Entah lahir dari rencana yang disusun jauh-jauh hari atau justru diselipkan diam-diam oleh takdir, beberapa peristiwa selalu memilih waktunya sendiri untuk datang. Senja tampaknya memahami kebiasaan itu. Pada petang ketika cahaya terakhir perlahan mengundurkan diri dari cakrawala dan langit membiarkan warna-warnanya larut satu demi satu, Haeriana Febrianti, yang selalu dipanggil Riana oleh Sanjaya, memandang lelaki itu dengan ketenangan yang sulit diterjemahkan. Tatapannya bening, seperti embun yang bertahan di ujung daun, menunda jatuh selama dunia masih cukup sunyi untuk mendengarkannya. Barangkali alam memang tahu bahwa beberapa pertanyaan hanya sanggup dilahirkan oleh keheningan, ketika angin melambat, burung-burung telah pulang, dan dunia, untuk sesaat, rela menahan napas bersama dua hati yang berdiri di hadapan sebuah kemungkinan.
Di antara mereka, atmosfer sore itu terasa memadat. Debu-debu halus yang menari dalam cahaya senja yang tersisa tampak enggan untuk segera lenyap, seolah-olah waktu pun ingin ikut menyaksikan percakapan yang akan segera memecah keheningan. Riana tidak bergerak, namun tatapannya seolah sedang merangkai setiap kepingan waktu yang telah mereka lalui, waktu yang penuh dengan jarak dan diam menjadi sebuah jalan setapak yang kini berujung pada mereka berdua.
Sanjaya, yang sedari tadi terpaku dalam diamnya, merasakan kehadiran Riana bukan hanya sebagai sosok, melainkan sebagai sebuah jawaban yang selama ini ia cari di balik kabut keraguan. Di bawah naungan langit yang perlahan berubah menjadi ungu gelap, ia merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup lebih tenang, lebih teratur. Ia tahu, momen ini adalah titik nadir dari segala pencariannya, saat di mana topeng-topeng harus ditanggalkan dan kejujuran tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
Riana menarik napas perlahan, sebuah gerakan kecil yang memecah kebisuan, dan tetap mempertahankan kelembutan yang sejak tadi menyelimuti ruang di antara mereka. Ia tahu bahwa pertanyaan yang akan ia ucapkan bukanlah sekadar ingin tahu, melainkan sebuah undangan bagi Sanjaya untuk meletakkan seluruh beban yang selama ini ia panggul sendirian. Dan di sanalah, saat dunia di sekitar mereka seakan berhenti berputar, Riana akhirnya meruntuhkan jarak yang selama ini menjaga mereka.
Dengan suara selembut desir angin yang menyelinap di sela dedaunan, Riana membisikkan sebuah tanya yang selama ini mungkin terkunci di antara mereka, “Jaya, mengapa kau masih menungguku?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, sesederhana penggalan kalimatnya. Namun, bagi Sanjaya, ia menggema panjang di dalam dada serupa batu kerikil yang dijatuhkan ke permukaan telaga yang tenang, menciptakan riak yang terus melebar hingga menyentuh tepian waktu. Ia merasa seolah waktu di sekitarnya berhenti, membiarkan setiap debar jantungnya mengisi kekosongan yang sempat tertinggal.
Sanjaya tidak lekas menjawab. Ia membiarkan jeda itu memanjang, memberi ruang bagi suara-suara batinnya untuk tenang. Ia memahami betul bahwa ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar menuntut sebuah jawaban dalam bentuk kalimat. Pertanyaan seperti itu sering hadir untuk menguji seberapa dalam seseorang sanggup bertahan di dalam keyakinannya sendiri, bahkan saat alasannya mulai sulit dijelaskan dengan logika yang biasa. Di bawah naungan sisa cahaya senja, Sanjaya menatap Riana, menyadari bahwa penantiannya bukanlah soal durasi, melainkan soal kepastian tentang siapa yang ingin ia temukan di ujung setiap hari.
