Bus tua yang kami tumpangi mendengking pelan, berjuang menaklukkan tanjakan terjal yang membelah perbukitan. Di luar sana, pepohonan jati dan karet meranggas seolah berdiri sebagai saksi bisu atas langkah-langkah kami yang mulai menjauh dari kenyamanan kampung halaman. Aku menyandarkan kening pada kaca jendela yang bergetar, merasakan ritme perjalanan yang bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah transisi batin yang asing.
Di bangku sampingku, Bapak Kepala Sekolah duduk dengan punggung tegak, namun bahunya menyiratkan beban pikiran yang dalam. Beliau telah membukakan jalan bagi masa depanku melalui selembar surat beasiswa, namun sepanjang jalan, beliau justru lebih banyak mengajakku menoleh ke belakang. Menengok akar yang membesarkan batang dan buah perjalanan kami. Percakapan kami yang bermula dari pertanyaan sederhana tentang batas wilayah, yang kemudian meluas menjadi pencarian jati diri di atas aspal yang berkelok tajam dan landai.
Bapak Kepala Sekolah terdiam sejenak, sorot matanya menerawang menembus kabut tipis yang menyelimuti kaca bus. Melanjutkan cerita tentang sejarah kampung, tapi beliau mengaku belum menemukan titimangsa pasti dalam catatan formal mengenai kapan persisnya Kecamatan Pancatengah terbentuk, atau pada tahun berapa Kecamatan Cikatomas pertama kali berdiri tegak sebagai entitas administratif yang mandiri.
Ketidaktahuan itu mendadak membuat perjalanan kami terasa seperti sedang membuka buku sejarah raksasa yang sebagian halamannya telah koyak dan hilang ditelan rayap waktu. Lalu benakku mulai dipenuhi kabut tanda tanya. Apakah dahulu Cikatomas hanyalah sekadar desa sunyi di bawah naungan Kabupaten Sukapura? Bagaimana garis waktu itu merayap di atas tanah ini? Di abad ke-17, Sukapura hanyalah sebentuk noktah di bawah pengaruh Kesultanan Cirebon, bersandingan dengan Limbangan di Garut dan kedigdayaan Kerajaan Sumedang Larang.
Namun, jauh sebelum peta-peta itu digambar ulang oleh birokrasi kerajaan dan kolonial, wilayah ini adalah bagian dari kemegahan Kerajaan Sunda Galuh-Pajajaran, sebuah nama yang di telingaku sempat terdengar seperti legenda kuno yang hampir fiktif. Namun kini aku menyadari bahwa Pajajaran meninggalkan jejak yang sangat nyata. Ia berdenyut dalam setiap kosakata yang kami ucapkan, bersembunyi dalam ritus tradisi, dan menjadi kacamata utama bagi kami dalam memandang dunia. Kami tidak sedang menuju masa depan dengan tangan kosong. Kami sedang memanggul peradaban yang sangat tua.
Aku mengerutkan dahi, mencoba membayangkan perubahan yang begitu panjang dan melelahkan. Rasanya seperti menatap sungai yang sama selama berjam-jam. Meski wujudnya tak berubah, air yang mengalir di dalamnya selalu berbeda di setiap detik yang luruh.
“Sejarah itu, Nak,” bisik Bapak Kepala Sekolah, suaranya merendah, nyaris tenggelam oleh deru mesin bus yang kepayahan. “Sejatinya menyerupai tanah yang sedang kita pijak saat ini.” Beliau mengatakannya dengan nada lirih, seolah sedang merapalkan mantra rahasia kepada aspal jalanan yang kami lalui.
“Sering kali kita alpa untuk menoleh ke bawah karena ia berada di dasar kaki, namun dialah satu-satunya fondasi yang setia menopang setiap jengkal langkah kita. Tanpa pijakan itu, kita hanyalah pengelana yang akan terperosok ke dalam jurang kehampaan identitas,” tambahnya, matanya tetap menatap lurus ke arah jalanan yang berkelok.
Rentetan kisah yang mengalir dari bibir Bapak Kepala mulai membuka tabir di mataku. Aku perlahan paham bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya, dahulu menyandang nama yang terasa jauh lebih magis dan berwibawa: Sukapura (atau dalam ejaan Soekapoera). Dan jauh sebelum nama itu lahir ke dunia, tanah ini telah berdiri tegak dengan otonominya sendiri sebagai Kerajaan Galunggung, bersinar terang di tengah masa keemasan Kerajaan Galuh.
Mendengar kronik yang melintas zaman itu, aku merasakan getaran ganjil merayap di rongga dada. Aku baru menyadari bahwa tanah yang tengah kami lintasi dengan bus tua yang bergetar ini bukanlah sekadar dunia antah-berantah yang hampa memori. Sejak fajar peradaban pertama kali menyingsing di ufuk timur, di sini telah terjalin tatanan masyarakat yang rumit dan agung. Telah ada manusia-manusia tangguh yang mengatur napas kehidupan bersama, memahat hukum di atas batu-batu abadi, membangun mihrab tradisi yang suci, serta meninggalkan jejak-jejak sunyi yang tanpa kita sadari mengalir dalam setiap tetes darah yang berdenyut di nadi kami.
Kini aku mengerti sepenuhnya. Kami tidak sedang berjalan di atas tanah kosong yang bisu. Kami sedang melangkah dengan khidmat di atas bahu para raksasa masa lalu.
Beberapa menit bus yang kami tumpangi akhirnya merayap dari Lengkongbarang memasuki wilayah Salopa. Jalannya berkelok-kelok tajam, menyerupai pita panjang yang dibentangkan secara serampangan oleh tangan raksasa di antara himpitan bukit dan lembah pesawahan yang curam. Di sana, di tengah deru mesin yang kepayahan pendakian gas mesin bus, Bapak Kepala Sekolah kembali menenun cerita, bahwa Kebataraan Galunggung pernah memusatkan denyut nadinya di Salopa.
Informasi itu seketika mengubah cara pandangku. Salopa bukan lagi sekadar nama kaku di atas papan penunjuk arah yang berkarat, melainkan sebuah ruang yang terasa lebih berat, lebih bermartabat, seolah-olah udara di sana mengandung partikel-partikel kejayaan masa lalu yang belum sempat menguap.
"Kita sedang melintasi pusat gravitasi para leluhur," bisikku pada diriku sendiri. Aku merasakan getaran halus merambat di tengkuk, membuat bulu kudukku meremang seiring dengan udara pegunungan yang merayap masuk lewat celah jendela.
"Salopa ini, dahulu dikenal dengan nama Dayeuh Tengah," suara Bapak Kepala Sekolah memecah lamunanku. "Di sinilah letak ibu kota Kerajaan Sukakerta," tambahnya, seolah sedang menunjuk pada sebuah kota yang hanya bisa dilihat oleh mata batinnya.
"Tadi Bapak menyebut Sukapura. Sekarang Sukakerta?" serobotku cepat, tak mampu menyembunyikan rona kebingungan yang berkelindan di wajahku.
Beliau tersenyum tipis, seolah telah menduga pertanyaanku. “Sebelum menjelma menjadi Sukapura, namanya adalah Sukakerta. Ibukotanya berpusat di Dayeuh Tengah, Salopa. Saat itu, merupakan wilayah kadipaten, atau sekarang kita mengenal namanya kabupaten, wilayah di bawah panji besar Kerajaan Pajajaran.”
