Cikatomas

 Aku menutup lembaran hari ini dengan napas yang berat, namun tidak dengan putus asa, dan...

Cikatomas

22 Jan 2026
246 x Dilihat
Share :

Cikatomas

 Aku menutup lembaran hari ini dengan napas yang berat, namun tidak dengan putus asa, dan tidak pernah dengan putus asa. Napas itu memang sarat oleh lelah dan bayang-bayang kelam masa lalu, tetapi di dalamnya masih ada denyut yang bertahan, seperti api kecil yang tak kunjung padam meski diterpa angin malam. Bahkan di antara kesunyian dan bayang-bayang itu, justru aku merasakan sesuatu yang perlahan berubah, bergerak tanpa suara, namun pasti.

Diriku kini terasa seperti air tenang di permukaan, tetapi tak pernah berhenti mencari jalan. Air yang perlahan menembus retakan batu, sabar, tekun, dan tak pernah terburu-buru, hingga akhirnya menemukan ruang baru untuk mengalir. Ia membawaku menuju kehidupan yang tampak mati dari kejauhan, padahal sesungguhnya hidup, berdenyut, dan terus menunggu untuk disentuh. Dalam gerak yang nyaris tak terlihat itu, aku belajar bahwa perubahan tidak selalu datang dengan ledakan besar, melainkan lewat kesetiaan pada langkah kecil yang terus diulang.

Aku menyadari, meski langkah-langkahku sebelumnya terseok-seok, terjebak dalam labirin hitam yang membingungkan, meski dunia seolah-olah menutup pintu satu per satu di hadapanku, selalu ada celah kecil yang tertinggal. Celah yang tidak memanggil dengan suara lantang, tetapi menunggu dengan sabar agar aku berani mendekat, menunduk, dan melangkah lebih jauh.

Dan pada celah itulah aku menggantungkan harap. Bukan harap yang meledak-ledak, melainkan harap yang sederhana, yang cukup untuk membuatku terus berjalan. Karena hidup, pada akhirnya, bukan tentang seberapa sering kita jatuh ke dalam gelap, melainkan tentang kesediaan untuk terus mencari terang, sekecil apa pun cahaya itu, hingga suatu hari ia cukup terang untuk menuntunku pulang.

Dari celah itu, aku melihat jalan baru terbentang. Bukan jalan yang mulus dan terang, tetapi jalan yang memanggil dengan bisik halus. Dengan langkah-langkah yang harus kuambil, dengan keputusan yang harus kuhadapi, dan pengalaman baru yang akan menantang keberanian sekaligus menguji sabar dan tawakkal yang diajarkan ayahku sejak dulu. Jalan itu seperti sungai yang belum pernah kularungi, dengan arus yang tenang di permukaan tetapi berliku dan di bawahnya penuh batu. 

Aku merasa seperti berdiri di ambang pagi yang belum menampakkan matahari. Angin malam masih berhembus dingin, menyelinap ke sela-sela jaket dan menempel di kulit, namun ada aroma tanah basah, daun yang terguncang lembut, dan kayu yang basah oleh hujan semalam, adalah tanda-tanda kehidupan yang terus berulang. Semuanya berbisik, menandakan bahwa cerita ini belum selesai, bahwa langkah-langkahku, meski lelah, masih harus menapaki jalan yang panjang.

Tempo hari, saat menunggu bus di simpang jalan Cikatomas, pandanganku tersangkut pada sebuah bangku kayu yang sudah usang. Di sanalah ingatan menyeruak, membawaku kembali ke waktu yang entah kapan, ketika aku pernah duduk di bangku yang sama, bersama seseorang yang kini entah berada di mana. Dia yang mungkin kurindukan, mungkin sudah menjadi bagian hidup orang lain, mungkin juga menjadi kenangan yang tak bisa kupegang lagi. Rasa itu menyelinap pelan, seperti angin yang menembus celah jendela, menggetarkan hati tanpa suara, namun terasa nyata.