Lelaki itu hanya membalas dengan seulas senyum tipis yang nyaris tak tertangkap mata. Senyum itu lahir bukan karena hidup senantiasa ramah kepadanya, melainkan karena ia telah terlampau lama duduk berhadapan dengan sepi hingga kesunyian itu berubah menjadi sahabat karib yang mengenalnya tanpa perlu banyak kata. Senyumnya serupa cahaya redup dari pelita tua yang tetap setia berpijar di tengah malam-malam panjang, yang tak cukup benderang, tapi cukup untuk menuntun hati yang nyaris kehilangan arah tujuan.
Bertahun-tahun telah mendewasakan Sanjaya, mengubah setiap goresan luka menjadi guratan kebijaksanaan yang tak kasatmata. Ia akhirnya belajar bahwa sepi bukanlah musuh yang harus disingkirkan atau ruang gelap yang perlu diterangi paksa. Sepi adalah guru paling sabar yang perlahan membentuknya menjadi sosok yang lebih tabah. Baginya, kesepian telah menjelma malam yang sangat panjang, menjadi sebuah lorong waktu yang mengajarinya cara berbicara tanpa perlu mengeluarkan suara, cara menangis tanpa harus membiarkan air mata menetes, dan yang tersulit, cara mencintai tanpa perlu menuntut balasan apa pun.
Dari sanalah ia memetik hikmah yang kini terpatri erat dalam batinnya bahwa hati yang paling tangguh justru tumbuh paling subur di tempat-tempat yang paling sunyi. Seolah-olah, ketenangan yang ia temukan bukanlah hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari pengembaraan di dalam senyap yang sekian lama menyekap dirinya. Di tengah sunyi yang tak lagi terasa mengancam, Sanjaya menyadari bahwa ia telah berdamai dengan dirinya sendiri, bahwa dalam kesunyian yang paling dalam pun, ia akhirnya menemukan suara jiwanya yang paling jujur.
"Aku tidak sedang kehilanganmu, Riana," ucap Sanjaya lirih. Suaranya mengalir tenang, serupa angin yang menyusuri reranting tua, membawa kabar tentang musim yang diam-diam telah berganti. "Tidak semua orang yang menunggu sedang merasa kehilangan. Sebagian dari orang menunggu semata karena percaya." Kalimat itu dibiarkan meluncur perlahan, sengaja digantung di udara, seolah setiap katanya harus mencari ruang untuk menetap lebih lama di kedalaman hati Riana.
Bagi Sanjaya, keheningan yang menyusul setelahnya justru mampu bertutur jauh lebih banyak daripada ribuan kata yang terburu-buru. Baginya, diam bukanlah kekosongan, melainkan sebuah ruang yang sangat luas, tempat di mana setiap emosi yang tak mampu terucap oleh lidah justru menemukan jalannya untuk meluap. Di dalam keheningan itu, ia merasa seolah-olah setiap detik memiliki suaranya sendiri sebagai bahasa batin yang jauh lebih jujur, lebih murni, dan lebih dalam daripada retorika mana pun yang pernah ia susun.
Ia membiarkan keheningan itu menetap, membiarkannya menyelimuti mereka berdua layaknya kabut tipis di pagi hari yang menenangkan, namun tetap memberi kejelasan. Baginya, ada keintiman yang sakral saat seseorang sanggup berbagi sunyi tanpa merasa perlu mengisi setiap celahnya dengan deretan kalimat yang dipaksakan. Di sana, di balik keheningan yang tenang itu, Sanjaya seolah sedang membiarkan hatinya berbicara tanpa hambatan, membiarkan Riana meresapi segala hal yang selama ini terpendam dalam sesaknya dada, hingga setiap detak jantung yang terdengar samar menjadi satu-satunya dialog yang paling bermakna di antara mereka.”
