Ada pepatah lama yang selalu terdengar seperti bisikan debu dari masa silam, mengatakan bahwa seorang anak belajar bukan pertama-tama dari petuah yang berisik, melainkan dari seni meniru yang ulung. Meniru adalah cara paling tajam untuk bertumbuh, sebuah jembatan tanpa suara antara ketidaktahuan dan kedewasaan. Seperti tanah yang meniru kerinduan hujan dengan cara menyerap setiap tetesnya hingga ke sumsum bumi, atau seperti pagi yang meniru kesucian cahaya dengan hadir tanpa pernah mengeluh pada gelap, seorang anak adalah ruang kosong yang siap menampung segalanya.
Dalam rumah yang sederhana itu, di antara dinding-dinding yang menyimpan aroma kopi, nasi, dan keringat, aku diam-diam memungut gerak-gerik orang dewasa di sekitarku, menyimpan cara mereka mengikat tali sepatu atau cara mereka membuang napas panjang, lalu membungkusnya rapat-rapat sebagai bekal untuk menempuh rimba hidup yang tak pasti.
Barangkali sejak itulah, mataku mulai terpaku pada paman-pamanku, bukan sekadar sebagai saudara lelaki ibuku, melainkan sebagai kompas yang menunjuk ke arah utara keberanian. Mereka bukan sekadar manusia, melainkan bayang-bayang lelaki yang kokoh, tempat aku ingin menyandarkan cita-cita tentang bagaimana cara melangkah, cara bertekun, dan cara mencintai diam yang paling dalam.
Aku menatap mereka seperti seorang pengukir kayu menatap sebongkah jati. Aku ingin memahat diriku sendiri menjadi serupa dengan mereka, lelaki-lelaki muda yang langkahnya selalu tampak ringan, seolah-olah beban dunia hanyalah kapas yang mereka tiup sambil berlalu. Bagiku saat itu, hidup bukanlah labirin yang rumit, melainkan lapangan hijau yang luas dan jujur, tempat mereka bisa menaklukkan nasib hanya dengan satu sentuhan kaki yang presisi di atas rumput. Aku ingin menjadi bagian dari tarian itu, menjadi pahlawan bagi diriku sendiri di bawah panji klub kebanggaan mereka, Trisakti.
Nama Trisakti bukan sekadar kata yang keluar dari mulut, melainkan sebuah mantra yang terdengar begitu gagah, bergetar di telingaku seperti kepakan bendera kecil yang berkibar perkasa di dada kampung kami yang bersahaja. Nama itu adalah identitas, sebuah rumah kedua di mana keringat dianggap lebih suci daripada air mata. Terutama paman mudaku, seorang gelandang serang yang kakinya seolah memiliki nyawa sendiri. Pandai sekali ia mengocek bola, meliuk di antara kepungan lawan dengan keanggunan yang mematikan. Gerakannya adalah puisi yang ditulis di atas tanah, lincah dan penuh tipu daya seperti angin gunung yang mampu mengubah arah badai tepat sebelum manusia sempat menutup pintu rumahnya. Aku sering terpaku di pinggir lapangan, menatap tiap gerakannya dengan kekaguman yang nyaris pedih, merasa bahwa kelincahan itu adalah sebuah nubuat yang akan lahir kembali di masa depan, menjelma dalam raga yang lain, mungkin pada sosok setajam Maldini Pali.
Sore itu, di bawah langit yang mulai sewarna tembaga, paman mendekatiku dengan napas yang masih memburu namun teratur. Ia berdiri di depanku, menghalangi cahaya matahari yang mulai tenggelam, membuat bayangannya jatuh memanjang menelan tubuh kecilku.
“Lihat, kau harus berani,” katanya pendek, sambil menepuk pundakku pelan. Sentuhannya terasa berat, bukan karena beban, tapi karena ada keyakinan yang disalurkan melalui telapak tangannya.
“Berani apa, Mang?” tanyaku lirih, suaraku hampir tenggelam oleh desau angin yang membawa aroma rumput basah.
“Berani menggiring hidupmu sendiri,” jawabnya dengan mata yang menatap lurus ke cakrawala, seolah ia melihat sesuatu yang tak bisa kulihat. “Bola itu hanyalah latihan kecil untuk sebuah pertarungan yang lebih besar. Jika kau tak bisa menguasai bola di kakimu, bagaimana kau akan menguasai badai yang akan menghantam dadamu nanti?”
Kalimat itu menggantung di udara, tajam dan dingin seperti sembilu, namun hangat seperti pelukan ibu. Aku terdiam, menyadari bahwa di lapangan ini, aku tidak hanya belajar menendang kulit bundar, tapi sedang belajar cara berdiri tegak saat dunia mencoba menjatuhkanku. Di bawah bayang-bayang paman, aku mengerti bahwa menjadi laki-laki bukan tentang seberapa keras kita menendang, tapi tentang seberapa cerdas kita menari di tengah himpitan takdir.
Namun, takdir rupanya tidak menanam akarku di tanah lapang. Aku menyadari bahwa aku bukanlah putra kandung lapangan, bukan anak yang lahir dari rahim debu rumput atau dibesarkan oleh riuh rendah teriakan penonton yang memburu kemenangan. Aku adalah anak yang tumbuh dari serat-serat kayu pintu yang tertutup, seorang bocah rumahan yang lebih akrab dengan detak jam dinding daripada bunyi peluit wasit. Bagiku, lapangan adalah sebuah samudera yang terlalu luas dan bergejolak, dunia yang memaksa setiap orang untuk bersuara, sementara aku lebih mencintai rumah sebagai pelabuhan kecil tempat napas bisa diletakkan dengan teratur tanpa perlu merasa terburu-buru oleh waktu.
Di dalam rumah nenek yang menyimpan aroma kayu tua dan kenangan yang mengendap, hiduplah lima pamanku—lima adik lelaki ibuku yang menjadi saksi bagaimana masa kecilku merayap pelan. Sejak mereka masih bujang dengan mimpi yang menggebu, hingga satu per satu dipersatukan dalam ikatan janji pernikahan, mereka tetap menjadi poros yang memutar duniaku. Mereka adalah lima tiang penyangga dari sebuah bangunan tua. Diam, kokoh, dan bersahaja, berdiri menantang badai tanpa perlu memamerkan kekuatan, namun selalu ada untuk memastikan atap di atas kepalaku tidak runtuh oleh beban langit. Aku menghuni ruang-ruang itu begitu lama, hingga rumah nenek bukan lagi sekadar susunan batu, kayu, bambu, dan atap genteng, melainkan sebuah semesta mungil yang memeluk masa kecilku dengan kesabaran seorang ibu.
