Perjalanan hari itu terasa seperti halaman buku yang mendadak terbuka sendiri, menyuguhkan bagian yang tak pernah kami rencanakan. Setelah sekian banyak cerita perjalanan yang memenuhi kepala, aku mengira petualangan ini akan berakhir dengan kepulangan yang sederhana, pulang dari kantor Disdik lalu pulang melaluu jalanan yang sudah kukenal. Rupanya, hari itu masih menyimpan cerita yang justru melekat lebih dalam di ingatan karena ia datang tanpa pemberitahuan awal.
“Untuk buah tangan pulang, kita panen salak dulu. Bapak punya kebun di Cineam,” ujar Bapak Kepala sembari menyunggingkan senyum tipis. Kalimatnya sederhana yang terdengar seperti undangan memasuki sebuah dunia yang berbeda, dunia yang sepertinya lebih tenang, lebih bersahaja, dan sebentar lagi lebih dekat pada tanah garapan perkebunan salak. Kami saling berpandangan mencoba meraba-raba rupa kebun yang belum pernah tersentuh itu. Dalam perjalanan membayangkan keadaan tanah dan pohon-pohon salak berdiri kaku seperti barisan penjaga waktu.
Begitu turun dari bus, Bapak Kepala langsung menggiring langkah kami menuju kebunnya. Ia tak membawa kami ke rumahnya di Cimahpar terlebih dahulu. Seolah baginya, rumah bukanlah tujuan utama hari itu. Seakan ia ingin menyuguhkan kepada kami sebuah pengalaman mentah yang langsung dari akarnya. Dan perjalanan menuju kebun itu terasa membentang jauh dan lebih panjang dari apa yang sanggup kubayangkan. Kami menyusuri jalanan setapak seolah sedang berjalan memasuki halaman tersembunyi dari kehidupan seseorang yang sebelumnya hanya kukenal dalam batas-batas kaku ruang kelas. Dan bahkan kemudian jarak antara rumah dan kebunnya terasa seperti jurang pemisah antara dua jagat yang berbeda. Rumah sebagai ruang pribadi yang tenang, dan kebun sebagai dunia kerja yang keras, di mana manusia beradu langsung dengan bumi.
Begitu sampai lokasi, tanpa persiapan layaknya petani sungguhan, tanpa alat pencukil apalagi sarung tangan pelindung, kami mulai memanen dengan alat seadanya yang kami temukan di sepanjang jalan. Tanganku, yang biasanya di kelas hanya akrab memegang buku dan pena, kini dipaksa berhadapan dengan duri-duri salak yang tajam dan tak mengenal belas kasihan. Berkali-kali duri itu menghujam telapak dan jemariku. Rasa perih yang menjalar kemudian terasa seperti sebuah pelajaran berharga tentang jenis pengetahuan yang takkan pernah sanggup diajarkan oleh kapur di atas papan tulis.
Aku hanya mengeluh dalam hati. Rasanya aku sudah dibuat sengsara saat aku masih mengenakan seragam sekolah. Pakaian yang biasanya melambangkan kerapian dan kedisiplinan, kini tercampur dengan debu kebun dan rasa perih di kulit. Seragam putih merah itu seperti menjadi saksi bahwa dunia belajar ternyata tidak selalu berada di dalam kelas. “Belajar itu tidak selalu duduk di bangku,” kata Bapak Kepala sambil tersenyum melihat kami yang mulai kelelahan. “Kadang harus merasakan tanah juga.”
Aku hanya mendengar dengan sepenuh takzim, memperhatikan kata-katanya yang berjatuhan dan tertinggal di kepala seperti gaung yang sulit diabaikan. Saat memetik salak, mungkin aku telah berkata-kata karena lelahnya, tetapi tanpa bersuara tentang seharusnya esok hari aku dan Dede sudah kembali sekolah. Pikiran itu terus muncul seperti alarm yang berdering di kepala. Tetapi dengan kuasa kepala sekolah semuanya terasa bisa diatur tanpa kerumitan. Kami tidak perlu membuat surat pemberitahuan bahwa satu hari lagi tidak akan masuk belajar di kelas. Rasanya seperti berada di wilayah abu-abu antara aturan dan kelonggaran yang hanya bisa diberikan oleh orang yang memegang otoritas.
Kami tahu betul tentang aturan sekolah jika ada siswa tidak bisa hadir, maka siswa atau orang tuanya harus menitipkan surat keterangan izin tidak masuk. Meski hanya sepatah kata, meski tanpa amplop, yang penting ada tanda tertulis sebagai bukti tanggung jawab. Aturan itu seperti pagar kecil yang menjaga kedisiplinan, sesuatu yang diajarkan berulang-ulang agar tertanam dalam kebiasaan. Di sela perih yang menyengat jemari, tiba aku teringat kembali pada suara Ibu Guru di depan kelas. Suaranya selalu gema yang jernih, setegas garis lurus yang ditarik dengan penggaris kayu.
“Kita adalah kaum terpelajar,” ucap İbu Guru Enok suatu siang, seolah sedang menanamkan sebuah maklumat suci ke dalam kepala kami yang masih kanak-kanak. “Seorang cendekia haruslah terbiasa menulis.” Kalimat itu sederhana, yang terdengar di telingaku berbunyi lebih besar dari sekadar instruksi sekolah, bahwa menulis bukan lagi sekadar urusan tata bahasa, melainkan sebuah pernyataan diri. Sebuah cara untuk menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab pada dunia.
