Tidak ada bunyi apa pun yang benar-benar berubah pada hari ketika Sanjaya mengetahui Riana telah menikah. Matahari tetap terbit dari ufuk timur dengan cahaya yang sama, sementara burung-burung melintas di atas pepohonan kampus sambil memecah langit pagi dengan kicauan yang ringan. Pedagang kaki lima tetap menggelar tikar lusuh di sudut jalan di bawah pohon rindang halaman universitas, dan angin masih menggerakkan daun-daun mahoni yang berderak lirih bagai halaman-halaman buku tua yang dibuka oleh waktu. Dunia seolah berjalan sebagaimana mestinya. Berjalan tenang, biasa, bahkan nyaris acuh.
Namun di dalam diri Sanjaya, sebuah musim diam-diam telah berganti. Musim itu tidak membawa hujan yang bisa dilihat mata, tidak pula kemarau yang mengeringkan tanah. Musim itu turun tepat di dalam dadanya, mengubah ruang yang dahulu dipenuhi harapan menjadi sebuah taman yang kehilangan bunga-bunganya. Tidak ada yang runtuh secara kasatmata, tetapi setiap sudut hatinya perlahan menjelma rumah yang ditinggalkan para penghuninya. Sunyi memasuki ruangan demi ruangan, lalu duduk menetap di sana tanpa pernah berniat pergi.
Ia tidak menangis. Sebab air mata, bagi Sanjaya, telah lama kehilangan kebiasaannya yang mengalir ke muara. Sejak kecil, hidup mengajarinya bahwa tidak semua luka harus diberi kesempatan untuk ditangisi. Luka demi luka dalam hidupnya terkadang hanya perlu dipikul, dipeluk diam-diam, lalu dibawa berjalan sampai tubuh belajar berdamai dengan beratnya sendiri. Terlebih ketika kabar itu benar-benar nyata, bahwa perempuan yang selama ini ia cintai telah menjadi istri orang lain, yang berubah bukanlah wajahnya, melainkan cara ia memandang dunia.
Karena pengalaman dan guncangan itu membuat tatapan Sanjaya menjadi jauh lebih lama, lebih dalam, dan lebih kelam melihat segala sesuatu yang berdenyut di muka bumi. Mungkin itulah bentuk kejutan paling sunyi ketika harapan cinta tak lagi bisa digenggam. Sebab hidup, bila sudah tak punya pegangan harapan, lalu apa yang tersisa dari diri seseorang? Sesudahnya ia seolah tengah mencari sesuatu yang sebenarnya sudah tidak mungkin ditemukan.
Malam-malam setelahnya menjadi jauh lebih panjang dari biasanya. Di kamar kosnya yang sempit, sebuah ruang sederhana dengan dinding kusam yang mulai mengelupas di beberapa bagian, Sanjaya duduk sendirian di depan meja kayu tua yang salah satu kakinya disangga tumpukan buku agar tidak bergoyang. Lampu belajar berwarna kekuningan memancarkan cahaya redup yang jatuh di atas buku-buku bersampul lusuh. Aroma kertas tua bercampur dengan bau tinta, kayu lembap, dan embusan angin malam yang masuk melalui jendela yang tidak pernah tertutup rapat. Dari luar terdengar sesekali suara kendaraan melintas di jalan desa di kaki bukit Manglayang, bersanding dengan desir dedaunan yang saling bergesekan diterpa angin. Semua bunyi itu bagai penjaga yang memastikan agar kesunyian tidak benar-benar mati.
Di atas meja tergeletak sebuah buku catatan yang hampir penuh. Tangannya kemudian meraih pena. Ia masih ingin terus menulis sampai dirinya benar-benar menyerah untuk berhenti untuk menumpahkan apa saja tanpa merasa perlu menghapus satu kalimat pun.
Ia menulis, berhenti, lalu menulis lagi, sampai akhirnya kegiatan menulis itu benar-benar usai untuk hari itu. Begitulah berjam-jam berlalu dalam tiap malam yang panjang. Kata-kata mengalir begitu saja, seakan harus ditarik keluar dari dasar sumur jiwa yang sangat dalam. Setiap kalimat membawa serpihan kenangan, dan setiap paragraf mengandung napas yang terasa berat. Sanjaya sadar ia tidak sedang menulis sebuah cerita, melainkan sedang memindahkan beban dari dadanya ke atas lembaran-lembaran kertas, berharap kertas-kertas itu cukup kuat menanggung apa yang tidak lagi sanggup dipikul oleh hatinya.
Baginya, menulis telah berubah menjadi bentuk lain dari bertahan hidup. Bukan karena tulisan mampu menghapus kehilangan—tidak, kehilangan tidak pernah benar-benar bisa dihapus, ia hanya berganti bentuk. Kadang ia menjadi kenangan yang datang bersama aroma hujan, kadang menjadi nama yang tiba-tiba muncul ketika melihat langit senja, atau kadang menjadi lagu lama yang tanpa sengaja terdengar dari radio warung kopi.
Luka yang lahir dari cinta tidak mengenal pintu keluar. Hanya ia belajar tinggal lebih tenang di dalam hati yang perlahan menjadi dewasa. Sanjaya memahami itu. Karena itulah ia tidak lagi berusaha melawan ingatan. Ia hanya belajar agar ingatan tersebut tidak lagi menguasai seluruh sisa hidupnya.
Jam dinding tua menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan udara mulai terasa dingin. Uap tipis mengepul tipis dari cangkir kopi hitam yang sejak tadi dibiarkan tanpa disentuh. Rasanya telah berubah pahit dan dingin, tetapi aromanya masih memenuhi ruangan. Sanjaya mengangkat cangkir itu, menyesapnya perlahan, lalu memandang ke luar jendela.
Malam semakin larut, menarik segala keriuhan dunia ke dalam keheningan yang paling pekat. Sanjaya membuka jendela kamarnya lebar-lebar, membiarkan embusan angin malam menyentuh wajahnya yang letih. Di luar sana, bentangan alam seolah ikut merayakan kesunyiannya. Tatapannya kemudian terarah ke atas, menembus kegelapan malam yang pekat. Tampak olehnya langit begitu bersih tanpa selembar pun awan, mengingatkannya bahwa segala ganjalan di hati juga harus dibersihkan hingga tersisa kejujuran yang murni. Bintang-bintang bertebaran di kanvas malam bagai ribuan doa yang tidak pernah selesai diucapkan, berpendar konstan untuk membasuh luka-luka kenangan yang masih meninggalkan nyeri di dadanya.
