Perkawanan dengan Mamat, jika disusun seperti kepingan kaca yang tercecer di lantai, mungkin akan memantulkan cahaya yang tak selalu sama. Ada yang tajam dan melukai seperti sembilu yang membelah sunyi, ada pula yang memantulkan kilau hangat yang diam-diam menenangkan layaknya sisa bara api di tungku tua saat hujan badai. Aku sering bertanya pada diri sendiri, antara mana yang lebih banyak buruknya atau baiknya. Tapi ingatan manusia serupa ladang yang keras kepala, ia memilih sendiri apa yang ingin ditumbuhkan, dan sering kali yang tumbuh justru rumput liar kenangan pahit yang akarnya melilit hingga ke hulu jantung.
Banyak sekali hal tidak baik yang ia ajarkan padaku, dan entah mengapa justru itu yang tinggal paling jelas, menetap seperti noda tinta hitam di atas kain kafan yang menolak hilang meski dicuci dengan air mata berkali-kali. Sementara kebaikan-kebaikannya, yang mungkin jumlahnya lebih luas dari samudera, justru terasa seperti embun pagi di ujung daun jati. Mengakui pernah ada, pernah menyentuh kulit dengan sejuk yang tulus, tetapi perlahan menguap tanpa jejak sebelum sempat kuabadikan dalam botol ingatan.
Mungkin benar tabiat manusia adalah sebuah lubang tanpa dasar yang lupa cara berterima kasih, atau mungkin ingatan kita hanyalah seekor binatang buruan yang hanya ingin bertahan pada luka-luka lama agar kita terus waspada bahwa hidup tak pernah benar-benar menyediakan pelukan yang tulus. Aku sering berpikir di bawah remang lampu jalan, apakah aku sedang berlaku dzalim padanya dengan hanya mengingat cacatnya, atau justru aku sedang jujur pada rapuhnya diri sendiri yang tak sanggup memikul beban cahaya yang terlalu benderang dalam satu waktu.
Lagi pula, perkawanan kami tidaklah dibangun di atas menara mimpi yang megah atau cita-cita idealis yang mentereng seperti dongeng-dongeng pengantar tidur, melainkan tumbuh dari kerak bumi yang retak, sebagai sebuah kebutuhan purba untuk sekadar tidak merasa sendirian di tengah dunia yang luas dan dingin. Kami bertemu di ruang yang sangat biasa, di mana nasib diletakkan di atas meja yang sama. Pada sekolah yang hiruk-pukuk dengan debu kapur, jalanan aspal yang memanggang telapak kaki telanjang, dan pengajian santri kodok di musala Darul Abrar yang menjadi saksi bisu saat kami terbata-bata mengeja alif, ba, ta.
Di sana, suara kami yang masih kecil dan cempreng mencoba memanjat langit, menghafal juz amma seolah ayat-ayat itu adalah peta rahasia untuk keluar dari labirin kemiskinan yang belum kami pahami namanya. Mamat adalah kakak kelas dua tingkat dariku di sekolah formal, sosok yang terlihat lebih dulu mencicipi asam garam nakalnya dunia, tetapi di serambi pengajian itu kami berdiri sejajar sebagai dua jiwa yang sama-sama yatim akan arah hidup.
"Mat, kenapa kamu sering sekali dicari guru? Apa karena bolos?" tanyaku suatu sore, saat kami duduk di pinggir parit sambil memandangi langit yang mulai jingga.
Mamat hanya terkekeh, mencabut sebatang rumput lalu mengunyah ujungnya yang pahit. "Sekolah itu seperti kurung ayam, Haya. Aku ini burung gereja, lebih suka hinggap di dahan mana saja daripada harus mematuk dedak di dalam kandang yang sempit," jawabnya enteng, namun matanya menatap jauh ke cakrawala seolah mencari sesuatu yang hilang di sana.
Orang-orang sering berbisik tentang kenakalannya yang dianggap melampaui batas, dan aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ayahnya memukulnya dengan raut wajah yang lebih mirip topeng duka daripada kemarahan. Sebuah wajah lelah yang memikul beban tak terlihat, seolah tiap ayunan tangan adalah cara sang ayah membuang rasa gagalnya sendiri.
"Mamat, kamu ini kapan bisa diam dan jadi anak baik-baik hah?" suara ayahnya menggelegar, namun di balik gertakan itu ada retakan kesedihan yang dalam, seperti suara keramik mahal yang jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai semen.
Mamat hanya menunduk, menerima pukulan itu seolah kulitnya adalah kulit kayu yang sudah terbiasa dengan kapak, lalu beberapa menit kemudian ia kembali tertawa terbahak-bahak seolah dunia hanyalah panggung sandiwara yang tak pernah benar-benar mampu menghukum jiwanya.
Itulah Mamat, kawan masa kecilku yang serupa bayangan di bawah terik matahari. Hadirnya yang juga menegaskan keberadaanku, teman bermainku sejak pertama kali mengerti bahwa mengejar layang-layang putus di kampung adalah cara paling mudah untuk melupakan perut yang keroncongan, melupakan rasa takut pada masa depan, dan kesepian yang seringkali datang tanpa mengetuk pintu. Persahabatan ini adalah sebuah jembatan bambu yang reyot, yang meski berderit setiap kali kami melangkah, tetap menjadi satu-satunya jalan untuk menyeberangi derasnya arus nasib yang ingin menenggelamkan kami ke dasar lupa.
Salah satu hal baik yang pernah ia semaikan di hidupku adalah mengajakku berjualan es. Sebuah ajakan darinya yang bukan datang sebagai petualangan besar nan heroik, melainkan sebuah jalan setapak kecil nan sunyi menuju martabat seorang bocah yang ingin memiliki kedaulatan atas uang jajannya sendiri. Kami berjalan menyusuri pematang dan gang sempit sambil menjinjing termos es yang beratnya seolah menandingi berat dunia, seperti dua pedagang kecil yang sedang menyusun kepingan mimpi dari gemerincing recehan koin yang jatuh satu per satu ke dalam kaleng bekas. Setiap langkah kaki kami yang beradu dengan debu jalanan adalah detak jantung yang belajar berirama dengan kerasnya kehidupan. Sebuah latihan menjadi dewasa sebelum waktunya, di mana keringat yang jatuh ke dahi adalah tinta pertama yang menuliskan bab tentang kemandirian.
"Bawa yang kuat, Haya. Termos ini bukan cuma isi es, tapi isi harapan buat beli baju baru nanti," ujar Mamat sembari menyeka peluh, dengan suaranya yang serak tapi penuh keyakinan yang menular. Aku hanya bisa mengencangkan pegangan, merasakan dinginnya dinding termos meresap ke telapak tanganku, kontras dengan tanah dan batu-batu putih jalanan yang mulai membara di bawah kaki.
Namun, kebiasaan buruknya tumbuh di samping kebaikannya seperti benalu yang memeluk erat batang pohon. Sejak kelas dua SD, ia sudah akrab dengan rokok, mengisap asapnya dalam-dalam seolah ia sedang mencoba menelan seluruh kegelisahan dunia yang bahkan belum sanggup ia definisikan dengan kata-kata. Aku sering kali hanya terpaku memandangnya dengan rasa heran yang menggunung. Melihat bagaimana asap putih itu menari di udara lalu hilang ditelan angin, persis seperti masa kecilnya yang terasa menguap terlalu cepat.
"Kamu nggak mau coba? Biar dadamu nggak penuh dengan sesak yang nggak jelas," tanyanya suatu sore di bawah pohon kersen, menyodorkan sebatang rokok dengan gaya sok dewasa yang terlihat kikuk namun mengandung keberanian yang getir.
Aku menggeleng pelan, seolah sedang menolak sebuah tawaran menuju jurang yang tak terlihat dasarnya. "Aku takut sama Pak Ateng, Mat. Kalau ketahuan guru, punggungku bisa jadi sasaran rotan," jawabku, sebuah kalimat yang meluncur sebagai setengah candaan namun separuhnya adalah kejujuran yang mengakar kuat di dalam dada.
Dalam hal itu, aku merasa memiliki benteng gaib yang kokoh, sebuah garis pembatas tak kasat mata yang menjaga jiwaku agar tidak tergelincir ke dalam lubang gelap yang mungkin saja pernah hampir aku cicipi. Kadang, di tengah malam yang sunyi, aku bertanya pada langit. Apakah benteng itu adalah manifestasi dari sebuah keberanian sejati, ataukah sekadar bentuk ketakutan yang sehat untuk tetap membuatku berjalan di atas setapak yang lurus?
