Salah Paham

Belakangan aku mulai percaya bahwa sebuah hubungan tidak selalu retak karena kesalahan yang besar....

Salah Paham

28 Jun 2026
292 x Dilihat
Share :

Salah Paham

Belakangan aku mulai percaya bahwa sebuah hubungan tidak selalu retak karena kesalahan yang besar. Ada kalanya ia justru rapuh oleh hal-hal yang tampak sepele, yang pada mulanya luput dari perhatian. Seperti sebutir pasir yang menyusup ke dalam sepatu. Ukurannya begitu renik hingga kita memilih untuk mengabaikannya. Namun semakin jauh perjalanan ditempuh, pasir itu perlahan menggesek kulit, menimbulkan perih yang senyap, dan membuat setiap jengkal langkah terasa kian berat.

Barangkali, begitulah cara kita patah. Yang melelahkan bukanlah badai yang datang tiba-tiba menghantam, melainkan gesekan-gesekan kecil yang dibiarkan menahun tanpa pernah disingkirkan.

Saat itu, aku belum memahami bahwa setiap kedekatan memiliki bahasanya sendiri. Ada perhatian yang tidak pernah diucapkan, tetapi diam-diam selalu ditunggu. Ada pula kehadiran yang tampak biasa bagi seseorang, tetapi menjelma denyut nadi bagi orang lain. Ketika usia masih begitu belia, kami belum mengenal cara mengeja bahasa-bahasa yang sunyi itu. Kami lebih mudah bersandar pada kata-kata daripada menyelami diam. Padahal, justru di dalam tangis dalam diam itulah, sering hati sedang menjerit paling keras.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa musim-musim yang semula berjalan begitu ringan akan berubah pelan-pelan. Hari-hari yang biasanya riuh oleh tawa mulai kehilangan bunyinya. Sapaan yang dahulu mengalir tanpa beban, perlahan menjelma menjadi canggung yang asing. Kami masih berada di sekolah yang sama, menyusuri koridor-koridor yang sama, dan duduk di bawah langit yang sama. Tapi seperti ada sesuatu yang telah bergeser dari porosnya. Seolah-olah ada dinding bening yang berdiri di antara kami. Tak terlihat oleh siapa pun, tetapi cukup tebal untuk membuat dua orang yang semula lekat merasa kikuk saat saling memandang.

Semua perubahan itu bermula dari sebuah peristiwa yang teramat sepele, yang kemudian tumbuh menjadi batu di tengah jalan. Batu yang semula hanya sebesar genggaman tangan, tetapi karena dibiarkan telanjang tanpa penjelasan, perlahan menjelma tebing tinggi yang memisahkan dua hati yang sebenarnya tidak pernah saling bermusuhan.

Rupanya, sejak hari kedatanganku ke rumah Fahlia, sikap Lusia berubah sepenuhnya. Ada jarak yang tak kasatmata, menggantung di antara kami menyerupai kabut tipis yang kukuh. Kabut yang memang tidak menghalangi pandangan secara total, namun cukup pekat untuk membuat kami kehilangan arah setiap kali hendak melangkah saling mendekat.

Pemicunya sebenarnya sesederhana itu, tetapi efek domino yang ditinggalkannya teramat merusak. Semua bermula dari sebuah petualangan kecil yang sejatinya hanyalah acara bertandang ke rumah teman seusai pulang sekolah, tetapi entah bagaimana, peristiwa itu ditiup menjadi sesuatu yang teramat besar hingga mengubah cara Lusia memandangku.

Sampai hari ini, aku tidak pernah benar-benar tahu siapa yang pertama kali menyulut api dan membocorkan cerita itu. Yang kutahu hanyalah, sebuah kisah yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain seringkali bermutasi menjadi monster yang mengerikan. Kata-kata memiliki tabiat yang aneh sekaligus kejam. Ketika terlalu lama singgah di banyak telinga, ia kehilangan bentuk asalnya dan membesar penuh prasangka. Seperti daun yang hanyut di sungai, ia terus terbawa arus hingga tak lagi dikenali dari pohon mana ia semula gugur. Desas-desus yang beredar di koridor sekolah menjadi dianggap bukan lagi tentang kunjungan biasa, melainkan tentang pengkhianatan sebuah kepercayaan, barangkali.

Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti bahwa kesalahpahaman jarang sekali lahir dari kebencian. Ia lebih sering tumbuh subur dari perasaan-perasaan yang tidak pernah memperoleh kesempatan untuk dibilas oleh penjelasan. Seseorang memilih bungkam karena mengira yang lain telah mengerti, sementara yang lain ikut diam karena menganggap tak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Dua keheningan itu akhirnya saling berhadapan, lalu perlahan membeku menjadi jarak yang permanen. Dan ketika jarak itu kian membentang panjang, masing-masing dari kami mulai berbicara kepada prasangkanya sendiri, bukan lagi kepada orang yang sesungguhnya.

"Saya dengar kamu pergi bersama Fahlia," katanya suatu sore, dengan suara yang nyaris datar tanpa riak.

Aku memandangnya untuk beberapa saat, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan di matanya yang kini mendingin. “Siapa yang bilang?”

"Lalu, apakah itu berarti tidak benar?" ia balik bertanya, melayangkan tatapan yang menuntut namun sekaligus rapuh.

Aku hanya mengembuskan napas panjang, merasakan sesak yang tiba-tiba menyergap dada. “Yang lebih ingin saya ketahui, siapa yang telah membuat cerita itu terdengar jauh lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya?”

Pertanyaan itu akhirnya hanya menggantung di udara. Tidak ada jawaban. Hanya angin sore yang lewat membawa daun-daun kering melintasi halaman sekolah, seolah alam pun memilih bungkam ketika manusia mulai sibuk menghidupi prasangkanya masing-masing.

Di dalam hati aku merenung, mengapa semua ini harus menjelma menjadi masalah yang begitu rumit? Bukankah sejak awal tidak pernah ada ikatan resmi yang mengharuskan kami saling memberi laporan tentang ke mana langkah kaki pergi, atau dengan siapa kami berjalan? Antara aku dan Lusia tidak pernah ada pernyataan apa pun. Tidak pernah ada kalimat yang mengesahkan bahwa ia milikku, ataupun aku miliknya. Hubungan kami tidak pernah diberi nama. Kami hanyalah dua orang yang terbiasa berjalan berdampingan, lalu tanpa sadar membiarkan diri percaya bahwa kebersamaan itu akan selalu ada selamanya.

Lagipula, bukankah ia sendiri telah memiliki seseorang? Ia telah memilih jalan hidupnya, dan di seberang sana, ada lelaki lain yang lebih dahulu menggenggam jemarinya. Aku selalu berpikir bahwa kebahagiaannya adalah hak mutlaknya, sebagaimana aku pun berhak menjalani hari tanpa harus memikul rasa bersalah kepada siapa pun. Namun rupanya, labirin hati manusia tidak pernah sesederhana rumusan logika. Ia sering kali mendambakan sesuatu yang bahkan tidak sanggup ia jelaskan kepada dirinya sendiri.

Tetapi, barangkali justru di situlah letak kekeliruan terbesarku. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menerjemahkan segala sesuatu dengan pikiran, sementara perasaan memiliki bahasanya sendiri yang jauh lebih sunyi. Sebuah bahasa yang tidak mengenal aturan tata bahasa, tetapi mampu menyayat tanpa suara. Bahasa yang tidak membutuhkan penjelasan panjang, sebab ia cukup disampaikan lewat perubahan sikap yang nyaris tak terlihat, tetapi mampu mengubah segalanya.

Pada suatu kesempatan aku memberanikan diri untuk bertanya lagi. “Mengapa kamu lebih banyak diam sekarang?”

Lusia mengalihkan pandangannya, menatap ke arah lain yang entah di mana. Tetapi kemudian meluncur jawaban, “Kadang, yang membuat seseorang dirundung sedih bukanlah karena seseorang memilih pergi.”

“Lalu?”

“Karena kamu sama sekali tidak merasa bahwa kehadiranmu pernah ditunggu.”

Aku pun tertegun. Kalimat itu teramat sederhana, tetapi rasanya seperti hujan pertama yang jatuh menyiram tanah yang telanjur retak. Pelan, lirih, tetapi cukup kuat untuk membangunkan kesadaran yang selama ini tertidur lelap di dalam kepalaku.

Mungkin benar kami hanyalah sepasang teman. Teman yang sudah begitu lekat hingga kedekatan itu sendiri perlahan kehilangan nama dan bentuknya. Kami tidak pernah berpacaran, dan mungkin memang tidak harus begitu. Tetapi ada hubungan-hubungan tertentu yang sering tumbuh jauh lebih rumit ketika dibiarkan tanpa definisi. Ia menyerupai aliran sungai yang tampak tenang di permukaan, tetapi menyembunyikan pusaran arus yang dalam dan berbahaya di dasarnya.

