Permainan dan Perjalanan

Ada masa ketika ingatan terasa seperti lorong panjang yang sunyi, di mana langkah-langkah kecil...

Permainan dan Perjalanan

17 Feb 2026
315 x Dilihat
Share :

Permainan dan Perjalanan

Ada masa ketika ingatan terasa seperti lorong panjang yang sunyi, di mana langkah-langkah kecil masa kanak-kanak masih bergema meski waktu telah menjauh. Serupa gema di dalam sumur tua yang airnya tak bisa disentuh, tapi suaranya tetap merambat, mencari celah di antara dinding-dinding batu yang berlumut waktu. Aku sering kembali ke sana tanpa sengaja, seolah dipanggil oleh potongan kenangan yang belum selesai bercerita, seperti sehelai benang merah yang terjepit di antara lipatan kain usang yang enggan terurai. Bukan hanya tentang peristiwa besar yang mengguncang dunia, melainkan hal-hal kecil yang dulu terasa sepele. Pada suara langkah kaki yang ragu di teras sekolah, pada wajah-wajah asing yang tiba-tiba memenuhi ruang seperti kabut pagi yang menyesakkan, dan perasaan canggung yang tumbuh diam-diam di dalam dada. Ingatannya menyerupai akar pohon yang merayap di bawah tanah, tak terlihat namun perlahan meretakkan fondasi ketenangan. 

Dari sana, kisah ini bermula. Dari seorang anak yang berjalan mengekor di balik bayang-bayang orang dewasa, mencoba meraba dinding-dinding kenyataan yang terasa terlalu dingin bagi telapak kaki dan tangannya yang masih mungil.

"Jangan melamun, jalannya dipercepat sedikit," tegur Bapak Kepala lirih, tanpa menoleh, seolah ia tahu bahwa pikiranku sedang tertinggal di gerbang tadi. Aku hanya mengangguk, menelan suara yang bahkan belum sempat sampai ke tenggorokan, menyadari bahwa dunia memang diciptakan terlalu luas bagi mereka yang hanya memiliki keberanian sebesar biji sawi.

Tentu saja, seluruh narasi ini terjadi jauh sebelum cerita jatuh hati mengambil alih panggung utama cerita selanjutnya, sebelum perasaan menemukan namanya sendiri dalam kamus kedewasaan, dan sebelum sebuah ingatan belajar menyebut rasa sesak di dada sebagai rindu yang dipendam. Ini cerita saat masa pra-badai, kala hening melingkupi sebelum hujan benar-benar tumpah membasahi bumi. Cerita yang datang tepat setelah momen yang memaku waktu. Ketika kulihat Lusia di sekolah mengenakan kerudung biru pada hari peringatan Muludan. Birunya begitu tenang namun menghujam, diam-diam menempel di dinding ingatan seperti warna langit yang enggan pulang ke pelukan senja. Seolah-olah semesta berhenti sejenak hanya untuk membiarkan warna itu menetap di hati dan jiwa.

Namun, biar kutegaskan satu hal agar tak ada orang yang salah menerjemahkan. Catatan bagian ini bukan tentang dia. Namun hanya penanda saat waktu terus bergulir, sebagai sudut kenangan yang menyerupai jam tua di sudut ruang yang berdetak dengan setia. Tanpa pernah meminta untuk menjadi pusat perhatian siapa pun. Kehadirannya hanyalah garis tipis di pinggir kertas, sebagai margin yang menjaga agar kata-kata dalam cerita ini tidak tumpah berantakan, atau sekadar penunjuk arah agar pembaca tidak tersesat pada musim yang keliru saat mencoba memetakan lukaku.

Namun, sekadar membayangkan hal itu, saat bola mataku menangkap seleret kain biru yang disibak angin, membuat seluruh pertahanan jiwaku luluh lantak seketika. Perasaannya berpendaran, pecah menjadi ribuan partikel cahaya yang menyesaki ruang pandang. Memaksa kelopak mataku terpaku hingga tak sanggup lagi berkedip. 

Ada semacam keindahan yang menyakitkan di sana, sebuah nuansa yang menuntut perhatian penuh dari sebuah hati yang sebenarnya sedang berusaha untuk mati rasa karena berbeda kasta. 

“Tapi pada biru kerudung itu, warnanya begitu sempurna melekat pada raganya," bisik sebuah suara kecil yang licin di ceruk kepalaku, sebagai bisikan yang segera kutepis dengan kasar, seolah-olah menyentuh bara api yang menyengat.

Sebab aku sadar sepenuhnya, dan pada akhirnya, setiap fragmen kisah memang membutuhkan latar agar lakon utamanya terlihat nyata dan bersinar. Bahkan jika peran yang kupikul hanyalah sebentuk latar figuran juga. Seperti bayangan pucat yang melintas sepintas lalu, sebelum akhirnya memudar dan hilang ditelan kepekatan gelap.

Aku masih harus terus mengayunkan langkah menuju Hazet. Di bawah langit kota yang asing, kupanggul beban ingatannya serupa membawa nyala lampu minyak di jantung badai. Tampak kecil, membawa gemetar, dan begitu rapuh. Namun nyala redup itulah satu-satunya alasan mengapa aku masih mampu mengenali arah, satu-satunya cahaya yang memastikan bahwa aku belum benar-benar tersesat di rimba penantian ini.

Entah mengapa, jemariku mendadak rindu untuk memahat bagian ini ke dalam kata-kata sebagai cerita tentangnya. Mungkin karena ada rasa ingin merawat sisa-sisa perjalanan seperti seorang lelaki tua yang merawat album foto yang mulai menguning. Tak selalu dibuka setiap hari, namun kehadirannya adalah jantung yang detaknya selalu dijaga agar tak berhenti. Ingatan itu kusimpan rapat serupa rahasia yang dikubur di bawah akar pohon besar. Tak selamanya terlihat, tapi ia yang memberi kekuatan pada dahan-dahan hidupku untuk tetap tegak. 

Mungkin juga, ini adalah sebentuk kebanggaan kecil yang tumbuh diam-diam, seperti rumput liar yang menyelinap di sela-sela batu cadas. Sebuah kebanggaan karena pernah memiliki keberanian untuk melangkah pergi ke tempat yang asing, lalu pulang dengan membawa sesuatu yang tak kasatmata di dalam saku kalbu. Sebagai sesuatu yang maknanya baru bisa kukupas setelah usia mengajarkanku cara membaca bahasa sunyi dari kenangan.

Aku adalah anak Sunda yang lahir di pangkuan Tasikmalaya, membawa trah peurah dari rahim Gunung Galunggung, tempat tetirah Eyang Jantika Sempakwaja, sebagai nama yang bagiku bukan sekadar silsilah, melainkan gema purba yang terus berdenyut di dalam aliran darahku, seperti tabuh kendang yang tak pernah usai. 

Gunung Galunggung, itu yang kumaksud bukan sekadar gundukan tanah dan batu dalam peta geografi. Tapi metafora abadi tentang asal-usul, tentang bagaimana sejauh apa pun burung terbang, selalu membawa aroma tanah kelahirannya di bawah kepak sayapnya. 

"Jangan lupakan bau tanahmu," bisik kakek suatu kali saat aku masih setinggi pinggangnya, "sebab di sanalah akar doamu tertanam." Galunggung adalah saksi bahwa manusia tak pernah benar-benar meninggalkan rumah. Tapi hanya membawa rumah itu di dalam dadanya, menjadikannya lentera saat kegelapan rantau mulai mengepung jalan pulang.

