Mungkinkah kesederhanaan ketahanan pangan dari alam yang nyaris tak bernama ini, diam-diam telah melumasi roda-roda di kepalaku, hingga ia berputar begitu kencang nyaris tanpa derit? Seperti tanah liat yang lama merindukan hujan, otakku menyerap setiap tetes riwayat yang dikisahkan Kak Iman, meneguknya perlahan namun tuntas. Di ruang rumah dam kami yang bersahaja itu, ia menghidupkan kembali bayang-bayang Pahlawan Revolusi dan keteguhan Jenderal Sudirman. Bukan sebagai nama, melainkan sebagai denyut yang pernah berlari dalam tubuh bangsa. Kata-katanya melayang rendah di udara, seolah takut jatuh, lalu menetap lama di kepalaku.
Barangkali memang makanan alami itulah sebabnya. Cukup serundeng yang gurihnya sederhana, tape yang manisnya sabar, daun singkong yang pahitnya jujur, dan hidangan kampung yang begitu-begitu saja. Makanan yang tak pernah ingin tampil hebat. Makanan-makanan itu seperti embun murni yang jatuh perlahan di subuh hari, membasahi tanah kering di kepalaku tanpa suara, membuatnya lunak dan subur.
Dari sana, benih-benih pengetahuan bisa ditanam tanpa paksaan. Aku merasa kepalaku menjadi lebih encer, lebih ramah terhadap cerita-cerita Kak Iman tentang sejarah para pahlawan nasional, seolah tubuhku sendiri sedang diajak ikut mengingat. Padahal, jika harus jujur, aku jarang benar-benar khusyuk menghafal deretan nama yang kaku itu. Nama-nama itu sering terasa seperti batu nisan di kertas ujian: dingin, diam, dan cepat dilupakan. Bagiku, sejarah bukan sekadar barisan huruf dan tahun yang harus disetor demi nilai. Tapi aku menyimaknya sambil lalu saja, membiarkan kata-kata Kak Iman mengalir seperti gerimis yang ragu-ragu, menyusup ke pori-pori tanah tanpa janji akan tumbuh. Namun justru dari sana, dengan perlahan, rasa ingin tahu itu mengembang dan akhirnya meledak diam-diam.
Aku mulai membuka buku-buku yang judulnya baru bisa kueja dengan pelan dan terbata, membalik lembar-lembar kusamnya dengan hati-hati, seperti takut merobek usia yang tersimpan di sana. Sejak kecil, aku memang sudah dihadapkan pada buku-buku, yang kemudian aku paham: buku adalah jendela terbuka di tengah dinding yang buntu, tempat cahaya asing masuk dan menyilaukan mata kanak-kanak.
Buku-buku datang dari tempat yang hanya Kak Iman yang tahu. Sebagian buku itu mungkin hanya “dipinjam” dari perpustakaan sekolah, namun entah bagaimana akhirnya menetap dan berakar, menjadi penghuni tetap rumah kami. Sebagian lainnya adalah warisan bisu dari rumah Nenek, sebagai jejak-jejak intelektual seorang paman yang telah mendahului zaman, dan tak sempat menuturkan pikirannya sendiri.
Menginjak kelas lima SD aku benar-benar mulai melahap buku-buku itu dengan kesungguhan yang pelan namun rakus. Bukan karena ambisi mengejar nilai, bukan pula demi sepotong pujian dari guru yang sering lewat begitu saja seperti angin di lorong kelas, melainkan karena aku kehausan. Tak cukup dari mendengar dari tuturan Kak Iman. Tapi darinya muncul dahaga yang tak bisa ditenangkan oleh air sumur atau sirop merah saat istirahat sekolah. Dahaga itu berdiam di kepala: dahaga imajinasi seorang anak kampung yang dunianya sempit oleh jarak dan kebiasaan, tetapi dipenuhi pertanyaan yang tak tahu harus dititipkan ke siapa.
Buku-buku itu menjadi penawar, menjadi kendi retak yang meski bocor tetap mampu menampung air cukup untuk bertahan. Dari jejak mendengarkan penjelasan Kak Iman yang sering kali terdengar sambil lalu, seolah ia tak sadar bahwa kalimat-kalimatnya kelak akan menetap lama di kepalaku. Kata-katanya yang jatuh pelan-pelan, lalu mengendap. Tak langsung menjelma jawaban, melainkan benih. Benih itu tumbuh tanpa kusadari: mula-mula menjadi kecambah yang rapuh, lalu menjelma akar yang diam-diam menghunjam tanah pikiranku. Lama kemudian menjadi batang yang tegak menahan ragu, kemudian dahan dan ranting yang menjulur ke mana-mana, membawa tanya dan kemungkinan.
Dari situlah pohon keingintahuan itu berdiri. Pada musim-musim tertentu ia berbuah: buah pengetahuan yang tak selalu manis, tapi cukup memberi rasa bahwa hidup lebih luas daripada halaman rumah dan jalan tanah yang saban hari kulalui. Suara Kak Iman selalu menggema seperti datang dari dalam goa: yang dalam, pelan, dan berwibawa. Ada kesan seolah suara itu datang dari tempat yang jauh, dari lorong waktu yang tak sepenuhnya kupahami. Mungkin, karena itu mengajakku pergi di setiap kali ia menyebut nama-nama pahlawan yang tak selalu kuperhatikan benar wajah atau riwayatnya, tapi aku sudah dibawanya masuk ke dalam goa itu, menyusuri gelap yang tak menakutkan, melainkan menjanjikan cahaya di ujungnya.
Ketika ia mengeraskan suara untuk menghafalkan tanggal-tanggal penting, barangkali kepalaku saat itu hanyalah huma ladang yang baru saja diguyur hujan: tanahnya basah, aromanya kuat, dan perlahan, sangat perlahan benih-benih mulai pecah. Menumbuhkan harapan yang belum tahu akan menjadi apa, selain keyakinan samar bahwa membaca adalah cara lain untuk pulang dan pergi sekaligus.
Meski kusadari kemudian menghafal nama-nama hanyalah kerja mengumpulkan bunyi. Nama hanyalah nisan kata-kata yang jika tak dipahami jiwanya seumpama gambar burung Garuda yang berdiri tegak, rapi, namun dingin dan bisu di dinding kelas. Ia bisa diingat, bisa disebut berulang-ulang, tapi tak benar-benar hidup di jiwa anak bangsa. Aku tak pandai menyimpan deretan nama-nama di kepala, sebab bagiku kepala bukan lemari arsip, melainkan ruang yang harus dipenuhi gema dan makna.
Karena yang lebih menarik perhatianku adalah getar di balik suara nama-nama itu. Sebagai sesuatu yang tak tertulis di buku pelajaran, yang aku dengar dari bagaimana suara Kak Iman menuturkan. Dengan sedikit merendah ketika menyebut sebuah peristiwa, atau bagaimana ia berhenti sejenak untuk mengambil napas, seolah hendak memberi ruang bagi cerita untuk memilih jalannya sendiri.
Jeda itu tumbuh di kepalaku. Jeda yang lebih fasih daripada nama, lebih jujur daripada tanggal. Di sanalah aku belajar bahwa sejarah, dan mungkin juga hidup, bukan sekadar siapa dan kapan, melainkan bagaimana sesuatu dirasakan, ditanggung, dan diwariskan dari suara ke suara. Dalam jeda-jeda itulah imajinasiku bekerja. Aku membayangkan pahlawan bukan sebagai patung yang kaku di halaman buku, melainkan sebagai manusia yang ragu, takut, dan tetap melangkah. Aku mulai memahami bahwa makna sering bersembunyi bukan di kalimat yang diucapkan lantang, melainkan di sunyi yang mengapitnya. Dan sejak saat itu, aku tahu: membaca seperti mendengarkan, adalah usaha menjemput jiwa, bukan sekadar menghafal nama.
Setelah aku mampu membacanya sendiri, membaca judul-judulnya, kemudian tahu arti penting makna membuka buku-buku pelajaran yang menjanjikan segala ilmu yang ditanam dalam kata, dan kata dipahat di lembaran buku: Nama-nama itu kemudian tahu, ada Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS, atau PSPB sebagai Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Bangsa. Buku-buku itu seperti jendela kayu yang sudah lapuk, catnya mengelupas, engselnya berderit, namun menawarkan pemandangan cakrawala yang tak bertepi.
Suatu ketika Kak Iman berkata kepadaku, dengan nada yang tak menggurui, “Haya, baca ini.” Lalu setelah jeda sebentar, ia menambahkan, seolah bicara pada dirinya sendiri, “Sejarah itu bukan angka tahun. Ia darah yang membeku dapat menjadi tinta.”
Suatu kali ia menyodorkan sebuah buku usang, sampulnya hampir lepas, baunya seperti kertas tua yang lelah menunggu dibaca. Aku menerimanya tanpa banyak tanya. Sebagai peristiwa yang jauh sebelum sampai pada yang berat, sebelum aku dipaksa memahami bacaannya. Kak Iman hanya mengajakku melihat apa yang sedang ia lihat, pada deretan huruf-huruf yang di mata kanak adalah gambar.
Dan mungkin, dari situlah semuanya bermula: dari ajakan sederhana untuk menatap, sebelum belajar mengerti. Dari situlah mungkin benih itu ditanam: benih cinta pada masa lalu. Cinta yang tumbuh semakin liar seiring aku dewasa, dan berubah menjadi obsesi yang membingungkan, dan membawaku tumbuh pada kebiasaan “menimbun” buku-buku sejarah, hingga membentuk gunung-gunung kertas yang mengepung kamarku.
Aku menjadi pembelanja buku yang rakus, seolah setiap sampul adalah obat bagi penyakit ketidaktahuan yang tak kunjung sembuh, meski kutahu, penyakit itu tak pernah benar-benar ingin sembuh. Tak cukup buku-buku yang Kak Iman pinjam dari perpustakaan sekolah lalu diam-diam menetap di rumah dam, seolah-olah buku-buku telah menemukan pelabuhan terakhirnya di rak kusen kayu penyangga rumah kami yang sederhana.
Tak cukup pula tumpukan yang diambil dari rumah Nenek adalah buku-buku peninggalan pamanku, warisan sunyi dari pikiran-pikiran yang telah mendahului zaman dan tak sempat berpamitan. Sampai kemudian buku-buku itu baru benar-benar kusentuh saat aku tumbuh besar, saat kelas demi kelas aku masuki di sekolah dasar, lalu kubaca sekadarnya dan seperlunya. Karena memang diperlukan untuk pengayaan pelajaran sejarah. Namun bahkan saat kubaca dengan alasan praktis dan sambil lalu, tapi telah membawa sesuatu yang tetap berdenyut di baliknya, seperti arus bawah yang tak terlihat dan kuat.
Sejarah yang mulai kupahami tampak seperti seutas benang kusut yang ditarik dari berbagai arah. Lembarannya tak pernah lurus, sering saling bertabrakan, dan justru dari kekusutan itulah imajinasiku menemukan ruang bermainnya. Sebagai anak kampung, imajinasiku tumbuh seperti akar pohon beringin: menjalar pelan, menembus aspal kenyataan, dan mencengkeram langit-langit mimpi yang paling tinggi. Sejarah kemudian seperti menjadi halaman belakang rumah yang bisa kusinggahi kapan saja semauku.
Mulanya sebagai satu pembahasan yang kudengar dari Kak Iman, dan kemudian kubaca sendiri di buku-buku, tentang misalnya peristiwa Gerakan 30 September/PKI. “PKI ingin mengganti gambar Burung Garuda yang ditempel di dinding ruang kelas sekolah kita dengan Palu Arit, Haya,” katanya suatu kali. Kata-kata itu membuatku menatap Garuda di dinding kelas lebih lama dari biasanya.
“Haya, lihatlah gambar Garuda ini,” ujar Kak Iman pada suatu sore. Sambil menunjuk dinding kelas yang catnya mulai mengelupas seperti kulit tua yang lelah menahan usia. “Dulu, orang-orang PKI ingin mencabut kuku-kuku burung Garuda ini dan menggantinya dengan Palu Arit yang dingin.”
Tiap-tiap ucapannya meluncur seperti sembilu, pendek, tajam, dan meninggalkan perih yang tak langsung terasa. Di kepalaku, imajinasi kanak-kanak segera bekerja: aku membayangkan simbol-simbol di dinding itu berubah warna, dari putih kusam menjadi merah darah yang pekat, seperti senja yang terlalu lama ditahan di langit. Garuda itu tiba-tiba tidak lagi diam. Menjadi seperti makhluk hidup yang sedang menahan sakit, sayapnya bergetar, paruhnya terkatup rapat agar tidak berteriak.
Seketika ia tampak rapuh, seperti makhluk hidup yang sedang terancam sayapnya, seolah gambar itu merasa takut. “Kenapa mereka ingin menggantinya, Kak?” tanyaku polos, suaraku kecil seperti takut didengar tembok.
Kak Iman tak segera menjawab. Ia menatap kosong ke depan, pada ruang yang entah sedang ia lihat. “Karena ideologi,” katanya akhirnya, pelan namun berat, “seringkali lebih haus darah daripada serigala yang kelaparan.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya kupahami saat itu. Tapi aku merasakannya menancap dan menetap di kepala, seperti duri halus menancap di telapak kaki.
Aku juga membaca tentang SM Kartosuwiryo, lelaki yang kecewa pada Perjanjian Renville, seolah dunia telah mengkhianati janji sucinya. Dari kekecewaan itu, ia memobilisasi laskar DI/TII, bermaksud membangun pilar-pilar Negara Islam Indonesia di atas reruntuhan Republik yang masih hangat. Namun pada adu puncaknya, cita-cita yang katanya luhur itu justru lumat di tangan anak buahnya sendiri, yang mabuk kekuasaan dan lupa pada tujuan semula. Sejarah, di sini, tampak seperti doa yang tersesat di tengah jalan.
“Revolusi butuh tumbal,” gumam Kak Iman suatu malam sambil menatap lembaran buku, “tapi mereka menjadikannya alasan untuk merampas keringat petani.” Kata-katanya jatuh satu-satu, seperti abu dari kayu yang terbakar.