Kemudian Bapak Kepala menggeser duduknya, bersiap menenun penjelasan yang lebih dalam lagi. “Sejarah adalah tentang pergeseran nama dan aliansi politik yang rumit, Nak. Galunggung awalnya berdiri sebagai kerajaan mandiri, setelah sebelumnya sebagai tanah perdikan atau kabuyutan, sebuah pusat spiritual yang suci bagi Kerajaan Galuh. Namun, waktu membawa aliansi baru antara Galuh dan Pakuan Pajajaran, hingga mereka melebur menjadi satu kekuatan yang kita kenal sebagai Kerajaan Galuh Pakuan di era kepemimpinan Prabu Siliwangi. Itulah yang membuat Galunggung, atau yang kemudian berganti nama menjadi Sukakerta, ditetapkan sebagai salah satu wilayah kadipaten bagi kemegahan Pajajaran.”
“Setiap imperium kerajaan selalu memiliki jantung spiritual yang berdenyut di tanah perdikan, yang dalam tradisi kita disebut Kabuyutan,” Bapak Kepala Sekolah melanjutkan narasi sejarahnya dengan nada yang kian dalam. “Di masa jayanya, Kerajaan Galuh menetapkan Galunggung sebagai tanah suci, sebuah Kabuyutan. Namun, saat Galunggung bersalin rupa menjadi pusat politik dan menjelma sebagai Kerajaan Galunggung, pusat spiritual atau Kabuyutan itu dipindahkan ke Gunung Raja di Cikatomas, yang jalan masuk yang tadi sempat kita lintasi.”
Beliau menjeda sejenak, membiarkan imajinasiku meraba peta masa lalu yang beliau hamparkan. “Ada pola yang berulang di sini, Nak. Dari sebuah tanah perdikan yang disucikan, ia kemudian bermutasi menjadi pusat pemerintahan atau episentrum kekuasaan politik. Fenomena ini terjadi di Gunung Galunggung, dan terulang kembali di Gunung Raja. Gunung Raja yang bermula sebagai Kabuyutan, lambat laun tumbuh menjadi pusat pemerintahan yang kemudian melahirkan nama Sukakerta.”
“Tapi Cikatomas dan Salopa itu berbeda, kan, Pak?” sela tanyaku, mencoba mengurai simpul kebingungan yang mulai membelit benak.
“Cikatomas dan Salopa hanyalah penamaan kemudian atas pembagian wilayah di lereng agung Gunung Raja,” jawab beliau dengan sabar.
“Meletakkan sebuah Kedaton atau pusat spiritual tidak mengharuskan tempat itu serta-merta menjadi keraton atau pusat birokrasi pemerintahan. Lokasinya bisa saja bergeser sedikit, seperti halnya pusat pemerintahan Sukakerta yang kemudian berdiri di Dayeuh Tengah, tak jauh dari perbukitan Gunung Raja.”
Mendengar itu, aku merasa wilayah yang selama ini kupandang sebagai deretan bukit yang sunyi, ternyata adalah rangkaian saksi bisu atas pergeseran kuasa dan kesucian. Geografi yang kami lalui hari itu bukan sekadar pemandangan, melainkan peta perjalanan jiwa sebuah bangsa yang terus mencari keseimbangan antara yang suci dan yang duniawi.
Sepanjang jalan, aku hanya terdiam, membiarkan setiap jengkal cerita dari Bapak Kepala meresap dan mengendap di dalam kepalaku, seperti air yang perlahan membasahi tanah kering. Aku mencoba menjahit serpihan-serpihan masa lalu itu ke dalam peta perjalanan kami, hingga tanpa terasa, roda bus akhirnya menyentuh aspal Taraju.
Ketika bus berhenti sejenak di sebuah pertemuan dua jalan yang menyerupai persimpangan nasib, Bapak mengangkat telunjuknya, menunjuk ke arah kiri dengan gerakan yang mantap. “Itu adalah jalan menuju Karangnunggal,” katanya, suaranya terdengar seperti pemandu jalan yang telah hafal setiap lekuk bumi.
“Jika terus menyusuri jalan itu, maka kau akan sampai di Bantarkalong, akhirnya sampai di Pamijahan, tempat doa-doa dilabuhkan dalam penyebaran Islam di Priangan, dan jika terus ke selatan yang paling ujung perbatasan laut, itulah pantai Sindangkerta yang ombaknya bicara pada samudera.”
Aku menatap lurus ke arah jalan yang ditunjuknya. Bentangan aspal itu tampak panjang dan penuh rahasia, meliuk di antara perbukitan seperti garis tangan yang belum sempat dibaca oleh takdir.
Perjalanan ini, yang semula kupikir hanyalah urusan administratif yang kaku demi selembar kertas beasiswa, perlahan-lahan bermutasi menjadi sebuah ziarah batin yang tak terduga. Ia menjelma menjadi pengembaraan menembus lapisan-lapisan waktu yang tebal; sebuah proses yang anehnya membuatku merasa semakin kecil di hadapan semesta, namun di saat yang sama, membuatku merasa semakin kokoh berakar pada tanah kelahiranku. Aku seperti pohon yang baru menyadari betapa dalam akar-akarnya menghujam ke jantung bumi.
Aku mengikuti arah telunjuknya, membiarkan imajinasiku berlari liar menyusuri aspal yang tak kami lalui hari itu. Jalan ke arah selatan itu tampak seperti cabang cerita yang tetap bernapas dan berdenyut, meski langkah kami tak pernah benar-benar memasukinya. Tapi menjadi sebuah kemungkinan yang menggantung indah di cakrawala, serupa aroma hujan yang tercium tajam di udara namun tak pernah benar-benar jatuh membasahi bumi. Menjadi sebuah misteri yang memanggil-manggil untuk suatu saat nanti aku telusuri.
Bapak lalu mulai menenun hikayat tentang Pamijahan, tentang keheningan Goa Safarwadi yang mendekam di kaki Gunung Mujarad yang angker sekaligus suci. Di sanalah, katanya, denyut nadi Islam di Priangan Timur pertama kali dipompa oleh tangan dingin Syekh Abdul Muhyi.
“Siapa Syekh Abdul Muhyi, Pak?” tanyaku dengan suara hampir tenggelam oleh deru mesin yang kepayahan. Aku mengernyitkan dahi, mencoba meraba sosok yang namanya terdengar setua batu namun sekuat akar.
Bapak kemudian tersenyum, dengan lengkungan bibir yang tenang seolah pertanyaan itu adalah kunci yang selama ini ia tunggu untuk membuka peti harta karun ilmu. Ia mulai menjelaskan tentang sang ulama yang membawa ajaran bukan sekadar lewat tumpukan kitab, melainkan melalui tapak kaki yang panjang dan ketekunan yang sedalam sumur tanpa dasar.
“Ya, beliau pengusung tarekat sufi penyebar utama Tarekat Syathariyah di pulau Jawa, khususnya Jawa Barat pada abad ke-17. Beliau yang menerima baiat tarekat ini dari gurunya, Syekh Abdurrauf as-Singkili di Aceh sebelum menyebarkannya di tanah kelahiran kita ini.”
Penjelasan Bapak Kepala membuatku merinding. Membuatku merasa seolah perjalanan kami ini bukan lagi sekadar perpindahan geografis di atas peta, melainkan sebuah ziarah melintasi lapisan-lapisan sejarah yang saling mengunci dan bertaut, seperti benang-benang tenun yang membentuk kain takdir.