Seperti kata pepatah tua yang sering terlupakan bahwa bukan tentang ke mana tujuan engkau pergi, tetapi dengan siapa engkau menempuh jalan yang berliku ini. Dulu, kalimat itu terasa hambar seperti nasihat yang diucapkan orang tua sambil lalu di sela kepul asap kopi, namun kini ia terasa seperti kompas kecil yang diam-diam diselipkan Tuhan di saku bajuku yang tak terlihat. Sebab dia yang menentukan ke mana arah jantungku harus berlabuh. Tujuan memang penting sebagai pelabuhan tenang bagi kapal yang telah lelah dihajar badai. Tetapi justru di tengah samudera sebuah proses mengajarkan cara membaca arah angin dan bahasa ombak yang beringas. Di dalam perjalanan, manusia sebenarnya sedang menempuh jarak menuju dirinya sendiri. Sebuah ziarah batin untuk menemukan siapa ia di tengah luasnya semesta yang tak bertepi ini.

Belajar ternyata tak pernah cukup jika hanya terpenjara di dalam ruang kelas yang pengap dengan aroma papan tulis dan derit kursi kayu yang membosankan. Belajar yang paling tajam adalah ketika telapak kaki telanjangmu menyentuh kerikil di jalan asing, ketika matamu dipaksa menatap cakrawala yang tak pernah diajarkan oleh guru mana pun, dan ketika rasa takjub berubah menjadi buku pelajaran yang paling jujur dan paling menggedam jiwa. Pergi bertamasya, sejauh apa pun itu, adalah proses belajar yang sunyi, bahkan ketika seseorang tidak sadar bahwa jiwanya sedang ditempa oleh pemandangan yang lewat di balik jendela kaca bus kendaraan yang ditumpanginya.

“Jadi, kita sebenarnya sedang belajar juga saat jalan-jalan seperti ini?” tanya Ipang, seorang kawan padaku suatu hari, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin kendaraan yang kami tumpangi.

Aku terdiam sejenak, menatap bayangan pohon-pohon yang berlari di luar sana, lalu menjawab pelan, "Ya, kita sedang belajar bahwa dunia ini terlalu besar untuk dipahami hanya dengan duduk diam. Kita sedang belajar bagaimana caranya menjadi kecil di hadapan ciptaan-Nya, agar kesombongan kita luruh satu per satu di sepanjang aspal yang kita lalui.”

Aku menjawab pelan, nyaris berbisik pada angin yang menyusup di celah jendela, “Mungkin justru di situlah pelajaran paling sulit dimengerti. Karena tidak ada lembar ujian yang harus diisi, tetapi hasilnya melekat seumur hidup, menjadi rajah tak kasatmata yang kau bawa hingga ke liang lahat.”

Namun dalam labirin perjalanan semacam itu harus ada guru pemandu. Perlu seseorang yang berdiri di ambang pintu sebagai penafsir bagi pengalaman yang masih mentah dan berdarah. Seorang pemandu bukanlah sekadar telunjuk yang mengarah ke utara atau selatan, melainkan seperti penerjemah yang menjembatani bahasa bisu dunia luar dengan riuh rendah dunia batin yang seringkali kacau. Ia serupa lentera di tangan pelaut, memberi komentar pada kegelapan, menjelaskan konteks pada sunyi saat membuka satu demi satu pintu kecil menuju pemahaman yang berjenjang, seperti mengupas kulit bawang hingga menemukan inti yang paling pedas tapi nyata. 

Tanpa penjelasan yang jernih, sebuah perjalanan hanyalah kumpulan gambar bisu yang mati. Dengan penjelasan dapat bertransformasi menjadi aliran makna yang menghidupkan sel-sel kesadaran.

Maka biarkanlah pengalaman itu mengendap perlahan di palung sanubari, seperti air hujan yang meresap ke dalam pori-pori tanah yang haus. Tidak akan hilang jika hanya berpindah ruang. Ia masuk ke dalam alam bawah sadar, bersembunyi dalam lapisan-lapisan jiwa yang paling tak terlihat. Lalu menunggu di saat yang tepat untuk bangun kembali. Di suatu hari nanti akan muncul ke permukaan ketika bertaut dengan pengalaman baru yang tak terduga, membentuk gumpalan pertanyaan baru yang terkadang jauh lebih raksasa dan lebih tajam daripada jawaban-jawaban sebelumnya. 

Di situlah esensi perjalanan bekerja. Bukan sebagai titik akhir yang statis, melainkan sebagai babak pembuka dari sebuah dialog panjang nan melelahkan antara diri sendiri dan dunia yang tak pernah berhenti berubah.

“Pak, apakah semua perjalanan selalu punya makna? Ataukah kita hanya sedang membuang waktu untuk sekadar berpindah lelah?” aku pernah bertanya di suatu sore kepada Bapak Kepala. Mungkin suaraku terdengar setengah ragu, seperti riak air yang takut menyentuh tepian.

Bapak Kepala tidak langsung menjawab. Beliau hanya tersenyum tipis. Dengan senyum yang lebih mirip dengan lipatan rahasia di sudut bibirnya, ia menjawab, “Makna itu bukan sesuatu yang kau temukan tergeletak di tengah jalan seperti batu kali, Nak,” katanya pelan, namun getarannya menggedam dadaku. “Tetapi ia adalah sesuatu yang tumbuh di dalam pot hatimu, justru setelah langkahmu terhenti dan kau telah sampai di rumah tetirahmu.”

Perjalanan itu tiba ketika Babak Kepala menyambutku tepat pada pukul tujuh pagi di sekolah. Saat kaki-kaki mungil kami telah memijak pelataran gedung sekolah yang masih basah. Udara pagi itu masih memeluk sisa dingin malam yang gigil. Sementara halaman sekolah terasa seperti panggung teater yang sunyi, menahan napas menunggu dimulainya sebuah adegan kecil namun krusial dalam lakon hidupku. 

Sebagaimana titah yang tak boleh terbantahkan dari Bapak Kepala Sekolah, aku harus hadir lebih awal, harus sudah berdiri di bawah langit yang warnanya masih menyerupai kertas saring. Dan aku telah tiba di samping Bapak Kepala, yang berdiri tegak dengan wibawa yang melampaui usianys, ditemani seorang kakak senior satu tingkat di atasku, sosok yang oleh desas-desus disebut sebagai siswa paling cemerlang di kelasnya. 

Dede, senior kelas itu berdiri dengan ketenangan yang ganjil, seolah bahunya telah terbiasa memikul gunungan harapan orang lain tanpa pernah sekalipun tampak membungkuk. Tapi aku yang entah bagaimana. Mungkin takdir sedang bergurau, aku pun diseret masuk ke dalam barisan itu dengan sebutan "siswa teladan" sebagai predikat yang bagiku terasa seperti mantel yang sedikit kebesaran. Terasa hangat melindungi, namun membuat gerak-gerikku menjadi kaku dan canggung di hadapan cermin kenyataan.

“Bangga apa boleh. Bangga sedikit boleh?” tanyaku, mencoba memecah kebekuan dengan tawa kecil yang sebenarnya hambar di telinga. Dede menoleh perlahan, senyumnya menyimpul samar seolah ia sedang membaca rahasia yang tersembunyi di balik gugupku. 

