Jika buku-buku pengetahuan mengajarkan bahwa dunia hanya memiliki tujuh keajaiban, dan salah satunya adalah Borobudur yang tetap berdiri tegak melewati pergantian abad, hujan, angin, gempa, bahkan lupa yang perlahan mengikis ingatan manusia, maka kehidupan diam-diam menyimpan sebuah keajaiban lain yang tak pernah dicatat oleh ensiklopedia mana pun.
Keajaiban itu tidak disusun dari batu-batu andesit yang saling menopang, tidak dipahat oleh tangan para arsitek agung seperti Gunadarma yang namanya hidup bersama sejarah, dan tidak pula lahir dari kejayaan kerajaan atau imperium yang pernah menguasai zamannya, sebagaimana Sinan mengabadikan kebesaran Kesultanan Ottoman melalui kubah-kubah yang menjulang ke langit.
Keajaiban bagi seorang Sanjaya itu tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih sederhana atau bahkan lebih rapuh, lebih sunyi, tetapi memiliki usia yang bahkan melampaui bangunan mana pun, adalah sebuah penantian yang bertahan melawan waktu dan tak pernah runtuh, sekalipun kenyataan berkali-kali datang menghantamnya.
Keajaiban itu adalah pertemuan kembali antara Sanjaya dan Riana, setelah dua puluh tujuh tahun waktu membentangkan jarak di antara keduanya. Dua puluh tujuh tahun yang telah melewati pergantian musim-musim berkali-kali dan tanpa henti, memberi luka yang mengering lalu basah kembali, adalah hari-hari panjang yang terus berjalan meski harapan seorang Sanjaya nyaris kehilangan suara.
Namun, sebagaimana mata air yang tetap mengalir di balik bebatuan, ada sesuatu dalam diri Sanjaya yang tak pernah berhenti menjaga nama Riana tetap hidup berdenyut dalam jiwanya.
Bagi kebanyakan orang, mungkin, sebuah pertemuan itu hanya sebatas dua langkah anak manusia yang akhirnya saling mendekat karena aspek biologis, psikologis, atau sosiologis. Namun bagi Sanjaya, pertemuannya dengan Riana adalah perjalanan panjang yang ditempuh oleh hatinya selama puluhan tahun, perjalanan tanpa peta, tanpa penunjuk arah, dan tanpa kepastian akan garis akhir. Dan satu-satunya bekal yang ia bawa hanyalah keyakinan yang tak pernah selesai mengajarkan tentang arti bertahan, keyakinan bahwa pada suatu hari, ketika waktu telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, takdir akan membuka pintunya sendiri.
Sanjaya menunggu tanpa pernah mengetahui hari, bulan, atau bahkan tahun ketika penantian itu akan berakhir. Yang ia miliki hanyalah kesetiaan yang memilih diam, yang tumbuh perlahan seperti akar pohon yang menjalar jauh di dalam tanah. Tak ada mata yang menyaksikan bagaimana akar itu terus merambat, tak ada telinga yang mendengar bunyi halus pertumbuhannya. Secara diam-diam ia terus saja menjalar mencari air, terus menggenggam bumi agar batang pohonnya tetap hidup.
Begitulah ingatan Sanjaya kepada Riana. Ia memanjang ke dalam waktu, menyusuri lorong-lorong sepi yang tak berpenghuni, tetap bernapas meski dunia berkali-kali menawarkan pengganti, dan tetap bertahan ketika hampir tak ada lagi manusia yang percaya bahwa menunggu selama itu masih mungkin dilakukan bagi dirinya atau siapa pun.
Dan ketika hari itu akhirnya tiba, ketika mata Sanjaya kembali menemukan sosok Riana di hadapan kenyataan, dunia seolah lupa pada kebiasaannya untuk terus bergerak. Waktu melambat, mengalir setenang sungai yang sesaat menahan napas sebelum menyerahkan dirinya kepada lautan. Angin yang berembus membawa aroma kenangan yang selama ini hanya hidup di ruang-ruang ingatan. Bahkan cahaya senja tampak enggan meninggalkan langit, seolah semesta sedang menghamparkan sepetak keheningan agar dua hati yang telah dipisahkan oleh puluhan tahun dapat saling mengenali sekali lagi.
