Waktu terus merayap dalam kebisuannya yang abadi, melangkah dengan irama yang tidak pernah tergesa-gesa, tetapi juga tidak pernah bersedia berhenti untuk menunggu siapa pun yang tertinggal di belakangnya. Hari demi hari berguguran laksana daun-daun mahoni tua yang perlahan melepaskan diri dari ranting-ranting rapuh pada puncak musim kemarau, melayang tanpa tujuan di antara embusan angin yang letih sebelum akhirnya jatuh dengan bunyi berderak di atas tanah yang tandus dan retak-retak. Seolah setiap helainya sedang menandai berlalunya satu keping waktu yang tak akan pernah kembali. Satu demi satu tanggal berlalu dalam keheningan yang nyaris tak terasa.
Sementara Sanjaya kembali menenggelamkan dirinya ke dalam rutinitas sekolah yang padat dan perjalanan hidup yang berputar monoton di kota asing tempat ia menambatkan hari-harinya. Di balik kesibukan yang tampak biasa itu, pada malam-malam panjang yang dipenuhi kesunyian, ia sempat mengecoh dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa waktu perlahan-lahan sedang menuntun hatinya menuju jalan pelupa, seolah setiap hari yang berlalu sedikit demi sedikit mengikis bayangan yang selama ini membelenggu pikirannya.
Namun keyakinan itu ternyata hanyalah ilusi yang rapuh, sebab waktu tidak pernah benar-benar mengajarkan manusia cara melupakan. Ia hanya pandai menyembunyikan luka ke dalam palung batin yang paling gelap dan paling sunyi, tenggelam di sebuah ruang rahasia yang begitu dalam hingga bahkan pemiliknya sendiri tak lagi sanggup menjangkaunya dengan kesadaran.
Hingga pada suatu siang yang terik, ketika piringan matahari menggantung tepat di atas langit dan bus yang membawa Sanjaya kembali melaju meninggalkan kampung halamannya setelah kepulangannya yang begitu singkat, datang tanpa pernah diundang sebuah kabar tentang Riana.
Berita itu tidak hadir sebagai ketukan yang sopan di pintu batinnya, melainkan menyelinap pelan seperti desir angin yang tak kasatmata melalui serpihan-serpihan percakapan para kawan, merambat dari satu mulut ke mulut yang lain, membesar setiap kali diulang oleh lidah-lidah yang gemar menambahkan bumbu pada setiap cerita.
Semula kabar itu terdengar begitu sederhana, nyaris tak berbeda dengan gosip-gosip lain yang biasa beredar di antara anak-anak muda kampung. Namun sesaat setelah kalimat itu mencapai telinga Sanjaya, seluruh ketenangan yang selama berbulan-bulan susah payah ia bangun seolah kembali runtuh dalam sekejap, bagai bara api yang dilemparkan ke tengah padang ilalang kering hingga kobarannya menjalar tanpa mampu lagi dibendung.
“Katanya Riana sudah ada yang punya.”
Kalimat itu mungkin meluncur begitu ringan dari bibir orang lain, hanya menjadi sepotong angin lalu yang akan segera hilang ditelan senja dan terlupakan sebelum malam benar-benar tiba. Bagi Sanjaya, kalimat yang tampak sederhana itu menjelma menjadi batu besar yang dijatuhkan ke permukaan telaga batinnya yang selama ini terlihat tenang, menciptakan riak-riak yang terus melebar hingga berubah menjadi gelombang dahsyat yang menghantam dinding-dinding jiwanya tanpa ampun.
Pada detik pertama kalimat itu merasuk ke dalam indranya, ia membeku seketika, seolah seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berhenti dan raganya kehilangan daya untuk sekadar merespons. Hari-hari berikutnya, di tengah riuh rendah atmosfer sekolah barunya, gema suara yang ia dengar saat kepulangannya ke kampung halaman justru menjelma beban lebur yang terus-menerus menghujam benaknya, menekan sukma dengan rasa sesak yang kian hari kian pekat.
Ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, jemarinya memang masih memaksa menggenggam erat batang pena di atas lembaran buku tulis, dan manik matanya tetap menatap lurus ke arah papan tulis di depan kelas. Namun di balik ketenangan palsu itu, jiwanya seakan telah tercabut paksa dari raga, melayang jauh menuju sebuah ruang hampa yang mendadak menganga di dalam kepala. Tenggelam di sebuah dimensi yang begitu luas, sunyi, dan membeku, tempat waktu merayap lambat dalam kehampaan. Suara guru yang lantang menerangkan rumitnya rumus-rumus fisika pun perlahan melebur menjadi dengung asing, terdengar semakin samar seolah datang dari dunia seberang yang sama sekali tak lagi berpaut dengannya.