“Boleh saja,” jawabnya dengan intonasi yang dalam, “asal kau jangan lupa bahwa kebanggaan hanyalah perahu. Dan kau tetap harus mendayung dengan belajar agar tidak karam ditelan pujian.”

Kami pun tertawa pelan, dan tawa itu pecah seperti suara kunci yang memutar lubang pintu menuju lorong perjalanan yang belum sepenuhnya kami petakan. 

Pagi itu, jiwaku belum sanggup meraba bahwa sebuah perjalanan sejatinya bukan sekadar perpindahan raga dari satu titik koordinat ke titik lainnya, melainkan tentang pergeseran-pergeseran kecil yang diam-diam mulai merenovasi dinding dalam diri. Serupa cahaya fajar yang merayap lamat-lamat di garis cakrawala, jauh sebelum mata yang lelah ini menyadari bahwa hari telah benar-benar benderang.

Hari perjalanan kami yang kuketahui kemudian, tujuannya adalah jantung Kota Tasikmalaya, akan tiga jam perjalanannya, untuk menjalankan sebuah misi melengkapi berkas pencairan dana beasiswa dari Yayasan Supersemar di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten. 

Di atas lembaran kertas putih yang kami bawa, perjalanan ini tampak begitu puritan dan sederhana. Hanya urusan birokrasi, goresan tanda tangan, dan tumpukan dokumen yang kaku. Namun bagiku, setiap putaran roda menuju ke sana terasa seperti langkah-langkah menuju lubang kunci dunia yang lebih luas. Menjadi serupa momen ketika seseorang pertama kali memberanikan diri membuka jendela yang selama bertahun-tahun hanya dipandangi dari balik tirai yang berdebu.

Ada rasa tegang yang tipis dan tajam seperti sembilu namun terasa manis, bercampur dengan kegembiraan yang malu-malu. Sebuah getaran yang hanya dimiliki oleh anak kecil yang baru pertama kali diberi mandat untuk memanggul tasnya sendiri dalam sebuah perantauan jauh. Menapaki perjalanannya bagai jembatan yang menghubungkan antara aku yang hanya mengenal batas-batas pagar sekolah, dengan aku yang memulai mencium aroma aspal kota yang angkuh sekaligus menantang.

"Sudah siap dokumennya?" tanya Bapak Kepala Sekolah kepada kami, sambil merapikan kerahnya. Matanya menatap jauh ke jalanan setapak yang akan membawa kami pergi dari pagar halaman sekolah.

"Sudah, Pak," jawab Dede singkat, sambil mendekap tas di dada, seolah di dalamnya bukan hanya berisi kertas, melainkan seluruh masa depanku yang masih berbentuk teka-teki.

“Jangan sampai ada satu helai pun berkas yang tertinggal,” suara Bapak Kepala Sekolah membelah lamunan pagi. Mengingatkan perjalanna jauh dan berat berwibawa, sembari jemarinya yang legam memeriksa map cokelat yang kami dekap. 

Map itu bagi kami bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan semacam paspor menuju masa depan, tipis namun berisi beban harapan yang sanggup merubuhkan pundak jika kami ceroboh menjaganya.

Aku mengangguk cepat, sebuah gerakan refleks yang menyembunyikan jantung yang berdegup lebih kencang dari kepak sayap burung pipit di dahan pohon jambu di dekat pagar sekolah. Di sampingku, Dede berdiri dengan ketenangan yang nyaris beku. Tampak seperti batu karang yang sudah khatam membaca arah pasang surut, seolah perjalanan ini hanyalah satu noktah kecil dari bentang peta panjang yang sudah ia hafal di luar kepala.

Sebenarnya, menapakkan kaki di jantung Kota Tasikmalaya bukanlah hal baru yang asing dalam riwayat langkahku. Dahulu, sebelum seragam sekolah membungkus tubuhku, aku sering mengekor di balik bayang-bayang Ibu ke sana. Ingatan itu kini datang mengetuk pintu kesadaran seperti potongan film seluloid lama yang berwarna sepia yang buram di tepinya dan tajam di tengahnya. Aku masih bisa mengecap kembali sensasi jalanan yang memanjang tanpa ujung, mencium bau pasar dan terminal Cilembang yang berkelindan antara aroma tanah basah sehabis hujan dan uap minyak gorengan yang gurih, serta hiruk-pikuk suara kendaraan yang terdengar seperti simfoni kacau yang belum menemukan nada penutupnya.

Namun, sejak bangku sekolah menyita seluruh waktuku, terlebih setelah nasib memaksa Ibu kembali mengadu peruntungan menjadi pembantu rumah tangga di rimba Jakarta, perjalanan ke kota berubah menjadi barang mewah yang langka. Hidupku perlahan menyempit, mengerucut pada garis-garis rutinitas yang monoton dan berulang antara sekolah dan sekolah, mengaji dan mengaji, seolah-olah duniaku hanyalah sebuah kotak musik yang memutar lagu yang sama setiap hari di kampung kelahiranku. Bermain hanyalah sawah, ladang, dan hutan sebagai selipan di antara celah-celah waktu yang sempit untuk hari-hari sekolah dan mengaji, menyerupai satu tarikan napas pendek yang dicuri di tengah-tengah kalimat panjang yang melelahkan.

"Dunia itu luas, tapi kadang kita sendiri yang memagarinya dengan ketakutan," bisik batin seolah menjawab kegelisahanku sendiri. Sebab di sela rutinitas itu, aku sering menghabiskan waktu bersama satu teman, terkadang dalam keriuhan banyak kawan, atau tak jarang pula dalam kesunyian yang paling purba. Kalau tidak menyendiri di rumah, bersama teman menjejal aneka permainan anak desa yang bersahaja, yang kaya akan ledakan imajinasi. 

Kami adalah arsitek dari ketiadaan, lalu mengolah permainan yang tak butuh sengatan listrik atau kilau layar kaca yang membius mata. Modalnya hanyalah hamparan tanah lapang yang setia, bilah-bilah bambu yang lentur, embusan angin yang menghasut layang-layang untuk terbang tinggi, dan sebuah mimpi yang saking besarnya, seolah-olah akan meledakkan tubuh kecil kami yang masih ringkih.

"Lihat itu, layang-layangnya sudah menembus awan!" seru seorang kawan dalam ingatan masa laluku, membuatku tersenyum getir mengenangnya. Kami memang tidak memiliki apa-apa. Tapi di tanah lapang itu, kami merasa memiliki seluruh cakrawala. 

Saat pagi bersiap menuju kota, aku sadar bahwa permainan itu telah usai, setidaknya sementara. Untuk saatnya memegang benang yang lebih nyata, menuju sebuah tempat di mana mimpi tak lagi terbuat dari bambu dan angin, melainkan dari tinta dan ketekunan, yang dalam perjalanannya berhamburan ingatan memainkan aneka permainan.

Dalam bus menengadah ke langit cakrawala, biasanya ada layang-layang terbang. Bermain layang-layang adalah salah satu kegemaranku yang paling keras kepala. Meski anehnya, layang-layang buatanku hampir selalu gagal terbang. Selalu saja menemui kegagalan untuk sekadar mencium kening langit setinggi yang kuinginkan. Melulu tersangkut di rimbun jemari bambu yang menjuntai, serupa sebuah mimpi yang terlalu tergesa-gesa melompat menuju cakrawala yang lupa mengeja arah mata angin. 