Dalam pertemuan itu, keajaiban yang sesungguhnya bukanlah sekadar dua pasang mata yang kembali bertemu, melainkan kenyataan bahwa Sanjaya masih mampu menatap Riana dengan perasaan yang tetap utuh, seolah dua puluh tujuh tahun hanyalah jeda yang panjang, bukan akhir dari sebuah kisah. Pada saat itulah ia menyadari bahwa waktu memang sanggup mengubah wajah, usia, dan jalan hidup seseorang, tetapi tidak selalu berhasil mengubah arah hati yang sejak awal telah memilih tempatnya untuk pulang.
Tak ada kata yang segera keluar dari bibir Sanjaya. Bahasa terasa terlalu sempit untuk menampung perasaan yang telah mengendap selama puluhan tahun. Kata-kata yang disusun tergesa hanya akan mengecilkan luasnya rindu yang selama ini ia pelihara dalam diam. Sebab, ada kebahagiaan yang memilih menjelma menjadi keheningan, dan dalam keheningan itulah hati berbicara jauh lebih lantang daripada seribu percakapan.
Riana tersenyum tipis.
Senyum itu datang perlahan, nyaris tak terlihat pada detik pertama, seolah lahir dari kedalaman hati yang telah terlalu lama menyimpan rindu hingga lupa bagaimana caranya muncul ke permukaan. Garis lembut di sudut bibirnya bergerak dengan tenang, dan di balik ketenangan itu tersimpan perjalanan waktu yang panjang. Dua puluh tujuh tahun telah berlalu, membawa pergantian musim, mengubah warna langit, mengeringkan daun-daun yang dahulu hijau, bahkan mengajarkan banyak orang untuk melupakan. Akan tetapi, ada sesuatu yang gagal disentuh oleh waktu pada senyum itu.
Senyum yang pernah tinggal di dalam ingatan Sanjaya sejak mereka masih mengenal dunia dengan langkah-langkah yang ringan di lorong-lorong sekolah. Senyum yang selama bertahun-tahun hanya hadir sebagai bayangan di antara kenangan, lalu tiba-tiba berdiri di hadapannya dalam wujud yang utuh. Waktu memang meninggalkan jejak-jejak halus di wajah Riana, sebagaimana sungai perlahan mengukir batu. Namun cahaya yang memancar dari senyumnya masih sama. Menghangat, meneduhkan, dan diam-diam sanggup meruntuhkan benteng-benteng kesabaran yang selama ini dibangun Sanjaya di dalam jiwanya.
"Akhirnya... kita bertemu," ucap Riana lirih.
Suaranya begitu pelan, hampir larut bersama desir angin yang lewat di antara mereka. Namun justru karena pelan itulah setiap suku katanya terdengar begitu utuh, jatuh satu demi satu ke dalam hati Sanjaya seperti titik-titik hujan pertama yang menyentuh tanah yang telah lama retak menunggu musim.
Sanjaya tidak segera menjawab. Bukan karena ia tak memiliki kata-kata, melainkan karena terlalu banyak yang berebut keluar dalam waktu yang bersamaan. Selama dua puluh tujuh tahun ia telah berkali-kali membayangkan pertemuan ini. Ia pernah membayangkan dirinya akan memeluk Riana tanpa ragu. Pernah pula membayangkan akan mengucapkan kalimat-kalimat indah yang disusunnya diam-diam di dalam kepala. Namun, ketika kenyataan benar-benar berdiri sedekat ini, semua kalimat itu justru luruh seperti daun-daun kering yang disentuh angin.
Sanjaya hanya mampu menatap. Dan tatapan itu pun bertahan beberapa detik. Mungkin lebih lama daripada yang sewajarnya. Lalu di kedua matanya ada sesuatu yang bergerak perlahan. Tapi bukan air mata yang segera jatuh, melainkan gelombang emosi yang berkali-kali menahan dirinya agar tidak pecah. Matanya lebih dahulu hendak mengucapkan segala sesuatu yang selama puluhan tahun gagal diterjemahkan oleh bahasa.
Sebuah kebenaran yang ditunjukkan bahwa ada kerinduan yang tak pernah selesai, ada kesetiaan yang diam-diam terus hidup, ada doa-doa yang selama ini hanya mampu ia titipkan kepada langit setiap kali malam datang, dan ada rasa syukur yang begitu besar hingga tubuhnya sendiri seakan tak cukup luas untuk menampungnya.
