Lorong Kelas

Beberapa lorong di sekolah itu sekilas tampak fana, serupa nadi abu-abu yang terabaikan oleh waktu....

Lorong Kelas

22 Jul 2026
592 x Dilihat
Share :

Lorong Kelas

Beberapa lorong di sekolah itu sekilas tampak fana, serupa nadi abu-abu yang terabaikan oleh waktu. Dinding-dindingnya merekam sejarah bisu berupa jejak telapak tangan yang memudar, cat putih yang mengelupas bagai kulit ari, serta lantai ubin yang mengilap dingin akibat ribuan langkah yang datang dan pergi tanpa pernah meninggalkan nama. 

Bagi seorang Sanjaya, lorong itu bukanlah sekadar ruang transit menuju ruang kelasnya. Tapi menjadi sebuah semesta kecil yang bernapas. Sebab di sanalah ia pada masa itu merasakan waktu seolah melambat, merayap dalam detak jantungnya yang berkejaran dengan debar rahasia. Di bawah atap lorong sekolah itu dengan pendar sinar matahari yang kian meninggi, kerap ia diam-diam menitipkan seonggok asa yang meski rapuh, karena tak pernah cukup berani ia lepaskan ke udara bebas.

Sering ia sebelum fajar sepenuhnya mematikan bintang dan koridor sekolah dipenuhi hiruk-pikuk manusia, Sanjaya berdiri di sana, berdialog dengan kesunyian yang bersemayam di dalam kepalanya. Ia tidak pernah mencari jawaban dari teman-teman sebayanya, pun dari para guru yang lalu-lalang membawa tumpukan buku dan aroma kapur tulis. Ia hanya bertanya kepada dinding-dinding bisu, kepada ruang kosong yang selama ini menjadi saksi bisu atas ribuan kalimat yang mati di ujung lidahnya yang gagal dilahirkan menjadi kata.

Benarkah perasaan yang selama ini ia rawat dalam sunyi memiliki nyawa sendiri, ataukah semua itu hanyalah fatamorgana? Demikian pikiran Sanjaya saat berada dalam bayang-bayang yang tumbuh subur karena terlalu lama berjalan seorang diri di labirin pikirannya. Di sana, setiap gema langkah kakinya kerap menipu karena terdengar bagai jawaban yang dinantikan. Padahal ia tak lebih dari pantulan suaranya sendiri yang memantul kembali pada kehampaan.

"Kadang, hal-hal yang tak pernah benar-benar kita miliki justru adalah yang paling lama tinggal," gumamnya lirih. Kalimat itu terucap begitu rapuh, nyaris lebur ditelan angin pagi yang menyelinap dari jendela ventilasi. 

Namun seperti bulir embun jernih yang diam-diam meresap ke dalam pori-pori tanah sebelum matahari sempat menyadari fajar, bisikan itu perlahan menyusup ke dasar batinnya. Ia mengendap, mengakar, dan menjelma keyakinan mutlak yang tak pernah sanggup ia bantah seumur hidupnya.

Sebab, pusat dari seluruh badai dan gelisah itu memiliki satu nama yang tak sanggup ia eja sepenuhnya. Seorang gadis yang telah menyita perhatiannya, ketika barangkali tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi, atau bahkan sekadar menduga, bahwa kehadirannya telah menjadi semacam sumbu tak kasat mata, sebagai poros kecil yang tanpa sadar mengatur ke mana pun arah pandang Sanjaya setiap kali fajar menyapa, selalu akhirnya menuju pada seutas nama Riana. 

Riana memang bukanlah mentari pongah yang menuntut dunia berputar mengelilinginya. Ia hanya seorang gadis biasa yang kebetulan melangkah dengan anggun, lalu tanpa sengaja memaksa seorang anak lelaki mengubah jalur lintasannya setiap hari, hanya demi bisa mencuri pandang sekilas dari balik bingkai jendela kelas.