Menatap langit mengingatkan layang-layangku yang seringkali berakhir sebagai rongsokan kertas yang meratap di dahan, sebuah metafora bisu tentang betapa rapuhnya ambisi jika tak dibarengi dengan perhitungan yang matang. Dalam kekalahan dan kelelahan menerbangkan tak pernah memadamkan obsesiku yang paling ganjil. Aku ingin sekali menjaring awan saat menerbangkan layang-layang kembali. Melayangkan pada gumpalan kapas yang bertebaran di langit yang tampak putih dan ringan seperti ribuan rahasia suci yang belum sempat diucapkan oleh lisan manusia.

Dalam khayalan kanak-kanakku yang liar, aku membayangkan secuil awan akan tersangkut pada penadah bambu layang-layangku. Lalu benangnya akan kutarik perlahan, dengan selembut mungkin, hingga gumpalan langit itu mendarat di telapak tanganku yang mungil. Ingin kapas awan yang dingin itu kumasukkan ke dalam botol kaca kecil, kusumbat rapat, dan kusimpan sebagai bahan percobaan layaknya seorang ilmuwan kecil yang sangat percaya bahwa seluruh kerumitan dunia ini bisa diringkas dan dipahami jika kita cukup sabar untuk mengamatinya dalam diam.

“Kalau awan itu benar-benar bisa kamu tangkap dan masukkan ke botol, mau kamu apakan, hah?” Mamat pernah bertanya sambil terbahak, tawanya pecah menghantam keseriusanku.

“Aku ingin melihatnya berubah jadi hujan di dalam sana,” jawabku dengan nada yang begitu sakral, sebuah jawaban yang justru membuat tawanya semakin meledak memenuhi tanah lapang.

Baginya, itu adalah igauan, namun bagiku itu adalah pencarian hakikat. Sebab, kata ibu guru di kelas, hujan bermula dari napas awan, dan awan adalah jelmaan dari keringat air laut yang menguap ke langit. Begitulah dari air kembali menjadi air, adalah sebuah siklus abadi yang terdengar seperti dongeng ajaib tentang kepulangan. 

Maka, aku terus membayangkan jika awan itu berhasil kupenjara dalam kaca, apakah aku bisa menyaksikan mukjizat perubahan itu secara langsung tepat di depan mataku? Aku ingin menjadi seperti tokoh yang mampu menangkap kilat petir dalam film Stardust, atau seperti para ksatria dalam legenda Jawa yang sering didongengkan orang tua di kampung, tentang mereka yang sanggup menggenggam elemen alam di tangannya. 

Mungkin itu bukan sekadar rasa ingin tahu yang dangkal. Mungkinkah itu adalah keinginan purba untuk memahami mekanika dunia, sebelum dunia itu sendiri menjadi terlalu rumit dan penuh tipu daya bagi orang dewasa?

Permainan lain yang tak kalah magis dan menguras peluh adalah membangun mobil dokar, kendaraan imajinasi kami yang lahir dari rahim bambu dan keterbatasan yang memaksa. Cara membuatnya kami harus meraut bilahan bambu hingga pipih dan tebal dengan pisau dapur yang tumpul, menyusunnya dalam hitungan rangkap ganjil atau genap seperti memecahkan teka-teki kuno agar konstruksinya bisa berdiri kokoh menantang gravitasi. Rangka itu kami satukan dengan paku-paku reng seadanya yang seringkali bengkok, lalu kami beri roda yang dipahat dari sandal-sandal bekas yang sudah tipis termakan aspal.

Setiap goresan pisau pada kulit bambu itu terasa seperti usaha kecil untuk menaklukkan luasnya dunia hanya dengan alat yang sangat bersahaja. Kami tidak memiliki mesin, namun imajinasi kami adalah bahan bakar yang tak pernah habis. Mobil bambu itu adalah bukti bahwa kebahagiaan tidak butuh kemewahan. Hanya butuh sepasang tangan yang tekun dan sepetak tanah untuk berlari kencang mendorong mobil-mobilan dokar.

"Lihat, rodanya berputar sempurna!" teriakku bangga pada Mamat saat kami masih sering bermain di halaman rumah.

"Iya," sahutnya sambil mengelap keringat, "tapi ingat, mobil bambu ini hanya jalan kalau ada yang mendorong kencang. Kelak, kau harus punya mobil yang jalannya karena niatmu sendiri yang punya tujuan." Kalimat itu kini menggantung dan bergaung kembali di telingaku saat aku duduk di dalam bus untuk menempuh perjalanan nyata, menuju kota Tasikmalaya. 

Perjalanan kali ini bukan lagi tentang mobil bambu atau layang-layang yang tersangkut, melainkan tentang bagaimana aku mulai mendorong diriku sendiri keluar dari zona nyaman, menuju sebuah takdir yang lebih luas dari sekadar cakrawala desa. Ingatan pada mobil-mobilan dokar bambu itu, bagi kami, bukan sekadar mainan mati yang dipahat dari sisa-sisa hutan. Tapi adalah kendaraan menuju kebebasan mutlak yang tak terjamah oleh hukum orang dewasa. Dengan empat roda kokoh seperti mobil sungguhan. Dengan kemudi dari bilah bambu panjang yang menjulang setinggi pinggang, serupa tongkat nakhoda yang siap membelah lautan daratan. 

Ujung bawahnya menyambung dengan batang roda depan sebagai poros kendali, sementara ujung atasnya menjadi pegangan tangan tempat kami menyalurkan seluruh hasrat untuk mendorong dan menentukan arah nasib perjalanan memutar seluruh jalanan di sela-sela jalan kampung. Kami akan berlari sekencang mungkin sambil mendorongnya. Membuat paru-paru kami bekerja keras dan napas pun mulai terengah-engah untuk menderukan mobil dolar. Suaraku seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan mekaniknya, “Ngeng.. ngeng ngeeenngg.”

“Siapa yang paling cepat sampai di ujung jalan, dialah juaranya!” teriak salah satu kawan kami, dengan suaranya melengking membelah hening desa. Untuk memacu adrenalin yang berdesir di balik pori-pori. Aku ikut melesat dalam perlombaan tanpa garis finis yang jelas itu. Merasakan bagaimana permukaan tanah yang kasar menghantam telapak kaki telanjangku dan angin pagi memukul wajahku dengan dingin yang tajam. 

Dalam detik-detik yang padat itu, dunia terasa begitu sederhana. Seakan semuanya luruh. Tidak ada ketegangan nilai rapor yang menghantui. Tidak ada kabut kekhawatiran tentang masa depan yang buram. Yang ada hanyalah laju tubuh, detak jantung yang berontak, dan suara tawa yang memanjang di sepanjang jalan kampung seperti gema yang menolak untuk mati.

Dan mungkin, tanpa pernah kusadari saat itu, permainan-permainan sederhana tersebut adalah sekolah atau madrasah pertama yang mengajarkanku tentang hakikat sebuah perjalanan, tentang seni jatuh dan keharusan untuk bangkit, tentang ketabahan untuk mencoba lagi meski layang-layang selalu berakhir tersangkut di duri-duri bambu, dan tentang keberanian untuk terus berlari meski napas sudah di ujung kerongkongan. Seolah-olah masa kecil sedang membisikkan sebuah rahasia besar yang baru bisa kupahami bertahun-tahun kemudian, bahwa perjalanan paling agung dalam hidup manusia seringkali bermula dari permainan-permainan yang tampak kecil dan remeh-temeh.