Ia kemudian menatap langit yang mulai memudar, seakan di hamparan senja itu tersimpan jawaban-jawaban yang selama ini luput ditemukan manusia di dalam dirinya sendiri. Dengan suara yang tetap membumi dengan penuh nuansa teologi, ia melanjutkan, “Aku percaya Tuhan tidak pernah mempertemukan dua hati tanpa waktu yang telah Dia tentukan.”
Ucapannya mengalir sebagaimana sungai yang tak pernah terburu-buru menuju muara, sebab ia tahu setiap tikungan adalah bagian dari perjalanan yang memang harus dilalui. Sebagaimana fajar takkan datang lebih cepat hanya karena malam terasa terlalu panjang, demikian pula pertemuan tidak pernah benar-benar terlambat bagi dua hati yang memang diciptakan untuk saling menemukan.
Bagi Sanjaya, menunggu Riana bukanlah bentuk kepasrahan yang sia-sia, melainkan keyakinan yang terus dirawat dalam diam, seperti akar pohon yang bekerja sunyi di balik tanah demi menjaga batangnya tetap tegak menghadapi segala musim. Ia sangat memahami bahwa cinta yang paling tangguh sering tumbuh bukan dari kepastian yang cepat, melainkan dari kesabaran yang berakar panjang.
Sesaat kemudian, mata Jaya kembali terangkat ke cakrawala yang telah kehilangan seluruh warnanya. Langit sore itu menyerupai selembar surat tua yang tak pernah usai dituliskan. Tintanya mungkin memudar dimakan usia, namun setiap rasa di balik lipatannya masih terasa hidup. Di sana, ia seolah sedang membaca kembali halaman-halaman hidupnya sendiri, halaman yang dipenuhi nama, harapan, kehilangan, dan doa-doa yang belum menemukan jawabannya. Kemudian ia mengerti, ada kenangan yang takkan pernah benar-benar pergi. Ia hanya belajar berdamai dengan sepi, agar langkahnya dapat terus menapak maju tanpa perlu melupakan dari mana luka itu bermula.
"Aku hanya lelah bertemu dengan orang-orang yang sekadar singgah," ujar Sanjaya lirih. Suaranya begitu pelan, serupa desir hujan pertama yang jatuh di atas tanah kering setelah kemarau panjang. Riana menyimak dalam diam dan cukup mengerti bahwa tidak semua kelelahan mampu diringkas dalam kalimat-kalimat pendek sebagaimana ucapan Sanjaya.
"Aku sudah terlalu sering menjadi pelabuhan bagi kapal-kapal yang berjanji akan kembali," lanjut Sanjaya sembari menunduk. "Tetapi kemudian satu demi satu mereka hilang bersama kabut." Ia kemudian menarik napas panjang, seolah sedang memunguti kembali serpihan dirinya yang pernah tercecer di banyak persinggahan.
“Karena itu, aku tidak lagi mencari sosok yang datang dengan gemuruh seperti badai, yang hadir membawa guncangan hebat, memporak-porandakan tenang, lalu pergi meninggalkan sisa kerusakan sebelum dunia sempat kembali pulih. Aku hanya mendamba seseorang yang memilih tinggal, seseorang yang hadir bukan untuk memicu hiruk-pikuk, melainkan untuk menetap sebagai pelabuhan.”
Sanjaya membayangkan dirinya dapat menatap mata Riana yang teduh, pada sepasang netra yang menyimpan kelelahan panjang, namun sekaligus memancarkan secercah harapan yang masih setia tersisa di dasarnya. Menatap mata itu, Sanjaya merasa seolah sedang menatap permukaan telaga yang jernih setelah badai besar berlalu, menjadi sebuah ruang sunyi, yang tidak menuntut apa pun selain kehadiran yang utuh. Di sana, di kedalaman tatapan Riana, ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari petualangan hidupnya: sebuah kepastian yang tidak berteriak, melainkan meluruhkan segala lelah yang selama ini ia pikul seorang diri, memberinya keyakinan bahwa akhirnya, ia telah menemukan tempat untuk berlabuh dari segala pelarian yang melelahkan.