Sanjaya memilih untuk tetap menjadi penonton abadi. Ia tidak pernah memiliki keberanian yang cukup untuk mendekat, menyapa, atau sekadar membiarkan bayangan mereka bersisian di bawah terik matahari. Ia memilih berdiri di kejauhan, merawat kesabaran yang serupa dengan tugas seorang penjaga mercusuar tua yang setiap malam setia menatap lautan gelap, menanti kapal-kapal asing berlalu lalang tanpa pernah berharap satu pun dari mereka akan melabuhkan sauh di dermaganya.

Penantian itu sunyi, teramat sunyi hingga menyayat jiwanya sendiri. Namun bagi Sanjaya itu tidak pernah merasa sia-sia. Sebab Sanjaya akhirnya mengerti bahwa cinta yang paling tulus terkadang tidak pernah menuntut balasan apa pun. Hanya membutuhkan satu alasan sederhana untuk terus bernapas dan bertahan di tengah dinginnya dunia.

Selalu dari kejauhan, pandangan mata Sanjaya mengeja setiap gerak-gerik Riana serupa seorang pembaca setia yang menatap lembar demi lembar manuskrip antik penuh makna. Ia menelusuri tiap bait geraknya dengan takzim, menghafal setiap jeda dan senyumnya bagai melodi langka yang terpatri di kepala, namun tak pernah memiliki keberanian cukup untuk membalik lembar berikutnya. 

Baginya, tersimpan sebuah ketakutan purba yang membekap dada bahwa kisah agung yang selama ini hidup subur dalam kehangatan imajinasinya akan lebur dan menemui titik akhir begitu benturan kenyataan mulai bersuara. Meski demikian, di tengah desakan untuk mendekat yang terus bergolak dan tak pernah benar-benar padam, ia tetap berjuang untuk melakukan sesuatu demi melabrak segala halangan.

Ia terus merayap dalam gelap, menyerupai jalinan akar pohon tua yang menghujam jauh ke dasar tanah, yang tersembunyi dari pandangan dunia, namun setiap harinya kian dalam mencengkeram relung hati yang menjadi tempat pertapaannya. Anehnya, semakin keras ia mencoba meredam dan mencabutnya, semakin beringas pula akar-akar itu memeluk dan mengikat seluruh rongga dadanya.

Pada setiap kali niat untuk melangkah maju berkelebat di kepalanya, daging dan tulang di tubuhnya justru berkhianat lebih dulu. Seketika itu pula kakinya terasa terpaku di bumi, seolah setiap jengkal perpindahan menuntutnya mengangkat beban sebongkah batu karang yang tak terlihat. Telapak tangannya mendadak dingin basah oleh peluh, tenggorokannya tercekat kering bagai tertelan debu padang pasir, sementara debar di dadanya memukul begitu beringas menciptakan irama gaduh yang membuatnya gentar setengah mati, takut dentumannya akan memecah sunyi dan terdengar oleh seluruh penjuru koridor sekolah.

Kecemasan itu telah melampaui batas definisi rasa gugup yang biasa. Bahkan menjelma gelombang seismik rahasia yang hanya berpusat di dalam rongga dada seorang anak manusia. Cukup dahsyat untuk meruntuhkan benteng pertahanan mental yang telah susah payah ia susun dan tata sepanjang malam.

Dari reruntuhan keraguan itulah sebuah ritual sunyi akhirnya tercipta. Jauh sebelum dentang bel masuk sekolah melerai kebisingan pagi, dan sebelum para guru mulai memadati ruang kelas yang diiringi derit kapur tulis yang menggores papan hitam, Sanjaya selalu merancang sebuah pementasan sandiwara kecil yang naskahnya hanya tersimpan dalam benaknya sendiri. 

Ia akan melangkah gontai menyusuri lorong panjang menuju bilik kelas tempat Riana bernaung. Bukan karena ia membawa urusan mendesak yang harus diselesaikan. Bukan pula karena jalur itu adalah satu-satunya jalan menuju pangkuan harinya. Ia hanya sengaja memilih rute yang memutar jauh, merelakan peluh menitik lebih dini, semata-mata demi membeli beberapa detik singkat untuk melintas di hadapan pintu kelas gadis itu. Seolah-olah jarak puluhan meter yang melelahkan itu adalah upacara penebusan yang setimpal untuk ditukar dengan sekilas pandang, untuk menemukan jangkar momen fana yang diam-diam sanggup menghidupkan seluruh ruang batinnya yang gersang.

Dan agar siasat rapuh itu tidak menjelma bintik kecurigaan di mata dunia, ia selalu memastikan satu benteng pengaman yang tersisa dengan sering berjalan berdampingan bersama Ipang, kawan sebangkunya.

"Pang, kita cari Ipul, yuk." Ipang mengangkat alis menanggapi ajakan Sanjaya, sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk garis keheranan. “Memangnya ada perlu apa?”

"Enggak... cuma pengin ngobrol biasa," sahut Sanjaya. Tapi Ipang mendengus pelan, lalu mengangkat bahu tanda tak ambil pusing.

"Ya sudah, ayo." Ipang akhirnya berkata. Lalu kemudian keduanya lantas beranjak, melangkah beriringan menyusuri koridor sekolah yang mulai menggeliat hidup. Di sepanjang perjalanan, mulut Ipang tak henti-hentinya berdengung, membombardir telinga Sanjaya dengan cerita film yang ditontonnya semalam, juga kepanikannyal mengenai soal-soal matematika yang belum dijamahnya, hingga desas-desus kami, seorang guru killer yang sering mengadakan ulangan harian secara mendadak kepada para siswanya.

Di balik anggukan kepala dan gumaman respons yang diberikan Sanjaya atas semua cerita yang dibawakan Ipang, hanya raganya saja yang berada di sana. Pendengarannya sekadar topeng dan telinganya hanya berpura-pura mencerna setiap kata yang meluncur tajam tapi langsung punah dilenyapkan angin, karena pikiran Sanjaya terus melayang jauh.

Di balik sorot matanya, Sanjaya bekerja bagai seorang pencuri berpengalaman yang telah menghafal setiap jengkal sudut ruangan yang hendak disatroninya. Netranya menyelinap lihai di antara kerumunan siswa yang berdesakan, mengabsen satu demi satu wajah yang berlalu lalang, semata-mata demi memburu satu figur yang menjadi alasan utama mengapa pagi selalu terasa lebih hidup di dadanya.

Bagi Sanjaya, lorong sekolah yang panjang itu berubah wujud menjadi panggung sandiwara mini yang maknanya hanya terbaca oleh rahasia hatinya sendiri.

Di sekeliling mereka, dunia berputar dalam hiruk-pikuk yang riuh. Anak-anak lelaki berlari sambil saling dorong dan melempar tawa renyah. Ada sekelompok siswi berdiri bergerombol, merapatkan kepala untuk berbisik-bisik menukar rahasia remaja, atau para guru melintas anggun dengan setumpuk buku di dada. Suara gesekan alas sepatu dengan lantai berpadu dengan gema tawa yang memantul di dinding-dinding semen, menciptakan simfoni bising khas jam-jam pertama suasana sekolah.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pusat manusia yang dalam masa pertumbuhan itu, untuk bisa peka mengenal lingkungannya sendiri, membuat indra Sanjaya mengalami penyempitan dunia. Ia hanya ingin mencari satu orang.

Dan ketika bayangan kelas itu mulai merayap muncul dari kejauhan, terbingkai di antara pilar-pilar koridor, ritme napasnya serta-merta berubah. Ketika tanpa sadar menarik kendali pada kakinya, memperlambat tempo langkahnya menjadi begitu hati-hati. Seolah-olah, dengan menyeret kaki lebih pelan, putaran jam dinding di dunia ini akan iba dan ikut melambat bersamanya.

Padahal dalam batinnya yang paling jujur, ia tahu betul tentang waktu yang tidak pernah memiliki belas kasih untuk menunggu siapa pun. Yang sesungguhnya berhenti dan membeku di tempat, bukan waktu, melainkan keberaniannya sendiri.

"Eh, kenapa jalannya pelan sekali?" tanya Ipang, keningnya berkerut heran melihat langkah sahabatnya itu mendadak menyeret, seolah sepatu yang dikenakannya mendadak bertali timah yang berat.

Sanjaya mengerjap, menarik napas dalam-dalam sebelum melontarkan jawaban seadanya. "Capek," jawabnya singkat, suaranya terdengar datar berusaha menutupi degup jantung yang masih bergemuruh hebat di balik rongga dada.

Ipang menolehkan kepala, menatap bingung ke arah lorong yang baru saja mereka tinggalkan. “Baru juga mulai jalan dari kantin. Jalur kita masih panjang, Jaya. Mau pasang rekor berjalan paling lambat sedunia?”

"Iya..." balas Sanjaya pelan, sengaja memotong kalimatnya agar tidak ada lagi celah bagi Ipang untuk melontarkan pertanyaan lanjutan yang justru akan semakin membongkar kepanikan di wajahnya.

Balasan itu meluncur amat pendek, kontras dengan gemuruh di dalam dadanya. Di balik bibir yang terkatup rapat, yang tengah berlangsung percakapan dalam batinnya yang jauh lebih panjang, lebih melelahkan, dan lebih rumit daripada seluruh materi pelajaran bahasa Indonesia yang pernah ia ikuti sepanjang hidupnya.

Sesampainya tepat di depan ambang pintu kelas yang dituju, Sanjaya tidak langsung membuang muka atau berlalu begitu saja. Ia menghentikan langkahnya sejenak, merangkai alasan paling natural di dalam kepalanya agar gerak-geriknya tampak wajar, lalu melayangkan pandangan ke dalam ruangan sebelum memanggil seorang teman yang kebetulan sedang berdiri di dekat pintu sebuah ruang kelas yang letaknya berdampingan dan menyatu langsung dengan ruang di mana Riana bernapas setiap hari.

"Pul! Eh, Ipul!" panggilnya dengan nada yang diatur agar terdengar santai, meski jemarinya di balik saku baju basah oleh keringat dingin.

Ipul, yang sedari tadi duduk santai di bangkunya sambil memegang buku catatan, sontak menoleh dengan dahi berkerut pekat ke arah pintu. “Heh, Mang Jaya. Tiba-tiba pagi-pagi udah mangkal di depan kelas orang, ngapain lu?”

"Nyari kamu," sahut Sanjaya, berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar setenang mungkin.

"Nyari aku?" Ipul menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya dipenuhi rasa heran yang nyata.

"Iya... siapa tahu kamu tadi kepikiran bolos atau kesiangan," kelit Sanjaya mencari alasan.

Ipul spontan tergelak, tawa lepasnya pecah memenuhi udara pagi yang masih segar. “Gila lu. Orang jelas-jelas aku udah duduk manis di kelas dari tadi sebelum bel berbunyi.”

"Iya... cuma memastikan aja," balas Sanjaya sambil menarik bibirnya membentuk senyum tipis, berjuang keras meredam rasa gugup yang mencengkeram tenggorokannya hingga terasa keluh.

Percakapan ringan itu seketika memancing tawa kecil dari beberapa siswa lain yang duduk di sekitar Ipul, menciptakan suasana riuh yang ramah. Tak seorang pun di antara mereka, bahkan Ipang yang berdiri tepat di sampingnya, memiliki kecurigaan bahwa alasan kedatangan mereka berdiri di situ terlampau rapuh untuk sekadar diucapkan dengan lidah.