“Katanya...”
Kata itulah yang menghunjam jauh lebih kejam daripada sebuah kepastian. Sebab, sekeras apa pun kenyataan, kepastian tetap memiliki garis batas yang jelas yang mungkin menyakitkan, tetapi pada akhirnya masih bisa diterima setelah seseorang selesai bergulat dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, kata katanya membuka pintu selebar-lebarnya bagi ribuan kemungkinan yang tak memiliki ujung. Kata itu membiarkan imajinasi merayap liar ke segala arah, merangkai bayangan-bayangan yang belum tentu berpijak pada kebenaran, lalu memaksa hati hidup di antara dugaan dan prasangka yang saling bertabrakan.
Dan di dalam lorong ketidakpastian itulah kecemasan menemukan tempat yang paling nyaman untuk menetap, tumbuh perlahan, lalu menguasai seluruh isi kepala tanpa pernah memberi kesempatan bagi ketenangan untuk kembali.
Sepanjang sisa pelajaran berlangsung, Sanjaya tidak lagi mendengar satu pun kalimat yang keluar dari mulut gurunya. Segala penjelasan tentang angka, rumus, maupun teori berlalu begitu saja tanpa sempat singgah di dalam pikirannya. Di dalam tempurung kepalanya hanya ada suara badai yang saling bertubrukan dengan jerit batinnya sendiri.
Masih ia bertanya-tanya benarkah kalimat yang pernah menyapa telinganya itu, apakah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan, ataukah sekadar isapan jempol belaka yang lahir dari keisengan orang-orang tanpa kerjaan? Sejak kapan garis takdir itu mulai bergeser dan mempertemukan mereka dalam satu ikatan, sementara Sanjaya masih tertatih-tatih meraba jalan di tengah gelapnya jarak dan waktu? Siapa sebenarnya sosok lelaki asing yang sudah begitu lancang merengkuh seluruh dunia Riana, mengisi hari-hari yang dulu pernah dibayangkan akan ia lewati bersama di masa depan hidupnya?
Dengan lelaki itu, apakah mereka benar-benar telah saling menautkan hati dalam ikatan yang tulus, ataukah kedekatan itu hanya sebatas singgah sementara yang dibumbui oleh manisnya janji-janji gombal, ataukah semua teka-teki ini hanyalah hembusan angin lalu yang sengaja ditiupkan oleh lidah-lidah usil untuk memprovokasi batinnya yang memang sejak awal sudah rapuh?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa mengenal lelah, menderu seperti pusaran angin yang menerbangkan dedaunan kering ke segala penjuru. Semakin keras ia berusaha menghentikannya, semakin liar pula semuanya berputar, memenuhi setiap sudut kepalanya hingga dadanya terasa sesak, pelipisnya berdenyut nyeri, dan napasnya seolah semakin pendek setiap kali bayangan tentang Riana kembali melintas.
Meskipun raganya telah berpindah ke kota lain yang jauh dan hari-harinya telah dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan yang sama sekali asing, ingatan Sanjaya tetap terpancang pada satu nama yang sejak lama bertakhta di sudut terdalam sanubarinya. Berkali-kali ia berusaha menertawakan dirinya sendiri, meyakinkan bahwa semua rasa itu hanyalah bagian dari masa remaja yang sewajarnya harus ditinggalkan, sebab ia tahu betul di mana batas dirinya berdiri dan memahami bahwa tidak semua harapan memang ditakdirkan untuk menjadi kenyataan. Tetapi hati manusia bukanlah perkakas yang dapat dibengkokkan sesuka hati dan sering memiliki kehendaknya sendiri, dan kehendak itulah yang membuat Sanjaya tetap gagal melupakan Riana. Meskipun jarak membentang begitu luas, waktu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, dan kesunyian perlahan menjadi teman paling setia dalam hari-harinya.
Kenangan itu kemudian menyeretnya kembali menyeberangi waktu menuju suatu sore di beranda sekolah. Saat bel panjang pertanda berakhirnya pelajaran berdengung berat membelah udara, sementara cahaya matahari mulai menguning dan memanjang di halaman sekolah, Mada menepuk bahunya pelan.
“San, sudah sedari tadi aku memperhatikanmu melamun begitu dalam menembus kosong, seolah jiwamu telah pergi meninggalkan raga. Sebenarnya ada beban apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalamu itu?”