“Jika kalian tidak punya amplop,” lanjutnya dengan senyum yang teduh, “buatlah sendiri. Jadikan ia seperti amplop asli, yang tepiannya dihiasi garis-garis merah dan biru.” Aku kembali membayangkan bagaimana İbu Guru aaat menjelaskan proses itu dengan kesabaran yang meluap, seolah ingin meyakinkan kami bahwa keterbatasan materi bukanlah alasan untuk berhenti mencipta.
“Besok, siapkan selembar kertas HVS, gunting, lem, dan pensil warna,” pesannya lagi saat itu. “Kita akan belajar membuat amplop sendiri untuk pelajaran Keterampilan. Jangan sampai lupa!” Ucapannya waktu itu terasa seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dasar sumur dalam. Tidak ada dentuman keras, namun riaknya bergerak perlahan, meluas, dan menetap di batin hingga hari ini. Di tengah duri-duri salak yang terus menghujam kulitku, aku baru menyadari sebuah kebenaran yang getir. Pelajaran tentang menulis dan melipat kertas itu bukan sekadar urusan ketangkasan tangan. Tapi sebagai latihan yang mula-mula untuk para murid bahwa setelah besar nanti menjadi manusia dewasa harus mampu menyusun hidupnya sendiri, mampu mencipta sesuatu yang berguna minimal untuk dirinya sendiri.
Ibu Enok menjelaskan soal belajar penciptaan itu dimulai dari selembar kertas polos, dari membuat garis-garis kecil yang dirapikan dengan saksama, dan itu sesungguhnya kami sedang melatih diri untuk menata sesuatu yang tampak sepele, tapi di sanalah ketekunan sedang diuji. Seperti memanen salak pada setiap tusukan duri adalah jeda, dan setiap buah yang terpetik adalah kalimat yang berhasil diselesaikan dengan penuh perjuangan.
Namun pada hari aku tidak masuk sekolah iru. Dengan tanpa membuat amplop, tanpa membuat surat izin, dan tanpa sepatah kata pun sebagai pemberitahuan tidak masuk kepada Ibu guru telah kutemukan perasaan janggal. Bagiku saat itu ada rasa bersalah yang menggantung tipis, seperti awan yang belum tentu turun hujan. Tapi cukup membuat langit terasa mendung.
Aku tahu aturan sekolah dan ingin mematuhinya. Karena tahu bagaimana seharusnya seorang murid bersikap dan bertindak. Tetapi hari itu, segala sesuatu seolah berada dalam kendali Bapak Kepala dalam kehadiran dan ketidakhadiran kami di sekolah. Seolah kami telah mendapat restu diam-diam. Tidak masuknya aku dan Dede akan dimaklumi. Setidaknya begitu yang kupercayai saat itu. Meski di dalam hati tetap ada bisikan kecil yang mempertanyakan batas antara kelonggaran dan kedisiplinan yang ditetapkan otoritas seorang Bapak Kepala.
Kemudian aku berdiri, lalu jongkok lagi di antara pohon-pohon salak yang rapat. Kebun itu sunyi, hanya suara daun dan langkah-langkah kami yang bergesekan dengan belukar, dan sesekali bunyi buah salak jatuh pelan ke tanah berhasil kami tanggalkan dari pohonnya. Rasa perih di jari-jari menjadi semacam pengingat bahwa tubuh pun belajar dengan caranya sendiri.
Dalam kelonggaran karena otoritas Bapak Kepala, di sela-sela pekerjaan memanen salam, ingatanku melayang pada ruang kelas, pada papan tulis yang bersih, pada suara Ibu guru yang tegas tetapi hangat. Dan di titik itu, aku mulai mengerti bahwa belajar ternyata tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Sebab bisa hadir di bawah atap sekolah yang rapi, bisa juga saat di perjalanan panjang yang tidak direncanakan, atau bahkan di antara duri-duri kecil yang mengajarkan kesabaran tanpa banyak kata.
“Salak Cineam adalah salak paling terkenal se-Priangan Timur,” lanjut Bapak Kepala. Suaranya mengalir pelan seperti air yang turun dari lereng gunung. Tenang, stabil, tetapi membawa kekuatan yang tidak terasa memaksa. Membuat kami terdiam mendengarkan. Mendengarkan bukan karena diwajibkan, tetapi karena ada wibawa alami dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Ada rasa hormat yang tak terucapkan, seakan setiap tuturannya membawa serpihan sejarah yang lebih tua dari usia kami, serpihan yang perlahan disusun kembali menjadi cerita utuh tentang tanah, tentang kerja, dan tentang identitas yang tumbuh dari akar-akar yang dalam.
Aku memandangi buah salak yang baru saja kupetik, yang kulitnya keras dan berduri, tetapi di dalamnya tersembunyi rasa manis yang lembut. Saat itu aku merasa, mungkin hidup juga demikian ketika lapisan luar yang keras hanyalah bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih lembut di dalam. Dan hari itu, di tengah kebun salak, aku seperti sedang membuka satu demi satu lapisan itu. Dengan tangan yang perih, tetapi hati yang perlahan memahami apa arti sebuah belajar dari pengalaman langsung.
