Senin pagi itu, langit menggantung rendah di atas halaman sekolah, seolah menahan napas sebelum membiarkan hari bergerak sebagaimana mestinya. Embun masih bertahan di ujung rerumputan, memantulkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya matang. Di lapangan upacara, ratusan siswa berdiri dalam barisan yang rapi. Dari kejauhan, mereka tampak seperti deretan pohon muda yang sedang belajar menghadapi angin pertama dalam hidupnya. Raga tegak terdiam, sementara jiwa menyimpan dunia masing-masing di balik wajah yang terlihat seragam.
Di antara barisan itu berdirilah Sanjaya. Ia tidak tampak berbeda dari siswa lain. Seragamnya sama, sikap berdirinya sama, bahkan wajahnya menyimpan ketenangan yang nyaris tak mengundang perhatian. Dalam keadaan itu, jiwa Sanjaya seperti dasar sebuah danau yang tampak tenang. Padahal menyimpan arus yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan sedang berubah, meski ia sendiri belum menemukan kata yang tepat untuk menamainya.
Di depan lapangan, seorang guru pengganti berdiri tegap sebagai pembina upacara. Angin sesekali mengibaskan ujung jilbabnya, tetapi suaranya tetap tenang ketika mulai berbicara.
“Besok sekolah kita akan mengadakan perayaan Maulid Nabi.”
Kalimat itu meluncur perlahan, menyerupai dentang lonceng perunggu yang dipukul dengan tenaga secukupnya. Tidak keras, tidak pula menggetarkan telinga, tetapi gema kecilnya menjalar ke seluruh halaman sekolah, menyelinap ke sela-sela dedaunan, singgah pada seragam-seragam putih merah, lalu mengendap di dalam dada setiap anak yang mendengarnya.
Ada kalanya sebuah kabar sederhana tidak datang untuk mengejutkan, melainkan hanya untuk menggeser arah hati seseorang beberapa derajat, dan beberapa derajat itulah yang kelak mengubah seluruh perjalanan hidup Sanjaya.
Guru itu kembali melanjutkan pengumumannya.
“Besok kalian diperbolehkan memakai pakaian muslim dan muslimah. Tidak perlu mengenakan seragam sekolah.”
Suasana yang semula hening perlahan berubah. Gelombang bisik-bisik kecil mulai menjalar dari satu barisan ke barisan lain, seperti riak air yang lahir hanya karena seekor ikan menyentuh permukaan dan kemudian terus melebar tanpa bisa dihentikan. Senyum-senyum tipis bermunculan. Mata-mata yang semula lurus ke depan mulai saling bertukar pandang. Bahkan udara pagi terasa sedikit lebih ringan, seolah ikut mengangkat kegembiraan kecil yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka.
"Ingat," lanjut guru itu dengan nada yang tetap lembut, “kenakan pakaian yang rapi dan sopan. Itu adalah bentuk penghormatan kita.”
Tatapannya menyapu seluruh lapangan dengan tenang. Tidak ada nada menggurui dalam suaranya. Ia lebih menyerupai seseorang yang sedang menanam benih di tanah yang luas, tanpa pernah benar-benar tahu benih mana yang akan tumbuh lebih dulu.
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti sebuah perintah. Bahkan bagi para siswa, perintah itu menyerupai sebuah pintu yang perlahan dibuka setelah sekian lama terkunci. Untuk satu hari saja, mereka diizinkan meninggalkan warna seragam yang selama ini menyatukan sekaligus menyamarkan setiap pribadi. Mereka diberi kesempatan untuk tampil sebagai diri masing-masing, membawa warna, pilihan, dan sedikit keberanian yang selama ini bersembunyi di balik kain putih dan abu-abu.
Sementara teman-temannya mulai sibuk membayangkan pakaian yang akan dikenakan esok hari, Sanjaya tetap berdiri diam. Angin pagi menyusup melewati lengan bajunya yang sedikit longgar. Sentuhan itu terasa seperti jemari tak kasatmata yang sedang membisikkan sesuatu yang belum sempat dipahami. Ia mengangkat wajah sedikit, membiarkan udara dingin menyentuh kulitnya, seolah berharap angin membawa jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum lahir di dalam kepalanya.
Di sekelilingnya, percakapan mulai bermekaran.