Bus yang kami tumpangi akhirnya sampai menyerah pada hiruk-pikuk kota. Jalanan tiba-tiba berubah menjadi sungai besi yang riuh angkutan kota yang padat. Suara-suara kendaraan semakin bertumpuk-tumpuk seperti percakapan ribuan orang yang tak pernah menemui kata sepakat.
Saat kami melintasi pertigaan Gobras, tanpa sadar aku mendongakkan kepala, menatap pancangan kawat yang menjulang tinggi yang tampak dari balik kaca bus. Melihat menara besi yang tampak seperti jarum raksasa yang mencoba menjahit langit kelabu.
“Itu antena pemancar radio,” kata Bapak, mengerti raut tanya di wajahku. Suaranya sedikit meninggi melawan bising kota. “Nah, di sanalah studio radio Galuh Suryakencana berada.” Nama yang bergetar di telingaku. Terasa asing sekaligus akrab. Seperti gema dari lembah purba yang berusaha tetap terjaga di tengah kepungan zaman yang kian berisik.
Menurut Bapak Kepala, nama itu bukan sekadar papan nama studio radio. Tapi sebuah nama kerajaan agung yang tadi diceritakan, yang berpusat di Ciamis sekarang.
Sekali lagi Bapak kemudian menyeret ingatanku lebih dalam. Bercerita tentang ambisi Kerajaan Sunda yang berniat menjalin persaudaraan dengan Majapahit melalui ikatan suci pernikahan. Mengisahkan perjalanan Ratu Dyah Pitaloka menuju mempelainya, adalah sebuah perjalanan yang awalnya penuh bunga namun berakhir bersimbah darah di padang Bubat.
“Sunda tiarap setelah itu,” katanya dengan intonasi yang merendah. Seakan berat oleh kesedihan yang melintasi beratus tahun.
“Sejarah berubah menjadi luka yang panjang dan basah, sebuah trauma yang tertanam di bawah kulit setiap orang yang menghirup udara tanah ini.”
Aku mendengarkan dalam keheningan yang pekat. Mencoba memvisualisasikan tragedi itu di tengah bisingnya klakson kota. Rasanya aneh memang. Peristiwa itu terasa jutaan mil jauhnya, namun entah mengapa, pedihnya terasa merayap masuk ke dalam dada Bapak Kepala, sedekat denyut nadi di leher katanya.
"Dunia memang kejam bagi mereka yang tulus, ya, Pak?" sahut Dede, suaranya mengandung getir yang terlalu dewasa untuk usianya.
Bapak Kepala terdiam sejenak. Beliau menatap Dede, lalu perlahan mengalihkan pandangannya padaku. Saat aku memberanikan diri membalas tatapannya, aku merasa melihat pantulan dunia yang berbeda di matanya, adalah sepasang mata itu seolah mencerminkan deretan gedung-gedung kota yang kini mulai bangkit mengepung kami, berjejer kaku di kanan dan kiri jalan yang kami lalui, menggantikan rimbun hijau yang perlahan sirna di belakang.
"Itulah sebabnya kita belajar sejarah, Nak," jawabnya dengan nada yang sangat tenang, namun sarat akan penekanan. “Agar saat kau melangkah menuju masa depanmu nanti, kau tahu persis di bagian mana tanah yang kau pijak ini pernah retak. Supaya kelak, saat kau berlari mengejar mimpimu, kau tak perlu jatuh di lubang yang sama dengan mereka yang mendahuluimu.”
Kata-katanya menggantung di udara bus yang pengap, menjadi semacam kompas batin di tengah belantara beton yang mulai menyambut kami. Sejarah bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur atau deretan angka tahun yang mati. Tapi sebagai peta luka dan kejayaan yang kini kupanggul di pundakku, bersandingan dengan map cokelat berisi harapan-harapan baru.
“Lalu, dari abu kehancuran itu muncullah para pewaris takhta Sunda yang tersisa,” lanjut Bapak. Suaranya kini mengalun rendah seperti gumam doa di tengah malam.
“Kisah-kisah tentang Prabu Siliwangi yang kharismanya tak mampu dipadamkan waktu.. atau tentang Ki Ageng Pemanahan, hingga legenda macan putih Giling Wesi yang kesaktiannya menghuni sela-sela rimba dan ingatan.” Cerita itu mengalir deras, membasahi benakku seperti dongeng yang berkelindan dengan catatan sejarah. Membuat batas antara fakta yang kaku dan mitos yang cair terasa kabur, serupa garis cakrawala yang hilang ditelan kabut pagi.
Di dalam perut bus yang terus menderu menuju tujuan kami, aku merasa seperti seorang pengelana kecil yang sedang duduk tertegun di ambang pintu dua dunia. Antara di punggungku ada masa lalu yang membentang sangat panjang dan berdarah, sementara di hadapanku ada masa depan yang bentuknya masih samar, seputih kapas yang tertiup angin.
Perjalanan itu perlahan-lahan bermutasi menjadi sebuah ruang belajar yang jauh lebih megah daripada gedung sekolah. Di atas aspal hitam dan di bawah roda bus bukan lagi sekadar jalur menuju kantor Diknas, melainkan lorong waktu yang mempertemukan kami dengan akar, dengan silsilah, dan dengan pertanyaan-pertanyaan purba yang hingga kini belum selesai dijawab oleh zaman.
“Kamu suka mendengar dongeng itu, kan, Haya? Cerita dari Wa Kepoh yang selalu membawakan petualangan Si Rawing dan kelucuan Si Ajo?” Bapak tiba menanyaiku. Pertanyaannya meluncur dari bibir Bapak seperti sebuah pintu kecil yang tiba-tiba terbuka di tengah dinding perjalanan yang membosankan. Mengantarkanku pulang sejenak pada sore-sore panjang yang terasa hangat sekaligus sunyi di rumah Mamat.
Aku mengangguk pelan, membiarkan getaran kenangan itu merayap halus di rongga dada, membangkitkan hangat yang sempat mendingin.
“Tentu saja aku sangat menyukainya, Pak,” jawabku tanpa perlu menjeda pikir, sebab suara itu telah lama terpatri abadi di dalam kepalaku, seperti guratan pada batu.
Setiap sore, suara dongeng yang kaya akan intonasi itu mengalir jernih dari rongga suara sebuah radio tua di rumah si Mamat. Sebuah radio merek Nasional yang warna hitamnya telah memudar digerus waktu, permukaannya meranggas menyerupai tekstur kulit pohon yang menua dan pecah-pecah. Radio itu adalah kawan paling setia. Benda yang tak pernah absen tersampir di bahu Mamat saat ia memikul tanggung jawab besar menggembalakan kawanan kambing milik ayahnya menembus padang rumput yang sunyi saat kami tidak berjualan es.
Bagi kami, radio itu bukan sekadar kotak kayu dan kabel, melainkan sebuah saksi bisu yang merekam setiap tawa dan imajinasi liar yang kami bagi di bawah langit senja. Suaranya adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan kaki-kaki kami yang berlumpur dengan kemegahan dunia yang hanya bisa kami bayangkan.
Kami biasanya duduk bersila di atas hamparan rerumputan hijau yang lembap, membiarkan alur cerita mengisi setiap sudut udara yang kosong. Sementara kambing-kambing berjalan tanpa arah di sekitar kami, putih dan berkelompok, persis seperti arak-arakan awan yang terseret angin di langit sore.
"Suara Wa Kepoh itu seperti menyihir rumput-rumput ini agar diam mendengarkan," bisik Mamat suatu kali saat itu.