“Tahu Priangan Timur, De?” tanyanya kepada kakak seniorku itu. Dede yang sedang membersihkan duri-duri buah salak hanya merengah kecil. Seperti seseorang yang hendak menjawab, tetapi memilih membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.
“Priangan Timur itu meliputi Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Sumedang bagian selatan.” Bapak Kepala menjawab pertanyaannya sendiri dengan suaranya pelan yang mantap. Seperti guru yang tak sekadar menjelaskan peta, tetapi juga menghidupkan ingatan kolektif. Aku hanya jongkok sembari membersihkan duri-duri untuk proses memanen, membiarkan kata-kata dalam cerita tentang Parahyangan mengendap di kepala, seperti air teh yang perlahan berubah warna ketika didiamkan.
“Priangan itu berasal dari kata Parahyangan, Para-Hyang, tempat bersemayam Hyang Dewa di puncak ketinggian,” lanjutnya. Bapak Kepala berhenti sejenak, menatap jauh seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata. Lalu melanjutkan, “Sebuah kepercayaan dari moyang Galunggung yang menyebar ke seantero wilayah kekuasaan Pajajaran.”
Aku merasakan kalimat-kalimat itu seperti membuka pintu lama yang berderit pelan, yang di baliknya ada kisah panjang dan ada keyakinan yang pernah menjadi pusat dunia bagi banyak orang. Dede tersenyum tipis, lalu berkata, “Jadi bukan cuma nama tempat ya, Pak… tapi juga cerita.”
“Iya,” jawabnya lembut, “tempat selalu menyimpan cerita. Hanya saja kita yang sering lupa mendengarnya kembali.”
Dari percakapan itu perlahan terbentuk cerita yang kususun kemudian dalam pikiranku. Kemudian aeperti menyusun kepingan-kepingan kaca yang terpantul cahaya pagi dan senja. Bermula dari sistem kepercayaan bahwa Para Hyang bertahta di puncak Galunggung, keyakinan yang mungkin lahir dari rasa takjub manusia pada gunung yang menjulang seperti doa yang membeku. Bahwa pada masanya, kepercayaan itu meluas di masyarakat Sunda Pajajaran, meresap ke dalam cara mereka memandang alam, waktu, dan diri sendiri. Hingga akhirnya pernah dijadikan sebagai kepercayaan resmi kerajaan, di sebuah masa ketika langit dan bumi terasa lebih dekat, dan manusia percaya bahwa setiap langkahnya diawasi oleh sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar kekuasaan duniawi.
Aku mendengarkan dan mencatat diam-diam di dalam hati, sambil merasa perjalanan kami bukan lagi sekadar perjalanan memanen salak, tetapi perjalanan menyusuri jejak ingatan yang lebih tua dari cerita kami sendiri. Dan di antara kata-kata yang melayang itu, aku seperti menemukan ruang bernapas sebagai jeda panjang di mana sejarah, perjalanan, dan perasaan pribadi saling berkelindan tanpa perlu saling mendominasi.
Dari cerita Bapak Kepala itu, sejak kisah Para Hyang di Galunggung itu, lalu datanglah orang-orang Eropa, sebangsa Portugis, Belanda, dan Inggris yang mendarat singgah di pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa, pelabuhan milik penguasa Kerajaan Pajajaran yang saat itu berdiri seperti gerbang terbuka antara dunia lama dan dunia yang baru saja hendak berubah.
Kapal-kapal mereka berlabuh seperti burung asing yang membawa bau laut jauh, membawa bahasa yang belum akrab di telinga, serta membawa mata yang tajam memandang tanah ini bukan sekadar sebagai rumah, tetapi sebagai peta yang bisa diukur dan dikuasai. Dari pantai, mereka berjalan-jalan sebentar, menjejak pasir dan tanah yang mungkin terasa asing di bawah sepatu mereka, lalu mendongak, seolah ingin meneropong isi pedalaman yang masih tersembunyi di balik kabut.
Mereka menatap puncak Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, Gunung Padang, adalah gunung-gunung yang berdiri seperti tiang penyangga langit, yang diam dengan kokoh, namun seolah mengawasi setiap kedatangan manusia baru. Di sela-sela punggung gunung itu, bergerumbul rumah-rumah kampung, dengan atap-atapnya yang sederhana, untuk penghuninya bertahan dari hujan dan matahari, seperti doa-doa kecil yang tak pernah benar-benar berhenti dipanjatkan oleh penduduk asli di kaki dan lembahnya. Kemudian asap dapur naik perlahan, tipis seperti garis ingatan yang menghubungkan manusia dengan tanah tempat mereka berpijak. Aku membayangkan langkah-langkah para pendatang itu dengan sedikit kagum, sedikit curiga, dan sedikit merasa lebih tinggi seperti orang yang melihat dunia baru tetapi diam-diam ingin menamainya dengan bahasanya sendiri.