Suatu malam, di bawah temaram lampu yang mulai menguning, aku mendengar mereka bercakap. Suara mereka rendah dan berat, bergetar di udara seperti bisikan api yang menari di dalam tungku, hangat namun menyimpan jelaga.
“Kau ini nanti mau jadi apa?” tanya salah satu paman, matanya menatapku lurus, seolah sedang membaca halaman kosong di keningku.
Aku terdiam cukup lama, terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Aku merasa seperti seorang musafir yang berdiri di persimpangan jalan tanpa peta, seorang anak yang belum menemukan abjad yang tepat untuk mengeja namanya sendiri di masa depan.
“Entahlah,” jawabku akhirnya, sebuah kata yang lebih mirip sebuah menyerah daripada jawaban.
Pamanku hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan di bibir yang menyimpan ribuan pengertian. “Tak apa. Hidup memang sering kali dimulai dari ‘entahlah’, seperti benih yang tidak pernah tahu ia akan menjadi pohon apa sebelum ia benar-benar pecah dari tanah.”
Masa itu pun berakhir ketika fajar SMA menyingsing. Untuk pertama kalinya, aku melepaskan pegangan tangan pada dinding rumah dan melangkah menuju kota, mengikuti jejak pengabdian yang pernah mereka tempuh. Kota itu tampak seperti pintu raksasa yang terbuka dengan derit yang mengancam, sebuah rimba beton yang menelan langkah kecilku dengan perasaan yang beraduk antara ketakutan yang dingin, rasa penasaran yang membara, dan kerinduan yang belum sempat kuberi nama. Aku pergi bukan sekadar untuk menukarnya dengan ijazah, melainkan untuk membuktikan pada cermin bahwa sepasang kakiku sanggup menopang tubuhku sendiri, meski langkahku tidak akan pernah secepat atau sekuat langkah lari paman-pamanku di lapangan hijau.
Menempati tempat bertahun-tahun dalam pelukan rumah nenek telah membuat watak mereka merembes ke dalam darahku. Aku meniru mereka seperti cermin meniru wajah yang menatapnya. Tanpa suara, tanpa protes, namun sepenuhnya setia. Aku memungut ketekunan mereka yang serupa dengan akar pohon yang menembus batu tanpa pernah mengeluh. Meminum jiwa petualang mereka yang selalu siap berangkat ke ufuk terjauh meski hati tertinggal di rumah, dan mengadopsi kesunyian mereka yang tidak gemar mengumbar tanya atau membuang kata-kata ke udara yang sia-sia.
Mereka adalah penyair tanpa kertas, orang-orang yang tidak pernah menjelaskan makna hidup melalui teori yang panjang dan membosankan. Mereka menjelaskan hidup dengan cara menjalaninya. Dengan menuliskan kebenaran melalui peluh, kejujuran melalui punggung yang membungkuk saat bekerja, dan kesetiaan melalui kehadiran yang tak pernah absen.
Lalu di perantauan kota yang asing itu, aku baru menyadari sebuah rahasia besar: bahwa keluarga adalah sekolah pertama yang tidak memiliki kurikulum tertulis, dan paman-pamanku adalah guru-guru abadi yang mengajariku bukan dengan dikte atau hafalan, melainkan dengan keberadaan mereka yang tenang namun menghujam dalam. Mereka adalah jangkar yang membuatku tetap membumi, meski aku kini tengah berlayar di tengah badai yang mereka sebut dengan kedewasaan.
Mungkin karena tempaan nasib yang keras, paman-pamanku tumbuh menjadi lelaki yang lebih banyak bekerja tanpa merasa perlu menghamburkan kata-kata. Mereka adalah penganut setia aliran sunyi. Merekalah sosok yang menyerupai pohon tua di tepian jalan berdebu. Pohon itu tidak pernah berpidato tentang manfaat dirinya bagi musafir, ia hanya memberi teduh dengan cara berdiri tegak menghadapi matahari, membiarkan rindang daunnya berbicara melalui kesejukan yang ia tawarkan.
Bagi mereka, bahasa adalah beban yang sering kali sia-sia, sebab tangan-tangan mereka jauh lebih fasih dan jujur daripada mulut. Mereka berkomunikasi melalui gerak, melalui kerja yang mengalir diam-diam seperti sungai di bawah tanah yang tak terlihat, tak meminta perhatian, namun menghidupi apa pun yang dilewatinya.
Suatu hari, di sebuah sudut ruangan yang dipenuhi bau logam dan kayu, aku memberanikan diri memecah keheningan yang telah lama mengepung kami. Di depannya, ujung solder yang panas membara bertemu dengan gulungan timah, lalu dibenamkan dengan presisi pada papan PCB tape recorder yang telanjang.
“Apa tidak capek terus diam begitu, Mang?” tanyaku, suaraku terdengar kecil di tengah desis asap timah yang membubung tipis.
Pamanku hanya menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, sebuah senyum yang tampak seperti sisa-sisa cahaya di ujung senja. “Kerja itu sudah cukup bicara,” jawabnya pelan, suaranya serak namun jernih, seolah kalimat itu adalah sebuah doa kuno yang tidak perlu lagi diulang agar Tuhan mendengarnya.
Dua dari paman-pamanku adalah para penyihir elektronik. Mereka memiliki kesabaran yang tidak masuk akal dalam mengutak-atik kabel dan komponen. Mereka mampu mereparasi hingga merakit sendiri sebuah radio-tape, sebuah kotak ajaib yang pada masa itu adalah satu-satunya primadona hiburan di kampung kami. Bagiku, radio itu adalah jendela kecil yang dipasang di dinding rumah. Sebuah lubang intip tempat kami bisa mendengar detak jantung dunia dari kejauhan, membawa suara-suara asing masuk ke dalam ruang tamu kami yang sederhana.