Perlahan aku pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang telah menguap di antara kami. Bukan karena kami berhenti bersinggungan, melainkan karena kami berhenti saling menyelami. Kehilangan ternyata tidak selalu ditandai oleh sebuah momentum perpisahan yang menegangkan atau menyedihkan. Kadang, ia menyusup pelan ketika dua orang masih yang berdiri berdekatan, tetapi jiwa mereka sudah tidak lagi saling menemukan.

Sikapku sendiri, setidaknya menurut penilaian subjektifku, tidak pernah berubah. Aku tetap menyapanya dengan hangat, tetap melempar senyum yang sama setiap kali kami berpapasan di koridor sekolah. Namun, sepasang matanya seolah menyimpan gumpalan awan kelabu yang enggan turun menjadi hujan. Mungkin ia lebih banyak mengurung diri dalam sepi. Ketika gerak tubuhnya hendak meneriakkan sesuatu, namun bibirnya memilih untuk mengunci rapat semua kata. 

Ada semacam rajuk yang disembunyikan dengan rapi di balik tatapan yang sengaja ia alihkan dariku. "Ke mana saja kamu selama ini?" Akhirnya, pertanyaan itu lolos juga dari bibirnya.

Aku menyunggingkan senyum kecil, mencoba mencairkan suasana. “Aku tidak ke mana-mana, Lusia.”

“Aku masih berada di tempat yang sama.”

"Kadang," Lusia kemudian berbisik lirih, hampir menyerupai helaan napas, “yang berubah bukanlah jarak, melainkan ruang rasa yang kita bayangkan.”

Kalimat itu kembali merampas seluruh kata-kata dariku. Ada barisan kalimat yang tidak akan pernah bisa dibantah oleh argumen apa pun, karena ia lahir bukan dari rumusan logika, melainkan dari sebuah luka yang tak kasatmata, begitu aku mengira.

Maka, hanya lewat tatapan mata kusampaikan kepadanya bahwa aku memang tidak pernah berniat pergi. Aku selalu ada, setidaknya sebisa dan semampuku bagi siapa saja yang membutuhkan. Begitulah caraku yang naif dalam memaknai arti sebuah persahabatan saat itu. Meski seiring berjalannya waktu aku baru mengerti bahwa kehadiran fisik ternyata tidak pernah cukup. Seseorang butuh merasa dipilih, butuh merasa dicari, dan ingin diakui sebagai tempat untuk pulang, meskipun hanya untuk sekejap saja. Sebab kehadiran sejati seseorang bukanlah sekadar tubuh yang luluh di dekatnya, melainkan tentang hati yang benar-benar memilih untuk singgah dan menetap.

Barangkali itulah yang tidak pernah aku sadari waktu itu. Barangkali, hal itulah yang diam-diam dirasakan oleh Lusia. Kami masih sangat muda saat itu, baru belajar mengeja bahasa hati yang sering jauh lebih rumit daripada mata pelajaran apa pun di sekolah. Kami masih terpincang-pincang belajar membedakan mana rindu yang murni, mana perhatian yang tulus, mana yang sekadar kebiasaan karena sering bersama, dan mana yang benar-benar bernama cinta. Semua rasa itu bercampur baur, persis seperti langit senja yang membuat batas antara siang dan malam menjelma samar.

Jika memang pusaran rasa itu yang disebut cinta, kini aku mulai percaya bahwa cinta bukanlah soal memiliki atau dimiliki. Cinta bukan pula selembar perjanjian yang mengikat dua orang layaknya kesepakatan dalam transaksi jual beli. Ia tidak mengenal kuitansi, tidak membutuhkan stempel kepemilikan, dan tidak pernah selesai begitu saja hanya karena sebuah status resmi.

Bagiku, cinta adalah ruang sunyi yang diam-diam mengajarkan seseorang untuk menjaga tanpa harus menggenggam, mendoakan tanpa harus menguasai, dan tetap menghargai kehadiran seseorang meski diri ini tak pernah menjadi tujuan akhirnya. Ia serupa cahaya matahari yang jatuh di permukaan sungai. Tidak pernah benar-benar mengambil airnya, tetapi selalu berhasil membuatnya berkilau indah.