Kami juga menempa imajinasi dengan membuat bedil-bedilan, seolah-olah tangan mungil kami benar-benar sanggup mengangkat senjata berat demi sebuah idealisme yang mulia. Kami adalah prajurit-prajurit kecil yang mengimajinasikan diri sebagai angkatan perang perkasa yang bersiap membela batas kampung, menjaga kedaulatan negara, bahkan melindungi seluruh dunia yang hanya kami kenal lewat dongeng kepahlawanan dari mulut orang-orang tua. 

Bedil itu lahir dari potongan bambu ampel, yang batangnya lurus dan kaku seperti niat seorang pemula yang belum pernah diuji oleh pahitnya pengkhianatan. Pelurunya bukanlah timah panas, melainkan bulatan kertas yang dibasahi air hingga padat dan berat, seperti gumpalan kecil harapan yang harus dijaga agar tidak tercerai-berai. Bulatan kertas itu kami tusukkan ke dalam lubang bambu yang diameternya hanya sebesar lubang hidung, lalu dengan dorongan kayu kecil yang pas, lalu kami tembakkan keluar dengan letupan yang memuaskan. 

Saat peluru basah itu mengenai kulit kawan yang kuanggap lawan, rasanya cukup menyengat dan perih, menyerupai cubitan tajam yang mendadak membangunkan saraf-saraf kulit kami dari tidurnya.

“Siap-siap! Aku tembak kau!” teriak salah satu dari kami, suaranya penuh dengan ledakan semangat yang murni. Semangat yang saat itu belum sedikit pun mengenal arti perang yang sesungguhnya, di mana peluru tidak lagi terbuat dari kertas dan luka tidak lagi bisa disembuhkan dengan tawa.

"Aduh! Sakit, tahu!" protesku sambil mengusap lengan yang memerah. Disambut tawa nyengir temanku. "Itu tandanya kau masih hidup. Kalau sudah tidak terasa sakit, mungkin kau sudah jadi patung di tengah pasar," saat berbicara monumen para pahlawan.

Membuat kami tertawa lagi. Tanpa menyadari bahwa kelak, dunia yang lebih luas akan menembakkan peluru-peluru yang jauh lebih menyakitkan daripada kertas basah, dan kami harus belajar untuk tidak hanya sekadar mengeluh "sakit", melainkan terus berjalan menuju tujuan yang telah ditentukan.

Membayangkan lagi saat kami berlarian dengan kaki-kaki telanjang yang lincah, bersembunyi di balik batang pohon yang kokoh atau bongkahan batu besar, sembari melepaskan tawa yang berkelindan dengan teriakan lantang, seolah-olah medan tempur di hadapan kami adalah sebuah palagan nyata yang menentukan hidup dan mati. 

Barangkali dalam keriuhan permainan itu, kami sebenarnya sedang mencecap sari pati strategi tanpa sedikit pun kami sadari. Sebuah latihan keberanian yang meski sejatinya hanyalah keberanian pura-pura, namun sudah lebih dari cukup untuk membuat dada kami terasa membusung lebih lebar daripada usia kami yang sebenarnya. 

Kami mungkin belum memahami betapa ngerinya arti sebutir peluru atau sebilah sangkur, tetapi imajinasi telah menyulap benda-benda sederhana itu menjadi simbol kekuatan yang agung, menjadi sebuah cara rahasia bagi anak-anak untuk meminjam jubah kewibawaan orang dewasa demi bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih besar dan lebih perkasa dari diri kami sendiri yang masih bocah ingusan.

Sepanjang jalan aku mengingat jenis-jenis permainan yang kutinggalkan sementara karena perjalanan ke kota. Pada semua permainan yang pernah kucicipi telah memberi sapuan warna yang berbeda-beda di wajahku. Menjadi warna yang mungkin tak kasatmata bagi mata orang lain. Tetapi terasa berdenyut di balik kulit, serupa cat air yang meresap perlahan dan mendalam ke dalam pori-pori kertas. Dengan segala jenis permainan menuntut fokus yang tajam dan keseimbangan yang presisi. Seperti hendak mengajarkan perpaduan antara kekuatan otot dan kelembutan kerja sama, sebagai sebuah petualangan yang sanggup memacu adrenalin hingga melonjak setinggi langit masa kanak yang biru bersih. 

Seperti saat kami menyeret pelepah pinang yang baru saja gugur dari pelukan pohonnya. Jika pelepah itu masih segar, hijau, dan lebar, sanggup mengangkut tiga hingga empat orang sekaligus di atas punggungnya yang licin. Kami duduk berderet dengan penuh khidmat di atasnya, menyerupai penumpang perahu cadik kecil yang bersiap menembus arus sungai yang menderu, meski yang kami belah hanyalah hamparan rumput dan tanah.

“Tarik yang lebih kuat! Pegangan, jangan sampai ada yang terjungkal!” teriak Mamat dengan derai tawa yang pecah menghantam udara. Pelepah pinang itu meluncur di atas permukaan bumi, berderak pelan menciptakan irama yang khas, meninggalkan jejak panjang di atas tanah seperti garis waktu yang digoreskan dengan sengaja dan takkan pernah bisa dihapus oleh hujan sekalipun. 

Namun, ada saatnya ketika pelepah itu sudah dadas, saat daunnya mulai menguning, mengering, dan menyempit dan mengkerut karena dimakan cuaca, sehingga hanya mampu menggendong satu atau dua penumpang saja sebelum akhirnya menyerah. Di titik itulah kami belajar tentang hakikat batas. Membawa sadar akan segala sesuatu di bawah kolong langit ini memiliki masa jaya yang kuat dan masa senja yang rapuh. 

Pada sebuah permainan sederhana sanggup membisikkan filosofi tentang usia, bahwa kekuatan akan surut, dan kegagahan akan meluruh pada waktunya. Pengalamannya sungguh kontras dengan masa-masa ketika aku masih bermukim di jantung kota Tasikmalaya, di mana hari-hariku dihabiskan dengan mengakrabi tumpukan kardus bekas dan berpura-pura mengemudi di dalam mobil rongsokan yang teronggok membisu di bengkel depan rumah bibiku. 

Permainan kota terasa jauh lebih sunyi, lebih terisolasi. Seperti sebuah dunia yang telah kehilangan ruang lapang untuk sekadar berlari bebas tanpa rasa takut ditabrak kenyataan. Kardus-kardus kaku itu aku sulap menjadi mobil imajiner, dan rongsokan besi yang berkarat menjadi kendaraan masa depan yang hanya mampu bernapas dan bergerak di kepala.

Memang, permainan kota mengajarkan ketekunan yang sunyi dan kemampuan untuk mendaur ulang reruntuhan menjadi sesuatu yang bernilai. Namun, permainan anak kampung memiliki denyut nadi yang jauh berbeda, lebih liar, lebih jujur, dan lebih terbuka serupa embusan angin pegunungan yang menolak untuk dikurung dalam botol kaca.

"Rasanya beda ya, main di sini sama di kota?" tanya Dede saat bertukar cerita pengalaman, seolah ia bisa membaca arus pikiranku yang sedang membandingkan dua dunia permainan saat berbagi pengalaman.