Di rumah nenek, suara radio adalah semacam nyawa tambahan yang memompa nadi kehidupan. Lagu-lagu dangdut yang meratap, berita kota yang kaku, hingga sandiwara radio yang mencekam, semuanya bersatu membuat malam-malam kampung yang sepi terasa lebih berdenyut dan bermakna. Radio itu adalah detak jantung rumah yang jika ia mati, maka seolah ada sepotong kegembiraan yang tercerabut dari atap rumah kami.
Aku sering duduk bersila di samping mereka, menyaksikan bagaimana mereka membongkar kotak kayu dan plastik itu dengan gerakan yang sangat lembut. Mereka memperlakukan mesin-mesin itu seperti seorang dokter bedah yang sedang menangani detak jantung pasien paling kritis. Dengan penuh kehati-hatian, seolah satu kesalahan kecil akan memutus nyawa dari sebuah raga. Kabel-kabel kecil warna-warni menjuntai di sana-sini, tampak seperti akar-akar halus yang mencari celah di tanah, dan pamanku menatap kerumitan itu dengan kesungguhan yang terasa sakral, hampir seperti seorang imam yang sedang merapal kitab suci di depan altar.
“Ini rusaknya di sini,” kata salah satu pamanku, telunjuknya yang kasar menunjuk pada sebuah komponen kecil yang hangus di kedalaman mesin. Aku hanya mengangguk pelan, meski di mataku, semua itu hanyalah belantara tembaga yang tak kumengerti bahasanya.
“Kalau kau ingin berhasil dalam hal apa pun, kau harus memiliki kesabaran yang luas,” tambahnya tanpa menoleh. Suaranya lirih, hampir berupa bisikan, namun kata-katanya menancap dalam di benakku seperti paku yang dipukul tepat pada tempatnya.
“Jangan tergesa oleh ambisi. Hidup ini seperti mencari jejak tembaga yang putus di papan sirkuit. Jika tanganmu gemetar karena terburu-buru, kau hanya akan merusak bagian yang sebenarnya masih baik.” Nasihat itu tidak hanya berhenti pada urusan radio. Melalui uap timah dan pijar solder, aku belajar bahwa setiap luka dalam hidup seperti halnya kabel yang putus, memerlukan tangan yang tenang untuk menyambungnya kembali.
Mereka mengajarkanku bahwa kebenaran tidak selalu butuh panggung untuk berteriak. Terkadang, kebenaran hanya butuh ketulusan untuk tetap berfungsi meski tak ada seorang pun yang memujinya. Dan dari setiap kabel yang disambung, setiap transistor yang diganti, aku mulai memahami bahasa kerumitan yang tak hanya berlaku pada mesin, tetapi juga pada dunia itu sendiri.
Melihat paman-pamanku membongkar dan merakit kembali perangkat elektronik, aku tidak hanya melihat mereka memperbaiki radio yang rusak, melainkan mereka sedang merakit kembali sebuah harapan. Mereka membuktikan bahwa setiap sistem, betapa pun rumit dan kusutnya, selalu memiliki logika di baliknya yang selalu ada kepingan yang jika dipasang pada tempatnya, akan membuat segalanya berfungsi kembali. Begitulah aku mulai memandang dunia, tidak lagi sebagai kekacauan yang tak terpecahkan, melainkan sebagai sebuah sirkuit raksasa yang membutuhkan ketekunan untuk memahami setiap sambungannya. Setiap masalah adalah resistor yang hangus, setiap konflik adalah kapasitor yang kembung, dan setiap kesedihan adalah jalur tembaga yang terputus.
Dari mereka, aku belajar bahwa untuk memahami sebuah kerumitan, kita harus berani membongkarnya, sepotong demi sepotong, tanpa prasangka, tanpa tergesa. Seperti halnya mencari kerusakan pada sebuah sirkuit yang senyap, seringkali jawaban atas masalah besar tersembunyi dalam detail-detail terkecil yang luput dari pandangan mata yang terburu-buru. Mereka mengajarkanku untuk mencari akar masalah, bukan hanya melihat gejala di permukaannya. Untuk menelusuri jejak-jejak yang tak kasat mata, seperti aliran listrik yang tak terlihat namun memberi daya pada segalanya.
Kerja sunyi paman-pamanku adalah sebuah pelajaran abadi tentang bagaimana menghadapi hidup. Mereka mengajarkan bahwa dengan kesabaran, bahkan benang kusut yang paling ruwet sekalipun bisa diurai menjadi sebuah pola yang indah dan berfungsi. Bahwa di balik setiap kehampaan, selalu ada potensi untuk kembali bersuara, untuk kembali menggaungkan melodi kehidupan. Pelajaran itu terukir dalam setiap desis solder, dalam setiap kilatan cahaya timah, dan dalam keheningan yang mengiringi tangan-tangan mereka bekerja, membentuk cara pandangku terhadap setiap tantangan dan setiap kerumitan yang kutemui di masa depan. Sebuah pemahaman yang sederhana, namun sedalam samudera, bahwa setiap kerusakan memiliki solusi, dan setiap keheningan menyimpan kebijaksanaan.
Dari paman-pamanku yang gemar menjinakkan kerumitan benda-benda elektronik, aku mewarisi sebuah pusaka yang lebih berharga dari sekadar kecakapan tangan: aku belajar tentang hakikat ketekunan. Ketekunan mereka bukanlah jenis kekuatan yang meledak-ledak seperti kembang api yang memukau namun lekas padam. Ketekunan itu tumbuh seperti lumut di atas batu purba, yang merayap tanpa suara, menjalar dengan sabar, namun pada akhirnya ia mampu menutupi kekerasan batu dengan kelembutan yang mencengkeram begitu kuat.
Maka, ketika di sekolah aku berhasil merengkuh predikat juara, aku tahu di dalam dadaku bukan kecerdasan luar biasa yang sedang berpesta, melainkan ketekunan yang sedang bekerja. Aku bukanlah anak yang diberkati pikiran secepat kilat yang mampu membelah langit dalam sekejap, melainkan anak yang memilih bertahan seperti nyala lampu kecil di tengah badai yang pekat. Sebuah cahaya yang mungkin tampak redup dan gemetar, namun ia menolak untuk mati dan terus menjaga jarak antara dirinya dengan kegelapan.
Suatu siang, di antara aroma timah yang terbakar dan debu radio tua, salah satu pamanku menatapku melewati bingkai kacamatanya yang sedikit turun.