Untuk sesaat, dunia di sekeliling mereka seperti kehilangan bunyinya. Tak ada suara angin, langkah manusia, gemerisik dedaunan, bahkan detak waktu seolah menjauh, membiarkan dua orang yang pernah dipisahkan oleh puluhan tahun itu saling memandang dalam keheningan yang lebih fasih daripada percakapan mana pun. Dalam pertemuan itu mereka tidak sedang saling melihat wajah satu sama lain. Mereka sedang membaca perjalanan hidup yang diam-diam ditulis waktu pada mata masing-masing.
Barulah kemudian bibir Sanjaya bergerak perlahan. "Iya..." bisiknya nyaris tak terdengar. Dengan suaranya penuh getaran yang begitu halus, seperti seseorang yang baru saja kembali menemukan bagian dirinya yang telah lama hilang.
"Aku sempat mengira... hari ini hanya akan menjadi mimpi yang terlalu indah untuk benar-benar terjadi." Kalimat itu meluncur perlahan, seakan setiap katanya harus melewati dadanya lebih dulu sebelum akhirnya sampai ke bibir Sanjaya. Ia mengucapkannya sambil tetap menatap Riana, seolah takut jika ia mengalihkan pandangan walau hanya sesaat, semuanya akan kembali lenyap seperti mimpi yang buyar menjelang fajar.
Sebab selama bertahun-tahun sebagai waktu yang panjang dan musim berganti-ganti itu, yang ia miliki hanyalah bayangan. Lalu untuk pertama kalinya setelah dua puluh tujuh tahun, bayangan itu memiliki napas, memiliki suara, dan kembali tersenyum tepat di hadapannya.
Dan percakapan mereka melayang perlahan, kemudian larut bersama udara yang dipenuhi haru. Tak ada pelukan yang tergesa, tak ada tangis yang meledak, tak ada luapan emosi yang mencari perhatian. Dalam kesederhanaan itulah yang membuat pertemuan itu terasa demikian agung. Seolah-olah semesta telah bekerja tanpa suara selama bertahun-tahun, menggeser waktu sedikit demi sedikit, menata peristiwa dengan kesabaran yang tak terukur, hingga akhirnya mempertemukan kembali dua manusia yang sejak lama saling menyimpan nama di ruang paling sunyi dalam hati mereka sadar atau tidak sadar telah terengkuh jalinan rapuh lalu menumbuh.
Sejak hari itu, bagi Sanjaya, jumlah keajaiban dunia bukan lagi tujuh, melainkan delapan. Keajaiban kedelapan itu bukan hal material seperti bangunan yang menjulang tinggi, bukan pula monumen yang dikunjungi jutaan manusia sebelum akhirnya mereka tinggalkan sebagai kenangan yang perlahan memudar. Keajaiban itu adalah cinta yang mulai tumbuh sejak usia dua belas tahun. Cinta yang tak lapuk oleh pergantian musim, tak patah oleh panjangnya jarak, dan tak padam meski waktu berkali-kali mengajarkan arti kehilangan. Ia terus hidup, diam-diam berakar di dalam hati, hingga pada akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk pulang, mempertemukan kembali Sanjaya dengan Riana.
Mungkin itulah keajaiban yang sesungguhnya. Bukan sesuatu yang dibangun oleh tangan manusia, melainkan sesuatu yang dibangun oleh kesetiaan. Sebab batu dapat retak, menara dapat runtuh, dan sejarah dapat dilupakan. Namun hati yang setia, selama ia tetap memelihara cintanya, selalu memiliki cara untuk bertahan melampaui waktu.
Barangkali memang ada perjumpaan yang datang seperti hujan pertama setelah kemarau yang terlalu panjang. Hujan itu tidak pernah gaduh. Ia turun perlahan, setetes demi setetes, namun setiap tetesnya mampu membangunkan tanah yang telah lama retak karena menahan haus. Demikian pula hati Sanjaya. Bertahun-tahun ia belajar hidup bersama rindu yang tak pernah benar-benar selesai. Ia tetap berjalan, tetap tertawa, tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, tetapi jauh di dasar hatinya ada ruang yang selalu kosong, ruang yang hanya mengenal satu nama, seolah memang sejak awal diciptakan untuk menunggu seseorang yang belum selesai menjadi takdirnya.