“Mereka menyebut para penduduk moyang kita adalah orang Parahyangan. Para penyembah Para Hyang,” kata Bapak Kepala dengan pelan yang mantap, seperti membaca ulang catatan lama yang terselip di antara halaman sejarah, yang dalam pengertian halus, maksudnya bahwa kami adalah pribumi yang memiliki sistem kepercayaan kepada Para-Hyang yang yang bersemayam di puncak-puncak ketinggian. Namun bahasa juga selalu punya dua wajah, antara satu tampak sopan, dan satunya lagi bersembunyi sebuah maksud.
“Maksud sebenarnya?” tanya Dede sambil mengangkat alisnya, seolah tahu ada sesuatu yang tak selesai di balik kalimat yang dilontarkan Bapak Kepala.
“Mereka sebenarnya hendak meledek,” lanjut Bapak Kepala. “Mereka melihat kita sebagai anak gunung, anak kampung, atau orang udik yang tinggal di lereng bukit-bukit.”
Bapak Kepala kemudian menghela napas pelan seperti seorang yang sudah terlalu sering mendengar kisah yang sama berulang sepanjang zaman. “Begitulah,” katanya lirih, “nama bisa menjadi pujian, bisa juga menjadi ejekan. Tergantung siapa yang memberi dan siapa yang mendengarnya.”
Mendengar kalimat itu seperti mengandung kesunyian kecil, kesunyian yang tidak kosong, melainkan penuh oleh kesadaran bahwa sejarah kerap ditulis oleh mata pandangan yang datang dari luar. Kata Parahyangan sendiri yang bagi leluhur mungkin berarti tempat suci, tempat tinggi yang dihormati, tetapi perlahan berubah menjadi label yang dipelintir. Inilah sebuah cara halus untuk menempatkan penduduk sebagai ‘yang lain’, sebagai orang-orang yang dianggap tertinggal di kaki gunung.
Tetapi gunung tidak pernah merasa rendah. Ia tetap berdiri, tetap diam, tetap menjaga ingatan yang lebih panjang daripada ejekan siapa pun. Dan di sanalah, di antara tafsir yang saling bertabrakan itu, identitas seperti berjalan pelan, yang kadang membuat bangga, kadang terluka, tetapi selalu mencari cara untuk kembali berdiri pada nama yang tertera. Nama Parahyangan akhirnya tidak berhenti sebagai sebutan yang lahir dari tafsir orang luar. Karena kemudisn perlahan berubah menjadi kebanggaan, atau setidaknya menjadi penanda yang diterima sebagai identitas. Menjadi sebuah nama yang seperti batu penunjuk jalan, menandai salah satu wilayah yang kemudian dikenal sebagai tanah Suku Sunda.
Kata itu, yang pernah bergeser antara pujian dan ejekan, akhirnya menemukan tempatnya sendiri dalam kesadaran kolektif, seperti sungai yang lama berkelok sebelum menemukan muara yang tenang. Ada proses panjang yang tak terlihat, proses ketika masyarakat mulai mengambil kembali nama itu, mengisinya dengan makna dari dalam, bukan sekadar dari pandangan mereka yang datang menamainya dari luar.
Di abad ke-18, sejak Belanda menguasai Batavia, perubahan mulai terasa seperti angin yang pelan tetapi pasti menggeser arah layar. Tanah Sunda tidak lagi hanya dipahami melalui kisah leluhur atau batas-batas alam, tetapi mulai diukur dengan garis-garis administratif yang digambar di atas peta oleh tangan-tangan kolonial. Wilayah itu kemudian dibagi menjadi beberapa bagian: Priangan, Banten, Bogor, Krawang, dan Cirebon, adalah nama-nama yang seperti potongan puzzle yang disusun ulang sesuai kepentingan penguasa kolonial.
“Jadi sejak tanah dibagi bukan hanya oleh gunung dan sungai, tapi oleh kebijakan,” kata Dede yang mulai mengerti. Dengan mencoba merangkum arus perubahan besar yang terasa getir yang menentukan.
Bapak Kepala mengangguk, “Ya. Peta seringkali lebih kuat dari cerita rakyat. Sekali digambar, orang-orang dipaksa percaya itulah batasnya.” Bahkan pembagiannya bukan sekadar soal wilayah, tetapi juga soal cara pandang baru terhadap ruang dan manusia. Jika sebelumnya tanah dipahami sebagai ruang hidup yang menyatu dengan mitos dan kepercayaan, selanjutnya dibuat menjadi unit administratif, diubah sebagai sesuatu yang bisa diatur, dihitung, dan diawasi.
Namun di balik garis-garis lurus pada peta kolonial itu, ingatan tentang Parahyangan tetap bernafas, seperti akar pohon tua yang tak terlihat tetapi tetap mengikat tanah agar tidak runtuh. Identitas tidak pernah sepenuhnya hilang, tetapi hanya berganti bentuk, menyelinap di antara perubahan zaman, yang bertahan dalam bahasa, dalam cerita, dan dalam cara orang menyebut dirinya sendiri.
Bapak Kepala melanjutkan cerita tentang Ibukota Kabupaten Priangan pada masanya pernah berkedudukan di Cianjur. Sebuah kota administratif yang seperti simpul awal dari jalinan wilayah yang begitu luas dan berlapis. Dari sana, kekuasaan mengalir seperti sungai yang berusaha menjangkau hulu dan hilir sekaligus, meski jaraknya jauh dan medan yang dilalui tak selalu mudah.
