Panggilan Bapak Camat

Ada peristiwa-peristiwa yang dalam timbangan sejarah mungkin hanyalah sebutir debu yang luput dari...

Panggilan Bapak Camat

04 Jul 2026
1273 x Dilihat
Share :

Panggilan Bapak Camat

Ada peristiwa-peristiwa yang dalam timbangan sejarah mungkin hanyalah sebutir debu yang luput dari pandangan. Ia tidak pernah dicatat di buku pelajaran, pun tak pernah meraih tajuk utama di surat kabar mana pun. Sementara bagi jiwa yang mengalaminya, peristiwa remeh itu menjelma pintu rahasia, menjadi sebuah titik balik yang diam-diam mengubah cara pandangku terhadap semesta sejarah hidupku. Ia serupa riak di permukaan telaga yang, meski bermula dari lemparan kecil, merambat perlahan hingga ke tepian, menyentuh batu-batu yang selama ini bisu, lalu memantulkan gema yang menetap bertahun-tahun di relung ingatan.

Begitulah kenangan itu selalu mengetuk pintu kesadaranku. Setiap kali ingatan tentang panggilan dari Bapak Camat di masa SMP itu menyeruak, aku menyadari bahwa peristiwa itulah yang secara perlahan mengubah cara pandangku terhadap dunia.

Saat itu pertengahan Desember, di tahun ketika negeri ini seolah kehilangan napasnya sendiri. Dari riuh kota besar hingga sunyi pelosok kampung, kabar tentang kerusuhan, ketakutan, dan amarah bersahut-sahutan seperti guntur yang tak kunjung reda. Sebelumnya, Tasikmalaya telah lebih dahulu disapih luka akibat kerusuhan berlatar etnis yang menyisakan trauma panjang. Orang-orang membicarakannya dengan suara tertahan, seakan mereka takut jika udara itu sendiri memiliki telinga yang mampu mengadu.

Aku tinggal jauh di selatan, di sebuah kecamatan yang terasing dari hiruk-pikuk Jakarta, bahkan terasa terisolasi dari denyut pusat Kota Tasikmalaya. Berita nasional selalu datang dengan langkah yang tertatih dan terlambat. Menyusup lewat frekuensi radio tua yang berdesis, koran yang baru tiba esok hari, atau desas-desus di warung kopi yang masing-masing membawa versinya sendiri. Namun sejauh apa pun jarak memisahkan kami dari pusat prahara, kecemasan adalah tamu yang selalu tahu jalan pulang. Ia merambat seperti kabut pagi yang turun dari lereng bukit, menyelimuti petak-petak sawah, atap-atap rumah yang sederhana, hingga membekukan raut wajah orang-orang yang tetap mencoba berpura-pura bahwa hidup baik-baik saja.

Di tengah kegetiran itulah, sebuah kabar sederhana datang mengetuk pintuku, membawa serta segelintir rasa cemas sekaligus penasaran yang tak terduga.

Belakangan, aku baru memahami mengapa kenangan itu enggan beranjak dari kepalaku. Dalam pidato pengantarnya, Pak Bupati menyebut bahwa pertemuan kami adalah sesuatu yang "substansial" bagi seorang pelajar. Kata itu terdengar megah sekaligus asing di telingaku yang masih belia. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti apa arti substansial, namun aku cukup peka untuk merasakan bobotnya. Aku tahu, ada sesuatu yang dianggap penting hingga seorang anak SMP dari pelosok dipanggil menghadap pejabat daerah. Dan justru karena ketidaktahuanku itulah, rasa ingin tahu itu tumbuh kian liar, memaksaku mencari makna di balik pintu kantor camat yang kelak mengubah hidupku selamanya.

Siang itu, bel istirahat baru saja menggema, memantul di antara dinding-dinding kelas yang perlahan lengang. Suaranya selalu terdengar seperti pembebasan karena sebuah jeda dari jam-jam panjang yang melelahkan. Dalam hitungan detik, ruang kelas yang semula penuh dengan dengung suara guru berubah menjadi riuh langkah kaki, tawa, dan derit kursi yang digeser sekenanya.