“Pintar itu hadiah dari langit, tapi tekun adalah pilihan dari dalam hati,” katanya dengan nada yang datar namun berwibawa.
Kalimat itu jatuh ke dalam sanubariku seperti paku kecil yang dipukul satu kali namun menancap abadi. Kata-katanya tidak datang sebagai guntur, melainkan sebagai getaran frekuensi rendah yang terus berdengung di ingatanku, mengingatkanku bahwa bakat tanpa ketekunan hanyalah sebuah janji yang tak pernah ditepati. Sejak saat itu, aku mulai memahami bahwa keberhasilan bukanlah sebuah ledakan keberuntungan, melainkan hasil dari kerja-kerja sunyi yang dilakukan berulang kali.
Aku belajar dari mereka bagaimana cara menenun ketekunan untuk menjemput sebuah keberhasilan. Prosesnya serupa dengan seorang perempuan di pelosok kampung yang sedang menenun tikar dari helai-helai daun pandan. Dengan mengambil satu helai demi satu helai, menyisipkannya dengan jari-jari yang mungkin telah lelah, melakukan gerakan sederhana yang berulang-ulang tanpa rasa jemu. Namun, jika kesabaran itu dipelihara hingga ujung waktu, maka selembar demi selembar daun itu akan menjelma menjadi alas yang kuat dan kokoh untuk menopang kehidupan keluarga di atas lantai tanah yang dingin.
Ketekunan bukanlah sesuatu yang turun dari langit seperti hujan yang tiba-tiba membasahi bumi, melainkan sesuatu yang kita bangun dengan tangan sendiri setiap hari. Ia menyerupai cara seorang lelaki tua membangun istana dari tumpukan batu-batu kerikil yang ia kumpulkan satu per satu dari pinggir kali. Tampak kecil dan tak berarti di mata orang yang terburu-buru, namun bagi sang pembangun, setiap batu adalah satu detak jantung komitmen.
“Lihatlah papan sirkuit ini,” bisik pamanku saat aku masih duduk terpaku di sampingnya. “Satu jalur yang terputus bisa mematikan seluruh irama musik, tapi satu sambungan yang kau buat dengan sabar bisa menghidupkan kembali suara-suara yang telah lama hilang.”
Dari sana aku mengerti, bahwa hidup ini adalah sirkuit raksasa yang menuntut ketelitian. Aku memilih untuk menjadi penyambung jalur-jalur yang putus itu dengan jemari ketekunanku sendiri. Meski langkahku tak secepat pelari cepat, dan pikiranku tak selincah sang jenius, aku memiliki napas yang lebih panjang untuk tetap berdiri ketika yang lain telah lama duduk kelelahan.
Lalu, dari pamanku yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang guru, aku mempelajari cara lain yang lebih sunyi namun mendalam untuk mencintai dunia. Di masa itu, ketika lonceng sekolah telah usai berdenting saat sudah waktunya pulang, aku seringkali dihadapkan pada persimpangan hobi yang kontras. Jika kaki ini tak melangkah ke dalam rimbun hutan atau ladang untuk memungut kayu bakar, tugas yang membuatku tetap berpijak pada bumi, dan jika tak ada kawan sebaya yang mengajakku bertaruh keringat dalam permainan maenbal, aku akan memilih untuk "ngamar".
Sering aku akan mengunci diri dalam kesunyian yang riuh. Untuk jemariku mulai menelusuri lekuk gambar dan huruf di buku-buku peninggalannya yang tersusun di sudut ruang kamar yang seketika menjelma menjadi semacam pelabuhan sunyi, tempat sebuah kapal tanpa jangkar dalam kepalaku siap berlayar mengarungi samudera pengetahuan tanpa perlu menimbulkan kecipak suara.
Buku-buku itu memancarkan aroma kertas tua yang khas, sebuah aroma yang terasa seperti wangi debu waktu yang mengendap dan mimpi-mimpi besar yang terkunci karena belum sempat diucapkan. Aku membuka lembar demi lembarnya dengan penuh takzim dan perlahan, seolah setiap helai kertas itu adalah kelopak bunga yang sangat rapuh, dan aku takut jika gerakanku terlalu kasar, aku akan mengusik hantu-hantu kebijaksanaan yang sedang terlelap dengan tenang di dalamnya.
“Kenapa kau betah sekali menatap buku-buku itu?” tanya pamanku suatu sore, suaranya memecah keheningan ruang yang hanya diisi oleh suara napas dan gesekan kertas.
Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan seorang anak yang baru saja kembali dari dimensi lain. “Karena di dalam sini ada tempat-tempat yang sangat jauh, Mang,” jawabku pelan, hampir berupa bisikan.
Pamanku hanya mengangguk, sebuah gerakan sederhana yang menandakan ia mengakui kerinduanku pada kejauhan. “Kalau begitu, jangan hanya kau lihat dengan matamu,” katanya seraya menatap buku di tanganku. “Simpanlah tempat-tempat itu jauh di dalam palung hatimu. Jadikan ia peta rahasia yang tak bisa dihapus oleh jarak maupun usia.”
Di antara tumpukan itu, kutemukan judul-judul yang tercetak dengan huruf-huruf besar yang berwibawa: Benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia.. Nama-nama itu tidak lagi terdengar seperti istilah geografi di telingaku, melainkan berubah menjadi mantra-mantra kuno yang sanggup memanggil badai rasa ingin tahu. Benua-benua itu tegak berdiri seperti pintu-pintu raksasa di depan gerbang imajinasiku, menantangku untuk mencari kunci agar bisa melintasinya. Tanpa kusadari, halaman-halaman yang mulai menguning itu mulai menumbuhkan sayap-sayap terawang dalam diriku. Menjadi sebuah keinginan yang membara untuk berpetualang, untuk memecahkan cangkang kampung kecilku, dan untuk melihat dunia yang bentangannya jauh lebih luas daripada sekadar batas ladang tempat aku bekerja atau hutan tempat aku mencari kayu.