Wilayah Priangan begitu luas, seperti bentangan kain panjang yang sulit direntangkan hanya dengan satu tangan, sehingga secara sosio-geografis kemudian dibagi menjadi dua bagian besar, sebagai keputusan yang bukan sekadar administratif, tetapi juga cerminan bagaimana manusia mencoba memahami ruang yang terlalu luas untuk dirangkul sekaligus.
Ada Priangan bagian barat yang meliputi Cianjur dan Bandung, wilayah yang perlahan menjadi pusat gerak baru karena letaknya yang strategis dan berkembangnya aktivitas ekonomi serta pemerintahan. Sementara bagian timur, yang kemudian lebih dikenal sebagai Priangan Timur, mencakup Sumedang, Limbangan, dan Soekapura, dan daerah-daerah lain di antaranya, yang seperti halaman belakang dari rumah besar, yang tenang dan menyimpan denyut kehidupan yang tak kalah kuatnya.
Dengan adanya gunung-gunung yang berdiri seperti saksi tua, juga lembah-lembahnya yang menyimpan cerita rakyat, dan masyarakat hidup dalam irama yang lebih dekat dengan tanah dibandingkan dengan hiruk-pikuk pusat kekuasaan.
“Jadi pembagian itu bukan hanya soal jarak, ya?” tanya Dede kemudian.
“Bukan,” jawab Bapak Kepala, “itu juga soal bagaimana pemerintah kolonial melihat mana yang mudah diatur dan mana yang perlu diawasi lebih dekat.”
Seiring waktu, perhatian terhadap wilayah Priangan Timur semakin meningkat, seperti mata yang perlahan beralih fokus setelah menyadari ada sesuatu yang penting di sisi lain. Perubahan itu membuat pusat kekuasaan administratif bergeser, membuat ibukota kabupaten yang semula berada di Cianjur kemudian dipindahkan ke Bandung. Tepatnya di Bandung Selatan, adalah sebuah langkah yang terasa seperti memindahkan jantung agar aliran darah bisa menjangkau seluruh tubuh lebih cepat. Bandung yang kala itu mulai tumbuh menjadi titik temu berbagai jalur menjadi pilihan strategis, bukan hanya karena letaknya, tetapi juga karena potensi yang dilihat oleh penguasa kolonial untuk memperkuat kendali atas wilayah Priangan secara keseluruhan.
Namun di balik perpindahan itu, selalu ada cerita yang tidak tertulis di atas peta tentang perasaan orang-orang yang melihat pusat berpindah, tentang kebiasaan yang harus menyesuaikan diri, dan identitas yang perlahan bernegosiasi dengan perubahan zaman. Namun peta boleh berubah, ibukota boleh berpindah, tetapi ingatan tentang Parahyangan tetap berjalan diam-diam. Seperti bayang-bayang gunung yang tak pernah benar-benar meninggalkan tanahnya.
Bapak Kepala terus-menerus membenamkan cerita ke kepalaku. Sejak dari bus yang kami tumpangi menyusuri jalanan asing, sampai saat kami berjalan di kaki bukit, saat aku dan Dede hanya bisa mengekor ke mana nahkoda kepala berjalan, dan kami hanya ikut serta mengikutinya.
Karena hari sudah menjelang sore, kami pun menyudahi panen. Cahaya matahari mulai condong, warnanya berubah keemasan seperti halaman buku yang perlahan ditutup oleh waktu. Kami bersiap pulang, dengan berjalan kaki menuju rumah orang tua Bapak Kepala. Sebuah perjalanan akhir di hari itu, yang awalnya kupikir hanya bagian kecil dari hari itu. Tetapi ternyata menjadi ujian yang diam-diam mengubah juga cara pandangku tentang jarak dan ketahanan.
Aku dan Dede menggotong sekarung buah salak hasil panen kami. Untuk anak kelas lima SD sepertiku, beban itu terasa seperti dunia kecil yang tiba-tiba harus kupikul sendiri. Batang bambu buat menggotong karung yang menekan bahu, dan setiap langkah kakiku terasa berat. Melangkah seperti menapaki tangga yang tidak terlihat ujungnya terutama saat mendaki jalanan menanjak.
Kupikir jika hanya berjarak beberapa meter saja tentu tidak akan menjadi masalah. Namun ternyata perjalanan itu jauh lebih panjang dari yang kubayangkan, yang entah karena jalannya berliku, atau karena tubuh kecilku belum terbiasa memikul beban sebesar itu. Kami hanya terus saja menyusuri jalan setapak yang sempit, menaiki dan menuruni bukit bersemak, melewati rumah-rumah penduduk yang berdiri sederhana seperti saksi diam perjalanan orang-orang desa.
Kemudian jalanan mulai menyempit, tikungan-tikungan kecil datang silih berganti seperti pertanyaan yang tak perlu dijawab tergesa-gesa. Pepohonan berdiri rapat di kiri kanan, seolah menjadi lorong alami yang menuntun langkah kami. Angin masuk melalui celah dedaunan, membawa aroma tanah basah yang mengingatkan pada masa kecil, masa ketika perjalanan terasa panjang bukan karena jarak, tetapi karena rasa ingin tahu yang belum selesai.
