Rumah Gugunung

Dari balik kaca jendela yang gordennya tersingkap separuh, aku melempar tatap ke luar, seolah dunia...

Rumah Gugunung

05 Feb 2026
356 x Dilihat
Share :

Rumah Gugunung

Dari balik kaca jendela yang gordennya tersingkap separuh, aku melempar tatap ke luar, seolah dunia di balik kaca adalah panggung sandiwara purba yang bergerak tanpa pernah benar-benar sampai pada ujung cerita. Jalan tanah bercampur batu putih di depanku terbentang serupa lembaran kitab usang yang belum tuntas dituliskan. Menatap butiran kerikilnya yang terpanggang terik siang, memantulkan pijar panas yang merayap serupa bisikan penyesalan yang enggan beranjak dari telinga. Cahaya matahari membedah butiran pasir, membuatnya berkilat seperti pecahan cermin waktu yang menyimpan rahasia tentang siapa saja yang pernah melintas di sana. 

Aku tertegun dalam posisi itu. Diam membatu serupa patung yang kehilangan arah, seolah aku adalah seseorang yang mendadak lupa bahwa hidupnya sedang diburu oleh butiran jam pasir yang tak pernah mengenal kata lelap. Baru saja langkahku kembali dari ruku dan sujud di salat Jumat, di saat langit di atas sana terasa sedikit lebih lapang dan sisa-sisa doa masih terasa hangat mengepul di ujung lidah, aku terpaksa menyerah pada tumpukan catatan di depanku. 

Catatan-catatan harian itu kini terserak di atas pangkuan, serupa helai-helai sayap yang patah setelah mencoba terbang terlalu tinggi menembus badai ingatan. Menuangkan apa yang selama ini mengendap di dalam kepala ternyata justru membuka kembali pintu-pintu rahasia pada masa bocah. Pada sebuah masa di mana waktu terasa begitu ringan, seringan kapas yang terbang terbawa angin sore di tempatku kini duduk dan berdiri. 

Dahulu, kesibukan hanyalah tentang bagaimana cara mengejar bayang-bayang di tanah atau menemukan sarang burung dan tawon di dahan yang paling tinggi. Semua itu adalah tugas-tugas kecil yang tidak pernah meninggalkan luka di pundak. Namun kini, di titik yang sama, kesibukan itu telah bersalin rupa menjadi beban yang menuntut pertanggungjawaban yang berat. 

Ia bukan lagi tentang bermain, melainkan tentang bagaimana bertahan hidup di bawah tatapan jam dinding yang seolah-olah memiliki mata dan taring. Kesibukan hari ini telah berubah menjadi tumpukan kewajiban yang berteriak meminta jawaban, menuntutku untuk terus melangkah meski kaki mulai gemetar karena kelelahan. Aku berdiri di atas lantai yang sama dengan masa kecilku, namun rasanya gravitasi hidup kini berkali-kali lipat lebih kuat, seolah-olah bumi sedang menagih utang-utang kedewasaan yang belum sempat kulunasi.

"Dulu kau tak pernah betah duduk diam, sekarang kau seolah dipaku oleh kertas-kertas itu," bisik suara dalam diriku, sebuah teguran yang lirih namun setajam silet yang menyayat kesunyian.

Aku menatap catatan yang berserakan itu dengan mata yang perih. Mereka adalah saksi bisu betapa cepatnya dunia berubah. Dari sebuah halaman bermain yang luas tanpa batas, menjadi sekumpulan baris kalimat yang harus dihafal demi sebuah angka di atas kertas. Di antara lembaran itu, aku mencoba mencari kembali sisa-sisa diriku yang dulu, yang bisa tertawa hanya karena melihat pelangi, sebelum dunia mengajariku bahwa untuk mencapai pelangi itu, seseorang harus lebih dulu sanggup melewati hujan badai yang tak kunjung usai.

Di tengah keriuhan buku-buku yang berantakan, aku sering kali merasa sedang berjudi dengan sempitnya waktu. Persis seperti saat aku terengah-engah menghadapi ujian SD dan SMP di masa lalu. Lalu kini pertaruhan hidup seperti kembali terulang seperti dulu saat mau persiapan TPB yang waktunya tinggal sebulan lagi masa itu. Sebuah rentang waktu yang terasa sesingkat tarikan napas di tengah gulungan badai, di mana aku dipaksa memilih apa yang semestinya dihapal dan mana yang harus dipelajari dan disusuri hingga ke akarnya. 

Mulai membuka halaman demi halaman buku pelajaran masa itu, yang setiap lembarnya terasa seberat gerbang besi berkarat menuju sebuah labirin asing. Lembar-lembar itu bukan lagi sekadar kertas, melainkan dinding-dinding bisu yang memaksaku masuk lebih dalam ke dalam ketidakpastian. Menuju sebuah lorong gelap di mana aku ragu, apakah saat dewasa masih akan mengenali jalan untuk pulang ke diriku yang lama, diriku yang menyimpan segala ingatan murni tanpa beban dunia.

“Kau sedang bertarung dengan kertas-kertas itu, atau sedang bertarung dengan ketakutanmu sendiri?”

Suara Paman tiba-tiba melintas lamat-lamat dalam kenanganku, seolah gema itu baru saja diucapkan di ruang tengah. Kalimat itu datang bersamaan dengan bayangan bunyi klik obeng yang menyentuh sasis radio, sebuah simfoni kecil tentang upaya memperbaiki sesuatu yang rusak. 

Aku teringat bagaimana Paman menatapku waktu itu, matanya yang tenang seolah bisa membaca badai yang sedang berkecamuk di balik keningku yang berkerut.

Aku tak menjawab gema suara itu, hanya jemariku yang sedikit gemetar menyentuh tepi kertas yang tajam. Setajam kenyataan yang sedang kuhadapi. Setiap rumus yang rumit dan deret angka yang kaku di hadapan menjelma menjadi jeruji yang memenjarakan masa kecilku di balik jendela. 

Belajar bagiku masa itu bukan lagi sekadar upacara menyerap ilmu, melainkan sebuah upacara pelepasan yang menyakitkan. Ia adalah cara paksa untuk mengatakan selamat tinggal pada halaman rumah yang teduh, pada bayang-bayang pohon yang ramah, demi menghadapi dunia luar yang dingin dan menuntut jawaban-jawaban pasti atas segala ketidakpastian nasib.

Di antara tumpukan buku yang mengepungku, aku merasa serupa seorang penyelam yang mulai kehabisan oksigen di kedalaman samudera pengetahuan. Semakin dalam aku menyelam untuk mencari tahu, semakin jauh aku terseret dari permukaan yang tenang. Permukaan di mana pohon jambu masih berbuah rendah dan suara Nenek adalah satu-satunya hukum yang berlaku, satu-satunya kebenaran yang tidak memerlukan pembuktian rumus apa pun. 

Aku takut, jika aku menyelam terlalu dalam ke dalam palung angka dan teori pelajaran, aku akan kehilangan daya apung untuk kembali ke permukaan. Aku takut aku akan lupa cara untuk pulang ke pelukan rumah yang telah membesarkanku dengan kasih sayang yang tak berhuruf. Aku khawatir bahwa pengetahuan yang kukejar justru menjadi beban pemberat yang menenggelamkanku ke dasar asing, menjauhkanku dari aroma tanah basah dan suara langkah Nenek yang selama ini menjadi kompas bagi jiwaku.

Di titik itulah, muncul sebuah jeda yang menyesakkan di antara tarikan napas yang berat dan keteguhan niat yang mulai goyah. Ada kesunyian yang menggigit di antara ruang belajar dan jendela yang terbuka, seolah waktu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikanku bertarung. Kertas-kertas putih yang berserakan itu seakan menatapku dengan tatapan yang ganjil. Mereka menungguku dengan kesabaran seorang ibu yang setia menanti anaknya pulang dari medan perang, meski ia tahu sang anak mungkin akan kembali dengan luka yang tak terlihat.

Sementara itu, aku sendiri masih merasa asing dengan wajah masa depanku yang berdiri di ujung labirin ini. Wajah yang mungkin tidak lagi mengenali tawa bocah yang dulu memanjat pohon jambu. Masa depan itu tampak seperti kabut di atas perbukitan gegunung. Tampak ia ada, ia menanti, namun ia tak menjanjikan apakah ia akan menjadi cahaya yang menuntun atau gelap yang mengubur segala yang pernah kusayangi. 