Menjelang fajar bulan puasa yang suci, semangat kami bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih serius dan khidmat, seolah kalender di dinding waktu bukan lagi sekadar penanda angka, melainkan lonceng panggilan yang menggema di palung jiwa untuk segera bersiap. Kami menjadi lebih sering bertamu ke rumah Mang Kosman, merayu dan memohon agar diberi modal tambahan untuk berjualan es setiap kali lonceng sekolah berdentang pulang. Suara kami yang kecil dan parau terdengar seperti doa-doa dari dua pengemis nasib yang sedang menawar takdir di hadapan raksasa ekonomi kecil bernama modal.
"Mang, tambahlah sedikit lagi esnya. Kami janji, sebelum bedug magrib, semua modal ini sudah kembali jadi lembaran kertas yang utuh," rayu Mamat dengan mata yang berbinar-binar seperti bintang di malam buta. Sementara aku hanya mampu mengangguk-angguk kecil, menggantungkan seluruh keberuntungan pada belas kasih Mang Kosman yang berdiri dengan tangan bersedekap.
Aku telah mematri tekad di dalam hati untuk memiliki tabungan sendiri sebelum Ramadan benar-benar mengetuk pintu. Karena bagi anak-anak seperti kami, bulan puasa bukan hanya tentang menahan dahaga yang membakar kerongkongan, melainkan sebuah musim perayaan agung yang menanti untuk dipetik hasilnya. Ada tradisi yang terasa begitu megah dalam kesederhanaannya. Dengan mengumpulkan receh demi receh untuk membeli karbit demi menciptakan dentuman bom lodong yang menggetarkan bumi, atau menyalakan mercon dan kembang api pada malam pertama tarawih. Suara ledakan yang membahana di angkasa itu bagi kami bukanlah sekadar kebisingan, melainkan sebuah proklamasi suci bahwa waktu yang sakral telah tiba, sebuah tanda bahwa kegelapan hidup bisa diusir dengan sekejap cahaya dan bunyi yang mengguncang dunia.
"Lihat itu, Haya! Merconnya lebih terang dari lampu petromak!" teriak Mamat sambil menunjuk langit yang koyak oleh percikan api berwarna-warni.
Di antara tawa yang pecah, debu jalanan yang menyesakkan dada, dan cahaya kembang api yang hanya bertahan sekejap mata sebelum padam, kami berdiri seperti dua manusia kecil yang sangat percaya bahwa dunia akan selalu menemukan jalannya untuk kembali terang benderang. Kami percaya bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan tetes keringat dan kesabaran, meski sebelumnya kami harus berjalan tertatih melewati malam-malam panjang yang sunyi dan penuh dengan ketidakpastian yang mencekam.
Dan untuk bisa membakar mercon, menyalakan kembang api, dan semua yang kami butuhkan barang kami dapatkan di Pasar Tawang. Tempat di mana seluruh muara dari dahaga pencarian barang mainan masa kecil kami selalu berakhir di Pasar Raya Tawang. Kehadirannya bagai sebuah palung raksasa di mana suara manusia saling berbenturan seperti ombak, bercampur dengan aroma tanah basah, amis ikan, dan keriuhan yang tak pernah benar-benar habis di hari Minggu.
Jika hari Minggu datang, bersama Mamat, tepat setelah butiran tasbih terakhir jatuh di lantai pengajian, kami sering langsung bersiap dengan raga yang masih harum wangi surau namun pikiran yang sudah melesat jauh ke jantung kotanya kampungku. Kami adalah dua petualang kecil yang baru saja menerima peta menuju dunia lain, sebuah dunia yang menjanjikan warna di tengah hidup kami yang sering hanya berkelindan dengan warna abu-abu kemiskinan. Kami naik kolbak, mobil pick-up pengangkut sayur yang bagi orang dewasa hanyalah besi tua yang berisik, tetapi bagi kami, ia menjelma menjadi kereta kencana menuju kemungkinan-kemungkinan kecil yang terasa begitu megah di pusat keramaian.
Debu jalanan menempel di kulit kami yang legam, mengeras menjadi kerak seolah-olah itu adalah tanda pangkat dari sebuah perjalanan panjang. Sementara angin pagi meniup wajah kami dengan dingin yang menyegarkan sekaligus menampar kesadaran bahwa kami hanyalah butiran pasir yang sedang belajar mengeja luasnya gurun dunia.
"Pegang yang kuat, Haya! Jangan sampai kamu terlempar jadi nangka busuk di aspal," teriak Mamat di sela deru mesin mobil kolbak yang batuk-batuk, dan tanganku mencengkeram bak besi yang berkarat dengan erat.
Aku tertawa, meski hatiku berdesir melihat betapa cepat jalanan tertinggal di belakang. Dari kampungku menuju terminal Cibantar sebenarnya hanya sepelemparan batu, hanya setengah menit berjalan kaki, namun perjalanan sesungguhnya adalah tentang ketabahan saat menunggu kolbak yang ngetem menunggu muatannya penuh. Waktu di terminal terasa merambat selambat siput, sebuah jeda napas yang panjang dan menyesakkan sebelum loncatan besar dimulai. Sering hampir satu jam kami duduk di atas bak terbuka, memandangi asap knalpot, sebelum akhirnya roda-roda itu bergerak membawa kami menuju jantung pasar yang berdenyut kencang.
Sampai di gerbang pasar, kami selalu disambut oleh jalanan yang tidak lagi terlihat aspalnya, tertutup oleh lapak-lapak dagangan yang meluber seperti sungai yang sedang banjir bandang. Di kanan dan kiri jalan bagai sebuah luapan barang-barang yang mempersempit ruang gerak kendaraan dan lalu-lalang manusia, hingga udara terasa menjadi barang mewah yang mahal harganya. Di sana, orang-orang saling bersentuhan bahu tanpa benar-benar saling mengenal, raga mereka bergesekan namun jiwa mereka tetap terasing satu sama lain dalam kesibukan mencari sesuap nasi. Suara tawar-menawar terdengar bagai nyanyian kolosal yang tak pernah menemui titik akhir, sebuah simfoni sulapan keinginan dan kebutuhan yang menyatu dalam bisingnya pasar.
Lapak pertama yang menjadi kiblat langkah kami bukanlah penjual es yang menggoda atau mainan plastik yang berwarna-warni. Sesungguhnya setiap kali datang ke pasar tempat tujuan utama adalah dagangan lapak buku. Sebuah pojok yang menjadi gerbang pelarian kami dari kenyataan hidup yang sering kali terlalu keras untuk dikunyah. Posisi lapaknya tepat di mulut gerbang pasar sebelah kiri. Begitu masuk pasar lalu tengok ke kiri di sanalah bertumpuk buku-buku yang tak pernah kubeli. Di sana kami hanya menumpang baca dengan pura-pura mau membeli.
"Lihat ini, Haya. Tatang S. sudah mengeluarkan seri baru. Petruk masuk neraka katanya," bisik Mamat dengan suara yang lirih. Jemarinya yang kasar karena selalu menjinjing termos es dan kayu bakar menyentuh sampul komik yang sudah sedikit kusut seolah ia sedang menyentuh permukaan porselen yang sangat mahal.
Di sana, di antara tumpukan kertas yang mulai menguning, berjajar komik Petruk karya Tatang S. yang legendaris, buku TTS dengan kotak-kotak putih misterius yang menunggu untuk dipecahkan, hingga buku kumpulan lirik lagu yang sedang tenar di radio. Ada pula buku-buku tanpa gambar yang hanya berisi barisan kata-kata rapat, seolah-olah dunia sedang menguji seberapa kuat mental kami untuk bertahan membaca tanpa dipandu oleh ilustrasi. Kami berdiri diam di sana, dua bocah yang terpesona pada gambar dan aksara, merasa bahwa di dalam buku-buku ini terdapat kunci untuk membuka pintu penjara nasib kami.
"Kalau nanti uang jualan es kita sudah terkumpul banyak, aku akan beli yang ini. Aku ingin tahu bagaimana caranya Petruk bisa pulang lagi ke bumi," gumam Mamat lagi, matanya yang biasa terlihat liar kini meredup dalam binar keinginan yang tulus, seperti cahaya lampu teplok yang berjuang melawan angin malam.
Aku hanya mampu mengangguk dalam diam, merasakan sebuah desir keinginan yang merayap di dalam dada seperti ombak kecil yang berulang kali menghantam pantai harapan kami. Di tengah lautan manusia yang hanya memikirkan perut dan dagangan, kami hanyalah dua anak kecil yang sedang berusaha mencuri sedikit ilmu dan imajinasi, berharap bahwa suatu saat nanti, kami tidak hanya membaca cerita orang lain, tetapi mampu menuliskan sendiri jalan cerita yang lebih baik untuk hidup kami yang sederhana ini.
