Menunggu Pulang

Setiap perjalanan panjang, sepanjang apa pun jalan yang ditempuh, pada akhirnya akan selalu...

Menunggu Pulang

16 Jul 2026
407 x Dilihat
Share :

Menunggu Pulang

Setiap perjalanan panjang, sepanjang apa pun jalan yang ditempuh, pada akhirnya akan selalu menuntut satu titik henti. Bukan karena kita lelah, melainkan karena jiwa pun memiliki musim migrasi, sebagai kerinduan untuk kembali ke tempat di mana ia pertama kali merasa utuh. 

Ini adalah sebuah fragmen tentang perjumpaan, di mana waktu seolah melipat dirinya sendiri, mempertemukan dua manusia dalam ruang di mana bahasa lisan menjadi tidak lagi cukup untuk menjelaskan apa yang tersimpan di balik dada. Ini adalah pengakuan akan kerinduan yang sederhana, yang tumbuh dalam hening, sebagaimana embun yang menetap di ujung dedaunan sebelum fajar menyapa.

Pagi merekah di ufuk timur, membasuh langit dengan sapuan cahaya keemasan yang lembut, mengusir sisa embun yang masih memeluk dedaunan. Di bawah naungan cahaya yang baru lahir itu, aroma tanah basah dan kesegaran rerumputan menguar, membawa ketenangan yang meresap hingga ke relung jiwa. 

Riana duduk di sana, membiarkan tatapannya tertuju pada Sanjaya, tepat saat surya mulai menghangatkan udara yang tadinya menggigil. Ada sepasang mata yang penuh gema, menyimpan barisan tanya yang telah lama ia endapkan bersama malam. Di antara mereka, waktu seakan berhenti berlari, sengaja melambat, untuk memberi ruang agar setiap tarikan napas memiliki kedalaman, dan setiap keheningan menjadi jembatan bagi kejujuran yang paling purba.

Riana memecah kesunyian dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan angin pagi, “Jaya... setelah sekian lama kau berkelana, setelah penantian yang kau jaga sendiri, apa sebenarnya yang paling kau inginkan?”

Pertanyaan itu sederhana, namun bagi Sanjaya, ia menjelma kunci emas yang perlahan memutar tuas pintu ruang rahasianya. Pintu yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat dengan gembok kesendirian, kini sedikit terbuka.

Sanjaya tidak lekas menjawab. Ia menunduk, memperhatikan jemari tangannya sendiri, menatap jemari yang telah sekian lama menjala, yang pernah memegang sekop tanah, membalik halaman buku, dan menghapus peluh di tengah badai kehidupan. Lalu mengangkat wajah untuk menghadirkan senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya. Itu bukan senyum kemenangan yang angkuh, melainkan senyuman seorang pengembara yang akhirnya melihat cahaya pelita rumahnya dari kejauhan setelah teramat lama tersesat di rimba asing. Dalam senyum itu, tersimpan residu kelelahan, kerinduan yang mengkristal, dan keyakinan yang tumbuh diam-diam seperti akar pohon yang mencengkeram bumi dari dalam sunyi.

Perlahan, Sanjaya mengulurkan tangannya. Gerakannya lambat, penuh kehati-hatian, seolah ia tengah menjamah sesuatu yang rapuh namun suci, sebagaimana seseorang menggenggam titipan yang diamanahkan langsung oleh Tuhan. Saat jemari mereka bertemu, saling mengunci dalam genggaman yang hangat membawa arus ketenangan yang mengalir, melampaui kebutuhan akan kata-kata. Tidak ada janji-janji besar yang diumbar, karena bagi mereka, kehadiran adalah pengakuan yang paling nyata.

Dengan suara yang serak, suara yang selama ini lebih akrab dengan kesunyian daripada riuh manusia, Sanjaya mulai berujar, “Riana... aku tidak pernah mendamba cinta yang megah, yang datang membawa gemuruh badai hingga membuat dunia seolah berhenti berputar. Aku tidak mencari api yang menyala hebat namun cepat memadam.”

Ia menarik napas panjang, membiarkan udara pagi memenuhi paru-parunya.