Aku berdiri di ambang pintu kedewasaan, memegang pena serupa memegang senjata yang tak tahu harus diarahkan ke mana. Sementara di belakangku, kenangan tentang rumah terus memanggil dengan suara yang makin lirih namun makin menyayat hati.

Saat belajarku sesungguhnya baru saja dimulai, penglihatan mataku belum juga mau menetap pada huruf-huruf yang berbaris serupa prajurit kaku yang menanti perintah untuk dipahami. Aksara-aksara itu seolah kehilangan nyawanya, hanya menjadi semut-semut hitam yang merayap di atas kertas putih, sementara fokusku pecah berkeping-keping. Konsentrasiku terbelah oleh deru dan derap langkah kaki orang-orang yang pulang dari masjid, lalu singgah ke rumah Paman dengan sisa-sisa percakapan yang mengalir serupa air parit yang dangkal, tampak ringan, namun arus batinnya cukup kuat untuk menghanyutkan benteng ketenangan yang sejak pagi tadi susah payah kubangun di atas meja belajar.

Mereka datang bukan sekadar membawa atay memindahkan tubuhnya, melainkan membawa rindu yang menggantung pada bunyi-bunyian yang sedang tenar. Mereka bertanya tentang tape radio yang sedang dioperasi oleh jemari Paman yang legam oleh timah solder, atau tentang kabel-kabel yang putus dan menjuntai serupa silaturahmi yang lama retak, atau tentang suara-suara yang hilang ditelan sunyi dan kini ingin dipanggil kembali untuk berumah di dalam kotak kayu tua itu.

Bagiku, radio itu bukan lagi sekadar mesin transistor, melainkan peti mati bagi kenangan yang sedang coba dibangkitkan kembali oleh mantra-mantra teknis dari tangan Paman.

“Sudah bisa bersuara lagi radionya, Iyep?” tanya seorang lelaki tua kepada pamanku, dengan suaranya yang parau dan kering, menggantung di udara siang yang gerah seperti debu yang enggan jatuh ke bumi.

Paman tidak segera menjawab. Hanya memicingkan mata, seolah sedang mendengarkan denyut nadi yang tersembunyi di balik tumpukan kapasitor. 

“Sabar, Pak Tua,” jawab Paman tanpa menoleh, suaranya berat dan tenang. “Mesin ini seperti ingatan manusia. Jika dipaksa bicara saat ia belum siap, yang keluar hanyalah desis yang menyakitkan telinga. Kita harus menemukan kembali titik sambungnya, agar suaranya pulang dengan jernih,” sedikit penjelasan pamanku.

Aku mendengar itu dari balik tumpukan buku, dan seketika kepala berat dan berputar-putar karena apa yang kudengar. “Bukankah aku pun sedang seperti radio rusak itu? Sedang dipaksa untuk menyambungkan kabel-kabel logika dalam kepalaku agar bisa ‘bersuara’ di hari ujian nanti, sementara di dalamnya, banyak bagian dari diriku yang terasa putus dan tak lagi saling mengenali.” 

Aku menatap kembali buku-buku itu, mencoba mencari titik sambung antara ambisi masa depan dan ketulusan masa lalu, namun yang kudengar hanyalah desis sunyi yang makin panjang di tengah keramaian tamu-tamu Pamanku.

Paman menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, matanya masih terpaku pada jeroan kabel yang rumit. Kadang pamanku berkata, “Belum, Pak. Tapi tenang saja, suara itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sedang tersesat, dan setiap suara pasti punya kompas untuk pulang ke rumahnya sendiri,” jawab Paman tenang, sebuah kalimat yang dijatuhkannya seperti sauh ke dasar laut jiwaku.

Aku mendengarnya dalam diam, merasakan kalimat itu menghantam ulu hati seolah-olah Paman sedang membicarakan diriku, bukan radio itu. Namun, pengalih perhatian yang sesungguhnya bukanlah kebisingan manusia-manusia itu, melainkan sebatang pohon jambu air di seberang jalan yang berdiri serupa monumen kenangan. Mataku tertambat pada buah-buahnya yang masih hijau dan mungil, serupa harapan yang masih meraba-raba di kegelapan, belum tahu apakah ia akan memerah dan manis, atau layu tertampar angin sebelum sempat dicicipi.

Kutatap lagi pohon itu, lebih lama dari yang diizinkan oleh jadwal belajarku. Rerimbun daunnya bergetar pelan ditiup angin, seperti ribuan tangan mungil yang melambai tanpa suara, memanggilku untuk kembali ke masa lalu. Buah-buahnya masih berupa pentil, rapuh dan pucat, namun justru di dalam kerapuhan itulah letak keindahannya. Sebuah janji yang sedang diuji oleh waktu. Batang dan dahan pohon itu adalah peta lukaku. 

Di sanalah dulu daguku pernah berdarah, mengukir luka-luka kecil yang kini menjelma menjadi peta rahasia di kulitku. Di bawah dahan-dahannya yang kukuh, aku sering mengayunkan tubuh, membiarkan angin membelai wajah hingga tawa pecah membubung ke langit saat itu, dan aku merasa telah mampu menaklukkan dunia hanya dengan memanjat pohonnya. Aku memanjat dengan keberanian seorang raja kecil yang tak kenal takut pada ketinggian, menganggap puncak pohon adalah takhta tertinggi di mana kecemasan tentang masa depan belum pernah diizinkan untuk bertamu.

Dulu, hidup terasa begitu sederhana. Hanya perlu memiliki kesabaran setebal kulit pohon untuk menunggu warna merah merona merekah di kulit buahnya. Kupetik buah itu dengan tangan yang penuh debu, adalah debu yang menjadi saksi betapa akrabnya aku dengan tanah. Lalu kurasakan airnya yang dingin membasahi kerongkongan, serupa kucuran embun yang meluruhkan dahaga jiwa.

Bayangan rasa manis yang sedikit sepat itu, jika beradu dengan cocolan sambal petis yang pedas dan asin, akan segera membuat lidahku menari-nari. Ia seperti tarian liar di dalam isi kepalaku saat aku kembali terlesap oleh ingatan itu. Menjadi sebuah harmoni rasa yang tajam, yang selalu datang untuk mengingatkanku bahwa hidup memang ditakdirkan untuk tidak pernah memiliki satu warna rasa saja. Ada pedasnya tantangan, asinnya keringat, sepatnya kegagalan, dan manisnya pencapaian yang semuanya harus dikunyah dalam satu waktu agar kita benar-benar mengerti apa artinya menjadi manusia yang utuh.

“Kau melihat buah itu seperti melihat masa lalumu yang paling ranum, bukan?” sebuah suara datang tiba-tiba memecah lamunanku, nadanya lirih namun menghujam tepat di ulu hati.

Aku hanya bisa tersenyum getir mengingat itu. Menyadari bahwa kini aku tidak lagi sedang memanjat pohon untuk memetik buahnya, melainkan sedang memanjat tebing terjal kehidupan demi memetik sebuah kepastian yang bernama masa depan.

Muncul kembali suara itu membelah lamunanku. “Kau masih merindukan jambu itu, atau merindukan dirimu yang dulu?” Menoleh asal suara dan Paman tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar, menatapku dengan mata yang menyimpan kebijaksanaan samudera.

Aku menoleh pelan, memaksakan sebuah senyum samar yang terasa berat. “Entahlah, Paman,” jawabku lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.

“Mungkin yang kucari bukan lagi rasa buahnya, tapi saat-saat di mana aku bisa memanjat setinggi itu tanpa harus mencemaskan akan jatuh ke masa depan yang seperti apa.”

Paman terkekeh pelan, namun nadanya tajam mengiris. “Kalau begitu, simpan keraguanmu. Yang harus kau panjat sekarang bukan lagi pohon itu, melainkan dinding-dinding tinggi di dalam kepalamu sendiri. Pohon itu tumbuh diam-diam, kau pun harus begitu.”

Aku kembali menunduk, menatap catatan di tanganku yang kini terasa seperti beban yang harus kupanggul melewati padang pasir. Namun jendela itu tetap kubiarkan terbuka, membiarkan aroma tanah dan suara dunia masuk seperti udara yang tak mungkin kusaring dengan jemari. Ada sebagian dari jiwaku yang tertinggal di luar sana, yang bersembunyi di balik kerikil, merayap di dahan pohon jambu, dan menanti di ujung jalan tanah. 