Orang-orang sering berkata bahwa cinta adalah hal paling indah yang mungkin dialami manusia sepanjang hidupnya yang singkat ini. Aku mulai mempercayainya sekarang. Namun keindahannya tidak selalu datang sepaket dengan kebahagiaan. Kadang, ia sengaja hadir sebagai kesalahpahaman yang getir hanya untuk mengajarkan kedewasaan. Kadang ia menjelma jarak yang diam-diam mendidik hati agar tidak tergesa-gesa memberi nama pada setiap letup perasaan.

Mungkin Lusia bukannya tidak memiliki perasaan kepadaku. Mungkin aku pun demikian. Hanya saja, kami waktu itu masih terlalu belia untuk memahami bagaimana cara merawatnya. Kami hanya tahu bagaimana cara merasakannya, tetapi belum mengerti bagaimana cara menjaganya agar tidak layu. Sebab mengenal seseorang ternyata bukan perkara seberapa lamanya waktu yang dihabiskan bersama. Ada orang yang bertahun-tahun saling bertatap muka, tetapi jiwanya tetap asing. Ada pula yang baru sebentar saling mengenal, tetapi telah begitu fasih memahami bahasa diam satu sama lain.

Pada akhirnya kami hanya bisa menyerahkan sisa cerita ini kepada waktu. Sebab waktu adalah guru yang paling sabar di semesta ini, yang tidak pernah tergesa-gesa menyodorkan jawaban, hanya membiarkan manusia terus berjalan, terjatuh, saling salah paham, saling menjauh, lalu perlahan menemukan makna sejati dari setiap langkah kakinya sendiri. 

Dan mungkin, hanya kepada waktulah aku pun akhirnya belajar bahwa tidak semua perasaan harus berakhir menjadi kepemilikan. Ada rasa yang memang ditakdirkan hanya menjadi seberkas cahaya yang menemani perjalanan. Dengan cukup menerangi, tanpa pernah benar-benar singgah untuk menetap.

Barangkali karena alasan itulah aku begitu sering bermimpi tentangnya akhir-akhir ini. Mimpi-mimpi itu datang tanpa pernah mengetuk pintu, menyerupai embun yang diam-diam turun pada dini hari. Membasahi dedaunan tanpa pernah meminta izin kepada pohon yang menopangnya. Ia menyusup masuk ketika kesadaran sedang beristirahat, ketika segala hal yang selama ini aku kunci rapat-rapat dalam laci ingatan, tetapi tetap saja dapat menemukan jalannya sendiri untuk mendobrak keluar.

Bahkan pernah pada suatu malam yang teramat sunyi, aku terbangun dengan dada yang dirundung sesak yang hebat setelah sekian lama tak lagi memimpikannya. Mimpi itu sebenarnya begitu sederhana, tetapi meninggalkan gema sepulang tidur yang seolah teramat panjang. Seolah-olah ada seseorang yang berjalan pelan di lorong-lorong gelap ingatanku, sambil menyalakan kembali lampu-lampu kuno yang telah lama padam.

Aku terduduk lama di tepi ranjang, terpaku. Malam masih menyisakan keheningan yang pekat di luar jendela. Jam dinding tetap berdetak konstan seperti biasa, tetapi waktu seakan memilih berhenti tepat di ujung mimpiku. Ada kegelisahan yang sulit diterjemahkan oleh kata-kata, serupa kegelisahan yang tidak melukai fisik, melainkan menggores bagian terdalam dari batin.

Sejak malam itu, pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi benakku, mengendap menjadi renungan panjang yang tak kunjung menemukan tepi pantai. Barangkali, memang begitulah cara mimpi bekerja, yang tidak selalu datang membawa jawaban yang menenangkan, melainkan justru menghadiahkan teka-teki baru yang membuat manusia semakin mengenali siapa dirinya sendiri.

Aku percaya, mimpi tentang seseorang bukan semata-mata karena kita masih mengingat bagaimana guratan wajahnya. Bisa jadi, itu karena ia pernah tinggal cukup lama di sebuah ruang batin yang kini tidak pernah benar-benar bisa diisi oleh orang lain. Sebab ia pernah hadir dalam satu fragmen kehidupanku, berjalan beriringan dalam hari-hari yang bersahaja, lalu meninggalkan jejak kaki yang bahkan sapuan waktu pun tidak sepenuhnya mampu menghapusnya.

Ada orang-orang yang hanya singgah sebentar dalam hidup kita, tetapi bekas langkahnya menetap jauh lebih awet daripada mereka yang bertahun-tahun berada di sisi kita. Kenangan memang memiliki cara yang ganjil sekaligus egois untuk memilih siapa yang layak disimpannya. Terlebih lagi ketika orang itu sudah berada di titik yang tidak lagi dapat aku jangkau. 