"Dia adalah orang yang memilih bertahan di tengah banyaknya pilihan. Seseorang yang menetap dengan kesetiaan yang tenang, layaknya pohon tua yang tumbuh di tepi bukit," lanjutnya lirih. “Bayangkan saja, meski berkali-kali diterpa angin ribut, diguncang hujan yang menderas, hingga dihantam silih bergantinya musim yang kejam, ia tidak lantas pergi atau menyerah. Sebaliknya, akarnya justru memilih untuk menancap lebih dalam dan lebih kokoh mencengkeram bumi, seolah ia tahu bahwa kekuatan sejatinya bukan terletak pada seberapa indah dedaunannya, melainkan pada seberapa dalam ia memeluk tanah tempatnya berpijak.”
Sebab, bagi Sanjaya, cinta tidak lagi soal siapa yang datang dengan pesona paling memukau atau mereka yang menawarkan kemeriahan sesaat. Baginya, cinta yang sesungguhnya adalah tentang ketahanan, tentang siapa yang tetap setia berdiri tegak, untuk membiarkan tubuhnya menjadi pelindung bagi orang yang dicintainya, justru saat segala gemerlap dan kemegahan itu telah luruh dan hilang ditelan waktu. Ia mendambakan seseorang yang mampu bertahan bersama saat dunia sedang tidak lagi ramah, seseorang yang tidak akan goyah meski badai hidup sedang berada pada puncaknya.
Riana terdiam. Di antara mereka, angin senja membawa kesunyian yang terasa hangat dan intens, seolah alam semesta sengaja membekukan waktu agar setiap kata yang baru saja terucap memiliki ruang untuk mengendap, tumbuh, dan bersemi menjadi pengertian yang saling terpaut. Sanjaya menarik napas perlahan, menghirup aroma tanah basah yang seolah memberinya keberanian. Ia menatap Riana dengan tatapan yang sangat jujur, sebuah tatapan yang menanggalkan seluruh topeng ketegarannya. “Tapi, Riana... aku tidak ingin membohongimu.”
Ada urgensi dalam suaranya, sebuah penegasan dari seseorang yang sudah terlalu lelah membangun istana di atas fondasi keindahan yang palsu. Ia enggan memulai sesuatu yang suci dengan kepura-puraan. Meski di balik ketegasannya, keraguan mulai menjalar halus seperti akar liar di benaknya, bertanya-tanya apakah Riana sanggup menanggung beban dari seseorang yang sadar betul bahwa dirinya masih jauh dari kata utuh.
"Menginginkanmu untuk menetap bukan berarti aku adalah jiwa yang telah sembuh sepenuhnya," lanjutnya. Kalimat itu meluncur berat, diselimuti senyum tipis yang sarat akan letih yang menahun. “Luka dari masa lalu itu masih menetap di sini. Perempuan-perempuan yang pernah datang dan pergi mungkin telah melangkah jauh, menghilang di balik cakrawala, tetapi bayangannya tidak pernah benar-benar sirna. Mereka adalah tamu yang menolak untuk pulang.”
Bagi Sanjaya, luka-luka itu tak lagi berteriak gaduh seperti saat pertama kali tercipta. Mereka lebih sering memilih bersembunyi dengan cara licik di balik senyum yang setiap hari Sanjaya poles, menjadi sebuah topeng sempurna agar dunia percaya bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal, luka memiliki caranya sendiri untuk tetap bernapas. Ia tidak selalu menetes sebagai darah yang tampak di permukaan, sering menjelma rasa ngilu yang menusuk tulang, atau sebagai sensasi hampa yang menyergap tanpa aba-aba tepat saat hati Sanjaya tanpa sengaja memanggil kembali nama seseorang yang dulu pernah ia percaya sepenuh jiwa.