Aku baru saja hendak menutup buku ketika Lusia dan Hari sudah berdiri di samping mejaku.

"Haya, ayo cepat!" seru Lusia, menarik lenganku lembut.

"Tunggu sebentar, bukuku belum kurapikan," jawabku.

"Sudahlah, nanti juga masih pelajaran yang sama. Biarkan saja," sahut Hari sambil terkekeh.

Aku sempat memandang buku-buku yang masih terbuka, pensil yang tergeletak miring, dan lembaran kertas yang belum sempat kusematkan. Tetapi godaan menuju kantin sering jauh lebih menggoda daripada sekadar kerapian meja. Begitu bel berdentang biasa kami langsung bergegas keluar, membiarkan kelas menyimpan sisa-sisa napas kami di antara buku-buku yang terabaikan.

Tujuan kami bukanlah kantin sekolah yang serba rapi dan kaku, melainkan warung kecil milik Ibi Ida, sebagai pelabuhan lapar bagi kami para siswa yang tersembunyi di pojok kiri, tepat bersandar di pagar batas halaman sekolah. Begitu tiba, kami selalu disambut oleh tarian kepulan asap dari penggorengan, membawa aroma minyak panas yang entah mengapa selalu berhasil memicu keroncong di perut, seolah memberi tanda bahwa masa istirahat telah resmi dimulai.

Bala-bala goreng adalah primadonanya. Bentuknya tak pernah seragam. Ada yang sisinya menghitam karena terlalu lama di penggorengan. Ada pula yang tebal berselimut tepung. Namun bagi kami, semuanya terasa sempurna, apalagi dengan saus merah encer yang Ibi Ida berikan cuma-cuma.

Pernah ada selentingan yang berbisik bahwa saus itu dibuat dari tomat yang nyaris layu bahkan busuk, dipadu bumbu olahan agar tetap merah menyala. Entah itu sekadar mitos kenakalan anak sekolah atau memang kenyataan, kami tak pernah benar-benar peduli. Setiap kali bala-bala panas itu dicelupkan, kami melahapnya tanpa sisa.

"Haya, cepat! Sebelum habis!" teriak Hari saat aku masih sibuk mengelap jari yang berminyak.

"Kalau habis, kau yang harus traktir ronde berikutnya," balasku sambil tertawa.

Kami makan tanpa beban, membiarkan minyak menempel di ujung jari dan saus mengotori bibir. Rasa pedas yang menyengat membuat kami berkali-kali meniup udara, namun justru di situlah letak kenikmatannya. Pada usia itu, kebahagiaan memang sering sesederhana sepotong gorengan hangat dan gelak tawa di bawah langit siang yang terik.

Barangkali begitulah cara masa remaja bekerja. Mengajarkan bahwa bahagia tidak selalu menuntut kemewahan. Terkadang, hanya singgah sebentar di sela-sela jam istirahat, lalu menyelinap pergi sebelum sempat kami sadari betapa berharganya momen itu.

Namun, hidup selalu memiliki cara untuk menyisipkan kejutan di tengah-tengah rutinitas yang paling biasa. Tepat di saat kami bersiap menyongsong ritual jam istirahat guna menyambut riuh tawa dan bayang-bayang bala-bala panas yang memikat, dunia seolah berhenti sejenak.

Dari balik ambang pintu, Ibu Tata Usaha muncul. Senyumnya tenang, tetapi langkahnya seperti membawa guncangan yang seketika mengubah arah pikiranku.

"Haya," panggilnya lembut.

Aku menoleh, merasakan firasat yang tak biasa.

"Setelah jam istirahat, kamu diminta ke ruang Pak Kepala Sekolah," tuturnya dengan nada datar. “Ada surat dari Kecamatan. Besok, kamu diminta menghadap Bupati.”

Sejenak, aku merasa salah mendengar. Bunyi bel istirahat yang sebelumnya terdengar seperti pembebasan, kini terasa sepi dan asing. "Hah... menghadap Bupati?" tanyaku yang nyaris berbisik.