Saat itu, aku memang belum memiliki peta nyata atau alas kaki yang cukup kuat untuk melintasi garis khatulistiwa. Aku belum tahu dengan cara apa aku akan pergi atau ke mana angin nasib akan membawaku bertolak. Tetapi barangkali, sejak saat pertama kali jemariku menyentuh peta benua di buku-buku itu, aku sebenarnya sudah mulai berjalan, sebagai sebuah langkah sunyi yang mungkin belum menyentuh aspal jalanan, namun telah melesat jauh menembus batas-batas pikiranku sendiri. Aku telah menjadi pengelana sebelum aku benar-benar memiliki paspor, mencari arah di antara baris-baris kalimat, dan membiarkan imajinasiku menjadi kompas yang menuntun menuju ufuk yang tak bertepi.
Aku sering terjatuh dalam khayal yang panjang, membayangkan suatu saat nanti aku akan menjelma seperti paman-pamanku: seorang lelaki yang melangkah keluar dari ambang pintu rumah sebagai seorang petarung. Bagiku, pergi bukan sekadar berjalan menjauh atau membelakangi kenangan, melainkan sebuah ritus suci. Seperti seekor burung yang akhirnya memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya pada dahan yang nyaman, lalu mempertaruhkan nyawanya pada kepakan sayap sendiri di hadapan langit yang tak bertepi. Aku rindu merasakan debar saat meninggalkan halaman rumah nenek yang rimbun, membawa seluruh sisa hidupku dalam sebuah tas kecil yang ringan, dan membiarkan setiap tapak kaki menjadi kompas yang menentukan ke mana takdir akan bermuara.
Paman-pamanku adalah peta hidup yang berjalan. Ada yang menjemput nasib dengan pergi Malang, Jawa Timur yang dingin, setelah sebelumnya bertarung di tanah Lampung yang keras. Ada pula pamanku sang guru, yang mengabdikan suaranya di Batujaya, Karawang, berdiri di depan kelas untuk mengajar anak-anak yang barangkali matanya menyimpan binar ketidakpastian yang sama denganku dahulu. Di Bandung, satu pamanku yang lain menatap kota itu di telingaku selalu terdengar seperti sebuah cerita besar yang berkilau di balik kabut.
Namun, di antara semua pengelana itu, hanya satu pamanku yang memilih tinggal. Ia setia mendampingi kakek dan nenek, menekuni lumpur sawah dan debu ladang. Ia adalah akar yang memilih untuk tidak berpindah meski angin badai berkali-kali memanggilnya untuk terbang. Dialah penjaga sunyi yang memastikan bahwa rumah tetap memiliki jiwa untuk tempat kami pulang.
Kadang aku bertanya dalam hati dengan nada yang semakin lirih: apakah sejatinya menjadi lelaki itu berarti harus pergi menantang ufuk? Ataukah justru ia yang paling lelaki adalah ia yang sanggup bertahan menjaga tanah kelahiran?
“Hidup itu kadang seperti jalan setapak yang panjang, Nak,” ujar pamanku suatu kali saat kami duduk di beranda. “Ada yang ditakdirkan untuk berangkat, ada yang diwajibkan untuk tinggal. Jangan menganggap salah satunya lebih mudah, sebab dua-duanya adalah beban yang beratnya sama bagi punggung seorang lelaki.”
Aku hanya diam, membeku dalam keheningan yang dalam. Aku merasa seperti sebuah benih yang tertiup angin yang belum tahu di tanah mana kelak aku akan jatuh, atau di sela batu mana aku harus belajar untuk tumbuh. Sebelum akhirnya televisi masuk dan merampas perhatian penghuni rumah, setelah buku-buku adalah satu-satunya jendelaku. Di dalam kamar yang sunyi, aku merasa menjadi seorang pengembara tanpa perlu melepaskan alas kaki. Kata-kata yang berbaris di halaman buku adalah perahu-perahu kecil yang siap membawaku meluncur, dan imajinasiku adalah sungai purba yang arusnya mampu membenturkanku pada tebing-tebing pengetahuan di belahan dunia lain.
Namun, segalanya perlahan bergeser sejak paman pulang dari Malang. Mungkin sebagai sebentuk cinta atau hadiah lebaran bagi penghuni rumah, ia membawa pulang sebuah televisi yang sudah rusak. Sebuah kotak hitam yang bagi kebanyakan orang hanyalah rongsokan bisu yang tak berharga. Namun di tangan paman, benda mati itu diperlakukan seperti sebuah nasib yang malang. İa percaya bahwa apa pun yang sudah patah bisa disambung kembali, dan apa pun yang sudah mati bisa ditiupkan kembali napasnya melalui kesabaran.
Aku masih ingat dengan jelas malam yang sakral itu. Di bawah temaram lampu ruang tengah, paman membongkar televisi itu dengan ketekunan yang hampir terasa magis. Tangannya bergerak lincah dan hati-hati, seolah ia sedang merangkai ulang urat-urat takdir yang sempat terputus. Kabel-kabel berwarna-warni berserakan di lantai seperti saraf-saraf halus manusia yang sedang dibedah. Kami semua berkumpul, duduk melingkar dengan napas yang tertahan di kerongkongan, menyaksikan paman bertarung melawan kegelapan di dalam mesin itu.
“Kenapa harus barang rusak yang dibeli, Mang?” tanyaku dengan suara hampir tak terdengar. Paman tidak menoleh, matanya masih terpaku pada pijar solder yang menyentuh timah.
“Sesuatu yang kau perbaiki dengan tanganmu sendiri, biasanya akan memberikan cerita yang lebih merdu saat ia mulai bicara nanti,” jawabnya pelan, namun getarannya menggedam hatiku.
Kami menunggu dengan cemas, menanti keajaiban muncul dari balik kaca cembung yang masih gelap itu. Sebuah penantian tentang apakah usahanya akan membuahkan cahaya, ataukah kami tetap harus mendekam dalam sepi yang lama.
“Nanti kalau benda ini menyala, rumah ini akan menjadi ramai,” ucap pamanku pelan, suaranya mengandung janji yang sulit kubayangkan.
Aku tersenyum kecil, merasa sangsi pada kotak bisu yang masih telanjang itu. “Ramai bagaimana, Mang? Bukankah kita hanya berlima di sini?”
Pamanku menghentikan sejenak gerak tangannya, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Ramai oleh dunia yang akan merayap masuk lewat layar ini. Ia akan membawa kota-kota besar, suara-suara asing, dan mimpi-mimpi jauh langsung ke hadapanmu, tanpa kau perlu beranjak dari papan kayu ini.”