Belajar terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang membentang di antara dua tebing waktu: masa lalu yang memanggil dengan pelukan yang hangat dan akrab, serta masa depan yang berdiri kaku serupa guru penguji yang tak akan memberi ampun pada jawaban yang salah. Di antara kedua tarikan itu, aku hanyalah seorang anak manusia yang sedang belajar mengeja takdir, mencoba mengerti mengapa cahaya siang yang seindah ini bisa terasa seberat gunung di pundakku, sembari terus berharap bahwa setiap doa yang meluncur setelah salat Jum’at tadi akan menjadi jembatan yang tidak akan runtuh.

*

Kupandangi setiap detail halaman rumah. Tak hanya pohon jambu yang berdiri serupa penjaga ingatan di halaman itu. Ada pula rambutan, sawo, pepaya, dan nangka walana yang tumbuh diam-diam seperti saksi bisu yang tak pernah dipaksa bersumpah, namun selalu hadir mencatat setiap pergantian musim. 

Daun-daunnya saling berbisik setiap kali angin lewat, seolah sedang merajut kembali dongeng-dongeng tua yang usianya lebih purba dari fondasi rumah ini. 

Pohon rambutan itu semampai. Berdiri kurus dan menjulang tinggi, menyerupai tiang doa yang mencoba menyentuh langit, namun terlalu ramping untuk kupanjat dengan keberanianku yang hanya sebatas menjangkau ranting-ranting rendah. Ia adalah personifikasi dari ambisi yang tampak megah dari kejauhan, tetapi seketika melahirkan ragu saat jemari mulai menyentuh kulit batangnya. Selebihnya aku hanya mampu memandanginya dari bawah, membandingkannya dengan pohon jambu yang jauh lebih ramah, pohon yang batangnya bisa kugenggam seperti tangan kawan lama, dan dahannya melengkung serupa pelukan yang mengizinkan aku naik perlahan tanpa takut dijatuhkan.

“Kenapa tak pernah mencoba naik ke puncak rambutan itu? Takut melihat dunia dari atas?” tanya sepupuku suatu sore, sembari kami duduk bersila di atas tanah, sibuk mengupas kulit jambu dengan kuku yang menghitam oleh getah.

Dari lawang rumah aku menatap dahan rambutan yang bergoyang ringkih, lalu menjawab dengan nada setengah bercanda namun menyimpan kejujuran yang getir, “Ia terlalu kurus, seperti mimpi yang kekurangan gizi. Aku takut ia patah tepat saat aku hampir menyentuh awan.”

Sepupuku tertawa, sebuah tawa renyah yang memantul di antara batang-batang pohon, seolah-olah hidup tidak pernah memiliki beban yang lebih berat daripada sebutir buah yang jatuh. Namun, di saat yang sama, di dalam palung hatiku yang paling sunyi, tumbuh sebuah kesadaran yang tajam dan dingin sebuah pengertian yang menggantung di langit batin serupa bintang yang tak mungkin digapai, jauh namun cahayanya terus menusuk mata. 

Aku menyadari bahwa setiap manusia memang dilahirkan dengan membawa benih pohon takdirnya masing-masing, yang tumbuh dengan kerumitan yang berbeda di halaman hidup mereka. Ada pohon takdir yang dahan-dahannya tampak ramah dan mengundang, yang berani ia daki hingga ke puncak tertingginya demi melihat dunia yang lebih luas tanpa rasa takut akan jatuh. 

Namun, ada pula pohon takdir yang berdiri kaku dan asing, menjulang seperti menara sunyi yang hanya bisa ia kagumi dalam diam dari kejauhan, sebagai mimpi yang terlalu megah untuk disentuh, namun terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. Aku berdiri di antara kedua bayangan itu, menyadari bahwa barangkali takdirku bukanlah menjadi sang pemanjat yang tangguh, melainkan menjadi pencatat yang tabah atas segala yang tumbuh dan gugur di halaman kenanganku sendiri.

"Pohon itu tidak pernah memilih siapa yang akan memanjatnya," gumamku lirih, hampir tak terdengar oleh riuh rendah tawa di sekelilingku. “Ia hanya menyediakan dahan bagi mereka yang sudah selesai dengan rasa takutnya sendiri.”

Sepupuku berhenti tertawa, menatapku dengan kerutan di dahi yang seolah bertanya, namun aku hanya melempar pandang ke arah dahan tertinggi yang kini bergoyang pelan ditiup angin. Melihat sebuah tarian tentang rahasia antara yang berani melangkah dan yang hanya mampu memandang dari kejauhan.

Di halaman depan dan belakang rumah Nenek, pohon-pohon buah itu telah tumbuh melampaui waktu, seolah mereka adalah pemilik sah tanah ini. Sementara manusia hanyalah tamu yang numpang lewat. Entah tangan siapa yang pertama kali membenamkan bibitnya—apakah Kakek dengan jemari yang penuh lumpur dan harapan, ataukah leluhur jauh yang namanya kini hanya tersisa sebagai gema samar dalam silsilah keluarga. Mungkin pohon-pohon ini sudah lebih dulu lahir sebelum dinding rumah ini ditegakkan. Mungkin justru rumah inilah yang sengaja didirikan di dekat mereka, agar penghuninya bisa belajar tentang kesabaran dari akar yang tak pernah mengeluh dalam gelap. 

Aku sering membayangkan saat-saat bibit itu ditancapkan, sebuah pertaruhan sunyi antara manusia dan bumi tanpa tahu siapa yang kelak akan mengecap manisnya. Sebagai cucu yang datang belakangan, aku hanya menerima warisan berupa keteduhan, sebagai pohon berbuah yang jatuh tepat pada waktunya, rasa manis yang meledak di lidah tanpa harus meminta, dan kenyamanan bermain di antara batang-batang yang sudah kuanggap sebagai kerabat sendiri.

“Nenek pernah bilang,” suara Paman tiba-tiba menyusup ke dalam lamunanku, membawa aroma tembakau dan kayu basah, “bahwa pohon itu adalah anak yang tak pernah bicara. Jika kau menanamnya dengan kesabaran yang utuh, ia akan memberimu lebih banyak dari sekadar buah. Ia memberimu tempat untuk pulang.”

Aku mengangguk pelan, meski saat itu pemahamanku baru seujung kuku. Kini, setiap kali melihat buah yang merona matang di dahan, aku merasa sedang menerima surat cinta dari masa lalu yang tidak pernah kutulis sendiri, namun ditujukan khusus untuk keberadaanku di sini, di rumah dan halamannya yang tumbuh aneka buah.

Benarlah kata orang bahwa tiada dermaga yang lebih indah untuk bersandar selain rumah. Bahkan jika fasilitasnya tak segemerlap hotel berbintang yang lampunya silau seperti mata orang-orang asing yang penuh penghakiman. Rumah bukanlah tentang kemewahan yang menuntut decak kagum, melainkan tentang ruang sunyi di mana kita diperbolehkan untuk menjadi rapuh tanpa perlu merasa malu. Ia adalah suaka di mana langkah boleh terasa berat, topeng boleh dilepaskan, dan napas boleh ditarik panjang-panjang tanpa harus berpura-pura menjadi pahlawan. 

Di sinilah aku bisa meringkuk tidur sepuasnya kala libur sekolah dan diniyah, membiarkan waktu mengalir tenang seperti sungai yang sedang lupa pada muaranya. Rumah adalah titik kembali yang paling tulus, entah setelah pengembaraan yang jauh atau kegagalan yang memar. Di dalamnya, selalu tersedia pengampunan yang datang tanpa syarat, dan pemakluman yang menyelimuti raga seperti kain sarung tua, yang sederhana, namun cukup hangat untuk merajat kembali jiwa yang retak dan dingin segala musim.

“Sejauh apa pun kakimu melangkah menghitung bumi,” bisik Nenek suatu malam sambil merapatkan jendela kayu yang mulai lapuk, “rumah akan selalu mengenali baumu, dan ia akan menyambutmu tanpa perlu bertanya ke mana saja kau pergi.”

Kembali membawaku terdiam saat memandangi bayangan pepohonan yang bergoyang di halaman. Dalam keremangan malam, aku percaya padanya, karena hanya di rumahlah seseorang bisa kembali menjadi manusia seutuhnya. Sebelum cahaya dunia yang kejam memaksanya menjadi orang lain di luar rumah yang tak ia kenali sendiri.

