Rumah Nenekku

Inilah kampungku. Tempatku berdiri pada sebidang tanah yang pertama kalinya mengajari tubuhku...

Rumah Nenekku

22 Jan 2026
298 x Dilihat
Share :

Rumah Nenekku

Inilah kampungku. Tempatku berdiri pada sebidang tanah yang pertama kalinya mengajari tubuhku mengenal udara, cahaya, dan arah pulang. Sebidang tanah yang pertama kali mengajari tubuhku mengenal udara melalui tiupan angin di sela rumpun bambu. Sebagai rahim kedua dan petak tanah sebagai paru-paruku yang beradu dengan napas duniaku untuk pertama kali. Tempat yang mengenalkanku pada tekstur udara yang membawa aroma tanah basah dan asap dapur yang mengepul tenang menebarkan aroma dan nada kehidupan. 

Di sinilah cahaya pertama yang menerangiku sejak hadir ke dunia. Cahaya yang bukan sekadar benderang, melainkan jemari fajar yang membangunkan kelopak mataku untuk melihat dunia pertama kalinya. Ia adalah kompas purba yang tertanam di balik kelopak mataku dan bawah telapak kakiku. Tentang sejauh apapun memandang dan sejauh apapun melangkah jauh dari kampung, detak jantungku selalu membisikkan ritme yang sama tentang arah pulang.

Inilah kampungku. Bagiku, ia adalah definisi arah yang paling jujur. Sebuah awal yang tak akan pernah menjadi akhir. Cahayanya akan punya cara unik untuk jatuh di pelataran rumah jiwaku. Seolah sebagai chip di kepalaku, yang dengan sengaja menerangi jejak kakiku agar tak lupa jalan pulang. Di atas pematang sawah dan ladangnya, cahaya menari-nari di pundakku yang menandai waktu-waktu, yang kemudian tumbuh menjadi kenangan. Ia bukan sekadar titik di peta, melainkan gravitasi yang membuatku tak pernah benar-benar tersesat. Sebuah pelabuhan harap yang mengajari jiwaku bahwa pulang adalah perjalanan menuju diri sendiri. 

Di sinilah aku dilahirkan. Sebuah kampung kecil yang bersandar pelan pada lereng pegunungan, seperti anak yang menyandarkan kepala pada bahu ibunya setelah lelah menangis. Setiap kali mengingatnya terutama saat menginjak tanah perantauan, ingatanku bergerak perlahan seperti asap dapur yang naik tanpa tergesa, membawaku kembali ke masa kecil yang telah berlalu namun tak pernah benar-benar pergi. 

Begitu aku datang, kampung ini tidak banyak bicara. Tetapi diamnya menyimpan gema panjang yang terus memanggil namaku, bahkan ketika aku telah pergi terlalu jauh. Sebab aku adalah putranya, putra daerah yang mencoba mengadu nasib, sesudah berhadapan dengan kesenang-wenangan kota yang riuh dan sering lupa pada jeda. Sekian lama aku meninggalkan desa, berjalan ke kota dengan bekal harapan yang rapuh tapi keras kepala, menyusuri hari-hari yang menjanjikan peluang sekaligus kekecewaan pada akhirnya. 

Perjalanan sekian lamaku di tempat asing bukan sekadar pindah tempat, melainkan usaha menyibakkan peta kehidupan, mengikuti garis-garis tepiannya. Mencari letak mimpi-mimpi yang tak pasti. Meraba-raba wujud cita dan cinta yang katanya sejati, meski sering menyamar sebagai luka dan kesepiannya. 

Di antara gedung dan lampu kota, aku kerap merindukan sunyi kampung yang sederhana yang jujur. Dan kini aku kembali berdiri di tanah ini. Tanah yang pernah mengandung langkah-langkah kecilku, mengajari kakiku mengenal arah dan pulang. Aku menghirup udaranya perlahan, udara yang membawa aroma dunia kampung. Campuran antara tanah kering, dedaunan, dan sisa embun yang tertahan di rumput-rumput basah dan kering. Di setiap tarikan napasnya, ada kenangan yang bangkit tanpa diminta, seperti suara lama yang kembali menemukan tubuhnya. Aku tidak sekadar hadir, aku sedang menyatu dan membiarkan tubuhku mengingat apa yang pernah diketahui sebelum dunia menjadi terlalu bising.

Di dataran tinggi ini, dekat pohon jambu yang berdiri tenang, pandanganku menyapu rumah-rumah yang tidak berjejal, seolah mereka sepakat untuk saling memberi ruang. Hanya ada lima rumah, berdiri berjauhan seperti saudara yang paham bahwa jarak bukanlah tanda renggang, melainkan cara untuk tetap saling melihat dan menjaga. Kesederhanaan susunannya membuat kampung ini terasa lapang, bukan karena luas tanahnya, tetapi karena tidak ada yang saling menindih hidup orang lain.

Di samping kanan rumah nenekku, berdiri kokoh rumah pamanku, Mang Dudung. Dindingnya tampak biasa, namun ia menyimpan banyak cerita yang tak pernah dituliskan. Tentang kerja keras, tentang diam yang panjang, tentang hari-hari yang dilewati tanpa perayaan. Di sebelah kiri ada rumah pamanku yang lain, rumah Mang Uyep, yang membuka warung kecil. Warung itu bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang singgah bagi orang-orang yang ingin berhenti sejenak, bertukar kabar, mengendapkan lelah, lalu melanjutkan hidup dengan langkah yang sedikit lebih ringan.

Dua rumah lainnya milik tetangga yang masih terikat kerabat sekampung. Kedekatan darah dan tanah membuat mereka tak pernah benar-benar menjadi orang lain. Segalanya terasa akrab tanpa harus diucapkan, seperti pengertian yang sudah lebih dulu tumbuh sebelum kata-kata ada. Seolah kampung ini memang dirancang agar tak ada yang sepenuhnya asing, agar setiap orang selalu punya tempat untuk dikenal, diterima, dan diingat.

Di depan rumah nenekku berdiri sebuah pos ronda, bangunan kecil yang lebih sering kupandang sebagai ruang perenungan daripada sekadar tempat berjaga. Setiap petang atau malam, selepas makan dan buka puasa, aku kerap duduk di sana. Kadang sendiri, kadang ditemani suara serangga yang setia. Aku merasakan suasana malam yang perlahan turun, seperti tirai gelap yang ditarik dengan hati-hati. Udara malam menyentuh kulitku dengan dingin yang jujur, sementara mataku menatap langit gelap yang ditaburi bintik-bintik bintang, seakan Tuhan sedang menaburkan tanda agar manusia tidak lupa arah.

Letak rumah nenekku yang berada di dataran tinggi memberiku keleluasaan memandang ke segala arah, seolah mataku diberi hak istimewa untuk menyapukan pandang. Saat malam dari tepian tebing yang melandai, pandanganku bisa meluncur ke bawah, menuju penjuru gelap yang luas dan hening. Di kejauhan, hanya terlihat bercak-bercak cahaya dari beberapa rumah di tengah sawah, kecil dan berjarak, seperti ingatan-ingatan yang masih bertahan meski hampir padam. Pemandangan itu selalu mengajarkanku bahwa cahaya tak pernah perlu banyak untuk bertahan.

Aku terus saja duduk terpekur di pos ronda itu, menghabiskan hari-hari selama berada di kampung, membiarkan waktu berjalan tanpa perlu dikejar. Ketika malam tiba, kunikmati kesenyapan yang nyaris utuh, seperti doa yang diucapkan tanpa suara. Saat sore hari, tempat ini kujadikan ruang membaca dan menulis, menyusun kata-kata sambil mengamati hilir-mudik orang yang berlalu-lalang. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang melintas dengan motor, membawa debu dan bunyi yang segera hilang. Sebagian mengenalku dan menyapaku, sebagian lagi asing, namun keasingan itu pun berakhir dengan senyum dan salaman. Sebagai pengakuan diam bahwa kami berasal dari tanah yang sama, kampung yang sama.

Di tempat inilah, dan di beberapa tempat lain yang kupilih dengan hati-hati, aku menulis untuk mendengar kembali diriku sendiri. Aku menulis karena sedang memikirkan langkah-langkah hidup yang terasa seperti persimpangan tak berujung. Tentang impian sejak kecil, tentang masa remaja yang penuh ragu, tentang hari-hari bekerja di Gramedia, tentang bangku kuliah, dan tentang dunia kerja yang menuntut keteguhan. Semua itu kusimpan dalam doa-doa sederhana. Semoga harapan-harapan itu menemukan jalannya, semoga Tuhan berkenan mengabulkan rencana yang kerap goyah namun terus kupegang.

Aku merenungkan apa saja yang telah kudapatkan sejak kepergianku dari rumah ini. Dari tanah yang dulu kulepas dengan keyakinan berlebih. Di tempat jauh, aku menamatkan sekolah SMA, menempuh kuliah, bekerja, dan pada akhirnya merasakan pahitnya masuk penjara—sebuah titik yang tak pernah masuk dalam daftar impian. Sudah sepuluh tahun aku pergi dari rumah ini, waktu yang panjang dan melelahkan, seperti perjalanan tanpa peta yang jelas. Kini aku kembali, pulang ke tempat yang menerimaku tanpa banyak tanya, ke asal yang tetap setia membuka pintu, seolah berkata bahwa sejauh apa pun aku tersesat, aku tetap anak dari tanah ini.

Dulu, mungkin aku membenci kampungku. Ada masa ketika kebencian itu tumbuh pelan, seperti lumut di batu yang lembap. Tidak disadari, tapi mengakar. Aku mempertanyakan hidup dengan nada yang lirih namun keras kepala: mengapa aku harus menjadi anak kampung, mengapa aku dilahirkan di sebuah sudut bebukit tanah selatan Jawa bagian barat, tepatnya di dataran pakidulan. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku seperti angin yang tak menemukan celah keluar, seolah pikiranku menolak takdir terlahir di kampung kecil yang tak dikenal orang. Sebuah tanah yang saat itu kuanggap belum disentuh peradaban, sunyi, dan tertinggal. Padahal sesungguhnya ia hanya berjalan dengan ritmenya sendiri.

Kini, rasa itu bergeser. Aku justru bersyukur, dengan rasa syukur yang matang dan tidak tergesa. Sebab semua yang dulu kupersoalkan itu menjelma menjadi bekal paling berharga: bahan untuk bercerita. Kampung memberiku cerita tanpa harus kupungut dari buku atau kudengar dari orang lain. Alam pedesaan membuatku mudah menulis, sebab pengalaman langsung selalu lebih jujur dalam menggambarkan suasana hidup. Tentang aroma tanah, gerak manusia, dan jeda yang tak bisa dibeli. Dari sanalah kata-kata mengalir, tidak dipaksa, tidak dicari-cari.

Setelah aku melanglang buana ke berbagai sudut dunia, barulah kusadari siapa diriku sesungguhnya. Seorang anak kecil yang dipintal dan ditempa oleh hijau pepohonan dan bersihnya tanaman, oleh udara segar yang tak disaring mesin. Aku pernah hidup mendengarkan derit daun ketika disentuh angin, dan suara lembut rumpun bambu yang saling berbisik di hutan-hutan kecil yang tumbuh di sana-sini. Kini aku mengerti, betapa penting dan bermaknanya sebuah kampung asal. Ia menjadi dasar yang memberi arti, bagi siapa pun yang bersedia memaknainya dengan sabar dan rasa sepenuhnya.

Aku pun tak pernah menyangka hidupku akan berjalan seperti ini. Dulu, saat masih SMA, aku bahkan tak tahu apa yang kupikirkan tentang masa depan. Tugasku hanya belajar, hari demi hari, tanpa peta yang jelas. Dari masa SMA itu, entah apa yang benar-benar kudapatkan. Mungkin ingatan tentang pelajaran menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah pertemanan. Aku bertemu banyak kawan, dari yang berkecukupan hingga yang berlimpah, sampai-sampai aku merasa diriku tak pantas berada di sekolah itu. Rasanya akulah yang paling miskin di antara mereka, berdiri kikuk di tengah kelimpahan yang bukan milikku.

Setelah lulus, aku hanya ikut arus. Aku berjalan mengikuti langkah orang lain tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah. Tak ada yang menunjukkan jalan, tak ada peta yang diberikan. Aku mengikuti ujian demi ujian: SPMB, Polban, STPDN yang semuanya kulewati dengan harapan seadanya, dan semuanya pula berakhir dengan kegagalan. Setiap hasil pengumuman terasa seperti pintu yang ditutup perlahan, tanpa suara gaduh, namun cukup untuk membuat dada sesak.

Pada masa-masa ujian itu, aku bermalam menumpang di tempat teman baikku, Noufal. Dialah sahabat yang kehadirannya begitu berarti dalam hidupku. Ia membantuku tanpa perhitungan, memberi tempat bermalam di tokonya, bahkan menanggung makanku. Dalam hari-hari mengejar ujian masuk perguruan tinggi, aku nyaris tak memiliki persiapan apa pun. Tanpa materi, tanpa keyakinan penuh. Dan kadang, karena terlalu lama menumpang dan tak enak hati, aku baru datang ke tokonya atau ke rumahnya saat malam telah larut, membawa lelah dan cemas yang tak sempat kuucapkan.

Ayah Noufal adalah seorang Padang yang hidup sukses di negeri rantau, keberhasilan yang tumbuh dari jaringan usaha keluarga yang mapan. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, dengan nada yang semakin sunyi: bagaimana denganku, yang hidup sebatang kara di negeri asing? Apa yang sebenarnya telah kuperoleh sepanjang perjalanan ini, selain pengalaman pahit dan pelajaran yang sering datang terlambat? Pertanyaan itu menggantung, tak selalu menuntut jawaban, tapi terus menemani langkahku.

Namun malam ini, aku memilih menikmati saja malam yang menderu. Malam yang terasa berbeda dari gelap malam di tempat-tempat yang pernah kusinggahi. Ada hening yang utuh, ada ketenangan yang mengelus sukma tanpa syarat. Di sini, aku bebas menghirup udara yang cukup bersih, tanpa harus mencarinya. Di kota, udara malam sering terasa asing dan berat. Sementara di kampung, ia datang apa adanya. Dan dalam kesederhanaan itulah, aku kembali merasa pulang.

Kampungku saat ini sedang menjalani musim kemarau. Musim ketika tanah belajar menahan diri dari harapan akan hujan. Sawah-sawah yang menghampar di depan rumah nenekku kini banyak ditumbuhi ilalang, rumput liar yang tumbuh tanpa rencana, seperti ingatan-ingatan lama yang muncul kembali ketika kesuburan pergi sementara. Keesokan paginya kulihat bendungan, adalah dam tempat kami biasa mandi sejak kecil, airnya semakin surut, menyisakan garis-garis basah di batu sebagai penanda waktu yang menyusut. Kampung sebelah pun banyak mengambil air dari dam yang dulu dibangun oleh kakekku ini, seolah sejarah masih bekerja dalam diam, memberi manfaat tanpa meminta dikenang.

Dua pamanku kini sudah menggunakan mesin Sanyo untuk menyedot air dari bendungan itu. Meski ketinggian tebingnya curam, dengan kemiringan hampir empat puluh lima derajat, air tetap mengalir ke rumah kami. Dengan pelan, tapi setia. Sejak kecil aku terbiasa berjalan naik-turun dari rumah ke bendungan, menantang licin dan terjal tangga seadanya, namun kini aku berpikir: jika teknologi telah tersedia, mengapa harus selalu mengandalkan tubuh yang lelah. Tradisi tidak harus menolak kemajuan. Tapi keduanya bisa berdampingan, seperti kenangan dan masa depan yang sama-sama ingin bertahan.

Kini kurasakan keheningan yang pekat bagai di pesisir pegunungan Iroqous, tempat batu-batuan pualam menopang rumah-rumah kami dengan kesabaran purba. Alam di sini tidak berisik, ia berbicara lewat jeda. Keharmonisannya merembes perlahan ke dalam sukma, menenangkan lapisan-lapisan batin yang selama ini kusut. Aku berharap kepedihan yang kualami bisa terobati, setidaknya sedikit, oleh fajar yang kelak menyingsing, yang membawaku ke alam baru, atau setidaknya ke cara pandang yang lebih lapang di jiwaku.

Di sini air mata kepedihan perlahan kuhapus, meski bekasnya masih terasa hangat di pipi. Seulas senyum muncul tertahan, bukan karena bahagia, melainkan karena keinginan untuk bertahan. Aku menghentikan sejenak derap langkahku, membiarkan waktu berhenti bernapas. Aku takut menatap terlalu jauh, takut mengarahkan pandangan pada tangga kesombongan dan kemunafikan yang sering menjebak manusia. Maka kutelisik kembali relung-relung jiwa dan kalbuku, mencari kejujuran yang paling sunyi di relung batinku.

Apa sebenarnya yang telah kulakukan sampai sejauh ini, sering aku bertanya begitu. Apakah aku hanya ingin mengisi hari-hari dengan buaian fatamorgana yang tampak indah dari jauh, namun hampa ketika didekati? Apakah cinta, atau sekadar rasa ingin memiliki, yang menyatukan asa dan cita. Apakah yang sebenarnya menaungi diriku: keyakinan yang tulus, atau singgasana kedigdayaan yang rapuh di mata kesombongan. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, tidak selalu menuntut jawaban, tapi terus memintaku jujur.

Kuucapkan dalam hati, wahai air mata yang tak tertahankan, cukuplah mengalir sampai di sini. Biarlah satu mimpi tetap tinggal, sebagai alasan untuk bangun esok hari. Allohu Rabbi, limpahi hatiku dengan parfum kelapangan dan sikap nerimo atas apa yang telah menimpaku sebagai takdir. Berilah aku keikhlasan untuk menerima apa yang telah terjadi. Sebab ia disebut takdir karena memang telah terjadi. Namun mengapa, bahkan setelah kusadari itu, rasanya masih begitu sulit untuk benar-benar menerimanya. Begitulah adanya.

Sudah saatnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan, ingin menunjukkan bukti kesungguhanku pada hidup dan pada diriku sendiri. Meski sulit sekali menyadari bahwa apa yang baik menurut Tuhan, pasti baik pula pada waktunya. Manusia kerap terjebak pada pandangan jangka pendek, sementara kebaikan sering bekerja dalam jarak yang panjang. Dalam jangka panjang itulah manusia kesulitan membayangkan, sebab imajinasi kita dibatasi oleh hari ini.

Akhirnya, sebagai manusia hanya bisa pasrah pada alam bawah sadarnya. Meski di permukaan ia tetap ngeyel, merengek, dan memaksa. Menginginkan apa yang harus menjadi miliknya. Seolah hanya itu satu-satunya kemungkinan yang ada. Padahal belum tentu yang diinginkan itu baik menurut takdir yang sedang bekerja. Keinginan sering menyamar sebagai kebutuhan, dan kita terlambat menyadarinya.

Kusadari mungkin Tuhan telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagiku. Lebih baik dari apa yang kini kupikirkan dan kuinginkan, dan aku tak lagi ingin membanding-bandingkan. Sebab perbandingan hanya melahirkan kegelisahan. Aku percaya, pada waktunya aku akan menemukan yang terbaik untukku. Maka janganlah aku gelisah sekarang jika siapapun tak mencintaiku. Sebab bisa jadi akan hadir seseorang yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih mampu menerimaku apa adanya. Bukankah jodoh adalah cerminan jiwaku sendiri, baik atau buruk, semua kembali padaku, dan pada kesediaanku untuk belajar menjadi lebih lapang.

Pulang kampung dapat mendengar pelbagai suara. Maka kudengarkan tangisan mereka, satu per satu, tanpa sela. Sebab aku belum bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan dengan dada yang terbuka. Aku hanya mampu berada di sini, menjadi telinga bagi keluh yang tak menemukan corong. Beginilah nasib rakyat pinggiran di kampungku. Mereka mengelana ke kota dengan harapan yang tipis, membawa tubuh dan tenaga, pulang dengan upah yang nyaris tak cukup untuk ongkos kembali. Jakarta menyambut mereka dengan janji kerja, namun menggaji mereka dengan angka yang menyakitkan. Katanya seratus lima puluh ribu hingga tiga ratus ribu sebulan. Angka yang bahkan tak sanggup menambal luka rindu pada kampung halaman.

Memang mereka hanya lulusan sekolah dasar, tetapi pengabdian mereka sering kali melampaui mereka yang bergelar tinggi. Mereka patuh pada majikannya, bekerja tanpa banyak tuntutan, menelan perintah seperti obat pahit yang harus diminum. Mereka tak pernah benar-benar berontak, kecuali kepada diri sendiri. Berontak dalam diam, meratapi nasib yang terasa tak pernah bergerak. 

Hidup mereka berputar di lingkar yang sama, hari demi hari, tanpa janji perubahan. Begitulah nasib mereka, dan pertanyaannya terus menggantung: siapa yang sungguh memperjuangkan hidup mereka, selain diri mereka sendiri? Siapa yang masih peduli pada kemanusiaan ketika angka dan kepentingan menjadi ukuran utama?

Dari sanalah tekad itu perlahan tumbuh. Aku merasa harus masuk ke dalam kumpulan orang-orang yang sedang memperjuangkan mereka, meski langkahku masih kecil dan suaraku belum lantang. Aku harus bisa menulis, menjadikan kata sebagai jembatan untuk menyampaikan pada lebih banyak orang bahwa bangsa ini belum sepenuhnya merdeka. Bahwa penjajahan bisa berwujud upah murah, kebijakan timpang, dan diam yang dibiarkan terlalu lama. Kita harus kembali menjadi tuan di tanah air sendiri, bukan sekadar tamu di rumah sejarah kita.

Kita seharusnya menjadi buruh yang terhormat, bekerja dengan martabat dan perlindungan yang adil. Pemerintah, sebagai tuan birokrat, semestinya membuat kebijakan yang memihak rakyatnya. Bukan mengorbankan mereka demi kepentingan diri dan golongan. Pikiran itu terus berputar di kepalaku, memanggilku untuk tidak hanya menjadi saksi. Aku harus mengambil bagian dalam perjuangan ini, sekecil apa pun, berjuang untuk kampung halamanku, agar kelak ia tak hanya menjadi kenangan, tetapi juga masa depan.

Keheningan malam menyelimuti tempat kelahiran batinku. Meski rumah nenekku bukan tempat aku dilahirkan, sebab tempat aku borojol dari rahim emakku adalah rumah yang sudah lama porak-poranda, rumah nenekku adalah poros ingatanku. Tempat lahirku sesungguhnya berada di rumah ibu dan ayahku dulu saat membina rumah tangganya, yang letaknya sekitar lima kilometer dari rumah nenek, jarak yang terasa dekat di peta, namun jauh dalam kenangan. Bekas tanah fondasi rumah sudah jarang kukunjungi, rumah yang menurut selentingan kabar katanya menyimpan cerita tentang ilmu hitam, bisik-bisik yang membuatnya terasa asing dan sunyi jika mengingat nenek di pihak ayahku.

Namun di sanalah dunia pertama kali kucium, di tanah yang sangat kampung dengan segala suasananya yang mentah dan jujur. Kekampungan itu, dengan seluruh kesederhanaannya, pasti meninggalkan jejak dalam pertumbuhanku. Membentuk cara pandang, cara merasa, dan cara bertahan sejak hari pertama aku datang ke dunia. Aku bersyukur dilahirkan dari tanah seperti ini. Sebab raga dan jiwaku telah menyatu dengan kampungku. Aku adalah bagian dari tanah ini, dan tanah ini adalah bagian dari diriku.

Kesunyian kian mencekam malam ini setelah mendengar kabar kampung dan warganya. Semua seolah-olah sebagai udara yang berhenti bergerak di antara dada dan pikiranku. Menjadi hidup terasa statis, seakan waktu memilih duduk dan enggan melangkah. Namun di balik diam itu, ada keinginan kuat untuk bergerak. Sebab hidup tak diciptakan untuk membatu. 

Dinamika adalah napasnya. Senyuman dan keriangan, ketulusan dan kegembiraan, tangisan dan jeritan, semuanya datang silih berganti tanpa bisa dicegah. Semesta menyediakan ragam rasa yang sama. Manusialah yang memberi nama, membeda-bedakan, lalu memihak satu dan menolak yang lain.

Dan aku ini manusia, dan aku tak mungkin sepenuhnya lepas dari persepsi yang dibentuk oleh akal. Aku telah merasakan hampir semua rasa yang tersedia: keterasingan yang dingin, kekecewaan yang pahit, ketakpercayaan yang merapuhkan, kepiluan dan kepedihan yang menyesakkan, hingga keharmonisan yang datang singkat namun menenangkan. Semua rasa itu kini menyatu di dadaku, berdiam tanpa suara. Dalam senyap dan hening itulah aku mengalaminya, perlahan dan utuh. Aku harus membuka tabir keikhlasan agar gairah hidup kembali terbangun di angkasa hatiku. Dengan berat, aku ikhlas melepaskan pertanda-pertanda yang tak lagi sanggup kupeluk.

Aku hidup dengan sikap nerimo pada takdir, namun itu tak pernah berarti menyerah. Di dalam diriku selalu ada kesungguhan untuk meraih apa yang kuinginkan dan kubutuhkan. Bukankah selama ini aku selalu berusaha, dan sering kali berhasil, meski di beberapa persimpangan aku harus tertimpa sial. Lalu, apakah tak pantas bagiku menerima sesuatu yang bisa memberiku bahagia? Aku sedang memantaskan diri, memang. Memantaskan pada hidup, pada harapan, dan pada masyarakat kampung, sampai pada waktunya dan semestinya mampu menerimaku sebagai bagian dari denyut nadinya.

Semua kembali kepadaku, bukan pada siapa pun yang lain. Biarlah rahasianya tersimpan di dalam diriku sendiri, menunggu untuk diurai dengan jujur. Maka kutulis hanya sedikit demi sedikit, sepenggal demi sepenggal, untuk sebuah cerita yang dapat mengungkapkan apa yang selama ini kupendam. Kutuliskan fakta-fakta dan kesadaran manusia yang terus bergerak dari tahun ke masa. Kini saatnya aku bicara, kepada mereka yang mau mendengar tentang kemajuan, tentang keberpihakan, dan tentang kepentingan kampung halamanku yang tak boleh lagi dilupakan.

Malam perlahan menutup dirinya sendiri, seperti kitab yang selesai dibaca tanpa perlu disimpulkan. Aku duduk dalam diam yang kini tidak lagi menakutkan, sebab kesunyian telah berubah menjadi kawan yang mengajakku berdamai. Kampung ini, dengan segala kekurangannya, tak lagi kuterima sebagai nasib yang harus disangkal, melainkan sebagai asal yang harus dirawat. Dari tanah yang retak oleh kemarau, dari suara-suara yang lama terpinggirkan, aku belajar bahwa hidup tidak selalu menuntut kecepatan, melainkan keteguhan untuk tetap tinggal dan memahami.

Semua perjalanan setelah melanglang buana ke kota, ke ruang-ruang asing, ke kegagalan dan luka, ternyata hanya membawaku berputar kembali ke titik ini. Bukan untuk mengulang, melainkan untuk membaca ulang diriku sendiri dengan kacamata yang lebih jernih. Kampung, rumah nenek, bendungan tua, dan malam yang hening, semuanya menjelma cermin yang memantulkan siapa aku hari ini. Aku bukan lagi anak yang sekadar bertanya mengapa ia dilahirkan di sudut yang terlupakan, melainkan seseorang yang mulai mengerti alasan mengapa ia harus kembali.

Di sinilah aku menutup sementara kisah ini, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai jeda. Sebab masih banyak yang harus dituliskan, masih banyak suara yang menunggu disampaikan, dan masih banyak jalan yang belum kulewati. Aku menarik napas panjang, menyimpan segala yang telah kupahami ke dalam dada, dan bersiap untuk kembali melangkah. Bagian berikutnya akan dimulai dari langkah yang lebih sadar. Dari seseorang yang telah berdamai dengan asalnya, dan kini siap bergerak menuju cahaya yang perlahan mendekat. (Bersambung)

Perspektif

Scroll