Keindahan malam itu membuat rasa sepi di dalam kamarnya terasa semakin nyata. Bayangan Riana, kenangan-kenangan kecil yang tertanam di setiap sudut hatinya, dan janji-janji yang kini tinggal serpihan, berkelebat silih berganti di kepalanya. Pertanyaan yang selama ini tertahan di tenggorokan akhirnya terlepas begitu saja dari bibirnya yang kelu.
"Apa cinta memang harus berakhir seperti ini?" bisiknya kepada langit, suaranya melebur bersama desau angin yang dingin.
Tidak ada jawaban yang turun dari megahnya angkasa, selain detak jam dinding kamar yang terus berdetik monoton, menghitung detik-detik patah hati yang harus ia lewati seorang diri. Hanya desau angin yang perlahan meniup tirai lusuh di sisi jendela hingga bergerak pelan, menyerupai tangan tak terlihat yang tengah mengusap bahunya, mencoba memberikan kehangatan di tengah malam yang kian membeku.
Sanjaya tersenyum kecil. Senyum yang lebih menyerupai penerimaan daripada sebuah kebahagiaan sebagai persiapan untuk menyambut keesokan paginya, tatkala kehidupan kampus kembali menyambutnya dengan segala keramaiannya. Ia membayangkan kembali menatap mahasiswa yang berlalu-lalang membawa tas dan buku, bersama tawa yang memantul di lorong-lorong fakultas, kantin yang dipenuhi antrean, atau di tengah asap gorengan yang mengepul bersama aroma kopi dan mi rebus yang bercampur menjadi bau khas kehidupan mahasiswa.
Di bawah pohon-pohon rindang—tempat yang lebih dikenal sebagai DPR di halaman belakang kampus, menjadi lokus kelompok-kelompok diskusi yang berkumpul untuk memperdebatkan politik, sastra, ekonomi, hingga sepak bola dengan semangat yang seolah mampu mengubah dunia. Di tengah semua keramaian itu, Sanjaya berjalan pelan. Tas lusuh menggantung di bahunya, dengan beberapa buku filsafat menjulur dari dalamnya, seakan ikut menemani langkahnya yang terasa berat.
Tentu saja ia tidak mencari wajah Riana di setiap sudut kampus. Sebab ia tahu, pencarian semacam itu telah usai dan yang tersisa kini hanyalah kebiasaannya menoleh tanpa alasan, sebelum akhirnya tersadar bahwa ia harus menjalani hidup dengan cara yang berbeda, meski lamunannya kerap terganggu oleh panggilan dari seseorang.
Langkah Sanjaya terhenti di dekat pelataran parkir, di mana deretan sepeda motor terparkir rapi di bawah naungan pohon angsana yang daunnya mulai menguning. Pikirannya melayang jauh, menerawang pada tumpukan tugas akhir dan lembaran catatan kuliah yang belum sempat ia sentuh. Ia seolah terisolasi dalam dunianya sendiri, terperangkap di antara bisingnya lalu-lalang mahasiswa yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Jaya..." Sampai akhirnya suara seseorang memanggilnya dari belakang, memecah lamunan panjang yang sejak tadi mengurungnya. Sanjaya seketika tersentak dari dunianya yang sunyi, lalu ia menoleh cepat ke kanan dan ke kiri untuk mencari arah sumber suara tersebut.
Mada, sahabat setianya sejak semester pertama perkuliahan, tampak berjalan cepat membelah kerumunan mahasiswa menghampirinya. Napas Mada sedikit terengah, seolah ia baru saja berlari mengejar langkah Sanjaya yang sejak tadi berjalan tanpa arah tujuan yang pasti.
Begitu sampai di hadapannya, Mada menghentikan langkah dan mengamati perawakan sahabatnya itu dengan saksama. Ada sorot kekhawatiran yang tersirat di balik mata lelaki itu.
"Kau kelihatan makin kurus," ucap Mada dengan nada prihatin, yang langsung disambut Sanjaya dengan seulas senyuman tipis yang terasa dipaksakan di sudut bibirnya.
Sanjaya mencoba menepis kecemasan sahabatnya itu dengan nada suara yang sengaja dibuat selicin mungkin. "Mungkin pikiranku makan terlalu banyak," jawab Sanjaya mencoba jujur di balik kelakarnya yang pahit.
Mada tertawa pendek mendengar jawaban itu, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan rasa iba. Tanpa basa-basi lagi, lelaki itu langsung menembus inti persoalan yang selama ini menjadi rahasia umum di antara mereka. Ia bertanya dengan nada menyelidik yang penuh kehati-hatian, “Masih memikirkan dia?”
Sanjaya terdiam cukup lama. Pertanyaan itu melayang begitu saja, namun terasa seperti batu kecil yang jatuh ke dasar telaga, menyebarkan riak yang melebar ke mana-mana. Ia memandang halaman kampus yang dipenuhi daun-daun kering, lalu berkata pelan, "Kalau seseorang pernah menjadi rumah bagi hatimu, kau tidak bisa begitu saja melupakan alamatnya."
Pertanyaan itu melayang di udara, tertahan di antara riuhnya suara mahasiswa yang lalu-lalang di koridor fakultas. Bagi Mada, kalimat tersebut adalah bentuk kepedulian seorang sahabat yang tidak sampai hati melihat Sanjaya terus-menerus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang menyiksa. Ia ingin menarik Sanjaya keluar dari lorong kenangan yang kelam itu, meskipun ia tahu usahanya seperti meraba angin.
Mada menghela napas panjang, meresapi keheningan singkat yang tercipta di antara mereka berdua sebelum kembali melontarkan kalimat yang menohok. "Tapi bagaimana kalau rumah itu sekarang sudah dihuni orang lain?"
Sanjaya terdiam sesaat. Kalimat itu bagai hantaman telak yang langsung menghujam ulu hatinya, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang tidak bisa ia ubah dengan doa maupun air mata. Namun tidak ada keterkejutan di wajahnya, sebab ia telah lama bergulat dengan kenyataan tersebut di kamar kosnya yang sempit.