Setelah Riana kembali hadir di hadapannya, ruang kosong yang selama bertahun-tahun bergaung di dalam diri Sanjaya perlahan dipenuhi cahaya. Bukan cahaya yang datang sekaligus lalu mengusir seluruh gelap dalam sekejap, melainkan cahaya yang lahir setenang fajar, sabar menyibak malam sedikit demi sedikit hingga embun kehilangan dinginnya. Kehangatannya tidak menyilaukan mata, tetapi cukup untuk mencairkan luka-luka yang sekian lama membeku di sudut hati, lalu membiarkannya mengalir pelan bersama arus waktu, menuju tempat di mana kenangan tak lagi terasa sebagai penderitaan.
Begitulah Sanjaya memandang Riana. Di antara ribuan wajah yang pernah singgah lalu menghilang sepanjang perjalanan hidupnya, hanya wajah Riana yang selalu sanggup mengubah waktu menjadi sunyi. Seakan-akan semesta sengaja memperlambat putaran bumi, membiarkan angin menahan napasnya, agar hati memiliki kesempatan untuk kembali mengingat alasan mengapa ia diciptakan. Bukan semata-mata untuk berdetak dan bergerak, melainkan untuk mencintai dengan setia, menunggu tanpa jemu, dan terus percaya bahwa cinta yang sungguh-sungguh tidak selalu dikalahkan oleh jarak, usia, ataupun waktu.
Sanjaya kembali menatap Riana. Tatapan itu tenang, seolah seluruh perjalanan panjang yang pernah dilaluinya telah bermuara di sepasang mata yang sejak dahulu tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya. Senyum kecil mengembang di sudut bibirnya, lalu berkata, "Kalau dunia hanya mengenal tujuh keajaiban," ucapnya lirih, “biarkan yang kedelapan tetap menjadi rahasia kita.”
Riana mengernyitkan dahi sambil menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Kerutan kecil di antara alisnya bukan lahir karena kebingungan yang berat, melainkan rasa ingin tahu yang perlahan mekar, seperti bunga yang membuka kelopaknya saat disentuh cahaya pagi. Senyumnya begitu sederhana, nyaris tak kentara, namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa begitu indah.
Di wajah yang telah ditempa oleh perjalanan panjang kehidupan, senyum itu masih menyimpan kelembutan yang dahulu pernah tinggal di dalam ingatan Sanjaya. Seakan waktu telah mengubah begitu banyak hal, kecuali cara senyum itu menjalar perlahan dan menghangatkan hati orang yang memandangnya. Dalam sekejap, dada Sanjaya dipenuhi kehangatan yang selama puluhan tahun hanya hidup sebagai kenangan. Kehangatan yang pernah hilang bersama perpisahan, namun kini kembali menyala pelan, seperti bara yang ternyata tak pernah benar-benar padam meski telah lama tertimbun abu.
"Keajaiban yang mana?" tanyanya lirih.
Suara itu jatuh begitu pelan, nyaris menyatu dengan desir angin yang melintasi pepohonan. Tidak tergesa, tidak pula dipenuhi rasa curiga. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang diucapkan dengan kelembutan, tetapi terdengar begitu dalam di telinga Sanjaya. Ada jeda yang menggantung sesudahnya. Jeda yang dipenuhi bunyi dedaunan yang saling bersentuhan, bersama desir rumput yang bergoyang perlahan, serta cahaya sore yang merambat turun di sela-sela ranting, memandikan segala sesuatu dengan warna keemasan yang hangat. Seolah-olah alam ikut menahan napas, memberi ruang bagi dua hati yang telah lama dipisahkan waktu untuk saling mendengar kembali suara yang pernah mereka kenal.
Sanjaya menarik napas panjang. Udara memenuhi dadanya perlahan, lalu keluar dengan tenang, seakan ia sedang mengumpulkan serpihan-serpihan perasaan yang selama ini tak pernah mampu ia ucapkan. Angin yang berembus lembut menyentuh wajahnya, membawa harum tanah, dedaunan, dan sisa embun yang belum sepenuhnya hilang. Embusan itu mengalir di antara mereka seperti tangan tak kasatmata yang berusaha menjaga setiap kata agar lahir tanpa tergesa. Ada begitu banyak kalimat yang selama dua puluh tujuh tahun ia simpan dalam diam, namun semuanya mendadak terasa terlalu kecil untuk menjelaskan besarnya penantian yang telah ia jalani.