Sanjaya tersentak seketika dari kubangan lamunannya yang pekat, mengerjapkan kelopak matanya yang terasa berat berulang kali demi mengumpulkan kesadaran, sebelum akhirnya menoleh perlahan dengan leher yang terasa kaku.
"Hah?" Suara itu meluncur terbata dan hampa dari bibirnya yang kering.
“Apakah badanmu sedang tidak enak, atau kau jatuh sakit?”
Sanjaya perlahan menggelengkan kepala, menyembunyikan getar kecil di sana.
“Tidak, aku hanya merasa begitu lelah oleh hari-hari yang berjalan tanpa ujung setelah pulang kemarin.”
Mada menyipitkan kedua matanya, menajamkan tatapan menyelidik ke arah wajah teman sebangkunya itu cukup lama, seolah ia tengah berupaya membaca baris-baris kalimat rahasia yang sengaja disembunyikan di balik senyum lelah tersebut.
“Bohong besar, gerak-gerikmu tidak bisa menipuku.”
Sanjaya lantas menarik seulas senyum tipis yang terasa begitu getir dan hambar di sudut bibirnya, membentuk garis pasrah yang menyayat.
“Kau memang benar, aku tidak pernah memiliki bakat sedikit pun untuk berdusta di hadapanmu.”
Mada sempat menyunggingkan tawa kecil di bibirnya, namun suara renyah itu serta-merta memudar dan lenyap ditelan angin ketika ia telanjur menangkap sorot mata Sanjaya yang tampak jauh lebih redup, padam, dan suram ketimbang hari-hari biasa, menyisakan suatu rongga kekosongan yang takkan pernah sanggup ditutupi oleh polesan senyum terpaksanya.
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang meremukkan hatimu sedemikian rupa?" tanya Mada.
Sanjaya menghirup udara sore dalam-dalam, membiarkan embusan angin pengap yang berbau debu jalanan itu merangsek masuk memenuhi dadanya yang kian sesak, sebelum akhirnya ia menunduk dan berbisik sangat lirih hingga nyaris tersapu gemuruh kendaraan.
“Katakan padaku, Mada... jika seseorang harus menanggung kepedihan karena kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah secuil pun menjadi hak miliknya di dunia ini, apakah hal semacam itu tetap layak disebut sebagai sebuah kehilangan yang nyata?”
Mada tertegun, seolah bobot pertanyaan itu merambat turun dan menindih pundaknya sendiri. Ia menggeser duduknya di atas bangku panjang di bawah naungan pohon ketapang yang daun-daun tuanya mulai menguning. Angin sore berhembus pelan, membawa bau tanah basah seusai hujan kemarin dan debu jalanan yang bergesekan dengan roda sepeda para siswa yang baru saja berhamburan keluar gerbang.
Mada tampak berpikir cukup lama, menatap butiran kerikil di ujung sepatunya sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatap lurus ke dalam mata Sanjaya yang basah oleh bayang-bayang.
"Kurasa... iya," jawab Mada dengan suara yang hampir tertelan oleh deru kendaraan yang melintas di jalan raya luar sekolah.
Sanjaya mengerutkan keningnya, menatap teman di sekolah barunya itu dengan kebingungan yang merayap di sela-sela kepenatannya. “Lho, bagaimana bisa? Kalau bendanya saja tidak pernah ada di tangan, bagaimana mungkin kita merasa kehilangan?”
Mada menarik napas panjang untuk merangkai kata-kata yang terasa berat untuk diucapkan kepada seorang sahabat yang sedang babak belur oleh perasaannya sendiri. “Karena yang hilang bukan wujud bendanya, San.”
Sanjaya terdiam, membiarkan angin sore menyentuh tengkuknya yang mendadak dingin. "Lalu?" bisiknya lemah.
"Harapannya," jawab Mada tandas. “Harapan yang selama ini kau bangun sendiri di dalam kepalamu, yang diam-diam kau pupuk setiap kali kau melihatnya tersenyum dari kejauhan. Itulah yang hilang.”
Jawaban yang begitu bersahaja itu menghantam dada Sanjaya dengan telak. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. Di dalam rongga dadanya, kalimat itu bergema dan berputar-putar, merontokkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang selama ini ia bangun dengan susah payah di kota rantau. Ia sadar, temannya itu benar. Rasa sakit yang meremukkan tulang rusuknya bukanlah hal baru, bahkan jauh sebelum ia menjejakkan kaki dan tersesat di hiruk-pikuk kota lain, sejak ia masih duduk di bangku sekolah di kampung halamannya pun, ia sebenarnya telah lama kehilangan Riana.
Sebab mungkin, istilah "kehilangan" itu sendiri memang salah sejak dari akar, sebab ia memang tidak pernah memiliki perempuan itu tidak sehari, tidak sekejap, tidak pula dalam sebuah janji.
Jawaban yang sederhana itu menghantam Sanjaya lebih keras daripada nasihat panjang apa pun. Kepalanya terkulai pelan, sementara hatinya perlahan menerima sesuatu yang selama ini selalu ia tolak. Ia menyadari bahwa rasa sakit yang kini ia rasakan bukanlah sesuatu yang baru muncul setelah mendengar kabar tentang Riana. Jauh sebelum ia meninggalkan kampung halaman, bahkan sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah, ia sebenarnya telah hidup bersama perasaan kehilangan itu. Atau mungkin, kata kehilangan sendiri tidak pernah benar-benar tepat, sebab ia memang tidak pernah memiliki Riana, bahkan tidak untuk sesaat.
Yang sesungguhnya hilang darinya bukanlah sosok perempuan itu, melainkan seluruh kemungkinan indah yang selama ini diam-diam ia rawat di dalam benaknya. Kemungkinan-kemungkinan rapuh tentang hari-hari yang tak pernah terjadi, tentang percakapan-percakapan yang tak pernah terucap, tentang kebersamaan yang hanya hidup di dalam angan, dan tentang masa depan yang berkali-kali ia bangun seorang diri tanpa pernah diketahui oleh Riana.
Menjadilah semua kemungkinan itu runtuh satu demi satu seperti bangunan tua yang kehilangan pondasinya, hancur berkeping-keping sebelum sempat menjelma menjadi kenyataan, menyisakan kehampaan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan seseorang yang pernah benar-benar dimiliki.
Malam kemudian manakala langkah kakinya yang gontai akhirnya tiba di beranda rumah kos yang sempit dan sunyi, Sanjaya tidak langsung beranjak masuk ke dalam kamar. Ia memilih melabuhkan penatnya di atas kursi kayu depan rumah induk semangnya, membiarkan tubuhnya duduk termangu dalam durasi yang begitu panjang, menatap lurus ke kanvas semesta yang membentang tanpa batas di atas kepalanya.
Langit malam itu tampak begitu bersih dari gumpalan awan, dihiasi oleh taburan bintang yang berpendar gemerlapan dalam jumlah yang begitu melimpah, seolah seluruh galaksi sedang tumpah ruah di sana hingga ia merasa mustahil untuk sekadar menghitungnya. Namun di balik lautan cahaya yang menyilaukan itu, ia menyadari satu hukum alam yang tak terbantahkan bahwa sebanyak apa pun bintang yang berkerumun menghiasi angkasa, selalu ada celah-celah gelap gulita yang tersembunyi di antara mereka, sebagai ruang-ruang hampa yang tidak pernah benar-benar terjamah oleh terang. Langit malam seolah tengah berbisik lembut kepadanya, mengajarkan bahwa di dunia ini, cahaya dan kegelapan memang ditakdirkan untuk berdampingan dalam keabadian yang sunyi.
Duduk dalam keheningan malam yang merayap dingin, Sanjaya lantas mencoba menelusuri lorong batinnya sendiri, berupaya meraba dan memahami gejolak aneh yang sedang meremukkan dadanya. Merasakan sebuah kejanggalan yang teramat nyata dan sama sekali tidak merasakan secuil pun rasa marah kepada Riana, perempuan yang namanya telah menjadi candu sekaligus racun di dalam nadinya. Ia pun tidak mengenal, bahkan belum pernah melihat rupa lelaki asing yang disebut-sebut telah berhasil merebut tempat di sisi Riana.
Lalu, kepada siapa sebenarnya gelora kemarahan dan sesak ini ia tujukan? Semakin jauh akalnya berkelana mencari muara, semakin ia menyadari bahwa amarah yang bergemuruh di dalam dadanya bukanlah jenis ledakan liar yang berniat menghancurkan atau menyakiti siapa pun di sekitarnya. Rasa itu jauh lebih mirip seonggok bara api kecil yang tertimbun rapat di bawah tumpukan abu dingin. Dari luar tampak begitu tenang dan seolah telah padam, namun di kedalamannya yang tersembunyi, ia masih menyimpan panas membara yang secara perlahan terus menggerogoti dan membakar habis sisa-sisa ketenangan yang telah ia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan.