Ia juga bercerita tentang laskar Pesindo yang hendak merebut kemudi Republik di Madiun. Muso ingin menjadi matahari tunggal, ingin menjadi Sang Kakak bagi Soekarno Muda, sementara Bung Karno berdiri sendirian, yatim piatu secara politik setelah ditinggal Bung Hatta. Dwitunggal itu pecah seperti cermin yang jatuh ke lantai batu, yang retaknya menjalar ke mana-mana. Pecah seperti porselen mahal yang tak bisa disatukan kembali, meninggalkan serpihan-serpihan tajam berupa pemberontakan
PRRI/Permesta, yang menggugat tangan besi Demokrasi Terpimpin dan meninggalkan luka panjang dalam ingatan bangsa.
Semua drama besar itu menyusup ke telingaku lewat diskusi-diskusi Kak Iman dengan teman-temannya yang sering bertandang ke rumah. Mereka duduk melingkar, suara mereka berat dan berlapis, menggantung rendah di langit-langit ruang rumah dam. Idealisme mereka mengalun seperti simfoni sejarah yang gaduh namun memikat, membuat jantung kanak-kanakku berdetak lebih cepat tanpa tahu sebabnya.
Pemberontakan demi pemberontakan, begitulah negara dan sejarah menamainya. Dengan suara datar seolah tak ada darah yang pernah tumpah di balik kata-kata itu. Dari SM Kartosuwiryo, seorang pentolan Masyumi yang kecewa atas hasil Perjanjian Renville, lahirlah kekecewaan yang mengkristal menjadi dendam yang dingin dan sabar. Kekecewaan itu tidak segera meledak. Cukup mengendap lama, seperti bara di bawah abu. Dari sanalah Kartosuwiryo memobilisasi laskar rakyat di Garut dan Tasikmalaya, berniat mengambil alih Republik dan mendirikan negara baru: Negara Islam Indonesia.
Sebuah cita-cita yang diklaim suci, dibungkus janji keselamatan, dan dipikul dengan keyakinan yang nyaris membutakan.
Namun sayang, cita-cita yang katanya luhur itu justru dikotori oleh tangan-tangan yang mengusungnya sendiri. Biaya revolusi ditanggung dengan menghalalkan segala cara, sebuah noda hitam yang merayap pelan di atas kain putih perjuangan. Mereka merampok hasil pertanian penduduk desa, memakan keringat rakyat yang kepada merekalah surga dijanjikan. Sawah tak lagi sekadar ladang, melainkan lumbung paksa bagi perang yang tak diminta.
“Perjuangan yang dimulai dengan merampas hak orang kecil,” gumam Kak Iman suatu kali, suaranya nyaris seperti bisikan pada diri sendiri, “adalah bangunan yang didirikan di atas pasir hisap.” Ia terdiam setelah itu, seolah menyadari betapa tipis jarak antara pahlawan dan pesakitan, antara yang diagungkan dan yang dikutuk sejarah.
Begitu pula laskar Pesindo yang ingin merebut kemudi Republik atas alasan yang hampir serupa, melalui gerakan yang kemudian dikenal di buku pelajaran sebagai PKI Madiun. Muso ingin menjelma Pemimpin Besar Revolusi. Ia ingin menjadi matahari tunggal yang menelan cahaya bulan, tak menyisakan ruang bagi yang lain untuk bersinar.
Bung Karno yang saat itu telah ditinggal rekan sejawatnya berjalan limbung. PRRI/Permesta meletus di Sumatera dan Kalimantan sebagai perlawanan terhadap diktatorisme Demokrasi Terpimpin. Dan seperti bisul ketidakadilan yang terlalu lama dipendam di bawah kulit bumi, akhirnya pecah dan menumpahkan nanahnya ke mana-mana.
Semua cerita itu, yang menarik dan yang melelahkan, pertama kudengar dari Kak Iman dan teman-temannya yang bertandang ke rumah. Mereka berbincang berjam-jam, seolah waktu tak pernah benar-benar berjalan. Suara semacam diskusi terdengar seperti deru ombak yang menghantam karang: keras, berulang, dan tak kenal lelah.
Kata-kata besar tentang negara, ideologi, dan pengkhianatan menyusup ke telingaku tanpa izin, menetap di kepalaku lebih lama dari dongeng pengantar tidur. Suara-suara melayang rendah dan kata-kata berat yang mereka ucapkan menciptakan semacam simfoni sejarah yang mendebarkan di telinga kanak-kanakku.
Aku tak selalu paham apa yang mereka perdebatkan, tapi aku merasakan getarnya. Mungkin dari situlah aku mulai menyukai sejarah. Karena sejarah adalah cermin yang retak, memantulkan wajah kita berkali-kali, tak pernah utuh. Lalu di itulah yang membuatnya jujur. Di sanalah benih cintaku pada masa lalu ditanam, tanpa kusadari, tanpa bisa kutolak.
Meski cinta itu berubah wujud ketika aku dewasa. Ia tidak lagi sekadar rasa ingin tahu, melainkan obsesi yang membingungkan. Aku menimbun buku-buku sejarah hingga membentuk gunung-gunung kertas yang mengepung kamar. Membuat ruang tidurku lebih mirip gudang ingatan.
Aku menjadi pembelanja buku yang rakus, seolah setiap sampul adalah obat bagi penyakit ketidaktahuan yang tak kunjung sembuh. Anehnya, semakin banyak buku yang kubeli dan kubaca, semakin sering aku berhadapan dengan ketidakmengertian diri sendiri. Bertanya-tanya mengapa aku doyan sekali membeli buku? Pertanyaan itu menggantung di kepalaku seperti awan hitam yang tak kunjung menjadi hujan, mengancam namun tak pernah benar-benar pecah.
“Jika hendak membeli sesuatu,” suara Kak Tahar suatu sore terdengar berat, ada geram yang tertahan di tenggorokannya seperti mendung yang menyimpan petir, “timbanglah dengan nalar, bukan dengan nafsu. Apakah ini sungguh-sungguh darurat bagi hidupmu?” suaranya menahan geram, bergetar seperti tanah yang menolak runtuh namun retaknya sudah terasa. Udara di sekitarku mendadak sesak, seolah dinding rumah ikut mencondongkan tubuh untuk mendengar.
Aku terdiam. Kata-katanya tidak salah, dan justru karena itu terasa lebih menusuk. Ia tidak pernah melarangku membaca. Yang ia benci adalah pemborosan, dan mungkin juga ketakutannya melihatku tenggelam terlalu jauh.
Aku menunduk, merasakan tatapannya menekan punggungku seperti beban yang tak kasatmata. Aku ingin berhemat, sungguh. Namun rasa ingin tahu adalah lubang hitam di dadaku, yang tak pernah kenyang meski ditelan ribuan halaman. Membeli buku, bagiku, adalah membeli nyawa tambahan. Meski pada akhirnya, banyak di antaranya hanya berakhir sebagai hiasan debu, menunggu disentuh oleh waktu yang tak pernah benar-benar datang.
Karena kegemaran membeli buku membuat Kak Tahar marah besar padaku. Kemarahannya datang seperti petir di siang bolong. Tak memberi aba-aba, tak menyisakan ruang untuk berlindung. Ia memang tak pernah menyebut kata buku secara langsung, tapi arah kemarahannya kutangkap dengan jelas. Ia ingin aku menjejak tanah kenyataan. Sementara aku ingin terus bersembunyi di balik tumpukan kertas, di antara huruf-huruf yang memberiku ilusi aman.
Di satu sisi aku ingin hidup hemat, belajar menahan tangan agar tak selalu meraih buku baru. Aku ingin patuh pada nasihat yang rasional dan masuk akal. Namun di sisi lain, aku tak tahu bagaimana membendung rasa ingin tahuku sendiri, apalagi cara memuaskannya. Rasa ingin tahu itu seperti api yang tak pernah padam, dan buku-buku adalah kayu bakarnya. Anehnya, api itu tak memadamkan dingin ketidaktahuan, justru membuatku ingin terus menyalakannya, meski tahu bara bisa membakar apa saja, termasuk diriku sendiri.
Lalu, di suatu senja yang berjalan pelan, aku teringat cerita Ibu tentang rahasia di balik kandungannya. Tentang masa ketika aku masih berupa segumpal darah di rahimnya, belum bernama, belum berbentuk.
Ia berkata, hampir tanpa jeda, bahwa selama mengandungku, ia tak putus-putus melantunkan Surat Al-Kahfi dan Surat Yusuf. Ia mengikuti petuah seorang kyai, sebuah ritual batin agar buah hatinya mewarisi hikmah.
“Kalau anakmu laki-laki,” kata Ibu menirukan suara sang guru, “biarlah ia setampan dan secerdas Yusuf. Kalau perempuan, biarlah ia selembut Maryam.”
Aku sempat tertegun mendengarnya. Kata-kata itu terasa jauh dan dekat sekaligus, seperti gema dari ruang yang tak kukenal tapi terasa akrab.
Namun pikiranku justru tersangkut pada satu hal: mengapa Al-Kahfi? Mengapa Yusuf? Bukankah Al-Kahfi adalah fragmen tentang pemuda-pemuda yang bersembunyi di gua demi menjaga api iman di tengah badai kekufuran? Di sana ada kisah Musa yang berjalan jauh demi menemukan Khidir, tentang Dzulkarnain yang menembus timur dan barat. Tapi bukankah semua itu adalah sejarah? Bukan sekadar dongeng, sejarah yang dipahat dengan tinta wahyu dan diturunkan sebagai pengingat bagi zaman-zaman yang mudah lupa?
Saat Ibu bercerita betapa rajinnya ia membaca Surat Al-Kahfi dan Surat Yusuf ketika mengandungku, suaranya terasa seperti sutra yang halus, membungkus hatiku dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ia bercerita tanpa bangga, tanpa ingin dipuji. Sebagaimana para ibu lainnya, ia hanya menjalankan titah kyai sebagai bentuk kepatuhan spiritual, sebuah kepasrahan yang mengalir begitu saja dalam darah dan doa.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri tentang mengapa Surat Yusuf. Bukankah ia adalah narasi sejarah yang paling pudar sekaligus paling benderang? Seorang remaja yang bermimpi matahari, bulan, dan bintang bersujud padanya. Sebuah ayat yang kini sering disalahgunakan manusia sebagai mantra pemikat, agar lawan jenis “berlutut” setelah tirakat yang dipaksakan.
Padahal Surat Yusuf adalah kisah panjang tentang dikhianati saudaranya sendiri, dibuang ke sumur gelap, dijual semurah debu, digoda oleh syahwat kekuasaan, lalu mendekam di balik jeruji penjara besi. Sejarah yang tidak romantis, tidak instan, dan penuh luka. Namun lihatlah akhirnya: Yusuf berdiri sebagai bendaharawan Mesir yang agung, dengan hati yang tak mengeras oleh dendam.
“Sejarah bukan hanya milik mereka yang menang, Haya,” bisik kawanku suatu kali, seolah membaca isi kepalaku, “tapi milik mereka yang sabar dalam penderitaan.”
Ucapannya terasa akrab, seperti suara Ibu saat mengelus kepalaku di masa kecil. Mengendap pelan dan menetap lama.
Mungkinkah minatku pada sejarah adalah gema dari getaran suara Ibu yang merambat melalui ketuban saat aku masih janin? Mungkinkah aku sudah belajar mencintai masa lalu bahkan sebelum aku mengenal waktu? Apakah kegemaranku menumpuk buku ini adalah cara tubuhku mengingat doa-doa yang tak pernah kudengar secara sadar?
Di dalam “penjara” sempit kegelisahanku sendiri, aku mencoba menemukan makna dari kegemaranku membeli buku. Mungkin ini memang pelarian. Mungkin ini sekadar ego, atau hasrat untuk tampak cendekia di tengah kehampaan yang tak berani kuakui.
Barangkali aku tak jauh berbeda dengan lelaki yang tak bisa sedetik pun lepas dari asap rokok, atau perempuan yang lemarinya meluap hingga tak sanggup lagi menampung kain-kain keinginannya. Hanya saja, canduku bernama kertas, huruf, dan sejarah. Sesuatu yang tampak mulia, tapi tetap saja candu.
“Kau membakar uangmu menjadi asap, sementara sekolah anak-anak kita butuh biaya!” teriak seorang istri dalam imajinasiku, suaranya pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai.
“Dan kau?” balas suaminya dengan nada pedas, nyaris tanpa jeda, “kau mengoleksi sepatu seolah kakimu ada seribu! Kamar ini sudah sesak oleh tas-tas yang tak pernah kau pakai.”
Pertengkaran itu hanya hidup di kepalaku, tapi gema kebenarannya nyata. Kita semua, kupikir, terjebak dalam berhala masing-masing. Kita menimbun benda-benda mati untuk menutup lubang di jiwa yang tak pernah benar-benar terisi. Kita menyebutnya kebutuhan, padahal sering kali itu hanya rasa takut yang disamarkan.
Tuturan Ibu kemudian hadir di benakku. Mungkin sebagai nasihat perkawinan yang terlambat kuterima. “Haya,” bisik Ibu sambil mengelus kepalaku. Kepala dari anak yang telah dewasa, namun tetap kecil di matanya.
“Doa ibu adalah jalan setapak menuju takdirmu.” Tangannya hangat, seperti dulu, seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak.
“Kalau anakmu nanti laki-laki,” lanjutnya pelan, “agar ia pandai dan rupawan, seringlah membaca Surat Yusuf dan Surat Tabarak. Kalau perempuan, agar ketaatannya seperti Maryam binti Imran, rajinlah membaca Surat Maryam dan Surat Ali Imran.”
Aku mendengarkannya tanpa menyela. Membiarkan kata-kata itu jatuh dan mengendap seperti benih. Doa-doa itu terasa seperti sayap yang telah dipasangkan pada jiwaku bahkan sebelum aku sendiri tahu cara terbang.
Ketika di hari dewasa aku membaca kembali Surat Al-Kahfi, aku mulai mencari tahu: mengapa ibuku memilih surat ini? Di dalamnya ada kisah para pemuda gua yang menyelamatkan api cahaya di tengah gulita masyarakatnya. Mereka adalah bintang-bintang kecil yang menolak padam ketika langit dipaksa menjadi hitam. Ada pula kisah Nabi Musa yang berjalan bersama Nabi Khidr adalah sebuah pelajaran tentang ilmu yang tak terbaca oleh mata lahir, namun terpatri kuat di mata batin. Dan ada Dzulkarnain, yang pergi ke ujung timur dan barat, membentangkan batas-batas dunia. Bukankah semua itu adalah sejarah? Sejarah yang tak hanya milik bumi, tetapi juga milik langit, tertulis rapi dalam firman Tuhan.
Lalu Surat Yusuf bukankah ia juga sejarah? Kisah hidup seorang remaja yang bermimpi melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud padanya. Sebuah mimpi yang bukan janji kemudahan, melainkan nubuat tentang keagungan yang harus ditebus dengan penderitaan panjang. Ironisnya, ayat-ayatnya kini sering disalahgunakan manusia sebagai mantra pemikat perempuan, sebuah distorsi atas keindahan yang suci, agar lawan jenis “bersujud” setelah wirid dan puasa yang dipaksakan. Keindahan yang seharusnya membebaskan justru dipelintir menjadi alat penaklukan.
Yusuf remaja dibuang ke sumur gelap, lalu ditemukan dan dijual dengan harga murah. Seperti permata yang disangka batu kali, dibiarkan tergeletak di tepi sungai karena tak dikenali nilainya. Ia digoda oleh syahwat kekuasaan, lalu dijebloskan ke penjara, sebuah lorong gelap yang justru menjadi jalan menuju singgasana. Dari ruang sempit itu, Yusuf berjalan menuju kehormatan sebagai bendaharawan Mesir. Bukankah semua itu adalah rentetan peristiwa sejarah, yang ditulis bukan dengan tinta manusia, melainkan dengan tinta takdir?
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri: bagaimana dengan kisah hidupku? Sejak masih janin, aku telah ditiup ruh persaksian, sebuah perjanjian kuno antara hamba dan Sang Pencipta. Aku mendengar kisah-kisah itu dari getar suara ibuku yang membaca Surat Al-Kahfi dan Surat Yusuf. Tidakkah semua itu menjadi salah satu sebab aku mencintai sejarah? Dan bahkan, tidakkah itu pula yang membawaku sampai ke penjara ini?
Getaran suara itu mungkin telah membentuk relief di dinding jiwaku, pahatan halus yang membuatku selalu haus akan cerita-cerita tentang masa lalu yang agung. Barangkali ini hanya sudut pandangku sendiri. Sebagai cara seorang manusia merapikan kekacauan hidupnya lewat cerita. Namun di ruang penjara yang sempit dan pengap ini, di hari-hari yang berjalan lambat, aku menjalaninya seperti berada di dalam peti mati yang belum dipaku. Sebuah ruang antara hidup dan mati, tempat aku merenungi sisa-sisa waktu, dan mencoba memahami mengapa sejarah selalu datang menemuiku.
Dalam upayaku memberi alasan atas apa yang telah kulakukan. Dari menumpuk buku-buku yang kubeli namun tak sempat kubaca, semuanya kini tampak seperti Menara Babel yang kubangun dengan tangan gemetar. Aku ingin mencapai langit pengetahuan, ingin tampak dekat dengan cahaya, namun yang kudapat justru kekacauan makna dan langkah-langkah yang membawaku ke penjara.
Menara itu berdiri dari kertas dan kesombongan kecil, dari hasrat ingin disebut cendekia, atau mungkin hanya dari kesenangan belanja yang disamarkan menjadi cinta pada ilmu. Padahal aku tak jauh berbeda dengan lelaki perokok yang setia pada asapnya, yang menghamburkan uang demi kecanduan yang perlahan menggerogoti paru-paru dan waktu. Atau sama saja dengan perempuan yang terus membeli baju, tas, dan sepatu, bukan karena tubuhnya bertambah, melainkan karena jiwanya sedang mencari selimut.
Kita semua, tanpa kecuali, kerap menutup kerapuhan jati diri dengan benda-benda mati.
Lalu aku membayangkan suatu hari nanti, seorang istri berkata dengan nada setajam sembilu, suara yang menahan lelah hidup, “Merokok terus! Lebih baik uang jatah rokok itu ditabung untuk bayar SPP anak.” Kata-katanya jatuh satu per satu, berat oleh tanggung jawab yang tak terbagi.
Dan mungkin aku, atau lelaki mana pun, akan membalas dengan sinisme pahit, “Kau juga tak kalah. Terus menumpuk baju, tas, dan sepatu sampai kamar dan lemari sumpek. Badan cuma satu, hari cuma tiga puluh. Bahu cuma dua, memang semua tas bisa disampirkan sekaligus? Lagipula, siapa yang peduli kau ganti tas setiap hari atau tidak?”
Mereka saling melempar duri lewat kata-kata, bukan untuk menang, melainkan untuk menutupi luka masing-masing dengan melukai yang lain. Pertengkaran itu bukan tentang rokok atau tas, melainkan tentang rasa tak didengar dan ketakutan yang tak dihargai.
Barangkali Socrates benar. Hidup bukanlah sekadar deretan fakta atau peristiwa yang kaku, seperti angka-angka yang terpahat di batu nisan. Hidup adalah tentang bagaimana kita memandang peristiwa itu, tentang persepsi pada peristiwa. Dunia yang kita huni sejatinya adalah dunia pikiran. Itulah sebabnya suami dan istri sering gagal bertemu, sebab mereka menghuni planet yang berbeda: lelaki dari Mars dengan logika kerasnya, perempuan dari Venus dengan perasaan lembutnya. Keduanya berputar dalam orbit ego masing-masing, jarang benar-benar saling bersinggungan, meski berada dalam ruang yang sama.
Masalahnya bukan pada apa yang kita hadapi, melainkan pada sudut pandang mana yang kita pilih untuk membungkus luka dan menjalani hari. Luka yang sama bisa terasa sebagai hukuman atau pelajaran, tergantung dari mana kita menatapnya. Aku tidak sedang menggurui tentang arti kehidupan. Tapi aku sendiri masih tersandung-sandung di lorong makna. Sebab hidup hanya akan membuka rahasianya kepada mereka yang berani mengeja arti di balik setiap sunyi, dan bersedia mengakui kebingungannya sendiri.
Socrates mengatakan bahwa hidup bukan terdiri atas fakta-fakta tentang peristiwa. Fakta hanyalah tulang-belulang. Tampak keras, dingin, dan tak bernyawa. Persepsilah yang menjadi daging dan darah, yang memberi makna dan rasa sakit. Di sanalah dunia manusia berdiri. Dunia pikiran suami dan pikiran istri, yang sering lupa bahwa perbedaan cara memandang bukanlah kesalahan, melainkan kenyataan yang mesti dijembatani.
Laki-laki dari Mars dan perempuan dari Venus, bila boleh dipinjam sebagai perumpamaan, ibarat dua planet yang mengorbit pada garis edar pikirannya masing-masing. Mereka memiliki rotasi dan revolusi sendiri, terpisah jutaan kilometer kesalahpahaman, namun tetap berada dalam satu tata surya yang sama. Jika salah satu keluar dari orbit, keduanya akan saling kehilangan.
Persoalannya selalu kembali ke satu hal: sudut pandang. Sudut pandang adalah lensa yang menentukan apakah dunia tampak sebagai penjara atau sebagai sekolah. Aku tak bermaksud mengajarkan arti hidup kepada siapa pun, sebab hidup hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mau membaca isyarat-isyarat kecilnya di balik setiap helai napas, di balik setiap debu yang jatuh perlahan di atas buku-buku lama.
Hidup, kupikir, adalah perjalanan membaca diri sendiri di dalam sebuah buku yang tak pernah selesai ditulis. Setiap hari adalah halaman baru, dan sering kali kita baru mengerti satu paragrafnya setelah halaman itu terlanjur berlalu. Semua cerita adalah bukan tentang peristiwa-peristiwa besar, melainkan tentang hal-hal kecil yang luput dicatat sejarah: jeda sebelum seseorang menjawab, tentang tatapan yang tertahan, atau kepergian yang tak sempat dijelaskan, atau tentang pulang yang tak pernah benar-benar selesai.
Hidup bergerak bukan melalui ledakan makna, tetapi melalui pengulangan yang sunyi saat hari-hari yang tampak sama, namun perlahan mengikis atau menguatkan seseorang tanpa disadari.
Tokoh-tokoh di dalamnya belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti melawan. Kadang ia hanya berupa kemampuan untuk diam lebih lama dari rasa sakit, menerima keterbatasan tanpa perlu membenarkannya, dan tetap berjalan meski tak tahu persis ke mana arah langkah akan bermuara.
Dunia tak selalu adil, tetapi manusia kerap menemukan cara untuk tetap hidup di dalamnya. Melalui ingatan, melalui kasih yang tak sempat dinamai, atau melalui kesediaan menjadi rumah bagi diri sendiri.
Cerita-cerita ini juga menyimpan satu kesadaran yang perlahan mengendap: bahwa kehilangan bukanlah sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan dipelihara dengan cara yang paling manusiawi. Diingat tanpa disesali, dikenang tanpa dibenci.
Ada hal-hal yang memang tidak dimaksudkan untuk selesai, hanya untuk diterima sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk siapa kita hari ini. Maka bila ada yang tertinggal setelah halaman terakhir ditutup, biarlah itu bukan jawaban, melainkan perasaan: bahwa setiap orang sedang menanggung beban yang tak sepenuhnya terlihat, bahwa setiap diam memiliki riwayatnya sendiri, dan bahwa hidup, dengan segala retaknya, tetap layak dijalani, meski pelan, meski tertatih.
Dan mungkin, di situlah inti dari semua kisah ini bermuara: belajar hidup tanpa harus selalu dimengerti, belajar mencintai tanpa kepastian, dan belajar tinggal di dalam diri sendiri dengan lebih lapang. Sebagai tempat pulang terakhir, ketika dunia tak lagi menyediakan apa-apa selain jarak dan kenangan. (Bersambung)