“Aku mau pakai baju koko yang baru.”
“Kalau aku pakai gamis warna krem.”
“Eh, nanti jangan lupa pecinya.”
Suara-suara itu saling bersahutan, ringan seperti kawanan burung yang baru menemukan langit luas setelah lama berada di dalam sangkar. Masing-masing sibuk membicarakan warna, kain, model pakaian, bahkan sandal yang akan dipakai ke sekolah. Hal-hal sederhana yang, di usia mereka, terasa cukup penting untuk mengisi seluruh pagi.
Sanjaya hanya mendengarkan. Membiarkan semua percakapan itu mengalir melewati dirinya seperti air sungai yang mengusap batu-batu di tepinya. Ia tidak merasa perlu ikut hanyut. Ada ketenangan yang justru membuatnya menjadi semacam tepian. Tempat segala riuh datang, singgah sebentar, lalu berlalu tanpa pernah benar-benar mengubah bentuk batunya.
"Kau besok pakai baju warna apa?" Ipang, teman yang berdiri di sampingnya, menyenggol lengannya pelan sambil tersenyum.
Sanjaya menoleh sebentar. “Aku belum tahu.”
"Halah, masa belum kepikiran?" ujar Ipang yang dibalas oleh Sanjaya dengan tersenyum tipis. Senyum yang begitu singkat, seperti asap tipis yang muncul dari secangkir teh panas lalu lenyap sebelum sempat disentuh. Bukan karena ia tidak ingin menjawab, melainkan karena pikirannya perlahan sedang berjalan ke arah lain, ke sebuah tempat yang bahkan belum ia sadari keberadaannya beberapa saat sebelumnya.
Ada sesuatu yang terasa bergeser di dalam dirinya. Bukan perubahan yang datang seperti petir yang membelah langit, melainkan seperti cahaya matahari yang perlahan memasuki sebuah kamar tua melalui celah jendela yang selama bertahun-tahun tertutup rapat. Sedikit demi sedikit, debu-debu yang sebelumnya tak terlihat mulai menampakkan diri. Ruangan yang semula tampak biasa saja mendadak memiliki kedalaman. Segala sesuatu tetap berada di tempatnya, tetapi cara melihatnya telah berubah. Tanpa benar-benar memahami sebabnya.
Sanjaya mulai merasakan bahwa matanya tidak lagi bekerja sebagaimana kemarin. Seolah ada tirai halus yang selama ini menggantung di depan pandangannya, lalu disibakkan oleh angin yang datang entah dari mana. Dunia masih sama. Lapangan masih sama. Barisan siswa masih sama. Bahkan suara guru yang terus berbicara pun tetap terdengar sebagaimana mestinya. Tetapi di balik semua yang tampak biasa itu, ada ruang baru yang perlahan terbuka di dalam batinnya. Di ruang itulah, tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan seorang siswi yang berdiri beberapa baris di kejauhan.
Namanya Riana.
Ia tidak sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Ia hanya berdiri sebagaimana siswa lain berdiri, mendengarkan pengumuman dengan wajah yang tenang. Rambut hitamnya jatuh lurus hingga menyentuh bahu, sesekali bergerak pelan disentuh angin pagi. Cahaya matahari yang masih lembut singgah di sisi wajahnya, membuat garis-garis wajahnya tampak teduh, seperti permukaan telaga yang memantulkan langit tanpa pernah berusaha menjadi pusat perhatian.
Sanjaya memandangnya hanya beberapa detik. Setelah beberapa detik itu terasa lebih panjang daripada seluruh upacara yang sedang berlangsung. Merasakan waktu kehilangan kebiasaannya untuk bergerak lurus. Ia melambat, berhenti sejenak di depan seseorang, lalu membiarkan satu tatapan tumbuh menjadi sebuah ingatan. Tanpa ada suara. Tanpa ada peristiwa besar. Hanya keheningan yang diam-diam sedang menanam benih paling kecil di dalam hati seseorang.
Sanjaya belum memahami apa yang sedang terjadi. Sebatas merasakan sesuatu yang begitu halus, begitu pelan, hingga hampir mustahil dibedakan dari hembusan angin pagi. Baginya barangkali itu hanyalah rasa ingin tahu. Barangkali pula sesuatu yang jauh lebih dalam sedang memilih saatnya sendiri untuk lahir. Perasaan-perasaan seperti itu memang sering datang tanpa mengetuk pintu. Sering memasuki hati manusia sebagaimana hujan pertama memasuki tanah yang lama retak dengan perlahan dan nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk mengubah seluruh aroma bumi.