Keadaan itu hanya satu kalimat yang mampu menemukan jalannya keluar dari hatinya. “Keajaiban yang membuatku menemukanmu kembali, setelah bertahun-tahun aku hidup hanya bersama namamu.”
Kalimat itu meluncur tanpa hiasan, tetapi setiap katanya membawa beban waktu yang panjang. Di balik kata menemukan tersimpan ribuan hari yang berlalu dalam kesunyian, langkah-langkah yang terus berjalan tanpa pernah benar-benar meninggalkan masa lalu, dan malam-malam panjang ketika satu-satunya teman yang menemaninya hanyalah ingatan tentang perempuan yang kini berdiri di hadapannya.
Selama bertahun-tahun, nama Riana bukan sekadar rangkaian huruf baginya. Nama itu adalah rumah tempat ia pulang setiap kali dunia terasa terlalu asing, doa yang diam-diam ia titipkan dalam setiap sujud, serta cahaya kecil yang bertahan menyala di ujung harapan ketika segala sesuatu di sekelilingnya mulai kehilangan arti. Lalu ketika pemilik nama itu benar-benar hadir di hadapannya, Sanjaya merasa seolah seluruh penantiannya telah berubah menjadi sesuatu yang nyata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, waktu tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang merampas, melainkan sebagai jalan panjang yang akhirnya mengantarkannya kembali kepada perempuan yang tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Riana tidak segera menjawab. Bibirnya bergetar seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata berhenti sebelum sempat dilahirkan. Yang lebih dahulu berbicara justru matanya. Kilau bening perlahan memenuhi pelupuknya, lalu menggantung di sana seperti embun yang enggan jatuh dari ujung daun pada pagi yang hening.
Kadang-kadang cinta memang tidak memerlukan banyak kata. Pada saat-saat yang paling jujur, sepasang mata mampu mengucapkan apa yang tak sanggup ditanggung oleh bahasa, dan setetes air mata dapat menjelma kalimat yang lebih fasih daripada seluruh kata yang pernah diciptakan manusia. Di dalam diam yang panjang itu, Sanjaya dan Riana memahami sesuatu yang tak perlu diucapkan bahwa tidak semua keajaiban dibangun oleh batu, dipahat oleh tangan manusia, atau diabadikan dalam sejarah. Sebagian lahir dari kesabaran yang tak pernah menyerah, dari doa-doa yang terus mengetuk langit tanpa mengenal lelah, dan dari dua hati yang tetap saling mengingat, meski waktu berkali-kali mengajarkan betapa perih rasanya kehilangan.
Keheningan mengendap beberapa saat di antara Sanjaya dan Riana. Bukan lagi keheningan yang lahir dari kegugupan ketika pandangan mereka pertama kali bertemu, melainkan keheningan yang pelan-pelan menjelma menjadi tempat bagi kenyataan untuk menetap. Pertemuan itu telah terjadi dan yang tersisa hanyalah kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa hidup kadang mampu menghadirkan kenyataan yang jauh melampaui segala kemungkinan yang pernah dibayangkan manusia.
Sanjaya memandang Riana seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa waktu benar-benar telah mengembalikan perempuan itu ke hadapannya. Wajah yang selama ini hanya hidup sebagai kenangan kini hadir bersama napas, tatapan, dan suara yang nyata. Senyum kecil mengembang di bibirnya, nyaris larut dalam haru yang memenuhi dadanya.
"Aku sempat percaya kita tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk berbincang seperti ini," ucap Sanjaya yang disambut Riana mengangkat wajahnya dengan perlahan. Sanjaya menemukan di matanya menyimpan sisa-sisa perjalanan yang panjang, namun senyumnya tetap menyimpan kelembutan yang pernah dikenalnya.
"Aku juga pernah berpikir begitu." Jawaban Riana singkat, tetapi cukup untuk merangkum dua puluh tujuh tahun yang tak pernah selesai diucapkan. Sebab tidak ada lagi yang perlu dijelaskan atau dibuktikan. Waktu telah menjadi saksi paling setia bagi segala yang dulu mereka sembunyikan di balik diam, bagi rindu yang tak sempat menemukan bahasa, dan bagi harapan yang bertahan tanpa pernah meminta kepastian.