Aku hanya tersenyum, menyadari bahwa dongeng adalah cara kami melarikan diri dari kenyataan hidup yang terkadang terlalu datar. Lalu di atas bus bersama Bapak dan senior kelas, aku baru menyadari bahwa Bapak Kepala sedang melakukan hal yang sama. Beliau sedang mendongengkan sejarah kepadaku agar aku tidak merasa jenuh oleh jauhnya jarak antara kampung dan kotanya kampung halaman kami. Dongeng di radio adalah hiburan, namun dongeng dari Bapak adalah bekal agar jiwaku tidak kerdil saat menyentuh trotoar kota nanti.
Suara Wa Kepoh yang keluar dari radio itu terdengar seperti parau suara seorang kakek bijak yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang sanggup ia ucapkan. Ia membawakan petualangan Si Rawing dan Si Ajo dengan intonasi yang begitu hidup, seolah-olah ia sedang menenun benang-benang imajinasi di udara dan memaksa kami untuk terbang bersamanya menembus batas cakrawala imajinasi sebuah narasi.
Di hamparan rumput, kami adalah tawanan yang bahagia. Kadang tawa kami pecah menghantam sunyi, kadang kami membisu seolah menahan napas, dan tak jarang kami saling berbisik mencoba menebak akhir cerita sebelum Wa Kepoh menutupnya dengan kalimat penggantung yang menyiksa rasa ingin tahu, sampai akhirnya berkata, “Permios.”
Di sanalah, di sela aroma kotoran kambing dan tanah basah, aku belajar bahwa sebuah cerita bukanlah sekadar hiburan pelepas lelah. Tapi adalah jembatan gaib yang menghubungkan realitas yang kaku dengan dunia luas yang hanya bisa disentuh oleh jemari pikiran.
“Radio ini sebenarnya adalah jendela yang menyamar, Haya,” bisik Mamat suatu kali sembari mengelus antena radionya yang mengkilap. “Kalau kau menutup mata dan mendengarkannya cukup lama, rasanya kita sedang berjalan pergi ke mana pun yang kita mau, jauh melampaui bukit-bukit itu.”
Aku tak menyahut, hanya membiarkan angin sore menerpa wajahku. Namun dalam hatiku mengangguk setuju dengan kesungguhan yang penuh. Radio kecil yang mulai karatan itu memang sebuah kendaraan tak kasatmata, sebuah perahu yang membawa jiwa-jiwa kecil kami melayari samudera pengalaman yang tak terjangkau oleh kaki-kaki kami yang masih berlumpur.
Demikian bus kendaraan yang kami tumpangi, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan hampir tiga jam, bus yang kami tumpangi akhirnya mengerem dan berhenti di sebuah perempatan besar tepat setelah pasar Padayungan.
Seketika itu juga, atmosfer dunia berubah total. Suasana kota menerjang masuk lewat jendela yang terbuka dengan irama yang jauh lebih cepat, lebih riuh, dan lebih bising daripada heningnya kampung kami.
Saat perlahan turun kuhirup napas kota ini yang terasa seperti bau napas pelari maraton yang tak pernah benar-benar berhenti untuk beristirahat. Orang-orang melangkah dengan langkah-langkah yang diburu tujuan masing-masing, sementara arus kendaraan mengalir deras serupa banjir bandang yang tak mungkin dibendung oleh tangan manusia.
Belakangan, melalui lapisan waktu yang terus tumbuh, aku baru menyadari bahwa persimpangan sibuk itu adalah simpang jalan KH. Zaenal Mustofa. Tapi lidah orang-orang lebih gemar meringkasnya, menjadi sebuah sebutan yang terasa lebih intim sekaligus legendaris: Hazet.
Nama itu bukan sekadar deretan huruf, melainkan sebuah monumen hidup bagi seorang ulama agung Tasikmalaya, seorang pahlawan nasional yang memiliki nyali setebal baja untuk menolak perintah tunduk kepada matahari setiap pagi. Baginya di masa yang jauh bahwa membungkuk kepada sang surya adalah perbuatan syirik yang menghina ketauhidan, sebuah prinsip yang ia pertaruhkan bahkan dengan nyawanya sendiri setelah peperangan yang kalah kekuatan.
Mendengar kisah itu, aku tertegun. Dengan keberanian yang begitu murni tiba-tiba terasa sebagai sesuatu yang sangat jauh dan luhur. Sekaligus begitu nyata dan dekat karena aspalnya sedang kupijak menuju tujuan yang hanya Bapak Kepala yang tahu.
“Beliau adalah panglima bagi perlawanan para santri,” kata Bapak Kepala. Mendengar suaranya yang terdengar sangat pelan, seperti hendak menegaskan. Dalam kalimatnya mengandung ketegasan yang menggedam relung jiwaku.
“Beliau berdiri tegak menantang fasis Jepang, penjajah yang kekejamannya paling menyayat, meski jejak kakinya hanya tiga setengah tahun menginjak tanah Indonesia kita.”
Tiba-tiba kemudian aku menatap keramaian di sepanjang jalan Hazet itu dengan cara yang berbeda. Melihat gedung-gedung toko yang berjajar di sana kini tampak seperti saksi bisu yang sedang menjaga martabat seorang pahlawan.
"Jadi, Pak, apakah kita di sini juga untuk belajar berani seperti beliau?" tanyaku lirih. Pada saat itu, map cokelat yang kudekap erat terasa berubah beban; beasiswa di dalamnya bukan lagi sekadar tumpukan kertas bantuan materi, melainkan sebuah amanah yang beratnya menyentuh tulang.
Bapak Kepala menoleh, menghunjamkan tatapannya tepat ke dalam netraku. Sebuah tatapan yang seolah ingin menanamkan sebentuk kekuatan purba langsung ke pusat jiwaku.
"Setiap zaman punya medan perangnya sendiri, Nak. Beliau melawan dengan senjata dan keteguhan iman, sementara kau harus melawan dengan ilmu dan ketajaman pikiran. Itulah satu-satunya cara terbaik untuk menghormati jalan sunyi yang telah beliau rintis.”
Baru pada detik itulah, seiring langkah yang akhirnya kian mendekat ke gerbang tujuan. Aku menyadari kemudian bahwa kantor birokrasi yang kaku itu berdiri tegak tepat di samping hamparan kampus Unsil. Tempat bernaung para mahasiswa yang sering menyambangi sekolah kami dengan jaket almamater kebanggaan mereka kini menampakkan wujudnya yang utuh.
Tempat itu kini terasa jauh lebih nyata, lebih dekat, dan lebih mungkin untuk dijangkau. Ia bukan lagi sekadar dongeng tentang kemapanan intelektual yang kerap kudengar sembari berteduh di bawah pohon jambu di sekolah. Namun inilah bentang masa depan yang kini aromanya mulai terhirup oleh napas anak kampung sepertiku.
Ada perasaan ganjil yang merayap di sela jemariku. Rasanya seperti sedang berdiri di ambang pintu gaib yang menghubungkan taman bermain di kampung dengan cakrawala masa depan yang tak bertepi. Aku merasa seperti muncul tetesan embun yang ragu apakah ia harus tetap tinggal di pucuk daun atau membiarkan dirinya jatuh ke aliran sungai yang besar dan deras.