Kami selalu berburu buku yang penuh dengan ilustrasi, bagai sebuah hamparan gambar yang terasa seperti jendela kaca menuju dunia lain. Tempat impian yang bahkan getaran rasanya tak pernah sanggup kami temukan, meski tangan telah menggenggam erat kepingan logam hasil upah berjualan es yang memeras peluh. Di hadapan lembaran-lembaran itu, waktu seolah kehilangan detaknya, memanjang dan meluap sejak detik pertama dua kaki kami berdiri membatu, terpatri kuat pada lantai pasar yang berdebu. Kami bisa berlama-lama mematung di lapak itu, berdiri diam serupa arca kuno yang diam-diam menyimpan nyawa di balik dada yang berdegup kencang, seolah-olah jika kami bergerak sedikit saja, sihir dunia di dalam kertas itu akan hancur dan menguap.
"Mat, lihat gambar pahlawan ini. Matanya tajam sekali seolah tahu kalau kita hanya menumpang baca," bisikku lirih, tak berani mengangkat wajah.
Mamat hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangannya, “Diamlah, Haya. Biarkan matamu mencuri apa yang tidak sanggup dibeli saku kita. Anggap saja gambar-gambar ini adalah bekal untuk kita bercerita dan bermimpi malam nanti.”
Seolah menegaskan bahwa bagi anak-anak seperti kami, imajinasi adalah satu-satunya wilayah merdeka yang tidak memerlukan modal selain keberanian untuk berdiam diri. Di tengah kepungan realitas pasar yang kasar dan tuntutan ekonomi yang menjepit, buku-buku itu menjadi ruang bernapas yang panjang, tempat kami bisa menjadi siapa saja sebelum akhirnya kembali menjadi dua bocah penjaja es yang lelah.
Kami datang bukan untuk membeli, karena jumlah keping koin di saku kami terlalu kerdil untuk menebus mimpi sebesar itu, melainkan untuk menumpang membaca dengan cara berpura-pura menjadi calon pembeli yang serius. Mata kami bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal, melompat dari baris ke baris dalam waktu yang sempit, persis seperti pencuri lihai yang menjarah cerita tanpa sedikit pun meninggalkan jejak kaki atau sidik jari. Di tengah keasyikan itu, aku sering kali merasakan tatapan si penjual yang tajam seperti lampu sorot penjara, menyelidik setiap gerak-gerik kami, menimbang-nimbang apakah kami hanyalah sepasang anak nakal yang sedang memanfaatkan kelengahannya untuk sebuah kesenangan gratis.
"Mat, pelan-pelan membalik halamannya, jangan sampai kertasnya lecek, nanti dia marah," bisikku dengan suara yang hampir tertelan bising pasar.
Mamat hanya menyeringai tipis, matanya tetap terpaku pada panel gambar. “Tenang saja. Selama kita belum menutup bukunya, Mang Lapak masih punya harapan kalau kita bakal beli.”
Sesekali, mataku juga tak sengaja beradu dengan mata si penjual, aku melihat sebuah tatapan di mana kemarahan menggantung di ujung kelopak, namun di sana juga terselip sesuatu yang lain, mungkin kelelahan yang luar biasa, atau barangkali sebuah pengertian yang enggan ia akui secara lisan. Ia tetap diam, tak mengusir kami dengan makian yang biasanya akrab di telinga anak-anak jalanan. Dalam keheningan yang janggal itu, aku merasa ia mungkin sebenarnya sedang menikmati pemandangan di depannya. Melihat sepasang anak kecil yang tenggelam begitu dalam ke dalam samudera buku, seolah-olah membaca tanpa membayar adalah sebuah dosa kecil yang terlalu indah untuk ia beri hukuman.
Menjelang waktu pulang, saat bayangan pasar mulai memanjang dan matahari bersiap menurun setelah di batas ketinggiannya, barulah kami bergeser ke lapak lain bagai sebuah altar rahasia berikutnya. Tempat kami menemukan mercon, karbit, dan kembang api yang tersusun rapi seperti janji-janji ledakan kecil yang akan membelah kesunyian malam puasa yang suci. Aroma mesiu yang menyengat bercampur dengan keriangan yang meluap, membuat dada terasa penuh oleh harapan-harapan liar tentang betapa terangnya langit malam nanti.
Kami memilih setiap batang mercon dengan keseriusan seorang jenderal perang, seolah setiap kembang api adalah keputusan paling krusial dalam sejarah hidup kami yang sederhana. Namun, suatu ketika dalam kunjungan yang biasa, di tengah gairah itu langkahku mendadak terhenti oleh sebuah pemandangan yang membuat dadaku terasa berat, seolah baru saja dihantam batu besar yang dingin.
Saat kakiku hampir sampai di lapak penjual mercon incaran kami, tiba-tiba seorang lelaki dewasa mendahuluiku. Muncul seorang bapak dengan gerak-gerik yang tergesa, mengambil hampir seluruh barang dagangan dengan wajah yang sulit diterjemahkan, dengan membawa ekspresi yang terjepit di antara kegelisahan dan tekad yang keras kepala.
Aku menoleh ke arah Mamat, dilingkupi kebingungan yang menyesakkan, merasa seperti anak kecil yang baru saja kehilangan giliran di sebuah wahana bermain.
"Mat, bapak itu siapa? Kenapa dia mengambil hampir semua barangnya seolah-olah besok tak ada lagi mercon di dunia ini?" tanyaku lirih, suaraku hampir hilang di tengah hiruk-pikuk tawar-menawar.
Mamat menatap sosok bapak itu selama beberapa detik, matanya menyipit seolah sedang membaca sebuah rahasia yang terkunci rapat di punggung lelaki itu. Ia menjawab dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, sebuah nada bicara yang menyimpan beban lebih berat dari sekadar cerita pasar, sebuah nada yang merayap di tanah seperti kabut pagi yang membawa kabar duka.
"Itu Mang Haji. Dia bukan membeli untuk bersenang-senang," gumam Mamat pendek, lalu ia menghela napas panjang seolah sedang mencoba membuang sesak yang mendadak muncul di antara kami. “Kadang, ada orang yang membeli ledakan bukan untuk merayakan cahaya, tapi untuk menenggelamkan suara jeritan di dalam kepalanya sendiri.”
Aku terdiam, memandangi bapak itu yang menjauh membawa kantong-kantong berisi mesiu, merasa bahwa di balik riuh rendah Pasar Tawang, ada luka-luka yang tak pernah tersembuhkan oleh riuh rendahnya perayaan.
Kulihat lelaki yang baru datang itu mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik bajunya yang sangat bersahaja, sebuah tanda pengenal yang dikeluarkan dengan gerakan yang tenang namun mematikan. Benda itu seolah memiliki kekuatan magis yang mampu mengubah arah angin dalam sekejap, mengganti layar perahu kami yang tadinya penuh harapan menjadi kain yang terkulai lemas kehilangan tenaga.
Bapak penjual mercon itu hanya menatap benda itu sekilas, lalu wajahnya berubah menjadi datar dan hampa, serupa tanah kering di musim kemarau panjang yang sudah berhenti berharap pada jatuhnya rintik hujan. Ia pasrah, membiarkan tangannya hanya menjadi saksi saat barang dagangannya, hasil peluh dan taruhan nasibnya diambil satu per satu tanpa ada transaksi, tanpa denting koin yang merdu, apalagi lembaran uang yang berpindah tangan sebagai upah lelah. Tidak ada tawar-menawar yang sengit, tidak ada protes yang meledak, hanya ada kesunyian yang menggantung seperti benang tipis yang hampir putus di udara pasar yang biasanya riuh dengan napas kehidupan.
Kami berdiri mematung di sana, merasa ada sesuatu yang patah di dalam dada. Menyaksikan sebuah pemahaman tentang keadilan yang selama ini kusimpan rapi, kini retak dan hancur di depan mata.
"Dia itu polisi. Berbaju preman," bisik Mamat sangat pelan, suaranya terdengar seperti rahasia terlarang yang jika diucapkan terlalu keras akan mengundang petaka.
Aku hanya mengangguk pelan, membiarkan kata-kata itu mengendap di dasar pikiran. Sementara di dalam kepalaku yang masih kanak-kanak muncul sebuah pikiran polos yang naif sekaligus getir. Alangkah nikmatnya menjadi polisi. Di mataku saat itu, kekuasaan hanyalah sebuah kunci ajaib bahwa jika kau ingin sesuatu, kau tak perlu bersusah payah membayar, cukup tunjukkan benda kecil itu dan semua pintu akan terbuka lebar tanpa perlawanan. Aku yang masih kecil belum memahami bahwa kekuasaan sesungguhnya adalah api yang sangat purba, yang memang bisa menghangatkan mereka yang berada di dekatnya, namun ia juga sanggup menghanguskan siapa pun yang menyentuhnya tanpa jarak dan tanpa hikmat.