Di hadapan Riana, Sanjaya bukan sedang menawarkan kesempurnaan, melainkan sebuah pengakuan jujur tentang sisa-sisa reruntuhan yang masih ia coba tata seorang diri. Selama ini, ia menyembunyikan retakan itu di balik kesibukan yang menghabiskan siang dan malamnya. Orang-orang di persimpangan hidupnya hanya mengenal tawanya, percakapan ringannya, dan wajahnya yang selalu tampak tenang. Mereka mengira dunianya selalu terang, sebagaimana langit cerah sering membuat orang lupa bahwa awan gelap pernah bernaung di sana. Karena tidak ada yang benar-benar tahu bahwa seseorang bisa tersenyum tulus di depan khalayak, namun diam-diam harus memunguti kembali serpihan jiwanya setiap kali malam tiba.
Pada malam-malam tertentu, ketika hujan turun perlahan seperti jemari yang mengetuk pintu kenangan dengan sabar, seluruh ketenangan itu kembali retak. Dunia menjadi terlalu sunyi untuk ditipu oleh keramaian, dan kesibukan tak lagi mampu membungkam suara hati yang lama disimpan rapat. Luka-luka itu kembali menyala pelan dari kedalaman ingatan, seperti bara yang selama ini tampak padam, padahal diam-diam masih menyimpan api.
Sanjaya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kegelapan di balik kelopaknya menjadi saksi atas badai batin yang tengah ia redam. Sementara itu, Riana di seberang sana tetap berdiri terpaku, tidak memecah suasana dengan pertanyaan atau kalimat-kalimat penghibur yang dangkal. Ia membiarkan napasnya teratur, selaras dengan ritme alam di sekitar mereka.
Dalam sunyi yang merangkul itu, Sanjaya akhirnya menyadari satu kebenaran yang selama ini luput dari jangkauannya bahwa kehadiran seseorang yang memilih untuk tetap ada, meski dalam diam yang paling pekat jauh lebih menyembuhkan daripada ribuan nasihat atau rangkaian kata-kata manis yang sering hanya menyentuh permukaan. Kehadiran Riana bukanlah sebuah upaya untuk memperbaiki apa yang rusak dengan paksa, melainkan sebuah bentuk penerimaan yang tulus. Dan bagi Sanjaya, itulah bentuk penyembuhan yang paling murni. Melalui sebuah kehadiran yang tidak menuntut, tidak menghakimi, dan tidak terburu-buru, yang perlahan mampu menjahit kembali serpihan-serpihan jiwanya yang sempat tercerai-berai oleh waktu.
Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sanjaya merasa bahwa penantian yang selama ini ia jaga mungkin memang sedang melangkah menuju rumah yang dicari oleh hatinya. Riana hadir saat luka-luka di tubuh Sanjaya telah kehilangan suara lantangnya, tetapi sering menjadi lebih tajam karena memilih berbicara melalui bisikan. Bisikan-bisikan yang sering hadir pada malam yang terlalu sunyi, ketika dunia telah terlelap dan hanya detak jam yang setia menemani kesendiriannya.
Dahulu, Sanjaya pernah mempercayakan seluruh isi hatinya tanpa menyisakan ruang untuk curiga. Ia pernah mencintai dengan keberanian yang utuh, lalu kehilangan dengan kesunyian yang sama utuhnya. Kehilangan itu tidak meninggalkan suara gaduh, melainkan ruang kosong yang perlahan membesar seperti halaman rumah tua yang ditinggalkan penghuninya. Ia tetap tegak berdiri, namun terasa asing bagi siapa pun yang kembali mengunjunginya.