Aku menunduk, memandang jalan sepi yang berkelok di depan, lampu-lampu jalanan seperti bintang-bintang kecil yang memantul di aspal basah. Waktu terasa melambat, dan aku menyadari bahwa setiap detik yang kulewati malam ini adalah jendela untuk melihat, merasakan, dan menilai ulang. Kenangan yang muncul bukan sekadar nostalgia, tetapi pengingat bahwa perjalanan manusia selalu diwarnai hadirnya orang-orang yang meninggalkan jejak, sebagai sesuatu yang tetap hidup meski tak lagi nyata di hadapan.

Dalam kesunyian itu, aku belajar berdamai dengan jarak dan waktu. Rindu, kesal, lega, dan penantian menjadi satu. Berpadu seperti udara malam yang sejuk dan harum tanah basah. Aku menelan napas panjang, merasakan setiap hembusan sebagai pengikat antara masa lalu dan yang akan datang. Pada sebuah cerita belum selesai, aku tahu bahwa perjalanan malam ini, sekecil apapun, adalah bagian dari bab baru yang akan terus kucatatkan, aku akan terus menulis, dalam membentuk siapa aku, dan bagaimana aku akan menghadapi hari-hari yang menunggu di balik horizon yang belum tampak.

Dan saat bus yang kutunggu akhirnya melintas, lampunya menembus gelap seperti mata kecil yang menatapku dari jauh, aku menyadari sesuatu. Setiap perjalanan, setiap pertemuan, bahkan setiap detik penantian adalah bagian dari hidup yang harus diterima, dimaknai, dan dihargai. Aku menatap ke depan, menunggu langkah baru, siap menapaki cerita yang belum selesai, dengan rindu yang lembut dan hati yang terbuka untuk apa pun yang akan datang.

Karena itulah aku pulang. Bukan sekadar melanjutkan kisah, tetapi juga untuk memberi diri kesempatan menatap dunia dengan mata yang lebih jernih, untuk mencoba memahami siapa aku, di tengah arus kehidupan yang tak pernah berhenti berubah. Pulang bukan hanya soal kembali ke tempat lahir, tetapi juga pulang ke diri sendiri guna menyusuri kembali jejak-jejak yang tertinggal, menimbang pengalaman yang menekan dada, dan menelisik rasa yang belum tuntas.

Seseorang datang, lalu hilang, seperti angin yang lewat di sela-sela pepohonan, meninggalkan aroma yang samar namun sulit dilupakan. Ingatan pada seseorang yang dulu menyentuh hatiku saat remaja, pada hati yang belum sempat kuselesaikan, kembali menari-nari di permukaan pikiran. Ada tanya yang tak terjawab, ada rindu yang tak bertepi, dan ada penyesalan yang lembut namun menekan. Semua itu bercampur dengan rasa lega karena akhirnya aku menapak tanah kampung, dan semua kenangan itu seakan menunggu untuk diurai perlahan.

Aku menyadari bahwa pulang bukan sekadar jarak yang ditempuh kaki, bukan sekadar malam yang dilewati bus, tetapi juga perjalanan batin. Setiap langkah menuju rumah adalah kesempatan untuk merenung, untuk menyadari bahwa hidup selalu membawa pertemuan dan perpisahan. Dan pertemuan itu, sekecil atau sesaat, meninggalkan jejak yang membentuk siapa aku sekarang. Sebagai jejak yang harus dihargai, disimpan, dan kadang diterima sebagai takdir.

Di ujung jalan raya kampung, lampu-lampu rumah menandai kehangatan yang menunggu. Bayangan pepohonan berlenggok perlahan oleh angin malam, seperti menyambut kedatangan yang lelah tapi tidak sepenuhnya payah. Aku menutup mata sejenak, membiarkan napas dan langkah berhenti sejenak, merasakan setiap detik sebagai bagian dari cerita yang belum berakhir. 

Pulang, aku tahu, adalah awal dari bab baru. Bukan pengulangan, tetapi kesempatan untuk menata diri, menatap hati, dan menyiapkan diri untuk semua kemungkinan yang akan datang. Inilah jalan menuju babak perjumpaan dan perjalanan baru. Dengan perlahan, aku mengambil pena, menyentuh kertas yang menunggu jejak tinta, untuk kembali menata cerita tentangnya, untuknya, sekaligus untuk diriku sendiri. 