"Kenapa dia tidak membayar, Mat? Apakah mercon itu jadi gratis kalau kita punya kartu itu?" tanyaku dengan suara bergetar, mencoba mencari logika di tengah ketidaklogisan yang terpampang nyata.
Mamat menarik napas panjang, matanya menatap kaki telanjangnya yang dekil. "Dunia ini tidak punya satu harga untuk semua orang. Ada yang membayar dengan uang, ada yang membayar dengan rasa takut," jawabnya dengan nada yang jauh lebih dewasa dari usianya.
Mataku tertuju pada tangan bapak penjual mercon itu. Tangan yang terlihat kasar dan berurat, tangan yang barangkali setiap hari digunakan untuk menimbang antara risiko tertangkap dan harapan untuk sekadar menyambung napas keluarga. Tangan itu kini terkulai di samping tubuhnya yang layu. Aku teringat betapa kerasnya aku dan Mamat yang harus berjuang dengan berjalan berkilo-kilo meter menjajakan es di bawah terik matahari yang memanggang ubun-ubun, menelan rasa malu dan lelah yang merajam kaki, hanya demi mendapatkan beberapa keping rupiah yang bagi kami sudah terasa seperti tumpukan harta karun dari negeri dongeng. Uang tidak pernah jatuh dari langit seperti air hujan. Uang serupa kristalisasi dari keringat dan air mata yang kami kumpulkan setetes demi setetes.
"Kasihan ya, bapak itu jadi rugi banyak," kataku lirih, merasakan empati yang menusuk-nusuk ulu hati.
Mamat hanya mengangkat bahunya, sebuah gerakan sederhana namun penuh dengan kepahitan yang terpendam, sementara tatapannya meredup seperti lampu teplok yang kehabisan minyak.
"Ya begitulah hidup jadi orang kecil. Tapi tidak usah terlalu dipikirkan, atau kepalamu akan pecah sebelum kamu tumbuh besar," jawabnya singkat, seolah ia sudah lebih dulu khatam membaca bab-bab kelam tentang ketidakadilan dunia.
Pada saat itulah, di tengah riuh rendah Pasar Tawang yang mulai kehilangan cahayanya, aku menyadari bahwa dunia ini tak ubahnya sebuah papan permainan raksasa di mana aturannya sengaja dibuat tidak sama bagi setiap pemain. Kami hanyalah pion-pion kecil yang sedang belajar berjalan tertatih di atas petak-petak sempit yang licin, sementara di luar sana, ada tangan-tangan besar yang bisa mengubah jalannya permainan hanya dengan satu jentikan jari yang dingin.
Namun sebenarnya saat menjelang musim puasa, di balik semua peluh perjalanan dan kerja-kerja kecil yang kami lakoni, ada satu muara keinginan yang paling kuinginkan. Sesuatu yang tampak sederhana di mata orang dewasa, tapi terasa semegah menara di dalam dunia kecilku yang sempit. Ingin sekali aku punya batre yang keinginannya mengalahkan inginku punya mercon dan kembang api.
Tahu kau apa itu batre? Ia adalah lampu senter dari kaleng tipis berbentuk bulat panjang, berwarna perak yang sedikit kusam namun mampu memantulkan bayangan ambisi seorang bocah. Panjangnya cukup untuk menampung dua baterai besar yang menjadi jantung cahaya di dalamnya, bagai sebuah rahim yang melahirkan terang dari kegelapan. Di ujungnya ada corong bening yang mampu memfokuskan cahaya kecil menjadi sorotan yang tajam dan lurus, seperti mata yang menolak tunduk pada keangkuhan malam.
Bagiku, batre bukan sekadar alat penerang, tapi simbol keberanian yang bisa digenggam. Sebuah bukti konkret bahwa aku sanggup membawa matahari kecilku sendiri di tengah jagat raya yang gelap. Harganya dua ribu lima ratus rupiah di warung Mang Kosman. Sebuah angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya seremeh debu, tetapi bagiku terasa seperti puncak gunung tinggi yang harus kudaki dengan napas tersengal melalui kepingan-kepingan receh hasil berjualan es.
"Kalau senter ini sudah di tangan, gelap bukan lagi musuh. Kita yang jadi tuannya," gumamku sambil menatap etalase warung yang berkaca kusam, membayangkan dinginnya kaleng perak itu bersentuhan dengan telapak tanganku.
Keinginannya bermula setiap kali langkah kaki berayun pergi dan pulang dari tarawihan di Masjid Citamiang, aku melihat hampir semua bapak dan anak-anak sebaya membawa batre di tangan mereka. Cahaya-cahaya itu bergerak dinamis, berayun-ayun di kegelapan serupa tarian kunang-kunang yang berjalan bersama menuju satu tujuan. Masa aku tidak punya? Pertanyaan itu menggema di dalam dadaku seperti lonceng perunggu tua yang terus dipukul, menyisakan getaran yang tak mau diam. Aku sering memejamkan mata dan membayangkan diriku berjalan di barisan paling depan bersama Mamat, Ihat, dan Kak Iman. Saat cahaya dari batre di tangan Mamat membelah pekatnya jalanan menuju Cibantar, menjadi pedang cahaya yang menebas sunyi.
Kami biasanya pergi untuk menonton Dunia Dalam Berita di televisi, satu-satunya jendela kami untuk melongok wajah dunia adalah pergi malam ke terminal Cibantar. Untuk kami duduk berdesakan, kulit bertemu kulit yang hangat, mencoba memahami nama-nama besar yang berputar di orbit kekuasaan dunia. Tentang kekuasaan yang kudengar samar. Tentang orang-orang yang sering disebut oleh orang-orang dewasa dan tetua. Katanya Saddam Hussein yang perkasa, Imam Khomeini yang kharismatik, hingga perang berdarah antara Irak dan Iran yang seolah tak berujung.
Melalui layar kaca yang bersemut itu, kami mengenal Bapak Moerdiono, Harmoko, dan tentu saja sang Bapak Pembangunan yang fotonya ada di setiap dinding kelas, pengemban Supersemar, HM Soeharto. Dunia terasa begitu luas, rumit, dan berbahaya, tetapi di depan layar TV itu kami merasa seperti saksi sejarah yang sah, meskipun keberadaan kami hanyalah titik kecil di atas bangku kayu sederhana di beranda rumah Mang Cecep.
"Dunia itu besar sekali ya, Mat. Perang terus, apa mereka tidak punya batre untuk melihat jalan damai?" tanyaku suatu kali sambil menatap layar hitam putih yang bergetar.
Mamat hanya tersenyum getir. “Orang-orang besar itu punya cahaya yang terlalu terang, sampai-sampai mereka sering buta melihat orang-orang kecil di bawahnya.”
Dengan memiliki batre sendiri, aku juga memendam hasrat untuk sanggup menonton layar tancap di balai desa Mekarsari atau di lapangan Desa Tawang. Meski perjalanan ke sana bukanlah perkara mudah. Kami harus melintasi hutan ladang yang panjang, sunyi dalam gelap, dan jalan dipenuhi oleh kepekatan malam yang terasa purba. Jalanan berdebu dan berbatu putih yang menyerupai lorong gua tanpa ujung, tanpa ada satu pun rumah yang berdiri di sebelah kanan dan kiri jalan sebagai penanda kehidupan. Itulah jalan memotong dari Citamiang untuk sampai di Ciranca, Desa Tawang, tempat layar tancap akan digelar.
Hanya suara jangkrik dan langkah-langkah kaki yang beradu dengan kerikil, memecah kesunyian yang mencekam. Gelapnya terasa tebal seperti kain beludru hitam yang menutup mata secara paksa, dan tanpa batre di tangan, aku hanyalah sebuah bayangan hampa yang terpaksa mengekor pada punggung orang lain. Dengan punya batre aku bisa menjadi pembawa cahaya, menjadi pemberi arah, bukan sekadar pengikut yang berjalan di belakang dalam ketakutan yang disembunyikan.
“Kalau punya batre, kita bisa berjalan lebih cepat tanpa perlu menunggu senter orang lain, kan, Mat?” kataku suatu malam saat kami nyaris terperosok ke dalam lubang parit. Mamat tertawa kecil, suara tawa yang terdengar lebih tua dari usianya yang belia.