Bagi Sanjaya, perpisahan ternyata bukan sekadar dua orang yang melangkah ke arah yang berbeda. Perpisahan adalah musim panjang yang diam-diam menguji apakah sebuah perasaan hanya singgah seperti embun yang lenyap bersama matahari, atau justru berakar begitu dalam hingga tetap hidup meski bertahun-tahun tak pernah tersentuh. Ia menjalani hidup sebagaimana mestinya. Hari-hari berganti, usia bertambah, dan dunia terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Namun jauh di dalam dirinya, ada sebuah ruang yang tetap kosong. Bukan karena ia gagal melupakan, melainkan karena ruang itu sejak awal hanya mengenal satu nama yang telah terukir sejak pintu terbuka dalam kedipan pertemuan mata di lorong sekolahnya.
Saat itulah ia mengerti bahwa keajaiban tidak selalu datang bersama dentang yang menggetarkan dunia. Ada keajaiban yang melangkah tanpa suara, tanpa tanda, tanpa aba-aba. Ia datang seperti fajar yang perlahan menghapus gelap, lalu diam-diam mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Dua orang yang pernah dipisahkan oleh waktu, kesalahpahaman, dan jalan hidup masing-masing, ternyata masih dapat dipertemukan ketika keduanya telah belajar menerima kemungkinan bahwa pertemuan itu mungkin tak akan pernah terjadi.
"Barangkali memang hidup suka menyimpan kejutan di tempat yang paling tidak kita duga," ujar Sanjaya lirih. Disambut gerak lengkung bibir senyum Riana. Senyum yang tenang, seolah telah berdamai dengan segala kehilangan yang pernah singgah di hadapannya.
"Kalau semuanya mudah ditebak," kata Riana pelan, "mungkin kita tidak akan pernah belajar arti menunggu." Kalimat itu jatuh pelan ke dalam hati Sanjaya, seperti setetes hujan yang meresap ke tanah kering.
Ia menyadari bahwa penantian bukan sekadar jeda di antara dua peristiwa. Penantian adalah ruang sunyi tempat waktu mengikis ketergesaan, menghaluskan amarah, dan mengajari manusia menerima bahwa tidak semua doa dijawab secepat ia dipanjatkan. Ada doa yang harus terlebih dahulu berjalan bersama musim, menua bersama kesabaran, sebelum akhirnya menemukan jalannya pulang.
Pikiran Sanjaya kembali melayang kepada Borobudur. Selama berabad-abad, candi itu tetap berdiri sebagai lambang ketekunan manusia membangun sesuatu yang sanggup melampaui usia para pembangunnya. Batu demi batu disusun dengan kesabaran, hingga menjelma menjadi warisan yang tetap bertahan ketika kerajaan-kerajaan yang melahirkannya telah lama berubah menjadi debu sejarah.
Demikian di hadapan Riana, Sanjaya memahami bahwa ada bangunan lain yang jauh lebih sukar dipelihara daripada candi sebesar apa pun, yakni kepercayaan. Kepercayaan tidak dapat disusun dari batu yang dapat dipahat, tidak pula ditegakkan oleh tiang-tiang yang menjulang ke langit, melainkan dibangun dari keberanian untuk kembali membuka hati setelah lama tertutup oleh keraguan, dari kesediaan memaafkan tanpa menghapus luka, dan dari keyakinan bahwa sesuatu yang pernah hilang masih mungkin menemukan jalan pulang.
Kepercayaan tak memiliki relief yang dapat disentuh, tak memiliki stupa yang dapat dipandang, dan tak meninggalkan jejak pada tanah. Namun ketika berhasil dijaga, kepercayaan mampu bertahan lebih lama daripada bangunan paling kokoh di dunia, sebab rumah sejatinya bukanlah batu, melainkan hati manusia.
Hubungan Sanjaya dan Riana pun tidak pernah dibangun dengan kemegahan yang dapat disaksikan banyak orang. Pondasinya justru lahir dari hal-hal yang nyaris tak terlihat. Dari sapaan sederhana di lorong sekolah yang tak disadari. Dari percakapan-percakapan pendek yang pernah menghangatkan hari. Dari kenangan-kenangan kecil yang terus hidup karena selalu dirawat oleh ingatan.
