Puisi Kardus

Apakah pada mulanya adalah puisi? Pertanyaan itu datang pelan-pelan, hampir tak terdengar, seperti...

Puisi Kardus

23 Jan 2026
273 x Dilihat
Share :

Puisi Kardus

Apakah pada mulanya adalah puisi? Pertanyaan itu datang pelan-pelan, hampir tak terdengar, seperti embun yang jatuh sebelum pagi benar-benar terjadi. Sebelum matahari menyibakkan dirinya, sebelum cahaya meminta segala yang ada di permukaan bumi untuk sadar bahwa hari baru sedang dimulai dan mesti disambut dengan pasti. Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban. Mungkin hanya ingin tinggal sejenak, menggantung di udara batin, memberi ruang bagi ingatan untuk membuka pintu-pintu jiwa yang lama tertutup.

Ataukah sebab kesendirianku yang bermula dari puisi yang ditulis seorang teman lama, yang katanya ditujukan untukku, dan diserahkan langsung ke tanganku pada suatu waktu yang kini terasa semakin jauh? Puisi itu datang dengan maksud yang samar, seperti pesan yang dibisikkan setengah hati. Entah ia lebih jujur sedang menceritakan dirinya sendiri kepadaku, atau diam-diam meminjam tubuh dan namaku sebagai cermin, tempat ia menatap wajahnya sendiri sambil berpura-pura sedang melihat orang lain. Lalu aku menerimanya tanpa banyak tanya, sebab sejak awal aku telah terbiasa sendiri menanggung sepi. Maka puisi itu bukanlah awal dari kesunyian, melainkan penanda: bahwa aku memang sudah berjalan di jalan itu, bahkan sebelum kata pertama dituliskan untukku.

Kemudian pertanyaan itu, bersama puisi itu, menjelma jendela yang terbuka setengah: cukup untuk mengalirkan udara, cukup untuk memberi rasa lega, tetapi tak pernah benar-benar memperlihatkan pemandangan di halaman rumah. Ia hanya memberi isyarat, bukan kepastian. Sebab sesungguhnya, jauh sebelum puisi itu tiba, aku telah lama menjalani kesendirian, sejak kanak-kanak hingga dewasa, sebagai sesuatu yang biasa, nyaris tanpa nama. Aku menjalaninya sebagaimana kursi kayu tua yang setia menunggu tubuh, tanpa pernah bertanya siapa yang kelak akan duduk di atasnya, atau apakah ia akan benar-benar didatangi. Maka puisi itu bukanlah sebab, melainkan pemantik: ia menggeser satu kenangan kecil, dan seketika seluruh masa lalu pun bergulir pelan ke hadapanku, seperti air sungai yang lama terhambat lalu tiba-tiba menemukan kembali alurnya.

Ketika aku membongkar peninggalan lama, kotak-kotak ingatan itu berderit perlahan, seolah keberatan untuk dibuka setelah sekian lama dikurungnya. Di antara bau debu dan kertas yang menguning, kutemukan secarik kertas kusam, rapuh di ujung-ujungnya, seakan sebentar lagi ia akan hancur menjadi serpih-serpih sunyi. Kertas itu bekerja seperti pintu rahasia: sekali kusentuh, ingatanku melesap, menyusup ke gugusan masa lampau yang berkilau samar, seperti bintang yang hanya bisa dilihat jika kita mematikan semua lampu. 

Pada saat itulah aku teringat masa ketika untuk pertama kalinya aku bermain-main dengan aksara di usia belia. Masa ketika huruf belum menjadi makna, dan makna belum dibebani harapan apa pun. Di sana, waktu terasa longgar, dan kata-kata hanyalah mainan yang boleh disusun, dibongkar, lalu disusun kembali tanpa takut salah.

Pernah di masa kanak itu aku meniru huruf-huruf cetak dari lembaran kardus bekas, menyalinnya dengan tangan kecil yang masih kaku, lalu menuliskannya ulang di dinding rumah bibiku. Dinding itu menjadi kitab pertamaku, kitab yang tak mengenal kaidah, tak meminta izin, dan tak menuntut kerapian. Tak ada yang menyuruh, tak ada pula yang mengajari. Sebab naluri keinginan yang tumbuh sendiri, seperti rumput liar yang menemukan celah di antara batu. Ketika bibiku melihat perbuatanku, langkahnya terhenti sejenak. Ia memandangi dinding itu lama, lalu memandangku dengan mata yang hangat.

“Bagus sekali, Nak,” katanya, suaranya lembut namun mantap, seperti seseorang yang tahu ia sedang menanam benih. “Lanjutkan.”

Kata-kata itu sederhana, nyaris sepele, tetapi ia bekerja seperti angin pertama yang mendorong layar perahu. Aku tak sepenuhnya mengerti maksudnya kala itu. Namun dadaku terasa lapang, seolah ada ruang baru yang dibuka diam-diam di dalam diriku.

Tak lama kemudian, bibiku memberitahu ibuku bahwa sudah waktunya aku sekolah, nanti di tahun ajaran baru. Kalimat itu terdengar seperti keputusan biasa, namun di baliknya mungkin ada rasa kasihan yang tak pernah diucapkan. Barangkali ia melihat betapa sunyinya hariku, betapa panjangnya waktu yang harus kuhabiskan tanpa teman sebaya. Tiga adik sepupuku, tiga perempuan, anak-anak bibiku sudah pergi ke TK dan SD dengan tas kecil di punggung mereka, membawa cerita yang tak pernah kumiliki. Sementara itu, aku hanya bengong sendiri, memandangi jalan, menghitung bayangan, dan berbicara dengan diriku sendiri.

“Aku tunggu mereka pulang,” gumamku suatu kali. Entah kepada siapa kalimat itu ditujukan. Mungkin kepada dinding rumah yang diam, mungkin kepada waktu yang berjalan lambat. Aku memilih berdiam saja di rumah, membiarkan siang bergerak tanpa tergesa, sambil menelusuri benda-benda yang menarik menurut sudut penglihatan mata sang bocah.

Di sudut-sudut yang jarang diperhatikan, ingatan seakan bersembunyi. Setiap barang menyimpan sisa sentuhan, sisa tawa saat bersama mengaduk-aduk pasir bersama sepupu, atau sekadar bayang-bayang permainan yang menunggu dilanjutkan, hingga kemudian aku menemukan sebuah benda bulat memanjang, sebesar danbsepanjang jari-jari orang dewasa. Permukaannya pucat dan kering di ujung satunya dan basah di ujung lainnya, yang kuambil dari gundukan pasir.

Aku membawanya ke meja sarapan. Saat itu kami sedang menyantap bubur kacang, uapnya masih naik perlahan. Aku perlihatkan benda itu kepada sepupuku. Ia menatap sebentar, lalu dengan nada yakin berkata, “Itu namanya kapur.”

Lalu ia bertanya, nyaris tanpa diminta, “Nemu di mana, Haya? Apakah itu punya Om Padil, buat nulis notasi?” dengan nada setengah takut itu milik Om Padil yang punya grup kesenian, suka latihan di rumah yang kutumpangi itu.

“Kutemukan di pinggir sungai. Waktu main pasir,” ucapku sederhana, tapi seperti membuka pintu kecil dalam ingatannya. Dengan sepupu sering main ke sungai, main pasir basah dengan tangan-tangan mungil yang sibuk menggali dunia tanpa tahu apa yang sedang dicari. Setelah tahu itu namanya kapur itu, mendadak bukan lagi sekadar benda, melainkan itu barang berharga, barangku satu-satunya yang kupunya, dan tak boleh jatuh ke tangan orang lain.

Sepupu tak pernah menjelaskan apa fungsi benda itu. Ia hanya meletakkannya begitu saja di hadapanku setelah meraihnya dari tanganku. Seolah kehadirannya tak menuntut makna apa pun dan tak ingin merebutnya. Di sisa hari-hari yang tak pernah kuniatkan untuk diingat, pada hari-hari yang berjalan seperti debu di atas lantai, entah bagaimana pengalaman itu tetap tinggal. 

Barangkali karena di sanalah, untuk pertama kalinya, aku berkenalan dengan arti kepemilikan: sesuatu yang diam-diam merasa berhak kusentuh, kugenggam, dan kucoba pahami dengan caraku sendiri. Saat menunggu sepupu pulang dari sekolahnya, waktu terasa panjang dan sepi. Benda itu kugesek-gesekkan saja ke dinding, sekadar mengikuti gerak tangan yang belum mengenal tujuan. 

Ada bunyi lirih, ada jejak samar yang tertinggal, seperti bisikan yang belum tahu hendak berkata apa. Hingga kemudian aku menemukan selembar kardus bergambar, yang entah bekas apa, entah dari mana datangnya. Naluri mataku, tanpa perintah, jatuh ke sana, pada garis-garis yang tersusun ganjil namun mengundang perhatianku.

Aku mulai mencoret-coretnya dengan benda itu. Setelah sekali gores rupanya benda itu meninggalkan jejak di kardus. Selanjutnya punya keasyikan mencoret-coret. Awalnya tanpa arah, tanpa maksud selain rasa ingin tahu yang tiba-tiba menyala. Namun perlahan, dari coretan-coretan itu, muncul dorongan lain: keinginan untuk meniru. Ada bentuk-bentuk yang berulang, lekuk dan garis lurus yang saling menyapa, seolah menyimpan rahasia yang ingin dibuka. Tanganku mencoba mengikuti, meski sering melenceng, meski kerap gagal.

Belakangan barulah aku tahu, bentuk-bentuk itu memiliki nama. Sepupu menyebutnya dengan nada biasa, seakan sedang menyebut cuaca sore hari, “Itu huruf-huruf namanya. Sini aku ajarin cara menggunakannya.” Kalimat itu melayang begitu saja di udara, namun entah mengapa terasa berat, seperti membawa janji yang belum kumengerti sepenuhnya.

Tapi saat itu, sebelum nama dan makna benar-benar datang dan menetap, yang lebih dulu hadir adalah perasaan. Perasaan samar namun kukuh, bahwa aku sedang melangkah ke sebuah wilayah baru. Wilayah yang tak memiliki pagar atau papan penunjuk. Di sana, tanganku belajar patuh pada gerak yang belum kukenal, mataku berusaha setia mengikuti bentuk-bentuk asing, dan rasa ingin tahu berdiri di antara keduanya, menjadi penuntun yang diam-diam berani.

Aku belum tahu bahwa lekuk dan garis itu kelak akan menjadi suara, bahwa suara akan menjelma kata, dan kata-kata akan menyimpan dunia. Yang kutahu hanya ada kegembiraan kecil yang tak bisa dijelaskan, sejenis getar halus saat coretan mulai menyerupai sesuatu, meski aku belum bisa menyebutnya apa.

Itulah sebuah awal yang sunyi, nyaris tak disadari siapa pun. Tak ada perayaan, tak ada penanda. Namun dari kesunyian itulah, perlahan terbuka sebuah pintu yang panjang dan berliku. Pintu menuju dunia kata-kata, tempat aku kelak berdiam, bertanya, dan pulang berulang-ulang.

Dalam menunggu sepupu pulang, aku bermain sendirian hingga kelelahan. Berlari-lari kecil tanpa tujuan, lalu duduk, lalu bangkit lagi, seakan waktu bisa dipercepat dengan gerak. Hingga akhirnya tubuh kecilku menyerah, dan aku tertidur di atas keset tapas pintu masuk, tepat di ambang antara dalam dan luar. Di sanalah aku belajar, tanpa sadar, tentang menunggu: menunggu orang lain, menunggu cerita, menunggu cahaya. Kesunyian itu tidak berteriak. Hanya menetap, pelan namun pasti, dan kelak akan menjelma menjadi kata-kata, menjadi puisi, menjadi cara lain untuk tetap berdenyut napas dunia.

Tempat mainku paling jauh hanyalah bengkel di dekat rumah, tempat mobil-mobil rongsokan berbaring seperti hewan tua yang menyerah pada usia. Di sana aku duduk di kursi pengemudi yang setirnya tak lagi ke mana-mana, menyetir-nyetir dalam imajinasi, seolah jalan raya terbentang luas di kepalaku, padahal tubuhku tak bergerak sejengkal pun. Jika bosan keluar rumah, aku kembali ke dalam, bermain sendiri dengan kardus-kardus bekas yang bisa menjelma apa saja: rumah, kapal, atau benteng sunyi yang melindungiku dari waktu yang berjalan terlalu lambat. 

Kadang aku hanya melongo, memandangi Uwa Padil memainkan kecapi atau meniup suling—nama-nama itu pun baru kutahu belakangan, setelah bunyinya lebih dulu tinggal di ingatan. Saat itu, yang kutangkap hanyalah getar yang keluar dari senar dan rongga napas, nada-nada yang mengalir sederhana, nyaris tanpa maksud. Seperti air parit di musim kemarau: tak deras, tak pula memikat perhatian, tapi cukup jujur untuk menenangkan. Ia tidak memanggil, tidak mendesak; hanya ada, menemani sore yang berjalan perlahan.

Aku tak paham dari mana nada itu bermula dan ke mana ia berakhir. Yang kutahu, ada keheningan yang ikut terbentuk di sela-selanya, dan keheningan itu terasa akrab. Seolah bunyi dan diam sedang bersekutu, saling menjaga agar dunia tetap pada ukurannya.

Di waktu lain, aku ikut menonton televisi bersama. Duduk di antara tubuh-tubuh yang lebih besar, mendengar tawa atau komentar yang lewat begitu saja. Acara-acaranya belum benar-benar kumengerti. Mungkin alur ceritanya melompat-lompat, suara-suara bercampur, wajah-wajah datang dan pergi tanpa sempat kukenal. Aku hanya duduk, membiarkan cahaya layar jatuh ke wajahku seperti hujan tanpa makna: dingin, sebentar, lalu menguap.

Tak ada yang kutunggu dari layar itu, selain kebersamaan yang sunyi. Sebuah perasaan bahwa meski aku belum mengerti apa-apa, aku telah menjadi bagian dari sesuatu. Sebuah dunia yang bergerak pelan, diisi bunyi, cahaya, dan waktu yang tak pernah bertanya apakah aku sudah siap memahaminya.

Hanya yang kuingat di ruang tengah rumah bibiku, di samping lemari kaca berisi boneka-boneka wayang yang berdiri kaku seperti penjaga cerita lama, ada lemari kotak televisi setinggi pinggang orang dewasa. Pintunya berlapis busa, bisa ditarik buka-tutup, dan selalu menimbulkan suara pelan setiap kali disentuh. Aku ikut menonton bersama mereka, duduk diam, mataku menatap layar, tetapi tak satu pun benar-benar nyangkut di kepalaku. Aku bahkan lupa, dulu aku menonton apa. Sebab yang tertinggal hanyalah suasana: cahaya kelabu, suara yang lalu-lalang, dan perasaan menjadi penonton yang belum paham cerita apa yang sedang dipertontonkan hidup kepadanya.

Kejadiannya selalu berulang, nyaris tanpa variasi, seolah hari-hari sengaja diputar pada alur yang sama. Menunggu sepupu datang, pulang dari sekolahnya, menjadi jeda yang panjang dan akrab. Dalam penantian itu aku kembali pada coretan-coretan lama, menidurkan gambar-gambar dari kardus di lantai, membiarkannya terbentang seperti peta rahasia yang hanya kumengerti separuhnya. Garis-garis itu kuulang, kupertebal, kuacak, seakan dengan begitu waktu bisa diperlambat.

Sesekali aku berhenti, menajamkan telinga pada suara langkah yang mungkin datang, atau pada bunyi pintu yang belum juga terbuka. Namun penantian itu tak pernah benar-benar membosankan. Ia memberi ruang bagi tanganku untuk sibuk, bagi mataku untuk mengembara, bagi pikiranku untuk belajar berdiam.

Lalu mereka pulang. Sore pun berubah wajah. Coretan dan kardus ditinggalkan begitu saja, tanpa pamit. Kami beralih ke halaman, ke pasir yang bisa diremas dan dilempar, ke air yang bisa dipercikkan sesuka hati. Tangan-tangan yang tadi kaku oleh garis kini basah dan kotor, tertawa tanpa alasan yang perlu dijelaskan.

Begitulah hari-hari itu berjalan: menunggu, mengulang, lalu bermain bersama. Tak ada tujuan besar, tak ada cerita yang ingin ditutup dengan akhir. Hanya perulangan yang sederhana, namun pelan-pelan menanamkan rasa bahwa waktu bisa diisi oleh hal-hal kecil, dan kebahagiaan tak selalu perlu dicari, karena ia sering datang dengan sendirinya, di antara pasir, air, dan sore yang pulang.

Entahlah, apakah ibuku sempat berbicara kepada ayahku, memberi tahu bahwa sudah waktunya aku masuk sekolah. Percakapan itu, jika memang pernah ada, mengalir diam-diam seperti sungai di bawah tanah. Menjelang pergantian tahun ajaran baru, ibuku membawaku pulang dari rumah bibiku di Mitra Batik menuju rumah nenek di kampung. Perpindahan itu terasa seperti jeda: bukan perpisahan sepenuhnya, bukan pula kepulangan yang tuntas, melainkan perpindahan sunyi dari satu ruang menunggu ke ruang menunggu yang lain.

Setiap perjalanan pergi-pulang antara Tasik Mitrabatik dan kampungku yang berjarak tempuh sekitar tiga jam dengan bus, selalu menyimpan kesenangan tersendiri. Di dalam bus itu, waktu seolah bisa dilipat dan dibentangkan sesuka hati. Aku sering meminta kepada ibuku agar diizinkan duduk di jok paling depan, atau di kursi pinggir dekat kaca samping. Dari sana aku bisa melihat dunia berjalan mundur, atau menyamping, sambil berpura-pura membaca apa saja yang tampak. Kaca bus menjadi halaman pertama yang mengajarkanku membaca perjalanan, membaca jarak, dan membaca diriku sendiri, pelan-pelan, sebelum sekolah benar-benar dimulai.

Meski saat itu aku belum bisa membaca, ada kegembiraan aneh setiap kali melihat huruf-huruf terpampang di spanduk, billboard, dinding, atap warung, dan papan toko yang berderet sepanjang jalan. Huruf-huruf itu bagiku seperti gambar: tidak perlu dipahami, cukup dipandang, cukup dirasakan. Meski bus melaju kadang ugal-ugalan, setir diputar kasar seolah jalanan hanyalah garis lurus tanpa risiko, aku tetap menempelkan mata pada luar jendela. Sibuk membaca dengan cara yang lain: membaca bentuk, membaca jarak, membaca kemungkinan. Setiap kali bus berhenti di simpang-simpang jalan menuju desa-desa, di tengah keramaian warung dan toko yang berdiri rapat, aku segera memutar bola mataku. Selagi penumpang naik dan turun, aku berburu huruf-huruf, mencomotnya satu-satu, lalu menyelipkannya ke dalam memori kecil di kepalaku, seperti menyimpan batu kerikil dari perjalanan yang kelak akan kuingat.

Belakangan aku memastikan, ibuku memang tak memberi tahu ayahku. Aku mendengarnya sendiri pada satu pertemuan ayah dan ibu di Padayungan, saat liburan sekolah caturwulan. Hari itu ibuku membawaku kembali ke rumah bibi, dan di sanalah ia bertemu ayahku. Suasana berubah kaku. Ayahku marah karena tak pernah diberi tahu bahwa aku sudah masuk sekolah. Amarah itu jatuh beruntun, seperti hujan yang tak sempat disaring. Mungkin itulah sebabnya ibuku sering memarahiku, bahkan jauh sebelum pertemuan itu. Seolah ada bara lama yang mencari sasaran paling dekat. Namun hampir selalu, bibiku segera mengingatkan.

“Ceuceu,” kata bibiku, suaranya tegas namun berusaha menahan getar, “tak baik memarahi anak. Jangan tumpahkan kesal, geram, dan benci pada ayahnya, lalu yang kena getahnya justru anak.”

Entah kenapa aku bisa mengeja kalimat itu. Mungkin, karena kalimat itu jatuh berat di udara, seperti palu kecil yang mengetuk kenyataan. Sebuah gambaran kebencian yang begitu dalam. Padahal dulu, di akad pernikahannya, pernah ada janji dan kepercayaan yang diucapkan dengan lantang. Kebencian yang tak benar-benar selesai, yang masih tersisa hingga hari tua mereka. Aku, seorang anak lelaki, hanya bisa meraba-raba sakit itu dari kejauhan. Aku tak paham bagaimana luka diciptakan, hanya tahu bahwa ia nyata dan berdiam di antara dua orang yang sama-sama kucintai.

Aku tak tahu pembicaraan apa yang berlanjut antara ibu dan ayah di Padayungan. Tak pula tertarik mendengarnya. Aku melepaskan genggaman tangan ibu, lalu mengedarkan pandanganku. Dunia kecilku segera dipenuhi warna-warni: pada mainan yang digantung, barang-barang yang berkilau, lapak pasar yang ramai oleh teriakan dan tawar-menawar. Di tengah kerlap-kerlip itu, mataku tertambat pada satu benda yang terasa dekat dan terjangkau. Aku menghampiri ibu.

“Ma, aku ingin itu,” kataku, dengan suara yang belum sepenuhnya paham arti menginginkan. Telunjuk mungilku terangkat, menunjuk ke arah mainan senjata yang dipajang di toko belakang, tergantung di antara plastik-plastik warna lain yang tampak tak sepenting dirinya. Barangkali sejenis AK-47 mainan: hitam, keras, dan dingin dalam pandangan, seperti menyimpan wibawa yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

Di mataku yang masih pendek jangkauannya, benda itu bukan sekadar mainan. Ia menjanjikan sesuatu yang lebih besar: kuasa dalam imajinasi anak kecil, keberanian yang bisa dipanggil kapan saja, juga rasa aman palsu yang lahir dari menggenggam sesuatu yang menyerupai kekuatan. Aku membayangkan diriku berlari, menirukan bunyi tembakan, menjadi tokoh yang tak pernah kalah dalam cerita-cerita yang belum kutahu ujungnya.

Aku tak tahu dari mana hasrat itu datang. Apakah dari gambar di televisi yang sempat kulihat di rumah bibi, atau dari cerita yang kudengar sepintas, atau semata-mata dari bentuknya yang tegas dan berbeda. Yang kutahu hanya ada getar halus di dada, semacam keyakinan polos bahwa memiliki benda itu akan mengubah sesuatu dalam diriku.

Aku menunjuk, ibuku menatap, dan dunia sejenak menggantung di antara keinginan dan kemungkinan. Sebuah momen kecil, sederhana, namun kelak kusadari: di sanalah aku pertama kali belajar bahwa tidak semua yang tampak berkuasa benar-benar perlu dimiliki, dan tidak semua keinginan akan tumbuh menjadi milik.

Mungkin karena ibu dan ayahku sama-sama tak punya cukup uang, ibuku menawarkan pilihan lain. “Mobil delman saja, Sayang,” katanya lembut, mencoba tersenyum. “Tuh, ada kudanya. Haya pengen naik kuda, kan?” Ia mengangkat mainan itu seolah memperlihatkan dunia yang lebih jinak. Tapi aku menggeleng. Di kepalaku, kuda itu terlalu pelan untuk kegaduhan yang sedang tumbuh.

Di waktu lain, entah kapan, aku berkata lagi pada ibuku, “Ma, aku ingin jadi tentara.” Aku sendiri tak tahu dari mana gagasan itu datang. Mungkin dari gambar-gambar yang pernah kulihat. Mungkin dari tentara cilik di acara wisuda atau pentas sekolah TK sepupuku. Melihat anak-anak seusiaku yang mengenakan seragam polisi dan tentara, berdiri gagah di atas panggung. Mereka tampak seperti orang-orang yang tahu ke mana harus melangkah. Dan sebagai anak yang sering bingung menunggu, aku pun ingin seperti mereka: punya seragam, punya arah, dan punya nama bagi keberadaanku sendiri.

Pada masa itu aku belum benar-benar mengerti apa arti sekolah, apa arti tentara, atau apa arti huruf-huruf yang kukejar dengan mata. Semua keinginan itu berdiri sendiri-sendiri, seperti pulau-pulau kecil yang belum terhubung oleh jembatan. Namun jauh di dalam diriku, ada satu perasaan yang sama: keinginan untuk tidak terus-menerus tertinggal. Aku ingin tiba di suatu tempat. Entah di mana, tempat orang-orang tahu apa yang harus mereka lakukan, dan aku tak lagi hanya menunggu.

Perjalanan-perjalanan dengan bus, suara kecapi Uwa Padil, kemarahan yang tak sepenuhnya kumengerti, serta huruf-huruf yang melintas cepat di balik kaca, semuanya pelan-pelan mengendap. Mereka tidak segera menjadi ingatan yang rapi, tapi tinggal sebagai serpihan. Serpihan-serpihan itulah yang kelak, tanpa kusadari, mulai menyusun diriku. Aku tumbuh bukan dari penjelasan, melainkan dari potongan-potongan suasana yang terus saling bersentuhan di dalam kepala.

Aku belum tahu bahwa sekolah akan memberiku bahasa lain untuk memahami dunia. Aku juga belum tahu bahwa keinginan menjadi tentara hanyalah satu cara kanak-kanak untuk membayangkan keteguhan. Yang kutahu saat itu hanya satu: aku sedang bergerak, meski sangat pelan, meninggalkan hari-hari menunggu menuju hari-hari yang akan memintaku berdiri dan berjalan sendiri.

Di antara huruf yang belum terbaca dan luka yang belum bernama, aku melangkah dengan tubuh kecil dan rasa ingin tahu yang lebih besar dari keberanianku.

Kini, ketika aku mengingat semuanya dari jarak usia dewasa, barulah kusadari bahwa tidak ada satu pun peristiwa itu yang sia-sia. Kesepian, kemarahan orang dewasa, perjalanan bus yang panjang, bahkan mainan yang tak pernah terbeli, semuanya bekerja diam-diam membentuk caraku memandang dunia. Aku tumbuh bukan sebagai anak yang diberi penjelasan, melainkan sebagai anak yang belajar menafsirkan. Dari sanalah mungkin aku mengenal kata, puisi, dan kesunyian sebagai rumah yang akrab. Dan di situlah cerita ini mengambil napas sejenak. Sebelum cahaya lain datang, sebelum halaman berikutnya terbuka, dan sebelum aku benar-benar belajar menyebut dunia dengan pilihan kata-kataku sendiri. (Bersambung)

Perspektif

Scroll