Sejak saat itu, cara Sanjaya memandang dunia berubah tanpa meminta izin. Perubahan itu tidak datang sebagai ledakan yang memaksa segala sesuatu bergeser sekaligus. Ia datang seperti cahaya matahari yang diam-diam jatuh ke sudut ruangan yang selama ini terlupakan, menerangi debu, bayangan, dan benda-benda yang sebenarnya selalu ada dan terjadi setiap hari. Tetapi baru kali itu ada sesuatu yang tampak benar-benar terlihat. Dunia tetap sama, tetapi matanya telah menemukan cara baru untuk lebih mudah mengenalinya.
Mula-mula, Sanjaya mengira perubahan itu hanyalah bayangan yang diciptakan oleh pagi. Ia berpikir bahwa apa yang ia rasakan akan menguap bersama embun ketika matahari mulai meninggi, sebagaimana banyak hal kecil yang datang lalu pergi tanpa sempat dikenang. Setelah hari berganti, setelah jam pelajaran berjalan sebagaimana biasa, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak ikut berlalu. Perubahan itu perlahan menetap dengan cara yang sangat sunyi, seperti akar pohon yang tumbuh jauh di bawah tanah. Tidak terdengar, tidak terlihat, tetapi diam-diam mengubah bentuk bumi dari dalam.
Sejak pagi di lapangan upacara itu, dunia yang sebelumnya hanya tampak sebagai rangkaian rutinitas perlahan memperlihatkan lapisan-lapisan yang belum pernah ia sadari. Lorong sekolah yang sempit, suara bel yang memecah pergantian jam, derit kursi yang bergeser, bahkan debu yang menari di sela cahaya jendela, semuanya terasa memiliki napasnya sendiri. Seolah-olah kehidupan tidak lagi berjalan di permukaan, melainkan jauh di bawahnya, di tempat yang selama ini luput dari perhatian seorang anak lelaki yang baru belajar mengenali bahasa paling rumit di dunia.
Di antara seluruh perubahan kecil itu, ada satu hal yang paling sering mengusik batinnya tentang bahasa perasaan itu agar bagaimana ia tafsirkan saat mengeja namanya.
Riana.
Nama itu mulai hadir tanpa pernah ia panggil. Ia muncul di kepalanya di sela-sela pelajaran yang sedang diterangkan guru, di antara angka-angka matematika yang memenuhi papan tulis, di balik halaman buku pelajaran yang seharusnya ia baca dengan saksama. Nama itu seperti setitik tinta yang jatuh ke dalam segelas air bening. Kejadiannya tidak membawa gaduh, tidak membuat tergesa, tetapi perlahan menyebar ke seluruh ruang batinnya hingga tak ada lagi bagian yang benar-benar jernih seperti sebelumnya.
Sanjaya belum mengerti apakah itu kekaguman, rasa ingin tahu, atau sekadar ketertarikan yang lazim tumbuh pada usia mereka. Ia belum memiliki cukup pengalaman untuk memberi nama pada sesuatu yang begitu halus. Yang ia tahu hanyalah bahwa setiap kali tanpa sengaja matanya menemukan sosok Riana di koridor sekolah atau di antara barisan siswa, ada denyut kecil yang merambat dari dadanya menuju seluruh tubuhnya, seperti riak yang lahir di permukaan danau hanya karena sehelai daun memilih jatuh di atasnya.
Perasaannya tidak pernah datang dengan gegap gempita. Datangnya perlahan setenang hujan yang turun di tengah malam ketika semua orang sedang terlelap. Tidak ada yang menyadari kapan tetes pertama kalinya menyentuh bumi. Baru ketika pagi tiba, tanah telah basah sepenuhnya. Begitulah hati Sanjaya yang tidak pernah menyadari kapan perubahan itu benar-benar dimulai. Tahu-tahu saja, ia telah berada di tengah hujan yang diam-diam membasahi seluruh ruang di dalam dirinya.
