Sanjaya melangkah maju, membelah kesunyian yang mengurung mereka. Langkahnya tenang, tetapi menyimpan bobot yang sulit dijelaskan, seolah setiap telapak kaki yang menyentuh lantai sedang memanggul musim-musim yang telah lama berlalu namun enggan benar-benar pergi. Bunyi pijakannya lirih, bergaung pendek, lalu lenyap ditelan ruang yang dipenuhi napas dan diam. Udara terasa dingin, beraroma kayu tua dan debu yang telah terlalu lama berdiam di sudut-sudut ruangan. Cahaya senja yang menyelinap dari sela jendela jatuh miring, melukis garis-garis keemasan yang perlahan memudar di lantai.
Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah, Sanjaya berhenti. Dadanya naik turun perlahan. Jemarinya mengepal sesaat, lalu mengendur, seakan sedang merundingkan keberanian dengan dirinya sendiri. Ada jeda yang panjang sebelum bibirnya bergerak, jeda yang terasa lebih nyaring daripada kata-kata.
Saat suaranya akhirnya lahir, ia tidak datang sebagai gelegar yang memecahkan keheningan. Ia mengalun pelan, rapuh, menyerupai dawai gitar tua yang dipetik dengan ujung jari yang gemetar di dalam ruangan kosong. Getarannya menjalar perlahan, menyusuri udara yang dingin, merambat ke sela-sela sunyi, lalu mengetuk dinding-dinding batin yang selama ini membeku. Setiap suku katanya terdengar seperti sesuatu yang telah lama dipendam, diasah oleh penyesalan, lalu dipaksa keluar dengan hati-hati agar tidak melukai siapa pun.
Di hadapannya, Riana tetap berdiri tegak. Bahunya tidak bergeming, tetapi ketenangan yang memancar dari dirinya bukanlah ketenangan yang hampa. Ia menyerupai pelabuhan pada senja hari yang lengang, luas, dan diam, serta cukup lapang untuk menerima kapal-kapal yang pulang dengan lambung retak dan layar compang-camping. Tatapannya tidak mendesak, tidak pula menghakimi. Ia hanya hadir, utuh, memberi ruang agar Sanjaya dapat meletakkan sebagian beban yang selama ini dipikulnya, meski hanya melalui perjumpaan mata.
"Riana..." gumam Sanjaya.
Namanya meluncur nyaris seperti bisikan, namun menggantung lama di udara. Suara itu rapuh laksana jembatan tua yang tetap berdiri meski berkali-kali diterjang banjir waktu. Tatapannya menelusuri wajah perempuan itu dengan kesungguhan yang nyaris menyakitkan, seolah ia sedang membaca aksara-aksara purba yang tak kasatmata, aksara yang hanya dapat diterjemahkan oleh hati yang pernah kehilangan.
Pada lengkung alis, teduh matanya, dan garis halus di sudut bibirnya, Sanjaya seakan menemukan riwayat perjalanan yang tidak pernah dituliskan siapa pun, tentang kesedihan yang belajar diam, kerinduan yang memilih menetap, dan harapan yang terus menyala meski berkali-kali hampir padam.
"Kau tahu?" lanjutnya, suaranya semakin pelan, seolah takut mengusik rapuhnya momen itu. “Aku masihlah seorang perjaka yang berdiri di ambang pintu waktu. Sejak lama aku menunggu... menunggu seseorang yang mampu memberi makna pada detak-detak yang selama ini hanya lewat sebagai hitungan kosong.”
Ia berhenti sejenak. Keheningan kembali mengambil tempat. Di luar, desir angin menggesek dedaunan hingga terdengar seperti bisik-bisik yang tak ingin mengganggu percakapan mereka. Cahaya senja semakin redup, perlahan berubah jingga tua, membalut wajah mereka dengan warna yang hangat sekaligus sendu.
"Namun," katanya lagi, “jangan pernah membayangkan hatiku sebagai tanah perawan yang belum pernah disentuh siapa pun.”
Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, tetapi senyum itu lebih menyerupai luka yang sedang belajar menerima bentuknya sendiri.
“Tidak. Hatiku kini seperti naskah kuno yang berkali-kali berpindah tangan. Halamannya dipenuhi coretan, sebagian tintanya telah luntur oleh air mata yang bahkan aku sendiri lupa kapan jatuhnya. Ada lembar-lembar yang robek, ada kalimat-kalimat yang sengaja dihapus, ada kisah yang terputus di tengah jalan karena mereka yang datang hanya meninggalkan tanda tanya. Mereka singgah sebentar, menorehkan jejak, lalu pergi tanpa pernah menghadiahkan jawaban. Yang tertinggal hanyalah serpihan-serpihan diriku yang berserakan, seperti daun-daun kering yang dipermainkan angin pada akhir musim.”
Sanjaya menarik napas panjang. Udara dingin memenuhi rongga dadanya hingga terasa nyeri, lalu keluar perlahan bersama embusan yang hangat. Napas itu seolah menyedot sisa-sisa keberanian yang masih tertinggal di sekelilingnya. Ia membiarkan keheningan mengendap kembali. Kata-kata yang baru saja lahir tidak lagi sekadar terdengar, melainkan meresap pelan ke dalam ruang, ke celah-celah lantai, ke serat-serat kayu yang tua, seperti debu halus yang menari di dalam semburat cahaya senja sebelum akhirnya perlahan jatuh dan menjadi bagian dari waktu. Di dalam diam itu, bahkan detak jantung terasa memiliki gema yang pelan, berat, dan seakan mengingatkan bahwa ada luka-luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. İa hanya belajar hidup berdampingan dengan harapan yang masih memilih untuk bernapas.
Sanjaya kembali membuka suara. Nadanya semakin rendah, tenggelam di dalam keheningan yang mengitari mereka, meninggalkan gema yang panjang seperti denting lonceng tua dari kejauhan yang dipukul perlahan pada senja yang hampir usai. Getar suaranya tidak lagi sekadar terdengar oleh telinga, melainkan merambat hingga ke relung batin, membawa endapan getir yang telah bertahun-tahun berdiam di balik dinding ketegaran yang ia bangun dengan susah payah.
Ia memandang Riana beberapa saat, seolah mencari keberanian pada teduh yang memancar dari wajah perempuan itu. Namun sesaat kemudian, pandangannya jatuh ke bayang-bayang yang memanjang di lantai, tempat cahaya senja dan gelap saling berpelukan. Tatapannya seakan sedang menyusuri kembali lorong-lorong waktu yang lembap oleh kenangan, lorong yang dipenuhi gema langkah orang-orang yang pernah singgah, lalu menghilang tanpa sempat menoleh ke belakang.
"Dahulu..." ucapnya lirih, hampir seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Mereka datang seolah membawa kunci yang tepat untuk setiap gembok yang kupasang rapat di pintu hati ini.”
Ia mengembuskan napas perlahan. Dadanya mengempis pelan, sementara jemarinya saling menggenggam hingga ruas-ruasnya memucat. Ada luka yang kembali bergerak di balik kalimat sederhana itu, luka yang selama ini hanya diam karena terlalu lelah untuk kembali berdarah.
“Mereka datang dengan senyum yang meyakinkan, dengan mata yang penuh janji, dengan kata-kata yang terdengar begitu hangat hingga mampu membuat musim dingin di dalam dadaku perlahan mencair. Mereka mengetuk pintu batinku dengan kesabaran, menghadiahiku harapan sedikit demi sedikit, seolah benar-benar berniat tinggal. Namun waktu rupanya pandai menyamar. Kehangatan yang mereka bawa ternyata hanyalah embun yang mengilap ketika pagi, lalu lenyap bahkan sebelum matahari mencapai puncaknya, dan yang tersisa hanyalah jejak-jejak basah yang segera mengering, meninggalkan tanah yang kembali retak.”
Ia terdiam. Ruangan itu kembali dipenuhi bunyi napas mereka yang pelan. Dari luar, desir angin menyelusup melalui celah jendela, menggerakkan tirai dengan lembut. Cahaya senja semakin redup, mengubah warna udara menjadi jingga yang sendu, sementara debu-debu halus melayang perlahan, menari tanpa tujuan di antara berkas cahaya yang tersisa.
"Lalu," lanjutnya, suaranya berubah semakin berat, seolah setiap kata harus diangkat dari dasar sumur yang dalam, “ada di antara mereka yang memandangku dengan keyakinan yang nyaris menyerupai vonis. Mereka bertanya kepadaku seakan-akan mereka telah lebih dahulu mengenal seluruh isi semesta.”
Sanjaya mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tidak lagi menatap Riana, melainkan jauh melewati dirinya, ke suatu tempat yang hanya dapat dijangkau oleh ingatan.
“'Adakah kesetiaan yang sesejati matahari?' tanya mereka. 'Adakah cinta yang sanggup bertahan, meski telah mengetahui sejak awal bahwa ia akan habis terbakar oleh nyalanya sendiri?'”
Pertanyaan itu menggantung lama di udara. Tidak ada yang tergesa-gesa mengusirnya. Ia melayang bersama sunyi, berputar-putar di antara mereka, seperti sehelai daun yang enggan menyentuh tanah karena tahu, sekali jatuh, ia tak akan pernah kembali ke dahannya.
"Mereka bertanya lagi..." bisiknya. “Apakah aku sanggup hidup seperti matahari.”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak lahir dari kebahagiaan, melainkan dari kelelahan yang telah terlalu lama berdamai dengan dirinya sendiri.
“Matahari tahu bahwa setiap fajar adalah awal dari pengorbanan. Ia sadar bahwa setiap cahaya yang dipancarkannya adalah bagian dari dirinya yang perlahan habis terbakar. Namun ia tidak pernah menunda pagi. Tidak pernah memilih bersembunyi di balik malam hanya karena dunia lupa mengucapkan terima kasih. Ia tetap datang, menyingkap gelap dengan cahaya yang terus berkurang dari tubuhnya sendiri.”
Suaranya bergetar sesaat. Bukan karena ragu, melainkan karena kenangan yang kembali mengembun di pelupuk matanya.
“Mereka ingin mengetahui apakah aku sanggup mencintai seperti itu. Memberi tanpa menghitung. Menjadi hangat bagi kehidupan orang lain, meski kehangatan itu perlahan mengikis diriku sendiri.”
Ia mengangkat pandangannya kepada Riana. Kali ini sorot matanya tidak lagi dipenuhi kegelisahan, melainkan kejujuran yang nyaris telanjang.
“Mereka juga bertanya apakah hatiku cukup luas untuk menyerupai langit—langit yang setiap hari menerima panas matahari, dilibas hujan, dicabik angin, disambar petir, bahkan dilukai asap dan debu yang dihembuskan manusia. Namun langit tidak pernah menutup dirinya. Ia tetap membentang, tetap menyediakan ruang bagi burung-burung untuk pulang, bagi awan untuk singgah, dan bagi matahari untuk terbit setiap pagi.”
Sanjaya menghela napas panjang, dengan embusan napasnya terasa hangat di udara yang mulai mendingin. Di luar, cahaya terakhir senja perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan langit yang bergradasi ungu dan kelabu. Dalam remang yang kian mengental itu, kata-katanya seolah berubah menjadi embun yang perlahan mengendap di hati, menghadirkan kesadaran yang lirih bahwa mencintai, barangkali, bukan hanya tentang menemukan seseorang yang bersedia menetap, melainkan juga tentang keberanian untuk tetap memancarkan cahaya, meski berkali-kali telah diajari bagaimana rasanya terbakar.
Riana mendengarkan dalam diam yang khidmat. Ia tidak menyela, tidak pula tergesa menghadiahkan tanggapan. Ia membiarkan setiap kata yang keluar dari bibir Sanjaya jatuh perlahan ke dalam ruang batinnya, seolah sedang menampung tetes demi tetes air dari mata air yang telah lama tertutup bebatuan. Kesunyian di dalam dirinya bukanlah kekosongan, melainkan sebuah cangkir yang lapang, cukup dalam untuk menerima getir, keraguan, dan pengakuan yang selama ini tak pernah memiliki tempat untuk berlabuh.
Ia memahami bahwa lelaki di hadapannya bukan sedang mencari jawaban. Sanjaya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sukar untuk menelanjangi dirinya sendiri di hadapan seseorang. Ia sedang membuka pintu-pintu batin yang selama bertahun-tahun dikunci rapat, membiarkan cahaya yang lembut menyusup ke sela-sela retakan yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. Tidak ada lagi topeng ketegaran yang dipoles agar tampak utuh. Yang berdiri di hadapan Riana kini hanyalah seorang manusia yang lelah menyembunyikan luka, seseorang yang akhirnya memilih percaya bahwa kerapuhan pun layak disaksikan.
Riana memiringkan kepalanya sedikit. Gerakan itu nyaris tak terlihat, selembut ranting yang disentuh angin sore. Tubuhnya tetap tegak, tenang, tanpa kegelisahan sedikit pun. Namun kedua matanya menyala dengan kelembutan yang sukar diterjemahkan. Tatapan itu tidak berusaha menghibur ataupun mengasihani. Ia hanya hadir sepenuhnya, memberi keyakinan bahwa tidak satu pun kata Sanjaya jatuh sia-sia. Bahkan jeda di antara kalimat-kalimatnya pun ia dengarkan, sebab luka sering berbicara lebih lantang melalui diam daripada melalui suara.
Keheningan kembali mengembang di antara mereka. Di luar, angin menggesek pucuk-pucuk dedaunan hingga terdengar seperti bisikan panjang yang datang dari kejauhan. Cahaya senja yang tadi keemasan perlahan berubah tembaga, lalu menggelap menjadi ungu yang lembut. Bayangan mereka memanjang di lantai, menyatu dengan remang yang perlahan memenuhi ruangan, seolah waktu sendiri memilih memperlambat langkahnya agar pengakuan itu dapat diselesaikan tanpa tergesa.
Sanjaya menarik napas perlahan. Udara yang masuk ke dadanya terasa dingin, tetapi ketika keluar, ia membawa kehangatan yang bercampur getir.
"Ada pula..." katanya lirih, "...mereka yang menagih janji tentang kerinduan." Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap.
“Mereka berbicara tentang rindu yang sedalam tanah. Tanah yang setia menyimpan akar, yang diam-diam memeluk benih, yang tak pernah mengeluh ketika diinjak, namun tetap melahirkan kehidupan. Mereka memintaku memiliki kerinduan seperti itu. Kerinduan yang tak lekang oleh musim, yang tetap pulang kepada halaman tempat akar-akar pernah bertumbuh dengan teguh.”
Senyum Sanjaya mengembang tipis, namun segera luruh oleh kesadaran yang pahit, sebelum ia kembali melanjutkan kisah para perempuan sebelum-sebelumnya.
“Namun ironisnya, mereka sendiri tidak pernah benar-benar bersedia memijak bumi yang kupijak. Mereka takut mengotori telapak kaki oleh lumpur yang selama ini kutempuh. Mereka memilih berdiri di permukaan yang keras dan licin, tempat segala sesuatu dapat ditinggalkan sewaktu-waktu. Mereka ingin menjadi tujuan rinduku, tetapi tidak pernah ingin menjadi rumah tempat rinduku boleh beristirahat.”
Kalimat itu berakhir bersama embusan napas yang panjang. Dadanya turun perlahan, seakan setiap pengakuan mengurangi sedikit beban yang selama ini dipikulnya, meski meninggalkan nyeri yang masih hangat.
"Bahkan..." ucapnya lagi.
Kepalanya tertunduk. Bayang-bayang bulu matanya jatuh di atas pipinya, membentuk garis-garis lembut yang hampir menyatu dengan cahaya senja yang mulai pudar. Jemarinya saling menggenggam, lalu perlahan terlepas, seolah ia sedang belajar melepaskan kenangan yang selama ini enggan meninggalkan genggamannya.
"Sebagian dari mereka bertanya tentang penantian. Mereka ingin aku menunggu seperti tanaman menunggu hujan." Seraya mengangkat wajahnya sedikit. Sorot matanya jauh, seolah sedang memandang sebuah musim yang tak pernah selesai.
“Mereka memintaku percaya bahwa hujan pasti datang. Bahwa kesabaran akan selalu menemukan jawabannya. Namun mereka lupa bahwa ada musim ketika langit hanya menggantungkan mendung yang pekat, tanpa pernah menurunkan setetes air pun. Hari-hari berlalu dengan udara yang lembap oleh harapan, tetapi tanah tetap merekah oleh dahaga.”
Suara Sanjaya semakin pelan, nyaris menyatu dengan desir angin yang memasuki ruangan.
“Aku menjadi seperti tanaman yang terus menengadah. Daun-daunnya mulai menguning, batangnya perlahan kehilangan getah, akar-akarnya merambat semakin dalam mencari setitik kelembapan yang tak pernah ditemukan. Setiap pagi ia berharap mendengar bunyi pertama tetes hujan yang jatuh di atas tanah. Namun yang datang hanya angin, membawa aroma hujan yang semu, lalu pergi tanpa meninggalkan kehidupan.”
Ia menghela napas panjang. Dalam remang senja yang kini hampir sepenuhnya berubah menjadi malam, suaranya terdengar seperti doa yang kehilangan alamat.
"Mereka menagih kesabaran dariku," bisiknya, “tetapi membiarkan dahaga itu hidup terlalu lama. Seolah-olah penantian bukan lagi jalan menuju perjumpaan, melainkan hukuman yang sengaja dipanjangkan agar aku belajar mencintai sesuatu yang tak pernah benar-benar berniat datang. Dan di tengah padang jiwa yang semakin kering itu, aku hanya bisa berdiri, mendengar desir angin menyapu rumput-rumput mati, sambil bertanya kepada langit yang membisu... apakah hujan pernah benar-benar ditakdirkan untuk jatuh kepadaku?”
Riana tetap terdiam. Namun diam yang dipilihnya bukanlah kehampaan yang lahir dari ketidakpedulian, melainkan sebuah ruang yang luas dan teduh, tempat setiap pengakuan dapat beristirahat tanpa merasa dihakimi. Ia tidak tergesa-gesa mengisi jeda dengan nasihat ataupun simpati yang berlebihan. Ia hanya hadir, utuh, dengan tatapan yang bening dan napas yang tenang, seolah memahami bahwa ada luka yang tidak membutuhkan jawaban, melainkan seseorang yang bersedia tinggal ketika luka itu sedang belajar mengucapkan namanya sendiri.
Di dalam keheningan itu, bunyi jam dinding terdengar samar, berdetak perlahan seperti jantung waktu yang enggan terburu-buru. Dari celah jendela, angin malam mulai menyelinap, membawa aroma tanah yang perlahan kehilangan hangat senja. Tirai bergerak lembut, mengembuskan bayang-bayang tipis ke dinding. Cahaya yang tadi berwarna jingga kini telah memudar menjadi remang kebiruan, membuat garis-garis wajah mereka tampak lebih lembut, sekaligus lebih sendu.
Riana tetap memandang Sanjaya. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun. Memandang keteguhan yang halus di sana, seperti danau yang permukaannya nyaris tak beriak, tetapi menyimpan kedalaman yang tak mudah diukur. Ia seakan memberikan napas bagi setiap kalimat yang keluar dari bibir lelaki itu, membiarkan kata-kata tersebut tumbuh perlahan sebelum akhirnya menemukan maknanya sendiri.
Sanjaya menarik napas panjang. Dada yang sejak tadi terasa sesak perlahan mengembang, lalu kembali mengempis bersama embusan yang terdengar berat. Ada kelelahan yang mengendap di bahunya, seolah kenangan memiliki bobot yang benar-benar dapat dipikul oleh tubuh manusia.
Ketika ia kembali berbicara, suaranya menjadi jauh lebih lirih. Tipis, serak, dan kering, menyerupai desir angin yang bergesekan dengan dahan-dahan pohon pada penghujung musim gugur. Setiap kata terdengar rapuh, seperti daun-daun tua yang perlahan melepaskan dirinya dari ranting, melayang tanpa daya sebelum akhirnya menyentuh tanah dengan bunyi yang nyaris tak terdengar.
"Ada..." bisiknya pelan, “...seorang perempuan lagi yang pernah menyapa hidupku.”
Ia berhenti sejenak. Kelopak matanya berkedip perlahan, seolah sedang membuka lembaran kenangan yang telah lama disimpan rapat di ruang paling sunyi dalam dirinya.
“Ia datang seperti musim semi yang tiba tanpa permisi.”
Sudut bibirnya terangkat sesaat. Bukan senyum yang utuh, melainkan pantulan samar dari kebahagiaan yang pernah hidup, namun kini hanya tinggal bayangannya.
“Kehadirannya membawa aroma kehidupan. Seperti tanah yang baru saja disentuh hujan pertama setelah kemarau yang panjang. Ada wangi dedaunan muda, harum bunga yang baru membuka kelopaknya, dan udara yang tiba-tiba terasa lebih ringan untuk dihirup. Entah mengapa, bersamanya aku percaya bahwa bahkan tanah jiwaku yang paling gersang masih mampu menumbuhkan sesuatu yang indah.”
Matanya perlahan kehilangan fokus. Ia tidak lagi benar-benar melihat ruangan tempat mereka berada. Yang dipandangnya kini adalah ruang lain, ruang yang hanya dapat dimasuki oleh ingatan.
"Dulu," lanjutnya dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, “aku mengira bunga-bunga kebahagiaan akhirnya menemukan musimnya. Aku membayangkan hari-hari yang selama ini kelabu akan perlahan dipenuhi warna. Aku percaya bahwa luka-luka yang selama bertahun-tahun mengering akhirnya akan ditumbuhi rerumputan baru, dan kesunyian yang begitu lama menetap akan berubah menjadi taman tempat harapan belajar mekar.”
Sanjaya terdiam.
Keheningan kali ini terasa lebih berat. Udara di antara mereka seolah ikut berhenti bergerak. Hanya terdengar embusan angin yang sesekali menyentuh kaca jendela, meninggalkan bunyi lirih seperti seseorang yang mengetuk pelan dari dunia yang jauh.
Kilasan kenangan melintas di wajahnya. Begitu cepat, namun cukup untuk membuat sorot matanya dipenuhi cahaya yang redup. Cahaya yang hanya muncul ketika seseorang sedang memandang sesuatu yang tak mungkin lagi disentuh.
Ia menelan ludah perlahan sebelum melanjutkan.
"Namun..." suaranya retak tipis. “Takdir rupanya telah lebih dahulu menulis akhir yang tak pernah sempat kubaca.”
Ia menarik napas, tetapi udara yang masuk terasa dingin hingga menusuk rongga dadanya.
“Ia pergi.”
Dua kata itu meluncur begitu pelan, namun jatuh dengan berat yang seolah mampu memecahkan seluruh keheningan.
“Ia pergi secepat senja yang tergesa-gesa ditelan malam. Tidak ada pertanda yang benar-benar dapat kugenggam. Tidak ada isyarat yang sempat kupahami. Cahaya yang semula menghangatkan perlahan memudar, lalu hilang begitu saja di balik cakrawala, meninggalkan langit yang semakin kelam tanpa sempat menjelaskan mengapa.”
Sanjaya memejamkan mata sesaat. Napasnya terdengar bergetar.
“Ia lenyap seperti kabut yang perlahan diangkat matahari. Semakin ingin kugapai, semakin ia menjauh hingga akhirnya hanya menyisakan ruang kosong yang bahkan bayangannya pun tak lagi dapat kutemukan. Tidak ada kata pamit yang utuh. Tidak ada pelukan terakhir yang dapat kujadikan kenangan. Hanya keheningan yang tiba-tiba mengambil seluruh tempat yang dahulu dipenuhi suaranya.”
Ia membuka kembali matanya. Tatapannya bertemu dengan mata Riana, namun di balik pertemuan itu masih tersisa seseorang yang sedang berdiri sendirian di tepian masa lalu.
"Sejak hari itu," bisiknya, “aku belajar mengenal gelap.”
Bibirnya bergetar pelan.
“Aku meraba malam dengan tangan yang gemetar. Aku berjalan tanpa cahaya, hanya ditemani gema langkahku sendiri. Berkali-kali aku berharap menemukan sisa pijar yang mungkin tertinggal di balik cakrawala. Namun yang kutemukan hanyalah langit yang membisu dan bintang-bintang yang terlalu jauh untuk menghangatkan.”
Ia mengembuskan napas panjang. Embusan itu terasa hangat sesaat, sebelum larut ke dalam udara malam yang semakin dingin.
"Barangkali begitulah cara kehilangan bekerja," ucapnya lirih. “Ia tidak datang untuk merampas seseorang dalam sekejap. Ia datang perlahan, memadamkan cahaya sedikit demi sedikit, hingga suatu hari kita sadar bahwa yang tersisa hanyalah remang-remang kenangan. Dan di dalam remang itu, kita dipaksa belajar berjalan sendirian, sambil berharap suatu saat nanti mata kita kembali terbiasa menemukan arah, meski tanpa cahaya yang pernah kita sebut sebagai rumah.”
Riana mengembuskan napas perlahan. Dadanya mengembang, lalu mengempis dengan tenang, seolah sedang menimbang setiap serpihan kisah yang sejak tadi memenuhi ruang di antara mereka. Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah Sanjaya. Di balik tatapan itu, ada kelembutan yang tidak tergesa menghibur, tetapi juga tidak membiarkan lelaki itu tenggelam sendirian di dalam kenangannya. (Bersambung)