“Aku hanya menginginkan seseorang yang tetap berpijak saat dunia di luar sana mulai retak. Seseorang yang, ketika waktu mengikis wajah kita, ketika kerut menjadi peta perjalanan yang kita tempuh, ia yang masih menatapku dengan mata yang sama. Mata yang tidak pernah berubah meski keadaan berganti, tidak berpaling meski kekurangan datang menyapa, dan tidak pernah merasa lelah untuk menemaniku pulang dari perjalanan yang terasa begitu panjang ini.”

Sanjaya membalas tatapan Riana. Matanya yang teduh kini menyimpan getaran yang selama ini ia kunci rapat di balik pintu keheningan. "Riana..." panggilnya, suaranya halus, menyatu dengan embusan napas pagi yang masih menyisakan sisa embun.

Perempuan itu mengangkat wajah, membiarkan cahaya mentari yang mulai meninggi menyentuh garis-garis wajahnya, menciptakan pendar yang lembut.

"Jika suatu hari langkahmu benar-benar berhenti di hadapanku," lanjut Sanjaya, “jangan pernah takut pada luka-luka yang kubawa.”

Suaranya begitu lembut, hampir larut terbawa angin pagi yang menyapu pucuk-pucuk dedaunan. “Jangan pula gentar pada sunyi yang sesekali masih bersemayam di dalam diriku. Sunyi itu hanyalah kabut tipis yang betah merayap di kaki gunung sebelum matahari benar-benar bertahta. Ia memang belum pergi sepenuhnya, tetapi ia tidak akan menetap, ia hanyalah persinggahan sementara sebelum cahaya mengambil alih segalanya.”

Riana mengangguk pelan. Di matanya, luka kini bukan lagi bayang-bayang yang harus dihindari, melainkan goresan sejarah yang membentuk manusia menjadi sosok yang utuh. Ia memahami bahwa setiap retakan adalah ruang bagi kedewasaan untuk tumbuh.

Sanjaya menarik napas, membiarkan aroma tanah basah dan kesejukan pagi memenuhi paru-parunya sebelum kembali bersuara. “Aku tidak sedang mencari seseorang yang mampu menyembuhkan semua luka itu.”

Ia menyunggingkan senyum kecil yang tulus. “Aku juga tidak sedang mencari seorang penyelamat. Aku tidak membutuhkan siapa pun untuk sekadar merekatkan setiap retak yang pernah ditorehkan oleh waktu. Sebab, justru retak-retak itulah yang mengajariku bagaimana caranya tetap tegak berdiri meski diterpa badai yang paling dingin sekalipun.”

Bagi Sanjaya, luka-luka itu telah bermetamorfosis menjadi akar yang bekerja dalam diam. Tak terlihat oleh mata, namun ia mencengkeram tanah dengan sedemikian kuatnya, menjaga pohon jiwanya agar tetap kokoh saat musim kehidupan berganti ganas. Luka itu seperti tanah yang berkali-kali dibelah hujan, yang justru membuatnya kian subur untuk menumbuhkan kehidupan baru yang lebih tangguh.

Ia merenung sejenak, membiarkan pikirannya mengalir seperti sungai yang mula-mula bergejolak saat menghantam batu cadas. Namun, sungai itu kemudian belajar menjadi tenang setelah memahami satu rahasia bahwa setiap benturan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari aliran yang membawanya menuju lautan yang lebih luas dan teduh.

Sanjaya menyadari, manusia tidak menjadi kuat karena ia luput dari luka. Manusia menjadi kuat justru karena ia memilih untuk tetap bertumbuh, merawat luka-lukanya hingga berubah menjadi kebijaksanaan yang meneduhkan.

Riana menggenggam tangan Sanjaya sedikit lebih erat sebagai pernyataan tanpa kata yang menegaskan bahwa ia telah menyerap setiap getaran kejujuran itu. Ia tidak menyela karena tahu bahwa ada kedalaman nurani yang hanya bisa disuarakan setelah seseorang selesai berdamai dengan puing-puing masa lalunya.

Sanjaya kemudian mendongak, memandang langit yang perlahan berubah dari pendar emas menjadi biru cerah yang membentang luas. Ia tersenyum, sebuah senyum yang lebih ringan dari sebelumnya.

"Pada usia seperti kita, Riana," ia memulai, suaranya kini lebih jernih, “cinta seharusnya tidak lagi menjadi badai yang membuat dada sesak oleh ketidakpastian. Ia telah berevolusi. Cinta seharusnya sudah berubah menjadi ketenangan yang menetap.”

Kalimat itu meluncur pelan, namun terasa bergaung lama di dalam batin Riana, menyusup ke sela-sela relung hatinya yang paling rahasia.

"Bukan lagi tentang siapa yang paling piawai memikat hati di musim-musim awal," lanjut Sanjaya, “melainkan tentang siapa yang memilih menetap setelah mengetahui seluruh alasan untuk pergi. Tentang siapa yang tetap mendekap erat, bahkan ketika hidup tidak lagi semudah hari-hari pertama kita memulai.”

Bagi Sanjaya, cinta yang matang menyerupai sungai yang tenang di pagi hari. Permukaannya tampak damai, nyaris tanpa riak. Lalu di kedalamannya tersimpan arus yang begitu kuat dan pasti, sanggup menopang dua jiwa untuk terus mengalir melewati musim demi musim tanpa kehilangan arah. Ia tidak lagi mendambakan ledakan perasaan yang hanya membakar sesaat. Ia mendamba ketenangan yang berakar dalam, yang sanggup bertahan hingga senja usia.

Sanjaya menoleh, menatap Riana dengan kelembutan yang sanggup meluruhkan pertahanan apa pun.

"Dan jika perempuan itu adalah dirimu, Riana..." ucapnya lirih. Suaranya sedikit bergetar, namun penuh keyakinan. “Aku tidak pernah meminta kau datang dengan segala kesempurnaan.”

Ia menggeleng pelan, seolah menepis bayang-bayang ekspektasi yang menyesakkan.

“Datanglah bersama luka-lukamu. Datanglah dengan seluruh lelah yang kau bawa dari perjalanan panjang. Datanglah dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini kau sembunyikan di balik senyum paling tegar. Datanglah dengan seluruh ketidaksempurnaanmu, karena aku pun telah lama hidup berdampingan dengan bekas-bekas patah yang mungkin takkan pernah benar-benar hilang.”

Sanjaya memahami, manusia bukanlah bejana porselen yang selalu utuh. Setiap hati membawa retaknya sendiri, setiap jiwa menyimpan luka yang terlalu rahasia untuk dibagikan. Tetapi justru melalui retakan itulah cahaya kasih mampu menyusup masuk, menghangatkan bagian-bagian diri yang selama ini membeku oleh kecewa dan kesunyian.

Riana menundukkan kepala, membiarkan embun bening menitik di ujung matanya, jatuh ke pangkuan. Suasana pagi yang tenang seolah mengamini keheningan di antara mereka. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, “Kalau begitu... apa yang sebenarnya kita cari, Jaya?”

Sanjaya mengusap punggung tangan Riana dengan lembut, sebuah gestur yang menyimpan kehangatan dari sisa-sisa embun pagi. Ia menatap Riana, membiarkan kejujurannya mengalir tanpa hambatan.

"Kita tidak sedang mencari surga yang sempurna," ucapnya tenang, suaranya kini lebih dalam, seolah berasal dari dasar sumur pengalaman yang paling jernih. “Kita hanya sedang mencari bahu yang tidak berpaling saat badai datang menghantam.”

Sanjaya membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka sejenak, membiarkan angin pagi berhembus melintasi rambut mereka, seolah membawa pergi keraguan yang tersisa. Ia lalu menggenggam jemarinya sendiri, memastikan bahwa keyakinan yang ia pelihara sekian lama masih berdenyut di sana.

"Karena itu, jika kelak kau datang, Riana," ia berbisik lirih, namun setiap katanya terasa tajam menembus batin, “datanglah bukan sebagai obat yang hendak menyembuhkan masa laluku. Datanglah sebagai rumah.”

Sanjaya memandang cakrawala yang kini semakin terang, membayangkan sosok rumah yang ia dambakan—sebuah metafora tentang penerimaan. Baginya, rumah tidak pernah sibuk menghitung retakan pada dindingnya, sebab ia paham bahwa setiap garis di sana adalah saksi bisu betapa tangguhnya bangunan itu bertahan melawan cuaca yang silih berganti. Rumah itu tidak takut pada musim-musim buruk, karena ia percaya bahwa badai hanyalah tamu yang pasti akan pergi. Rumah itu tetap menyalakan pelita saat malam merambat panjang, dan selalu membiarkan pintunya tidak terkunci bagi seseorang yang pulang dengan langkah tertatih oleh lelah.

Sebab, rumah yang sesungguhnya bukanlah tempat yang bebas dari luka, melainkan tempat di mana luka tidak lagi harus menanggung bebannya sendirian.

Dalam bayangan Sanjaya, ketika kelak hujan turun tanpa jeda dan malam terasa begitu pekat, Riana akan duduk di sampingnya. Tidak perlu ada banyak kata yang terucap. Cukup dengan genggaman tangan yang hangat, sebuah napas yang tenang, dan bisikan yang meluncur seperti doa yang dipanjatkan di sepertiga malam:

“Jaya... aku di sini.”

Jemari mereka saling bertaut lebih erat, seolah menyatukan dua perjalanan yang akhirnya menemukan dermaga.

"Aku tidak sedang singgah," Riana membalas dengan senyum yang teduh, menyiratkan keputusan yang bulat. “Aku pulang... untuk tinggal.”

Dan pada akhirnya, itulah puncak dari segala pencarian Sanjaya. Bukan tentang seseorang yang mampu menghapus jejak masa lalunya, melainkan seseorang yang bersedia memegang tangannya melangkah menuju masa depan. Seseorang yang memilih untuk duduk di sampingnya saat malam terasa terlalu sunyi, saat bahasa lisan tak lagi sanggup mengartikulasikan isi dada, dan saat hening menjadi satu-satunya bahasa yang paling jujur. Seseorang yang tidak tergesa angkat kaki saat menyadari kekurangannya, yang tidak gentar menghadapi bayang-bayang masa lalu yang sesekali masih melintas, dan yang mengerti bahwa di antara mereka, tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna agar pantas dicintai.

Kini, di bawah cahaya pagi yang memeluk mereka, Sanjaya tahu bahwa ia tidak lagi sedang menunggu. Ia telah sampai.

Sebab Sanjaya mengerti, cinta yang paling dewasa bukanlah tentang menemukan manusia yang tanpa cela, melainkan tentang dua hati yang sama-sama memilih bertahan, saling pulang, dan tetap menggenggam, bahkan ketika waktu terus mengikis segala sesuatu di sekeliling mereka.

Ia berhenti sejenak, membiarkan setiap kata yang ia ucapkan mengendap di udara pagi, menemukan tempatnya di dalam batin Riana.

"Kita tidak sedang mengejar fatamorgana," lanjutnya dengan nada yang lebih dalam. “Kita hanya sedang mencari rumah yang tidak pernah mengusir ketika kita pulang dengan tubuh yang remuk oleh lelah. Seseorang yang tetap memilih duduk di samping kita, bahkan saat dunia di luar sana terasa runtuh berkeping-keping. Kita sedang mencari cinta yang, sesederhana apa pun bentuknya, tetap teguh bertahan ketika musim-musim buruk mengetuk pintu rumah yang sedang kita bangun bersama.”

Rumah itu, bagi Sanjaya, bukan lagi sekadar susunan bata dan atap yang menaungi kepala. Rumah adalah hati yang saling menerima tanpa syarat, ruang teduh di mana dua manusia bisa meletakkan beban hidupnya tanpa rasa takut dihakimi. Rumah adalah tempat yang tidak menuntut seseorang menjadi sempurna sebelum dipeluk. Di sana, air mata tidak pernah dianggap sebagai tanda kelemahan, dan diam tidak pernah disalahartikan sebagai ketidakpedulian. Di sanalah cinta menemukan maknanya yang paling sederhana, namun sekaligus yang paling agung.

Setelah sekian banyak perpisahan yang melelahkan, setelah sekian banyak nama datang lalu menghilang seperti guguran daun yang hanyut mengikuti arus sungai waktu, Sanjaya akhirnya memahami satu hal: manusia yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri tidak lagi mengejar keajaiban-keajaiban yang gemerlap. Ia tidak lagi mendamba kisah yang tampak megah di mata dunia. Ia hanya mencari seseorang yang mampu menapak di atas realitas, seseorang yang tidak mudah goyah ketika cinta mulai diuji oleh monotonnya hari-hari.

Cahaya pagi kian benderang, menyapu sisa-sisa embun yang tadi menggantung di dedaunan. Namun, hangat genggaman tangan mereka justru terasa semakin nyata, menjadi jangkar di tengah arus waktu yang terus mengalir.

Dalam hening yang sakral, Riana menatap Sanjaya dengan senyum yang selama ini tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Sebuah senyum yang hanya lahir untuk seseorang yang telah ia kenali seluruh lukanya. Lalu, dengan suara yang nyaris menyerupai sebuah doa, ia berucap,

“Jaya... aku di sini.”

Ia menggenggam tangan lelaki itu semakin erat, seolah menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.

“Aku tidak akan ke mana-mana.”

Sanjaya memejamkan mata sejenak. Ada haru yang merayap hangat di dadanya, seperti hujan pertama yang membasahi bumi setelah kemarau panjang yang menyesakkan.

Riana kembali berbisik, “Dan kali ini... mari kita sama-sama belajar untuk benar-benar tinggal.”

Sanjaya membuka matanya. Ia menatap perempuan yang selama ini dinantinya dengan senyum yang begitu teduh, sebuah senyum yang telah melalui proses panjang pendewasaan.

"Bukan hanya untuk waktu yang lebih lama," jawabnya pelan, jemarinya mengusap lembut punggung tangan Riana. “Tetapi selama-lamanya, sejauh Tuhan masih mengizinkan kita berjalan beriringan. Dan jika suatu hari nanti langkah kita harus melambat karena usia, semoga cinta ini tetap menjadi rumah yang tak pernah kehilangan pintunya. Itulah tempat kita selalu bisa pulang, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa penantian yang panjang tidak pernah sia-sia saat ia berakhir pada hati yang memang telah ditakdirkan untuk menetap.”

Sanjaya sepenuhnya memahami bahwa penantian yang paling panjang bukanlah menunggu seseorang datang, melainkan menunggu dirinya sendiri benar-benar selesai berdamai dengan seluruh perjalanan yang pernah membentuknya. Tidak ada hati yang mampu menerima cinta secara utuh selama ia masih sibuk memunguti serpihan masa lalu yang enggan dilepaskan. Waktu, dengan caranya yang sunyi dan bijaksana, telah mengajarkan kepadanya bahwa setiap luka memiliki musimnya sendiri untuk sembuh, setiap kehilangan memiliki waktunya sendiri untuk dimengerti, dan setiap pertemuan telah dituliskan oleh Tuhan jauh sebelum dua manusia saling menyebut nama dalam doa-doanya.

Tidak ada satu pun langkah yang benar-benar sia-sia, selama semuanya bermuara pada kedewasaan hati yang paripurna.

Dan Haeriana, perempuan yang selama ini memenuhi ruang-ruang doa Sanjaya tanpa pernah mengetahuinya, akhirnya bukan sekadar menjadi jawaban atas penantian yang panjang. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu datang untuk menghapus luka, melainkan untuk mengajarkan bagaimana dua orang dapat hidup berdampingan dengan retak masing-masing tanpa harus saling menambah perih.

Sebab mencintai bukanlah sebuah upaya untuk mengubah seseorang menjadi sempurna, melainkan sebuah keberanian untuk berkata, "Aku mengenal segala retakmu, namun aku tetap memilih tinggal." Bukankah pohon yang paling kokoh justru tumbuh dari tanah yang pernah berkali-kali diguyur hujan, diterpa kemarau, dan diguncang angin? Demikian pula hati manusia menjadi teduh bukan karena tak pernah terluka, melainkan karena tidak pernah berhenti untuk bertumbuh.

Barangkali beginilah cara Tuhan mempertemukan dua manusia. Bukan ketika keduanya telah menjadi sosok yang tanpa cela, melainkan ketika keduanya telah cukup rendah hati untuk saling menerima sebagai manusia yang sama-sama pernah gagal, sama-sama pernah kecewa, dan sama-sama pernah menangis dalam sunyi. Tetapi tidak pernah kehilangan keberanian untuk kembali percaya. 

Cinta yang dewasa tidak lahir dari dua kehidupan yang sempurna. Ia tumbuh perlahan di sela-sela ketidaksempurnaan, seperti lumut yang tetap menemukan kehidupan di antara batu-batu cadas, atau bunga liar yang memilih mekar di celah tanah yang nyaris dilupakan dunia. Keindahannya tidak gaduh. Ia hadir, diam, dan menghidupi.

Kelak, usia mungkin akan mengubah warna rambut mereka menjadi putih. Garis-garis halus akan singgah di wajah yang dahulu begitu muda, langkah-langkah akan melambat, dan tangan yang kini menggenggam dengan erat akan mulai bergetar dimakan waktu. Tetapi jika cinta dijaga dengan kesetiaan yang sederhana, perubahan itu tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan. Sebab mereka telah belajar bahwa yang membuat seseorang bertahan bukanlah kuatnya tubuh, melainkan hangatnya hati yang masih bersedia saling menggenggam. Kebahagiaan tidak lagi menuntut kemewahan. Cukup secangkir teh hangat di beranda, suara hujan yang jatuh di atap, dan seseorang yang masih memanggil nama kita dengan kelembutan yang sama seperti bertahun-tahun sebelumnya.

Ketika malam kembali turun dengan segala kesunyiannya, Sanjaya tidak lagi merasa sedang berjalan sendirian. Kesunyian yang dahulu terasa seperti lorong panjang tanpa ujung, kini berubah menjadi ruang yang hangat karena ada Haeriana di sisinya. Mereka mungkin tidak selalu berbicara. Terkadang mereka hanya memandangi hujan yang turun perlahan, mendengarkan desir angin di pucuk dedaunan, atau menikmati diam yang tidak lagi menyesakkan. Sebab, ada diam yang lahir dari kesepian, namun ada pula diam yang lahir dari rasa aman. Dan Sanjaya akhirnya menemukan bahwa diam yang paling indah adalah diam yang dibagikan bersama seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.

Mungkin itulah makna pulang yang sesungguhnya. Pulang bukan sekadar kembali ke sebuah bangunan beratap dan berdinding, melainkan kembali kepada seseorang yang membuat segala kegelisahan meletakkan kepalanya. Pulang adalah ketika hati tidak lagi sibuk bertanya apakah ia akan ditinggalkan. Pulang adalah ketika air mata tidak perlu disembunyikan, ketika lelah tidak harus dijelaskan, dan ketika segala kekurangan tidak lagi menjadi alasan untuk menjauh. Ia seperti cahaya lampu di beranda yang tetap menyala pada larut malam, bukan untuk memanggil semua orang, melainkan untuk memberi tahu satu jiwa bahwa masih ada tempat yang menunggunya dengan pintu yang tak pernah benar-benar tertutup.

Maka, jika kelak ada seseorang yang bertanya kepada Sanjaya mengapa ia sanggup menunggu begitu lama, ia barangkali hanya akan tersenyum dengan senyum seorang pengembara yang akhirnya memahami mengapa jalan yang ditempuhnya begitu berliku. Ia tidak akan lagi menghitung berapa banyak hari yang telah berlalu atau berapa lama ia harus berjalan dalam sunyi. Sebab waktu bukanlah sesuatu untuk disesali, melainkan disyukuri. Penantian yang panjang ternyata tidak sedang menunda kebahagiaannya. Hanya sedang membentuk dirinya agar pantas menyambut seseorang yang memang sejak semula telah dipersiapkan Tuhan untuk menjadi rumah bagi seluruh perjalanan hidupnya.

Dan begitulah, kisah ini tidak benar-benar berakhir. Ia hanya berhenti sejenak pada satu bab, sementara kehidupan akan terus menuliskan kelanjutannya dengan tinta yang tak sepenuhnya terbaca manusia. Sebab cinta bukanlah cerita yang selesai ketika dua tangan saling bertaut. Justru pada saat itulah kisah yang sesungguhnya dimulai sebagai kisah tentang dua insan yang setiap hari memilih satu sama lain, yang setiap pagi kembali belajar mencintai, yang setiap senja kembali belajar memahami, dan yang setiap malam mengucapkan syukur karena setelah perjalanan yang begitu panjang, mereka akhirnya menemukan seseorang yang tidak datang untuk singgah, melainkan untuk pulang, menetap, dan bertumbuh hingga waktu menyerahkan keduanya kembali kepada Sang Pemilik Cinta yang pertama kali mempertemukan mereka. (Sal)

Perspektif

Scroll