Namun jarak ternyata bukan sekadar perkara angka kilometer atau bentangan kota yang berbeda di atas peta. Ada jarak yang jauh lebih sunyi daripada itu. Jarak yang lahir karena roda kehidupan telah membawa masing-masing dari kami menuju dunia yang sama sekali berbeda, dengan plot cerita yang tak lagi bersinggungan. Kami memang masih sama-sama bernapas di bawah langit yang sama, tetapi kami tak lagi berada dalam musim yang sama. Dan justru karena ketidakmampuanku untuk menjangkaunya secara nyata itulah, ia sesekali datang mengetuk batin melalui satu-satunya jalan yang tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh manusia.

Sering aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa harus dia yang paling kerap hadir dalam bunga tidurku? Mengapa bukan perempuan-perempuan lain yang juga pernah singgah dalam perjalanan hidupku? Bukankah ada beberapa perempuan yang pernah mengetuk jendelaku, lalu perlahan melangkah memasuki pintu kehidupan, mengisi ruang-ruang jiwa yang saat itu tengah lengang?

Ada yang datang membawa riuh tawa, ada yang sengaja meninggalkan pelajaran berharga, ada pula yang sekadar menjadi tempat persinggahan sekejap sebelum melanjutkan pengembaraan mereka. Lalu mengapa justru ia yang terus-menerus kembali memutar komidi putar di kepalaku?

Pertanyaan itu berkali-kali kuulang dalam sunyi. Rasanya seperti seseorang yang berdiri di tepi pantai sambil melempar batu-batu kecil ke permukaan air. Berharap riaknya bersedia membawakan jawaban dari kedalaman palung. Tetapi, laut hanya pasrah bergelombang. Ia tidak pernah menjelaskan apa pun. Begitu pula hatiku. Semakin gencar aku bertanya, semakin banyak ruang sunyi baru yang terbuka lebar di sana.

Barangkali, jawabannya sederhana bahwa karena perempuan di masa belia memang selalu meninggalkan jejak kaki yang berbeda. Pada usia sedini itu, perasaan kami belum mengenal apa yang dinamakan kepentingan. Belum mengenal kalkulasi rumit tentang untung dan rugi. Kami belum akrab dengan topeng-topeng sosial yang kelak terpaksa dipakai ketika manusia mulai beranjak dewasa.

Segala rasa yang tumbuh waktu itu terasa begitu polos, begitu jujur, menyerupai mata air murni yang mengalir langsung dari kaki pegunungan sebelum keruh bercampur lumpur perjalanan. Cinta pada masa remaja—jika memang rasa itu pantas mengemban nama cinta—adalah sebutir benih yang ditanam tanpa pernah tahu apakah suatu hari nanti ia akan tumbuh menjadi pohon yang rindang, atau sekadar menjelma wewangian kenangan yang menguar hebat setiap kali hujan turun.

"Apakah kau pernah melupakanku?" Seolah-olah suara puitis itu bergaung kembali di dalam labirin mimpiku. Aku menatap lekat parasnya, tanpa mampu langsung menyusun jawaban.

"Aku tidak tahu," bisiknya.

"Kalau begitu, mengapa kau masih selalu datang ke tempat yang sama setiap kali mataku terpejam?" Aku menyunggingkan senyum pahit, menatap bayangnya yang beralih samar. 

“Mungkin, bukan aku yang dengan sengaja datang ke mari.”

“Lalu siapa?”

“Ingatan.”

Lalu ia tersenyum hangat. Sebuah lengkung senyum yang sama persis seperti yang sering kulihat bertahun-tahun lalu di koridor sekolah. Senyum yang kini tidak akan pernah bisa lagi kusentuh secara nyata, tetapi entah bagaimana, tetap sanggup menghangatkan sudut yang paling sunyi dan dingin di dalam palung jiwa.

Dan kini zaman telah sepenuhnya berubah. Dunia telah sesak dipenuhi media sosial yang membuat siapa pun seolah hanya berjarak satu sentuhan jari di atas layar kaca. Nama-nama lama bisa ditemukan kembali dalam hitungan detik. Wajah-wajah yang pernah lenyap, dapat seketika muncul hanya lewat satu kata kunci di kolom pencarian.

Namun anehnya, justru kedekatan yang ditawarkan teknologi ini seringkali melahirkan jarak psikologis yang jauh lebih rumit. Ada begitu banyak lapis pertimbangan yang mendadak membuat sebaris sapaan sederhana kehilangan keberaniannya.