Sanjaya mengangguk pelan, gerakannya menyiratkan kepasrahan yang teramat dalam.
"Aku tahu," jawabnya lirih, hampir tak terdengar di antara bisingnya suara langkah kaki di sekeliling mereka.
Mada menatapnya lekat-lekat, menuntut kejelasan lebih jauh dari ketegaran semu yang ditunjukkan sahabatnya itu. "Lalu?"
Sanjaya menoleh sekilas ke arah Mada, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke hamparan halaman kampus yang luas. Tampak ketenangan baru yang terpancar dari sorot matanya, ketenangan yang lahir dari puing-puing keputusasaan yang telah selesai diratapi.
"Lalu tugasku bukan mengetuk pintunya lagi," jawab Sanjaya dengan suara yang tenang namun mantap.
Ia berhenti sejenak, membiarkan angin siang menyibak rambutnya, lalu menatap lurus ke depan, menembus cakrawala kampus yang membentang di bawah langit senja yang mulai jingga.
"Tugasku adalah belajar membangun rumah di dalam diriku sendiri."
Mada tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk pelan bahu sahabatnya, sebab ia mengerti bahwa terkadang persahabatan tidak membutuhkan nasihat yang panjang. Kehadiran seseorang yang memilih diam sering kali jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kalimat yang dipaksakan terdengar bijaksana.
Sejak hari itu, Sanjaya mulai mengurangi kebiasaannya berlama-lama di tempat-tempat yang bisa membawa ingatannya melayang jauh kepada Riana. Ia memilih perpustakaan untuk mengontemplasikan pikiran-pikirannya. Di ruang yang selalu berbau kertas, debu, kayu tua, dan kesunyian, ia merasa menemukan kedamaian. Bau itu mungkin bagi sebagian orang terasa membosankan, tetapi bagi Sanjaya justru menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di sela-sela rak buku yang menjulang tinggi, ia merasa dunia bergerak lebih lambat. Tidak ada yang memaksanya tersenyum, tidak ada yang menanyakan kabarnya hanya demi basa-basi, dan buku-buku tidak pernah mendesaknya untuk segera sembuh. Mereka hanya diam dengan diam yang penuh pengertian.
Ia duduk di sudut ruangan yang paling sepi, membuka buku, lalu kembali menulis guna mengikat makna dari segala pikirannya, baik yang murni muncul dari kedalaman jiwanya maupun yang bersumber dari referensi buku-buku yang dibacanya.
Pada halaman pertama buku hariannya siang itu, ia hanya menuliskan satu kalimat:
"Aku tidak sedang kehilangan seseorang. Aku sedang belajar menemukan diriku sendiri yang mungkin selama ini terlalu lama kutitipkan kepada orang lain."
Ia memandangi kalimat itu cukup lama, kemudian menutup buku catatan hariannya perlahan untuk kembali fokus pada bacaannya. Sesekali pandangannya terarah ke luar melalui celah jendela, melihat daun-daun yang bergoyang karena angin siang menggerakkan dedaunan yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Ia menatap langit yang tampak begitu luas, seolah menyediakan ruang tak berbatas bagi siapa saja yang masih bersedia melangkah untuk mengubah hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kabar pernikahan Riana sampai kepadanya, Sanjaya menarik napas panjang tanpa merasa dadanya sesak. Mungkin ia belum benar-benar sembuh. Barangkali luka itu masih akan tinggal sangat lama. Tetapi jauh di dasar hatinya, ada setitik keyakinan yang mulai tumbuh bagai benih kecil yang diam-diam memecahkan kulit tanah setelah berhari-hari diguyur hujan.
Ia mulai mengerti bahwa hidup tidak pernah meminta manusia melupakan masa lalunya. Hidup hanya meminta manusia terus berjalan, meskipun bayangan masa lalu masih setia mengikuti setiap langkahnya.
Hari-hari semacam itu, dengan kebiasaan baru Sanjaya, berjalan dan perlahan mengubah hidupnya hampir tanpa suara. Tentu tidak ada peristiwa besar yang mengubah hidup Sanjaya dalam sekejap, yang berubah hanyalah cara ia menjalani setiap pagi. Ia membangun kebiasaan barunya dengan bangun lebih awal sebelum azan subuh berkumandang, ketika langit masih berwarna kelabu kebiruan dan udara membawa aroma embun yang menempel pada rerumputan di halaman kampus.
Dalam kesunyian yang belum disentuh hiruk-pikuk manusia, ia merasa dunia sedang berada pada wujudnya yang paling jujur. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada penilaian. Yang ada hanya langit, angin, dan seorang lelaki muda yang masih berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan dirinya.
Sesudah salat, ia tidak segera tidur lagi sebagaimana kebanyakan penghuni rumah kos. Ia duduk di dekat jendela dengan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma pahit. Di hadapannya terbentang sebuah buku yang semalam belum selesai dibaca, yang kadang pilihan bukunya adalah karya filsafat, kadang novel, kadang pula kitab tasawuf yang bahasanya terasa berat yang menenangkan. Halaman demi halaman dibacanya perlahan, bukan untuk mengejar jumlah buku yang selesai, melainkan untuk membiarkan setiap kalimat meresap ke dalam pikirannya seperti hujan yang perlahan menyusup ke tanah kering, hingga akhirnya menemukan akar-akar yang selama ini kehausan.
Semakin banyak ia membaca, semakin ia menyadari bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah selesai mengenali kedalaman dirinya sendiri. Hati adalah ruang yang teramat luas dan jauh lebih luas daripada samudra yang dipenuhi ombak mengamuk, dan jauh lebih dalam daripada jurang yang dasarnya diselimuti kabut pekat. Di dalam labirin hati itu, cinta dan kehilangan duduk berdampingan secara senyap, bagaikan dua musafir lelah yang kebetulan memilih beristirahat di bawah pohon yang sama. Mereka saling diam tanpa menyapa, tetapi keberadaan masing-masing secara perlahan mengubah jalan hidup seseorang untuk selamanya.
Perpustakaan Universitas Bangsa Nusantara telah bertransformasi menjadi tempat perlindungan yang paling sering dikunjunginya. Gedung tua peninggalan masa kolonial itu, dengan segala aroma khasnya, selalu berhasil membangkitkan rasa pulang bagi Sanjaya. Di sana ia bisa menghirup bau kertas yang mulai menguning oleh usia, meresapi aroma kayu rak buku yang telah menyerap denyut waktu selama puluhan tahun, serta menyaksikan debu-debu halus menari-nari dalam sorot seberkas cahaya matahari yang menembus jendela-jendela kaca tinggi dan jatuh membentuk garis-garis keemasan di atas lantai tegel yang dingin ketika sebuah buku tebal ditarik dari tempatnya.
Semuanya memancarkan ketenangan absolut yang mustahil dijelaskan dengan deretan kata biasa. Bagi Sanjaya, perpustakaan tidak pernah sekadar berfungsi sebagai gudang penyimpanan buku, melainkan sebuah ruang sakral di mana ribuan pikiran manusia dari berbagai abad saling berbisik lintas zaman tanpa perlu saling meninggikan suara.
Di sudut ruangan paling sepi, tersempit, dan jauh dari lalu-lalang pengunjung, ia hampir selalu menempati meja kayu yang sama. Para petugas perpustakaan perlahan mulai akrab dan hafal di luar kepala dengan kebiasaan pemuda itu.
Sore itu, ketika Sanjaya tengah meresapi halaman sebuah buku tebal, langkah kaki pelan mendekatinya, disusul suara ramah yang memecah keheningan meja baca.
"Masih di tempat yang itu lagi, Jaya?" sapa Pak Darto, pustakawan senior yang telah mengabdi lebih dari separuh usianya di gedung tua tersebut, dengan kerutan di ujung mata yang menyiratkan kehangatan.
Sanjaya mendongak perlahan, lalu menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya. "Di sini pikiran saya lebih mudah mendengar dirinya sendiri, Pak," jawabnya dengan suara yang begitu pelan, seolah takut mengusik debu-debu yang sedang tidur di udara.
Pak Darto terkekeh pendek, menyadari kejujuran yang terpancar dari sorot mata mahasiswa di hadapannya. "Kalau begitu, semoga buku-buku ini terus menjadi teman setiamu dalam mengarungi hari-hari," ucap sang pustakawan sambil menepuk ringan tepi meja.
Sanjaya menatap punggung buku di hadapannya sebelum kembali bersuara, "Buku tidak pernah meninggalkan seseorang, Pak."
Jawaban singkat itu mendadak membuat Pak Darto terdiam beberapa saat di tempatnya. Lelaki paruh baya itu tidak langsung beranjak. Hanya mengangguk perlahan dengan pandangan menerawang, seolah menyadari bahwa kalimat sesederhana itu tidak mungkin lahir kecuali dari seseorang yang tengah memikul lelah dan pengalaman batin yang teramat panjang.
Perlahan-lahan, cakrawala batin Sanjaya mulai bergeser. Dunia yang tadinya terasa sempit dan hanya dipenuhi bayang-bayang wajah Riana mulai meluas terserap ke dalam samudera pertanyaan-pertanyaan besar tentang kemanusiaan. Ia mulai melahap buku-buku tentang keadilan sosial, arti kebebasan, akar kemiskinan, lintasan sejarah bangsa, hingga pergulatan pemikiran filosofis dan keislaman. Setiap bab yang dibacanya selalu berhasil membuka sebuah pintu baru dan di balik pintunya terbentang lorong-lorong panjang yang menuntut untuk dijelajahi. Semakin jauh ia melangkah menembus hutan pohon-pohon tumpukan buku, semakin ia sadar bahwa pengetahuan sejati bukanlah puncak gunung yang bisa ditaklukkan, melainkan batas cakrawala yang akan terus menjauh setiap kali manusia merasa telah berhasil mendekatinya.
"Apakah agama sekumpulan hukum yang kaku?" gumamnya suatu sore di atas tumpukan referensi, merenungkan paradoks kehidupan yang sering ia saksikan. "Ataukah ia adalah jalan panjang agar manusia benar-benar menjadi manusia seutuhnya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah sekali pun menemukan jawaban mudah yang memuaskan dahaganya. Tetapi karena misteri dan ketidakpastian itulah ia terdorong untuk terus membaca dan berpikir. Ia mulai meyakini bahwa sebuah pertanyaan yang jujur dan gelisah jauh lebih berharga daripada jawaban yang diberikan secara tergesa-gesa.
Gelora kegelisahan intelektual itu lambat laun menyeret Sanjaya keluar dari bilik sunyi perpustakaan, membawanya bergabung ke dalam lingkaran-lingkaran diskusi mahasiswa yang kritis. Ruangan-ruangan kelas fakultas yang biasanya mati dan sunyi senyap pada malam hari berubah menjadi kuali peleburan gagasan bagi anak-anak muda yang dipenuhi idealisme menyala-nyala. Asap rokok mengepul tipis merayap ke langit-langit ruangan yang temaram. Gelas-gelas kopi hitam yang mulai dingin berserakan tak beraturan di atas meja kayu yang penuh coretan. Tumpukan buku saku, lembaran koran harian, dan selebaran kertas berhamburan mengotori lantai semen. Di dalam ruangan yang sederhana dan pengap itulah perdebatan-perdebatan sengit tentang nasib rakyat berlangsung hingga larut malam.
"Bangsa ini tidak akan pernah beranjak berubah kalau mahasiswa hari ini hanya sibuk mengejar indeks prestasi dan nilai mata kuliah semester!" seru seorang aktivis senior dengan suara lantang yang menggetarkan kaca jendela. "Yang paling kita butuhkan di negeri ini adalah keberanian radikal untuk berpikir mandiri!"
Sebelum gaung suara itu mereda, seorang mahasiswa lain langsung menyahut dengan nada tak kalah berapi-api. "Keberanian berpikir saja tidak akan pernah cukup mengubah keadaan! Harus ada keberanian turun ke jalan untuk bertindak nyata!"
Semua orang di ruangan itu bersahut-sahutan, melemparkan argumen demi argumen dengan emosi yang meluap-luap. Namun di tengah keriuhan itu, Sanjaya memilih untuk tetap diam sebagai pendengar. Ia mengamati wajah-wajah rekan sesama mahasiswanya satu persatu dengan saksama. Di dalam sorot mata mereka, ia melihat nyala api yang sama, api idealisme yang membara dengan tulus, bersemangat ingin menghangatkan bumi pertiwi yang mulai membeku oleh ketidakadilan sosial.