Karena Sanjaya percaya bahwa manusia sering mengingat peristiwa-peristiwa besar, tetapi hati justru memilih menetap pada hal-hal yang sederhana. Sebab cinta tidak selalu tumbuh melalui kejadian yang luar biasa. Kadang ia lahir dari pertemuan yang tampak biasa, lalu diam-diam menjadi tempat pulang bagi seluruh perjalanan hidup seseorang.
Mungkin itulah sebabnya lorong sekolah itu tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu bagi Sanjaya. Tempat itu telah selesai sebagai ruang, tetapi tidak pernah selesai sebagai kenangan. Di sanalah sebuah cerita dimulai. Cerita yang sempat dipisahkan oleh waktu, namun tidak pernah benar-benar kehilangan arah untuk kembali saling menemukan.
Sejak hari itu, Sanjaya tidak lagi merasa perlu mencari jawaban tentang apa yang paling berharga dalam hidupnya. Sebab beberapa jawaban memang tidak lahir dari panjangnya pemikiran, melainkan dari satu peristiwa yang mengubah cara seseorang memandang seluruh perjalanan hidupnya. Pertemuan kembali dengan Riana telah menjadi jawaban itu. Dengan sederhana dalam bentuknya, tetapi begitu luas maknanya hingga sukar ditampung oleh kata-kata.
Karena itu, bila suatu hari ada seseorang bertanya kepadanya, "Menurutmu, apakah keajaiban dunia yang kedelapan?" Sanjaya dengan dan tidak akan tergesa-gesa menjawabnya. Menjawabnya sambil tersenyum pelan, senyum yang lahir bukan karena ingin mengingat masa lalu, melainkan karena bersyukur bahwa takdir pernah menghadiahkan satu momen yang sanggup mengubah arti penantian.
Cukup ia berkata dengan tenang, “Keajaiban dunia yang kedelapan bukanlah sesuatu yang berdiri megah untuk dikagumi banyak orang. Bagiku, ia adalah saat ketika jalan-jalan yang pernah saling menjauh akhirnya dipertemukan kembali. Saat waktu yang semula terasa memisahkan, justru memilih menjadi jembatan. Dan di ujung perjalanan itu, aku kembali menemukan Riana.”
Baginya, perjumpaan itu tidak membutuhkan pengakuan sejarah agar menjadi berarti. Tidak memerlukan pembuktian dari ilmu pengetahuan ataupun penjelasan yang dapat diterima oleh logika. Sebab tidak semua hal yang paling bernilai di dalam hidup dapat diukur, dihitung, atau diterangkan. Ada pengalaman yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah memelihara harapan tanpa kepastian, yang tetap menyimpan keyakinan ketika keadaan memaksanya untuk belajar melepaskan, dan yang akhirnya menyadari bahwa waktu terkadang tidak membawa seseorang menjauh, melainkan membawanya pulang melalui jalan yang paling tidak disangka.
Di situlah Sanjaya memahami bahwa keajaiban sejati bukanlah tentang menaklukkan dunia, melainkan tentang tetap menemukan alasan untuk percaya kepada kehidupan, bahkan setelah berkali-kali dikecewakan olehnya. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah pertemuan menjadi begitu berharga bukan hanya karena dua manusia kembali saling menatap, melainkan karena di dalam pertemuan itu mereka menemukan kembali bagian dari diri mereka yang selama ini terasa hilang.
Dan barangkali, itulah alasan mengapa sebagian kisah tidak pernah benar-benar berakhir. Hanya ia berhenti sejenak, memberi waktu kepada hati untuk bertumbuh, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya pada halaman berikutnya dengan cara yang lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih penuh syukur.
Dan sore perlahan turun membentangkan langit dengan warna-warna yang lembut, seolah alam pun memahami bahwa tidak semua pertemuan harus dirayakan dengan gemuruh. Ada kebahagiaan yang justru tumbuh dalam ketenangan, seperti embun yang lahir tanpa suara, tetapi sanggup menyegarkan seluruh dedaunan yang sejak pagi menahan terik.
Sanjaya memandang langit sesaat, lalu kembali menatap Riana. Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa perlu berperang dengan masa lalu. Semua yang pernah hilang telah menemukan tempatnya masing-masing, dan semua yang dahulu terasa menggantung perlahan memperoleh maknanya.