"Iya, di sini tanah permainannya seolah bicara pada kita, dan kita benar-benar menjadi bagian dari ceritanya. Sementara di kota, kita hanya penonton yang sedang bersembunyi di tumpukan kardus,” jawabanku sok filosofis. Karena permainan mobil-mobilan mengandung filosofi itu, sebagai salah satu kegemaranku. Di samping yang pernah membuatku menangis di Cibayah, di rumah Uwa Mudor, karena keras kepalaku kepada nenek ingin aku punya permainan ban karet. 

Inginku sekali pulang ke Citamiang bisa mendorong ban luar bekas motor itu, agar terus menggelinding, membelah jalanan desa yang berdebu. Dengan cukup menggunakan tangan sendiri atau tongkat kayu kecil sebagai kemudi darurat untuk menjaga keseimbangan lingkar karet itu, mempertahankan lajunya agar tidak goyah, limbung, atau jatuh terjerembap ke dalam parit. 

Permainan itu sekilas tampak begitu bersahaja, namun di baliknya tersimpan tuntutan fokus yang setajam mata elang. Permainan yang mengajarkan serupa upaya menjaga sebentuk mimpi agar tidak tergelincir atau pecah berantakan sebelum sempat menyentuh garis tujuannya. Roda itu adalah takdir yang harus terus dipacu. Jika kau lengah sedetik saja, ia akan kehilangan momentum dan mati sebagai tumpukan karet yang tak berarti.

“Jangan sampai oleng! Jaga ritmenya!” teriak Irfan yang berlari bersisian di sampingku, suaranya timbul tenggelam di antara deru angin. Aku hanya mengangguk tanpa suara, dengan napas yang mulai memburu dan keringat yang asin di bibir. 

Saat itu, aku merasa seolah roda yang menggelinding liar itu adalah representasi dari diriku sendiri. Sebuah eksistensi yang dipaksa untuk terus bergerak maju. Berjuang setengah mati agar tetap seimbang di atas permukaan jalan yang penuh kerikil tajam, dan lubang-lubang yang tak terduga. Seolah mengajarkan sejak bocah harus kami belajar untuk tetap tegak, tidak boleh berhenti, karena kalau diam berarti jatuh, dan jatuh berarti tertinggal oleh keriuhan zaman.

Namun, dari sekian banyak cara kami membunuh waktu, permainan yang paling sanggup memeras adrenalin hingga ke titik penghabisan adalah motorcross dari dahan pelepah pohon sagu. Di kampung kami tidak memiliki sirkuit megah, tapi kami bisa menciptakan dunia kami sendiri. Membangun motor imajiner dan arena lintasan yang lahir dari rahim tanah miring yang melandai, menyerupai jalur balap sungguhan yang menantang maut. 

Jalur lajunya dibangun dengan ketelitian bak seorang arsitek otodidak. Dengan memanfaatkan barisan bambu yang ditancapkan ke bumi sebagai tiang-tiang penyangga setinggi badan. Di tiap-tiap pangkal lintasan, tiang-tiangnya menjulang lebih tinggi, lalu perlahan menyusut rendah menuju ujung jalan, menciptakan sudut kemiringan ekstrem yang membuat jantung berdegup lebih kencang bahkan sebelum kaki sempat menginjak arena permainannya.

Tiang-tiang bambu itu berdiri dalam jarak yang dihitung dengan naluri, berderet seperti barisan penjaga yang bisu namun kokoh, menopang batang dahan pelepah sagu panjang yang dipaku dengan saksama pada masing-masing puncak tiang bambu. Batang dahan pelepah sagu itu adalah rel motor kami, sebuah jalur luncur yang licin dan berbahaya, tempat kami akan mempertaruhkan keberanian demi sebuah pengakuan yang tak tertulis. Di atas batang dahan pelepah sagu itulah, kami akan meluncur seperti peluru yang lepas dari selongsongnya, membiarkan tubuh kami menjadi tawanan gravitasi dan kecepatan.

"Kau yakin tiang ini tidak akan goyang?" tanyaku sambil menggoyang-goyangkan salah satu bilah batang bambu yang menancap tanah dengan tangan yang sedikit gemetar. Mamat yang sedang memaku ujung batang, menoleh dengan tatapan yang tajam namun menenangkan. "Bambu ini sudah tertanam dalam di tanah, sama seperti keyakinanmu. Kalau kau ragu di tengah jalan, itulah saat kau akan jatuh.” 

“Pegangan yang kuat, dan biarkan angin yang membawamu ke bawah," kata Mamat. Aku menelan ludah, menatap jalur curam di depanku. Saat pagi bersiap menuju Tasikmalaya, aku menyadari bahwa lintasan batang dahan pelepah sagu itu adalah latihan untuk hari ini. Hidup baru saja memberiku jalur yang lebih panjang, lebih miring, dan lebih asing. Dan aku, dengan map cokelat di tangan, harus meluncur ke sana tanpa boleh ragu sedikit pun.

Ketika tubuh kecil kami akhirnya bertengger di atas motor dari bilah batang dahan sagu juga, sebagai kendaraan motor mainan, semesta mendadak menciut. Membuat kami tak lagi merasa sebagai anak-anak desa yang dekil, melainkan pembalap tangguh yang sedang mengadu nyali di atas lintasan paling bergengsi di dunia.

“Siap? Tiga… dua… satu!” teriak salah seorang kawan, suaranya melengking memecah sunyi, menjadi genderang perang bagi adrenalin yang telah siap meledak di dalam dada untuk kaki meluncurkan motor di arena lintasan berbahan batang dahan sagu dan bambu.

Seketika, motor berbahan sagu itu meluncur dengan kecepatan yang menggedam jantung. Tanah di bawahnya seolah bergetar hebat, merespons gesekan yang kasar, sementara kami berteriak di antara batas tipis antara ketakutan yang mencekat dan kebahagiaan yang meluap. 

Angin pagi, siang, atau sore yang tajam memukul wajah tanpa ampun, memaksa air mata meleleh di sudut mata, namun kami tetap tertawa, berpendaran tawa yang lahir dari kebebasan murni dalam detik-detik yang melaju itu. Membuat dunia terasa tak bertepi, seolah-olah masa kecil adalah sebuah lintasan panjang yang abadi, sebagai garis waktu yang tak akan pernah menemukan garis akhir.

Ketika dewasa memanggil ingatan itu, semua jenis permainan terasa kembali kusentuh. Aku menyadari dengan sepenuh jiwa bahwa semua permainan itu bukanlah sekadar cara untuk membunuh waktu. Ia adalah sekolah sunyi tanpa dinding, sebuah tempat belajar pada alam, bersatu dengan alam, dan alam mengajarkan kami tentang hakikat keberanian yang tak gentar pada luka, keseimbangan dalam meniti nasib, dan seni kerja sama yang tulus, bahkan keikhlasan dalam menerima kegagalan. 

Pelajaran-pelajaran itu memang tak pernah tertulis di lembar buku pelajaran yang rapi, namun ia telah tertanam kuat, mengerak di dalam tubuh dan mengakar dalam ingatan. Menjelma seperti bekas luka kecil di lutut yang tak pernah benar-benar hilang. Selalu ada di sana untuk mengingatkan dari mana kami berasal.

Masa itu hari-hari penuh tentang belajar dan dengan penuh ketelitian, agar kami bisa mengkondisikan jalur itu cukup aman untuk meluncurkan “motor” yang kami duduki, yang juga lahir dari rahim pelepah sagu yang sama. Kami memulai permainan dengan perhitungan yang tampak begitu sakral dan serius, sebuah simulasi kedewasaan yang menyamar dalam rupa permainan anak-anak. 