Aku sering membayangkan, bagaimana jika suatu hari nanti jemariku ini sekadar mengirimkan pesan singkat. “Halo... apa kabar?”

Hanya tiga kata yang tampak teramat biasa. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada begitu banyak probabilitas yang membuat gerak jemari ini memilih mati kutu dan berhenti. Bagaimana jika sapaan itu disalahartikan? Bagaimana jika kehadiranku yang tiba-tiba justru mengganggu tatanan kehidupan yang telah mapan ia bangun? Bagaimana jika ada orang-orang di sekelilingnya yang merasa terusik?

Bukankah setiap orang dewasa selalu memikul lingkaran kehidupannya sendiri yang wajib kita hormati? Di sana ada keluarga, pasangan, sahabat, dan segala wajah baru yang kini menjadi bagian utuh dari dunianya. Aku tidak ingin sebuah kenangan suci berubah menjadi beban yang merusak, hanya karena ego dan keinginan sesaatku untuk mengobati rindu.

Mungkin karena alasan itulah, mimpi menjelma menjadi semacam pelipur lara yang paling diam dan aman. Di dalam ruang tidur itu, tidak ada yang perlu menjelaskan apa pun. Tidak ada pihak yang harus merasa terganggu. Tidak ada prasangka baru yang mesti diluruskan. Kami hanya bertemu sebagai dua buah kenangan yang saling menyapa kehangatan dalam sebuah ruang yang bahkan sang waktu pun tidak memiliki kuasa untuk mengaturnya. Mimpi telah menjadi rumah singgah kecil tempat ingatan diperbolehkan duduk melingkar sebentar, sebelum fajar menyingsing dan memaksanya kembali menghilang.

Saat rindu kembali mengetuk tanpa permisi, yang bisa kulakukan hanyalah melipat tangan dan menambah panjang daftar keheningan. Kesendirian ternyata bukan selalu perihal ketiadaan manusia di sekitar kita. Kadang, kesendirian yang paling sejati adalah ketika ada begitu banyak untaian kata yang ingin diucapkan, tetapi semuanya memilih untuk bungkam demi menghormati jalannya kehidupan orang lain. Dan diam, pada momen-momen sakral tertentu, adalah bentuk kasih sayang yang paling dewasa yang bisa dipersembahkan oleh seorang manusia.

Namun rentetan pertanyaan itu selalu saja kembali datang, menyerupai rinai hujan yang tak pernah bosan mengetuk-ngetuk atap seng rumahku. Mengapa aku harus memimpikan dia, bukan perempuan yang lain? Mengapa yang menyelinap halus ke bunga tidurku justru perempuan dari masa belia, yang langkah-langkah kecilnya masih menggema nyaring di koridor-koridor kenangan? Mengapa waktu, yang telah begitu perkasa membawa ribuan wajah datang dan pergi, masih saja menyisakan guratan parasnya dengan begitu utuh di dalam ingatan?

Apakah aku sedang dipaksa oleh takdir untuk kembali membuka halaman-halaman usang yang selama ini telah kusimpan rapi di rak terdalam kehidupan, ataukah memang ada serpihan perasaan yang tidak pernah benar-benar selesai, melainkan hanya belajar untuk hidup dalam wujud yang jauh lebih sunyi.

Aku tidak pernah memiliki jawaban yang pasti untuk itu semua. Barangkali, memang tidak semua pertanyaan di semesta ini diciptakan untuk lekas ditemui jawabannya. Sebagian di antaranya hanya ingin setia menemani perjalanan seorang manusia agar ia terus belajar mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya.

Dan mungkin, jika semua labirin rasa ini memang pantas bernama cinta, ia bukan lagi jenis cinta yang menuntut untuk saling memiliki. Ia telah bermetamorfosa menjadi sebait doa yang paling lirih. Doa yang tidak lagi meminta momentum pertemuan, tidak memohon legalitas kepemilikan, melainkan hanya berharap dengan tulus di mana pun ia berada kini, semoga seluruh jalannya dipenuhi oleh kebahagiaan yang utuh.

Sebab aku pun mulai paham, bahwa cinta yang bertahan paling lama bukanlah cinta yang paling gaduh memperjuangkan kehadiran secara fisik, melainkan cinta yang paling tenang merawat kenangan tanpa pernah sedikit pun mengusik kedamaian hidup orang yang pernah dicintainya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll