Di atas mobil bak terbuka itu, kami menjelma bak sekawanan burung kecil yang baru saja mematahkan jeruji sangkar waktu, yang terbang rendah di atas jalanan berdebu, mengepakkan sayap riang yang tak lagi peduli pada arah pergi dan pulang, selain menuju sebuah muara kenangan yang kelak akan membeku dan menetap diam di ceruk jiwa sejak hari-hari berlalu sesudah itu. Angin menderu memukul wajah kami menyerupai tangan tak kasatmata yang mengajak berkelahi sekaligus bercanda, yang datang kadang selembut usapan ibu, kadang sekasar tamparan kenyataan, seolah-olah semesta ingin memastikan bahwa denyut perjalanan kami ini benar-benar nyata dan bukan sekadar igauan yang akan menguap saat matahari terbenam.
"Rasakan ini! Anginnya seperti ingin memakan kita hidup-hidup!" teriakku sembari memejamkan mata, membiarkan rambutku berantakan dihajar udara.
Setiap kali kami melintasi simpang keramaian, suara kami melambung tinggi, pecah menyerupai ombak yang menemukan karang tajam untuk dihempas, sebuah deklarasi sunyi kepada dunia bahwa hari itu kami hidup sepenuh-penuhnya sebelum kelak kami hidup dan mati dalam rutinitas masing-masing setelah jalan perpisahan.
Jalan menuju pantai itu terasa merentang panjang, namun justru di atas aspal yang membara itulah waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi setiap detik untuk menghirup napas sedalam-dalamnya. Sebelum dipaksa agar menempel erat dalam dinding ingatan sebagai fosil masa lalu yang berharga. Dan di ujung cakrawala sana, pantai yang telah lama tak kusentuh itu tengah menanti dengan sabar, menyerupai seorang kekasih tua yang diam-diam setia menunggu di ambang pintu tanpa pernah bertanya mengapa kepulangan kami memakan waktu begitu lama.
Kami terus bernyanyi dengan suara di antara kami dan sisanya cukup mendengarkan. “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang” dengan vokal yang kadang sumbang berserakan, kadang terbelah oleh tawa yang meledak tiba-tiba, namun justru di dalam ketidakteraturan itulah letak kejujurannya yang paling purba. Lagu itu meluncur dari bibir kami seperti aliran sungai kecil yang tak pernah bertanya ke mana ia akan bermuara. Hanya tahu caranya untuk terus mengalir membawa bongkahan kegembiraan yang sederhana tapi terasa utuh. Memenuhi ruang hampa di antara bahu kami yang bersentuhan. Dengan itu kegembiraan ini adalah emas murni yang kami temukan di tengah tambang masa belia kami yang menggetarkan.
“Nyanyi yang lebih keras, biar suaramu sampai lebih dulu ke pelukan laut!” teriak Dema dari sudut bak, tangannya melambai ke langit serupa konduktor orkestra yang telah kehilangan seluruh nadanya, tapi tetap menolak untuk kehilangan semangat.
“Kau saja yang berteriak sampai tenggorokanmu pecah, Dem! Suaramu sudah mirip toa masjid yang sedang korsleting!” balas Irfan diiringi tawa yang pecah berderai, menyerupai lembaran kaca tipis yang sengaja dijatuhkan ke lantai porselen hanya untuk mendengar bunyinya.
Kami bernyanyi sepuas-puasnya, merayakan setiap kata seolah suara adalah satu-satunya jangkar yang mampu menahan waktu agar tidak berlari terlalu cepat meninggalkan kami. Kami sedang mencoba mengisi piala kebersamaan terakhir yang kami tahu, meski saat itu kami hanya merasainya sebagai firasat tipis, sebab mungkin tak akan pernah lagi terulang dalam bentuk, aroma, dan rasa yang benar-benar sama saat bersama kawan-kawan satu angkatan sekolah dasar.
Dalam perjalanan yang dibasahi peluh dan debu itu, diam-diam aku menyelipkan sebuah harapan yang sederhana namun memiliki napas yang sangat panjang. Semoga mereka mampu mengingat semua ini bukan sekadar sebagai sebuah perjalanan fisik, melainkan sebagai kepingan diri mereka yang tak akan pernah benar-benar pergi meski raga telah saling menjauh. Aku ingin kenangan ini menjadi kompas saat mereka tersesat di rimba dewasa yang dingin.
Tetapi kenyataan selalu punya cara untuk melukai bahwa tidak semua anak kelas dapat duduk di sini bersama kami. Di antara seluruh anggota kelas, ada yang tertinggal oleh jerat keadaan, oleh jurang jarak yang tak terjembatani, atau oleh alasan-alasan pahit yang bahkan belum mampu kami eja maknanya saat itu.
Dan catatan ini, yang kini kurangkai menyerupai selembar surat yang sengaja tak pernah kukirimkan, kupersembahkan khusus untuk mereka sebagai jiwa-jiwa yang tidak ikut hadir dalam riuh tawa kami, tapi tetap menjadi nakhoda di dalam narasi cerita ini. Sebab terkadang, mereka yang tidak hadir justru memiliki cara paling purba untuk hidup kuat di dalam kenangan, menyerupai bayangan yang tak pernah terlihat di kegelapan, tapi selalu setia mengikuti ke mana pun langkah kaki ini beranjak pergi.
Bahkan di tengah keriuhan yang pecah seperti kembang api itu, aku menyadari ada bagian dari diriku yang tertinggal seperti seorang penonton yang duduk diam di sudut remang sebuah teater, mengamati panggung kegembiraan dengan jarak setipis helai rambut namun sedalam jurang yang tak terukur. Aku memang ikut bernyanyi, memaksakan lidah menari di atas nada, tetapi suaraku terasa tertahan di pangkal tenggorokan menyerupai sebongkah batu kali yang liat. Semacam ada sesuatu yang belum selesai, sebuah simpul masa lalu yang belum rela kulepaskan begitu saja ke pelukan angin.
Kami sejatinya bernyanyi bukan hanya untuk merayakan, melainkan untuk membilas sisa-sisa jelaga ketegangan dari sebulan terakhir, sesudah melewati bulan yang merentang panjang menyerupai lorong gelap tanpa jendela, di mana kami dipaksa berlari menabrak dinding-dinding ujian. Mulai Ebta, Ebtanas, hingga ujian praktik yang menguras sumsum tulang, menuntut kami untuk segera menanggalkan jubah kanak-kanak dan menjadi remaja dan dewasa sebelum waktunya.
"Capek juga ya, akhirnya semua ini berhenti memburu kita," bisik Lusia di dekatku, suaranya halus dan rapuh seperti desau angin yang menyelinap di sela-sela guguran daun kering.
"Iya... tapi entah kenapa, rasanya malah seperti ada ruang kosong yang mendadak menganga di dalam sini," jawabku dengan suara yang hampir karam, bahkan sebelum sempat menyentuh telingaku sendiri.
Dan di titik itulah aku tersentak oleh sebuah kebenaran yang getir bahwa kelelahan yang paling purba bukanlah soal otot yang pegal atau mata yang mengantuk, melainkan tentang sesuatu yang diam-diam bergeser dan berubah bentuk di dalam labirin jiwa.
Piknik menuju Pantai Batukaras ini akhirnya menjelma menjadi semacam nisan penutup, sebagai tanda titik yang tebal bahwa satu babak telah tumpas, sementara babak lain yang masih berupa teka-teki gelap yang mulai bersiap mengetuk pintu depan hidup kami.
Namun tepat di saat seharusnya suasana seringan kapas, sebuah pikiran tiba-tiba menyusup tanpa permisi, menyerupai bayangan hitam yang masuk ke dalam rumah tanpa pernah mengetuk pintu. Aku melemparkan pandang ke sepanjang jalanan yang meliuk, pada rerimbun hijau dari pohon-pohon yang jangkung dan kerdil saling bertautan, membentuk rangkaian kalimat panjang nan hijau yang seolah tak pernah benar-benar menemui tanda titik. Belukar setinggi tubuh manusia berdiri kaku di tepian aspal, menyerupai barisan penjaga bisu yang hanya sanggup menyaksikan keberisikan kami tanpa pernah sudi untuk sekadar tersenyum atau ikut dalam keriangan yang fana ini.
Setiap tikungan yang kami lalui kini terasa seperti pertanyaan-pertanyaan sulit yang belum sempat kutemukan jawabannya di lembar ujian manapun. Saat kami terus menebak-nebak dengan cemas apa yang tersembunyi di balik kelokan itu, apakah sebuah jalan lurus yang membosankan, apakah tanjakan yang mencekik napas, atau justru turunan tajam yang membuat jantung melompat ke tenggorokan.
“Di depan sana ada apa, ya? Kenapa jalannya seolah tak berujung?” tanya Lusia dengan matanya menyipit, mencoba menembus kabut jarak yang samar.
“Mungkin laut. Atau mungkin saja hanya tikungan lain yang lebih tajam,” jawab Irfan, setengah melempar canda untuk menutupi secuil harap yang tersisa.
Hal itu membuatku tertegun, bukankah hidup sejatinya adalah sekumpulan tikungan yang tak pernah benar-benar bisa kita raba wujudnya, bahkan untuk sedetik setelah napas ini diembuskan? Di antara tawa yang masih berderai dan nyanyian yang mulai melemah itu, aku mulai merasai sebuah kesadaran baru yang muncul perlahan seperti kabut tipis di pagi buta. Bahwa perjalanan ini sesungguhnya bukan sekadar tentang membasuh kaki di asinnya air laut, melainkan tentang cara kita belajar meninggalkan sesuatu yang tak akan pernah bisa kita kemas ke dalam tas punggung untuk dibawa pulang. Bahwa di balik setiap sorak-sorai yang menggedam jalanan ini, ada sebuah perpisahan yang sedang belajar mengeja namanya sendiri dengan nada yang paling liris.
Saat mobil mulai merayap menanjak lalu menurun dengan ritme yang ganjil, geraknya menyerupai napas yang ditarik paksa dan dilepas perlahan oleh seonggok tubuh lelah yang menolak untuk berhenti berharap. Lalu di puncak tanjakan itu, tiba-tiba dari kejauhan menyeruak sepotong warna biru laut yang tipis, jauh, namun cukup tajam untuk membuat dinding dada bergetar hebat. Seperti saat pertama kali kita dipaksa mengenali sesuatu yang teramat luas namun tak memiliki nama dalam kamus harian kita.
Langit dan laut biru itu tidak hadir sekadar sebagai spektrum warna di mata. Ia datang sebagai panggilan purba yang samar namun merujam dalam, serupa suara masa kecil yang pernah kita dengar dalam mimpi dan tiba-tiba pulang ke ingatan tanpa peringatan, tanpa mengetuk pintu.
“Itu… laut, kan? Lihat! Garis itu!” Lusia kembali berteriak dengan suara yang pecah, antara tidak percaya dan rasa syukur seperti baru saja menemukan kembali separuh jiwanya yang sempat hilang di ruang ujian.
“Iya… itu laut! Kita sampai!” sahut Dema, suaranya meluap-luap seolah menyerupai air bah yang menjebol bendungan kesabaran kami di sepanjang perjalanan. Dan tepat pada detik itu, perjalanan seolah dipercepat oleh tangan-tangan gaib yang tak terlihat, seolah roda mobil yang kami tumpangi tidak lagi berputar di atas aspal kasar yang panas, melainkan ditarik oleh seutas tali kerinduan yang sejak tadi diam-diam menjalar dan membelit jantung kami. Setiap jengkal jarak yang terpangkas terasa seperti lapisan beban yang luruh satu demi satu dari pundak kami yang masih hijau itu.
Begitu moncong mobil semakin mendekat ke bibir pantai, aku merasa diriku terseret ke dalam sebuah pusaran yang kian kencang, pusaran antara rasa ingin tahu yang kekanak-kanakan, antara kegembiraan yang meledak, atau sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku seperti dibawa untuk secepatnya berdiri di tepian perubahan besar tanpa pernah tahu bagaimana bentuk wajah masa depan.
Gelombang ombak tampak bergerak dari kejauhan, putih buihnya pecah di atas pasir menyerupai kalimat-kalimat rindu yang tak pernah selesai diucapkan. Sementara kerumunan manusia di bawah sana mengecil menjadi titik-titik hitam yang bergerak dinamis, serupa huruf-huruf dalam sebuah naskah cerita yang terlalu gaduh untuk segera kupahami maknanya.
Dan saat mesin mobil akhirnya melambat di tujuan parkir, rasanya kami bukan hanya tiba di sebuah koordinat geografi, melainkan sedang menapak di ambang sebuah pengalaman yang akan menetap di ingatan lebih lama daripada usia raga kami sendiri.
Ingin selekasnya turun dari mobil secepatnya melesap untuk menatap ruang pantai yang mendidih oleh keriuhan, melihat orang-orang yang berenang melawan arus, tampak anak-anak yang berlari mengejar angin, dan tawa yang bersahut-sahutan. Di antara keriuhan itu membuat kami mendadak berubah menjadi makhluk paling tidak sabar di muka bumi, bak sekumpulan narapidana yang melihat pintu gerbang menuju dunia bebas terbuka lebar di depan mata.
Mobil yang kami tumpangi masih berputar-putar dengan kikuk mencari celah parkir, namun waktu terasa seperti sedang melakukan sabotase dengan sengaja menunda-nunda langkah kami. Mungkin ingin menguji seberapa kuat kami sanggup membendung bendungan keinginan yang sudah retak ini.
“Lama sekali, sih! Rasanya aku ingin terbang saja ke sana!” keluh Rika, matanya terpaku pada garis cakrawala seolah ia takut laut itu akan meluap dan menghilang jika ia berkedip sedetik saja.
“Loncat saja kita sekarang! Biar mobil ini parkir sendiri!” celetuk Irfan sembari tertawa lepas, sebuah candaan yang terasa setengah benar karena raga kami memang sudah lama melompat keluar, meninggalkan kecemasan di atas bak terbuka itu. Bukan karena lahan parkir yang menyempit kami tertahan, melainkan karena hari itu, di bawah payung besar liburan akhir tahun ajaran sekolah, ribuan kepala memiliki detak pikiran yang seragam bahwa laut adalah satu-satunya altar suci di mana kebebasan dapat direngkuh tanpa syarat dan tanpa sisa.
Pantai-pantai yang berjajar angkuh menghadap kegarangan Samudera Hindia. Sejak Batukaras, Pangandaran, Batuhiu, hingga Gandasari terlihat seperti barisan pintu raksasa yang semuanya bermuara pada satu keluasan yang sama, satu pelarian yang identik. Kami memang tak punya banyak pilihan lain untuk membasuh penat. Karena gunung-gunung berdiri terlalu angkuh di kejauhan, sementara Galunggung mendekam di utara menyerupai raksasa tidur yang hanya bisa dicapai dengan usaha yang melampaui sekadar keinginan remaja. Laut selalu menjadi jawaban paling karib, paling masuk akal, sekaligus paling luas untuk menampung segala resah yang kami bawa dari bangku sekolah.
"Turun! Ayo turun sebelum lautnya bosan menunggu!" teriak Dema saat mesin mobil akhirnya mati.
Sesudah kaki-kaki kami benar-benar mencium tanah pantai, muncul sebuah sensasi yang sulit didefinisikan oleh kata-kata, serupa menyentuh permukaan cermin yang selama ini hanya berani kami bayangkan dalam lamunan kelas yang membosankan. Pasir hangat menyusup di sela jemari kaki, menyambut kami seperti jabat tangan sahabat lama yang tak pernah benar-benar terasa asing meski lama tak berjumpa.
Melihat manusia-manusia lain berenang, tertawa, dan memekik kegirangan, energi itu merambat dari satu tubuh ke tubuh lainnya menyerupai listrik yang menular tanpa perlu perantara bahasa. Kami segera berganti pakaian dengan gerakan tergesa yang kikuk, seolah-olah kami takut sang waktu akan tiba-tiba berubah pikiran dan menarik kembali kado kebebasan ini dari tangan kami.
Ayif dan Irfan melesat lebih dulu, menyerupai dua garis lurus yang berlomba mencapai titik koordinat yang sama di batas daratan yang landai. Kaki mereka menghantam pasir kering yang kasar, lalu memijak pasir basah yang lebih padat dan dingin, hingga akhirnya mereka berdiri tanpa jarak sedikit pun dengan ombak yang datang dan pergi menyerupai napas raksasa yang sedang tertidur pulas.
“Ayo cepat, lamban sekali kalian!” teriak Ayif, menoleh dengan lambaian tangan yang membelah udara asin.
“Siapa yang paling duluan dijilat ombak, dia pemenangnya!” sahut Irfan, suaranya timbul tenggelam, nyaris tertelan utuh oleh deru perkasa suara laut.
Dema, Rika, Lusia, dan aku pun ikut berlari, saling mengejar menyerupai detak jam yang tak ingin kalah cepat dari detak kebahagiaan. Kami tertawa hingga sesak, tersandung oleh kegembiraan sendiri, bahkan hampir jatuh terjerembap, lalu bangkit lagi dengan binar mata yang sama. Semuanya terjadi begitu natural, tanpa perlu rencana, tanpa perlu logika saat lidah air pertama menyentuh kulit kaki, dinginnya menjalar seperti kesadaran yang datang tiba-tiba, membawa kami untuk benar-benar ada di sana, di pusat sebuah hari yang sebentar lagi akan segera mengkristal menjadi kenangan yang abadi.
Namun tiba entah mengapa, di antara pusaran rekreasi yang gegap gempita itu, antara keberangkatan dan kepulangan, membuatku merasa tidak benar-benar mampu mencecap kenikmatan itu secara utuh. Terutama saat-saat perjalanan pulang tiba muncul semacam bagian tersembunyi dari dalam diriku yang tertinggal di tempat lain, atau mungkin ia sedang berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat dari kawan-kawanku yang lain. Terutama setelah Pak Ateng membuka mulutnya dan bercerita tentang Wawacan Panji Wulung. Dengan suaranya mengalir tenang menyerupai aliran sungai purba yang membawa sedimen makna lebih dalam dari sekadar dongeng pengantar tidur. Ia yang kemudian meminta Dema untuk melantunkan tembang Pupuh Kinanti, Maskumambang, Pungkur, hingga Magetru, menyebut beberapa dari tujuh belas pola pupuh yang ia simpan rapi di kepalanya, seolah ia adalah penjaga waktu yang mengunci sejarah dalam ingatan.
“Coba, Dema… mulailah dengan Kinanti,” ujar Pak Ateng. Suaranya datar tapi mengandung tekanan halus yang memiliki wibawa tak terjelaskan.
Dema mengangguk khidmat, lalu mulai menembang. Suaranya sempat bergetar ragu di awal, namun perlahan ia menemukan jalannya sendiri di udara, meliuk di antara dahan-pohon dan debur ombak. Kami semua mendadak terdiam, bahkan laut seolah-olah menarik diri sejenak, merendahkan suaranya untuk memberi panggung bagi vibrasi suara itu.
Lalu di penghujung tembang, Pak Ateng mulai nge-dangding dengan cengkok khasnya yang mendayu, sebuah suara yang terdengar seperti angin senja yang membawa pulang segala sesuatu yang tak sempat terucap di siang hari.
“Mun ujang nyiar pangarti, terus sakola ka kota, sing jadi murid rancage, bener pinter bari sehat, mekaheman ka sasama…”
Lirik itu tidak hanya mampir di telinga, tetapi meresap pelan dan menghujam dalam, menyerupai rintik hujan yang tidak deras tapi mampu membasahi tanah hingga ke akar-akar yang paling sunyi. Di tengah hiruk-pikuk rekreasi yang seharusnya terasa ringan, kata-kata itu justru menetap menyerupai batu kecil yang jatuh ke dasar sumur hati, yang tak terlihat dari permukaan, namun terasa keras dan dingin setiap kali aku mencoba melangkah menuju masa depan yang tak pasti.
Lama-kelamaan, keriuhan itu pun menemui titik jenuhnya. Dari lagu-lagu yang tadi mengepak lincah menyerupai sayap, kini perlahan luruh menjadi pengulangan yang berputar melelahkan di tempat yang sama, serupa angin yang kehilangan kompas dan kehabisan arah di tengah padang sunyi. Kami berhenti bernyanyi, berhenti melantunkan bait-bait pupuh yang kami hafal, seolah-olah pita suara kami telah menyentuh garis batasnya sendiri dan memilih untuk rebah. Di dalam bak mobil yang mulai merayap pulang menembus sore, suasana berganti rupa yang tak lagi hingar-bingar, melainkan menghangat dalam cara yang lebih tenang, menyerupai bara merah yang tersisa di balik abu setelah api besar perlahan padam dipeluk malam.
Kami pun mulai bertukar tanya dengan nada yang lebih rendah, seperti orang-orang yang baru sadar bahwa gerbang perjalanan ini hampir tertutup rapat dan ingin meninggalkan jejak terakhir lewat barisan kata.
“Kalau nanti masuk SMP, kalian rencananya mau melangkah ke mana?” tanya Dema. Suaranya terdengar santai, tapi seperti sedang melempar sebuah kerikil tajam ke permukaan danau yang diam, menciptakan riak-riak tanya yang merambat ke setiap sudut hati kami.
Pembicaraan pun mengalir, pelan namun pasti, menyerupai aliran sungai yang dengan sabar menemukan jalurnya sendiri di antara bebatuan takdir. Saat itu, Dema, Ayif, dan aku akhirnya bersepakat, atau setidaknya kami sedang berusaha memahat sebuah kesepakatan untuk melabuhkan pilihan pada SMPN 3 Pancatengah. Janji itu terasa begitu ringan namun sakral, diucapkan di atas ketidaktahuan kami yang masih murni mengenai masa depan, serupa anak-anak yang dengan berani menunjuk sebuah bintang terjauh dan bersumpah akan mencapainya tanpa pernah benar-benar paham seberapa triliun kilometer jarak yang harus ditempuh.
“Biar kita bisa tetap bersama, biar ceritanya tidak lekas tamat,” kata Ayif singkat, namun cukup kuat untuk membuat kami serentak mengangguk, seolah kebersamaan adalah satu-satunya jangkar yang ingin kami tancapkan kuat-kuat di tengah badai perubahan yang mulai mengintai.
Namun tiba-tiba, Irfan mengalihkan kemudi pembicaraan dengan hentakan yang tak terduga, menyerupai angin badai yang memutar arah layar tanpa peringatan kompas. Ia menoleh ke arah Lusia, yang sejak tadi lebih banyak mendekap diam, seolah ia sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar di dalam lipatan bajunya yang tak ingin segera dibagikan kepada dunia.
“Lusia, sekolahmu tetap menetap di sini atau kau akan pulang kembali ke Bandung?” tanya Irfan.
Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, namun entah mengapa ia terasa seperti ketukan keras pada sebuah pintu di dalam dadaku, sebagai sesuatu yang sebelumnya tidur dengan tenang, lalu tiba-tiba terjaga dan bergetar tanpa alasan yang mampu kupahami. Kemudian aku mendapati diriku memperhatikan Lusia lebih lama dari biasanya. Dengan menatap lekat pada setiap gerak bibirnya, seolah-olah jawaban yang akan keluar dari sana adalah sebuah vonis yang akan menentukan nasib sesuatu yang bahkan belum sempat kuberikan nama.
“Belum tahu pasti… mungkin aku akan pulang,” jawab Lusia dengan suara yang liris dan tipis, matanya menatap kosong ke luar bak mobil, seakan jawaban itu bukan hanya dilemparkan untuk kami, melainkan juga sebuah bisikan ragu untuk dirinya sendiri yang sedang bimbang.
Dan tepat pada detik itu, aku merasai sebuah sengatan ganjil. Seperti ada sepercik api kecil yang mendadak menyala dan membakar dinding dadaku. Bukan karena jawaban Lusia yang menggantung, melainkan hanya karena melihat Irfan yang mengajukan pertanyaan itu. Sebuah rasa yang belum memiliki definisi di dalam kamus remajaku, namun cukup kuat untuk membuatku memilih bungkam lebih lama dari biasanya, tenggelam dalam kecamuk yang tidak kumengerti.
Tak lama kemudian, Irfan kembali memecah keheningan, kali ini ia berpaling kepada kami yang tadi telah bersepakat masuk ke SMP yang sama. Intonasi suaranya berubah menjadi lebih tegas dan berat, menyerupai seseorang yang telah mengasah argumennya tajam-tajam sejak awal perjalanan dimulai.
“Aku memutuskan untuk masuk MTs saja,” ucap Irfan tiba-tiba, suaranya jatuh dengan dentum yang solid, bak sebuah nada yang sengaja tidak menyisakan sedikit pun celah bagi keraguan untuk menyusup.
Kami serentak menoleh, memaku pandangan padanya, menanti kelanjutan kalimat yang seolah baru saja membelah arus rencana kami.
“Agar aku bisa mengenakan celana panjang. Jika masuk SMP, aku merasa kita hanya akan memperpanjang masa kanak-kanak. Tetap terkungkung dalam celana pendek yang sama. Aku sudah tumbuh, aku sudah besar.. dan duniaku harus mulai terbaca berbeda dari sekadar anak SD,” lanjutnya lagi.
Kata-katanya meluncur menyerupai anak panah yang dilepaskan dari busur takdir, tidak melesat terlalu bising, tapi ujungnya menghujam tepat pada sasaran. Memaksa kami untuk bungkam dan menelan ludah sejenak. Merasakan ada wibawa ganjil dalam cara Irfan menyusun kalimatnya. Mungkin karena darah seorang kiai mengalir deras di nadinya, atau mungkin karena telinganya sudah terlalu akrab merekam gema pidato ayahnya yang bergetar dari mimbar ke mimbar.
Ucapannya selalu terasa memiliki bobot yang lebih berat dari sekadar susunan alfabet biasa. Padahal, di sisi lain, kami sangat mengenal sisi dirinya yang lembut, seorang anak yang lebih karib dengan getaran seni dan palung rasa yang tak selalu bisa dijinakkan oleh logika kaku. Tetapi mungkin di sanalah letak letupan perbedaannya. Irfan berdiri di ambang dua dunia sekaligus, dan ia mampu memanggil kekuatan dari keduanya untuk membungkam lawan bicara.
Kami semua terdiam, seolah kehilangan kosakata untuk menimpali kebenaran versinya. Keheningan yang tercipta di atas bak mobil itu bukanlah ruang kosong, melainkan sebuah bejana yang penuh sesak oleh pikiran yang berputar hebat dan benih keraguan yang mulai tumbuh melilit kaki-kaki rencana kami.
Dema akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara. Suaranya memecah kesunyian menyerupai bongkahan batu yang dijatuhkan paksa ke permukaan air yang terlalu tenang hingga menimbulkan riak yang gaduh.
“Tapi SMP adalah sekolah negeri, Irfan. Sebuah institusi dengan kejelasan, bukan sekadar sekolah swasta yang statusnya terkadang hanya diakui di atas kertas,” sahut Dema dengan nada yang diusahakan tetap tegar, meski ada getar kecil yang gagal ia sembunyikan di balik ujung kalimatnya.
Seketika, atmosfer di antara kami menegang menyerupai seutas tali busur yang ditarik kencang dari dua arah berlawanan. Tetapi Irfan seakan tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut. Ia justru membalas dengan sebuah manuver yang tak terduga, bukan dengan bantahan yang keras, melainkan dengan sebuah pertanyaan sederhana yang mengandung sembilu tersembunyi.
“Memangnya kalian tidak merasa kedinginan jika harus memamerkan lutut dalam celana pendek terus-menerus?”
Pertanyaan itu terdengar sangat ringan, bahkan nyaris menyerupai candaan yang dilempar di tengah kepulan debu jalanan. Namun entah mengapa, ia menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya, serupa awan mendung kecil yang menolak untuk beranjak pergi. Membuat kami saling lempar pandang, lalu tawa kecil pecah di antara kami. Memunculkan tawa yang lahir bukan karena kelucuan yang murni, melainkan karena kami benar-benar tidak tahu bagaimana cara meruntuhkan logika sederhana itu.
Dan di dalam sela-sela tawa yang getir itu, aku mulai menyadari bahwa percakapan ini telah bermutasi. Ia bukan lagi sekadar perdebatan tentang pilihan sekolah atau tentang sepotong kain celana panjang dan pendek. Pembicaraan ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih fundamental dan merisaukan tentang bagaimana kami mendambakan pengakuan, tentang bagaimana kami mati-matian mencoba terlihat "lebih besar" dan "lebih berkuasa" dari diri kami yang sebenarnya.
Padahal, di balik semua argumen itu, kami semua masih berdiri di atas ambang pintu yang sama antara sesosok anak kecil yang belum sepenuhnya tuntas, dan sesuatu yang asing di masa depan yang belum sanggup kami eja maknanya.
Pak Ateng, yang sejak tadi mendekap diam menyerupai seorang nelayan tua yang sedang mengamati riak air sebelum memutuskan kapan harus menjatuhkan jala, akhirnya mengangkat suara. Wajahnya tenang meredam badai, namun ada ketegasan yang mengendap di balik kelopak matanya seperti langit senja yang tampak cerah namun sebenarnya sedang menyembunyikan gumpalan hujan di balik punggungnya.
“Sudah, sudah.. cukup, cukup,” katanya pelan, diulang-ulang menyerupai mantra yang ingin menjinakkan gelombang egosektoral yang mulai meninggi di antara kami. Tangannya terangkat sedikit, sebuah isyarat halus namun penuh wibawa agar Irfan mengunci bibirnya, agar kata-kata tidak bermutasi menjadi belati yang lebih tajam dari yang mampu kami tanggung.
Kami pun perlahan meluruh dalam diam, menyerupai anak-anak yang tiba-tiba diingatkan oleh semesta bahwa ada garis batas suci yang tak boleh dilangkahi oleh kaki yang masih belepotan tanah. Lalu Pak Ateng mulai berpetuah dengan intonasi suaranya yang berubah, tak lagi sekadar menenangkan, melainkan mengalir jernih menyerupai mata air pegunungan yang membawa sedimen kearifan lebih dalam dari sekadar deretan nasihat basi.
“Kalian dengarkan baik-baik,” ujarnya, suaranya pelan namun bertenaga, seperti seseorang yang sedang menanam benih harapan di tanah yang ia doakan agar lekas tumbuh rimbun. “Mau melabuhkan langkah di SMP atau Madrasah, itu bukanlah perkara yang paling mendasar. Yang menjadi ruh dari segalanya adalah keinginan kalian untuk tetap mendaki tangga ilmu. Ingat itu baik-baik di dalam batok kepala kalian.. jangan sampai langkah kalian terhenti hanya di sini, di titik ini.”
Ia menjeda kalimatnya sejenak, sengaja memberikan ruang hampa agar kata-katanya jatuh berdentum dan meresap ke sumsum tulang, bukan sekadar lewat menyerupai angin lalu yang tak berbekas.
“Teruslah sekolah setinggi mungkin, setinggi cita-cita yang kalian simpan di bawah bantal. Buatlah Bapak dan Ibu kalian bangga. Buatlah orang tua kalian merasa bahwa peluh yang mereka peras untuk kalian.. tidak pernah menguap sia-sia menjadi debu.”
Kata-kata itu tidak menggelegar, tidak pula bertele-tele, tapi cukup memiliki berat dengan jenisnya tersendiri. Menyerupai batu kecil yang dilemparkan ke telaga dada, menciptakan lingkaran-lingkaran kesadaran yang meluas tanpa suara. Tak ada satu pun dari kami yang berani memungut suara untuk menimpali. Suasana mendadak hening seketika, menyerupai hutan belantara yang tiba-tiba berhenti bernapas saat sesuatu yang teramat penting baru saja melintas di sana.
Setelah sabda petuah itu terucap, membuat warna percakapan kami tak lagi sama. Kami mulai mengobrol secara berpasangan dengan volume suara yang lebih liris dan hati-hati, seolah kami takut akan mengusik sesuatu yang baru saja bersemi dalam keheningan batin masing-masing. Ada yang tertawa kecil dengan nada yang tertahan, ada yang hanya mengangguk-angguk khidmat, dan ada pula yang sekadar menjadi pendengar setia tanpa gairah untuk menyela.
Lalu, satu per satu dari kami mulai menyerah pada kantuk, terlelap dalam tidur ayam, sebagai kondisi di mana kesadaran masih setengah terjaga di antara rasa lelah yang menggelayut dan sisa-sisa aroma perjalanan yang belum tuntas.
Aku sendiri memilih untuk tetap terjaga dalam diam, mencuri pandang ke arah wajah Lusia yang duduk tepat di sampingku. Wajahnya tampak berkali lipat lebih tenang dari biasanya, menyerupai permukaan telaga yang sedang menyimpan rahasia dalam yang tak ingin ia bagikan kepada siapa pun. Helai rambutnya bergerak lincah dipermainkan angin sore yang menyelinap dari celah mobil, dan di dalam matanya yang sayu, ada bayangan jarak yang teramat jauh, sebuah cakrawala yang tak mampu kutebak maknanya.
Aku menatapnya lebih lama dari batas kewajaran, menyerupai seorang pembelajar yang sedang mencoba mengeja naskah kuno yang tak pernah dituliskan di atas kertas manapun.
Sejenak, ia seolah merasakan tatapanku dan hendak menolehkan kepalanya. Lalu dengan kecepatan yang dipicu oleh rasa gugup, aku segera membuang pandangan, meluruskan mata ke arah depan, memaku perhatian pada jalanan yang terus merentang menyerupai garis panjang yang tak pernah benar-benar sudi menjelaskan di mana ia akan menemui ujungnya. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, menyerupai langkah seseorang yang baru saja tertangkap basah melakukan sebuah pencurian kecil yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya paham mengapa ia melakukannya.
Aku mencoba menyesap kembali setiap suku kata yang dilepaskan Pak Ateng, membiarkannya mengendap di dasar benakku. Kata-katanya berputar pelan di dalam kepala menyerupai piringan hitam tua yang tak lagi diputar, namun melodinya tetap bergema lamat-lamat di sela-sela kesadaran. Tentang sekolah yang menanti di ujung jalan, tentang punggung orang tua yang kian membungkuk, dan tentang masa depan yang saat itu masih tampak seperti daratan asing yang diselimuti kabut tebal yang jauh, samar, dan tak terjamah.
Dan entah mengapa, frekuensi nasihat itu tiba-tiba menarik paksa jangkar ingatanku pada satu sosok yang telah lama menetap dalam heningnya ruang kenangan: Nenek.
Memoriku mendadak terlempar pada fragmen dua tahun silam, saat aku duduk bersisian dengannya dalam perjalanan menuju Tasikmalaya, pergi ke kota yang di mataku waktu itu terasa menyerupai raksasa yang riuh. Kami pergi untuk menemui Ayah dan perjalanan kala itu sama sekali tidak diwarnai sorak-sorai menyerupai hari ini, tidak pula dibalut tawa renyah kawan-kawan yang meledak di atas bak terbuka. Namun, ada getaran lain di sana sebagai sesuatu yang lebih khidmat dan dalam, menyerupai kedalaman air sumur tua yang tak pernah beriak tapi menyimpan kedinginan yang mampu menembus tulang.
“Nanti, jika raga dan pikiranmu sudah cukup tangguh, kau harus mengejar sekolah setinggi langit yang bisa kau tatap,” bisik Nenek waktu itu. Suaranya begitu halus, hampir menyerupai desau angin yang takut mengusik ketenangan dunia yang sedang tertidur.
Aku hanya sanggup mengangguk kecil, sebuah kepatuhan polos tanpa benar-benar mampu menyelami palung maknanya.
“Biar garis hidupmu tidak berakhir serupa orang-orang sini… yang hanya ditakdirkan untuk mengantar, namun tak pernah diizinkan benar-benar sampai ke tujuan utama,” lanjutnya lagi. Matanya menatap nanar ke luar jendela, seolah di garis cakrawala itu, sisa-sisa masa lalunya yang pahit dan bayangan masa depanku yang masih putih sedang berjabat tangan dengan sangat erat.
Kini, di dalam mobil yang menderu membawa kami pulang dari pelukan laut, kata-kata Nenek itu kembali pulang. Ia yang datang dan bertaut mesra dengan suara Pak Ateng, saling mengunci menyerupai dua garis nasib yang akhirnya menemukan titik persilangan di dalam dadaku.
Aku tenggelam dalam diam yang jauh lebih pekat.
Di antara gerung mesin mobil yang mulai kepayahan, desau angin yang membawa aroma garam, dan irama napas teman-temanku yang kian teratur dalam dekapan tidur, aku mulai merasai sejenis kesadaran yang tumbuh perlahan menyerupai lumut di sela batu. Bahwa perjalanan menuju Batukaras ini sesungguhnya bukan sekadar tentang perjumpaan dengan ombak atau tentang tawa yang pecah di bawah terik matahari. Ini adalah tentang sesuatu yang jauh lebih dalam dan kolosal tentang sebuah jalan panjang yang baru saja membukakan pintunya, tentang pilihan-pilihan kecil yang diam-diam sedang menyusun peta ke mana kaki kami akan melangkah pergi.
Dan pada detik itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasai sebuah getaran hebat terasa bahwa masa depan bukan lagi sekadar kosakata abstrak yang sering diumbar oleh orang-orang dewasa di mimbar-mimbar pidato. Masa depan adalah sosok nyata yang sedang berjalan tenang ke arah kami, mendekat dengan pasti, tanpa sedetik pun memberi kami celah untuk menghindar atau bersembunyi.
Mobil terus melaju, merayap perlahan menyerupai detak waktu yang mendadak enggan berlari terlalu kencang, seolah-olah semesta sedang memberikan kami satu kesempatan terakhir untuk benar-benar menyesap saripati dari setiap peristiwa yang baru saja kami lalui. Jalanan yang beberapa jam lalu kami terjang dengan keriuhan yang pongah, kini terasa bermutasi wajah, menjadi lebih sunyi, lebih kontemplatif, dan lebih dalam. Menyerupai sebuah kalimat panjang yang melelahkan yang akhirnya berhasil menemukan titik pemberhentiannya.
Di cakrawala jauh, langit mulai mengganti jubahnya. Dari benderang yang terang-terangan menantang mata, menjadi redup yang diam-diam merayap masuk, seperti sebuah hari yang sedang belajar cara berpamitan paling liris tanpa perlu banyak suara. Dan di dalam kotak besi itu, kami menyadari bahwa raga kami tak lagi sama seperti saat keberangkatan tadi pagi. Ada kepingan jiwa yang sengaja kami tinggalkan tertimbun di pasir pantai, dan ada sesuatu yang asing namun berat yang kini ikut menyelinap pulang bersama kami.