Batang demi batang pelepah sagu yang kami susun miring landai, sambung-menyambung dengan presisi dari garis awal hingga garis akhir, menyerupai jembatan sederhana yang membelah sungai imajinasi kami yang meluap-luap. Kami memastikan setiap sambungan antar batang dahan itu kuat dan tak tergoyahkan, serta setiap paku dari bambu dan kayu tertanam dalam-dalam ke jantung bambu penyangga. Sebab kami pun sadar, di dunia yang kami ciptakan ini, sedikit saja kelalaian atau satu paku yang longgar bisa berakibat fatal: tubuh akan tergelincir menghantam tanah yang keras, dan tawa yang baru saja membumbung akan berubah menjadi tangis yang menyayat.

“Pegang kuat-kuat! Jangan lepaskan sampai kau melihat ujungnya!” teriak Mamat pada kami tepat sebelum tubuhnya melesat hilang ditelan kemiringan. Aku menatap tanganku yang menggenggam erat bilah pelepah itu. Genggaman yang sama yang kini kugunakan untuk memegang map cokelat beasiswa Supersemar di depan gerbang sekolah.

"Kau ingat bagaimana rasanya meluncur dulu?" suara Dede membuyarkan lamunanku. Ia telah berdiri di dekat mobil bus yang membawa kami sampai di Cilembang. Aku tersenyum, merasakan sensasi getir dan manis yang berkelindan. 

“Ingat, Kak. Dan sepertinya, perjalanan ke Tasik ini adalah lintasan pelepah sagu yang baru. Bedanya, kali ini kita tidak boleh jatuh, karena tidak akan ada tawa jika kita gagal.”

Senior kelasku mengangguk pelan, tatapannya jauh menembus kabut pagi. Lalu berkata, "maka, peganglah cita-citamu sekuat kau memegang pelepah itu. Ayo, busnya sudah datang.”

Kedatangan bus seperti aku akan duduk di motor pelepah sagu untuk mulai bergerak melepaskan diri dari titik diam start perjalanan. Merasakan jantung dalam rongga dadaku berdegup kencang, menyerupai genderang kecil yang dipukul bertalu-talu oleh tangan tak kasatmata. Angin dan debu jalanan menerpa wajahku dengan kasar, memaksa mataku menyipit, seperti waktu melihat permukaan tanah di bawah jalur batang dahan pelepah sagu, sebelum berlari menjauh dengan kecepatan yang meluap-luap. 

Dalam ajang permainan itu, dalam sekejap yang fana itu, kami merasa telah bertransformasi menjadi pengendara sejati yang sedang menaklukkan lintasan paling angkuh di dunia. Setiap batang pelepah yang kami lalui adalah tahapan perjalanan hidup yang sesungguhnya. Setiap sambungan bambu yang berderit adalah ujian keseimbangan yang menuntut kejernihan jiwa. Saat kami meluncur deras menuruni pelepah demi pelepah dahan lintasan yang miring landai, seolah-olah kami sedang menuruni anak tangga waktu itu sendiri, meluncur dari titik keberanian menuju muara tawa, dan dari jurang ketakutan menuju puncak kegembiraan yang murni.

Semua permainan itu, tanpa pernah kami sadari dalam kepolosan waktu itu, adalah ruang belajar yang paling jujur dan paling tanpa purapura. Di sanalah kami mengeja abjad sosial yang pertama, belajar bahwa sebuah tujuan hanya bisa digapai dengan jemari kerjasama yang saling mengunci, dan belajar membaca garis tipis yang memisahkan antara keberanian yang mulia dengan kecerobohan yang buta. 

Alam raya menjadi guru yang diam namun paling bijaksana. Bambu yang lentur, pelepah yang tabah, tanah yang pasrah, dan angin yang menghasut adalah lembar-lembar buku pelajaran yang terbuka lebar di hadapan kami. Kami mengambil dari alam secukupnya, seperti mengambil napas di pagi hari. Bukan untuk mengangkangi atau menguasainya, melainkan untuk menyatu dan larut di dalamnya. 

Dalam kebersamaan yang bersahaja dengan kawan-kawan sekampung, kami merasakan dengan seluruh sel tubuh bahwa manusia sejatinya hanyalah bagian kecil dari alam, yang bukanlah penguasa yang pongah, melainkan sekadar anak kecil yang sedang asyik bermain di hamparan halaman ibunya sendiri.

“Mungkin karena itulah kita selalu merasa utuh di sini,” bisik seorang teman suatu hari, saat dewasa, dengan suaranya parau oleh debu dan matanya jernih menatap bentangan sawah yang menghijau luas hingga ke kaki langit.

Aku hanya mengangguk pelan, membiarkan sunyi meresap ke dalam dada. Terketuk oleh dahaga kebahagiaan yang sederhana, yang terasa sangat padat dan utuh, menyerupai perasaan tenang saat seseorang pulang ke sebuah rumah tua yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Demikian pula suasana hatiku pagi ini, saat aku dan senior kelas berdiri di ambang pintu sebuah babak baru sebagai penerima beasiswa. Bersama Bapak Kepala Sekolah yang menjadi pelindung kami, sudah bersiap melakukan ziarah fisik yang tempat jauh. Meninggalkan pelukan kampung yang teduh menuju kantor Diknas Kabupaten yang asing dan kaku. Perjalanan ini terasa seperti sebuah perpindahan dimensi dunia. Sebuah migrasi jiwa dari jalanan tanah yang selalu akrab menciumi telapak kaki. Menuju hamparan jalan aspal hitam yang terasa dingin dan penuh tanda tanya.

Aku belum benar-benar paham tentang apa yang menungguku di ujung jalan nanti. Aku hanya melangkah, mencoba menyelaraskan ritme kakiku dengan langkah-langkah orang dewasa yang lebih lebar, seperti seorang anak kecil yang menyimpan iman yang teguh bahwa setiap perjalanan yang dimulai dengan restu, pasti memiliki alasan yang agung bagi masa depan.

"Sudah siap?" tanya Dede, suaranya lebih lirih dari biasanya, seolah ia juga sedang merapikan degup jantungnya sendiri.

Aku menoleh, melihat seragamnya yang rapi dan map cokelat di tangannya, lalu menjawab dengan mantap, “Siap, Kak. Mari kita lihat sejauh mana jalan aspal ini membawa kita.”

Kami pun melangkah menuju pintu masuk bus yang sudah menyala, meninggalkan terminal Cibantar yang mulai ramai oleh suara orang-orang dewasa tukang ojek. Kutinggalkan suara-suara dunia permainan yang kini harus kami tinggalkan sejenak demi mengejar dunia yang lebih nyata. Untuk tujuan kami yang baru kuketahui secara pasti di kemudian hari adalah sebuah titik yang berdekatan dengan gerbang kampus Unsil, sebagai kawah candradimuka tempat para mahasiswa yang seringkali bertandang ke sekolah kami bernaung. 

Sejak mula kami sudah dapat mengeja kata ma-ha-sis-wa un-sil. Mereka yang biasanya datang ke kampung kami, membawa papan plang jalan, sebagai aroma yang ia hidangkan, juga tentang cerita dunia luar yang segar dan asing saat masuk ke kelas-kelas sekolah kami. Memperkenalkan diri sebagai peserta KKN dengan jaket almamater yang tampak gagah di mataku. 

Dahulu, aku melihat mereka seperti tokoh-tokoh yang melompat keluar dari lembaran buku cerita lain. Sosok yang tampak jauh lebih dewasa, memanggul buku-buku tebal yang menyimpan rahasia semesta, dan memiliki cara bicara yang tertata, tajam sekaligus penuh wibawa.

“Suatu hari nanti, kalian pun bisa berdiri tegak seperti mereka,” pernah salah seorang guru berbisik di telingaku, suaranya mengandung harapan yang berat. Barangkali kalimat itu tidak menghilang ditiup angin, melainkan singgah dan menetap di sudut pikiranku, menyerupai benih mungil yang diam-diam terkubur di bawah tanah batin tanpa sempat aku sadari. Ia hanya menunggu hujan waktu untuk mulai bertunas, sebuah janji sunyi bahwa dunia tidak hanya sebatas pagar sekolah kami.

Kepergian kami di bawah kawalan Sang Bapak Kepala Sekolah memberikan tekstur pengalaman yang sungguh berbeda dari perjalanan manapun. Beliau bukan sekadar pemimpin yang duduk di kursi jabatan, melainkan bertindak layaknya seorang pemandu spiritual di sebuah pengembaraan panjang yang sakral. Sepanjang jalan yang kami lalui, di sela deru mesin dan debu yang beterbangan, beliau sering melontarkan komentar serta penjelasan mendalam tentang apa pun yang tertangkap oleh indra kami. Tentang anatomi desa, tentang silsilah sejarah yang terkubur, hingga tentang pergeseran batas wilayah yang sebelumnya tak pernah sekalipun terlintas di benak kecilku.

“Perjalanan itu bukan hanya sekadar aktivitas melihat dengan mata,” katanya suatu saat, suaranya berat dan dalam, menggetarkan ruang sempit di dalam kendaraan. “Tetapi tentang bagaimana kau menggunakan hatimu untuk memahami setiap inci tanah yang kau lewati.”

Ketika roda kendaraan kami baru saja menyentuh aspal Cikatomas, Sang Bapak mulai menenun cerita dengan nada yang tenang, menyerupai seorang penutur hikayat yang ingin memastikan bahwa kami, murid-muridnya, mengerti benar dari mana asal-usul sebuah pijakan. 

Beliau menjelaskan bahwa Kecamatan Pancatengah sejatinya adalah pemekaran, sebuah anak yang lahir dari rahim Kecamatan Cikatomas. Begitu pula dengan Desa Mekarsari, tanah tempat sekolah kami berdiri tegak ternyata merupakan serpihan pemekaran dari Desa Tawang.

Itulah mengapa, meski secara administratif sekolah kami kini berada di wilayah yang telah bersalin rupa, nama sekolah kami tetap abadi sebagai SDN Tawang 2. Nama yang bagiku terasa seperti rajah atau jejak masa lalu yang menolak untuk dihapus oleh birokrasi. Sebuah pengingat bahwa meskipun dahan pohon tumbuh menjauh ke arah yang berbeda, mereka tetap meminum sari pati dari akar yang sama.

"Ingatlah namamu, Nak," bisik Bapak Sekolah sambil menatap keluar jendela, ke arah perbukitan yang perlahan tertinggal di belakang. “Karena nama adalah jangkar. Tanpa jangkar, kau hanya akan menjadi buih yang hanyut tak tentu arah di lautan luas.”

Aku mendekap map cokelat di pangkuanku lebih erat lagi. Penjelasan itu membuatku menyadari bahwa perjalananku menuju kota hari ini bukan sekadar urusan uang beasiswa, melainkan sebuah garis lurus yang menyambungkan masa laluku di kampung dengan masa depan yang sedang menungguku di balik gedung-gedung tinggi kota Tasikmalaya.

Aku membuang tatap ke luar jendela kendaraan, menyaksikan hamparan sawah dan deretan rumah penduduk melesat lewat seperti halaman-halaman buku tua yang dibalik oleh tangan angin dengan sangat cepat. Di balik kaca yang mulai berdebu, aku merenung. Dalam penjelasan sederhana dari Bapak Kepala Sekolah tadi, aku mulai menyadari bahwa sebuah nama bukanlah sekadar label atau papan penunjuk yang mati. Ia adalah sebuah bejana bagi ingatan kolektif, sebentuk cara sunyi namun gigih bagi manusia untuk menjaga tali pusarnya agar tetap terhubung dengan rahim asal-usul.

Perjalanan pagi itu perlahan-lahan menyuntikkan sebuah kearifan baru ke dalam sumsum tulangku dalam memahami sebuah tempat, yang berarti juga harus sanggup mengeja sejarah yang mengalir deras di bawah permukaannya. Serupa sungai bawah tanah yang tidak selalu menampakkan diri ke permukaan, namun dialah yang secara rahasia menentukan ke arah mana seluruh kehidupan di atasnya harus bermuara.

Bahkan hingga detik ini, meski secara administratif desa kami telah dipasung masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pancatengah, secara denyut sosio-budaya, kami masih merasa bahwa ibukota sejati bagi batin kami adalah Cikatomas. Ada sesuatu yang begitu purba dan sakral yang tidak akan pernah bisa diubah hanya dengan goresan tinta di atas peta atau keputusan birokrasi yang dingin. Ia menyerupai akar pohon tua yang tetap menghujam kuat pada tanah lama yang membesarkannya, meski batang dan daunnya dipaksa melambai di bawah langit yang baru. 

Identitas kami seolah-olah hidup dan bernapas di ambang dua dunia yang berbeda, berayun di antara apa yang tertulis kaku dalam dokumen resmi pemerintah, dan apa yang tertanam dalam-dalam di palung ingatan kolektif yang tak lekang oleh zaman.

"Kenapa kita tidak bilang saja kalau kita orang Pancatengah, Pak?" tanyaku pelan, mencoba menguji batas antara hukum dan rasa.

Bapak tersenyum, matanya memancarkan keteduhan seorang tetua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. 

“Peta bisa digambar ulang, Nak, tapi rasa memiliki tidak bisa dihapus dengan karet penghapus. Cikatomas itu bukan cuma nama tempat di peta, tapi nama rumah di dalam dada kita.”

Di tempat-tempat yang jauh, saat orang asing bertanya dengan nada menyelidik, “Dari mana asalnya, Nak?” lidah kami hampir selalu meluncurkan jawaban yang sama: “Cikatomas.” Jawaban itu melesat keluar begitu saja tanpa jeda, seperti sebuah refleks saraf yang tidak lagi membutuhkan pertimbangan logika. 

Dan barulah, jika lawan bicara kami tampak mengernyitkan dahi karena sudah mengenal Cikatomas namun butuh ketajaman arah, kami akan mulai mengupas lapisan-lapisan identitas yang lebih kecil: “Pancatengah, Tawang, Cibantar, Citamiang.”

Nama-nama itu seolah membentuk lingkaran konsentris yang semakin mengecil namun semakin padat, membawa kami berputar semakin dekat menuju inti dari pusat asal-usul. Seolah-olah, setiap kali kami menyebutkan nama desa atau dusun itu, kami sedang melakukan langkah-langkah gaib untuk pulang menuju rumah yang sebenarnya, rumah di mana ari-ari kami dikubur dan mimpi-mimpi kecil kami pertama kali diterbangkan. (Bersambung)

Perspektif

Scroll