Di balik kobaran semangat itu, Sanjaya juga menangkap bayangan lain berupa percikan kemarahan dan ego sektoral yang terkadang jauh lebih besar daripada kasih sayang yang ingin diperjuangkan. Sebuah pertanyaan mendadak berkelebat di benaknya. Bertanya kepada dirinya mungkinkah sebuah perubahan sosial yang benar-benar nyata dan murni bisa lahir dari hati yang masih disesaki oleh kebencian?
Pertanyaan itu terus bergelayut, mengikuti langkah kakinya menembus kegelapan malam hingga ia tiba kembali di kamar kosnya yang sempit. Sesaat setelah merebahkan diri sejenak di atas kasur tipis untuk melepas penat, ia bangkit menyalakan lampu meja, meraih buku catatan harian, dan membiarkan penanya menari di atas kertas putih.
"Mungkin revolusi yang paling sulit di muka bumi ini bukanlah menggulingkan singgasana kekuasaan di luar sana," tulisnya dengan goresan tinta yang tegas. "Revolusi yang paling berat adalah menggulingkan kesombongan yang bersemayam di dalam diri sendiri. Sebab manusia seringkali berambisi mengubah seluruh dunia, sebelum ia benar-benar selesai menjinakkan hatinya sendiri."
Sanjaya memandangi deretan kalimat itu cukup lama, membiarkan makna filosofisnya meresap ke dalam relung batinnya yang paling dalam. Ia lalu menarik napas panjang dan menambahkan satu baris kalimat penutup di bawahnya.
"Aku tidak ingin sekadar menjadi manusia yang pandai berteriak di atas panggung mimbar. Aku ingin menjadi manusia yang telinganya peka dan mampu mendengar tangisan lirih orang lain."
Kalimat-kalimat itu mengalir begitu saja tanpa hambatan, seakan-akan gagasan tersebut telah lama mendekam di dalam wadah jiwanya, sabar menanti momentum yang tepat untuk diubah menjadi wujud tulisan.
Sejak malam perenungan itu, ritme hidup Sanjaya berubah drastis menjadi jauh lebih padat dan bermakna. Waktunya terbagi habis antara menghadiri kuliah pagi, melahap halaman demi halaman literatur di perpustakaan, mengikuti diskusi lintas pemikiran, menulis esai-esai pendek, menghadiri kajian keislaman malam hari, berdialog intensif dengan para dosen, hingga aktif turun tangan dalam kegiatan sosial organisasi kemahasiswaan. Di tengah kesibukan yang menyita hampir seluruh energi ragawinya, membuat luka di hatinya mulai kehilangan cengkeraman terkuatnya. Bukan karena sosok Riana telah berhasil dihapus sepenuhnya dari ingatan, melainkan karena semesta kini telah menghadirkan visi dan tujuan hidup yang jauh lebih besar daripada sekadar meratapi kepedihan masa lalu.
Sampai suatu ketika saat matahari perlahan bergeser ke barat, menumpahkan semburat jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela gedung kuliah. Usai sebuah diskusi panjang dan melelahkan di beranda sekretariat mahasiswa, Mada berjalan berdampingan dengan Sanjaya menyusuri jalan setapak di kompleks kampus yang mulai tertutupi guguran daun mahoni kering. Langkah kaki mereka berdua berderak pelan di atas tumpukan daun-daun tua itu, diiringi keheningan yang terasa akrab setelah berjam-jam berkutat dengan argumen dan perdebatan.
Mada melirik sahabatnya itu sekilas sebelum membuka percakapan, mencoba memecah kesunyian yang menggantung di antara mereka. "Kau benar-benar berubah, Jaya," ucapnya dengan nada penuh pengamatan.
Sanjaya menoleh dengan sebelah alis terangkat tipis, menyambut kalimat itu dengan rasa ingin tahu yang tertahan. "Berubah dalam hal apa, Mad?" tanyanya tenang.
"Dulu, sewaktu awal-awal kita sering menghabiskan waktu bersama di sudut-sudut kampus, kulihat kau membaca buku dan merenung semata-mata karena ingin melupakan seseorang," kenang Mada sambil tersenyum tipis, mengenang masa-masa ketika Sanjaya masih dikuasai oleh badai kepedihan.
Sanjaya ikut tersenyum tipis, menyadari kebenaran dari ucapan sahabatnya itu yang melihat langsung bagaimana ia merangkak bangkit dari puing-puing hatinya. Tanpa berniat menyangkal masa lalunya, ia justru berbalik melempar tanya. "Lalu, bagaimana menurutmu sekarang?"
"Sekarang?" Mada menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap lurus ke arah Sanjaya dengan sorot mata yang menyiratkan kekaguman. "Sekarang kurasa kau membaca dan belajar bukan lagi untuk melupakan, melainkan karena kau benar-benar ingin memahami kerumitan manusia."
Sanjaya ikut menghentikan langkahnya di bawah naungan rindangnya pohon angsana yang daun-daunnya bergesekan ditiup angin senja.
Matanya menerawang jauh menatap langit ufuk barat yang perlahan semakin pekat, menyambut datangnya malam yang bersiap menggantikan siang. "Mungkin kau benar," jawabnya lirih, membiarkan angin sore menerbangkan sisa-sisa ragu di kepalanya.
Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara sore yang sejuk dan lembap mengisi penuh rongga dadanya hingga terasa lapang. "Karena ternyata, mencoba memahami kerumitan satu hati manusia saja sudah begitu sulit setengah mati. Apalagi harus memahami seluruh bentang kehidupan di luar sana."
Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun mahoni yang gugur tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sisa-sisa cahaya matahari keemasan menyelinap di antara celah-celah batang pohon, melukiskan bayangan panjang yang meliuk-liuk di atas jalan setapak berpasir. Sanjaya kembali melangkahkan kakinya, kali ini dengan ritme yang jauh lebih mantap, tegap, dan tenang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang penuh kepedihan.
Ia mulai menyadari sepenuhnya bahwa sebuah kehilangan bukanlah titik akhir dari perjalanan hidup seorang manusia. Kehilangan hanyalah sebuah pintu gerbang usang yang terpaksa terbuka, memaksa seseorang melangkah memasuki ruangan baru, menuju sebuah ruang asing yang selama ini tidak pernah berani ia jamah karena rasa takut. Di dalam ruangan batin sanubarinya itulah ia akhirnya dapat berjumpa dengan dirinya sendiri secara utuh sebagai seorang lelaki muda yang terkadang masih rapuh, masih menyimpan keraguan, namun secara diam-diam tengah bertransformasi menjadi manusia yang jauh lebih matang dan berjiwa besar.
Dan tanpa perlu ia sadari secara penuh, setiap buku yang telah dibahasnya, dan setiap perdebatan sengit dalam forum diskusi yang diikutinya menjadikan setiap malam panjang dihabiskan bersama lembaran catatan harian, untuk merajut sebuah jembatan yang kokoh guna menghubungkan sosok Sanjaya di masa lalu yang sempat hancur lebur berkeping-keping karena pusaran cinta, dengan sosok Sanjaya di masa depan yang kelak semoga menemukan arti dan makna hidup sejati, dan yang jauh lebih luas daripada sekadar memiliki atau kehilangan seseorang di dunia ini.
Namun jembatan yang ia bangun itu tidak sekadar membentang untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan Riana semata. Jauh sebelum itu, Sanjaya telah lebih dulu mengenal luka dari jenis yang kedua. Ia mulai sadar bahwa ada luka yang lahir karena seseorang pergi, tetapi ada pula luka yang telah bersemayam jauh sebelum seseorang itu datang. Jauh sebelum mengenal Riana, bahkan jauh sebelum ia mengerti arti cinta yang sesungguhnya, hidup telah lebih dulu memperkenalkannya kepada kesunyian yang panjang.
Kesunyian itu tumbuh bersamanya seperti bayangan yang setia mengikuti langkah kaki sejak matahari pertama kali menyentuh bumi pada setiap pagi. Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan Sanjaya. Ia hanya berubah bentuk seiring bertambahnya usia dan kerasnya tempaan zaman.
Sejak kecil, rumah tidak selalu berarti tempat pulang yang hangat. Rumah bagi Sanjaya hanyalah bangunan sederhana yang dipenuhi dinding retak, atap bocor, dan perabotan yang mulai lapuk dimakan waktu. Namun kehangatan yang semestinya bernyawa di dalam ruang-ruang itu sering menghilang entah ke mana. Pertengkaran kecil yang berujung pada diam yang berkepanjangan, serta tatapan mata yang telah kehilangan kasih sayang, lebih sering memenuhi isi rumah daripada gelak tawa keluarga. Di tempat itulah Sanjaya untuk pertama kalinya belajar bahwa seorang manusia dapat merasa sangat kesepian meskipun ia sedang dikelilingi oleh banyak orang sekaligus.
Sementara anak-anak seusianya tumbuh dengan pelukan hangat dan rasa aman, Sanjaya justru tumbuh bersama tumpukan tanda tanya. Mengapa ayah dan ibu begitu jauh rasanya? Mengapa suara pintu yang dibanting keras di rumah neneknya terdengar jauh lebih akrab di telinganya daripada suara tawa canda? Dan mengapa seorang anak kecil harus terpaksa belajar menjadi kuat, bahkan sebelum ia mengerti arti dari kelemahan itu sendiri?
Tidak pernah ada jawaban yang memadai untuk meredakan gejolak di dadanya. Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya mengendap di dasar hatinya, perlahan menjadi batu-batu kecil yang terus dibawanya ke mana pun ia melangkah. Bertahun-tahun kemudian, seiring berjalannya waktu, batu-batu masa kecil itu berubah menjadi kegelisahan batin, lalu menjelma kalimat-kalimat panjang yang memenuhi setiap lembar buku hariannya.
Barangkali karena luka masa lalu itulah ia akhirnya belajar mencintai kesunyian. Bukan karena sunyi selalu menawarkan kebahagiaan, melainkan karena hanya di dalam dekap sunyilah itukah ia merasa tidak perlu lagi berpura-pura menjadi seseorang yang baik-baik saja di hadapan dunia. Di kamar kosnya yang sederhana, sebuah buku harian selalu terbuka di atas meja kayu yang usang. Sampulnya telah kusam dan sudut-sudut halamannya melengkung ke atas karena terlalu sering disentuh jemarinya yang gemetar. Di sanalah seluruh isi hati, rahasia, dan kepedihannya tinggal. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang mengenal Sanjaya secara utuh sebagaimana buku harian itu mengenalnya.
Malam demi malam dihabiskannya untuk menumpahkan isi kepala melalui goresan pena. Ia menulis tentang kemiskinan yang mengajarinya menghitung nilai setiap rupiah dengan penuh kehati-hatian. Ia menulis tentang rasa malu yang mencengkeram setiap kali harus mengenakan sepatu tua yang telah berkali-kali dijahit oleh tukang sol. Ia juga menulis tentang rasa lapar yang acap kali bertahan lebih lama daripada kiriman uang dari ibunya di Batam, serta kerinduannya kepada sang ibu yang ia tahu diam-diam menyembunyikan air mata di balik senyum, demi membuat anak-anaknya tetap percaya bahwa hidup pada akhirnya akan baik-baik saja. Ia menulis tentang kerinduan kepada ayahnya, sosok yang selama ini terasa begitu jauh, padahal ia hanya ingin memiliki seorang ayah yang benar-benar dapat dijangkau oleh anak-anaknya. Namun, di antara serpihan kisah pilu yang memenuhi setiap lembar tulisannya, selalu ada satu nama yang berulang kali dituliskannya.
Riana adalah nama yang tidak lagi ditulis dengan cucuran air mata. Ia ditulis seperti seseorang melafalkan sebuah doa yang berbunyi pelan, hening, dan dipenuhi kepasrahan serta keikhlasan yang belum sepenuhnya selesai meresap di jiwa. Sampai pada suatu malam, ketika hujan turun begitu deras hingga suara air di atas atap seng terdengar bagai ribuan jemari sedang mengetuk-ngetuk langit, Sanjaya kembali membuka buku hariannya di bawah temaram lampu meja.
Ia menulis dengan khidmat cukup lama. Setelah rangkaian kata itu selesai, ia berhenti sejenak dan meletakkan penanya secara perlahan. Matanya menatap lurus pada tulisan yang baru saja lahir dari jemarinya.
"Barangkali Tuhan tidak benar-benar mengambil seseorang dariku," gumamnya dalam hati membaca kembali bait itu. "Mungkin Tuhan hanya sedang mengembalikan seseorang kepada jalan hidup yang memang telah disiapkan sejak semula untuknya."
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam meresap ke dalam paru-parunya yang terasa lapang. Kemudian, dengan sisa keberanian yang tersisa, ia menambahkan satu kalimat penutup di bawahnya: "Dan mungkin aku pun sedang diarahkan menuju jalan baru yang hari ini belum mampu kulihat."
Kalimat sederhana itu mendadak membuat dadanya terasa jauh lebih longgar dan ringan. Bukan karena ia telah sepenuhnya selesai bersedih atas takdir yang terjadi, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mulai belajar menerima bahwa tidak semua rahasia semesta harus ditemukan jawabannya hari ini.
Esok harinya, selepas sebuah forum diskusi mengenai sastra dan pemikiran Islam yang cukup melelahkan di auditorium utama, Nabila menghampirinya di pelataran kampus. Matahari telah condong ke barat, memancarkan sinarnya yang temaram. Cahaya senja menyelinap melalui sela-sela pepohonan mahoni, membentuk semburat keemasan di atas jalan setapak yang dipenuhi tumpukan daun-daun gugur.
"Kau masih sering menulis?" tanya Nabila sambil berjalan pelan di sampingnya, memecah keheningan sore itu dengan nada suara yang hangat.
Langkah kaki mereka terus berirama pelan di atas hamparan daun-daun mahoni yang berserakan, menciptakan suara berderak kecil yang menyatu dengan riuh rendah suara angin sore. Di sela-sela perjalanan pulang menyusuri jalan setapak di lingkungan kampus itu, Nabila memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang menembus langsung ke dalam pertahanan batin Sanjaya, menyadarkannya bahwa kehadiran perempuan di sisinya ini tidak sekadar menemani, tetapi juga melihat jauh ke dalam relung jiwanya yang paling sunyi.
Sanjaya mengangguk pelan, sementara tatapannya menerawang jauh ke depan, menembus kabut tipis senja yang mulai turun menyelimuti pelataran universitas. "Kalau aku berhenti menulis, mungkin aku akan kehilangan arah," ucapnya lirih, seolah kalimat itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaga kewarasannya di tengah dunia yang kerap terasa asing.
Nabila tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tidak menyiratkan rasa iba, melainkan sorot mata yang menyiratkan pemahaman yang dalam dan penuh penerimaan. "Menurutku, tulisanmu bukan sedang mencari arah," sanggahnya lembut, seakan ia bisa membaca peta kegelisahan yang tersembunyi di balik setiap baris tinta yang ditorehkan pemuda itu.
Sanjaya menoleh sekilas, keningnya berkerut dalam, diliputi rasa heran bercampur penasaran atas kalimat yang baru saja meluncur dari bibir sahabatnya. "Lalu?" tanyanya meminta kejelasan.
Nabila menghentikan langkahnya sejenak, membiarkan angin sore meniup kain kerudungnya sebelum menjawab dengan suara yang menenangkan jiwa. "Tulisanmu sedang mencari rumah," jawab Nabila lembut, sebuah pengamatan sederhana yang rupanya turut meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang selama ini dibangun Sanjaya.
Sanjaya menoleh sepenuhnya, tertegun mendengar kalimat itu. Tatapannya berhenti beberapa detik pada wajah perempuan di sampingnya, meresapi kejujuran yang terpancar dari sana. Ia tidak menjawab sepatah kata pun untuk membalasnya. Namun jauh di dalam diri Sanjaya, kalimat itu jatuh seperti hujan pertama yang membasahi tanah kering setelah kemarau panjang, menghidupkan kembali bagian jiwanya yang hampir mati.
Sejak hari itu, pertemuan mereka semakin sering terulang, mengalir alami di sela-sela kesibukan kuliah. Mereka berbicara tentang apa saja. Tentang sastra yang melintasi zaman. Tentang filsafat yang mempertanyakan eksistensi. Tentang agama yang menuntun batin. Tentang manusia dengan segala kerumitannya dan segala mimpi-mimpi yang terkadang terasa terlalu besar bagi usia mereka yang masih muda.
Mereka sering menghabiskan waktu duduk berjam-jam di sudut perpustakaan tanpa pernah merasa waktu bergerak. Kadang kebersamaan itu hanya ditemani dua gelas teh hangat yang telah lama kehilangan uapnya. Kadang ditemani rintik hujan yang turun perlahan di luar jendela kaca. Kadang pula mereka tidak saling berbicara selama beberapa menit, tetapi keheningan di antara mereka tidak pernah sekalipun terasa canggung atau membebani.
Di suatu sore, ketika cahaya matahari mulai meredup dan menembus celah jendela perpustakaan yang berdebu untuk menciptakan garis-garis keemasan di udara, suasana terasa begitu khidmat dan tenang. Aroma kertas tua dan kayu lapuk menguar pekat memenuhi ruang baca yang lengang. Di hadapan meja kayu jati yang permukaannya dipenuhi goresan masa lalu, Nabila duduk berhadapan dengan Sanjaya, memecah kesunyian yang sejak tadi membungkus mereka dengan sebuah pertanyaan yang meluncur pelan namun sarat makna.
"Kau tahu apa yang paling aneh dari luka?" tanya Nabila, matanya menatap lurus dengan binar ketulusan yang meneduhkan.
Sanjaya menghentikan gerakan jemarinya yang memegang pena, lalu menggeleng pelan, membiarkan tatapannya terkunci pada wajah perempuan itu, bersiap mendengarkan setiap patah kata yang akan meluncur dari bibirnya.
Nabila menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, suaranya berbisik lembut menyatu dengan desau angin di luar jendela. "Luka selalu mengira dirinya akan tinggal selamanya di dalam diri kita."
Sanjaya tertegun seketika, dadanya bergeming seakan ada sesuatu yang menohok kesadarannya paling dalam. "Lalu?" tanyanya dengan suara serak.