Di saat bibirnya sibuk melontarkan candaan basa-basi kepada Ipul, pasang mata Sanjaya justru diam-diam mengembara liar. Ia sama sekali tidak menyimak balasan tawa Ipul. Pendengarannya mendadak tuli dari kebisingan kelas. Sebab yang ia buru hanya satu tanda keberadaan, mencari satu bayangan yang bisa menyelamatkan harinya agar dipenuhi dengan riang menyambut siang.

Dan sebuah hukum tak tertulis pun berlaku. Sebelum matanya sempat menemukan sosok Riana di balik kerumunan, retinanya sering lebih dulu menangkap satu benda mati yang tergeletak bisu di atas meja di sudut sana. Pandangannya pada sebuah tas sekolah berona usang yang tertata rapi, cukup untuk memberi tahu batinnya bahwa pemiliknya telah hadir di ruangan itu.

Tas itu, di mata dunia luar, hanyalah gumpalan kain usang yang dijahit kaku untuk meredam beban buku-buku pelajaran. Warnanya pudar oleh debu harian, bentuknya biasa tanpa satu pun hiasan yang mencuri perhatian. Namun bagi Sanjaya, benda mati itu bertransformasi menjadi sebuah perangkat sandi yang hidup.

Tas tersebut adalah kabar. Ia adalah penanda waktu. Ia menjelma bendera kecil yang berkibar tanpa suara, mengibarkan isyarat sunyi bahwa sang pemilik ruang tengah menghirup udara pagi yang sama, memijak lantai yang sama, dan berada dalam jangkauan semesta yang tidak terlalu jauh darinya.

Dengan cukup memandangi tas kepunyaan Riana, seketika gemuruh di dalam dada Sanjaya mereda, menyisakan kelegaan yang teramat dalam. Memberi sensasi serupa tanah liat yang retak menganga akibat kemarau panjang, lalu perlahan disentuh oleh tetes gerimis pertama. Tanah itu tidak seketika menghijau atau berbunga, tetapi kelembapan yang meresap sudah lebih dari cukup untuk meyakinkannya bahwa kehidupan belum sepenuhnya mati.

“Oh...”

Bibirnya terkatup, membentuk senyum tipis yang tak sampai ke mata.

“Dia sudah datang.”

Kalimat itu hanya berputar di dalam labirin kepalanya, terkunci rapat tanpa pernah diizinkan lepas menjadi suara. Kendati demikian, bisikan batin itu memiliki daya magis yang sanggup meredam seluruh badai kecemasan yang sejak tadi mengamuk di kepalanya.

Kadang-kadang, ia membiarkan tubuhnya terpaku beberapa detik lebih lama dari batas kewajaran. Matanya enggan beranjak dari tas tak berharga itu. Bukan karena kain atau retsletingnya menyimpan keindahan, melainkan karena benda tersebut memancarkan jejak tak kasat mata dari seseorang yang telah merajai separuh isi harinya.

Keheningan yang sempat merayap di antara deru napasnya akhirnya pecah oleh sebuah tepukan ringan di lengan. Ipang, yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik sahabatnya dengan sepasang mata menyipit penuh selidik, mendengus pelan merasakan ada gelagat ganjil yang menguar dari diri Sanjaya.

"Jaya," panggilnya tajam.

Sanjaya mengerjap, menarik kesadarannya kembali dari lamunan yang membentang. “Hm?”

“Kamu ngelihatin apa, sih, dari tadi?”

"Enggak ada," sahutnya cepat, berusaha memasang topeng setenang mungkin.

"Bohong." Ipang mendengus sangsi, melipat tangan di dada. “Matamu jelalatan kayak maling cari mangsa.”

"Udah, ayo ke kelas. Keburu bel." Sanjaya buru-buru memutar langkah, memaksa sepasang kakinya yang terasa kaku untuk segera bergerak menjauh dari ambang pintu itu. Ia dicekam oleh ketakutan yang senyap namun mematikan. Membuatnya tahu pasti, jika ia membiarkan dirinya berdiri di sana sedetik lebih lama lagi, seluruh rahasia besar yang telah ia jahit mati-matian di balik ekspresi datarnya akan terburai, terkoyak, dan terbaca telanjang bulat di permukaan wajahnya.