“Haya, yang penting dalam gelap itu bukan soal seberapa cepat kamu lari, tapi seberapa berani kamu berdiri tegak meski matamu belum melihat apa pun di depan,” jawabnya tenang. Kata-katanya tajam merasuk ke sukmaku.
Sejak saat itu, aku menyadari sepenuhnya bahwa batre itu bukan sekadar lampu senter dari kaleng perak, melainkan sebuah cara kecil bagi seorang bocah untuk belajar berdiri tegak di atas kakinya sendiri, di tengah dunia yang sering kali terlalu gelap dan terlalu egois untuk dipahami oleh hati yang jujur.
Sebab di malam yang sangat pekat, jalanan berubah menjadi serupa teka-teki yang jahat, sebuah labirin tak kasat mata yang terus-menerus menipu langkah kaki kami. Tanpa cahaya, mata hanyalah saksi bisu yang menebak-nebak bayangan, dan kaki berubah menjadi sepasang orang buta yang terpaksa menggantungkan seluruh nyawanya pada nasib yang sering kali tak peduli. Berkali-kali aku hampir menginjak sesuatu yang kukira adalah sebongkah batu hitam yang kokoh, padahal kenyataannya itu hanyalah gundukan tahi kerbau yang mengeram seperti jebakan sunyi di tengah jalan. Menginjaknya bukan memberiku pijakan yang mantap, melainkan membuat telapak kakiku terpeleset dengan licin yang menjijikkan, tubuhku oleng ke udara, dan seketika tawa Mamat pecah merobek kesunyian seperti petir kecil yang menertawakan kedinginan malam.
"Makanya bawa batre, Haya! Jangan cuma bawa doa, karena doa nggak bisa menerangi tahi kerbau!" katanya sambil terkekeh, bahunya berguncang hebat di tengah remang.
Aku hanya mampu meringis, terjebak di antara rasa malu yang membakar pipi dan kekesalan yang mengental di dada. Malam itu, gelap seolah menjadi guru yang sangat keras yang mengajarkan padaku bahwa tidak semua yang tampak keras di mata bisa dipercaya sebagai tumpuan, dan tidak semua yang terlihat diam itu aman untuk diinjak. Gelap adalah ruang kelas yang tanpa ampun, memberi pelajaran berharga melalui rasa jijik di sela jari kaki dan keseimbangan raga yang nyaris hilang ditelan bumi.
Aku sering memejamkan mata dan membayangkan suatu hari nanti aku bisa ikut mengadu cahaya batre dengan anak-anak lain di lapangan desa, berdiri tegak seperti ksatria kecil yang saling menantang terang di tengah palagan malam. Siapa yang sorot lampunya paling tajam dan paling putih, dialah pemenangnya. Seolah-olah ukuran cahaya adalah takaran mutlak bagi keberanian dan derajat kemajuan seorang manusia. Di mataku, remang kunang-kunang yang dulu terasa begitu ajaib dan mistis, kini perlahan mulai kalah dan memudar oleh sorotan lampu buatan manusia yang lebih angkuh. Alam sepertinya harus mengalah, menyingkir perlahan demi memberi ruang bagi ciptaan tangan-tangan kecil yang mulai belajar berpikir tentang cara menaklukkan sunyi.
Sudah tak zaman lagi kami berjalan dalam pekat dengan membakar karari, dari pelepah kelapa kering yang biasanya hanya berakhir menjadi bahan awal penyulut api di tungku dapur, yang dulu menjadi obor purba bagi langkah-langkah malam kakek moyang kami.
"Dulu, orang-orang tua kita hanya punya ini, Cu. Mereka membelah malam dengan api yang menetes-netes ke tanah," kata Nenekku suatu waktu, tangannya memegang sebilah karari cokelat yang sudah kering kerontang.
Aku memandangi pelepah itu seperti melihat sebuah artefak dari masa prasejarah, sesuatu yang pernah menjadi jantung kehidupan namun kini perlahan ditinggalkan oleh deru zaman yang terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Ada kesedihan yang liris saat melihat api karari yang bergoyang tertiup angin, seolah ia adalah napas terakhir dari sebuah tradisi yang sedang dijemput maut.
Di saat segala sesuatunya terasa menjadi lebih praktis dan instan, seolah dunia sedang berlari kencang menuju sebuah kemudahan yang tak pernah habis diciptakan oleh akal manusia. Sains dan teknologi menyerupai sungai panjang yang mengalir deras dari satu percobaan ke percobaan lain, membawa peradaban menuju cara hidup yang semakin efisien dan terukur. Telah ditemukan listrik dan bola-bola lampunya yang ajaib, yang mampu mengusir hantu kegelapan dari dalam rumah hanya dengan satu sentuhan sakelar yang ringan, sebagai sebuah keajaiban yang perlahan menggantikan lampu sumbu minyak tanah yang apinya berkelip redup dan sesak, persis seperti napas tua yang hampir habis di penghujung usia.
Aku memang belum sepenuhnya bisa merangkul kemajuan itu di bawah atapku sendiri. Listrik baru hadir sebagai tamu istimewa di rumah bibiku dan rumah ayahku di Gobras, dan di beberapa kediaman mentereng di kota, atau di tempat-tempat yang terasa begitu jauh dari jangkauan kakiku di kampung ini. Di rumah nenekku, malam masih menjadi wilayah kekuasaan jelaga minyak tanah dan tarian bayangan yang menakutkan di dinding kayu.
"Kapan rumah kita terang pakai tombol, Nek?" tanyaku suatu malam saat mengisi minyak tanah ke dalam botol lampu. Nenek hanya menatapku dengan mata yang menyimpan rahasia tentang kemiskinan yang panjang, lalu kembali membisu.
Namun, setidaknya aku telah menyadari bahwa dunia di luar sana sedang bersalin rupa. Perubahan itu datang seperti cahaya fajar yang perlahan merambat di punggung bukit, yang pasti akan sampai, meski saat ini belum sepenuhnya menyentuh tempat di mana aku berdiri diam. Suatu waktu menanti giliranku untuk menjadi bagian dari terang yang tak lagi bisa dipadamkan oleh angin.
Aku pernah mendengar kabar sayup-sayup tentang daratan Eropa, sebuah tempat di mana semangat percobaan digalakkan seolah-olah seluruh benua itu adalah sebuah laboratorium raksasa yang tak pernah tidur. Manusia di sana mencoba menelisik semesta seperti anak kecil yang dengan mata berbinar membongkar jam dinding milik ayahnya, hanya untuk memahami rahasia detak yang bersembunyi di balik jeruji mesin. Mereka memburu hubungan sebab-akibat, mencoba menelanjangi hukum-hukum alam yang dalam ajaran Islam aku kenal sebagai sunnatullah, sebagai pola-pola agung yang bekerja secara diam-diam dan presisi pada tiap inci ciptaan-Nya.
Ada di antara mereka yang melangkah begitu jauh hingga sampai pada kesimpulan yang dingin bahwa alam semesta ini adalah sebuah orkestra tanpa dirigen, sebuah keberadaan yang tak memerlukan Pencipta. Katanya, segalanya bermula dari dentuman tunggal Big Bang, dawai-dawai gaib teori G-String, dan berbagai teori lain yang terdengar seperti mantra ilmiah yang rumit bagi telinga bocah kampung sepertiku. Nama-nama itu terasa seperti jendela kaca yang mendadak terbuka, memperlihatkan hamparan cakrawala yang begitu jauh dan asing di luar batas pagar kampungku yang sempit.
"Mat, apa benar dunia ini harus meledak dulu baru bisa ada kehidupan?" tanyaku pada Mamat suatu malam, saat kami berbaring menatap bintang-bintang yang tampak seperti lubang jarum di kain langit.
Mamat mengangkat bahu, lalu membenarkan letak sarungnya yang kumal. "Entahlah, Haya. Yang penting jangan kita dulu yang meledak karena lapar atau karena dipukul bapakku," katanya sambil tertawa renyah, sebuah tawa yang seketika mengubah percakapan tentang asal-usul alam semesta yang berat itu menjadi seringan kapas yang terbang ditiup angin.
Namun bagiku, semangat untuk mencoba, menemukan, dan membuktikan itu justru terasa begitu dekat dan hangat dengan apa yang diajarkan Kang Usup perihal agama tentang tafakur. Sebuah proses merenung yang dalam, berpikir yang tajam, mengamati dengan jeli, dan mengajukan pertanyaan tanpa henti pada tanda-tanda yang tersebar di sekujur tubuh alam. Katanya Alquran yang ditadaburi seharusnya sanggup melahirkan dorongan intelektual yang kuat itu. Serupa cahaya batre yang mungkin kecil secara fisik, tapi memiliki kesaktian untuk menembus kepekatan gelap yang paling purba jika saja diarahkan dengan sudut yang benar.