Di sinilah rumah Ibuku berdiri. Di sebuah bangunan yang bukan sekadar susunan batu dan papan kayu, bambu dan deretan genteng kusam, melainkan bejana besar tempat ingatan berkumpul serupa kawanan burung yang selalu tahu jalan pulang saat senja mulai melukis langit. Di rumah inilah Ibuku pulang kembali ke pelukan Ibunya, dan di rahim rumah yang sama pula aku dititipkan, layaknya sebuah doa yang diserahkan dari satu telapak tangan ke telapak tangan lainnya dengan penuh khidmat. 

Nenekku kemudian menjadi malaikat penjaga hari-hariku ketika Ibu harus mengadu nasib ke Jakarta, membelah jarak yang panjang dan menciptakan sunyi yang tak pernah sanggup kujelaskan kepada angin. Rumah ini menyimpan gema langkah Nenek yang pelan namun pasti. Mengendus aroma dapur yang tak pernah benar-benar padam seperti bara api abadi, dan kesabaran yang akarnya menghujam dalam ke jantung bumi yang diam, tak terlihat, namun sanggup menahan segala beban langit.

"Ibumu pergi untuk menjemput nasib, Nak. Kau di sini bersamaku, untuk menjaga agar doa-doa di rumah ini tidak pernah kedinginan," bisik Nenek suatu kali sambil membelai rambutku. Suaranya parau seperti gesekan daun kering namun menenangkan.

Neneklah yang dengan tabah merawatku saat penyakit mencret yang terlalu menyerang, ketika sakit jengkolan dua kali yang membuatku mengaduh sampai ke sumsum tulang, dan ketika tubuh kecilku mendadak ringkih dan tak mampu menahan lagi isi perutku dengan terpaksa atau tanpa rasa malu. Kakus terletak jauh di ujung bawah. Halaman rumah seringkali menjadi saksi bisu yang tak pernah menghakimi saat aku terpaksa melepaskan hajat di atas tanah terbuka di halaman rumah. 

Nenek dengan tangan rentanya membersihkan sisa-sisa kehinaan itu tanpa satu pun keluhan yang keluar, tanpa wajah yang mengeras karena jijik. Ia hanya menghela napas panjang yang terdengar seperti rangkaian zikir sunyi. Aku masih merekam jelas gerak tangannya yang cekatan, seolah pekerjaan kotor itu bukanlah beban, melainkan bentuk cinta yang tak perlu dipamerkan di panggung dunia.

“Tak apa,” katanya lembut, suaranya serupa jatuhnya helai daun di atas air tenang, “sakit itu cuma tamu yang mampir sebentar. Jangan biarkan ia menetap di dalam perut, apalagi di dalam hatimu.”

Begitu pula saat aku tersiksa sakit jengkolan. Saat tubuhku terpelintir hebat serupa daun kering yang diperas badai, jungkir balik menahan nyeri yang membuat napas seolah tersangkut di tenggorokan. Nenek duduk di sampingku sepanjang malam, memijat punggungku dengan minyak hangat, mengusap keringat dingin di dahiku tanpa sedetik pun meminta imbalan. Ia mencuci pakaianku yang kotor ketika aku belum mengerti cara memegang sabun, membilas kain-kain itu sebersih ia membilas segala kekhawatiran yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik kebaya lusuhnya.

Hanya satu yang kurang. Nenek tak pernah bisa memberiku kemewahan uang jajan. Bukan karena hatinya kikir, melainkan karena hidup seringkali hanya memberi kami cukup untuk bernapas, bukan untuk bersenang-senang. Uang dari hasil peluh di sawah habis tertelan kebutuhan dapur, membeli benih yang menjanjikan harapan, dan memupuk tanah agar tetap hidup demi sepiring nasi di esok hari. 

Di sisi lain, ada Paman bungsu yang masih sering meminta uang pada Nenek, seperti anak kecil yang enggan tumbuh dewasa dan terus bergelayut pada akar yang sudah mulai rapuh. Aku belajar memahami kenyataan pahit itu secara perlahan. Meski saat itu rasanya seperti menelan batu. Menahan keinginan yang tak tahu harus diadukan kepada siapa.

Di dapur, saat asap kayu bakar membubung ke langit-langit, Nenek pernah berkata sambil mengaduk sayur, “Rezeki itu seperti hujan, Cu. Kadang ia datang sebagai badai yang menderu, kadang hanya gerimis yang malu-malu. Tugas kita hanyalah menyiapkan tempayan semampu yang kita punya.” 

Aku mengangguk khidmat, walau dalam lubuk hati yang paling kanak-kanak, aku masih berharap gerimis itu jatuh tepat saat penjual es melintas di depan lawang pintu.

Sementara Kakek, Abahku telah lebih dulu berpulang ke haribaan tanah, meninggalkan ruang kosong yang menganga serupa kursi kayu di pojok teras yang tak pernah lagi diduduki. Kepergiannya membuat rumah ini terasa lebih sunyi, seakan sebuah lagu besar kehilangan nada dasarnya yang paling kuat. Tanggung jawab iuran sekolah dan uang jajanku berpindah ke pundak Ayah, namun Ayah berada di tempat yang jauh, serupa bayangan yang hanya hadir sesekali lewat kabar angin yang samar. 

Seringkali harus memberanikan diri meminta kepada Uwa, saudara-saudara Ayahku. Sebuah permintaan yang diucapkan dengan suara yang bergetar antara rasa malu dan rasa nekat yang dipicu rasa lapar.

Ada hari-hari di mana tangan mereka terbuka memberi, namun ada pula hari-hari di mana telapak tangan mereka tertutup rapat dan hampa. Pada hari-hari sunyi itulah, aku belajar untuk tidak lagi mengetuk pintu manusia. Aku hanya berjalan ke sudut rumah yang paling sepi, menengadah sedikit ke langit yang luas, dan berbisik langsung kepada Tuhan dengan kepolosan yang tajam. 

“Ya Allah, kumohon.. hamba ingin jajan es hari ini.”

Doa itu begitu bersahaja, mungkin terlalu kerdil bagi semesta, namun bagiku ia terasa lebih besar dari cakrawala. Dan entah bagaimana keajaiban itu bekerja, sering kali setelah doa itu meluncur, rezeki kecil datang dari jalan yang tak terduga. Entah dari koin yang tiba-tiba diselipkan oleh tangan asing, atau dari senyum teduh Nenek yang berbisik, “Ini ada sedikit uang untukmu, simpanlah baik-baik, jangan bilang siapa-siapa.”

Di antara retakan kekurangan dan hangatnya pelukan kemiskinan itu, aku mulai memahami satu hal yang agung: bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk berlindung dari hujan dan panas. Ia adalah ruang suci di mana manusia belajar menerima bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan, seperti tumpukan uang atau kemewahan. Tetapi ia akan selalu hadir dalam bentuk yang paling kita butuhkan, tepat pada saat kita hampir menyerah pada sunyi yang tajam.

Meskipun aku tak pernah benar-benar tahu apakah Ibuku menghirup tangis pertamanya di dalam rumah ini, aku selalu sanggup membayangkan jejak kaki kecilnya pernah berlari di atas halaman yang sama. Menyentuh dinding-dinding yang kini mulai retak oleh usia, seolah guratan itu adalah kerutan pada wajah sejarah yang lelah. Ia tumbuh besar di sini, di bawah atap yang memayungi mimpinya, hingga hari di mana ia melangkah keluar untuk menikah dengan Ayahku. Ia meninggalkan rumah yang berdiri di tanah tinggi itu seperti seseorang yang membawa sebagian akar di dalam dadanya, namun tak pernah benar-benar mampu mencabut seluruh pohon identitasnya dari bumi ini. 

Rumah ini seolah menjadi perpanjangan napas antargenerasi. Sebuah stasiun sunyi di mana seseorang datang sebagai anak yang penuh tanya, dan pergi sebagai orang dewasa yang memanggul jawaban-jawaban pahit.

Dari tutur lisan Nenek, aku tahu bahwa rumah yang kini kami huni bukanlah bangunan pertama yang didirikan Kakek. Ada rumah lain yang lebih dulu berdiri di masa lalu. Sebuah struktur yang jauh lebih sederhana, serupa draf pertama dari sebuah puisi yang kemudian direvisi oleh waktu dan kebutuhan.