Namun, semesta memang tidak selamanya bermurah hati menghadirkan ketenangan yang didambakan. Ada pagi-pagi sialan ketika harapan itu mendadak remuk ketika bangku di sudut ruangan itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Tas sekolah berona usang yang biasanya menjadi sauh penenang tidak tampak di sana. Meja kayu tersebut kembali menjelma menjadi benda mati yang hambar. Menjadi begitu biasa, begitu kosong, hingga terasa asing, menyayat hati, dan teramat menyakitkan mata yang memandangnya.

Seketika itu pula, lorong sekolah yang tadinya bermandikan cahaya matahari pagi mendadak menyusut, berubah menjadi terowongan sempit yang mencekik. Rongga dadanya kembali dihantam kegelisahan yang merayap lambat, serupa gumpalan mendung kelabu yang mengambang tanpa angin. Kegelisahan itu tidak datang tergesa-gesa, pun tidak bersuara nyaring. Ia merambat pasti, menimbun udara hingga napas Sanjaya terasa berat.

Tanpa sadar, matanya mulai beralih fungsi menjadi pemindai liar. Ia menyapu setiap sudut pandang dengan kecepatan kilat. Pada lorong yang mulai lengang menyatu dengan halaman sekolah yang ditumbuhi pohon ketapang, pada jejeran pintu kelas yang tertutup rapat, hingga memandang dengan lebih seksama setiap wajah asing yang berlalu lalang. Sanjaya mencari dengan kehati-hatian tingkat tinggi, menutupi kepanikannya di balik sikap acuh tak acuh, seolah ia sedang menyembunyikan sebuah kejahatan besar dari mata dunia.

"Eh, Mang Jaya..." Suara Ipul memecah lamunan yang sempat menyeret kesadaran Sanjaya jauh entah ke mana, serta-merta menghentikan langkah kakinya yang hampir melewati batas ambang pintu. Ipul menatapnya lekat, keningnya berlipat dalam tanda tanya besar.

“Dari tadi mondar-mandir terus kayak jelangkung. Cari siapa sih, Jaya?”

Kalimat itu sontak membuat Sanjaya tersentak seketika, retinanya mendadak ditarik kembali ke dunia nyata untuk fokus menangkap sorot mata Ipul yang kian menyelidik tajam.

"Hah?" Suaranya keluar tercekat.

"Cari siapa?" ulang Ipul, nada suaranya menyiratkan kecurigaan pekat yang sengaja dibalut dalam balutan canda anak muda.

“Enggak... enggak cari siapa-siapa.”

“Masa?”

“Iya.”

“Sumpah?”

“Iya.”

Ipul menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum usil yang paling dibenci Sanjaya di saat-saat paling genting seperti ini. "Kalau begitu, kenapa mukamu kelihatan tegang banget seperti orang kehilangan dompet di pasar Tawang?”

Beberapa teman di sekitar mereka kontan ikut tertawa kecil, menikmati kebingungan yang mendadak melanda wajah Sanjaya.

Pemuda itu lantas memaksa bibirnya menarik garis senyum tipis, ikut terkekeh hambar untuk menutupi gemuruh di dada. Padahal, jauh di dalam bilik batinnya, yang hilang bukanlah selembar dompet berisi uang jajan. Yang lenyap adalah ketenangan sebagai kewarasan yang rapuh, yang sejak tadi pagi mati-matian ia cari, tetapi tak kunjung berhasil ia temukan di sudut mana pun.

Sejatinya, ia ingin sekali membuka mulut, melontarkan kalimat yang begitu mendesak di dalam kepala, “Riana belum datang, ya?”