Cerita ini bukan lagi sekadar kenangan, tetapi perwujudan masa lalu yang menjelma menjadi masa kini, tempat di mana aku bisa melihat, menilai, dan menyentuh kembali rasa yang sempat tercekat di dada. Setiap kata yang kutulis adalah napas baru. Sebuah upaya untuk menghadirkan gambaran yang lebih jelas, lebih hidup, dan lebih jujur tentang apa yang pernah ada dan masih tersisa.

Kepulanganku bukan sekadar fisik, tetapi juga perjalanan batin. Aku kembali menyaksikan kenangan itu dari sudut baru. Dari perspektif seorang yang kini menatap dunia dengan mata yang berbeda, lebih sadar, lebih siap menerima. Dari ruang perenungan yang hening, aku bersiap untuk melangkah keluar, membawa cerita ini ke perjumpaan dengan dunia baru yang lahir dari masa lalu, dari seseorang yang pernah mengisi ruang hati, dan dari peluang-peluang yang mungkin saja tersembunyi di balik dinding-dinding gelap waktu.

Cerita berikutnya aku tahu, akan mengantarkan langkahku ke arah yang tak sepenuhnya bisa kuatur. Ia akan menuntunku bertemu kembali dengan orang-orang, dengan pilihan-pilihan yang menunggu, dan dengan kemungkinan menemukan cahaya yang selama ini tersembunyi. Cahaya yang lembut, namun mampu menembus kelam dan memberi arah baru hidupku.

Namun, aku menulis bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk membuka jalan bagi diri yang lebih siap, yang lebih mampu menatap pertemuan-pertemuan, rindu, dan perjalanan hidup yang masih panjang di hadapan. Dan dengan itu, aku menutup malam ini dengan menarik napas panjang, membiarkan tinta serta kata menuntun langkahku. Untuk kisah berikutnya yang menanti di sebuah ruang di mana masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan akan bertemu. Di sanalah aku akan menapak lagi, dengan hati yang lebih lapang, dan mata yang lebih jernih.

Dengan perlahan kemudian aku kembali menata sebuah cerita tentang semuanya, tentang dia, untuk dia, dengan gambaran baru yang kupersiapkan bagi sebuah kepulangan. Kepulangan yang bukan sekadar peristiwa berpindah tempat, melainkan kesempatan untuk menyaksikan kenangan lama yang menjelma menjadi masa kini, berdiri di hadapanku dengan wajah yang tak sepenuhnya asing, namun juga tak lagi sama. Aku melangkah, meski hati masih berat, meski kenangan menempel rapat seperti embun di kaca jendela yang buram oleh dingin malam. Namun aku membawa keyakinan sederhana: bahwa aku akan terus menulis, terus berjalan, dan terus mencari makna di antara serpihan-serpihan kehidupan yang tersisa. Meski kadang tajam, kadang menyakitkan, tetapi tetap layak dirangkai menjadi cerita.

Kisah baru menunggu, dan aku bersiap menemuinya. Selangkah demi selangkah, napas demi napas, dalam perburuan makna yang tak selalu lapang jalannya. Sering kali ada halangan, sering pula aku tersandung oleh ingatan sendiri, oleh rasa ragu yang datang diam-diam. Tetapi perjalanan, sebagaimana hidup, tidak menunggu kesiapan sempurna. Ia hanya meminta keberanian untuk tetap melangkah, meski pelan, meski tertatih.

Dalam temaram malam kampung, kesalku masih tersisa, seperti asap tipis yang enggan sepenuhnya hilang meski angin malam berhembus dingin. Ingatanku kembali ke Cikatomas, pada saat aku dengan berat hati terpaksa turun, lebih tepatnya, diturunkan di sebuah simpang jalan yang asing dan sunyi, seakan sengaja dibiarkan jauh dari tujuan. 

Bagaimana aku tidak kesal, pikirku, ketika jarak masih panjang terbentang di depan, sementara janji kondektur di terminal Cilembang luruh begitu saja, tanpa penjelasan yang benar-benar bisa kuterima. Kesal itu bukan hanya tentang jarak yang tersisa, atau tubuh yang lelah, melainkan tentang rasa tak dihargai tentang kesepakatan yang patah di tengah jalan, dan perasaan kecil yang terpaksa kupikul sendirian di malam yang dingin. 

Namun di sanalah aku belajar, bahwa hidup kerap memaksa kita berhenti sebelum tujuan, menurunkan kita di persimpangan yang tak kita rencanakan, agar kita belajar berjalan sendiri, menimbang ulang arah, dan mendengarkan suara hati yang selama ini tertutup oleh bising perjalanan. Dan dari simpang sunyi itulah, cerita ini kembali bergerak. Dari sisa kesal yang perlahan menjadi renungan, dari langkah yang awalnya berat namun terus melaju. Sebab aku tahu, setiap perjalanan, sejauh atau sependek apa pun, selalu menyimpan makna dan misterinya, asal aku bersedia berhenti sejenak, menoleh ke dalam, lalu melanjutkan langkah dengan kesadaran yang lebih jernih.

Barangkali, kalau semua itu tidak terjadi, ingatan lama tak akan pernah menyeruak. Aku tak akan punya kesempatan menatap kembali bangku itu, meski hanya sekilas. Bangku yang dulu pernah menjadi saksi harap yang tumbuh diam-diam, harap yang tak sempat kutanya nasibnya, dan kini kembali menyentuh hatiku dengan cara yang tak terduga. Dari langkah yang kesal dan malas, dari kaki yang menapak aspal dingin, aku meninggalkan bus yang berhenti sebentar, seakan memberi jeda singkat sebelum benar-benar memaksaku turun dari arus perjalanan.

Bus itu berhenti dengan dengusan pendek. Sopir dan kondektur, dengan nada yang terdengar ringan namun tak memberi ruang tawar, menyuruh kami turun.

“Sudah malam,” katanya singkat. “Bus mau masuk garasi di Cikatomas.”

Tak ada kalimat lanjutan, tak ada penjelasan yang menenangkan. Hanya perintah yang harus diterima.

Aku adalah satu dari empat penumpang yang dipaksa turun di tempat yang bukan semestinya. Sepuluh kilometer lagi menuju terminal Cibantar, tujuan akhir yang sedari tadi kupegang sebagai janji sebelum naik di di terminal Cilembang. Bus trayek Tasik–Tawang itu seharusnya berhenti di sana. Tetapi malam rupanya punya kehendaknya sendiri. Ia menuntut bus itu pulang lebih cepat, meninggalkan kami di simpang yang asing, seolah berkata bahwa perjalanan manusia tak selalu selesai sesuai rencana.

Meneduhkan suasana kupandangi sekitar alun-alun Cikatomas dengan ragu. Lampu-lampu tampak redup, cahaya kuningnya memantul di aspal basah, menciptakan bayangan yang tak jelas ujungnya. Aku menimbang-nimbang, memilih tempat menunggu bus berikutnya, seperti memilih sikap hidup di persimpangan yang tak pernah kupelajari sebelumnya. Akhirnya aku berdiri di pojok sepi, di depan sebuah toko yang sudah tutup, pintunya terkunci rapat, etalasenya gelap, seperti sengaja menyimpan cerita-cerita lama di balik kaca yang berdebu.

Sunyi merayap perlahan. Hanya suara daun kering yang terseret angin malam, berdesis pelan, seakan berbisik tentang waktu yang telah berlalu. Dalam keheningan itu, kepalaku dipenuhi kilatan-kilatan masa lalu pada tempat-tempat yang pernah akrab di masa sekolah, jalan-jalan yang dulu kulalui tanpa beban, dan bangku-bangku yang pernah menjadi saksi pertemuan, tawa, juga harap yang tak pernah sempat kutuntaskan.

Di sanalah aku berdiri, di antara kesal yang belum sepenuhnya padam dan kenangan yang tiba-tiba hidup kembali. Seakan perjalanan ini memang harus dipatahkan di tengah jalan, agar aku dipaksa berhenti, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa hidup sering kali membawa kita pulang bukan melalui tujuan akhir, melainkan lewat ingatan yang lama terkubur, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk hati.

Namun lamunan itu segera tergerus oleh kenyataan. Tak lama kemudian, seorang tukang ojek datang menghampiri, menawarkan boncengan dengan suara yang terdengar akrab bagi malam-malam seperti ini. Kutolak tawarannya dengan gerakan halus, hampir seperti isyarat permintaan maaf, sambil menepi lebih rapat ke dinding toko yang telah lama menutup pintunya. Aku sedang ingin sendiri, memberi diriku ruang untuk memperhatikan sekeliling, menelaah perubahan kampung yang telah lama tak kusaksikan, membaca ulang wajah-wajah jalan yang kini tampak lebih sempit, lebih sunyi, dan lebih tua dari ingatanku.

Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya redup, menggantungkan bayangan panjang di aspal yang dingin. Jalan-jalan sepi itu seperti menyimpan cerita yang tak lagi diucapkan, hanya ditunjukkan lewat kerlip cahaya yang gemetar dan desir angin yang lewat perlahan. Aku berdiri di sana, setengah hadir di masa kini, setengah terjebak dalam kenangan yang belum selesai.

Lama kemudian, tiba-tiba saja seorang lelaki muncul dari arah yang sama. Awalnya kupikir ia tukang ojek lain yang datang mengulangi tawaran yang sama. Namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya tenang, sorotnya tak tergesa, sikapnya bersahabat, dan tidak seperti mereka yang diburu waktu dan uang di malam hari. Kehadirannya terasa lebih manusiawi, seakan ia datang bukan sekadar untuk mencari penumpang, tetapi juga untuk menyapa.

Aku memanggilnya, menanyakan tarif menuju Cibantar. Meski sebenarnya aku enggan menggunakan jasa ojek, aku tetap merespons kedatangannya, barangkali sekadar untuk mengisi kekosongan waktu yang terasa panjang. Ia menjawab dengan suara datar, ongkosnya dua puluh lima ribu rupiah. Angka itu melayang di udara malam, bercampur dengan percakapan ringan tentang bus yang tak kunjung datang.

Sementara itu, bus masih belum tampak. Yang terdengar hanya dengung mesin kendaraan dari kejauhan, samar dan berulang, seperti denyut malam yang terus bergerak tanpa peduli pada penantianku. Aku kembali menatap jalan, menimbang pilihan, sambil menyadari bahwa di persimpangan seperti ini, antara menunggu dan melangkah, hidup sering kali memaksa kita mengambil keputusan kecil yang diam-diam menentukan arah perjalanan selanjutnya.

Dan benar saja, sesaat menuju kesepakatan, terdengar deru yang kian mendekat dari arah kanan. Muncul sebuah bus tujuan Sindangsari, melintas, yang pasti akan melewati Cibantar. Aku menatapnya, hati bergetar, lega dan waspada sekaligus. Malam masih panjang, jalan masih jauh, dan aku masih harus menapaki setiap detik perjalanan ini sendiri, namun tak pernah benar-benar sendiri. Karena pikiran dan langkahku kini telah menempel pada ritme dunia yang bergerak, penuh kemungkinan, dan tentu saja, penuh cerita.

Aku menatap bus Sindangsari yang melintas, mesin dan lampunya menandai harapan kecil di tengah gelap malam. Hati berdebar, antara lega dan waspada. Aku menimbang: tunggu bus lain yang lebih pasti harganya, atau naik bus ini, meski tak sepenuhnya sesuai harga yang kuinginkan. Dalam benakku, langkah-langkah terasa lambat, meski kaki telah siap menapak, seolah malam menahan napas dan menunggu pilihanku.

Tukang ojek itu masih berdiri di dekatku, menunggu keputusan. Matanya tak memaksa, hanya menunggu. Aku menatapnya, diam beberapa saat, lalu mengangkat tangan memberi isyarat agar ia menepi. Tak ada kata, hanya gerakan. Tapi di balik kesunyian itu, aku menangkap rasa manusiawi yang jarang muncul di malam yang hampa ini. Sebuah kehadiran yang tak mengganggu, hanya hadir, seperti bayangan samar di tepi lampu jalan.

Akhirnya, aku memutuskan naik bus Sindangsari. Langkahku berat, tapi pikiran melayang, menerawang semua kemungkinan. Saat menapaki anak tangga bus, udara malam menyentuh wajahku seperti bisikan, dingin dan lembut, membawa aroma aspal basah dan kayu tua dari kios-kios yang tutup. Bus bergetar saat mesin dinyalakan, lampu merah dan kuning memercikkan bayangan di dinding toko. Aku mengambil tempat di dekat jendela, menatap jalan yang membentang panjang, sepi, dan seakan menunggu cerita lain.

Di dalam bus, suara mesin bergemuruh, kursi berderit, penumpang lainnya terlelap atau menunduk dalam kantuknya. Aku diam, membiarkan pikiran melayang. Terbayang kembali nasihat ayahku tentang sabar dan tawakkal, seperti dua roda mesin yang menuntun hidupku meski segala sesuatunya tampak berat. Aku tersenyum kecil, walau lelah masih terasa, dan kesal yang semula menggerogoti mulai memudar, tergantikan rasa penantian yang hening namun nyata.

Lampu-lampu jalan berganti, bayangan pepohonan menari di dinding bus. Aku merasa seperti menapak dalam mimpi, di antara kenyataan dan refleksi. Setiap tikungan jalan seperti mengingatkan aku bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang bagaimana aku menempuhnya. Dengan kesabaran, kewaspadaan, dan sedikit keberanian untuk menyerahkan diri pada arus yang tak selalu ramah dalam perjalanannya.

Dan ketika bus mulai melaju meninggalkan Cikatomas, hati ini, meski masih penuh rasa, merasakan getaran kecil kebebasan. Bukan kebebasan mutlak, tetapi kebebasan dalam memilih langkah, kebebasan dalam menghadapi malam, kebebasan untuk tetap hidup, dan tetap menapaki cerita yang tak akan berhenti sampai aku menutup kisah terakhir nanti.

Senanglah aku, akhirnya. Marahku kepada sopir dan kondektur bus sebelumnya perlahan mereda, tertahan oleh rasa lega saat aku menapak di terminal Cibantar. Tujuan akhirnya kini hanya beberapa langkah lagi, cukup untuk kulalui dengan kaki sendiri, seperti biasa ketika pulang ke kampung halaman. Meski aku harus menunggu dua jam lebih lama, akibat diturunkan paksa di tempat sebelum tujuan, rasa kesal itu masih tersisa, seperti arang yang tak padam sepenuhnya.

Sebagai cara membunuh kesalku pada kondektur bus TKM, kutulis saja marah meriahnya di catatan ini. Aku harus sadar bahwa marah, sekecil atau sebesar apapun, pasti akan kembali menimpa diriku sendiri. Suatu saat, hukum kausalitas akan bekerja, dan apa yang kulontarkan, entah berupa amarah atau kemarahan kecil, pasti beresonansi, kembali menyerang atau mengguncang, menimbulkan efek yang menggetarkan. 

Ini hukum alam, dan aku belajar, menahan kemarahan adalah bagian dari seni hidup yang belum sepenuhnya kuuasai. Bila kupikir sekali lagi, bisa saja kondektur itu berkata, “Silakan berjalan kaki dari Cilembang ke kampungmu,” seperti yang mungkin dilakukan moyangku dulu. Semestinya, berapapun ongkos yang diminta, kita harus siap membayar. Tapi karena namanya jual beli tentu ada tawar-menawar. Aku hanya tersentak pada prinsip sederhana: jangan menyimpang dari kesepakatan awal. Jangan jauh dari kebiasaan dan keumuman. Dan di sanalah aku belajar mencari alasan untuk meredakan kemarahan sendiri, menundukkan ego yang menendang di dada.

Bayangkan, jika aku harus berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer itu. Berkat terobosan manusia dalam menciptakan alat transportasi, perjalanan dari rumah kakakku menuju terminal Guntur, dilanjutkan ke terminal Cilembang di Tasikmalaya, hingga sampai di kampungku di Tasik Selatan, kini cukup ditempuh enam jam saja. Dulu, perjalanan serupa memakan waktu berhari-hari, melelahkan, bahkan berbahaya. Teknologi, produk dari keilmuan sekuler, telah memangkas jarak, mempercepat waktu, dan memberi manusia ruang bernapas lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.

Jika produk sekuler sudah bermanfaat sedemikian rupa, pikirku, bagaimana jika ilmu dan teknologi itu diorientasikan dari perspektif Islam? Islam mengajarkan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Bukankah ilmu, jika terus dikembangkan dengan dasar dan niat yang benar, akan menghasilkan terapan yang mulus, bermanfaat, dan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan alam semesta? Aku memandang hal ini sebagai tantangan: aku harus menciptakan sesuatu yang nyata bermanfaat bagi manusia dan alam.

Bidang kuliahku, manajemen, keuangan, dan syariah, adalah ladang yang menuntutku menumbuhkan kapasitas, bukan sekadar menuntaskan angka dan teori. Aku ingin menghasilkan produk keuangan yang benar-benar berguna. Maka kuliahku harus rampung, ilmu keuanganku harus matang, agar setiap karya yang dihasilkan dapat memberi arti. Demikian dalam perjalanan hidup aku belajar, jangan menyerah pada rintangan, jangan larut dalam keluhan, dan jangan biarkan kemarahan kecil menguasai diri.

Kenapa kemarahan itu bisa bertahan sampai tiga hari berturut-turut? Hanya karena masalah sepele. Sebab ongkos sedikit lebih mahal dan bus tak berhenti di tujuan yang sudah disepakati. Tapi dalam kemarahan itu, aku belajar sewaktu masih di terminal Cilembang, aku sudah memastikan kepada kondektur TKM apakah bus akan sampai Cibantar. Ia mengiyakan, menegaskan bahwa aku bisa sampai tujuan dengan aman. Namun ketika sampai Cikatomas, aku dipaksa turun dengan alasan bus rusak dan harus masuk garasi. Malam itu terasa panjang, kaki lelah, hati panas, dan kesal bercampur dengan rasa tak berdaya.

Aku terpaksa menelan amarah itu, menapaki sisa perjalanan sendiri, sambil belajar bahwa hidup tak selalu adil, kesepakatan bisa berubah, dan manusia harus pandai mencari celah untuk tetap bertahan. Baik dalam perjalanan fisik maupun perjalanan hidup yang lebih luas.

Seringkali aku dibuat marah hanya karena ongkos yang kemahalan, atau karena dipaksa turun sebelum sampai tujuan. Aku mendumel dalam hati, menyimpan rasa kesal yang berisik, meski tetap harus menyerahkan uang sebagaimana kehendak kondektur. 

Banyak argumen yang kupasangkan, tetap saja aku harus membayar. Seperti kemarin, ketika aku pulang dari Cibiru ke Leles, ongkosnya sepuluh ribu, sangat kemahalan bagi orang kere sepertiku. Kata orang-orang, ongkos normalnya lima ribu, karena jaraknya lebih dekat. Tapi kondektur bersikeras; baginya, sepuluh ribu adalah harga yang wajar.

Pikirku, jarak delapan kilometer tak sama dengan sepuluh kilometer, BBM yang tersedot pun berbeda. Dulu, pulangnya aku cuma membayar tiga ribu, dan aku tak membawa apa-apa. Sekarang, ruang dan waktu berbeda, beban berbeda, tanggung jawab berbeda. Membawa lemari plastik yang kupikul itu merepotkan kondektur, harus diangkat, diturunkan, dan diurus. Semua itu menuntut energi dan kesabaran. Maka, biarlah, aku merelakan ongkos itu sebagai harga berpindahnya lemari, harga kecil untuk melintasi jarak dan malam yang sunyi.

Bayangkan, siapa yang bersedia berjalan kaki dari Leles ke Cibiru hanya dengan sepuluh ribu? Jadi, meski terasa mahal bagi sebagian orang, aku belajar menghargai usaha mereka. Mereka mencari nafkah, memenuhi tanggungan keluarga, memberi makan anak dan istrinya, sementara aku, di sisi lain, hanya memikirkan diriku sendiri. Di sinilah aku menyadari, paradigma hidupku harus berubah. Memberi bukan sekadar formalitas, tetapi harus menjadi kebiasaan, sebagai budaya yang menebar kebaikan tanpa menuntut balasan segera.

Menawar itu wajar, tentu saja. Itu bagian dari hidup. Tapi hati harus tetap nyaman. Jangan mengotot untuk menang sendiri, jangan biarkan ego menutup rasa. Saat membayar ongkos, meski sedikit lebih banyak dari yang semestinya. Aku belajar melakukan Ihsan—memberi melebihi yang seharusnya, sebagai wujud kebaikan yang tulus. Ihsan, pikirku, adalah pokok menuju keselamatan. Ia bukan sekadar angka, bukan sekadar formalitas, tetapi gerakan hati yang menebarkan kebaikan, meski tak tahu kapan atau di mana ia kembali padaku.

Dengan memberi, aku membangun kepribadian yang lapang, yang mampu menebar manfaat bagi segenap makhluk. Seperti melempar batu ke udara, tak tahu pasti di tanah mana ia mendarat, tapi yakin bahwa sesuatu akan tumbuh atau bergerak karenanya. Aku belajar bahwa memberi sebanyak-banyaknya adalah bekal, sekaligus permenungan dalam perjalanan pulang. Bukan hanya menuju kampung halaman, tetapi juga menuju pulang yang sebenarnya: pulang ke diri sendiri, ke kesadaran, dan ke kebaikan yang abadi.

Aku menatap jalan kampung yang mulai sepi, langkah kaki yang menapak tanah basah membawa ketenangan tersendiri. Malam yang gelap dan hening seakan menelan semua kemarahan yang tersisa, menyisakan rasa lega yang samar tapi nyata. Angin dingin yang berhembus melalui pepohonan menjadi pengingat bahwa hidup selalu bergerak. Meski terkadang dipenuhi kesal, penundaan, atau ketidaksempurnaan.

Sepanjang perjalanan terakhir menuju rumah, aku membiarkan diri terhanyut dalam perenungan. Kesal, marah, dan keberatan yang semula membara kini perlahan menjadi bahan renungan. Aku menyadari bahwa setiap perjalanan, sekecil apapun, adalah pelajaran: tentang kesabaran, tentang memberi tanpa syarat, dan tentang menghargai usaha orang lain. Seperti lembar demi lembar catatan yang kusediakan, setiap langkah malam ini tersimpan sebagai pengalaman yang akan kuingat, sebagai bagian dari cerita hidupku yang tak akan pernah sama.

Aku tersenyum sendiri saat melewati jalan sempit yang dulu kubenci karena gelap dan berdebu. Kini, jalan itu terasa akrab, penuh bayangan yang menari, mengingatkan aku bahwa rumah adalah titik akhir dari perjalanan fisik, tetapi awal dari perjalanan batin yang lebih panjang. Aku membawa semua pengalaman malam ini sebagai bekal: marah yang diredakan, kesal yang diubah menjadi kesadaran, dan keteguhan untuk tetap memberi, walau tak ada yang menuntut.

Sesampainya di depan rumah, aku menarik napas panjang. Lampu yang menyorot jendela kecil menandai kehangatan yang menunggu di dalam. Tempat di mana tubuh lelah dapat beristirahat, dan pikiran yang penat dapat menata ulang cerita-cerita yang terlewat di sepanjang jalan. Saat terbuka pintu perlahan, membiarkan malam mengucap selamat tinggal, sementara aku melangkah masuk, menutup bab malam ini, menyimpan segala pengalaman sebagai bekal untuk kisah berikutnya.

Dan di sanalah aku berdiri, di ambang lembar baru, siap menapaki hari-hari yang akan datang. Kisah berikutnya menunggu, bukan sebagai pengulangan, tetapi sebagai perjalanan baru yang penuh pilihan, pertemuan, dan kemungkinan yang menantang sekaligus mengajarkan. Aku siap, meski langkah belum pasti, karena setiap langkah adalah bagian dari hidup, dan setiap cerita yang tersisa akan kutulis dengan jujur, lirih, dan terus membawa napas baru. (Bersambung)

Perspektif

Scroll