"Kenapa kau melamun lagi?" Suara Ipang membuyarkan lamunannya ketika mereka sedang duduk di bangku kelas deretan yang berbatasan dengan pintu kelas. Sanjaya hanya berkedip pelan, seolah baru kembali dari tempat yang sangat jauh.
"Hm? Tidak apa-apa," ucap Sanjaya.
Ipang mengangkat sebelah alisnya. “Kau bilang tidak apa-apa, tapi dari tadi lihatnya ke luar terus.”
Sanjaya mengikuti arah pandang temannya. Di luar jendela, beberapa siswa sedang berjalan melintasi halaman sekolah dengan langkah santai. Di antara mereka, Riana tampak sedang berbincang dengan dua sahabatnya. Ia tertawa kecil, lalu kembali berjalan tanpa menyadari bahwa dari balik kaca kelas, ada sepasang mata yang diam-diam belajar menghafal caranya tersenyum.
"Aku cuma lagi capek," jawab Sanjaya pelan.
"Dusta," sahut Ipang sambil terkekeh pendek.
“Tapi ya sudah. Kalau memang belum mau cerita.”
Sanjaya ikut tersenyum, meski senyum itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Ia tahu, bahkan jika ingin bercerita sekalipun, ia tidak akan mampu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bagaimana mungkin seseorang menjelaskan perubahan yang bahkan belum selesai ia pahami?
Ketika bel istirahat berbunyi, lorong sekolah kembali dipenuhi langkah kaki dan percakapan yang saling bertubrukan. Suasana menjadi riuh seperti sungai yang mendadak dipenuhi air setelah hujan turun semalaman. Semua orang tampak bergerak menuju tujuan masing-masing, sementara Sanjaya justru merasa waktu berjalan semakin lambat.
Matanya kembali menemukan Riana yang sedang berdiri di dekat pagar taman sekolah, mendengarkan sesuatu yang diceritakan temannya. Sesekali ia mengangguk kecil. Sesekali pula senyumnya muncul begitu saja, ringan, nyaris tanpa suara.
Senyum itu tidak mencolok. Karena kesederhanaannya, senyum itu terasa begitu sulit dilupakan. Setiap kali menatap Riana tersenyum, kedua matanya perlahan menyipit hingga hampir menghilang di balik bulu mata yang lentik. Di sana ada kelembutan yang tak dibuat-buat, seolah dunia yang biasanya penuh suara mendadak memilih diam agar lengkungan kecil di bibirnya dapat berlangsung sedikit lebih lama. Senyum itu tentu saja tidak meminta siapa pun untuk memperhatikannya. Sebatas hadir begitu saja sebagaimana bunga liar tumbuh di tepi jalan yang nyaris tak disadari, tetapi meninggalkan aroma yang terus melekat di ingatan siapa pun yang pernah berhenti sejenak untuk melihatnya.
Sanjaya memandang Riana tanpa berkedip. Matanya tak berpaling dari wajah Riana yang tenang. Melihat hidungnya yang kecil dan bangir, menyatu begitu alami dengan keseluruhan wajahnya. Gambarannya seperti sebuah nada yang menemukan tempat paling tepat di dalam sebuah lagu. Rambut hitam lurusnya jatuh perlahan mengikuti gerak tubuhnya, menyerupai aliran malam yang tenang, mengalir tanpa tergesa menuju tempat yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Bagi Sanjaya, sesungguhnya yang paling menarik perhatiannya adalah tangan Riana. Saat lengannya bergerak jemari gadis itu mengikutinya dengan lembut ketika berbicara, atau saat sesekali merapikan rambut yang tertiup angin. Ia mengusap lengan bajunya tanpa sadar dan gerakan-gerakan kecil itu terasa begitu alami, seolah tubuhnya memahami irama yang bahkan tidak terdengar oleh orang lain. Sanjaya merasa setiap gerakan itu seperti baris-baris puisi yang tidak pernah ditulis, tetapi entah bagaimana dapat dibaca oleh hati.
"Kau lihat apa, sih?" Ipang kembali menyusul muncul di sampingnya sambil membawa segelas es teh dari kantin. Kedatangannya membuat Sanjaya tersentak.
“Hah?”
“Dari tadi matamu ke arah yang sama.”
Sanjaya segera mengalihkan pandangan.
"Tidak lihat apa-apa," ucap Sanjaya yang membawa Ipang tertawa kecil.
“Kalau tidak lihat apa-apa, kenapa mukamu merah?”
Sanjaya hanya menghela napas pelan. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara. Demi sebuah rahasia yang terkadang terasa lebih aman jika tetap disimpan dalam diam. Sebuah rahasia semacam itu adalah seperti sekuntum bunga yang tumbuh di tengah hutan. Keindahannya justru bertahan karena tidak semua orang mengetahui tempat ia mekar.
Di mata Sanjaya, Riana perlahan berubah menjadi sosok yang sulit dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Bukan karena kecantikannya yang mencolok atau karena ia berbeda dari siswa lain. Justru sebaliknya. Ada keseimbangan yang begitu tenang pada dirinya, seolah ia tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa selain dirinya sendiri. Kesederhanaan itulah yang membuat kehadirannya terasa begitu dalam.
Riana bagi Sanjaya, seperti cahaya sore yang jatuh di permukaan danau. Tidak menyilaukan mata, tidak pula meminta untuk dipuji, tetapi mampu mengubah seluruh warna langit hanya dengan diam. Semakin sering Sanjaya memandangnya, semakin ia menyadari bahwa ketertarikan bukanlah sesuatu yang lahir sebagai ledakan. Ia tumbuh sebagai rembesan yang sangat pelan, memasuki celah-celah hati sedikit demi sedikit, hingga suatu hari seseorang baru sadar bahwa seluruh ruang di dalam dirinya telah dipenuhi oleh sesuatu yang bahkan tak pernah mengetuk pintu ketika datang.
Dan pada saat itulah Sanjaya memahami, meski hanya samar-samar, bahwa dirinya telah melangkah terlalu jauh untuk kembali menjadi anak yang sama seperti sebelum Senin pagi itu. Dunia memang masih tampak sama bagi semua orang. Namun bagi dirinya, dunia telah memperoleh satu pusat baru yang diam-diam mengubah arah seluruh pandangannya. Pusat itu bernama Riana.
Hari-hari sesudahnya bergulir dengan wajah yang nyaris sama. Bel masuk berbunyi pada jam yang sama, guru-guru datang dan memasuki ruang kelasnya untuk mengajar, dan kapur kembali menorehkan kalimat di papan tulis. Sementara matahari terus menempuh lintasan yang telah dihafalnya sejak dunia masih begitu muda. Dari luar, tidak ada sesuatu yang benar-benar berubah. Sedangkan di dalam diri Sanjaya, setiap hari seolah menyimpan sebuah pergeseran kecil yang tak kasatmata. Pergeseran itu begitu halus sehingga bahkan ia sendiri baru menyadarinya ketika semuanya telah menjadi kebiasaan.
Perasaan, pikirnya kemudian, barangkali memang bekerja seperti air yang menetes dari langit-langit gua. Setetes demi setetes, nyaris tak berarti. Akan tetapi, kesabaran adalah bahasa yang paling fasih dimiliki waktu. Apa yang tampak sepele hari ini, kelak mampu mengukir batu yang paling keras sekalipun. Demikian pula hatinya. Ia tidak jatuh sekaligus, melainkan dibentuk perlahan oleh sesuatu yang bahkan tidak pernah meminta izin untuk tinggal. Tanpa pernah merencanakannya, kaki Sanjaya seperti dituntun agar mulai mengenal sebuah arah yang sama setiap pagi datang dan setiap kali bel istirahat berbunyi.
Ia akan keluar dari kelas bersama teman-temannya, menyusuri lorong-lorong penghubung deretan ruang kelas, lalu membiarkan langkahnya bergerak pelan menuju kelas Riana. Tidak ada tujuan yang jelas. Tidak ada urusan yang benar-benar harus diselesaikan di sana. Demi semata kemauan tubuhnya yang selalu lebih dahulu mengambil keputusan daripada pikirannya sendiri, seolah ada kompas rahasia yang diam-diam dipasang di dalam dadanya dan jarumnya hanya mengenal satu arah.
Mula-mula ia mencoba menyangkal kebiasaan itu. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia hanya sedang berjalan-jalan mengusir jenuh. Bahwa lorong itu memang lebih teduh dibanding lorong lain. Bahwa angin lebih sering berembus dari arah sana. Bahwa kantin juga bisa dicapai lewat jalur itu.