“Kalau lewat sini, dulu orang-orang jalan kaki berhari-hari. Maka kita lakukan hari ini,” kata Bapak Kepala tiba-tiba, agar mata pandangan kami tetap fokus pada jalan yang menurun tajam.
Tak lama kemudian kami sampai pada sebuah sungai lebar, penuh batu-batu hitam besar yang tampak kokoh sekaligus mengintimidasi membayangkan jika orang terpeleset lalu kepalanya membentur batu itu.
Di arus sungai yang berbagi tempat dengan bongkahan batu-batu hitam, pasir dan kerikil, di atasnya terbentang jembatan yang goyang—disebutnya jembatan gantung, yang dibuat tidak ajek agar mampu menyeimbangkan diri terhadap arus dan angin. Jembatan itu terasa seperti ujian keberanian kecil bagi anak-anak seperti kami. Setiap langkah membuat papan kayu bergetar, seolah mengingatkan bahwa keseimbangan bukan hanya soal kaki, tetapi juga keberanian.
Dalam langkah berat memanggul beban, aku mencoba memusatkan titik berat pada tumit kaki. Gerakanku menjadi lambat, hati-hati, seperti seseorang yang sedang belajar berjalan kembali. Napasku memburu, pundakku terasa panas, dan karung salak itu semakin terasa seperti gunung kecil yang menempel di tubuhku.
Tetapi akhirnya kami sampai di seberang, dan kupikir sebelumnya bahwa perjalanan akan segera berakhir. Karena beberapa gerumbul kampung sudah mulai terlihat, dengan atap-atap rumah yang muncul di antara pepohonan seperti tanda yang membawa harapan. Namun ternyata tujuan kami masih jauh saat langkahku mulai bertatih-tatih, pundak berganti-ganti menopang beban yang sama, dan batang pematang bambu yang digunakan untuk memikul terasa semakin menekan, seperti garis keras yang menguji ketahanan tubuh kecilku.
Sementara itu, Bapak Kepala terus berseru dengan suara yang berusaha memberi semangat, “Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi tiba di rumah. Bertahanlah!” Kalimat itu diulang seperti mantra yang menjaga kami agar tetap kuat berjalan. Mulutku tidak berteriak mengaduh meski bahu terasa nyeri. Aku hanya menahan semua keluhan, seperti yang diajarkan di sekolah dan di rumah, bahwa anak harus kuat, harus sabar, harus patuh. Tetapi bagi seorang dewasa tentu bisa membaca bahasa tubuh yang tidak diucapkan, pada mimik wajah yang memerah, napas yang terengah, dan keringat yang membasahi punggung, hingga kumalnya seragam menempel pada kulit karena keringat.
Kami dididik agar selalu patuh dan taat. Dan mungkin karena itu pula, langkah kecil kami tetap maju meski tubuh ingin berhenti. Di sepanjang jalan, aku merasa bahwa perjalanan ini bukan hanya membawa sekarung salak menuju rumah, tetapi juga membawa pelajaran yang tidak tertulis tentang ketahanan, tentang kepatuhan, dan tentang bagaimana seorang anak belajar memahami dunia melalui beban yang harus ia pikul sendiri.
Barangkali itulah yang sedang kami jalani tanpa benar-benar kami pahami saat itu. Perjalanan panjang memanggul salak, menahan perih di pundak, menyusuri jalan setapak, menyeberangi jembatan gantung yang berayun pelan, semuanya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan semacam pelajaran diam-diam tentang ketahanan, tentang pelajaran bahwa tidak semua selalu mengajar dengan dan tentanf kata, kadang harus mengajar melalui situasi yang membuat murid berhadapan langsung dengan batas dirinya sendiri.
Saat akhirnya langkah kami memasuki halaman rumah orang tua Bapak Kepala, langit telah berubah warna menjadi jingga yang redup. Napas terasa berat, tangan gemetar menahan lelah, dan pundak masih berdenyut seperti menyimpan sisa perjalanan. Tetapi di dalam kelelahan itu ada rasa yang sulit dijelaskan, ada semacam kebanggaan kecil karena berhasil sampai, meskipun berkali-kali ingin menyerah di tengah jalan.
Kini, ketika ingatan itu datang kembali, aku memahami bahwa kepatuhan yang dulu kami jalani bukan sekadar soal tunduk pada perintah, melainkan tentang belajar mempercayai proses. Bahwa ilmu tidak selalu hadir dalam bentuk buku dan papan tulis, melainkan dalam pengalaman yang menuntut tubuh ikut merasakan, hati ikut mengerti, dan waktu ikut menjadi guru yang sabar.
Mungkin karena itu, pada perjalanan hari itu yang masih tinggal dalam ingatan adalah seperti gema yang tak habis. Di antara kebun salak, jalan berbatu, dan cerita-cerita yang mengalir dari mulut seorang guru, kami belajar sesuatu yang baru kami pahami bertahun-tahun kemudian bahwa menjadi manusia bukan hanya soal mengetahui, tetapi juga menjalani. Dengan berjalan jauh, memanggul berat, dan tetap melangkah meski tak tahu persis kapan tujuan akan tiba.
Dan senja itu sebuah pengalaman mengajarkan satu hal yang sederhana tapi dalam bahwa setiap perjalanan yang terasa berat pada masa kecil, diam-diam sedang membentuk cara kita memahami dunia, dengan pelan, sabar, dan penuh makna yang baru terbuka ketika kita menoleh ke belakang.