Dalam temaram lampu teras yang kekuningan, Sanjaya perlahan mengangkat kedua tangannya, membalik telapak tangannya dan menatap garis-garis tangan yang terukir di sana yang kosong. Tidak ada apa-apa. Sejak detik pertama ia mengenal sebuah rasa menjadi semuanya hampa. Namun entah mengapa, di bawah naungan malam yang kian larut itu, ia merasa seolah-olah baru saja menjatuhkan dan memecahkan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya, sesuatu yang bahkan wujudnya tidak pernah ia miliki secara nyata.
Barangkali, memang seperti itulah cara kerja hati manusia yang penuh dengan misteri. Ia sanggup menumpahkan air mata dan meratapi kepedihan atas sesuatu yang belum pernah singgah di dalam genggamannya, sebab hati tidak pernah sudi tunduk pada hukum logika yang kaku. Hati bergerak dan bernapas hanya menurut debar harapan. Dan harapan itu sendiri, sekecil apa pun ia menyala, selalu menyimpan kekuatan magis yang sanggup membuat sebuah kehilangan terasa begitu menyayat dan nyata.
Hari-hari berikutnya bergulir membawa angin perubahan, hingga pada suatu senja Sanjaya mengambil sebuah keputusan radikal yang bahkan membuat dirinya sendiri terperanjat ketakutan. Ia sudah merasa lelah. Ia tidak ingin lagi terus menerus bersembunyi di balik bayang-bayang semu.
Selama ini, ia telah memenjarakan dirinya dalam cinta yang senyap, mencintai Riana dari jarak yang teramat aman serupa rembulan yang setia mencurahkan cahaya lembutnya ke permukaan bumi tanpa pernah menuntut sang bumi untuk sekadar mendongak dan menoleh kepadanya. Namun kemudian di tengah badai batin yang menghantam, ia mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam pada nuraninya sendiri. Sampai kapan ia harus membiarkan hidupnya terkungkung dan merangkak di balik tirai rasa takut yang diciptakannya sendiri?
Mungkin sudah tiba saatnya ia melangkah keluar dari sarang persembunyian yang menyesakkan itu. Mungkin sudah saatnya ia membiarkan dunia luar menyaksikan apa yang selama ini ia bungkam rapat-rapat di dalam dada. Sebuah keputusan yang merayap tumbuh secara perlahan di dalam jiwanya, bagaikan tunas muda yang gigih memecah kerasnya permukaan tanah setelah sekian lama terpendam dalam gelap. Keputusan yang rapuh, penuh risiko, namun dialiri oleh desir keberanian yang mulai menyala.
Di dalam kamar kosnya yang sempit, di hadapan sebuah cermin kusam yang memantulkan separuh bayangannya, Sanjaya berdiri terpaku menatap lekat-lekat wajahnya sendiri yang terlihat begitu pucat dan lelah, bertanya kepada dirinya, "Apakah aku benar-benar sanggup melewati semua ini?" bisiknya lirih memecah keheningan malam. Pertanyaan itu menggantung panjang di udara kamar, mengambang tanpa pernah menemukan ujung.
Tidak ada suara yang menjawab. Yang terdengar hanyalah detak pendulum jam dinding tua yang berayun konstan, berdetak lambat dan monoton, seolah sedang menghitung sisa-sisa keberanian terakhir yang masih tertinggal di dalam rongga dadanya.
Nama itu kembali berkelebat di benaknya, menghadirkan tikaman ngilu yang teramat sangat. Di sanalah, di beranda rumah yang basah oleh sisa hujan senja di kampung halaman, kenyataan itu menghantamnya tanpa ampun. Kabar yang meluncur dari bibir tetangga bagaikan palu godam.
Riana, gadis yang selama ini diam-diam dijaga oleh bait-bait doa dan rindunya di perantauan, kini telah resmi dipunyai orang lain. Barangkali cincin pengikat telah melingkar di jemari lentik itu, meruntuhkan segala angan tentang masa depan yang pernah ia tenun dalam diam.
Ingatan tentang senyum terakhir Riana di bawah naungan pohon rambutan sebelum ia berangkat merantau berubah wujud menjadi bara yang membakar pelan. Sanjaya tak pernah menyangka bahwa kepulangannya untuk membawa pulang rindu justru berujung pada kebasnya dada. Bahwa tempat pulangnya yang paling hangat telah ditutup rapat oleh takdir, meninggalkan dirinya sendiri di persimpangan sunyi, terasing di antara puing-puing harapan yang hancur berkeping-keping. (Sal)