Aku mulai melihat dengan mata batin yang mulai terbuka, bahwa antara ilmu pengetahuan yang dingin dan iman yang hangat bukanlah dua jalan yang saling memunggungi atau berlawanan arah. Keduanya adalah sepasang kaki yang harus melangkah bersamaan menuju satu muara pemahaman yang utuh. Seperti langkah kaki kami saat menembus malam menuju balai desa Mekarsari. Saat satu kaki menaruh percaya pada cahaya kecil yang kugenggam di tangan, sementara satu kaki lainnya menaruh percaya bahwa jalan setapak di pematang sawah Parung memang diciptakan Tuhan untuk dilalui.
"Kalau cuma percaya tapi nggak pakai senter, kita bisa masuk parit, Mat," bisikku saat kami melewati rimbun bambu yang berderit ditiup angin.
"Dan kalau cuma bawa senter tapi nggak tahu jalan itu ada, kita cuma bakal berdiri diam kayak patung," balas Mamat, kali ini tanpa nada bercanda.
Mungkin, di antara sorot cahaya batre yang bergoyang-goyang, teori-teori besar dunia yang membingungkan, dan benih tafakur yang diam-diam berakar di dalam dada, aku sedang belajar memahami sebuah hakikat yang lebih dalam tentang menjadi terang bukan hanya soal kemampuan mata untuk melihat benda di kegelapan, melainkan soal keberanian hati untuk mengerti makna di balik segala yang tampak.
Seperti yang pernah dilakukan oleh kaum muslim pada abad pertengahan, sahut guru agama menerangkan sebuah bab pelajaran sekolah, tentang zaman yang dengan gagah menyalakan obor ilmu di lorong-lorong sejarah, hingga lidah apinya menyentuh dan membakar semangat Renaisans di Barat. Menjelaskan sebuah dunia yang bergerak serupa estafet panjang yang tak pernah benar-benar mengenal kata henti.
Aku sering membayangkan mereka seperti rombongan pejalan malam yang membawa lentera di tengah badai, meneruskan nyala terang dari tangan ke tangan dengan ketulusan yang sunyi, tanpa pernah tahu siapa yang kelak akan memanen cahayanya untuk memasak atau sekadar mengusir takut. Terdengar samar penjelasan sebuah negeri jauh yang dijuluki “Barat” yang kemudian memungut dan melanjutkan semangat rasionalitas Ibnu Rusyd yang tajam, membedah setiap helai pemikiran Al-Ghazali layaknya seorang tabib yang sedang membedah tubuh pikiran untuk menemukan letak denyut kesadaran.
Dari sana, mereka merumuskan hukum kausalitas yang kaku, mengubah sebab dan akibat menjadi fondasi baja bagi cara mereka memandang semesta. Temuan Ibnu Haitam tentang optik pun bermetamorfosis, dari sekadar teori tentang cahaya menjadi mesin-mesin raksasa yang mampu mengolah pendar, seolah-olah manusia sedang menciptakan mata tuhan yang belajar melihat lebih tajam, lebih jauh, dan lebih kejam daripada penglihatan manusia biasa. Reaksi kimiawi yang dahulu dirintis dalam bejana-bejana sederhana Jabir bin Hayyan telah tumbuh menjadi hutan farmasi yang rimbun, menuntun manusia untuk memperlakukan tubuh mereka sendiri sebagai ladang eksperimen yang penuh dengan rahasia kimia yang meledak-ledak. Bahkan, bilangan-bilangan yang dimodifikasi, yang jejak kakinya dirintis oleh Al-Khawarizmi dari tradisi Hindi, perlahan-lahan berevolusi menjadi bahasa mesin yang dingin. Ia menjelma menjadi komputer, sebuah makhluk berpikir yang lahir dari perkawinan antara logam dan angka, yang bagiku terasa seperti keajaiban yang dipaksakan.
Segala kemajuan itu adalah perjalanan panjang yang melelahkan, sebuah migrasi makna dari goresan pena di atas kertas yang rapuh menuju aliran listrik di dalam kabel-kabel cahaya yang tak berjiwa.
"Mat, apa komputer itu punya nyawa?" tanyaku sambil membayangkan mesin yang bisa menghitung lebih cepat dari kedipan mata.
Mamat terdiam, seolah-olah sedang mencari jawaban di antara debu pasar yang beterbangan. "Mungkin ia punya otak, tapi ia tak punya hati. Ia bisa menghitung jarak bintang, tapi tak bisa merasakan pedihnya kaki yang menginjak paku," jawabnya, suaranya terdengar seperti gumaman di dalam gua.
Kemudian kuperoleh penjelasan kemajuan sains dan teknologi yang dicapai Barat dengan segala kemegahannya itu tampaknya tetap berdiri di atas fondasi yang terbatas. Pada metode indrawi dan burhani, adalah cara memahami dunia yang hanya percaya pada apa yang bisa diraba oleh ujung jari, dilihat oleh lensa mata, diukur dengan penggaris, dan diperdebatkan di atas meja-meja seminar yang dingin. Sementara irfani adalah pengetahuan yang lahir dari tetesan embun pengalaman batin dan penyaksian spiritual yang melampaui logika, tapi lebih banyak ditinggalkan di ruang-ruang sunyi para ahli tasawuf, menetap sebagai taman tersembunyi yang harumnya jarang sekali dihirup oleh para ilmuwan yang memuja rasionalitas. Para ahli kejiwaan modern mencoba meraba wilayah batin itu dengan istilah-istilah rumit, namun mereka sering kali terlihat seperti orang buta yang berjalan di tengah kabut tebal tanpa peta, mencoba menjelaskan rasa manis madu hanya dengan melihat warnanya.
Di sisi lain, metode bayani yang bertumpu pada teks dan labirin penafsiran, sering kali menjerat manusia dalam perdebatan panjang yang melelahkan, sebuah lingkaran tanpa ujung yang berputar-putar di antara soal ijma dan qiyas. Mereka terjebak dalam pertempuran kata-kata antara muhkamat yang jelas dan mutasyabihat yang samar, hingga akhirnya melahirkan dua kutub ekstrem yang saling menghujat di panggung zaman modern. Ada mereka yang jatuh terjerembap ke dalam jurang ateisme karena terlalu percaya bahwa rasio adalah satu-satunya cahaya, dan ada mereka yang terjebak dalam sangkar besi fundamentalisme karena terlalu ketakutan melihat bayangan perubahan yang menari di dinding zaman.
Dunia, di mataku yang masih bocah ini, tampak seperti medan tarik-menarik yang liar antara akal yang ingin menelanjangi segalanya dan iman yang ingin memeluk misteri. Ini adalah peperangan antara terang yang ingin menjelaskan setiap sudut gelap secara mekanis, dan rahasia ilahi yang menolak untuk sepenuhnya diurai oleh logika manusia yang fana. Kita semua berada di tengahnya, mencoba menjaga agar lentera di tangan tidak padam oleh tiupan angin dari kedua sisi itu.
Sebatas epistemologi yang bersandar pada bukti indrawi itu saja telah membawa peradaban Barat mencapai puncak kemajuan yang terasa nyaris tak terjangkau oleh akal sehat, memunculkan decak kagum yang membuncah bagi banyak orang yang mungkin hanya sanggup memandang kulit luar tanpa pernah menyelami palung proses di baliknya. Dari rahim pemikiran itulah lahir berbagai kesimpulan sains, hukum-hukum alam yang presisi, serta teori-teori tebal yang kemudian diterjemahkan menjadi teknologi nyata sebuah kekuatan baru yang perlahan merayap masuk ke dalam urat nadi kehidupan sehari-hari tanpa kita sempat memberikan izin.
Contoh yang paling sederhana dan paling dekat dengan denyut jantungku adalah cara manusia menyediakan api penerangan untuk mengusir keangkuhan gelap malam. Energi kimiawi yang tersembunyi di dalam tabung besi kini bisa diubah menjadi energi cahaya melalui teknologi batre, benda kecil yang menjadi obsesi terbesarku, yang bagiku terasa seperti simbol kemenangan mutlak manusia atas kegelapan yang purba.