Sebab kemudian demi menunaikan hasrat melanjutkan SMA di tanah Bandung-Cimahi, sempat aku diwajibkan menggenggam surat pengantar dari Disdik Kabupaten ini sebagai pengantar untuk sekolah di Cimahi. Lalu menatap kertas itu, jika dilihat dengan mata telanjang, hanyalah selembar serat kayu yang tampak sederhana dan rapuh, namun di balik serat-seratnya tersimpan kunci pembuka bagi kemungkinan perjalanan-perjalanan baru yang lebih menantang.
Aku mendekap map cokelat di tanganku dengan kekuatan yang lebih dari biasanya, seolah-olah sedang mendekap degup jantung harapanku sendiri yang belum sepenuhnya kupahami maknanya. Seperti seorang pengelana yang memegang kompas namun belum berani menatap jarumnya.
“Ini adalah langkah awal yang paling menentukan, Nak,” kata Bapak Kepala Sekolah dengan nada suara yang sangat pelan, dan getarannya terasa seolah ia sedang membaca setiap lekuk ketakutan dan ambisi di dalam kepalaku.
Aku mengangguk, namun mulutku tetap terkunci oleh rasa takjub yang mendalam. Di tengah hiruk-pikuk kota yang riuh oleh mesin dan ambisi manusia, aku merasa seperti seorang anak kecil yang tengah meniti jembatan gantung yang sangat panjang dan bergoyang di atas jurang waktu. Di belakangku, membentang masa lalu yang hangat, penuh dengan permainan motor batang dahan pelepah sagu, suara radio Uwa Kepoh, dan tawa kawan-kawan di tanah lapang Kalong. Sementara di hadapanku, masa depan membentang sebagai kabut yang belum jelas benar bentuknya, namun ia terus memanggil-manggil namaku dengan suara yang lirih, tipis, tetapi memiliki daya pikat yang pasti dan tak terelakkan.
"Pak, apakah setelah jembatan ini, aku akan tetap menjadi anak kampung yang sama?" tanyaku lirih, menatap pantulan diriku di kaca gedung kantor yang mulai terlihat.
Beliau berhenti melangkah sebentar, menaruh tangannya di bahuku, bagai sebuah sentuhan yang terasa seperti jangkar di tengah badai. "Kau akan menjadi orang yang baru, Haya. Tapi jangan pernah biarkan aspal kota ini menghapus aroma tanah Galunggung dari ingatanmu.”
Lalu kami memasuki halaman gedung itu. Langkah kaki kami secara naluriah melambat, seolah-olah waktu sendiri sedang menahan napas. Bangunan itu mungkin tidak semegah istana dalam dongeng, namun di mataku, ia tampak begitu luas dan berwibawa, menyerupai gerbang menuju dimensi lain yang belum pernah tersentuh oleh telapak kakiku yang biasa menghamba pada tanah.
Kemudian kami menyusuri lorong terasnya yang sunyi, membuatku dan Dede bergerak bagaikan ekor yang setia mengekor pada tubuh utama. Melangkah dengan ritme yang terjaga di belakang punggung Bapak Kepala Sekolah. Beliau berjalan dengan kemantapan seorang nakhoda yang telah khatam membaca arah angin dan koordinat tujuan. Sementara sepatu kami berderap pelan di atas lantai tegel, menghasilkan bunyi yang terasa seperti detak jam dinding yang sedang menghitung detik-detik pembukaan bab baru dalam hidupku. Sebuah bab yang aksaranya belum sempat kupahami sepenuhnya.
Udara di lorong itu terasa hangat dan pekat, membawa aroma kertas-kertas tua yang lembap bercampur dengan bau cat tembok yang mulai memudar dan mengelupas dimakan usia. Aku sesekali melirik ke arah samping, menatap pintu-pintu ruangan yang terbuka setengah. Menyapukan pandang pada mereka yang tampak seperti kelopak mata yang mengawasi keberadaan kami tanpa suara, seolah sedang menilai apakah kami cukup pantas untuk melintasi ambang pintu masa depan ini.
“Kalian tetap di belakangku, jangan sampai terpencar,” titah Bapak tanpa menoleh. Suaranya pelan namun mengandung otoritas yang menenangkan jiwa kami yang limbung.
“Iya, Pak,” jawab kami hampir bersamaan, sebuah koor kepatuhan yang lahir dari rasa gentar yang sama.
Kami akhirnya dibawa melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang terasa sesak oleh kehadiran manusia. Di dalamnya, pemandangan kursi-kursi lipat yang berjejer penuh telah diduduki oleh kerumunan orang dewasa dan anak-anak yang sebaya denganku. Suara percakapan di sana berlapis-lapis, berdengung memenuhi langit-langit ruangan seperti ribuan lebah yang sedang meributkan sarang mereka. Aku menyapu pandangan ke arah wajah-wajah asing itu dengan rasa ingin tahu yang berkelindan dengan kegugupan yang menusuk-nusuk dada.
Mereka pastilah para guru yang datang bersama murid-murid pilihan mereka. Datang bersama sepertiku dari sekolah-sekolah yang jauh, yang jauhnya mungkin sama sepertiku. Bersama jiwa-jiwa kecil yang datang membawa sepotong harapan yang didekap erat dalam map cokelat. Berharap nasib akan memihak pada ketekunan mereka hari ini.
"Lihat mereka, Haya," bisik Dede pelan, matanya menatap tajam ke arah kerumunan. “Mereka semua adalah sainganmu. Tapi mereka juga adalah cerminmu. Kita semua sedang memperebutkan kunci yang sama untuk membuka pintu yang berbeda.”
Aku hanya terdiam, merasakan map di tanganku mulai sedikit lembap oleh keringat dingin. Di ruangan ini, aku menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih padat daripada yang kubayangkan saat duduk di atas motor batang dahan pelepah sagu dulu. Namun, di tengah keramaian itu, bayangan Gunung Galunggung dan suara radio Wa Kepoh seolah berbisik di telingaku, memberikan kekuatan rahasia agar aku tidak menciut di hadapan kemegahan yang asing ini.
Kami duduk dan melipat jemari, menunggu giliran dipanggil dalam antrean yang seolah tak berujung. Di ruangan itu, waktu terasa berjalan melambat dengan sengaja, serupa tetesan air dari atap bocor yang jatuh satu-satu ke dalam bejana. Sebuah jarum jam tak kasatmata yang sengaja ditahan oleh takdir agar kami belajar mengeja arti kesabaran di bawah tekanan sunyi.
Baru kali itulah, dalam riwayat pendek usiaku, aku menyaksikan siswa-siswa berseragam putih-merah dari sekolah lain berkumpul dalam jumlah yang begitu banyak. Selama ini, cakrawala duniaku hanyalah sepetak halaman sekolah di kampung yang sempit, sebuah akuarium kecil di mana aku hanya menemui wajah-wajah yang itu-itu saja setiap harinya. Teman sekelas yang telah khatam segala bau peluhku, kakak kelas yang kusegani bak pelindung, serta adik kelas yang kusayangi seperti saudara kandung. Lingkaran kecil itu memang membuatku merasa aman dalam pelukannya, tetapi di ruangan gedung Disdik ini, lingkaran itu mendadak ditarik paksa hingga melebar tak keruan, memaksaku sadar bahwa dunia ternyata jauh lebih luas, lebih dingin, dan lebih riuh daripada yang selama ini tertangkap oleh mataku yang picik.
Aku menyapukan pandang ke sekeliling, mempelajari tas-tas dengan merek yang asing, sepatu-sepatu yang lebih mengkilap, bahkan gestur duduk yang berbeda-beda. Sebagai sebuah katalog manusia yang belum pernah kupelajari. Ada yang tampak membusungkan dada dengan kepercayaan diri yang meluap, ada yang gugup dengan kaki yang terus bergerak gelisah sepertiku, dan ada pula yang berbicara dengan intonasi lantang seolah mereka adalah tuan rumah di tempat asing ini.