Dan benar saja, melalui jemarinya yang penuh bekas luka dan sisa timah, ia berhasil memicu denyut nadi pada mesin tua itu. Layar kaca yang semula kelam itu mendadak berkedip, lalu memancarkan cahaya biru pucat yang dingin. Cahaya itu menyiram ruang tamu kami, tampak seperti bulan buatan yang jatuh dari langit dan memutuskan untuk bersemayam di pojok rumah. Kami semua berkumpul di depannya, terpukau dalam keheningan yang takzim, seolah-olah kami baru saja menyaksikan mukjizat kecil yang turun tanpa perantara doa.
Namun, mukjizat itu membawa harga yang tak terduga. Kehadiran televisi perlahan menjadi arus yang amat kuat, mengubah seluruh orientasi hidupku yang semula tenang dan bersahaja. Sesuatu yang dahulunya terasa utuh, mulai retak dan bergeser.
Dahulu, aku adalah putra alam ketika sepulang sekolah aku terbiasa menyusuri jalan tanah untuk mencari kayu bakar, merasakan debu yang mencium kaki sebagai berkah, dan meresapi sore sebagai bagian dari detak jantung semesta yang jujur. Sepulang pengajian malam, langkahku biasanya akan tertuju pada musala tua di ujung jalan. Di sana, aku biasa merebahkan diri, berselimutkan tikar pandan yang kasar dan doa-doa yang seolah masih menggantung hangat di udara, menunggu untuk dipanjatkan kembali saat fajar. Musala itu adalah rumah kedua bagiku, sebuah rahim spiritual tempat sunyi mengajarkan disiplin tanpa perlu suara, dan tempat kegelapan malam terasa seperti pelukan Tuhan yang paling aman.
Tetapi semenjak layar biru itu bertahta di meja rumah, perubahan situasi datang merayap serupa kabut di kaki gunung. Ia tidak datang dengan ledakan yang menakutkan, melainkan menyusup perlahan, mengaburkan garis batas antara kebutuhan dan keinginan. Aku mulai merasa enggan pergi jauh dari pelataran rumah. Kayu bakar yang dahulu adalah kewajiban, kini terasa sebagai beban yang tak sepenting gambar-gambar yang menari di layar. Dan puncaknya, selepas pengajian malam, kakiku tak lagi menuntunku ke musala yang sunyi. Aku memilih pulang, bukan untuk menjemput istirahat, melainkan untuk menyerahkan mataku pada kotak ajaib itu.
Aku duduk membeku di depan layar, terpaku oleh kerlap-kerlip cahaya yang menyihir. Aku merasa seolah dunia di dalam kotak itu jauh lebih berdenyut dan berwarna daripada realitas di luar pintu rumah. Seakan-akan hidup yang kualami selama ini hanyalah sketsa hitam putih yang membosankan dibanding kemilau dunia di balik kaca. Aku seperti seorang pelaut kecil yang tiba-tiba kehilangan arah kompasnya, terpesona oleh nyala lampu mercusuar yang sebenarnya hanya ingin menyesatkanku ke karang.
“Nanti saja ngajinya lagi, besok masih ada waktu,” bisikku pada diri sendiri, sebuah pembenaran yang keluar dari celah ego yang mulai membesar.
Aku tidak menyadari bahwa kata "nanti" adalah racun yang dibungkus madu. Besok selalu menjadi alasan paling murah bagi mereka yang enggan berjuang, dan malam selalu menjadi jebakan yang teramat manis bagi mereka yang telah menukar kedalaman doa dengan keramaian yang dangkal. Di depan TV itu, aku mulai kehilangan diriku sendiri, perlahan-lahan hanyut dalam arus informasi yang membuatku lupa pada aroma kayu bakar dan keheningan musala yang pernah membesarkanku.
Akhirnya, subuh tak lagi menjadi waktu yang suci. Menjadi sekadar sisa malam yang terlekap. Fajar tetap datang membawa janjinya, namun aku masih terbenam dalam lelap yang berat, seperti seseorang yang kehilangan benda paling akrab namun enggan mencarinya. Cahaya pagi yang menyentuh jendela tetap sama setianya, namun ia menyentuh raga yang perlahan telah bermutasi. Di sana, di tengah remang sisa tidur, aku mulai mengecap sebuah pemahaman yang pahit bahwa tidak semua cahaya diturunkan untuk menuntun jalan. Ada cahaya yang justru diciptakan hanya untuk menyilaukan mata, membuat kita abai pada binar kebenaran yang lebih hakiki dan tenang.
Malam-malam di rumah nenek kini telah berganti wajah. Jika dahulu rumah ini serupa halaman kitab suci yang jarang dibuka, yang sunyi, wangi, dan penuh rahasia, kini menjelma pasar kecil yang tak pernah benar-benar mencicipi sepi. Cahaya televisi yang biru dan gelisah itu memantul liar di dinding-dinding papan, membuat ruang tamu terasa asing dan dingin, seolah-olah rumah tua ini dipaksa belajar menjadi kota yang berisik meski fondasinya tetap tertanam di tanah kampung.
Orang-orang datang menjemput hiburan. Tetangga duduk berhimpitan, anak-anak tertawa pada gambar yang melompat-lompat, dan para lelaki dewasa mendebatkan berita dari layar seolah itu adalah nasib mereka sendiri. Di tengah riuh rendah itu, aku merasa seperti sehelai daun kecil yang tercabut dari tangkainya, hanyut dalam arus modernitas yang tak kutahu ke mana muaranya.
Televisi itu benar-benar menjadi pintu raksasa yang terbuka lebar menuju dunia lain. Menuju sebuah dunia yang gemerlap, bergerak secepat kilat, dan sama sekali tidak mengenal bau lumpur ladang atau keheningan musala. Ia menyelundupkan suara-suara asing ke dalam ruang keluarga kami, suara-suara yang tak pernah kami undang secara resmi, namun perlahan kami beri tempat duduk dan kami anggap sebagai bagian dari darah daging sendiri.
Aku mulai mengenali wajah-wajah di layar lebih baik daripada wajah-wajah jamaah yang duduk menekur di musala. Setiap kali pengajian usai, langkahku tak lagi tertuju pada kehangatan tikar musala. Aku akan pulang dengan tergesa, seolah ada kontrak penting yang harus segera kutandatangani, atau saat perut kenyang harus segera pulang untuk meluapkan kenyang.