Perubahan energi kinestetik dari aliran air yang deras menjadi energi listrik, lalu bermetamorfosis menjadi pendar cahaya melalui PLTA, telah menghadirkan lampu-lampu yang menggantung anggun di langit-langit rumah, menggantikan api lilin yang dulu harus dijaga dengan napas tertahan agar tidak padam ditiup angin. Aku membayangkan semua itu seperti perjalanan panjang yang melelahkan, sebuah migrasi makna dari percikan api yang lahir dari gesekan ranting kering hingga menjadi cahaya stabil yang patuh pada perintah sebuah sakelar, adalah perjalanan yang sama persis seperti langkah kakiku yang gemetar menuju batre kecil yang kuimpikan, adalah sebuah cahaya sederhana yang lahir dari sejarah panjang penderitaan manusia dalam mencari terang.
"Lihat lampu itu, Haya," bisik Mamat suatu malam di balai Desa Mekarsari sambil menunjuk lampu sorot yang benderang menyorong layar tancap. “Dulu orang harus memeras keringat untuk sekadar melihat jalan, sekarang orang hanya perlu menekan tombol seperti menyihir dunia.”
Namun, bagi banyak kaum jahil, dan mungkin termasuk diriku yang masih tertatih belajar memahami atas semua kemajuan kolosal itu yang tinggal menikmati layaknya hidangan mewah yang sudah tersaji rapi di atas meja pualam, tanpa kita merasa perlu tahu berapa banyak air mata dan peluh yang tumpah saat hidangan itu dimasak. Segala sesuatu telah bergeser menjadi praktis, efisien, dan begitu mudah digunakan, asalkan seseorang memiliki kepingan logam dan lembaran kertas bernama uang untuk menebusnya. Dunia kini terasa seperti sebuah pasar raya raksasa yang dingin, di mana teknologi telah menciut menjadi barang dagangan belaka, dan manusia hanyalah sosok-sosok yang perlu merogoh saku sedalam-dalamnya untuk mendapatkan terang, suara, atau kenyamanannya yang mungkin sesungguhnya itu semu.
Perlahan namun pasti, jalan pikiran manusia pun seolah terjungkal dan terbalik arah. Menjadi bukan lagi ilmu yang diburu dengan lapar demi memahami hakikat kehidupan, melainkan uang yang dikejar dengan babi buta demi bisa membeli hasil dari ilmu orang lain.
“Kalau punya uang, semua bisa jadi nyata, Nak. Bahkan surga pun sepertinya bisa dipesan,” kata seorang pedagang di pasar yang pernah kudengar. Sebuah kalimat yang terdengar begitu bersahaja namun sebenarnya menusuk seperti mantra sihir di zaman baru yang materialistis ini.
Maka, orang-orang pun tak henti-hentinya berlari tanpa arah demi mencari uang, seolah-olah uang adalah sebuah kunci universal yang mampu membuka semua pintu di semesta ini. Bahkan pintu-pintu yang seharusnya hanya bisa dibuka dengan kunci pengetahuan, kesabaran, atau kebijaksanaan yang bening. Di tengah perlombaan itu, aku berdiri dengan tangan kosong, menyadari bahwa batre yang kuinginkan mungkin bisa kubeli dengan uang jualan esku, tetapi cahaya yang sesungguhnya adalah cahaya yang menerangi batin agar tidak tersesat dalam ketamakan, tidak akan pernah dijual di lapak mana pun di Pasar Tawang.
“Melawat ke Barat” sebagai kalimat yang samar terdengar, dalam bayanganku bukan lagi sekadar ziarah untuk melihat semangat produksi yang dulu menggerakkan roda gila Revolusi Industri, melainkan menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa di sana yang disebut “Barat” itu telah bermetamorfosis menjadi masyarakat konsumtif yang rakus di era informasi yang banjir bandang. Barat terus melakukan rekayasa teknologi, mencipta mesin demi mesin, membangun sistem demi sistem yang rumit, dengan keyakinan mesianik bahwa kemajuan ilmu adalah satu-satunya tabib yang bisa menyembuhkan luka kehidupan manusia.
Sementara itu, di banyak tempat, termasuk di lingkungan yang kuhirup napasnya setiap hari, umat Islam sering kali hanya sibuk mengutuki mereka sebagai "kafir" dari balik jendela rumah ibadah yang kusam, tanpa benar-benar memahami dan apalagi menyaingi kerja keras berdarah-darah mereka di dalam laboratorium ilmu pengetahuan.
Kontras itu terasa seperti dua sungai besar yang mengalir berlawanan arah dan tak pernah bertemu dalam satu muara. Sungai pertama bergerak dengan arus eksperimen dan inovasi yang menderu, sementara sungai kedua seringkali terjebak dalam pusaran retorika dan kecurigaan yang melingkar-lingkar tanpa ujung. Mereka mencari kemanfaatan melalui ilmu untuk kemajuan orang banyak seolah-olah sedang beribadah dalam senyap, sedangkan aku, jika cukup berani untuk jujur pada cermin jiwa sendiri sering kali belajar hanyalah demi memuaskan ambisi pribadi yang kerdil, demi ingin terlihat pintar di depan orang lain, atau sekadar demi melampaui batas-batas kecil yang kubangun sendiri dalam sangkar ego. Pengakuan itu terasa pahit layaknya empedu, tetapi seperti cahaya matahari yang tiba-tiba menyengat mata, ia memaksaku untuk melihat betapa panjang dan hitamnya bayangan diri sendiri yang selama ini kusembunyikan.
"Kenapa kita lebih pintar bicara daripada membuat sesuatu, Mat?" tanyaku suatu sore, sambil menatap sisa-sisa baterai bekas yang tergeletak di selokan.
Mamat tak menjawab, hanya merasakan tenggorokannya yang mendadak kering, menyadari bahwa kami adalah anak-anak yang hanya diajarkan untuk memuja masa lalu tanpa pernah disiapkan untuk membangun masa depan.
Tentu saja, di tangan para saudagar dan raksasa industri, setiap tetes hasil teknologi segera dikristalkan menjadi komoditas yang dingin. Mesin yang perkasa, lampu yang gemerlap, komputer yang cerdas, bahkan batre kecil perak yang menghiasi mimpiku setiap malam, semuanya telah dipatok dengan label harga yang membuatnya tunduk di bawah hukum pasar yang kejam. Di dunia yang semakin dangkal, siapa pun yang tidak menggunakan teknologi itu akan segera dianggap sebagai orang tertinggal, atau bahkan dituduh anti-kemajuan, seolah-olah derajat kemajuan seorang manusia hanya bisa diukur dari apa yang ia makan dan konsumsi, bukan dari apa yang ia pahami dan renungkan dalam sunyi.
Aku mulai merasakan sebuah kegelisahan kecil yang menggerogoti ulu hati. Apakah manusia benar-benar bergerak maju jika ia hanya berakhir menjadi seorang pembeli yang setia, yang tangannya selalu menengadah menunggu produk baru dari seberang lautan?
“Kalau kamu tidak ikut lari bersama zaman, kamu akan ditinggal mati di belakang, Haya,” kata Mamat suatu malam sambil menunjuk lampu listrik di rumah orang kota yang benderang di gambar halaman buku, sementara wajahnya sendiri tenggelam dalam remang.
Aku mengangguk pelan, sebuah anggukan yang sarat dengan keraguan. Namun di dalam hati, aku bertanya-tanya dengan gundah, apakah mengikuti zaman berarti kita harus sekadar menjadi budak yang membeli apa pun yang diciptakan oleh otak orang lain, atau justru tentang keberanian untuk berpikir bebas dan mencipta cahaya sendiri dari kegelapan yang mengepung?
Pertanyaan itu menjelma menjadi gema panjang yang terus berjalan bersamaku di bawah langit malam yang bisu, seperti langkah kaki yang berat di atas jalan gelap yang hanya diterangi oleh bayangan cahaya batre kecil yang hingga kini masih menjadi impian yang belum tergapai.
Namun di tengah pusaran segala renungan tentang Barat yang berlari kencang, tentang Islam yang agung, tentang sains, teknologi, dan obsesi pada sebuah batre perak yang terus berdenyut dalam anganku, aku kembali menyusut menjadi seorang anak kecil yang berdiri di ambang pintu dua dunia. Antara dunia gagasan besar yang melangit dan dunia langkah kaki yang nyata di atas jalanan tanah yang becek. Aku mulai menyadari dengan nalar yang paling murni, bahwa setinggi apa pun puncak pemikiran seorang manusia, ia akan selalu bermuara pada kesederhanaan hidup sehari-hari, pada bagaimana cara seseorang berjalan pulang di tengah pekatnya malam, bagaimana ia memilih antara terang yang jujur atau gelap yang menipu, dan bagaimana ia sanggup memeluk dirinya sendiri dalam kesendirian.