Namun anehnya, Sanjaya tidak pernah menyimpan kebencian kepada perempuan-perempuan yang pernah meninggalkan guratan bekas di dalam hidupnya. Tidak pernah. Bahkan tidak untuk sesaat. Baginya, kebencian hanyalah tali jerat yang mengikat kaki seseorang pada masa lalu yang sudah mati, sementara ia telah terlalu letih untuk terus menyeret beban yang seharusnya sudah lama ia lepaskan di persimpangan jalan. Ia menyadari bahwa dendam bukanlah sebuah kemenangan. Ia adalah penjara yang dinding-dindingnya disusun bata demi bata oleh kenangan sendiri, semakin kokoh justru saat seseorang menolak untuk melangkah pergi.
Karena itulah ia memilih untuk memaafkan. Bukan karena seluruh lukanya telah benar-benar menutup. Beberapa di antaranya mungkin masih menyisakan parut yang perih saat disentuh. Tetapi karena ia mendamba kebebasan, ia ingin melanjutkan sisa perjalanannya tanpa harus terus-menerus menoleh ke belakang. Tanpa harus membiarkan bayang-bayang orang lain mendikte langkah kakinya menuju masa depannya.
Sampai tiba suatu ketika di masa depan itu, di tengah senja yang memeluk sisa hari, angin berembus pelan membawa aroma tanah basah yang baru saja tersentuh hujan, bau yang selalu mampu membuka pintu ingatan paling dalam. Riana, yang sedari tadi menyimak dengan saksama, menatap wajah Sanjaya yang kini dipenuhi oleh ketenangan yang aneh. Wajahnya tercelup sebuah kedamaian yang seolah lahir dari perang batin yang telah usai.
Dengan suara yang hampir tenggelam oleh desau dedaunan kering yang bergesekan, perempuan itu bertanya lirih seolah ia tengah memegang sebuah kristal rapuh dan takut jika getaran suaranya akan memecah keheningan sakral yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. "Apa kau... benar-benar sudah memaafkan mereka, Jaya?" tanyanya, matanya yang teduh menatap lurus ke arah Sanjaya, mencoba mencari jawaban di balik bayang-bayang yang mulai memanjang di wajah lelaki itu.
Sanjaya mengulas senyum tipis, sebuah tarikan bibir yang hampir tak terlihat. Itu bukanlah senyum yang lahir dari luapan kebahagiaan atau sukacita, melainkan senyum yang disingkap oleh seseorang yang telah sepenuhnya berdamai dengan kepingan-kepingan cerita yang tak pernah sempat ia jelaskan kepada siapa pun. Cerita yang selama bertahun-tahun ia simpan di sudut paling gelap dalam ingatannya. Ada guratan kelegaan di sana, tipis namun nyata, seolah ia baru saja meletakkan batu besar yang bertahun-tahun menindih dadanya.
"Memaafkan bukan berarti melupakan, Riana," ucapnya perlahan, suaranya jernih membelah udara sore yang mulai mendingin, membawa ketenangan yang tak terduga. “Aku hanya tidak ingin hidupku terus dikendalikan oleh bayang-bayang mereka yang sudah lama berjalan ke arah yang berbeda. Mereka memang pernah menjadi bagian dari jalanku, menjadi kaki yang melangkah bersamaku di musim yang sama, tetapi mereka bukan lagi tujuan perjalananku. Aku sadar, memegang bara panas hanya akan membakar tanganku sendiri, bukan tangan mereka.”
Kalimat itu menggantung pelan di antara mereka, bergetar di udara sesaat sebelum akhirnya larut bersama desir angin yang membawa dedaunan menari-nari layaknya penari tanpa panggung di atas tanah. Riana tidak segera menjawab. Ia membiarkan jeda itu memanjang, menyerap setiap kata yang diucapkan Sanjaya hingga meresap ke dalam batinnya. Ia memandang lelaki di hadapannya dengan tatapan yang begitu dalam, mata yang kini mulai memahami satu kebenaran besar tentang kehidupan, bahwa kedewasaan sejatinya tidak lahir dari sebuah kemenangan yang gemilang, melainkan dari keberanian yang sunyi, yang sunyi dan sabar untuk melepaskan segala beban yang sudah waktunya untuk pergi.