Semakin sering ia mengulang alasan-alasan tersebut, semakin ia sadar bahwa semuanya hanyalah dalih yang rapuh. Dalih memang sering diciptakan manusia bukan untuk meyakinkan orang lain, melainkan untuk menenangkan dirinya sendiri ketika hati telah lebih dulu mengambil keputusan yang tidak sanggup dijelaskan oleh logika.
Koridor menuju kelas Riana selalu terasa berbeda bagi Sanjaya. Di sana, cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela panjang dan jatuh membentuk petak-petak terang di atas lantai ubin yang mulai kusam dimakan usia. Debu-debu kecil melayang pelan di dalam cahaya itu, seperti jutaan kenangan yang belum sempat memilih tempat untuk menetap. Bau kayu dari kusen jendela bercampur dengan aroma buku-buku pelajaran. Semua itu sebenarnya biasa saja. Akan tetapi, sejak Riana hadir dalam dunianya membawa hal-hal biasa mulai kehilangan sifat biasanya.
Sanjaya sering berhenti beberapa langkah sebelum berdiri di depan pintu ruang kelas Riana. Ia berpura-pura melihat daftar piket yang tertempel di dinding. Kadang-kadang ia berpura-pura membaca pengumuman yang bahkan sudah ia hafal sejak minggu lalu. Sesekali ia berdiri sambil memandangi halaman sekolah dari balik jendela lorong, seakan ada sesuatu yang sangat penting di luar sana.
Padahal, yang sesungguhnya ia tunggu hanyalah satu kemungkinan yang sangat sederhana. Kemungkinan bahwa Riana akan muncul. Hanya itu. Sesederhana itu. Lalu dengan kesederhanaannya, harapan itu menjadi begitu besar.
“Eh.”
Suatu siang, suara seorang siswa dari dalam kelas membuat Sanjaya menoleh.
“Cari siapa?”
Pertanyaan itu terlontar ringan, tetapi cukup membuat dadanya berdegup sedikit lebih cepat.
Sanjaya tersenyum kikuk.
“Tidak... cuma lewat.”
"Sering amat lewat sini," celetuk Ipul.
"Iya, soalnya... kantin lebih dekat," sahut Sanjaya yang membuat Ipul pun mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.
“Oh.”
Jawaban pendek itu terdengar seperti pintu yang ditutup perlahan. Sanjaya mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ia baru sadar bahwa terkadang rasa gugup bukan muncul karena melakukan kesalahan, melainkan karena seseorang nyaris berhasil melihat isi hati yang selama ini ia sembunyikan begitu rapat.
Sanjaya kembali melangkah dengan pelan. Nyaris enggan meninggalkan lorong itu. Seraya meratap dalam hati dan menertawakan dirinya sendiri.
"Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan, San?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dari Ipang.
Tidak ada jawaban. Hanya langkah kaki yang terus bergerak mengikuti bayangan di lantai. Kadang ia merasa dirinya seperti seorang peziarah yang berulang kali mendatangi sebuah tempat suci, bukan karena berharap memperoleh mukjizat, melainkan hanya karena keheningan tempat itu mampu membuat jiwanya sedikit lebih tenang. Ia tidak datang untuk memiliki apa pun. Ia datang hanya untuk memastikan bahwa tempat itu benar-benar ada. Bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar mimpi yang terlalu lama tinggal di kepalanya.
Sampai suatu waktu menyambut hari-hari ketika Riana tidak terlihat sama sekali di tempat yang biasa. Sanjaya sering bertanya tanpa bosan menerima jawaban atas pertanyaan di sebuahperpustakaan desa. Membuat Sanjaya berkata pelan. “Mungkin sedang berada di perpustakaan. Mungkin di kantin. Mungkin sedang berbincang di halaman belakang sekolah bersama teman-temannya. Hari-hari seperti itu selalu terasa lebih lengang daripada biasanya.
Koridor yang sama mendadak kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan. Matahari masih menyinari lantai. Angin masih bertiup melalui jendela. Suara siswa tetap memenuhi udara. Semuanya terdengar seperti sebuah lagu yang kehilangan nada paling pentingnya. Lagu itu masih bisa dimainkan, tetapi tak lagi mampu menggetarkan hati dengan cara yang sama.
"Aneh sekali." Sanjaya bergumam pelan kepada dirinya sendiri. “Hanya karena tidak melihat seseorang membuat tidak karuan.”
Ia menggeleng kecil. Namun semakin ia mencoba menertawakan perasaannya, semakin ia sadar bahwa hati tidak pernah benar-benar tunduk kepada ejekan pemiliknya sendiri.
Pada hari-hari ketika keberuntungan memihak, Riana akan tampak keluar dari kelas sambil membawa beberapa buku yang dipeluk di dadanya. Kadang ia berjalan bersama teman-temannya. Kadang ia tertawa pelan mendengarkan cerita seseorang. Kadang ia hanya diam, menikmati angin yang menggerakkan ujung rambutnya.
Dan Sanjaya selalu memilih berdiri agak jauh. Cukup jauh agar tidak menarik perhatian. Cukup dekat agar masih bisa melihat wajahnya. Jarak itu lambat laun menjadi ruang yang aneh. Terasa begitu pendek ketika dipandang dengan mata, tetapi begitu panjang ketika diukur menggunakan keberanian.
Hanya beberapa meter yang memisahkan mereka. Dalam jarak beberapa meter itu seolah membentang seperti lautan yang belum memiliki jembatan. Sanjaya merasa mampu melihat Riana dengan begitu jelas, tetapi tidak pernah benar-benar sampai kepadanya.
“Mungkin beginilah cara sebagian perasaan tumbuh,” bisik Sanjaya kepada dirinya. Ia tidak selalu meminta untuk dimiliki. Kadang hanya ingin tetap hidup sebagai jarak yang setia. Jarak yang setiap hari mengajarkan seseorang tentang kesabaran, tentang kerendahan hati, dan tentang menerima bahwa tidak semua keindahan diciptakan agar dapat disentuh.
Sampai tiba di suatu siang, ketika Sanjaya hendak berbalik meninggalkan lorong itu, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan mata Riana. Hanya sesaat. Begitu singkat hingga ia bahkan tidak yakin apakah itu benar-benar terjadi.
Riana tersenyum kecil. Dengan senyum yang sederhana. Senyum yang mungkin hanya lahir sebagai bentuk keramahan kepada siapa pun yang kebetulan menatapnya. Namun bagi Sanjaya, senyum itu jatuh ke dalam hatinya seperti setetes hujan pertama yang menyentuh tanah kering setelah kemarau yang panjang. Tidak deras. Tidak pula menggelegar. Tetapi cukup untuk mengangkat aroma tanah yang selama ini tersembunyi, memenuhi seluruh ruang batinnya dengan sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan.
"Dia... tersenyum?" bisiknya hampir tanpa suara. "Mungkin bukan untukku." Pikirannya segera membantah harapannya sendiri.
Tetapi harapan memiliki tabiat yang ganjil. Sekali ia lahir, ia akan terus mencari alasan untuk tetap hidup, meskipun hanya diberi serpihan kemungkinan yang nyaris tak terlihat.
Ketika akhirnya Sanjaya kembali ke kelasnya, langkahnya masih sama seperti biasa. Tidak lebih cepat. Tidak lebih lambat. Sedangkan di dalam dadanya ada sesuatu yang telah berubah sedikit lagi.
"Sudah selesai berkeliling?" Ipang menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap Sanjaya yang baru saja duduk.
Sanjaya mengangkat wajah, keningnya berkerut. “Keliling apa?”
Ipang tertawa pelan. “Keliling yang ujung-ujungnya selalu berhenti di depan kelas Riana.”
Sanjaya terdiam beberapa detik sebelum menunduk dengan senyum tipis. “Kau terlalu banyak memperhatikan.”
"Bukan aku," sahut Ipang sambil mengangkat bahu. “Kakimu sendiri yang terlalu jujur.”
Sanjaya tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, ia merasa ucapan Ipang mungkin benar. Tubuh mengakui sesuatu jauh lebih dulu daripada mulut, dan langkah kaki, rupanya, adalah bagian paling jujur dari seorang manusia. Ia selalu berjalan menuju tempat yang diam-diam disebut hati sebagai rumah, bahkan ketika pemiliknya masih terus berpura-pura tidak tahu ke mana sebenarnya ia melangkah. (Sal)