Seperti batre yang kuimpikan itu, mungkin manusia sejatinya tidak membutuhkan cahaya yang terlalu benderang untuk memulai sebuah perjalanan. Dengan cukup satu pendar kecil yang jujur, yang mampu menunjukkan satu jengkal langkah berikutnya tanpa harus memaksakan diri menerangi seluruh labirin masa depan sekaligus.
"Haya, lihat bayangan kita," bisik Mamat sambil menunjuk ke tanah yang disinari rembulan tipis. “Bayangan itu selalu ada di belakang kita. Tapi kalau kita diam saja, dia justru akan menelan kita pelan-pelan.”
Malam di kampung selalu datang dengan langkah yang merayap perlahan, menyerupai selimut panjang yang ditarik oleh tangan-tangan gaib yang tak kasat mata. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di balik dinding bambu, memancarkan cahaya jingga yang gemetar seolah sedang berbisik pada angin. Suara jangkrik mengambil alih keriuhan siang dengan orkestra sunyi yang mendalam, sementara angin membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah yang terasa begitu akrab di indra penciuman. Aku berjalan beriringan bersama Mamat, langkah kami berderak pelan di atas jalanan yang kadang keras seperti batu, namun di sudut lain licin dan penuh jebakan.
“Kamu nanti kalau sudah punya batre di tangan, apa yang mau kamu lakukan pertama kali?” tanya Mamat tiba-tiba, suaranya memecah keheningan jalanan setapak itu.
Aku terdiam sejenak, membiarkan imajinasi itu menari di kepalaku, lalu menjawab dengan nada yang berusaha tegar, “Aku mau jalan di barisan paling depan, Mat.”
Mamat tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan dedaunan kering. “Dasar bocah sombong,” katanya, tetapi dari sorot matanya yang meredup, aku tahu ia mengerti sepenuhnya bahwa keinginanku itu bukanlah tentang pamer kekuasaan di depan kawan-kawan, melainkan sebuah cara kecil yang paling manusiawi untuk sekadar merasa berani menghadapi dunia yang luas ini.
Barangkali itulah hakikat yang sebenarnya kucari selama ini. Sebuah keberanian untuk membawa terang milikku sendiri, meski pendarannya hanya seujung kuku. Dunia di luar sana boleh saja dipenuhi oleh teori-teori besar yang rumit, perdebatan panjang yang menguras energi, dan kemajuan teknologi yang melesat bak anak panah dari busur peradaban. Namun bagi seorang bocah di pelosok kampung, keberanian seringkali lahir dari hal-hal yang teramat sederhana. Dari sebuah lampu kecil yang digenggam erat di tangan, dari sebuah keyakinan sederhana bahwa kegelapan tidaklah selalu harus ditakuti sebagai hantu, melainkan sebagai ruang yang menanti untuk dijelajahi.
Aku mulai mengerti bahwa ilmu bukanlah sekadar tumpukan informasi yang harus dihafal hingga kepala terasa pecah, melainkan sebuah sumbu yang menyalakan cahaya di dalam relung jiwa, agar langkah kaki tidak mudah tergelincir seperti saat menginjak tahi kerbau di tengah kepekatan malam.
"Ilmu itu seperti minyaknya. Tapi keberanianmu adalah apinya," gumam Mamat seolah ia sedang membaca isi pikiranku yang paling dalam. Ketika langkah kami hampir sampai di depan gerbang rumah, aku menengadah dan mendapati langit terlihat begitu luas dan tak bertepi. Bintang-bintang bertaburan di sana seperti titik-titik cahaya abadi yang tak pernah habis meski zaman berganti.
Aku memandangnya lama, membayangkan para ilmuwan di lab-lab yang dingin, para sufi di pojok-pojok masjid yang senyap, para pedagang yang bertaruh nasib di pasar, dan anak-anak kecil seperti kami yang sedang berjalan di bawah langit yang satu ini. Masing-masing dari kami ternyata sedang membawa cahaya dengan caranya sendiri yang unik. Mungkin sebagian mencari kebenaran lewat rumus-rumus kaku dan percobaan yang melelahkan, sebagian lagi melalui rintihan doa dan tafakur yang sunyi, dan sebagian lagi seperti aku dan Mamat melalui kerja keras sederhana yang tak akan pernah tercatat dalam tinta emas buku sejarah mana pun sebagai penjaja es.
Dan di antara kemegahan kosmos itu, aku menyadari bahwa aku hanyalah seorang anak yang sedang belajar memahami dunia yang secara perlahan dan hati-hati, seperti cahaya batre yang ingin kunyalakan sedikit demi sedikit, menolak untuk padam meski malam terasa begitu panjang dan mencekam.
Dan ketika akhirnya aku merebahkan raga yang penat di malam yang menguat pekat, setelah rangkaian percakapan yang menggetarkan tentang perjalanan yang mendaki dan menurun saat menjinjing termos es, dan renungan-renungan yang terasa terlalu raksasa untuk ukuran kepalaku yang masih belia, aku merasa seolah sedang berdiri di ambang sebuah pintu tanpa nama.
Pasar Tawang dengan segala riuhnya, dari tumpukan buku komik Si Petruk dan syair lagu, mercon dan kembang api yang dijarah polisi, hingga batre perak yang kuimpikan hingga terbawa tidur. Melihat sosok polisi berbaju preman yang merampas harapan itu, barisan aksara di buku-buku yang kubaca secara sembunyi-sembunyi, hingga bayangan peradaban besar yang bergerak di balik cakrawala jauh, semuanya bercampur aduk layaknya anak-anak sungai yang bermuara pada satu pertanyaan paling sunyi pada sebenarnya cahaya seperti apa yang sedang kucari untuk menerangi jiwaku?
Dunia memang tampak begitu megah dan tak terbatas, sementara hidupku masih saja berkutat pada langkah-langkah kecil yang mungkin terasa remeh-temeh bagi orang dewasa. Namun justru di sanalah mungkin makna terdalamnya bersembunyi, tentang perjalanan yang mampu mengguncang dunia selalu bermula dari sebuah hasrat kecil yang tampak sederhana namun berakar kuat di ulu hati.
"Haya, kamu belum tidur?" suara Mamat terdengar dari balik tirai kayu, rendah dan tenang.
"Belum, Mat. Masih memikirkan jalan pulang dari pasar tadi," jawabku pelan, sambil menatap langit-langit kamar yang hanya diterangi sisa pendar lampu minyak di ruang belakang musala. Aku mulai menyadari dengan perlahan, bahwa menjadi terang bukan sekadar soal kemampuan untuk melihat jalan setapak, melainkan tentang keberanian untuk memilih kemana arah langkah akan dituju. Ada orang-orang yang diberkati dengan cahaya yang menyilaukan namun justru tersesat di tengah jalan karena tak tahu tujuan, ada pula mereka yang hanya membawa pendar kecil namun berhasil sampai di tujuan dengan selamat dan penuh martabat.
Di antara gema tawa Mamat yang masih terngiang, keheningan malam yang mendekap, dan riuh rendah pasar yang seolah tak mau hilang dari telinga, aku merasa seperti sedang belajar mengeja dunia dari lapisan yang paling dasar. Dari tanah yang kadang licin dan penuh jebakan, dari kegelapan yang sesekali menipu pandangan, serta dari mimpi-mimpi kecil yang memaksa kaki ini untuk terus melangkah meski gemetar. Dan mungkin, sebelum lembaran cerita berikutnya dibuka, aku hanya perlu berhenti sejenak untuk menarik napas dalam-dalam. Membiarkan segala cahaya dan bayangan itu duduk berdampingan di dalam dada, seperti dua sahabat lama yang akhirnya memilih untuk berdamai dengan nasib.
"Besok kita jualan es lagi. Jangan biarkan mimpimu padam hanya karena hari ini lelah," gumamku pada diri sendiri, sebagai sebuah janji yang lebih kuat dari sekadar kata-kata. Sebab hidup, sebagaimana perjalanan panjang kami menuju riuhnya pasar atau kepulangan sunyi dari serambi masjid setelah salat terawih, bukan hanya perihal puasa selesai sampai di garis akhir, melainkan tentang bagaimana memahami dan menghayati setiap jengkal langkah yang ada di antaranya.
Perjalanan itu adalah napasnya, dan tujuan hanyalah titik untuk berhenti sejenak. Lalu di titik hening ini, sebelum roda kisah berikutnya berputar dan menghempaskanku ke babak yang baru. Dan aku berdiri tegak serupa lampu kecil yang belum sepenuhnya benderang, tetapi aku juga menolak untuk padam. Sambil menunggu datangnya angin berikutnya yang akan meniupkan arah baru bagi layang-layang takdirku. (Bersambung)