Di dalam hati Sanjaya kemudian tumbuh sebuah keyakinan yang sederhana bahwa waktu ternyata tidak selalu datang untuk mengambil. Sering ia justru bekerja seperti seorang pemahat yang sabar untuk mengikis kesombongan, melunakkan amarah, mengajarkan keikhlasan, hingga akhirnya mempertemukan seseorang dengan dirinya sendiri sebelum mempertemukannya kembali dengan orang yang selama ini ia rindukan.
Barangkali itulah cara waktu menunjukkan kasih sayangnya kepada manusia. Ia tidak pernah terburu-buru, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang datang terlalu cepat sering kali belum siap untuk dipertahankan.
Riana memandang Sanjaya dengan senyum tenang. Tidak ada janji yang diucapkan, tidak ada ikrar yang dipaksakan. Mereka memahami bahwa beberapa hubungan tidak memerlukan kalimat-kalimat yang megah untuk membuktikan ketulusannya. Kehadiran seringkali jauh lebih jujur daripada ribuan janji yang mudah diucapkan tetapi sukar ditepati. Di antara mereka, diam bukan lagi pertanda jarak, melainkan bahasa yang sama-sama mereka mengerti.
Barangkali memang begitulah cinta bekerja yang tidak selalu meminta untuk menjadi kisah yang paling sempurna, tetapi ia selalu berharap menjadi kisah yang paling tulus. Untuk menerima luka sebagai bagian dari perjalanan, menerima jarak sebagai ujian kesabaran, dan menerima waktu sebagai guru yang perlahan mengajarkan bahwa mencintai bukan hanya tentang memiliki, melainkan juga tentang tetap menjaga kebaikan di dalam hati, bahkan ketika kehidupan layak belum berpihak menemani keduanya.
Sanjaya kemudian menyadari bahwa setiap langkah yang pernah membawanya menjauh ternyata bukanlah kesesatan. Semua jalan yang berliku, semua penantian yang terasa panjang, dan semua kesunyian yang pernah ia jalani diam-diam sedang mengarahkannya menuju hari yang dinantikan bertemu Riana. Seandainya satu saja peristiwa dalam hidupnya berjalan berbeda, mungkin ia tidak akan berdiri di tempat yang sama, memandang Riana dengan hati yang telah belajar mencintai tanpa tergesa-gesa dan bersyukur tanpa syarat dan prasangka.
Maka, ketika kelak usia mereka bertambah tua dan kenangan mulai kehilangan sebagian wajahnya, Sanjaya berharap ada satu hal yang tidak pernah pudar dari ingatannya bahwa di antara begitu banyak manusia yang saling berpapasan di dunia, mereka pernah dipertemukan kembali oleh kehidupan pada saat yang paling tepat. Bukan ketika hati masih dipenuhi tuntutan, melainkan ketika keduanya telah mengerti bahwa setiap pertemuan adalah anugerah yang tidak patut disia-siakan.
Dan apabila suatu hari nanti cerita mereka hanya tinggal lembar-lembar kenangan yang dibaca oleh waktu, Sanjaya berharap kisah itu tetap meninggalkan satu keyakinan bagi siapa pun yang mendengarnya. Orang dapat membaca harapan yang telah dirawat dengan kesabaran dan hidup tidak selalu berakhir dengan kekecewaan. Sebab ada doa yang dijawab setelah penantian yang panjang. Ada rindu yang akhirnya menemukan pelukannya. Dan ada pertemuan yang datang bukan untuk menghapus masa lalu, melainkan untuk menyempurnakan perjalanan yang selama ini belum selesai dituliskan.
Begitulah kisah berakhir—atau mungkin baru dimulai. Sebab bagi dua hati yang telah menemukan jalan pulangnya, akhir bukanlah tempat untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia hanyalah gerbang yang membuka halaman-halaman baru, tempat cinta tidak lagi sibuk membuktikan dirinya, melainkan perlahan hidup dalam keseharian yang sederhana, tenang, dan setia.
Demikian cinta yang dewasa telah melampaui riuhnya kata-kata. Ia telah menjadi matahari yang tak lagi haus akan pengakuan, yang diam-diam membasuh dunia dengan kehangatan abadi, menanti siapa pun yang lelah untuk pulang dan berteduh di dalam kedalamannya. (Sal)