“Cepat pulang yuk, filmnya sudah mau mulai,” bisik seorang teman di telingaku.
Aku mengangguk tanpa ragu. Kalimat itu terdengar begitu wajar saat diucapkan, padahal secara gaib ia sedang menggeser poros hidupku. Musala yang dahulu adalah rahim tempat jiwaku ditempa, perlahan merosot derajatnya hanya menjadi tempat persinggahan sementara. Ingin secepatnya raga berpindah dari duduk mendengar ceramah. Karena separuh jiwaku sudah berlari pulang, duduk bersila di depan layar yang menyala redup terang.
Dan subuh pun menjadi korban paling berdarah dalam kebiasaanku. Membuatku lebih sering terbangun ketika matahari telah merangkak naik, ketika kokok ayam telah lama luruh di udara, dan ketika atmosfer pagi yang biasanya kental dengan getaran doa-doa kini terasa kosong dan hambar. Nenek, sosok yang paling setia menjaga subuh, kadang menatapku dengan mata yang tak menyimpan amarah sedikit pun. Hanya sebuah kesayuan yang amat dalam.
“Kau tak ke musala tadi, Cu?” tanyanya pelan, suaranya setipis embun yang hendak menguap.
Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai ubin yang dingin. “Ketiduran, Nek..” jawabku lirih, sebuah alasan klasik yang terasa sangat murah di hadapannya.
Nenek tidak membentak. Ia hanya menghela napas panjang. Napas yang terasa selebar musim kemarau yang gersang dan melelahkan. “Dulu kamu adalah anak yang paling rajin menjemput subuh,” katanya lirih, dan suaranya terdengar seolah ia sedang berbicara pada bayangan masa laluku yang kini telah menghilang, bukan pada raga di depannya yang telah terpikat oleh cahaya buatan.
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada sebilah sembilu. Aku menyadari bahwa di balik kemeriahan gambar-gambar di layar televisi, ada sesuatu yang perlahan mati di dalam dadaku. Sebuah ketulusan yang kini tertukar dengan kegemerlapan yang fana dari gambar-gambar yang berloncat-loncat.
Aku terpaku dalam kelu, tak tahu harus merangkai kata apa untuk membalas sayunya tatapan Nenek. Di dalam dadaku, aku merasakan sebuah pergeseran yang tak kasat mata namun nyata. Sesuatu dalam diriku sedang bermutasi, serupa aliran sungai yang secara diam-diam mengikis tebingnya sendiri demi mencari jalan baru, meski ia harus meninggalkan muara yang selama ini membesarkannya.
Kegelisahan itu rupanya tertangkap oleh radar batin pamanku. Sampai suatu malam, ketika kerumunan tetangga telah surut dan televisi telah kehilangan nyawanya, paman duduk sendirian di beranda rumah. Di tangannya, sebatang rokok menyala kecil, seperti satu-satunya bintang yang tersisa di langit kelam, berkedip lemah seolah sedang berjuang melawan kepunahan. Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya, membiarkan keheningan malam menyelimuti kami berdua.
“Mang,” kataku memecah sepi, suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. “TV itu sebenarnya bagus ya.”
Paman hanya menyunggingkan senyum tipis, namun di sudut bibirnya, senyum itu tampak menyimpan beban yang amat berat, seperti jembatan tua yang dipaksa menahan beban ribuan kendaraan.
“Bagus,” jawabnya dengan nada datar yang sarat makna. “Namun kau harus ingat, bahwa terkadang sesuatu yang tampak berkilau di mata bisa membuat kita buta terhadap hal-hal yang sebenarnya lebih berharga bagi nyawa.”
Aku menatapnya dengan kening berkerut, mencoba meraba arah bicaranya. Paman kemudian melanjutkan dengan suara rendah, seolah ia sedang membisikkan rahasia kuno kepada angin malam.
“Dulu, rumah ini mungkin hanya diterangi oleh lampu minyak yang jelaganya menghitamkan dinding. Namun hatinya selalu benderang oleh gema doa dari musala. Sekarang, rumah ini mandi cahaya dari layar televisi yang megah. Tapi tidak tahu apakah hati para penghuninya masih menyimpan cahaya yang sama atau sudah mulai meredup.”
Kalimat itu jatuh ke tanah dengan pelan namun bertenaga. Serupa daun kering yang gugur dari dahan dan menyadari bahwa ia tak akan pernah bisa kembali memeluk rantingnya lagi. Aku terdiam seribu bahasa. Malam itu mendadak terasa jauh lebih dingin, seolah-olah angin pegunungan baru saja menembus kulitku hingga ke tulang.
Aku mulai meraba sebuah kebenaran, meski ia masih terasa samar di ujung pikiran. Aku mulai mengerti bahwa kemajuan tidak selalu datang membawa paket kebahagiaan yang utuh. Bahwa segala sesuatu yang baru seringkali datang menyerupai hadiah yang indah, namun di balik bungkusnya, ia membawa ujian yang sanggup menguliti jati diri kita.
Televisi itu memang tetap menyala di sana, di ruang tengah. Ia terus setia menyuguhkan hiburan dan membawakan paket-paket dunia ke depan mataku. Namun, di saat yang bersamaan, ia juga bertindak seperti pencuri yang sangat lihai. Dari gambarnya yang berloncat-loncat secara perlahan merampas kebiasaan-kebiasaan kecil yang jujur, menggerogoti disiplin sunyi yang dulu kupelihara, dan ia memutus satu per satu benang doa yang dahulu adalah napas bagi jiwaku.
Dan aku, seorang anak kampung yang sedang berdiri di ambang kedewasaan, kini terjepit di sebuah persimpangan jalan yang bahkan belum sanggup kusebutkan namanya. Aku hanya tahu satu hal dengan pasti: sejak cahaya biru itu menguasai ruang nenekku, ada cahaya lain yang lebih hangat dan abadi yang perlahan-lahan melangkah menjauh, meninggalkan aku sendirian dalam keramaian yang fana.