“Dulu rumahnya kecil, Cu,” kata Nenek suatu sore, tatapannya menerawang menembus kabut yang mulai turun. “Tapi anehnya, dulu segalanya terasa sangat luas. Mungkin karena saat itu hati kami belum sesesak sekarang oleh tumpukan segala khawatir.”

Kalimat itu menempel di benakku seperti lumut pada batu, sebuah bisikan yang tak pernah selesai. Mengingatkanku bahwa luasnya sebuah ruang seringkali ditentukan oleh seberapa lapang kita menerima nasib.

Rumah kami sekarang ini berdiri di tanah luas dataran tinggi menuju puncak bebukit—kami menyebutnya gegunung, sebuah nama yang kami ciptakan agar ketinggian itu terasa lebih akrab, seperti memanggil nama seorang kawan lama agar ia tak terasa asing. 

Di puncaknya, dulu bersemayam sebuah batu raksasa yang tampak abadi, serupa tulang belulang bumi yang tak mungkin habis dimakan zaman. Namun, perlahan-lahan keabadian itu terkikis. Bongkahan batu perlahan luruh, dipecah, dipotong, dan dipaksa menyerah menjadi fondasi rumah-rumah, menjadi kerikil yang meratakan jalanan, hingga menjadi komoditas yang dijual per kubik demi menyambung hidup.

Setiap kali aku menatap ke arah bukit, aku merasa sedang menyaksikan waktu yang dipahat sedikit demi sedikit oleh tangan-tangan manusia yang lapar. Sesuatu yang dahulu terasa tak tergoyahkan, ternyata bisa berakhir menjadi bagian kecil dari lantai yang kita injak atau dinding penyangga rumah.

“Dulu batunya setinggi langit. Kami bisa melihat ujung dunia dari sana,” kata Pamanku, menunjuk ke arah bukit yang kini tampak kian landai dan ringkih. “Kami bermain di atas punggung batu itu sampai lupa jalan pulang.”

Aku terdiam, membayangkan anak-anak kecil yang dulu berlari riang di atas punggung batu yang kini sebagiannya telah hancur menjadi bagian dari teras rumah orang asing. Serupa kenangan yang berpindah wujud, tak pernah benar-benar hilang, namun tak lagi bisa dikenali wajah asalnya.

Di jalur menuju bebukit itu, terhampar tanah datar yang cukup lebar, seolah alam sendiri sejak awal telah menyiapkan panggung bagi drama perubahan. 

Awalnya, ia hanyalah jalan setapak yang malu-malu, dilalui oleh orang-orang yang berjalan kaki menuju kampung sebelah, menuju ladang-ladang jauh yang rimbun oleh harapan di pundak cangkul mereka. Namun, seiring waktu yang merayap, kesunyian itu pecah. Mobil kol dan truk pengangkut hasil bumi mulai merambah, suara mesinnya yang parau menggantikan simfoni langkah kaki yang dulu mendominasi bumi. 

Jalan yang dahulu sunyi perlahan berubah menjadi urat nadi kehidupan baru yang berdenyut kencang.

“Kalau jalanan ramai, maka darah kampung ini ikut mengalir, Nak,” gumam seorang tetangga di pinggir jalan yang berdebu, matanya mengikuti laju kendaraan yang lewat.

Perubahan itu tak hanya membawa kebisingan, tetapi juga menggeser arah hadap rumah-rumah. Dahulu, orang-orang mendirikan istana mereka di dekat aliran sungai dan mata air, mengikuti hukum purba bahwa hidup harus selalu berdekatan dengan sumber kehidupan agar tak mati kekeringan. Namun, setelah jalan besar itu menganga, rumah-rumah perlahan berpaling, berpindah ke pinggir jalan seperti tanaman yang membungkuk mencari cahaya matahari baru.

Batu-batu putih dan koral diratakan, menutup jejak-jejak tanah lama yang pernah kita pijak, hingga suatu masa entah sejak kapan, jalan itu berubah menjadi aspal hitam yang terasa asing sekaligus akrab.

Aku sering berdiri di sana, di tepi aspal yang panas, mencoba membayangkan bagaimana rupa tempat ini sebelum ia bersolek dengan kebisingan, sebelum deru kendaraan membunuh suara serangga malam yang jujur. 

Dalam setiap jengkal perubahan itu, ada rasa kehilangan yang tak pernah sanggup diucapkan dengan kata-kata, namun ada pula harapan yang diam-diam tumbuh di sela-sela retakan aspal. Seolah kampung ini, persis seperti manusia yang menghuninya sedang terus belajar untuk menjadi sesuatu yang baru tanpa pernah benar-benar tega melupakan dari rahim mana ia dilahirkan.

“Apakah jalan ini akan membawa kita pergi jauh, atau justru membawa orang-orang asing masuk ke dalam tidur kita, Paman?” tanyaku suatu malam.

Paman hanya tersenyum getir sembari menyesap kopinya. “Jalan itu tidak punya hati. Ia hanya menyediakan kemungkinan. Terserah kakimu, ingin menggunakannya untuk pulang atau untuk melarikan diri.”

Di antara labirin jalan yang terus bersalin rupa, batu-batu gunung yang habis dipancung zaman, dan rumah-rumah yang bergeser mengikuti arah angin kemajuan, aku berdiri serupa seorang musafir yang mencoba mengeja kembali peta lama di tengah kota yang tak henti-hentinya menghapus wajah aslinya. 

Ada bagian dari jiwaku yang tetap tertinggal di masa lalu. Mendekam di dalam sunyi jalan setapak, bersembunyi di balik gema langkah kaki yang pelan, dan bersandar pada pohon-pohon yang tak pernah menuntut penjelasan ke mana perginya manusia setelah mereka dewasa dan melupakan cara memanjat. Namun, ada pula bagian lain dari diriku yang mulai belajar menerima kenyataan pahit, bahwa perubahan hanyalah cara waktu untuk menghela napas, dan dalam setiap embusan napasnya, ada sesuatu yang harus gugur agar sesuatu yang baru bisa dilahirkan.

Kadang, aku memejamkan mata dan membayangkan Kakek berdiri di puncak gegunung, memandang hamparan tanah yang kelak akan menjadi rahim bagi anak-cucunya. Mungkin ia tak pernah menduga bahwa batu purba yang ia pijak dengan penuh wibawa itu, suatu hari nanti akan dicincang menjadi fondasi bagi rumah orang asing, atau hancur menjadi debu di bawah roda truk-truk besar yang haus akan kecepatan.

"Paman, apakah Kakek akan sedih melihat bukitnya rata?" tanyaku pada suatu sore yang jingga. Paman mengisap rokoknya dalam-dalam, asapnya mengepul seolah ingin menyaingi kabut. 

“Manusia itu seperti petani yang menabur benih di tengah badai. Kita menanam sesuatu tanpa pernah benar-benar tahu siapa yang akan memetik buahnya. Kita membangun atap tanpa tahu siapa yang akan mencari perlindungan di bawahnya. Namun, bukankah kebaikan memang harus anonim?”

Aku teringat ucapan Nenek yang senada. Sebuah kalimat yang ia ucapkan seolah hidup ini hanyalah soal berkebun yang tak kunjung usai. “Yang penting ditanam dulu,” bisiknya, dan kini aku tahu bahwa ia sedang membicarakan tentang cara kita menaruh cinta pada sesuatu yang tak abadi.

Rumah ini, dengan segala retakan di dindingnya dan kesederhanaannya yang hampir menyedihkan, tetap menjadi pusat gravitasi yang tak terlihat bagi seluruh semestaku. Ia memiliki daya magis yang selalu sanggup menarik kembali langkah-langkah yang sudah lelah dipecundangi dunia luar, menampung potongan-potongan cerita yang tak pernah tuntas, dan menyediakan kursi bagi kenangan untuk duduk bersandar tanpa harus merasa tergesa-gesa oleh denting jam dinding. 

Di sini, masa kecilku tidak pernah benar-benar mati. Ia tersimpan rapat dalam aroma tanah basah setelah hujan, dalam orkestra angin yang menabrak dedaunan, dan dalam cahaya sore yang jatuh miring di lantai. Tampak seperti barisan doa yang tak pernah putus dikirimkan ke langit.

Aku menyadari, dengan sisa keberanian yang kupunya, bahwa mungkin suatu hari nanti aku pun harus pergi lagi, menjauh lagi yang kedua kali seperti Ibuku. Meninggalkan pintu rumah ini dengan langkah yang berat dan memikul harapan yang masih samar di ufuk timur. Namun, aku tidak takut lagi. Rumah ini akan tetap tinggal di dalam darahku, seperti kalimat dalam kitab suci yang selalu menunggu untuk dibaca ulang saat seseorang tersesat di tengah rimba kehidupan.

Dan ketika senja turun dengan perlahan, menyapu jalan beraspal yang dahulu hanyalah setapak tanah yang pemalu, aku merasa seolah semesta sedang membisikkan pelajaran yang sama berulang kali. Segala sesuatu di bawah kolong langit ini pasti akan bergerak, tetapi harus selalu ada sesuatu yang tetap diam sebagai penanda pulang. Rumah, Nenek dengan segala kesabarannya, pohon-pohon yang menyimpan rahasia di halaman rumah, dan dataran tinggi yang mulai landai itu, semuanya adalah percikan cahaya yang belum sepenuhnya benderang, namun sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan arah kembali saat malam sudah terlalu gelap.

Sebelum cahaya esok benar-benar tiba, aku belajar bahwa yang paling krusial dalam hidup bukanlah seberapa jauh kaki sanggup melangkah menghitung jarak, melainkan seberapa dalam jantung kita mampu mengingat di mana detak pertamanya bermula.

Malam pun akhirnya jatuh, membungkus rumah ini dengan selimut kegelapan yang terasa lebih seperti pelukan daripada ancaman. Di dapur, aku masih bisa mendengar gemericik air yang dituangkan Nenek ke dalam teko, sebuah suara yang sederhana namun cukup untuk meruntuhkan kesombongan dunia yang riuh di luar sana. Cahaya lampu pijar yang temaram menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan kami yang panjang di dinding, seolah-olah nenek moyang kami ikut hadir, duduk melingkar dalam diam yang penuh pengertian. Aku memandang telapak tanganku sendiri, mencoba mencari garis nasib yang mungkin tertulis di sana, namun yang kutemukan hanyalah bayang-bayang dahan pohon jambu yang menari karena pantulan lampu jalan.

“Tidurlah,” suara Nenek terdengar seperti usapan lembut pada dahi yang panas. “Besok jalanan itu masih akan di sana, menunggumu untuk melintasinya. Tapi malam ini, biarkan dirimu menjadi anak kecil lagi yang tak perlu tahu ke mana arah angin bertiup.”

Aku mengangguk, perlahan menutup buku catatan harian. Huruf-huruf di dalamnya seperti biji-biji nangka walana yang harus kutanam dengan sabar di dalam kepala. Aku menyadari bahwa belajar bukanlah tentang menaklukkan masa depan, melainkan tentang mempersiapkan hati agar tidak kaget saat masa depan itu datang mengetuk pintu. Aku meletakkan kepalaku di atas bantal yang sudah mulai menipis, menghirup aroma kapuk yang sudah bertahun-tahun setia menemani mimpi-mimpiku, dan merasakan rumah ini bernapas bersamaku dalam irama satu frekuensi.

Esok pagi, matahari akan kembali membedah bukit yang kian landai itu, dan aku mungkin akan memulai perjalanan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun, di mana pun kakiku berpijak kelak. Entah di lantai beton gedung pencakar langit atau di atas aspal kota yang tak pernah tidur, aku akan selalu membawa sepotong tanah dari halaman rumah Nenek ini di dalam kantong jiwaku. Aku akan membawa suara angin di antara pohon rambutan dan keheningan batu raksasa yang telah menjadi fondasi rumah sebagai penawar rindu yang paling ampuh.

Sebab kita semua adalah pengembara yang hanya sedang meminjam waktu. Kita berjalan menjauh untuk menguji seberapa kuat tali pusar yang menghubungkan kita dengan tanah asal. Dan ketika lelah itu tiba pada puncaknya, rumah bukan lagi sekadar alamat atau titik di peta;. Ia adalah sebuah perasaan bahwa kita pernah dicintai tanpa syarat, bahwa kita pernah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri kita sendiri. 

Di sinilah rumah Ibuku berdiri. Di sebuah bangunan yang bukan sekadar susunan batu dan papan kayu, bambu dan deretan genteng kusam, melainkan bejana besar tempat ingatan berkumpul serupa kawanan burung yang selalu tahu jalan pulang saat senja mulai melukis langit. Di rumah inilah Ibuku pulang kembali ke pelukan Ibunya, dan di rahim rumah yang sama pula aku dititipkan, layaknya sebuah doa yang diserahkan dari satu telapak tangan ke telapak tangan lainnya dengan penuh khidmat. 

Nenekku kemudian menjadi malaikat penjaga hari-hariku ketika Ibu harus mengadu nasib ke Jakarta, membelah jarak yang panjang dan menciptakan sunyi yang tak pernah sanggup kujelaskan kepada angin. Rumah ini menyimpan gema langkah Nenek yang pelan namun pasti. Mengendus aroma dapur yang tak pernah benar-benar padam seperti bara api abadi, dan kesabaran yang akarnya menghujam dalam ke jantung bumi yang diam, tak terlihat, namun sanggup menahan segala beban langit.

"Ibumu pergi untuk menjemput nasib, Nak. Kau di sini bersamaku, untuk menjaga agar doa-doa di rumah ini tidak pernah kedinginan," bisik Nenek suatu kali sambil membelai rambutku. Suaranya parau seperti gesekan daun kering namun menenangkan.

Neneklah yang dengan tabah merawatku saat penyakit mencret yang terlalu menyerang, ketika sakit jengkolan dua kali yang membuatku mengaduh sampai ke sumsum tulang, dan ketika tubuh kecilku mendadak ringkih dan tak mampu menahan lagi isi perutku dengan terpaksa atau tanpa rasa malu. Kakus terletak jauh di ujung bawah. Halaman rumah seringkali menjadi saksi bisu yang tak pernah menghakimi saat aku terpaksa melepaskan hajat di atas tanah terbuka di halaman rumah. 

Nenek dengan tangan rentanya membersihkan sisa-sisa kehinaan itu tanpa satu pun keluhan yang keluar, tanpa wajah yang mengeras karena jijik. Ia hanya menghela napas panjang yang terdengar seperti rangkaian zikir sunyi. Aku masih merekam jelas gerak tangannya yang cekatan, seolah pekerjaan kotor itu bukanlah beban, melainkan bentuk cinta yang tak perlu dipamerkan di panggung dunia.

“Tak apa,” katanya lembut, suaranya serupa jatuhnya helai daun di atas air tenang, “sakit itu cuma tamu yang mampir sebentar. Jangan biarkan ia menetap di dalam perut, apalagi di dalam hatimu.”

Begitu pula saat aku tersiksa sakit jengkolan. Saat tubuhku terpelintir hebat serupa daun kering yang diperas badai, jungkir balik menahan nyeri yang membuat napas seolah tersangkut di tenggorokan. Nenek duduk di sampingku sepanjang malam, memijat punggungku dengan minyak hangat, mengusap keringat dingin di dahiku tanpa sedetik pun meminta imbalan. Ia mencuci pakaianku yang kotor ketika aku belum mengerti cara memegang sabun, membilas kain-kain itu sebersih ia membilas segala kekhawatiran yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik kebaya lusuhnya.

Hanya satu yang kurang. Nenek tak pernah bisa memberiku kemewahan uang jajan. Bukan karena hatinya kikir, melainkan karena hidup seringkali hanya memberi kami cukup untuk bernapas, bukan untuk bersenang-senang. Uang dari hasil peluh di sawah habis tertelan kebutuhan dapur, membeli benih yang menjanjikan harapan, dan memupuk tanah agar tetap hidup demi sepiring nasi di esok hari. 

Di sisi lain, ada Paman bungsu yang masih sering meminta uang pada Nenek, seperti anak kecil yang enggan tumbuh dewasa dan terus bergelayut pada akar yang sudah mulai rapuh. Aku belajar memahami kenyataan pahit itu secara perlahan. Meski saat itu rasanya seperti menelan batu. Menahan keinginan yang tak tahu harus diadukan kepada siapa.

Di dapur, saat asap kayu bakar membubung ke langit-langit, Nenek pernah berkata sambil mengaduk sayur, “Rezeki itu seperti hujan, Cu. Kadang ia datang sebagai badai yang menderu, kadang hanya gerimis yang malu-malu. Tugas kita hanyalah menyiapkan tempayan semampu yang kita punya.” 

Aku mengangguk khidmat, walau dalam lubuk hati yang paling kanak-kanak, aku masih berharap gerimis itu jatuh tepat saat penjual es melintas di depan lawang pintu.

Sementara Kakek, Abahku telah lebih dulu berpulang ke haribaan tanah, meninggalkan ruang kosong yang menganga serupa kursi kayu di pojok teras yang tak pernah lagi diduduki. Kepergiannya membuat rumah ini terasa lebih sunyi, seakan sebuah lagu besar kehilangan nada dasarnya yang paling kuat. Tanggung jawab iuran sekolah dan uang jajanku berpindah ke pundak Ayah, namun Ayah berada di tempat yang jauh, serupa bayangan yang hanya hadir sesekali lewat kabar angin yang samar. 

Seringkali harus memberanikan diri meminta kepada Uwa, saudara-saudara Ayahku. Sebuah permintaan yang diucapkan dengan suara yang bergetar antara rasa malu dan rasa nekat yang dipicu rasa lapar.

Ada hari-hari di mana tangan mereka terbuka memberi, namun ada pula hari-hari di mana telapak tangan mereka tertutup rapat dan hampa. Pada hari-hari sunyi itulah, aku belajar untuk tidak lagi mengetuk pintu manusia. Aku hanya berjalan ke sudut rumah yang paling sepi, menengadah sedikit ke langit yang luas, dan berbisik langsung kepada Tuhan dengan kepolosan yang tajam. 

“Ya Allah, kumohon.. hamba ingin jajan es hari ini.”

Doa itu begitu bersahaja, mungkin terlalu kerdil bagi semesta, namun bagiku ia terasa lebih besar dari cakrawala. Dan entah bagaimana keajaiban itu bekerja, sering kali setelah doa itu meluncur, rezeki kecil datang dari jalan yang tak terduga. Entah dari koin yang tiba-tiba diselipkan oleh tangan asing, atau dari senyum teduh Nenek yang berbisik, “Ini ada sedikit uang untukmu, simpanlah baik-baik, jangan bilang siapa-siapa.”

Di antara retakan kekurangan dan hangatnya pelukan kemiskinan itu, aku mulai memahami satu hal yang agung: bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk berlindung dari hujan dan panas. Ia adalah ruang suci di mana manusia belajar menerima bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan, seperti tumpukan uang atau kemewahan. Tetapi ia akan selalu hadir dalam bentuk yang paling kita butuhkan, tepat pada saat kita hampir menyerah pada sunyi yang tajam.

Meskipun aku tak pernah benar-benar tahu apakah Ibuku menghirup tangis pertamanya di dalam rumah ini, aku selalu sanggup membayangkan jejak kaki kecilnya pernah berlari di atas halaman yang sama. Menyentuh dinding-dinding yang kini mulai retak oleh usia, seolah guratan itu adalah kerutan pada wajah sejarah yang lelah. Ia tumbuh besar di sini, di bawah atap yang memayungi mimpinya, hingga hari di mana ia melangkah keluar untuk menikah dengan Ayahku. Ia meninggalkan rumah yang berdiri di tanah tinggi itu seperti seseorang yang membawa sebagian akar di dalam dadanya, namun tak pernah benar-benar mampu mencabut seluruh pohon identitasnya dari bumi ini. 

Rumah ini seolah menjadi perpanjangan napas antargenerasi. Sebuah stasiun sunyi di mana seseorang datang sebagai anak yang penuh tanya, dan pergi sebagai orang dewasa yang memanggul jawaban-jawaban pahit.

Dari tutur lisan Nenek, aku tahu bahwa rumah yang kini kami huni bukanlah bangunan pertama yang didirikan Kakek. Ada rumah lain yang lebih dulu berdiri di masa lalu. Sebuah struktur yang jauh lebih sederhana, serupa draf pertama dari sebuah puisi yang kemudian direvisi oleh waktu dan kebutuhan.

“Dulu rumahnya kecil, Cu,” kata Nenek suatu sore, tatapannya menerawang menembus kabut yang mulai turun. “Tapi anehnya, dulu segalanya terasa sangat luas. Mungkin karena saat itu hati kami belum sesesak sekarang oleh tumpukan segala khawatir.”

Kalimat itu menempel di benakku seperti lumut pada batu, sebuah bisikan yang tak pernah selesai. Mengingatkanku bahwa luasnya sebuah ruang seringkali ditentukan oleh seberapa lapang kita menerima nasib.

Rumah kami sekarang ini berdiri di tanah luas dataran tinggi menuju puncak bebukit—kami menyebutnya gegunung, sebuah nama yang kami ciptakan agar ketinggian itu terasa lebih akrab, seperti memanggil nama seorang kawan lama agar ia tak terasa asing. 

Di puncaknya, dulu bersemayam sebuah batu raksasa yang tampak abadi, serupa tulang belulang bumi yang tak mungkin habis dimakan zaman. Namun, perlahan-lahan keabadian itu terkikis. Bongkahan batu perlahan luruh, dipecah, dipotong, dan dipaksa menyerah menjadi fondasi rumah-rumah, menjadi kerikil yang meratakan jalanan, hingga menjadi komoditas yang dijual per kubik demi menyambung hidup.

Setiap kali aku menatap ke arah bukit, aku merasa sedang menyaksikan waktu yang dipahat sedikit demi sedikit oleh tangan-tangan manusia yang lapar. Sesuatu yang dahulu terasa tak tergoyahkan, ternyata bisa berakhir menjadi bagian kecil dari lantai yang kita injak atau dinding penyangga rumah.

“Dulu batunya setinggi langit. Kami bisa melihat ujung dunia dari sana,” kata Pamanku, menunjuk ke arah bukit yang kini tampak kian landai dan ringkih. “Kami bermain di atas punggung batu itu sampai lupa jalan pulang.”

Aku terdiam, membayangkan anak-anak kecil yang dulu berlari riang di atas punggung batu yang kini sebagiannya telah hancur menjadi bagian dari teras rumah orang asing. Serupa kenangan yang berpindah wujud, tak pernah benar-benar hilang, namun tak lagi bisa dikenali wajah asalnya.

Di jalur menuju bebukit itu, terhampar tanah datar yang cukup lebar, seolah alam sendiri sejak awal telah menyiapkan panggung bagi drama perubahan. 

Awalnya, ia hanyalah jalan setapak yang malu-malu, dilalui oleh orang-orang yang berjalan kaki menuju kampung sebelah, menuju ladang-ladang jauh yang rimbun oleh harapan di pundak cangkul mereka. Namun, seiring waktu yang merayap, kesunyian itu pecah. Mobil kol dan truk pengangkut hasil bumi mulai merambah, suara mesinnya yang parau menggantikan simfoni langkah kaki yang dulu mendominasi bumi. 

Jalan yang dahulu sunyi perlahan berubah menjadi urat nadi kehidupan baru yang berdenyut kencang.

“Kalau jalanan ramai, maka darah kampung ini ikut mengalir, Nak,” gumam seorang tetangga di pinggir jalan yang berdebu, matanya mengikuti laju kendaraan yang lewat.

Perubahan itu tak hanya membawa kebisingan, tetapi juga menggeser arah hadap rumah-rumah. Dahulu, orang-orang mendirikan istana mereka di dekat aliran sungai dan mata air, mengikuti hukum purba bahwa hidup harus selalu berdekatan dengan sumber kehidupan agar tak mati kekeringan. Namun, setelah jalan besar itu menganga, rumah-rumah perlahan berpaling, berpindah ke pinggir jalan seperti tanaman yang membungkuk mencari cahaya matahari baru.

Batu-batu putih dan koral diratakan, menutup jejak-jejak tanah lama yang pernah kita pijak, hingga suatu masa entah sejak kapan, jalan itu berubah menjadi aspal hitam yang terasa asing sekaligus akrab.

Aku sering berdiri di sana, di tepi aspal yang panas, mencoba membayangkan bagaimana rupa tempat ini sebelum ia bersolek dengan kebisingan, sebelum deru kendaraan membunuh suara serangga malam yang jujur. 

Dalam setiap jengkal perubahan itu, ada rasa kehilangan yang tak pernah sanggup diucapkan dengan kata-kata, namun ada pula harapan yang diam-diam tumbuh di sela-sela retakan aspal. Seolah kampung ini, persis seperti manusia yang menghuninya sedang terus belajar untuk menjadi sesuatu yang baru tanpa pernah benar-benar tega melupakan dari rahim mana ia dilahirkan.

“Apakah jalan ini akan membawa kita pergi jauh, atau justru membawa orang-orang asing masuk ke dalam tidur kita, Paman?” tanyaku suatu malam.

Paman hanya tersenyum getir sembari menyesap kopinya. “Jalan itu tidak punya hati. Ia hanya menyediakan kemungkinan. Terserah kakimu, ingin menggunakannya untuk pulang atau untuk melarikan diri.”

Di antara labirin jalan yang terus bersalin rupa, batu-batu gunung yang habis dipancung zaman, dan rumah-rumah yang bergeser mengikuti arah angin kemajuan, aku berdiri serupa seorang musafir yang mencoba mengeja kembali peta lama di tengah kota yang tak henti-hentinya menghapus wajah aslinya. 

Ada bagian dari jiwaku yang tetap tertinggal di masa lalu. Mendekam di dalam sunyi jalan setapak, bersembunyi di balik gema langkah kaki yang pelan, dan bersandar pada pohon-pohon yang tak pernah menuntut penjelasan ke mana perginya manusia setelah mereka dewasa dan melupakan cara memanjat. Namun, ada pula bagian lain dari diriku yang mulai belajar menerima kenyataan pahit, bahwa perubahan hanyalah cara waktu untuk menghela napas, dan dalam setiap embusan napasnya, ada sesuatu yang harus gugur agar sesuatu yang baru bisa dilahirkan.

Kadang, aku memejamkan mata dan membayangkan Kakek berdiri di puncak gegunung, memandang hamparan tanah yang kelak akan menjadi rahim bagi anak-cucunya. Mungkin ia tak pernah menduga bahwa batu purba yang ia pijak dengan penuh wibawa itu, suatu hari nanti akan dicincang menjadi fondasi bagi rumah orang asing, atau hancur menjadi debu di bawah roda truk-truk besar yang haus akan kecepatan.

"Paman, apakah Kakek akan sedih melihat bukitnya rata?" tanyaku pada suatu sore yang jingga. Paman mengisap rokoknya dalam-dalam, asapnya mengepul seolah ingin menyaingi kabut. 

“Manusia itu seperti petani yang menabur benih di tengah badai. Kita menanam sesuatu tanpa pernah benar-benar tahu siapa yang akan memetik buahnya. Kita membangun atap tanpa tahu siapa yang akan mencari perlindungan di bawahnya. Namun, bukankah kebaikan memang harus anonim?”

Aku teringat ucapan Nenek yang senada. Sebuah kalimat yang ia ucapkan seolah hidup ini hanyalah soal berkebun yang tak kunjung usai. “Yang penting ditanam dulu,” bisiknya, dan kini aku tahu bahwa ia sedang membicarakan tentang cara kita menaruh cinta pada sesuatu yang tak abadi.

Rumah ini, dengan segala retakan di dindingnya dan kesederhanaannya yang hampir menyedihkan, tetap menjadi pusat gravitasi yang tak terlihat bagi seluruh semestaku. Ia memiliki daya magis yang selalu sanggup menarik kembali langkah-langkah yang sudah lelah dipecundangi dunia luar, menampung potongan-potongan cerita yang tak pernah tuntas, dan menyediakan kursi bagi kenangan untuk duduk bersandar tanpa harus merasa tergesa-gesa oleh denting jam dinding. 

Di sini, masa kecilku tidak pernah benar-benar mati. Ia tersimpan rapat dalam aroma tanah basah setelah hujan, dalam orkestra angin yang menabrak dedaunan, dan dalam cahaya sore yang jatuh miring di lantai. Tampak seperti barisan doa yang tak pernah putus dikirimkan ke langit.

Aku menyadari, dengan sisa keberanian yang kupunya, bahwa mungkin suatu hari nanti aku pun harus pergi lagi, menjauh lagi yang kedua kali seperti Ibuku. Meninggalkan pintu rumah ini dengan langkah yang berat dan memikul harapan yang masih samar di ufuk timur. Namun, aku tidak takut lagi. Rumah ini akan tetap tinggal di dalam darahku, seperti kalimat dalam kitab suci yang selalu menunggu untuk dibaca ulang saat seseorang tersesat di tengah rimba kehidupan.

Dan ketika senja turun dengan perlahan, menyapu jalan beraspal yang dahulu hanyalah setapak tanah yang pemalu, aku merasa seolah semesta sedang membisikkan pelajaran yang sama berulang kali. Segala sesuatu di bawah kolong langit ini pasti akan bergerak, tetapi harus selalu ada sesuatu yang tetap diam sebagai penanda pulang. Rumah, Nenek dengan segala kesabarannya, pohon-pohon yang menyimpan rahasia di halaman rumah, dan dataran tinggi yang mulai landai itu, semuanya adalah percikan cahaya yang belum sepenuhnya benderang, namun sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan arah kembali saat malam sudah terlalu gelap.

Sebelum cahaya esok benar-benar tiba, aku belajar bahwa yang paling krusial dalam hidup bukanlah seberapa jauh kaki sanggup melangkah menghitung jarak, melainkan seberapa dalam jantung kita mampu mengingat di mana detak pertamanya bermula.

Malam pun akhirnya jatuh, membungkus rumah ini dengan selimut kegelapan yang terasa lebih seperti pelukan daripada ancaman. Di dapur, aku masih bisa mendengar gemericik air yang dituangkan Nenek ke dalam teko, sebuah suara yang sederhana namun cukup untuk meruntuhkan kesombongan dunia yang riuh di luar sana. Cahaya lampu pijar yang temaram menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan kami yang panjang di dinding, seolah-olah nenek moyang kami ikut hadir, duduk melingkar dalam diam yang penuh pengertian. Aku memandang telapak tanganku sendiri, mencoba mencari garis nasib yang mungkin tertulis di sana, namun yang kutemukan hanyalah bayang-bayang dahan pohon jambu yang menari karena pantulan lampu jalan.

“Tidurlah,” suara Nenek terdengar seperti usapan lembut pada dahi yang panas. “Besok jalanan itu masih akan di sana, menunggumu untuk melintasinya. Tapi malam ini, biarkan dirimu menjadi anak kecil lagi yang tak perlu tahu ke mana arah angin bertiup.”

Aku mengangguk, perlahan menutup buku catatan harian. Huruf-huruf di dalamnya seperti biji-biji nangka walana yang harus kutanam dengan sabar di dalam kepala. Aku menyadari bahwa belajar bukanlah tentang menaklukkan masa depan, melainkan tentang mempersiapkan hati agar tidak kaget saat masa depan itu datang mengetuk pintu. Aku meletakkan kepalaku di atas bantal yang sudah mulai menipis, menghirup aroma kapuk yang sudah bertahun-tahun setia menemani mimpi-mimpiku, dan merasakan rumah ini bernapas bersamaku dalam irama satu frekuensi.

Esok pagi, matahari akan kembali membedah bukit yang kian landai itu, dan aku mungkin akan memulai perjalanan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Namun, di mana pun kakiku berpijak kelak. Entah di lantai beton gedung pencakar langit atau di atas aspal kota yang tak pernah tidur, aku akan selalu membawa sepotong tanah dari halaman rumah Nenek ini di dalam kantong jiwaku. Aku akan membawa suara angin di antara pohon rambutan dan keheningan batu raksasa yang telah menjadi fondasi rumah sebagai penawar rindu yang paling ampuh.

Sebab kita semua adalah pengembara yang hanya sedang meminjam waktu. Kita berjalan menjauh untuk menguji seberapa kuat tali pusar yang menghubungkan kita dengan tanah asal. Dan ketika lelah itu tiba pada puncaknya, rumah bukan lagi sekadar alamat atau titik di peta;. Ia adalah sebuah perasaan bahwa kita pernah dicintai tanpa syarat, bahwa kita pernah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri kita sendiri. 

Di sinilah, di bawah langit puncak gugunung yang mulai bertabur bintang, aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam arus waktu, meyakini bahwa jalan pulang akan selalu menjaga pintunya tetap terbuka bagi siapa saja yang tahu cara mengingatnya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll