itulah aku bisa kembali menemuinya. Memandangnya dari jauh untuk melihat wajahnya. Meski dari jauh sudah sangat senang rasanya.

Meskipun kami berpeluh keringat dan tangan-tangan mungil kami dikotori tanah dan lumpur, membuat kulit telapak tangan menjadi kapalan, tapi senang kami berhilir-mudik sambil bernyanyi-nyanyi.

Masih ingat saat mengangkut batu di halaman sekolah itu. Saat keringat sudah bercucuran dan telapak tangan terasa kasar. Namun semua rasa letih seakan lenyap ketika dari kejauhan aku melihat Elisa.

Sekadar berpapasan, sekadar tatap mata yang singkat, sudah cukup membuat tubuhku bergetar. Saat acara demikian itulah sering mendapat kesempatan melihatnya dengan lebih dekat. Sekadar tatap mata singkat, sudah cukup membuat dadaku bergetar.

Jika aku sudah melihat keberadaanya, dan apalagi berpapasan dengannya yang cuma saling diam, tapi seakan sudah terjadi sebuah reaksi kimiawi di kepala dan dada. Muncul senang ketika sudah melihat gurat wajahnya yang menghiasi cakrawala. Seperti ada getar suara dari kerling matanya, dari gerak tubuhnya, yang menyampaikan telik sandi istimewa.

Sejak masa sekolah itu, mungkin juga harus sudah saatnya kuakui, bahwa telah ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan dalam diriku. Saat melihat senyumnya seakan-akan ibarat kabel-kabel rahasia yang tak terlihat. Getarnya merambat melalui udara, menghantam rongga dada, lalu menyalakan percikan yang lebih besar dari api unggun mana pun.

Munculnya rasa suka yang semula samar, lalu kemudian mendapatkan bentuknya, barangkali, perkiraannya saat menjelang perpisahan kelas 6. Entah perlahan atau secara tiba-tiba di kepala dan dada yang merasakan denyut yang berbeda, kala menyebut namanya, kala melihat sosoknya, seperti ada sesuatu yang membara sekaligus mendinginkan suasana pada hari-hari yang ditunggu untuk bisa selalu bertemu.

Saat melihat senyumnya yang entah untuk diriku atau orang lain, entah mengapa tiba ada yang mekar mengisi rongga dada. Senyuman itu seakan terhubung oleh konduktor udara yang meracik proses kimiawi perasaanku. Lalu menghasilkan hasil reaksi yang entah apa namanya, yang kutahu kemudian, katanya dan istilahnya, itulah yang namanya kasmaran.

Mungkin, di situlah aku pertama kali benar-benar mengerti, bahwa rasa yang mengisi dadaku ini bukan sekadar suka, bukan sekadar kagum. Ia adalah sesuatu yang membara sekaligus menyejukkan. Ia adalah kasmaran, yang diam-diam telah menulis babak baru di perjalanan hidupku.

Perspektif

Scroll