Padahal yang tinggal bukan lukanya," sambung Nabila tanpa ragu. Membuat alis Sanjaya bertaut karena rasa ingin tahunya yang bergejolak di balik ketenangannya.
"Apa?" tanya Sanjaya dengan rasa penasaran yang menggelitik, menuntut kelanjutan dari teka-teki batin yang baru saja dilemparkan Nabila.
"Cara kita memandang hidup setelah terluka," jawab Nabila tenang, seolah kalimat itu adalah jawaban dari segala pencarian yang selama ini melelahkan jiwa Sanjaya.
Sanjaya menundukkan kepala perlahan, membiarkan kalimat tersebut jatuh dan meresap dalam ke relung hatinya yang paling sunyi, membersihkan sisa-sisa debu kepedihan yang lama mengendap. Kalimat itu terus mengekor, mengikutinya bagai bayangan yang setia bahkan ketika sore berganti malam, ketika perpustakaan mulai ditutup, dan ketika mereka telah berpisah untuk melangkah menuju jalan pulang masing-masing di bawah temaram lampu jalan kota.
Malamnya, setiba di kamar kos yang sempit dan pengap, di mana dinding-dindingnya seolah menyimpan seluruh lelah dunia, ia tidak langsung merebahkan diri. Dengan tangan yang masih gemetar oleh sisa-sisa renungan sore tadi, ia kembali membuka buku harian bersampul kusam di atas meja kayu yang reot, lalu menumpahkan seluruh isi kepalanya dengan goresan pena yang mantap dan penuh keyakinan.
"Mungkin benar," tulisnya dengan goresan tinta yang tegas. "Luka tidak pernah diciptakan untuk mengubah dunia. Luka hanya mengubah cara seseorang melihat dunia. Dan dari cara melihat yang baru itulah, kehidupan yang selama ini mati perlahan-lahan dilahirkan kembali."
Hari-hari terus berjalan membawa ritmenya sendiri. Perasaan kepada Riana tidak serta-merta menghilang begitu saja dari ingatannya. Namun rasa itu telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang, lebih jernih, dan lebih menyerupai doa daripada keinginan egois untuk memiliki. Sanjaya akhirnya memahami bahwa cinta yang dewasa tidak selalu harus berakhir dengan kebersamaan. Ada cinta yang justru menemukan kemuliaan tertingginya ketika mampu melepaskannya tanpa membenci, mampu mengingat tanpa menuntut, dan mampu mendoakan tanpa berharap kembali.
Sanjaya tidak lagi marah kepada takdir yang mempermainkannya. Tidak lagi mempertanyakan mengapa hidup harus berlaku demikian kejam kepadanya. Pertanyaan-pertanyaan penuh kepedihan itu perlahan digantikan oleh kesadaran batin yang lebih sederhana dan membumi bahwa setiap manusia di muka bumi ini memikul jalan takdirnya. Ibarat setiap hati memiliki musimnya masing-masing untuk kembali berbunga lalu meranggas, dan kembali berbunga. Demikian setiap kehilangan yang pahit selalu membawa benih tersembunyi yang kelak akan tumbuh menjadi kebijaksanaan, jika manusia bersedia merawatnya dengan kesabaran.
Pada suatu malam yang sunyi, sebelum menutup buku hariannya, Sanjaya menulis sebuah kalimat yang kelak akan terus diingatnya sepanjang sisa hidupnya.
"Aku pernah mengira tujuan hidupku adalah memiliki seseorang yang kucintai sebagai cinta pertama itu. Kini aku mulai memahami bahwa tujuan hidupku adalah menjadi seseorang yang pantas mencintai kehidupan, apa pun yang diberikan dan apa pun yang diambil dariku."
Sanjaya menutup buku catatan itu perlahan, lalu mematikan lampu belajar yang berpijar kekuningan. Di luar jendela, langit malam tampak bersih dipenuhi taburan bintang. Angin malam berembus lembut membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan sore tadi. Udara terasa begitu segar dan bersih, seolah alam sedang menghapus debu-debu yang menempel pada daun-daun dan atap-atap rumah warga. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara azan Isya mengalun lirih, memecah keheningan malam tanpa merusaknya. Sanjaya memandang ke angkasa cukup lama, membiarkan pikirannya melayang bebas.
Tidak ada lagi sisa-sisa permintaan agar waktu diputar kembali ke masa lalu. Tidak ada lagi harapan kekanak-kanakan agar takdir berubah sesuai kehendaknya. Yang tersisa di kamar itu hanyalah seorang lelaki muda yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Ia tahu perjalanan hidup di hadapannya masih sangat panjang dan terjal. Masih akan ada kegagalan-kegagalan baru. Masih akan ada kehilangan yang menyakitkan. Masih akan ada malam-malam sunyi yang membuat dadanya kembali terasa sesak. Namun dengan pengalaman yang baru saja dialaminya menjadi tidak ragu lagi memandang masa depan. Melangkah sebagai seseorang yang mampu lepas dari bayang-bayang masa lalu.
Ia melangkah tegap sebagai seorang pengembara yang akhirnya memahami bahwa setiap luka adalah guru yang paling diam. Ia tidak banyak berbicara lewat kata-kata, tetapi mengajarkan manusia bagaimana cara bertumbuh tanpa harus kehilangan kelembutan hatinya, bagaimana tetap percaya kepada secercah cahaya setelah melewati lorong kegelapan yang panjang, dan bagaimana menemukan arti Tuhan justru ketika seluruh pegangan dunia terasa lepas dari genggaman tangan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berlalu, Sanjaya memejamkan mata dengan damai tanpa membawa pertengkaran batin dengan dirinya sendiri. Dan di dalam keheningan malam yang panjang itu, sesuatu yang baru mulai tumbuh perlahan di dasar jiwanya. Bukan kebahagiaan yang riuh dan meledak-ledak. Bukan pula kegembiraan semu yang hampa, melainkan harapan. Harapan yang kecil, tenang, dan nyaris tak terdengar. Bagai tunas hijau yang menerobos muncul dari celah bebatuan keras setelah diguyur hujan pertama yang rapuh di permukaan, tetapi penuh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Sunyi pun sedang menapaki jalan menuju kehidupan baru bagi Sanjaya. (Sal)