Namun kalimat itu hanya berdiri tegak di ujung lidahnya, siap meluncur kapan saja. Tetapi rasa malu dan takut tersingkapnya rahasia selalu bergerak lebih cepat, membanting pintu keberanian tepat di muka. Membuat lidahnya kembali kelu dan terkunci rapat. Ia menyerupai burung penakut yang memilih tetap berdiam di dalam sangkar berjeruji besi, terlampau lama percaya bahwa luasnya langit biru di luar sana adalah tempat yang teramat menakutkan untuk disinggahi.

Hingga beberapa menit kemudian, ketika retinanya nyaris menyerah dan pasrah pada kekalahan, keajaiban kecil itu tiba. Dari ujung koridor, di dekat undakan jalan utama, matanya menangkap siluet yang amat ia kenal. Riana muncul bersama gelak tawa teman-temannya, melangkah tenang membelah kerumunan pagi. Seketika itu pula, badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya runtuh, luruh tak bersisa bagai debu yang disapu angin.

Sanjaya bahkan tidak menyadari bahwa sejak detik-detik menegangkan tadi, napasnya tertahan di ujung tenggorokan. Lalu seiring dengan hadirnya bayangan gadis itu, udara segar kembali meresap memenuhi rongga dadanya.

Demikian kisahnya begitu sederhana. Hanya karena seseorang melangkah masuk ke dalam jangkauan pandangannya. Hanya karena kehadiran seorang gadis yang bahkan sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya sanggup mengubah cuaca di dalam hati seorang anak lelaki, dari mendung kelabu yang mencekam menjadi terang benderang yang menenangkan.

"Sudah ketemu yang kamu cari?" tanya Ipang tiba-tiba, menyikut lengan Sanjaya sambil melemparkan senyum penuh arti yang seolah membaca seluruh rahasia di balik kepala sahabatnya.

Sanjaya menoleh cepat, salah tingkah. “Apaan sih?”

“Dari tadi matamu muter terus kayak radar rusak.”

Sanjaya menggeleng pelan, mencoba memasang wajah selurus mungkin. “Enggak ada apa-apa.”

Ipang hanya terkekeh renyah, memutuskan untuk tidak memperpanjang interogasi.

Di saat yang bersamaan, dentang bel masuk sekolah berderang nyaring, memecah riuh rendah udara pagi. Para guru pun mulai melangkah beriringan menuju kelas masing-masing dengan setumpuk buku di tangan. Hiruk-pikuk lorong perlahan mereda, berubah wujud menjadi keteraturan yang kaku. Anak-anak berhamburan, kembali ke bangku dan meja belajar mereka.

Sanjaya pun ikut memutar langkah, meninggalkan area itu bersama gelombang siswa yang lain. Tubuhnya memang bergerak menjauh, meninggalkan koridor yang kembali sunyi. Namun entah bagaimana, sebagian kecil dari hatinya memilih untuk tetap tinggal di sana. Tertinggal di depan sebuah pintu kelas sederhana yang setiap pagi selalu berhasil memberinya alasan untuk percaya bahwa lorong sekolah yang paling biasa dan berdebu sekalipun, dapat menjelma menjadi tempat paling sunyi sekaligus paling indah bagi seseorang yang tengah belajar memelihara cinta dalam diam.

Sebab mencintai dalam diam adalah sebuah seni menahan diri yang paling sunyi. Tidak ada piala bagi mereka yang setia menunggu di balik bayang-bayang. Tidak pula ada medali untuk air mata yang tumpah tanpa pernah disaksikan dunia. Namun bagi Sanjaya, cukup dengan mengetahui bahwa dunia masih bermurah hati mempertemukan jejak langkahnya di bawah langit pagi yang sama, hari-hari sekolah tidak lagi sekadar kewajiban yang melelahkan. Ia adalah sebuah perjalanan panjang tentang kesetiaan yang sabar, menuju sebuah babak rahasia dalam hidupnya yang suatu hari nanti, betapapun sunyinya, akan selalu ia kenang sebagai masa-masa ketika hatinya pernah berdetak begitu hebat hanya karena sebuah nama yang ia eja setiap hari di lorong sekolah. (Sal)

Perspektif

Scroll