Aku menyapukan pandang pada bentangan aspal di depan yang garisnya lurus menusuk sepi, lalu tiba-tiba berbelok patah, lalu hilang ditelan rimbun pepohonan, dan muncul kembali dengan angkuh. Menyerupai siluet masa depan yang tak pernah benar-benar mengizinkan kami untuk menatap wajahnya secara utuh. Dan sesekali aku mencuri lirik ke arah teman-temanku, pada pemandangan yang fragmentaris. Melihat wajah-wajah mereka satu persatu, ada yang masih terlelap dalam dekapan mimpinya, ada yang matanya setengah terbuka menahan kantuk yang liat, dan ada pula yang menatap kosong ke luar seolah-olah ia sedang terlibat dalam perdebatan hebat dengan pikirannya sendiri yang tak kunjung usai.
Lusia masih di sana, tepat di sebelahku yang tak jauh, membeku dalam diam yang tenang menyerupai sebuah bab penting dari buku cerita yang sengaja belum kuselesaikan tulisannya. Aku merasakan dorongan hebat untuk membisikkan sesuatu, apa saja, untuk sekadar memecah kebekuan. Tetapi kata-kata itu seolah memilih untuk tetap meringkuk di dalam tenggorokan, enggan untuk keluar ke udara terbuka, seolah-olah mereka takut akan meretakkan keheningan yang sudah terasa teramat rapuh ini.
“Besok… kita masih akan saling menemukan, kan?” tiba-tiba aku berbisik pelan, suaranya hampir karam sebelum sempat mengudara, lebih menyerupai sebuah pertanyaan ganjil yang kulayangkan pada sang Waktu daripada kepada sosok manusia di sebelahku.
Tak ada jawaban yang seketika menyambar. Hanya desau angin yang lewat tanpa permisi. Hanya deru mesin yang tetap setia menemani kesunyian kami dengan ritme yang monoton.
Mungkin memang benar, tidak semua tanya di dunia ini harus segera menemui jawabannya pada saat yang sama. Ada beberapa pertanyaan yang memang harus dibiarkan menggantung tak bertuan di udara, agar ia tetap memiliki napas untuk hidup lebih lama di dalam palung ingatan kami masing-masing.
Perlahan namun tajam, kesadaran itu menyusup kembali ke sela-sela napas, sebagai kebenaran pahit bahwa ini adalah salah satu fragmen hari terakhir kami sebagai sekawanan anak-anak yang utuh, sebelum tangan dingin dunia mulai memecah dan melempar kami ke arah mata angin yang berbeda-beda. SMP, madrasah, keriuhan kota, atau keheningan desa yang menetap, semuanya tampak seperti jalan-jalan setapak yang akan merenggang menjauh satu sama lain, meski pada mulanya kami berangkat dari satu titik nadi yang seragam.
Dan kini aku mulai mengerti, walau pemahaman itu masih tertutup kabut samar, bahwa kebersamaan sesungguhnya tidak pernah menjanjikan keabadian. Ia hanyalah pengelana yang singgah sebentar untuk memulas warna pada kanvas hidup masing-masing kami, lalu melangkah pergi tanpa pernah bisa dipaksa untuk kembali pulang.
Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan seluruh simfoni suara itu melebur menjadi satu kesatuan yang utuh, antara ledakan tawa, pecahan nyanyian, debur ombak yang perkasa, nasihat yang merujam, hingga keheningan yang mencekam, semuanya bertumpuk menyerupai lapisan-lapisan waktu yang saling mengunci, membentuk sebuah monumen yang kelak dengan rindu akan kusebut sebagai kenangan.
Dalam kegelapan singkat di balik kelopak mataku, aku seolah melihat siluet kami semua diputar kembali. Diputar bagai roll film saat tampak sosok-sosok kecil yang berlari menantang angin di pantai, suara-suara sumbang yang beradu di jalanan, perdebatan sengit tentang masa depan yang masih abstrak, hingga saat kami semua terpekur bisu mendengarkan petuah sederhana namun memiliki kedalaman yang tak terukur.
Saat aku membuka mata kembali, lanskap jalanan masihlah sama, mesin mobil masih menderu lelah, dan sang waktu perlahan merayap menuju ujung usianya. Sementara di dalam rongga dadaku, aku merasakan ada sesuatu yang telah bergeser dan bermutasi, sesuatu yang teramat kecil yang nyaris tak kasatmata, tapi cukup kuat untuk memberitahuku bahwa aku tidak lagi sepenuhnya anak kecil yang sama seperti saat matahari terbit pagi tadi. Ada lapisan kepolosan yang tanggal dan luruh di sepanjang aspal yang kami lalui.
Dan mungkin, dari seluruh rangkaian peristiwa yang memarut emosi hari itu, bukanlah hamparan pantai yang akan paling awet mendekam dalam ingatan, bukan pula nyanyian atau tawa yang pecah berserakan di sepanjang jalanan berdebu, melainkan sebuah perasaan halus yang tak mampu dijabarkan oleh kamus manapun, serupa getaran saat pertama kali menyadari bahwa arus hidup akan terus mengalir menderu, dengan atau tanpa kesiapan kita untuk menceburnya.
Itu adalah sebuah perpisahan yang tidak pernah diumumkan lewat pelantang suara, tidak pula dituliskan dalam surat resmi, tetapi diam-diam telah memulai langkah pertamanya di dalam sunyi. (Bersambung)