Anak Desa

Tahun ajaran baru menyelinap masuk layaknya pergantian musim yang dingin. Dari kemarau ke hujan...

Anak Desa

03 Feb 2026
308 x Dilihat
Share :

Anak Desa

Tahun ajaran baru menyelinap masuk layaknya pergantian musim yang dingin. Dari kemarau ke hujan yang hadir mengendap pelan, tanpa permisi, lalu tiba-tiba saja menguar aroma tanah basah bersama janji-janji yang belum terucap. 

Hari-hari di sekolah membentang serupa lembaran kertas yang masih kaku dan murni. Putihnya seolah menantang deru waktu, menunggu jemari takdir menuliskan fragmen-fragmen kejadian yang maknanya seringkali baru kita pahami setelah semuanya berlalu.

Di sudut kelas yang sama, aku masih bisa merasakan sisa-sisa bisikan yang dulu sering menghunjam. Dahulu, kawan-kawanku adalah penenun cemas yang andal. Mereka mewariskan ketakutan dari mulut ke mulut, dari tawa ke tawa, seolah-olah kegelisahan adalah satu-satunya harta yang layak mereka bagikan. Benih-benih cerita gelap ditanam begitu dalam di kepalaku, dan aku tumbuh besar dalam dekapan bayang-bayang yang mereka ciptakan sendiri.

Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk memutar poros. Saat pencapaian pertama itu datang, yang baru kusadari sebagai sebuah 'kemenangan' jauh setelah riuhnya reda. Sesuatu di udara sekolah menjadi berubah. Mengucapkan syukur teror-teror kecil itu mulai menguap, seperti embun yang dipaksa menyerah oleh fajar. Cara mereka menatapku kini tak lagi sama. Mereka akhirnya seperti angin kencang yang tiba-tiba melunak dan berhenti mengejek helai daun yang rapuh.

Bahkan ada yang berkata, “Sekarang kamu pintar, ya,” celetuk salah satu dari mereka suatu siang. Suaranya menggantung, membawa nada yang aneh. Antara kekaguman yang terpaksa dan rasa tak rela yang belum tuntas.

Dan aku hanya sanggup membalasnya dengan senyum tipis yang lekas hilang. Sebab, meski kini dikepung puji, aku tetaplah anak lugu yang merasa kikuk menjadi pusat gravitasi. Bagiku, prestasi itu bukanlah mahkota emas yang harus dipamerkan di atas kepala, melainkan sebuah lampu minyak kecil yang tiba-tiba menyala di sudut ruangan yang pengap. Ia tidak menyilaukan dunia, namun setidaknya, ia cukup untuk menerangi langkahku agar tak lagi tersandung oleh bayangan sendiri.

Dahulu, kawan-kawan sekelasku gemar membenamkan rasa takut di kepalaku. Bentuk kecemasan yang diolah dari mulut ke mulut, seolah ketakutan adalah pusaka yang paling mudah diberikan kepada siapa saja, termasuk padaku. Mereka menanam benih-benih cerita gelap di benakku seperti menyemai biji di tanah yang lembap, dan aku tumbuh besar di bawah bayang-bayang yang punya ketakutan kalau pulang sekolah sendirian.

Kemudian segalanya bergeser saat mereka melihat pencapaian pertamaku, sebagai sesuatu yang baru kusadari sebagai prestasi di sekolah. Kemudian teror kecil itu perlahan menguap. Perubahan dalam cara mereka menatapku seperti badai yang mendadak memilih untuk berdamai dengan dahan. Sebab matahari yang melenyapkan gelap malam, seperti lampu kecil yang tiba-tiba berpijar di sudut ruangan gelap, sekadar cukup untuk menunjukkan jalanku pulang.

Dahulu, pada masa-masa awal di sekolah dasar, kepulangan adalah sebuah ritme yang riang. Setelah beberapa langkah meninggalkan gerbang pagar sekolah, tepat sebelum mencapai persimpangan jalan, aku dan teman-temanku akan merayakan kebebasan dengan lari-lari pendek yang tak beraturan di pematang sawah. Kami melaju menuju titik di mana akhirnya langkah kami harus saling melepaskan diri menuju rumah masing-masing.

Langkah kami terasa begitu ringan, layaknya jiwa-jiwa kecil yang belum mengenal beban dunia. Dunia anak-anak yang belum mengerti bahwa hidup, suatu saat nanti, bisa menjadi begitu pekat dan berat. Suara tapak kaki kami yang beradu dengan tanah kering terdengar seperti tabuhan genderang yang gembira, sementara tawa kami memantul lincah di sela-sela batang pepohonan. Di atas sana, matahari siang menggantung pasrah, serupa koin emas yang mulai kehilangan kilaunya, perlahan meredup ditelan cakrawala.

Namun, tepat di persimpangan jalan itu, atmosfer seketika meluruh dan berubah warna. Bagi mereka, titik itu adalah gerbang keberangkatan menuju hangatnya rumah dan segala makanan yang telah dihidangkan. Namun bagiku, ia adalah garis batas yang tajam, tempat di mana dunia seolah terbelah secara paksa oleh tangan tak kasat mata.

Satu jalan membentang menuju keriuhan rumah mereka yang penuh suara, satu jalan lagi meliuk menuju kepulanganku yang sunyi, dan satu jalan terakhir yang paling sunyi namun paling nyata adalah jalan yang mengarah langsung ke dalam labirin kesendirianku.

Di sana, aku sering terpaku sejenak, berdiri sebagai saksi bisu bagi punggung-punggung yang kian mengecil dan menjauh. Ada kesadaran pahit yang tumbuh di sela jemari bahwa bahwa meski kami berangkat dari gerbang sekolah yang sama, pada akhirnya, aku harus selalu belajar bernapas dan berjalan di bawah bayang-bayangku sendiri. Kesendirian itu bukan lagi sebuah tempat yang kudatangi, melainkan jubah yang kukenakan sepanjang perjalanan pulang.

Dari berdiri sejenak menatap punggung mereka yang menjauh, aku pun berjalan yang ditenang-tenangkan saat melewati tempat yang kami sebut gugunung, tempat bongkahan batu raksasa yang di tengahnya jalan setapak yang kini hanya dihuni oleh suara napasku sendiri. Aku akan berjalan seorang diri, dan sering kali bulu kudukku berdiri oleh sebab bayangan-bayangan ketakutan di kepala akibat terlalu sering mendengar jenis ketakutan yang mereka sebarkan. Seperti tubuhku yang lebih dulu tahu sesuatu yang pikiranku coba sangkal. Saat kesunyian mendadak turun, menutup suara tawa teman-temanku yang menjauh dan hilang dari pandangan.

Dahulu, teman-temanku sering menjadikanku sebagai wadah bagi imajinasi liar mereka. Dengan wajah-wajah nakal yang berpendar penuh kesenangan, mereka akan menunjuk sebongkah batu besar di tepi jalan.

“Nanti dari balik batu itu, akan muncul penculik yang sudah lama menunggumu,” bisik mereka, seolah sedang membacakan mantra terkutuk.

Mereka menahan tawa yang meledak di balik telapak tangan, lalu menambahkan dengan suara yang sengaja diseret, dibuat-buat seram agar merayap di tengkukku, “Atau kuntilanak dengan kuku panjang yang siap menerkammu... xixi.”

Aku hanya bisa menelan ludah, merasakan tenggorokanku mengeras seperti batu yang mereka tunjuk. Bagi mereka, cerita-cerita itu hanyalah sejenis permainan. Sebuah hiburan murah untuk mengisi waktu pulang sekolah. Namun bagiku, setiap kata yang mereka ucapkan jatuh seperti vonis hukuman. Mereka sedang membangun penjara di dalam kepalaku, dan aku, dengan kepolosan yang menyakitkan, membiarkan diriku terkunci di dalamnya.

Meski logika kecilku berbisik bahwa tak mungkin ada hantu yang berani menampakkan diri di bawah terik matahari, kata-kata mereka tetap tertanam di kepalaku. Ucapan itu menjelma menjadi duri-duri halus yang masuk ke bawah kulit; sulit dicabut, dan senantiasa perih setiap kali ingatanku menyentuhnya.

Sebab, aku belajar satu hal bahwa ketakutan tidak butuh wujud nyata untuk bisa melukai. Ia hanya perlu dibisikkan dengan tepat, lalu ia akan menemukan tanah subur dalam imajinasi seorang anak, tumbuh liar menyeruput keberanian yang tersisa.

Lalu, saat suasana berubah senyap dan cahaya mulai meredup, keteguhanku perlahan meluruh. Ketika desir angin menyapu tengkuk dan mendinginkan pori-pori tubuhku, keyakinanku yang semula kukuh tiba-tiba terasa setipis kertas yang ringkih, yang mudah robek hanya oleh sekali sentakan ragu.

Angin itu seolah tak lagi membawa aroma daun, melainkan mengusung suara-suara asing yang bukan milik manusia. Serupa bisikan-bisikan tanpa rupa yang membuat langkahku tertahan di udara. Di saat itulah, antara bayang-bayang pohon dan jalan setapak, aku merasa dunia sedang mengujiku dengan sunyi yang paling mencekam.

Aku melangkah dengan sangat hati-hati, menimbang setiap pijakan pada batu-batu licin yang bersembunyi di bawah rerimbun pohon yang rapat. Di mataku yang penuh cemas, setiap batu berubah menjadi jebakan yang siap menjatuhkanku, dan setiap retakan ranting yang patah di bawah kakiku terdengar seperti peringatan yang dikirim oleh sesuatu yang tak terlihat.

Saat aku mulai memasuki celah sempit di antara bukit batu besar yang menjulang serupa gunung, dunia mendadak menjadi lebih dingin. Matahari di atas sana tak lagi mampu menembus rimbunnya dedaunan, menyisakan bayangan pohon yang jatuh membentang di atas tanah. Bayang-bayang itu tampak seperti jemari hitam yang panjang dan kurus, menjulur dari kegelapan seolah ingin meraih pergelangan kakiku dan menyeretku ke dalam rahasia mereka.

Dalam kesunyian itu, ocehan teman-temanku menjelma menjadi nubuat yang menanti pembuktian. Aku merasa seolah sedang menunggu sesuatu, mungkin sesosok penculik atau bayangan kuntilanak yang mereka ceritakan muncul dari balik lekukan batu. Bukannya aku ingin semua itu menjadi nyata, namun ketakutan memang memiliki cara yang licik untuk memaksa kita menunggu petaka, meski di dasar hati yang paling dalam, kita sedang memohon untuk selamat.

Aku menghentikan langkah, terpaku di depan kebisuan batu besar yang menjulang itu. Napasku pendek, tertahan di kerongkongan.

“Tidak ada apa-apa.. tidak ada apa-apa,” bisikku pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri. Suaraku terdengar asing di telingaku, seperti suara seorang anak kecil yang sedang dipaksa dewasa dalam satu tarikan napas yang berat. Aku berusaha mencuri keberanian dari udara tipis di sekitarku, mencoba membusungkan dada meski bahuku masih gemetar.

Namun, tubuhku tak bisa dibohongi. Di balik rusuk, hatiku menjawab dengan degupan yang jauh lebih keras dan jujur daripada kata-kata yang kuucapkan. Detaknya berdentum seperti genderang perang yang tak seimbang, mengkhianati ketenangan palsu yang kubangun.

Logikaku mungkin sudah tahu bahwa tak ada yang perlu ditakutkan, tapi rasa takut itu sendiri tidak butuh alasan untuk tetap tinggal. Di persimpangan jalan dan di depan batu besar itu, aku menyadari sebuah kebenaran pahit. Meskipun aku tidak berani sendirian, aku tetap harus menghadapi dunia ini. Sepenuhnya sendirian. Tak ada tangan yang menggenggam, tak ada pundak yang melindungi. Hanya aku, ketakutanku, dan jalan setapak yang harus kutuntaskan.

Karena begitulah hidup mulai membisikkan pelajaran paling dini: bahwa ada jalan-jalan yang memang ditakdirkan untuk kita tempuh tanpa teman, tanpa riuh tawa, dan tanpa pelindung. Di jalan setapak itu, di sela-sela desir angin, kebisuan batu, dan kepungan sunyi, aku menyadari bahwa aku bukan sekadar sedang melangkah menuju pintu rumah. Aku sedang melakukan perjalanan panjang melewati belantara ketakutanku sendiri, menjinakkan monster-monster imajiner yang dulu kutanam bersama kawan-kawanku.

Selanjutnya menginjak tahun ajaran kedua yang telah bergulir. Ia hadir seperti roda musim yang berputar dengan dingin, tak pernah peduli apakah aku sudah siap atau masih tertinggal di belakang. Aku telah duduk di bangku deretan ketiga, tepat di barisan yang dihuni oleh anak-anak kota. Di sana, aku merasa seolah diriku adalah sebuah titik kecil yang terselip secara tidak sengaja di antara lembaran kehidupan yang tampak lebih rapi, lebih wangi, dan jauh lebih lengkap. 

Di antara mereka ada yang membawa tas-tas baru dan memakai sepatu, serta cerita-cerita tentang dunia yang luas, dan aku merasa seperti sebuah catatan kaki di pinggir halaman—ada, namun seringkali tak terbaca. Namun, justru di dalam keterasingan di deretan ketiga itu, aku mulai merakit kekuatan yang tak mereka duga.

Rumahku, atau maksudnya rumah nenekku, berdiri dengan pasrah di sebuah bukit, di antara tegalan ladang yang gersang dan hamparan sawah yang hijau. Letaknya sangat "desa", sebuah titik terpencil yang seolah menjadi desanya sebuah desa. Di sana, sunyi bukan sekadar sepi yang kosong, tapi sebuah diam yang panjang dan bernapas sunyi yang tumbuh subur bersama orkestra jangkrik dan desir angin yang menyisir pematang sawah, membawa aroma tanah dan rahasia alam yang purba.

Sebaliknya, rumah-rumah mereka berjejer angkuh di pinggir jalan raya, bahkan ada yang beradu dinding dengan riuhnya terminal. Dalam keadaanku dan keadaannya ibarat dua halaman buku yang tak pernah bertemu. Kadang membuatku merasa, jarak yang memisahkan rumahku dan rumah mereka bukan hanya soal bentangan kilometer yang melelahkan. Ini adalah soal dua dunia yang berbeda sepenuhnya, seperti dua halaman buku yang terjilid di tempat yang sama namun tak akan pernah bisa saling bertatap muka.

Anak-anak "kota" itu tinggal di jantung deru. Rumah mereka akrab dengan jerit mesin, kepulan asap kendaraan, dan langkah-langkah orang dewasa yang selalu terburu-buru mengejar sesuatu yang tak pasti. Hidup mereka adalah garis-garis aspal yang lurus dan tegas, sementara hidupku adalah jalan setapak yang berkelok, di mana waktu seolah berhenti berdetak di bawah bayang-bayang bukit. Di sekolah, aku membawa bau matahari dan sawah, sementara mereka membawa deru mesin dan debu jalanan dalam seragam mereka.

Jika anak kota pergi sekolah biasa memakai sepatu, sedangkan aku anak desa hanya membawa satu buku dan dua kakiku. Kalau tak bersandal ya telanjang kaki, alias nyeker. Kakiku akrab dengan tanah, akrab dengan batu kecil, akrab dengan debu jalan yang menempel seperti cerita yang tak bisa dihapus begitu saja.

Aku sering kali memilih untuk menunduk. Bukan semata karena malu, melainkan karena sebuah kesadaran pahit yang kutelan sejak dini bahwa dunia ini memang lebih gemar menilai apa yang melingkar di pergelangan kaki sebelum mereka sudi melihat apa yang mekar di dalam kepala. Di antara deretan bangku yang rapi itu, kakiku yang telanjang adalah sebuah anomali, sebuah rahasia yang tak bisa disembunyikan.

“Kenapa kamu tidak pakai sepatu?” tanya salah seorang anak kota suatu pagi. Pertanyaannya begitu polos, meluncur tanpa beban, dan mungkin tanpa niat sedikit pun untuk melukai. 

Namun, di telingaku, suara itu terasa seperti sentuhan air es yang tiba-tiba mengenai kulit. Mengejutkan dan membekukan. Ia tidak tahu bahwa bagi anak-anak sepertiku, sepatu adalah kemewahan yang sering kali harus dikalahkan oleh kebutuhan perut.

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang kugunakan untuk membungkus rasa canggung. “Rumahku jauh” jawabku lirih, nyaris seperti bisikan pada angin. “Dan di sana, tanah sudah menjadi seperti sepatu bagiku.”

Aku mencoba membuat kekurangan itu terdengar seperti sebuah kebiasaan yang wajar. Seolah-olah kulit kakiku yang mengeras karena gesekan batu dan lumpur adalah jenis pelindung yang jauh lebih setia daripada karet dan plastik. Aku ingin mereka tahu bahwa meskipun kakiku menyentuh bumi secara langsung, pikiranku sedang melompat jauh melampaui aspal-aspal kota yang mereka banggakan.

Namun sejak meraih rangking kelas, saat prestasi belajarku mulai diperhitungkan, kemudian seperti ada cahaya kecil yang tiba-tiba menyala di ruang sempit hidupku. Nilai-nilaiku menjadi semacam pintu yang terbuka, jalan kecil untuk meluaskan pergaulan dengan anak-anak kota.

Mereka mulai melihatku bukan hanya sebagai anak yang datang dari ujung sawah, tetapi sebagai anak yang bisa menjawab soal-soal di papan tulis.

“Kamu pintar juga,” kata salah satu dari mereka, setengah heran.

Aku hanya mengangguk, karena kepintaran pun kadang terasa seperti beban yang diam-diam harus dijaga.

Meskipun tetap saja belum kupunya tas dan sepatu. Aku masih datang dengan kesederhanaan yang sama, seperti pagi yang selalu berulang tanpa perubahan. Apalagi sejak kepergian ibuku ke Jakarta, kepada siapa aku meminta untuk punya tas dan sepatu?

Ternyata, pertanyaan tentang sepasang sepatu itu jauh lebih berat untuk dijawab daripada soal matematika yang paling rumit sekalipun. Aku belajar bahwa kehilangan bukan hanya perihal seseorang yang melangkah pergi, melainkan juga tentang benda-benda kecil yang tiba-tiba terasa mustahil untuk digenggam. Ketidakadaan sepatu itu adalah pengingat harian akan jarak—jarak antara aku dan mereka, serta jarak antara aku dan Ibu.

Di sela-sela malam yang pekat, saat sunyi bukit mulai merayap masuk ke dalam kamar, imajinasiku seringkali terbang jauh. Aku membayangkan Ibu di kota besar sana, melangkah di antara gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Aku bertanya-tanya, apakah ia melihat sepatu-sepatu indah di sana dan teringat padaku yang di sini masih setia menjejak tanah dengan kaki telanjang?

Namun, meski ada sekat kasat mata yang memisahkan dunia kami, syukurlah persahabatan di antara kami tidak pernah mempermasalahkan benda-benda itu. Di balik bangku sekolah, status dan alas kaki perlahan memudar. Persahabatan anak-anak, pada dasarnya, masih murni serupa air sumur di desa kami: jernih, dingin, dan tulus, sebelum tangan-tangan dunia mulai datang dan mengotorinya dengan ukuran-ukuran materi. Di saat istirahat, kami masih bisa berlari bersama tanpa peduli siapa yang mengenakan kulit lembu dan siapa yang hanya beralaskan kulit kaki. Karena di mata seorang kawan, yang mereka lihat bukanlah apa yang membungkus kakiku, melainkan siapa yang bersedia berlari di sampingnya.

Di sekolah, dunia kami begitu ringkas. Cukup dengan satu buku leces, sebongkah penghapus, dan sebatang pensil sebagai senjata untuk menaklukkan ketidaktahuan. Buku itu mungkin lusuh, sudut-sudutnya melengkung dimakan waktu dan saku tas yang sempit, namun di sanalah mimpi-mimpi paling liar mulai berani kutuliskan. Di atas kertas yang sedikit menguning itu, masa depan diam-diam mulai disusun, satu kata demi satu kata, seolah setiap goresan pensil adalah fondasi bagi bangunan yang kelak akan tegak berdiri.

Kami semua belajar di dalam satu ruang kelas yang sama. Sebuah kotak yang meluruhkan perbedaan antara anak desa dan anak kota. Di sana, kami hanya punya satu fokus memperhatikan setiap kata dan perintah sang ibu guru. Suaranya yang mengalun di udara serupa dentang lonceng yang jernih, menuntun kami melewati labirin pengetahuan yang baru. Di bawah wibawa suaranya, kami semua luruh menjadi satu entitas yang sama, sebagai murid-murid yang haus didikan dan pengetahuan. Kami bukan lagi tentang siapa yang bersepatu atau siapa yang bertelanjang kaki. Kami hanyalah sekelompok anak kecil yang memiliki rasa lapar yang sama untuk mengerti bagaimana dunia ini bekerja. Di ruangan itu, impian kami memiliki berat yang setara, tak peduli dari mana kami berasal atau di mana jalan setapak kami berakhir saat bel pulang berbunyi.

“Anak-anak,” panggil Pak Ateng di suatu pagi. Suaranya mengalun lembut, namun memiliki ketegasan yang mampu membungkam segala keraguan di udara.

“Di dalam kelas ini, tidak ada yang namanya anak kota atau anak desa. Yang ada di hadapan Ibu hanyalah anak-anak yang memiliki kemauan untuk belajar.”

Kalimat itu jatuh ke dasar dadaku serupa doa sederhana yang dikabulkan seketika. Ia menghapus garis batas yang selama ini kubangun sendiri di dalam kepala. Perkataannya seolah menjadi selimut yang hangat bagi hatiku yang seringkali merasa kedinginan oleh tatapan-tatapan yang membedakan.

Di hadapan papan tulis yang kusam dan tarian kapur putih yang luruh menjadi debu, kami semua tiba-tiba kehilangan label. Kami menjadi satu warna yang sama. Sebagai kumpulan jiwa kecil yang sama-sama memanggul harapan dalam buku lusuh, sama-sama menyembunyikan kekurangan di balik punggung, dan sama-sama sedang tumbuh dengan sabar. Kami adalah tunas-tunas yang merayap menuju arah cahaya yang sama. Menuju sebuah cahaya pengetahuan yang meski belum sepenuhnya kami pahami bentuknya, namun kami yakini mampu menghalau kegelapan di jalan pulang kami nanti.

Demikianlah kelas berjalan tanpa membedakan anak kota dan anak desa. Karena di hadapan papan tulis dan kapur putih, kami sama semua sama, yang sama-sama membawa harapan, sama-sama membawa kekurangan, dan sama-sama sedang tumbuh pelan-pelan menuju cahaya yang belum sepenuhnya kami pahami.

Namun dari barisan bangku tempatku duduk terasa seperti peta kecil kehidupan yang diam-diam sudah membagi dunia dalam kepalaku. Deretan pertama adalah duduknya Elisa dan Lusia. Dua anak paling bersih, dengan baik baju paling rapi, tas, dan sepatunya, juga rambut dan kulitnya. Mereka seperti halaman buku baru yang belum tersentuh noda, seperti pagi yang selalu tampak rapi sebelum debu siang datang.

Maklum, dua perempuan anak kota, dan keduanya sebagai idola kelas. Ada cahaya tertentu yang mengikuti mereka, bukan cahaya yang dibuat-buat, melainkan cahaya yang sering dimiliki anak-anak yang hidupnya dekat dengan jalan raya, dekat dengan toko, dekat dengan segala sesuatu yang terasa lengkap.

Mereka dua pendatang baru yang siap menyingkirkan idola yang sedang dipuja kakak-kakak kelas sekolah kami. Seolah di sekolah pun, seperti di dunia luas, selalu ada pergantian musim tentang siapa yang dipuja hari ini, bisa tergeser esok hari oleh wajah baru yang lebih bersinar.

Beruntung saja aku laki-laki, jadi tak membuatku iri. Tetapi tetap saja, diam-diam aku mengagumi dari jauh, seperti seseorang yang menatap bintang. Tahu ia tak harus memilikinya, cukup melihatnya untuk merasa dunia lebih indah.

Aku hanya berharap aku bisa berteman dekat dengan mereka. Bukan karena ingin ikut menjadi anak kota, melainkan karena ingin merasakan hangatnya lingkaran yang tampak begitu mudah mereka miliki.

Kadang aku membayangkan, bagaimana rasanya berjalan pulang bersama mereka, berbicara ringan tanpa beban, tanpa rasa canggung yang selalu menempel pada anak desa seperti debu di kaki.

Seperti Dema dan Ayif yang duduk di bangku deretan kedua. Bangku mereka tepat di belakang duduknya Euis dan Lusia. Sehingga mereka berempat sering terlibat bertukar kata. Suara mereka seperti riak kecil di permukaan kelas, obrolan yang kadang terdengar biasa saja, tetapi bagi seseorang sepertiku, itu seperti tanda keakraban yang sulit disentuh.

Mungkin mereka bicara tentang pelajaran, atau sepakat mereka pergi-pulang bersama. Karena mereka satu arah jalan, membuat mereka terlihat akrab sekali. Keakraban itu tumbuh seperti rumput liar. Tanpa perlu direncanakan, tanpa perlu dipaksa, karena jalannya memang sama.

Sedangkan pergi-pulangku arah jalannya berlawanan. Aku seperti garis yang bergerak ke sisi lain peta, sendiri, sunyi, meskipun masih berada di dunia yang sama.

“Mau berangkat bareng besok?” tanya Ayif suatu sore, saat mentari mulai condong ke barat dan bayang-bayang kami memanjang di atas tanah. Pertanyaan itu sederhana, namun bagiku, ia adalah sebuah undangan untuk masuk ke dalam lingkaran yang selama ini terasa jauh.

“Iya, dengan kita lewat jalan besar Kampung Baru,” jawab Dema dengan cepat, seolah jalan besar adalah panggung baru yang siap kami taklukkan bersama, meninggalkan jalan-jalan setapak yang penuh hantu imajiner.

Elisa tidak berucap apa-apa. Hanya menyunggingkan senyum tipis yang hangat, jenis senyum yang mengatakan bahwa aku adalah bagian dari mereka tanpa perlu banyak kata. Sementara itu, Lusia menimpali dengan nada riang namun penuh penekanan, “Jangan telat, ya!”

Kata-kata itu menggantung di udara seperti melodi yang ringan. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Bukan karena prestasi yang baru kuraih, melainkan karena kesadaran bahwa aku tak lagi harus berjalan sendirian. Besok, jalan menuju sekolah tak akan lagi terasa seperti labirin kesendirian, melainkan sebuah perjalanan bersama di mana langkah kaki kami akan saling menguatkan, menindas rasa takut dengan gelak tawa yang pecah di sepanjang jalan besar. Tapi jalanku harus melingkar kalau ingin bersama mereka saat pulang melewati Kampung Baru, tidak langsung menyusuri pematang sawah yang lebih cepat sampai rumah.

Meskipun sama-sama melewati jalan pematang sawah membentang sejauh mata memandang pada dataran lembah. Jalan itu panjang, tipis, seperti garis nasib yang ditarik pelan-pelan di antara air dan tanah. Kadang aku berjalan di sana dengan langkah yang terdengar jelas karena tak ada teman bicara. Hanya suara angin, suara burung, dan suara hatiku sendiri yang kadang terlalu ramai dalam kesunyian.

Gedung sekolah kami yang berdiri di tanah nusa tengah hamparan sawah, bila dipotret dari atas langit akan nampak lanskap keindahan tata letaknya. Sekolah itu seperti pulau kecil pengetahuan di tengah samudra hijau padi. Dengan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang bersama rerimbun hijau daun-daun pohon-pohon yang bermacam, menambah kesyahduan harmoni alam.

Angin mengayunkan daun-daun itu seperti nyanyian pelan, seolah alam sendiri ikut menjaga anak-anak yang belajar di sana.

Aku sering berpikir, mungkin sekolah kami sederhana, tapi ia berdiri di tempat yang begitu indah, seperti harapan yang tumbuh di tanah paling sunyi. Dan di antara hamparan sawah itu, aku berjalan pulang sebagai anak desa dengan kaki yang akrab pada tanah, membawa mimpi kecil yang pelan-pelan ingin menyamai langit.

Kadang, sepulang sekolah, saat langkahku semakin jauh dari gedung itu, aku menoleh sebentar. Sekolah tampak kecil dari kejauhan, seperti titik putih di tengah hamparan hijau yang luas. Suara teman-teman yang pulang bersama perlahan menghilang, ditelan angin dan jarak, seperti tawa yang memang tidak ditakdirkan untuk lama tinggal di telingaku.

Aku berjalan sendiri di pematang, dan di sana kesendirian terasa bukan hanya sepi, melainkan seperti ruang panjang tempat pikiranku bergema. Aku bukan sedih sepenuhnya, tetapi ada sesuatu yang menggantung, sesuatu yang belum selesai di dalam dada. Tentang keinginan untuk dekat, untuk dianggap, untuk menjadi bagian dari lingkaran yang hangat.

Namun aku juga mulai mengerti, bahwa hidup memang sering berjalan seperti jalan pulangku. Kadang berlawanan arah, kadang memaksa kita melangkah tanpa teman. Antara anak kota dan anak desa, atau antara sepatu dan nyeker, tas baru dan buku leces, semua itu seperti tanda-tanda luar yang kelak akan memudar, tetapi saat kecil terasa begitu besar.

Di bawah pohon kelapa yang menjulang, aku sering bertanya dalam hati, apakah persahabatan bisa melampaui arah jalan yang berbeda. Apakah suatu hari aku akan duduk sejajar, bukan hanya di bangku kelas, tetapi juga di dalam cerita mereka.

Dan mungkin, tanpa kusadari, itulah pelajaran pertama yang paling sunyi bahwa menjadi anak desa bukanlah kutukan, melainkan perjalanan. Bahwa aku tidak sedang tertinggal, aku hanya sedang berjalan dengan langkahku sendiri, pelan-pelan, melewati sawah, melewati angin, melewati rasa takut dan rasa minder, menuju cahaya yang masih jauh tetapi nyata.

Aku pulang dengan kaki yang kotor oleh tanah, tetapi dengan hati yang mulai belajar akan dunia yang tidak selalu harus sama arah untuk bisa saling memahami. Dan di tengah hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang, aku membawa satu hal yang tak bisa dibeli oleh sepatu mana pun. Sebuah tekad kecil, yang tumbuh diam-diam di dada seorang anak desa. (Bersambung)

Perspektif

Scroll