“Iya.”

“Dan... Camat juga?”

"Iya," jawabnya singkat. Beliau tersenyum tipis, lalu berbalik dan melanjutkan langkah, seolah baru saja menitipkan pesan yang remeh.

Sementara aku justru membeku. Kalimat itu berulang-ulang bergema di kepalaku, menabrak dinding kesadaranku. Menghadap Camat. Menghadap Bupati. Untuk apa?

Aku memandang Hari dengan wajah pias. “Hari... aku tidak salah dengar, kan?”

Hari bukannya memberikan jawaban yang menenangkan. Senyum jahilnya justru merekah lebar. "Wah, Haya," katanya sambil bersedekap. “Kalau sampai dipanggil pejabat, pasti kamu punya dosa besar.”

Aku melotot, namun Heri tak peduli. “Siapa tahu kamu diam-diam melakukan kesalahan yang belum ketahuan, lalu dicari karena itu.”

Aku mendesah panjang, merasa dadaku sesak oleh kecemasan yang tiba-tiba. Melihat wajahku yang kusut, Hari tampak semakin menikmati keadaan. Ia sengaja diam sejenak, membiarkan ketegangan menggantung, seolah sedang meracik kalimat yang bisa membuatku kian gelisah.

"Tapi," ucap Lusia perlahan, memutus keheningan. “Kalau sampai Camat mengajakmu bertemu Bupati... mungkin saja kamu punya jasa besar.”

Lusia menimpali, mencoba memberi setitik penenang di tengah kekacauan pikiran. Namun, belum sempat aku menarik napas lega, Hari kembali menyambar dengan tawa terbahak.

“Eh... atau dosanya memang benar-benar luar biasa!”

Gelak tawa mereka pecah, memenuhi ruang kelas yang kini terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Di antara keriuhan itu, aku hanya bisa terdiam, masih berusaha mencerna bagaimana hidup bisa berubah drastis hanya dalam hitungan detik.

Aku hanya bisa menggeleng. Di wajahku mungkin tampak kesal, tetapi jauh di dalam hati, kecemasan mulai tumbuh seperti benih yang perlahan mendapat air. Semakin berusaha kuabaikan, semakin liar ia berkembang.

Jam istirahat hari itu kehilangan maknanya. Tubuhku memang berada di antara teman-teman, tetapi pikiranku telah berkelana jauh, menelusuri lorong-lorong kemungkinan yang tak berujung. Suara tawa yang biasanya terasa hangat, kini terdengar asing dan jauh, seolah aku sedang berdiri di dunia yang berbeda, sementara mereka masih berpijak pada bumi yang sama.

Setiap dugaan lahir sebelum dugaan sebelumnya sempat menemukan jawaban. Rasanya seperti berdiri di persimpangan jalan yang seluruh penunjuk arahnya diselimuti kabut tebal. Aku tahu harus melangkah, tetapi tak tahu ke mana langkah itu akan membawaku.

"Hay, kamu kenapa diam saja?" Hari menepuk pundakku pelan.

"Aku benar-benar bingung," jawabku lirih. “Aku tidak pernah punya urusan dengan Camat ataupun Bupati. Mengapa justru aku yang dipanggil?”

Hari mengangkat bahu sambil tersenyum kecil. “Kalau bukan karena kamu membuat kesalahan, mungkin karena kamu dianggap anak pintar.”

“Kalau begitu, kenapa bukan siswa lain? Bukankah banyak yang jauh lebih hebat dariku?”

“Ya... berarti memang ada alasan yang belum kamu tahu.”

Jawaban itu sama sekali tidak menenangkanku. Justru kalimat tersebut terasa seperti menambah beban ke dalam kegelisahanku. Aku mulai menghitung kembali setiap kejadian yang pernah kulalui. Barangkali ada kesalahan yang luput dari ingatanku, atau mungkin ada sesuatu yang dianggap sebagai kebaikan, sementara aku sendiri tidak pernah menganggapnya demikian.

Jika kutatap kenangan itu dari jarak puluhan tahun, aku tersenyum sendiri. Betapa polosnya seorang anak SMP yang begitu mudah diguncang oleh selembar surat resmi. Pada usia itu, nama Camat dan Bupati terasa seperti dua gunung yang mustahil disentuh. Mereka adalah sosok yang hanya kulihat di podium upacara, di baliho-baliho kaku, atau di foto-foto berbingkai kayu di kantor pemerintahan. Tak pernah terlintas dalam benak bahwa suatu hari nanti, namaku akan terpanggil ke ruang kerja mereka.

Mungkin memang begitulah masa remaja. Kita sering membayangkan kekuasaan sebagai langit yang agung, padahal di balik segala kewibawaannya, para pemegang jabatan itu tetaplah manusia yang memiliki pertimbangan dan keraguan. Sebagai seorang pelajar belia, aku belum memahami kenyataan sederhana itu. Yang kutahu hanyalah satu hal bahwa besok pagi aku harus datang ke kantor kecamatan, meski hingga siang itu aku tidak mengerti mengapa namaku tertulis di dalam surat tersebut.

Ketidaktahuan memang lebih melelahkan daripada kenyataan yang pahit. Kenyataannya, sekeras apa pun bentuknya, masih memberi ruang bagi hati untuk menerima. Sebaliknya, ketidaktahuan membuat pikiran terus berkelana, menciptakan narasi-narasi menakutkan yang jauh melampaui kenyataan itu sendiri.

Hari masih saja menikmati wajahku yang kusut. Ia sengaja terdiam, membiarkan ketegangan menggantung sejenak, lalu berkata dengan nada jenaka, “Kalau sampai Camat mengajakmu ketemu Bupati... mungkin kamu punya jasa besar.”

Namun, sebelum sempat aku bernapas lega, ia menyambar lagi, “Eh... atau dosamu yang memang luar biasa!”

Kami tertawa, meski tawa itu terasa hambar. Candaan Hari mungkin memecah suasana, tetapi tidak sanggup mengusir kegelisahan yang terlanjur berakar. Pikiranku kembali terombang-ambing seperti layang-layang yang putus talinya. Apakah ini sebuah kehormatan yang belum kupahami, atau justru pertanda bahwa aku tanpa sadar telah melakukan kekeliruan?

Saat itu, berbagai dugaan kususun sendiri. Mungkinkah karena prestasi akademik? Tetapi rasanya kurang meyakinkan. Apakah karena aku Ketua OSIS? Dugaan inilah yang menurut Lusia paling masuk akal, meski tetap tak menjawab mengapa aku harus menghadap Bupati.

Bahkan setelah pertemuan singkat dengan Kepala Sekolah, misteri itu belum juga terpecahkan. Beliau tidak menjelaskan secara rinci alasan pemanggilan tersebut. Dengan nada tenang, beliau hanya berpesan agar esok pagi, tepat pukul tujuh, aku sudah harus berada di Kantor Kecamatan.

Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar sebelum pikiranku benar-benar diselimuti kabut yang lebih pekat.

Namun, sebelum aku meninggalkan ruangannya, beliau memperhatikanku lekat-lekat dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya berhenti cukup lama pada rambutku yang memang sudah melampaui batas kewajaran.

"Rambutmu harus dipangkas," katanya tegas. “Jika besok menghadap pejabat, kamu harus tampil rapi. Persiapkan penampilan terbaikmu.”

Aku hanya mengangguk pelan. Aneh sekali, dari sekian banyak pertanyaan besar yang membebani pikiranku, justru urusan rambutlah yang mendapat kepastian hari itu.

Aku jadi teringat masa-masa ketika rambutku sering menjadi sasaran tatapan guru. Aku masih ingat betul bagaimana Pak Ismail, pembina OSIS kami, pernah mendekat sambil membawa gunting, lalu menempelkannya ke rambutku. 

"Rambutmu mau dipotong sekarang," katanya setengah bercanda. “Kalau tidak mau ke tukang cukur, Bapak sendiri yang akan memotongnya di sini.”

Kala itu, statusku sebagai Ketua OSIS mungkin menjadi tameng, sehingga ancaman itu hanyalah gertakan. Berbeda nasib dengan teman-teman yang lain. Mereka pernah dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu rambut mereka dipangkas acak tanpa tawar-menawar. 

Suasana saat itu begitu tegang. Salah seorang guru berusaha mencairkan suasana dengan candaan getir, "Sekali lagi rambut kalian melewati telinga dan tengkuk, Bapak gunduli semua. Biar siswa sekolah ini seperti biksu Shaolin." Tawa yang muncul setelahnya terdengar hambar. Hanya cara kami menyembunyikan kegugupan.

Kini, saat menatap kenangan itu dari jarak puluhan tahun, aku memahami bahwa ketegasan itu bukan sekadar perkara estetika. Para guru sedang berusaha mendisiplinkan kami dengan cara yang mereka anggap terbaik. Namun, bagi kami yang masih remaja, ancaman gunting itu terasa jauh lebih mengerikan daripada deretan angka merah di rapor.

Meski persoalan penampilan kini telah menemukan titik terang, pertanyaan yang jauh lebih besar justru kian menyesakkan dada. Apa sebenarnya alasan pemanggilan itu?

Semakin kupikirkan, semakin banyak hipotesis yang gugur. Jika aku dipanggil karena menjabat Ketua OSIS, seharusnya ada perwakilan dari sekolah-sekolah lain. Namun, kenyataannya tidak demikian. Tidak ada rekan siswa lain, tidak ada agenda yang jelas, dan tidak ada penjelasan mengapa aku seorang diri yang harus mendampingi Pak Camat menghadap Bupati.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala seperti roda yang terperosok, terus bergerak namun tidak kunjung berpindah tempat. Ketidaktahuan ini benar-benar terasa seperti kabut yang membatasi pandanganku. Aku hanya seorang anak SMP dari pelosok Kecamatan Pancatengah. Apa yang bisa membuat seorang pejabat setingkat Bupati memanggilku secara pribadi?

Di tengah kebingungan itu, satu-satunya yang pasti hanyalah perintah Pak Kepala Sekolah bahwa esok pagi, pukul tujuh, aku harus sudah berada di Kantor Kecamatan. Dengan rambut yang harus rapi, dan dengan hati yang sama sekali belum siap.

Keesokan harinya, aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Perjalanan menuju pusat kecamatan bukanlah perkara sepele bagi anak kampung sepertiku. Rumah yang terletak jauh dari jalan utama mengharuskanku menempuh jarak panjang, melewati terminal, lalu menyambung dengan dua bus berbeda demi mencapai Kantor Kecamatan. Waktu adalah musuh yang tak bisa diajak kompromi. Keterlambatan satu menit saja bisa berakibat fatal bagi jadwal perjalananku.

Saat melintasi Kampung Baru, desa yang selalu terasa asing dan baru setiap kali aku melintas di pagi buta, langkahku tertahan oleh pemandangan yang tak terduga. Di kejauhan, kulihat seorang adik kelas yang baru saja pulang mengaji. Sosoknya lembut, dibalut kerudung pagi yang tenang. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk menyapa, untuk menghentikan langkah dan membagi beberapa kata yang selama ini tertahan di tenggorokan.

Namun, tepat saat kami berpapasan, aku membatalkan niat itu.

Aku memilih memalingkan pandangan, membiarkan kesempatan itu menguap begitu saja. Di dalam kepala, panggilan dari Bapak Camat dan Bupati telah menyita seluruh ruang kesadaran. Aku meyakinkan diri bahwa urusan "negara" ini jauh lebih mendesak daripada sekadar obrolan remeh di jalanan kampung. Aku berpikir bahwa akan selalu ada kesempatan kedua, bahwa pembicaraan itu bisa ditunda hingga hari-hari yang lebih tenang.

Dengan langkah terburu-buru, kutinggalkan ia di belakang, sementara pikiranku terus melesat jauh ke depan, ke arah kantor pemerintahan, ke arah sosok-sosok pejabat yang bagiku adalah raksasa. Aku tak menyadari bahwa terkadang, kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan kedua yang kita janjikan pada diri sendiri. Pagi itu, dalam ketergesaanku menuju sebuah misteri besar, rupanya aku justru sedang melangkah menjauhi sebuah kenangan yang mungkin jauh lebih berarti bagi masa mudaku. Berbuah penyesalan sampai tahun-tahun berganti.

Sepanjang perjalanan di atas bus, bayangan wajah adik kelas itu sesekali muncul, menari di antara hiruk-pikuk penumpang dan deru mesin yang tak stabil. Aku merasa seperti sedang meninggalkan sesuatu yang berharga di halte terakhir, sebuah simpul pembicaraan yang belum sempat terurai. Ada desakan dalam dadaku untuk memutar balik, untuk mengejar waktu yang baru saja kulepas, namun ego sebagai seorang pelajar yang dipanggil pejabat menahanku tetap duduk diam.

Dilema itu menghimpitku di sepanjang perjalanan. Setiap kali bus mengerem mendadak, pikiranku ikut tersentak, terbagi antara rasa bersalah karena membiarkan kesempatan bicara itu menguap, dan kecemasan yang kian memuncak akan apa yang menanti di depan. Aku mencoba menghibur diri dengan logika sederhana bahwa nanti, saat urusan negara ini selesai, aku akan kembali dengan kepala yang lebih ringan untuk menemui dan menjelaskan semuanya.

Namun, semakin dekat bus mendekati pusat kecamatan, semakin aku menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjanjikan kesempatan kedua dengan bentuk yang sama. Ketergesaan yang semula terasa seperti semangat juang seorang pelajar, kini berubah menjadi beban yang menyesakkan. 

Aku menyadari bahwa mungkin, saat aku melangkah terburu-buru pagi tadi, aku tidak hanya sedang meninggalkan kampung, tetapi juga sedang menutup pintu untuk sebuah kemungkinan yang tak akan pernah bisa kubuka kembali dengan cara yang sama. Sisa-sisa sesal itu masih membekas di dadaku, menghantui setiap derap langkah yang kupaksakan agar lebih cepat. Aku terjebak dalam dilema yang konyol antara ingin berbalik untuk memperbaiki janji yang tak terucap, atau terus memacu diri demi memenuhi panggilan yang tak kutahu ujungnya.

Dalam napas yang memburu dan keringat yang mengalir di pelipis menjadi bukanlah semata-mata karena jauhnya jarak yang kutempuh. Ada tekanan tak kasat mata yang mulai membebani pundakku sejak aku meninggalkan rumah. Ketergesaan ini perlahan berubah menjadi ketakutan yang mencekam saat kompleks kantor pemerintahan mulai terlihat di kejauhan.

Dan aku sudah berusaha berangkat sedini mungkin. Namun saat kakiku menyentuh halaman Kantor Kecamatan, perasaanku justru berteriak bahwa aku telah terlambat. Mungkin bukan karena jarum jam yang sudah hampir menunjukkan pukul delapan, melainkan karena kegugupan yang membuat setiap detik terasa berlari lebih cepat dari detak jantungku.

Aku menapakkan kaki di jalan beraspal yang membelah kompleks Kantor Kecamatan Pancatengah. Udara pagi masih menyisakan embun yang menempel di pucuk dedaunan. Bangunan-bangunan kantor berdiri tenang, seolah belum sepenuhnya terbangun dari sisa kantuk hari itu.

Di tengah suasana yang asing tersebut, seorang bapak berdiri menunggu. Setelah memastikan namaku, beliau segera menggamit lenganku dan memberi isyarat untuk mengikuti. Aku sempat mengira ia akan menggiringku masuk ke ruang kantor utama, namun langkah kami justru berbelok menuju bangunan di sebelahnya. Menuju sebuah rumah yang tampak lebih bersahaja daripada gedung pemerintahan di sisi jalan. Itulah rumah dinas Camat.