Karena itu, jika mengalami sakit, terimalah rasa sakit dengan kesadaran yang jernih. Bukan karena rasa sakit itu harus dipuja, melainkan karena di dalamnya sering tersembunyi pelajaran yang tidak segera tampak. Seorang guru mungkin tidak selalu sempurna, dan zaman berubah dengan hukum-hukum baru yang menilai segala tindakan dari sudut pandang yang berbeda. Tetapi apa yang dulu dianggap bagian dari proses pembentukan, hari ini bisa dipersoalkan sebagai pelanggaran.
Karenanya, begitu pula bahwa ingatan masa lalu tidak selalu berdiri dalam hitam dan putih. Hidup terkadang membawa kita berada di wilayah abu-abu, ketika tempat niat, kebiasaan, dan cara mendidik berkelindan dengan konteks zamannya.
Aku pun belajar menerima pengalaman-pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan memahami diri. Bapak Kepala, dengan segala cara yang kadang terasa berat bagi tubuh kecilku waktu itu, mungkin sedang menguji batas kesanggupan atau sekadar menjalani cara mendidik yang ia yakini benar. Pada pengalaman harus memanggul batang bambu panjang, pernah juga diajak menjaring ikan di balong tanpa imbalan, atau menjalani pekerjaan yang terasa jauh dari pelajaran sekolah, semuanya dulu terasa seperti beban yang tidak adil. Tetapi waktu, dengan caranya sendiri, akhirnya dapat mengubah ingatan menjadi cermin. Sebc dari sana aku melihat bukan hanya luka kecil, tetapi juga ketahanan yang diam-diam tumbuh dalam diriku.
Meski begitu, pemahaman ini bukan berarti membenarkan segala bentuk penderitaan. Justru ia mengajak kita melihat lebih jernih bahwa pendidikan seharusnya menumbuhkan, bukan merendahkan. Pendidikan harus menguatkan, bukan mematahkan. Demikian pula rasa sakit yang membangun adalah rasa sakit yang memberi makna, bukan yang meninggalkan luka tanpa arah. Maka di antara kenangan itu, aku belajar membedakan antara kepatuhan yang lahir dari hormat dan kepatuhan yang lahir dari ketakutan.
Pesanku wahai para murid, janganlah mudah mengeluh, tetapi juga jangan kehilangan keberanian untuk memahami diri sendiri. Setiap tugas, setiap kesulitan, setiap perjalanan yang melelahkan, bisa menjadi latihan menyusun kekuatan batin. Pepatah lama mengatakan bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Meski mungkin yang lebih tepat adalah bersakit-sakitlah dengan kesadaran, agar kelak engkau mengerti mengapa engkau pernah berjalan sejauh itu.
Dan jika suatu hari terasa bahwa perjuangan tidak segera berbuah kebahagiaan, jangan tergesa menyebutnya sia-sia. Sebab ada jenis kebahagiaan yang tidak datang sebagai pesta, melainkan sebagai kedewasaan yang diam-diam tumbuh di dalam diri. Ia yang hadir pelan, seperti senja yang turun tanpa suara. Karena ketika kau menoleh ke belakang, barulah sadar bahwa seluruh perjalanan itu telah membentukmu menjadi seseorang yang lebih utuh.
Langkah demi langkah hidup mungkin terasa semakin berat, seolah setiap meter perjalanan menambah beban yang tak hanya berada di pundak, tetapi juga di napas yang mulai tersengal. Saat senja turun perlahan di atas perbukitan Pakidulan, langit berubah jingga pucat, dan bayang-bayang pepohonan memanjang seperti garis-garis waktu yang tak bisa ditarik kembali.
Kakiku terasa kaku, pundak berdenyut, dan telapak tangan masih perih oleh duri salak yang tertinggal sebagai tanda kecil dari kerja hari itu. Ketika akhirnya tampak rumah orang tua Bapak Kepala di kejauhan, rumah sederhana yang berdiri di antara kebun dan semak, membawa rasa lega yang tidak bisa diucapkan. Begitu dikatakan sampai, aku dan Dede hampir menjatuhkan karung salak begitu saja sampai di halaman. Sebab nafas kami berat, dada naik turun seperti ombak kecil yang tak mau reda. Di tubuh anak kelas lima dan enam SD, perjalanan itu terasa seperti ekspedisi panjang yang menguji batas kemampuan kami.
Tampaknya rumah orang tua Bapak Kepala suasana ha hangat. Bukan karena bangunannya yang besar, melainkan karena cara orang-orang di dalamnya menyambut kami. Saat ayahnya Bapak Kepala duduk di kursi kayu panjang, tampak wajahnya yang teduh dengan garis-garis usia yang tampak seperti peta perjalanan hidup. Lampu temaram menggantung di tengah ruangan, mengusir gelap tetapi tetap menyisakan suasana hening yang akrab. Kami diberi air minum, lalu duduk bersila, diam, masih mengatur napas.
Sebelum kami benar-benar beristirahat menyambut malam, kami diajak mandi sore ke pemandian umum. Dari halaman rumah, kami menuruni tangga demi tangga yang tersusun dari tanah dan batu, melandai menuju lembah kecil di bawah kampung. Udara di sana terasa lebih dingin, lembap oleh naungan pepohonan dan suara air yang mengalir pelan. Di sisi jalan tampak beberapa kolam ikan, airnya jernih memantulkan cahaya senja yang tersisa, sementara riak-riak kecil bergerak setiap kali ikan muncul ke permukaan seolah menyambut kedatangan kami.
Belum lama kami tiba, seorang tetangga, atau mungkin saudara jauh Bapak Kepala datang menyapa dengan ramah. “Pulang, Pak Guru?” tanyanya, nada suaranya akrab seperti orang yang telah lama saling mengenal.
Bapak Kepala menjawab sambil tersenyum, dan keduanya berbincang santai sebagai sesama orang Cimahpar, Cineam, bertukar kabar tentang kebun, musim panen, dan keadaan kampung yang terasa lebih dekat daripada jarak yang kami tempuh hari itu.
Bapak itu lalu menoleh kepadaku, memandang dengan rasa ingin tahu yang hangat. “Nak, dari mana?” tanyanya.
“Dari Tawang,” jawabku cepat, tanpa banyak berpikir. Namun sebelum percakapan berlanjut, Bapak Kepala segera mengoreksi dengan lembut, seolah menuntunku memahami bahasa tempat ini.
“Bilang dari Cikatomas,” katanya pelan, tetapi tegas. “Orang Cineam tidak akan tahu Tawang. Tapi kalau Cikatomas, mereka akan kenal.” Aku mengangguk, sedikit bingung sekaligus belajar bahwa identitas kadang bukan soal kebenaran geografis semata, melainkan tentang bagaimana kita menjembatani pemahaman orang lain.
Di pemandian umum itu, di antara air dingin yang menyentuh kulit dan percakapan ringan orang-orang kampung, aku mulai mengerti bahwa bahasa bukan hanya kata-kata, tetapi cara untuk saling menemukan titik temu. Dengan basuhan air yang dingin menyapu lelah perjalanan, menghapus lumpur dan keringat yang melekat sejak siang. Rasa perih di jari-jari perlahan mereda, dan tubuh yang semula berat terasa lebih ringan.
Di lembah kecil itu, di bawah langit yang hampir gelap, mandi sore bukan sekadar membersihkan diri, tetapi seperti upacara kecil yang menandai berakhirnya perjalanan panjang hari itu. Sebuah jeda sebelum malam datang membawa cerita-cerita baru di rumah Bapak Kepala.
Malam di rumah kampung Cineam terasa berjalan lambat, aku hanya diam dan hanya menguping cerita dari percakapan yang mengalir dari mulut Bapak Kepala dan ayahnya. Mereka berbicara tentang masa lalu Cineam, tentang kebun yang dulu lebih luas, tentang orang-orang yang berjalan kaki berhari-hari membawa hasil bumi ke pasar, dan tentang bagaimana hidup di kampung selalu diikat oleh kesabaran. Cerita-cerita itu tidak terasa seperti pelajaran sekolah, tetapi justru lebih hidup. Seperti membuka lembaran buku tua yang wangi kertasnya sudah berubah oleh waktu.
Malam perlahan turun, seperti tirai yang ditarik tanpa suara, menutup halaman perjalanan hari itu dengan kelembutan yang hampir tak terasa. Kami tiba bukan hanya di sebuah tempat bernama Cineam, tetapi juga pada pemahaman bahwa setiap perjalanan selalu membawa kita kembali pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tujuan, pada asal-usul, pada ingatan, pada diri yang perlahan belajar menerima jejaknya sendiri.
Barangkali itulah makna pulang yang bukan hanya kembali ke ruang yang dikenal, tetapi juga kembali pada cerita yang membuat kita mengerti siapa diri kita di tengah waktu yang terus berjalan. Jalan yang kami lalui hari itu, dari kantor Disdik Tasikmalaya hingga kampung di Cineam, menjadi seperti garis tipis yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, antara sejarah dan langkah kaki kami sendiri.
Dan sebelum cahaya benar-benar padam, aku menyadari bahwa perjalanan tidak pernah selesai ketika kendaraan berhenti. Ia terus berjalan di dalam ingatan yang mengendap pelan, tumbuh diam-diam, lalu suatu hari akan kembali dipanggil oleh cerita lain yang menunggu untuk dituliskan. Karena setiap pulang selalu menyisakan satu hal tentang keinginan untuk kembali berangkat.
Dan ketika semua percakapan perlahan menghilang ke dalam gelap, aku sadar bahwa sunyi bukanlah kekosongan, melainkan ruang tempat segala yang tak sempat diucapkan akhirnya menemukan bentuknya sendiri. Jalanan yang tadi kami lalui seakan tetap bergerak di dalam dada, seperti gema langkah yang tak benar-benar berhenti meski tubuh telah diam.
Mungkin begitulah hidup berjalan pada kita yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu cerita ke cerita berikutnya, hanya untuk menyadari bahwa yang paling lama tinggal bukanlah tujuan, melainkan rasa yang tertinggal diam-diam, seperti cahaya terakhir yang enggan padam di balik gunung, menunggu seseorang datang dan mengingatnya kembali. (Bersambung)