Ketika aku memutar kembali rol kenangan itu, aku merasa seperti sedang berdiri di depan sebuah rumah tua yang dinding-dindingnya bukan lagi tersusun dari bata, melainkan dari ribuan suara yang mengendap. Aku mendengar kembali suara paman-pamanku yang bekerja dalam bungkam, sebagai sebuah pengabdian tanpa pamrih yang menyerupai cara akar menghidupi pohon tanpa pernah menampakkan diri ke permukaan. Aku mendengar desis radio tua yang dahulu menjadi jendela kecil tempat kami mengintip dunia, lalu gesekan halus halaman buku yang kubuka dengan takzim, serta suara musala yang memanggil-manggil dengan jenis kesunyian yang paling setia. Semua bunyi itu berkelindan, menyatu menjadi sebuah riwayat kecil tentang bagaimana jiwa seorang anak manusia ditempa bukan oleh khotbah yang berisik, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam diam dan kepatuhan.
Paman-pamanku adalah para bijak yang tak pernah memproklamirkan diri sebagai guru. Melalui gerak tubuh mereka, aku mempelajari bahwa ketekunan adalah sebuah jalan setapak yang sangat panjang. Mungkin tidak selalu dihiasi sorak-sorai atau tepuk tangan, namun ia adalah satu-satunya jalan yang pasti akan membawamu sampai ke tujuan. Mereka mengajariku bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang kecerdasan yang menyambar sekali lalu padam seperti petir, melainkan tentang kesabaran yang memilih untuk tetap menyala serupa pelita kecil di tengah malam. Meski dihantam angin, ia tetap menolak untuk menyerahkan cahayanya pada kegelapan.
Dari jemari mereka yang fasih menjinakkan mesin, dari cara mereka membedah radio yang mati hingga kembali melantunkan nada, aku memetik satu kebenaran tentang eksistensi dan pelajaran bahwa hidup memang seringkali remuk dan malfungsi. Lalu sebagaimana perangkat elektronik yang paling rusak sekalipun, nasib yang rapuh selalu bisa dirakit kembali asalkan kita memiliki kesungguhan yang tajam untuk menyambung jalur-jalur harapan yang telah putus.
Dan dari tumpukan buku peninggalan pamanku sang guru, aku telah mempelajari cara memandang cakrawala. Judul-judul benua yang tercetak tebal itu bukan lagi sekadar nama geografis, melainkan pintu-pintu raksasa yang berdiri tegak di kejauhan, memanggilku dengan suara yang hanya bisa didengar oleh hati yang gelisah. Buku-buku itu telah menanamkan mimpi tentang perantauan yang luhur, tentang bagaimana menjadi seorang lelaki yang suatu saat nanti harus berani menutup pintu rumah masa kecilnya, memikul tas kecil berisi doa nenek, dan melangkah pergi untuk menempa takdirnya sendiri di bawah langit yang berbeda.
Mimpi itu tidak meledak tiba-tiba. Ia tumbuh dengan sangat pelan di dalam dadaku, serupa tunas pohon jati yang tidak pernah tergesa-gesa untuk menjulang, tapi diam-diam ia sedang menghujamkan akarnya sedalam mungkin ke perut bumi, bersiap menghadapi badai apa pun yang kelak menunggunya di luar batas ladang dan kampung halaman.
Lalu, datangnya televisi adalah cahaya baru yang bertahta di ruang tamu nenek, mengajarkan sebuah babak kehidupan yang lain. Bahwa perubahan seringkali datang dengan jubah hadiah yang gemerlap, namun diam-diam ia sedang menggeser poros hati ke arah yang tak terduga. Ia mengubah rumah kami menjadi sebuah teater yang riuh, mengisi malam-malam kami dengan suara-suara dari negeri antah-berantah, namun di saat yang sama, ia membuat sunyi musala terasa kian purba dan asing. Aku tidak serta-merta kehilangan seluruh jiwaku, namun aku merasakannya surut secara perlahan, seperti air laut yang meninggalkan bibir pantai sedikit demi sedikit, menyisakan jejak garam dan kerinduan yang mengering di bawah terik modernitas.
Maka aku pun mengerti, bahkan sejak usia yang masih sangat belia, bahwa hidup ini adalah sebuah rangkaian peralihan yang tak terelakkan. Ada musim di mana kita merasa begitu lekat dengan heningnya doa, lalu perlahan kita terlempar ke dalam hiruk-pikuk dunia. Ada masa di mana kita begitu intim dengan lembar-lembar buku yang dalam, lalu seketika menyerahkan pandangan pada layar yang menawarkan ilusi. Ada pula waktu di mana ketekunan terasa semudah membalik telapak tangan, sebelum akhirnya dunia datang menawarkan jalan pintas yang tampak lebih gemilau namun sebenarnya rapuh.
Semua itu adalah fragmen dari proses pertumbuhan. Sebuah seni menjadi manusia yang harus melewati persimpangan demi persimpangan. Dan paman-pamanku dengan kebisuan mereka yang penuh rahasia, dengan kerja tangan mereka yang tak pernah meminta pujian, serta dengan nasihat-nasihat yang hanya keluar setetes demi setetes namun menghujam hingga ke sumsum batin, tetap menjadi cahaya purba dalam ingatanku. Mereka adalah cahaya yang tidak memekik menantang matahari, tidak memaksa mata untuk menatap, namun hangatnya tinggal menetap selamanya di dalam dada, menjaga agar api kemanusiaanku tidak benar-benar padam oleh badai zaman.
Barangkali, inilah yang disebut sebagai fragmen dalam sebuah fase "sebelum cahaya" sebagai sebuah masa transisi yang suci, ketika seorang anak belum sepenuhnya mampu mengeja arah hidupnya, namun jiwanya sudah mulai merasakan getaran takdir yang memanggil. Itulah barangkali masa ketika rumah nenek, paman-paman dengan solder dan radionya, musala yang sunyi, ladang yang sabar, buku-buku yang membentangkan benua, hingga televisi yang menyihir, semuanya menjadi tanda-tanda kecil bahwa semesta sedang membukakan gerbangnya.
Dunia sedang memperkenalkan dirinya padaku secara perlahan, seperti fajar yang datang tanpa suara, menyapu kegelapan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku bukan lagi anak kecil yang sekadar meniru, melainkan seorang lelaki yang siap melangkah keluar untuk menjumpai cahayanya sendiri. (Bersambung)