Begitu memasuki halaman, seorang ibu menyambut kami dengan senyum yang meneduhkan. Bapak yang mengantarku berbisik singkat, “Salam dulu kepada Ibu Camat.”

Aku membungkukkan badan, menyembunyikan telapak tangan yang mulai dingin. “Selamat pagi, Bu.”

Beliau membalas sapaanku dengan tatapan hangat yang tak kuduga, “Ini yang bernama Hayatu Dzakir?”

“Iya, Bu.”

“Silakan masuk, mari Nak.”

Sapaan itu sedikit meredakan gemuruh di dadaku. Bayanganku tentang rumah pejabat yang megah dan mengintimidasi perlahan luruh saat langkahku menapaki lantai ruang tamu yang sederhana. Perabotannya tertata rapi, fungsional, tanpa sedikit pun kesan kemewahan yang berlebihan. Pada dinding, terpasang foto Presiden dan Wakil Presiden yang tampak sedikit ganjil, bingkai itu masih memuat wajah lama, sisa-sisa dari perubahan politik yang baru saja terjadi beberapa pekan sebelumnya. Di sampingnya, lambang Garuda Pancasila memandang tajam, persis seperti yang menatapku setiap hari dari dinding ruang kelas.

Di sudut ruangan, sebatang tiang dengan Bendera Merah Putih menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. Segalanya terasa formal, tenang, dan sedikit kaku. Bagiku, yang baru pertama kali memasuki kediaman seorang pejabat, setiap sudut ruangan itu terasa asing sekaligus memantik rasa ingin tahu yang besar.

Aku dipersilakan duduk di ruang depan, dibiarkan menunggu dalam keheningan yang menyesakkan. Waktu seolah kehilangan fungsinya. Jam dinding itu berdetak begitu lambat, jarumnya seperti enggan melangkah. Dalam hening yang pekat, aku mulai tersadar satu hal bahwa kebosanan yang melilitku bukanlah akibat dari ketiadaan aktivitas, melainkan rasa gamang karena aku tidak tahu nasib apa yang sedang menungguku di balik pintu yang tertutup itu.

Di tengah keheningan yang kian mencekam, pintu kayu di sisi ruangan perlahan berderit, memecah lamunanku. Aku segera menegakkan duduk, merapikan kerah baju sekolah yang sedari tadi terasa mencekik leherku yang berkeringat dingin. Jantungku berdegup kencang, seolah sedang melakukan perlombaan lari yang tak kunjung mencapai garis akhir.

Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan tenang. Wibawanya tampak begitu nyata, meluruhkan segala bayangan mengerikan yang sempat kubangun di dalam kepala. Beliau bukan raksasa yang menakutkan, melainkan sosok dengan sorot mata yang teduh, meski tetap menyimpan ketegasan yang tak bisa disembunyikan. Saat beliau menatapku, aku merasa seolah seluruh pertanyaan yang menggantung di benakku selama semalam suntuk akan segera menemukan jawaban.

Aku tidak tahu apakah setelah pintu itu terbuka, hidupku akan tetap sama atau justru akan berubah selamanya. Tetapi satu hal yang kupahami di balik pintu itu, bukan lagi sekadar ruang kerja seorang Camat yang menantiku, melainkan sebuah babak baru dalam hidupku. Sambil menghela napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberanian, aku bangkit berdiri, siap menyambut kenyataan yang selama ini kupandang sebagai kabut tebal yang tak terjangkau.

Dan saat beliau membuka mulut, segala kecemasanku perlahan sirna, digantikan oleh rasa takjub yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Panggilan itu, yang kusebut sebagai misteri, ternyata adalah sebuah awal dari perjalanan yang justru membuatku memahami arti penting dari sebuah keberanian kecil di tengah hamparan dunia yang begitu luas. (Bersambung)

Perspektif

Scroll