“Tenanglah, namamu nanti pasti akan dipanggil. Tak ada sejarah yang tertinggal dalam antrean,” bisik Dede pelan, mencoba menyalurkan ketenangan melalui pundakku yang kaku.
Aku hanya mampu mengangguk pelan, sementara tenggorokanku mendadak terasa sekering tanah di musim kemarau yang panjang.
Hingga akhirnya, gema namaku disuarakan terdengar di udara. Namaku dipanggil. Suara petugas itu membelah keramaian bagaikan dentang lonceng gereja di tengah sunyi, atau mungkin seperti palu hakim yang memutuskan berakhirnya masa penantian yang cukup menyiksa kebosanannya.
Aku berdiri perlahan, kakiku terasa sedikit ringan dan asing, mengikuti punggung tegap Bapak Kepala Sekolah menuju sebuah meja panjang di depan ruangan. Rasanya seperti sedang berjalan di atas sehelai benang tipis yang direntangkan di antara dua tebing raksasa, antara masa lalu yang penuh mainan pelepah sagu dan batang bambu dan masa depan yang menuntut pertanggungjawaban.
Di depan meja birokrasi yang dingin itu, aku hanya bisa mematung. Aku membisu bukan karena tak ada pertanyaan yang ditujukan padaku, melainkan karena Bapak Kepala Sekolah telah lebih dulu mengambil alih medan tempur. Kudengar beliau menjelaskan segala sesuatunya dengan artikulasi yang jelas dan nada yang tegas, seolah sedang mempresentasikan sebuah karya agung di hadapan raja. Aku hanya berdiri mematung di sampingnya, menjelma sebagai bayangan yang hadir sekadar sebagai saksi bisu atas keberadaan ragaku sendiri.
Sesekali, petugas di balik meja itu mengangkat wajah dari tumpukan berkas, menatapku dengan sorot mata yang datar namun menyelidik.
“Siapa namamu, Nak?” tanya petugas itu, suaranya kering seperti kertas yang bergesekan.
Aku mencoba membuka mulut, berusaha memanggil keberanian yang kusembunyikan di saku baju. Tetapi suaraku justru keluar terlalu lirih, serupa desau angin di celah pintu yang nyaris tak mampu menggetarkan udara.
"Namanya Haya, Pak. Dia salah satu yang terbaik dari sekolah kami," sambung Bapak Kepala Sekolah dengan cepat, seolah ingin melindungiku dari kelemahanku sendiri.
Petugas itu mengangguk, lalu mencoretkan sesuatu di atas kertas. Namun tengah situasi itu, aku sadar pada namaku yang bukan lagi sekadar panggilan di tengah sawah, melainkan sebuah data yang sedang dipetakan menuju dunia yang lebih besar.
“Lebih keras sedikit, Nak. Jangan biarkan suaramu tertelan bising kipas angin,” tegur petugas itu tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan map yang menggunung.
Namun, sebelum aku sempat mengumpulkan serpihan keberanian untuk mengulang namaku sendiri, Sang Bapak sudah mengambil alih kendali udara. Beliau menyebutkan namaku dengan lantang. Membeberkan asal sekolahku, hingga merinci deretan prestasiku dengan nada yang begitu meyakinkan. Seolah beliau sedang membacakan piagam kemenangan.
Aku hanya berdiri mematung, merasa seperti sebuah buku yang sedang dibacakan sinopsisnya oleh orang lain. Karena suaraku tersimpan rapat di balik sampul yang kaku.
Aku tahu benar, di balik sikap pasang kendalinya, Bapak Kepala suka memendam jengkel karena suaraku terdengar kecil, melulu kecil, serupa bisikan daun kering yang jatuh ke permukaan air.
Karena aku teringat suatu hari di kantor sekolah, beliau menatapku dengan wajah yang ditekuk oleh rasa kesal yang tak tertahankan.
“Haya, kalau bicara itu suaranya harus jelas, harus bulat!” tegasnya waktu itu, matanya menghunjam tepat ke pupil mataku. “Dunia ini riuh, dan orang tidak akan pernah bisa membaca isi pikiranmu kalau kau sendiri enggan mengetuk pintu pendengaran mereka dengan suara.”
Kalimat itu tertinggal lama di kepalaku, mengerak seperti jelaga yang sulit dibersihkan. Namun, alih-alih memicu keberanian, teguran itu justru membuatku semakin betah menghuni kesunyian.
Mulanya, mungkin karena lidahku gagu, atau seringkali gagu saat mengucapkan kata-kata. Tapi yang ingin keluar mendadak tersendat di kerongkongan, persis seperti roda pedati yang kehilangan pelumas, berderit payah namun tak kunjung berputar.
Aku mulai merasa bahwa kata-kata jauh lebih aman dan nyaman tinggal di dalam labirin kepala daripada dipaksa keluar menghirup udara dunia yang kejam. Berbicara di depan orang banyak bagiku terasa seperti berdiri telanjang di tengah badai tanpa selembar pelindung pun. Dan aku sudah merasa malu dan kalah bahkan sebelum satu suku kata sempat meluncur bebas.
Maka, aku memilih diam sebagai benteng pertahanan terakhir. Diam bagiku adalah sebuah ruang aman. Sebuah rumah kecil yang pintunya bisa kututup rapat-rapat kapan saja aku merasa terancam. Namun, di dalam ruangan Disdik yang asing ini, saat berdiri di samping meja beasiswa yang menentukan nasib, aku mulai merasakan bahwa diam pun memiliki beratnya sendiri. Sebagai berat yang menyesakkan, seperti membawa sebongkah batu yang ingin meledak menjadi cahaya, tetapi belum juga menemukan bentuk dan jalan keluarnya.
Aku berdiri sambil sedikit menundukkan kepala, membiarkan percakapan orang-orang dewasa itu berseliweran di atas kepalaku seperti awan hitam yang mendung. Di antara silang-sengkarut suara itu, aku merasa sangat kecil, namun di saat yang sama, aku mulai menyadari bahwa langkah-langkah kaki kecilku hari itu adalah detak jantung pertama dari sebuah perjalanan panjang yang akan menjungkirbalikkan segalanya.
Bahkan, ada luka yang lebih dalam dari sekadar teguran guru karena suaraku yang kecil dan bicaraku gagu. Aku pernah sampai menangis tersedu-sedu karena seseorang dengan ringannya melontarkan kata "gagu" kepadaku. Kata itu jatuh seperti batu kerikil yang dilemparkan sembarangan ke permukaan kolam yang tenang, namun dampaknya menghantam tepat di pusat jiwaku, meninggalkan riak perih yang tak kunjung usai.
Waktu itu, tak ada pembelaan yang bisa kulakukan selain melarikan diri ke rimbunnya halaman belakang rumah, menjauh dari gema tawa yang terasa lebih tajam dan lebih dingin daripada bilah pisau mana pun. Sebab tetangga yang menertawakanku, menjadikan kekuranganku sebagai bahan gurauan di sore hari, dan aku tidak tahu bagaimana harus melawan keganasan lisan mereka selain dengan melarikan diri ke dalam dekapan sunyi.
Di bawah naungan pohon-pohon tua yang membisu, aku menumpahkan tangis sendirian. Aku mengutuk lidahku sendiri yang terasa lumpuh, sembari melontarkan tanya yang pedih pada sunyi: apakah dunia ini memang hanya diciptakan sebagai panggung bagi mereka yang pandai bersuara lantang?
"Jangan didengarkan, kasep," bisik Nenek dengan kelembutan yang menyayat saat ia menemukanku sedang meringkuk layu di balik batang pohon pisang. “Suatu saat nanti, biarkan perbuatanmu yang bicara lebih keras, lebih menggema daripada sekadar teriakan kosong mereka.”
Lalu di dalam ruang kantor Dinas Pendidikan yang kaku ini, saat aku kembali gagal meloloskan suara di hadapan petugas. Aku merasakan cubitan luka lama itu berdenyut kembali, ngilu dan panas. Namun, di detik yang sama, aku merasakan map cokelat di genggamanku mengalirkan sejenis kehangatan yang ganjil sekaligus menenangkan.
Mungkin saat lidahku memang belum mampu bicara keras, namun lembaran kertas di dalam map sedang meneriakkan namaku dengan lantang. Ia sedang melesat menuju masa depan, sebuah perjalanan yang takkan lagi bisa dihentikan oleh cemoohan atau tawa siapa pun.
Aku ingin berkata “kuping”, tetapi yang keluar hanyalah potongan bunyi yang cacat: “ku.. ku.. ku..” Lidahku mendadak menjelma sebongkah daging yang berat dan asing, sementara kata-kata tersangkut di tenggorokan seperti benang kusut yang mustahil ditarik lurus. Tawa mereka, tetangga dan orang-orang itu semakin meledak, memantul di dinding-dinding pendengaranku.
Pada detik itu, aku merasa seperti sedang dipajang telanjang di tengah pasar, tanpa kulit, tanpa perlindungan, hanya ada aku dan kegagalanku bicara yang menjadi tontonan.
“Kurang ajar..” gumamku sangat pelan, dengan amarah yang lebih banyak membuncah di ulu hati daripada yang sanggup kuucapkan. Dalam hati, aku menyumpah serapah dengan segala kata buruk yang pernah kudengar. Sebagai sumpah anak kecil yang lahir dari luka yang menganga, bukan dari kebencian yang sungguhan. Aku hanya ingin satu hal sederhana bahwa aku ingin dunia berhenti menertawakanku.
Aku melarikan diri, merangkak masuk dan bersembunyi di bawah parako, sarang ayam yang sedang bertelur. Tanah di bawah sana terasa dingin dan lembap, bau jerami kering bercampur tanah basah memenuhi rongga hidungku, memberi aroma bumi yang jujur. Di sana, di antara kegelapan dan debu, tangisku pecah menjadi sesunggukan yang tak teratur, serupa hujan kecil yang turun diam-diam di sore hari, membasahi tanah tanpa ada yang tahu.
Melihat ayam betina itu tetap diam, matanya yang kecil menatap lurus ke depan, mengerami telur-telurnya dengan kesabaran yang purba. Ia tak terganggu oleh kehadiranku, seolah ia mengerti bahwa ada seorang anak manusia yang sedang hancur dan berusaha mengumpulkan kembali kepingan dirinya di bawah sana.
Setelah tangis itu perlahan mereda dan menyisakan napas yang tersengal, aku hanya duduk memandangi ayam itu. Ada sesuatu yang begitu teduh dalam cara ia diam. Dalam cara ia menunduk, cara ia menjaga kehangatan telur-telurnya, cara ia tetap teguh tinggal meski dunia di luar sarang itu begitu ramai dan bising. Aku bertanya-tanya dalam hati yang pedih, apakah ayam itu juga pernah merasa takut? Apakah ia juga pernah merasa ditertawakan oleh kawanan yang lain?
Lalu, sebuah pertanyaan lain menyelinap masuk, lebih pelan namun terasa jauh lebih menusuk. Apakah karena aku hanya seorang anak kecil, maka aku pantas untuk terus-menerus dimarahi?
Ibuku suka marah. Nenekku suka marah. Pamanku suka marah. Uwaku suka marah, hingga Bapak Kepala Sekolah pun menampakkan wajah jengkelnya di hadapanku.
Nama-nama itu berputar di dalam kepalaku seperti gema di dalam gua yang tak kunjung usai. Rasanya seolah tak ada satu jengkal tanah pun di dunia ini yang benar-benar aman bagi jiwaku saat itu. Pada setiap suara teguran, sekecil apa pun, terdengar seperti pengingat yang kejam bahwa aku selalu kurang, selalu salah, dan selamanya belum cukup baik untuk memuaskan harapan mereka.
“Apa tidak ada yang sayang padaku?” tanyaku pada bayanganku sendiri di atas tanah yang gelap. Meski tak ada suara yang menjawab selain deru angin yang lewat di sela-sela bambu. Kenangan pahit di bawah sarang ayam itu tiba-tiba tersentak bangun saat petugas di kantor Disdik itu berdeham. Menungguku memberikan reaksi. Di hadapanku sekarang bukan lagi tawa tetangga yang mengejek, melainkan tumpukan berkas yang menuntut masa depanku. Aku menyadari bahwa "Haya" yang dulu bersembunyi di bawah kandang ayam adalah orang yang sama dengan "Haya" yang kini berdiri di jantung kota Tasikmalaya.
Bapak Kepala Sekolah menoleh padaku, yang kali itu tatapannya tak lagi berisi kemarahan, melainkan sebuah dorongan sunyi. Aku menarik napas panjang, membiarkan udara kota yang hangat memenuhi paru-paruku.
Mungkin aku masih gagu, mungkin suaraku masih sering tersangkut, tapi hari itu aku tidak akan lari ke bawah kandang ayam lagi. Tetapi tetap saja perasaannya tumbuh diam-diam, merayap seperti bayangan yang mengikuti langkahku tanpa pernah bisa diusir oleh cahaya mana pun. Aku mulai merasa seperti sebuah barang titipan yang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Saat tempat tidur dan makanku dialihkan dari rumah uwa yang satu ke rumah uwa yang lain, bergeser ke ambang pintu demi pintu uwa yang sedia menampungku.
Barangkali, di mata mereka, perpindahan itu adalah bentuk perhatian yang tulus, sebuah upaya kolektif untuk menjagaku. Namun, di mataku yang masih terlampau kecil untuk memahami kerumitan hidup orang dewasa, terasa seperti sebuah pengumuman sunyi bahwa aku adalah beban yang harus dipikul secara bergantian agar tak ada satu pun bahu yang kelelahan.
Bukankah itu berarti aku sedang dibuang secara perlahan?
Pertanyaan itu terasa terlalu besar dan tajam untuk anak seusiaku, tetapi ia tetap tinggal dan mengendap di dalam kepala seperti sebongkah batu yang tak bisa disingkirkan oleh doa apa pun. Setiap kali aku harus mengemas barang dan berpindah rumah, aku merasa seperti sehelai daun kering yang tertiup angin. Aku terbang atau diterbangkan, aku mendarat dan merapat, tetapi aku tidak pernah benar-benar memiliki pohon yang bisa kusebut sebagai tempat untuk kembali pulang.
Terpeluk lagi saat aku duduk lebih lama di bawah sarang ayam itu. Memandangi telur-telur yang dijaga dengan kehangatan yang konsisten. Dalam diam yang pekat, aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang dijaga dengan sabar, menjadi sesuatu yang tidak ditertawakan hanya karena sedang berjuang keras belajar bicara.
Merasakan denyut hangat angin sore lewat dengan lembut, menyentuh wajahku yang masih basah dan lengket oleh sisa air mata, dan di antara suara ayam yang sesekali berkokok rendah, aku mulai memahami sebuah hakikat yang pahit bahwa diam bagiku bukan hanya sekadar tempat bersembunyi, melainkan sebuah rahim tempat luka tumbuh perlahan-lahan menjadi kekuatan yang bahkan belum aku kenal namanya.
Barangkali, saat masih kecil, kita atau aku memang tidak pernah benar-benar mengerti mengapa orang dewasa begitu mudah meninggikan suaranya, maksudnya apakah untuk mengasah lisan mereka? Kata-kata mereka jatuh seperti hujan yang terlampau deras, alih-alih menumbuhkan benih di dalam jiwa, ia justru membuat tanah jiwa anak menjadi becek, berlumpur, dan sangat sulit untuk ditapaki.
Dan aku hanyalah seorang anak yang mencoba meraba dunia dengan lidah yang terbata-bata. Tetapi dunia di sekitarku seolah-olah tak memiliki cukup sabar untuk sekadar menunggu kalimatku selesai. Akhirnya aku memilih untuk belajar diam. Sebuah diam yang lama-kelamaan menjadi rumah tempatku menetap, meski sesungguhnya aku tahu, itu bukanlah tempat yang kusebut sebagai pulang.
Di bawah naungan sarang ayam itu, aku menyadari sesuatu yang sangat bersahaja namun menohok tentang ayam yang sedang mengerami telur tidak pernah sekalipun memarahi telur-telurnya hanya karena mereka belum menetas tepat waktu. Ia tidak mematuk cangkangnya dengan gusar. Ia hanya menunggu. Memberi hangat dengan setia. Tanpa sedikitpun rasa tergesa.
Lalu aku bertanya-tanya pada sunyi jiwaku. Apakah menjadi manusia sama artinya membuat kita kehilangan fitrah untuk menunggu dengan lembut? Ataukah mungkin, orang-orang dewasa itu pun sejatinya adalah jiwa-jiwa yang pernah terluka sangat dalam, hanya saja mereka tidak tahu cara merawat luka sendiri selain dengan memarahi luka yang mereka lihat pada orang lain?
Aku tumbuh besar dengan perasaan menjadi barang titipan yang harus dijaga karena kewajiban, bukan sebagai seorang anak yang dinantikan kehadirannya dengan penuh rindu. Di rumah-rumah yang pernah kusinggahi itu perlahan menjelma menjadi deretan halte dalam peta hidupku. Menjadi tempat singgah yang sementara, bukan tujuan yang menetap. Namun, di antara letihnya perpindahan itu ada sesuatu yang ajaib tumbuh di dalam dadaku, yang kemampuan untuk berbicara dalam hati. Ketika suara tak lagi menemukan jalannya keluar dari mulut, tapi mencari celah lain untuk bernapas. Ia berubah menjadi ketajaman penglihatan, ia mengental menjadi ingatan yang pekat, dan ia meluap menjadi tulisan semacam ini.
Lalu ketika aku menoleh ke belakang dan mengingat anak kecil yang berlari dengan bahu bergetar ke halaman belakang rumah itu, aku tak lagi melihatnya sebagai jiwa yang kalah. Namun hanyalah seorang petarung kecil yang sedang mencari suaka untuk menangis tanpa perlu menjadi tontonan. Dan mungkin, aku baru menyadari bahwa keberanian yang paling agung bukanlah tentang melawan mereka yang hobi menertawakan, melainkan tentang keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri ketika dunia dengan segala kuasanya memaksa bersalin rupa menjadi orang lain.
Barangkali, suatu hari nanti, aku akan sanggup berdiri tegak tanpa gagu sedikit pun di hadapan masa laluku sendiri. Bukan untuk membalas luka dengan luka, bukan pula untuk membuktikan kehebatan apa pun, tetapi hanya untuk memeluk anak kecil yang dulu gagu itu dan membisikkan kata-kata paling jujur di telinganya.
“Nak, tidak semua orang pergi karena kau adalah beban. Sebagian dari mereka hanya tidak pernah tahu bagaimana cara untuk tinggal. Dan di sana, di dalam ruang sunyi yang dulu sesak oleh tangis, akhirnya ada hembusan napas panjang yang terasa begitu lega, seolah-olah hidup sendiri sedang membisikkan janji bahwa kau tidak pernah dibuang, Haya. Kau hanya sedang dikirim dalam perjalanan panjang untuk belajar menemukan rumah yang kelak akan kau bangun dengan tanganmu sendiri.”
Dan akhirnya aku benar-benar mengerti, bahwa setiap luka yang dulu terasa seperti vonis pengusiran ternyata adalah pintu-pintu rahasia yang diam-diam menuntunku pulang menuju inti diriku sendiri. Kata-kata yang dulu tersendat dan mati di ujung lidah kini telah menjelma menjadi napas yang utuh dan bertenaga. Tak lagi kugunakan untuk berteriak menjelaskan siapa aku kepada dunia yang bising, melainkan untuk berdamai dengan kesunyian yang pernah membesarkanku dengan begitu dingin.
Jika dahulu aku menangis di bawah gelapnya sarang ayam karena merasa tak pernah dipilih oleh siapa pun, kini aku berdiri dengan segenap kesadaran baru bahwa yang paling tangguh bukanlah mereka yang tak pernah tersungkur, melainkan mereka yang mampu mengubah setiap tetes tangis menjadi bahasa, dan dari bahasa itulah lahir sebuah rumah spiritual yang akhirnya mau menerimaku dengan tangan terbuka sepenuhnya.
"Ayo, Haya. Urusannya sudah selesai," suara Bapak Kepala Sekolah membuyarkan lamunanku. Beliau memegang surat pengantar itu, lembaran yang akan membawaku menuju tujuan yang ada di Bapak Kepala sekolahku.
Aku menatap surat itu, lalu menatap beliau. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti barang titipan. Aku merasa seperti sebuah benih yang sedang dibawa menuju tanah yang lebih luas.
"Terima kasih, Pak," kataku. Kali ini, suaraku keluar dengan bulat, jelas, dan tanpa ragu.
Angkutan perlahan mulai bergerak meninggalkan hiruk-pikuk Jalan HZ, menjauh dari menara radio Galuh Suryakencana yang masih setia menusuk langit. Aku menatap ke luar jendela, melihat bayangan gedung-gedung kota yang perlahan memudar, berganti kembali menjadi hamparan hijau persawahan dan barisan pohon yang melambai sunyi.
Di dalam map yang kupeluk erat tersimpan selembar kertas yang bukan sekadar administrasi, melainkan sebuah tiket pembebasan. Aku menyadari bahwa perjalanan pulang kali ini takkan lagi sama. Aku memang masih anak yang dibesarkan oleh sunyi dan terbata-bata oleh kata, tapi aku bukan lagi anak yang bersembunyi di bawah kandang ayam.
Masa kecilku, dengan segala mainan bambu, layang-layang yang tersangkut, dan luka-luka yang bisu telah selesai menunaikan tugasnya sebagai guru. Lalu di hadapanku membentang jalan aspal yang panjang menuju tujuan, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut kehilangan arah. Sebab aku tahu, sejauh apa pun aku pergi, rumah yang sesungguhnya telah kubangun di dalam dada, tempat di mana suaraku takkan pernah lagi tersendat oleh ketakutan. (Bersambung)