Sanjaya akhirnya mampu berdiri di hadapan hidup dengan dada yang jauh lebih lapang. Ia tidak lagi mengusir masa lalunya, sebab ia sadar bahwa kenangan tidak akan pernah benar-benar sirna hanya karena dipaksa untuk dilupakan. Ia memilih menyediakan tempat bagi semuanya, seperti langit yang tak pernah menolak awan gelap melintas di atasnya. Dan, justru karena telah berdamai dengan segala yang pernah terjadi, ia mampu membuka ruang yang lebih luas untuk menyambut perempuan yang sejak lama dinanti oleh ketulusan hatinya.
Ada ruang di dalam batin yang hanya bisa terbuka lebar setelah seseorang selesai menutup pintu-pintu masa lalu dengan penuh keikhlasan. Hal ini disadari Sanjaya saat ia merenungkan sosok perempuan-perempuan yang pernah singgah dalam hidupnya; mereka, dengan cara yang mungkin tak pernah mereka sadari, telah meninggalkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar kisah perpisahan.
Mereka mengajarkannya bahwa cinta bukan sekadar tentang memilih atau dipilih, bukan pula tentang siapa yang lebih dahulu datang atau siapa yang paling lama bertahan. Cinta adalah keberanian untuk menerima bahwa tidak semua pelukan akan menjadi rumah, dan tidak setiap tangan yang digenggam akan terus tertaut hingga akhir perjalanan. Sebab, ada saat ketika sesuatu yang dipeluk dengan sepenuh jiwa justru harus dilepaskan dengan ikhlas, agar hati tidak kehilangan kemampuannya untuk kembali mencintai.
Bagi Sanjaya, hidup selanjutnya serupa pergantian musim. Ada orang-orang yang datang hanya untuk mengajarkan arti kehilangan, sebagaimana hujan turun bukan semata-mata untuk membasahi bumi, melainkan agar manusia mengerti betapa hangatnya matahari ketika akhirnya kembali bersinar. Ada yang hadir seperti musim semi, membuat bunga-bunga harapan bermekaran dan menghadirkan warna-warna yang sempat hilang. Namun mereka pun pergi seperti angin yang menggugurkan dedaunan, meninggalkan halaman kenangan yang sunyi. Tak ada musim yang salah, yang ada hanyalah musim yang telah selesai menjalankan tugasnya.
Dari seluruh pertemuan itu, Sanjaya akhirnya memahami bahwa tidak semua kisah diciptakan untuk tinggal selamanya. Sebagian hanya dipinjamkan oleh waktu agar jiwa manusia bertumbuh, agar hati belajar menjadi lebih lapang, dan agar seseorang mengerti bahwa kedewasaan lahir dari kehilangan yang diterima dengan dada yang terbuka. Setiap pertemuan, meski singkat, sejatinya bertugas membukakan pintu bagi seseorang untuk menjumpai versi dirinya yang jauh lebih kuat.
Di bawah langit senja yang kini mulai temaram, Sanjaya menoleh kembali ke arah Riana. Ia tidak lagi melihat bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, melainkan menatap masa depan yang tenang di dalam mata perempuan itu. Jika masa lalu adalah musim-musim yang telah ia lalui dengan penuh luka dan tanya, maka kehadiran Riana adalah fajar yang datang tepat setelah malam paling panjang berakhir.
Sanjaya tahu, ia tidak lagi harus takut pada musim yang akan berganti, sebab ia kini memahami bahwa rumah bukanlah sekadar tempat berteduh, melainkan keberadaan seseorang yang memilih untuk tetap ada meski dunia di luar sana terus berubah. Dan di saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sanjaya berhenti mencari. Ia hanya ingin duduk tenang, menikmati sisa cahaya, dan bersyukur bahwa pada akhirnya, ia telah sampai. (Sal)